Di Universitas Cairo yang terkenal itu, Obama berbicara. Ia mengajak Amerika Serikat dan umat Islam sedunia memulai sebuah hubungan baru. Hubungan yang berdasarkan mutual respect dan mutual interest. Mengakhiri, apa yang ia sebut sebagai “sebuah lingkaran kecurigaan dan perselisihan”. Pidatonya merupakan sebuah antithesis terhadap pengantar Presiden Bush pada National Security Strategy (2006), yang menyatakan Amerika dalam keadaan perang, dan melegalkan tindakan apapun untuk mengeliminir ancaman terhadap AS.

Ayman al-Zawahiri, wakil pemimpin Al Qaeda, mungkin representasi suara sebagian umat muslim, telah melihat propaganda AS yang bertolakbelakang dengan aksi di lapangan: berbicara demokrasi dan kebebasan dengan menjatuhkan bom ke pemukiman penduduk. Ia tidak percaya AS berubah karena sampai saat ini, pesan kekerasan masih diterima oleh umat Islam. Bahkan, rencana Obama untuk menutup Guantanamo ditolak oleh Kongres. Sesuatu yang ia janjikan pada masa kampanyenya, yang menyebabkan ia terpilih, ditolak oleh perwakilan rakyatnya.

Benarkah Obama akan menepati ucapannya ?

Yang pasti, sejarah membuktikan, pendekatan AS selama ini salah besar. Hanson dan Schmidt (2007) menunjukkan, pada kasus Irak, “ Jumlah operasi militer yang dilakukan pasukan AS berkorelasi tinggi terhadap jumlah serangan balik yang lebih banyak pada masa mendatang, serangan yang dimaksud untuk menghancurkan kekuatan lawan, hanya menjadi alat rekrutmen bagi lawan”. Oleh karenanya, biaya melakukan serangan militer selalu melebihi benefit yang diperoleh, suatu hal yang sederhana dan sudah diperingatkan bahkan oleh sebagian publik AS sendiri. Sebuah thesis yang sebenarnya tidak perlu dibuktikan dengan pengalaman empiris AS di Irak.

Di Afghanistan pun, mereka akan terjebak apabila tetap menggunakan cara yang sama. Wawancara Sunday Times dengan Amir Sultan Tarar, veteran intelijen Pakistan, mengingatkan pemerintahan AS untuk mengedepankan jalan negosiasi terhadap Taliban dan tidak mengulangi kesalahan mereka di Irak.“The Taliban will not win but in the end the enemy will tire” “.. and the more you kill, the more supporters will come.”

Lantas, bagaimana sebaiknya reaksi umat Islam terhadap pidato Obama tersebut ?

Para ekonom mengenal Game Theory. Sebuah theori yang mempelajari bagaimana para agen ekonomi bertindak dengan memperhitungkan tindakan yang akan diambil lawannya. Strategi terbaik pada kondisi ini adalah tit for tat. Di mana suatu pihak harus menggunakan strategi kooperatif pada awalnya, dan respon selanjutnya akan ditentukan oleh aksi dari lawan. Strategi yang diperkenalkan oleh Anatol Rapoport pada tahun 1980 ini, sudah sejak lama dikenal oleh umat Islam melalui Surat Al Anfal ayat 19. Surat yang diturunkan berkaitan dengan momen perang Badar.

“Jika kamu meminta keputusan, maka sesungguhnya keputusan telah datang kepadamu, dan jika kamu berhenti (memusuhi Rasul), maka itulah yang lebih baik bagimu, dan jika kamu kembali niscaya Kami kembali (memberi pertolongan), dan pasukanmu tidak akan dapat menolak sesuatu bahaya sedikitpun darimu, biarpun jumlahnya (pasukan) banyak. Sungguh Allah beserta orang-orang yang beriman”. ( Al-Anfal:19)

Masa depan hubungan umat Islam dengan Pemerintah Amerika Serikat, sangat ditentukan oleh konsistensi perkataan Obama dengan tindakannya di lapangan.

(Rizky A.Hakim/Eramuslim)