Jika Al-Quran, Kalamullah yang suci dan sekaligus pegangan hidup kaum Muslimin digugat, maka  unsur-unsur agama Islam lain akan ikut runtuh

Oleh  Lalu Nurul Bayanil Huda

Al-Quran adalah kitab suci yang disakralkan dan dijadikan pegangan hidup oleh umat Islam. Al-Quran adalah kalam Ilahi, diturunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui malaikat Jibril bagi umat manusia di dunia ini. Kaum Muslimin meyakini bahwa Al-Quran, dari ayat pertama hingga terakhir, merupakan kata-kata Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw secara verbatim (lafzon) maupun maknanya (ma’nan), dan meraka meyakini bahwa Al-Quran yang ada saat ini adalah sama dengan yang ada pada zaman Nabi Muhammad saw.

Karena merupakan kalam Allah swt, maka tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak mensucikannya. Begitu juga halnya dengan ajaran-ajaran, perintah, serta larangan yang terdapat di dalamnya, harus di pegang teguh dan dilaksanakan oleh semua umat manusia. Dengan kata lain Al-Quran merupakan Kitab suci yang harus dijadikan pegangan hidup umat manusia.

Di antara kitab-kitab suci yang Allah swt turunkan kepada nabi-nabi-Nya, Al-Quran lebih mempunyai keutamaan. Pertama karena Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, yang merupakan rasul Allah terakhir yang diturunkan kepada semua umat. Maka Al-Quran pun dengan sendirinya lebih bersifat universal, yaitu diturunkan kepada semua umat manusia dan tidak terbatas waktu hingga hari akhir.

Berbeda dengan kitab Injil dan Taurat yang diturunkan kepada umat tertentu karena diterima oleh nabi yang Allah swt utus untuk golongan tertentu saja. Sehingga dengan datangnya nabi berikut, maka doktrin yang terdapat di dalamnya secara otomatis tergantikan dengan doktrin baru.

Kedua, kandungan Al-Quran tidak hanya berisikan doktrin tentang Aqidah dan Syari’at saja, tetapi juga berisikan ilmu-ilmu kauniyah seperti sosial, ekonomi, ketatanegaraan, matematika, hukum, dan lain sebagainya. Selanjutnya dari segi bahasa, tentu saja Al-Quran tidak ada tandingannya. Maka tidak heran Allah swt “menantang” umat manusia untuk bisa membuat satu ayat serupa dengan kalam Allah yang termaktub dalam Al-Quran. Demikian betapa Al-Quran mempunyai banyak keutamaan melebihi kitab-kitab Allah swt yang diturunkan kepada nabi-nabi lainnya.

Dalam perjalanan sejarah Al-Quran, sejak awal diturunkannya hingga saat ini, gangguan-gangguan terhadap eksistensi Al-Quran tidak henti-hentinya terjadi. Pada awal turunnya ayat-ayat Al-Quran, masayrakat Arab saat itu sangat menyukai karya-karya sastra dan syair. Namun dengan datangnya Al-Quran, para maestro sastra saat itu tak mampu menandingi kualitas sastra Al-Quran, sehingga Al-Quran dianggap sebagai sihir.

Sepeninggal Nabi Muhammad saw, mulailah lawan-lawan Islam menyerang dengan berbagai cara. Salah satunya Musyailamah Al-Kadzab dengan membuat Al-Quran palsu, dengan ayat-ayat tandingannya. Dan gangguan terhadap Al-Quran terus berlanjut hingga era modern. Tercatat Gustav Flugel dengan mushaf “Corani Textus Arabicus” (1384), Theodor Noldeke dengan Geshichte des Qor’anDie Suro-aramaismshe Lesart des Koran: Ein Beitrag zur Entschlusselung der Koransprache” (Cara membaca Al-Quran dengan bahasa Syiro-aramaik: sebuah sumbangsih upaya pemecahan kesukaran memahami bahasa Al-Quran). Ini semua menunjukkan betapa gangguan terhadap eksistensi Al-Quran terus-menerus dilakukan oleh musuh-musuh Islam. ((1860), Arthur Jeffery dengan Al-Quran Edisi Kritis (1937), dan kasus terakhir, yaitu kasus Luxenberg dan bukunya “

Ironisnya, sakralitas Al-Quran pun berusaha dihilangkan oleh kalangan umat Islam sendiri. Sebut saja Dr. Muhammad Arkoun yang menyebutkan bahwa Al-Quran yang suci hanyalah Al-Qur-an pada masa Nabi Muhammad saw. Sedangkan Al-Quran setelah masa Rasulullah sudah tidak sakral lagi, tak lebih dari buku-buku karangan manusia biasa.

Demikian juga dengan konsep Al-Quran Nashr Hamid Abu Zaid, seorang pemikir asal Mesir. Ia mengatakan bahwa Al-Quran adalah produk budaya karena diturunkan selama dua puluh tiga tahun dalam realitas budaya Arab saat itu, serta ayat-ayat Al-Quran adalah bahasa Nabi Muhammad saw karena Allah hanya mengirim makna Al-Quran melalui Jibril.

Dengan statemen ini justru secara tidak langsung mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang pembohong karena telah menyatakan bahwa Al-Quran merupakan Kalmullah Lafzon wa Ma’nan. Belum lagi tuduhan bahwa Al-Quran yang kita kenal sekarang hanyalah Al-Quran yang sudah tidak asli lagi karena menjadi korban hegemoni Quraisy pada saat kodifikasi pada masa kholifah Ustman bin Affan.

Dan justru kalangan kampus di tanah air, gencar “mempromosikan” isu ini. Sebagaimana contohnya tulisan-tulisan yang terdapat pada Jurnal Justisia terbitan IAIN Wali Songo, Semarang. Ini menunjukkan sungguh ironis, Al-Qu’an yang suci justru justru menjadi obyek “serangan”, yang dilakukan tidak saja oleh para orientalis tetapi juga dari kalangan umat Islam sendiri.

Diskursus ini merupakan indikasi bahwa kaum muslim di dunia sedang memasuki babak baru yang sangat dahsyat. Belum pernah terjadi sebelumnya, bagaimana pemikir atau bahkan Ulama misionaris, Kristen, Yahudi, serta para orientalis beramai-ramai menggugat serta menyerang Al-Quran secara bersama-sama. Jika Al-Quran yang merupakan Kalamullah yang suci dan sekaligus pegangan hidup kaum muslimin saja digugat, maka tentu saja unsur-unsur agama, Islam seperti Hadits, Ijma’, Sahabat, otoritas ulama-ulama pun diruntuhkan.

Serangan ini dilakukan mereka dengan sangat serius dan terorganisir, dan tentunya dengan biaya yang tidak sedikit pula, serta energi yang sangat besar. Sudah ratusan tahun hal ini disiapkan. Para penyerang itu menguasai ilmi-ilmu tentang Al-Quran, bahasa Arab, bahkan Inggris, Hebrew, Syirak, dan mungkin bahasa-bahasa lainnya. Tak hanya itu manuskrip-manuskrip sudah terboyong ke Barat. Jelas nampak bagaimana saat ini kita sedang memasuki era baru yang lebih keras dalam menjawab tantangan Al-Quran.

Menghadapi ini semua tentunya, tidak cukup hanya dengan berfatwa ataupun dengan berdemonstrasi saja. Tetapi ini merupakan aksi intelektual yang harus dilawan dengan intelektual juga. Sebagaimana saat ini sejumlah institusi Islam juga turut menyebarkan pemahaman yang meruntuhkan fondasi agama. Di sini diberikan pendidikan kepada pemuda-pemuda Islam untuk menguasai “jurus-jurus” serangan terhadap Al-Quran dari berbagai sudut.

Tentu saja serangan dari dalam tubuh Islam, akan membawa dampak yang jauh lebih dahsyat terhadap umat. Tapi sayangnya, dalam hal intelektualitas ini justru kita sangat merasa kurang. Ini karena krikulum yang ada belum mampu menjawab tantangan era ini. Terbukti dengan  ribuan sarjana Islam tercetak setiap tahun, tapi kemampuan yang dimiliki masih sangat jauh dari harapan. Dengan demikian pola, bentuk, dan metodologi Pendidikan Agama Islam harus segera dirubah dan dirancang agar tanggung jawab akan pesan “dibumi manapun engkau berpijak, maka kamu bertanggung jawab akan keIslamannya” dapat terlaksana.[www.hidayatullah.com]

Penulis adalah Peserta Kaderisasi Ulama (PKU) Institut Studi Islam Darussalam Gontor. Tulisan ini dimuat di http://www.hidayatullah.com