Kalangan Muslim Indonesia kecewa kunjungan Kadin Israel. Awalnya ”silaturrahim”, selanjutnya sarat konspirasi, ujar kalangan Islam

Kunjungan delapan pengusaha Israel ke Indonesia rupanya masih menyisakan kekecewaan di kalangan Muslim.  Kunjungan pengusaha Israel yang berada di bawah organisasi Israel Export and International Cooperation Institute dan Kementerian Industri, Perdagangan, dan Tenaga Kerja  ini ke Indonesia disinyalir sebagai langkah yang mencederai sejarah.

Ketua Umum Pergerakan Islam untuk Tanah Air (PINTAR), Alfian Tanjung,  menilai bahwa ada lima kesimpulan yang dapat diretas atas diakuinya kantor Kamar Dagang Israel di Indonesia. Pertama, menurut Alfian,  secara tidak langsung, Indonesia telah mengakui kedaulatan negara Israel yang selama ini diperjuangkan. Kedua, bangsa Indonesia telah melegalkan operasi Zionist State.

Ketiga, bukti bahwa Indonesia membiarkan zionis Israel mencaplok kekayaan negeri ini. Keempat, hal ini akan sangat melukai sejarah perjuangan umat Islam di Indonesia. Dan, kelima, ini menunjukkan secara jelas akan lemahnya negara kita atas segala kedurjanaan gerakan zionis-Israel dan dominasi mereka.

Lebih lanjut, Alfian mengajak umat Islam menolak secara sadar atas segala bentuk penjajahan yang dimakari Zionis-Israel. ”Mari rapatkan barisan dan juga mempersiapkan perlawanan,” pesan Alfian.

Sementara itu, Forum Ummat Islam (FUI) juga menyayangkan sikap pemerintah Indonesia yang mengizinkan pengusaha Zionis membuka kantor perwakilan kamar dagang di Jakarta. Menurut Al Khaththath, tindakan tersebut inkonstitusional, sebab bertentangan dengan pembukaan UUD 1945 yang memiliki sikap tegas bahwa penjajahan di atas bumi harus dihapuskan.  “Kita jangan lupa, Zionis-Israel adalah penjajah!”

Direktur Eksekutif Forum Kajian Sosial Kemasyarakatan (FKSK), Luthfi Hakim, menilai, sikap media yang cenderung diam, bersikap standar ganda. Ini merupakan bukti bahwa kekuatan dunia informasi sangat lekat di genggaman Zionis-Israel.

“Kekuatan mereka ada di tiga titik; kekuatan senjata, kekuatan ekonomi, dan kekuatan manipulasi fakta-fakta (informasi). Ini yang terjadi hari ini,” ungkap Luthfi.

Sebagaimana diketahui, sebuah delegasi resmi Israel telah mengunjungi Indonesia untuk pertama kalinya. Rombongan delegasi Israel terdiri dari delapan perwakilan dari perusahaan Israel yang diorganisasi oleh Israel Export and International Cooperation Institute dan Kementerian Industri, Perdagangan, dan Tenaga Kerja Israel.

Kunjungan itu merupakan balasan atas kunjungan yang telah dilakukan pihak Indonesia –rombongan dari Kamar Dagang Indonesia (KADIN)– ke Israel di tahun 2006.

Media Satu Kata

Sementara Ridwan Saidi, budayawan Betawi, dengan nada tinggi menyampaikan orasi pada acara Tabligh Akbar dan Konferensi Pers Forum Ummat Islam (FUI) bertema, “Menolak Perwakilan Dagang Israel di Indonesia”, di Masjid Al Azhar, Jakarta. Media, baik cetak maupun elektronik, menurut dia, telah satu kata dalam memberikan stigma buruk terhadap Islam. “Dulu waktu stasiun televisi baru satu, hanya satu suara. Sekarang televisi sudah banyak, ternyata mereka juga tetap satu suara,” cecar Ridwan.

Pasca ledakan bom yang mengguncang dua hotel di bilangan Mega Kuningan Jakarta bulan Juli lalu, hampir semua media arus utama sibuk memberitakan peristiwa tersebut. “Tak ubahnya pertandingan bola. Reporter tak henti-hentinya melaporkan kejadian demi kejadian. Ujungnya-ujungnya, ya kita, Islam yang didiskreditkan,” tambahnya.

Entah karena sengaja atau masih sibuk “mendesain” pemberitaan tentang serangan terorisme yang masih hangat itu, media tampaknya tak terlalu peduli memberitakan tentang dibukanya secara gelap kantor Kamar Dagang Israel di Jakarta. Hanya beberapa media Islam yang sempat mengangkatnya, selebihnya pemberitaan di media arus utama lebih kepada isu teroris yang diberi label berjenggot, relatif pendiam, celananya cingkrang, istrinya pakai cadar, atau mereka yang rajin ibadah, dan tak doyan dugem. Sebuah pencitraan yang begitu sistematis.

Senada dengan itu, mantan Ketua Umum YLBHI yang kini menjadi Panglima Komando Laskar Islam, Munarman, merasa prihatin dengan sikap ambigu media terkait dibukanya kantor dagang Israel di Jakarta. ”Tak satu pun yang memberitakan,” sesal dia. [ain/www.hidayatullah.com]