Duduk bersama dalam menyelesaikan masalah Indonesia-Malaysia jauh lebih utama dibanding dengan cara jalanan

Oleh: Afriadi Sanusi

Alkisah, seorang raja terkejut menemukan isterinya tidur setilam dengan seorang budak hambasahaya miliknya pada suatu malam. Sebagai seorang raja yang memiliki kuasa penuh waktu itu dia bisa saja membunuh isteri dan budaknya hanya dengan sekalihunusan pedang. Dia tidak jadi menjatuhkan hukuman itu sebelum adanyapengadilan sah yang mendengar pengakuan kedua belah pihak. Karena ketika itu dalam hatinya dia mendengar ayat “”Yaayyuhalladzina aamanu in jaa’akum faa siqun binaba’in fatabayyanuu an tushibuqauman bijahaalatin fatush bihuu ala maa fa’altum naa dimiin.” (Haiorang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasiq (satu kaum)membawa berita, maka hendaklah kamu selidiki, jangan sampai kamu membalas kepada suatu kaum dengan kebodohan, maka kamu kelak akan merasa menyesal). [QS:Alhujuraat:6].

Ayat ini adalah penegasan wajibnya kaum Muslim melakukan koreksi kebenaran setiap mendapat/menerima berita yang kita terima.

Singkat cerita,setelah dibangunkan, sang raja menggunakan kuasanya dengan mengatakan, “kenapakalian melakukan semua ini!…” Sang isteri mengatakan kepada suaminya, “Sayakira orang yang tidur diatas tilam tadi adalah kakanda, karena menyangka kandatidak jadi pergi berburu ke hutan,. Si hamba sahaya juga menjawab, “Tadi sore di saat saya membersihkan kamar tuan, teringin sekali rasanya saya menyentuh tilam yang empuk ini, setelah ku sentuh aku pun ingin mencoba bagaimana rasanyaberada di atas tilam ini. Aku pun tertidur karena terlalu capek dan karena merasa betapa enaknya berada diatas tilam tuan yang empuk ini.”

Dengan berkat hidayah dari Allah SWT. Ayat Al-Quran diatas telah menyelamatkan anak manusiadari melakukan kesalahan yang fatal. Sang raja tidak jadi membunuh dua insanyang sebenarnya tidak berdosa dan dua insan yang secara logis harus mati di tangan penguasa tidak jadi mati. Dalam Islam fitnah dikatakan lebih kejam dari pembunuhan,ini karena fitnah bisa menyebabkan berlakunya permusuhan, dendam, perang dan berbagai kehancuran lainnya karena boleh membunuh ratusan bahkan ribuan nyawayang tidak berdosa.

Dalam falsafahkita di ajarkan “berikan 25% kepercayaanmu terhadap apa yang kamu dengar,berikan 50% kepercayaanmu terhadap apa yang kamu lihat dan percayalah setelahdiselidiki atau dikaji.”


Indonesia-Malaysia Pra Nasionalisme

Sebelum lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 dan Negara Malaysia pada 31 Agustus 1957, Asia Tenggara memiliki hubungan sejarah yang sangat rapatdan panjang. Kerajaan Iskandar Muda pada tahun 1607 hingga tahun 1936 kekuasaannya meliputi Deli, Johor, Bintan, Pahang, Kedah, Melaka. Kerajaan Melayu Riau Lingga kekuasaannya meliputi Riau, Johor dan Pahang pada abad ke19. Terdapat ikatan kekeluargaan yang kuat antara masyarakat dan keluarga diRaja Riau, Bugis, Betawi, Johor, Rao, Pahang, Selangor, Jambi, Minangkabau,Negeri Sembilan, Jawa dan sebagainya

Penghijrahan dalam kawasan Asia Tenggara ketika itu adalah perkara biasa, tiada batassempadan negara. Terdapat kesamaan dari segi alam, ekonomi, politik, sejarah masa lalu, bentuk tubuh, warna kulit, budaya, bahasa dan agama. Belum ada mengenal sistem pasport, visa dan fiskal ketika itu. Asia Tenggara pula pernah menjadi sebuah kesatuan ketika air laut turun.

Banyak orang-orang Melayu Malaysia sekarang ini nenek moyangnya berasal dari Riau, Bugis, Betawi, Johor, Rao, Jambi, Minangkabau, Negeri Sembilan, Jawa dan sebagainya.Mereka masih menggunakan bahasa daerahnya dalam kalangan keluarga dan masih mengamalkan adat budaya suku kaumnya. Diantara mereka banyak yang menjadi orang penting seperti menjadi Perdana Menteri, Menteri, Profesor dan sebagainya.Tetapi mereka bukan berasal dari Indonesia, karena Indonesia baru saja lahir 63tahun yang lalu yaitu pada 17 Agustus 1945.

Orang Melayu Rao(Rawa) Malaysia, misalnya, banyak terdapat di negara bagian Perak, Kedah, Pulau Pinang, Kuala Lumpur, Selangor, Kelantan, Pahang Malaysia. Begitu juga dengan orang Minangkabau, Riau, Jambi, Kerinci, Mandailing dan sebagainya yang mendominasi tempat-tempat tertentu di Malaysia. Mereka masih mempertahankanadat, budaya dan bahasa suku kaumnya. Mereka melakukan hubungan kekeluargaan yang erat. Saling mengunjungi antara keluarga di Indonesia-Malaysia. Ini karenahubungan persaudaraan dan darah yang telah terjalin ribuan tahun lalu tidakakan bisa dipisahkan oleh perbedaan batas teritory negara, politik dan rasa nasionalisme sempit yang baru lahir beberapa puluh tahun ini saja.

Ulama memberikanperanan yang kuat dalam menjalin hubungan kekeluargaan dan persaudaraan yang didasarkan pada kalimat tauhid ketika itu. Sampai sekarang masih diabadikan dalam buku-buku sejarah tentang peranan ulama melayu, Riau, Bugis, Betawi,Johor, Rao, Pahang, Selangor, Jambi, Minangkabau, Negeri Sembilan dalambuku-buku sejarah dalam menyebarkan ajaran Islam di Kepulauan Melayu ini. Para ulama menyatukan umat dengan ajaran Islam, melalui murid dan melalui jalinan perkawinan yang memiliki ramai keturunan dan ahli keluarga. Hubungan kekeluargaan yang kuat didasari pada hubungan darah, persemendaan, hubungansuku kaum, dan adat budaya. Sebagai tokoh, mereka memiliki pengaruh yang tiadaterhingga hingga saat ini.

Peran Berita Media

Meminjam istilah Dr P. Ramlee, aktor film, sutradara, penyanyi, dan sastrawan yang dikenal di Malaysia dan memiliki ikatan keluarga Aceh, “Sedangkan lidah lagi tergigit apalagihubungan suami isteri.” Menurutnya, semakin dekat hubungan kita dengan sesuatu,maka semakin sering terjadi perselisihan dan perbedaan pendapat.

Hari-hari inimedia –khususnya di Indonesia—disibukkan dengan pemberitakan yang beraromapermusuhan dan bisa saja meledakkan hubungan antara Indonesia dan Malaysia.

Banyak konflikberlaku setelah terbentuknya dan lahirnya kedua negara yang disebabkan olehperbedaan politik, kepentingan dan kekuasaan yang dipanaskan oleh media massa.Konflik ini secara umumnya hanya menguntungkan penguasa dan jelas dirakan merugikanrakyat. Hubungan darah, persaudaraan dan seagama tidak seharusnya di keruhkan dengan kepentingan politik dan kekuasaan. Media memainkan peranan yang kuat dalam memperkeruh hubungan kedua-dua negara. Banyak dari berita yang disiarkanoleh media selama ini lebih bersifat provokatif.

Dalam banyak hal, pemberitaan di Indonesia sering tak berimbang di banding kenyataan yangada.  Berita penyiksaan pembantu rumah tangga dan pelecehan terhadap TKW, umumnya dilakukan oleh majikan mereka yang bukan Islam. Sebaliknya, banyak juga TKW yang bernasib baik sampai di hajikan majikannya di Malaysia. Namun berita seperti ini jelas tak menarik dibanding satu-dua kasus penyiksaan. Memang sebaiknya pemerintah kita menyediakan lapangan pekerjaan yang mencukupi guna menghalangi tenaga Indonesia dengan SDM rendah keluar negara. Dalam beberapa kasus, banyak kejahatan manipulasi TKI/TKW justrudilakukan saudara-saudara kita sendiri asal Indonesia. Misalnya manipulasi umurTKW agar bisa berangkat ke Malaysia.

Berita tentang kebudayaan Indonesia yang dikabarkan telah diklaim Malaysia, seharusnya menjadiperingatan pada kita sendiri.  Sebab ini,lebih karena kelemahan pemerintah RI sendiri dalam mendata dan menghargaibudaya local kita.

Sama halnya dengan masalah sengketa perbatasan. Karena tidak adanya data dan karenalemahnya pemerintah dalam menjaga pulau-pulaunya, menyebabkan puluhan tahunlamanya pulau-pulau itu tak terurus dan dibiarkan begitu saja tanpa pembangunanseperti yang dilakukan oleh negara lain.

Memang sebaiknya kasus ini membuat pemerintah lebih berhati-hati dan menjadikan pelajaranberharga. Seharusnya, pemerintah segera membuat peraturan tertulis dengan Malaysiaguna melindungi TKW kita, pula kita dan budaya kita. Kita tak bisa semena-mena marahatas banyak kasus yang ditimbulkan oleh TKW sementara pemerintah tidak memperbaikiekonomi yang menyebabkan banyak pekerja non-profesional menyebrang ke Negara lain.

Kedutaan juga harusmemainkan diplomasinya secara optimal dengan meningkatkan kemampuan intelijen guna meredam upaya adu domba kedua negara seperti kasus lagu Indonesia Raya yangsempat diramaikan.

Penulis melihatada pihak-pihak tertentu menangguk di air keruh dengan memanfatkan konflikMalaysia-Indonesia untuk mencari keuntungan secara politik, kekuasaan ataupunmateri.

Pemerintah juga harus bersikap tegas, mengadili media yang sering menyebarkan berita panas danprovokatif  yang mengganggu kenyamanan dan ketentraman hubungan kedua negara.

Penulis akui apayang dilakukan oleh Malaysia terhadap Indonesia terkadang memang sesuatukesalahan dan kelewat batas. Akan tetapi sesuatu yang mengherankan adalah di saat satu persatu pulau-pulau kecil Indonesia tenggelam karena pasirnya di angkut secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan ke Singapura oleh para mafia, hanyasedikit media dan pejabat kita menjadikan ini sebagai perhatian berharga.

Duduk Bersama

Kesimpulannya, kasus seperti ini jelas tak bisa diselesaikan dengan cara jalanan. Kedua Negara,harus duduk bersama, saling menghormati, saling berjumpa dan berdiskusi terhadapmasa depan keduanya.

Pemerintah keduanegara tidak seharusnya melibatkan rakyat untuk memikirkan apa yang menjaditugas dan kewajiban mereka. Membicarakan nasib dan kepentingan masing-masing jauh lebih baikdan sangat penting daripada hanya menanggapinya provokasi melalui media massa yang hanya akan memperkeruh suasana.

Indonesia sangat memerlukan Malaysia dan Malaysia juga sangat memerlukan Indonesia, adalah dua perkara yang tidak bisa dinafikan. Puluhan ribu TKI Indonesia ada di Malaysia, ribuan pelajar dan mahasiswa juga ada di Malaysia. Sama halnya warga Malaysia di Indonesia. Saling memerlukan ini akan menjadi sebuah energi positif dan saling menguntungkan kalau saja berlaku kerjasama pemimpin dan masyarakat keduanegara.

Selebihnya, media massa, seharusnya berada di garda depan pembangunan masyarakat dan menciptakan iklim saling menguntungkan kedua Negara. Berita fitnah atau berbau adu-domba, bukanlah solusi bagi permasalahan sesungguhnya. Tindakan itu juga adalah sebuah implementasi rasa nasionalisme yang salah sebab hanya akanmerugikan dan menghancurkan hubungan kedua Negara. Seolah-olah dengan perang semuanya bisa selesai.

Islam sangat membenci fitnah. Bahkan mendudukannya jauh lebih kejam daripada pembunuhan.Sebab akibat dari fitnah bisa menimbulkan perpecahan, permusuhan, kebencian, dendam, perang yang bisa membunuh ratusan bahkan ribuan nyawa yang tidakberdosa lainnya.

Dengan kemampuan dan efek yang sangat luar biasa, media massa memang berpeluang melahirkan fitnahdan saling bermusuhan. Sebaliknya, tak semua fakta yang disajikan, bisa melahirkan maslahat apalagi harus disampaikan. Sebab ada fakta yang berdampak positif dan ada pula fakta yang justru bisa berimplikasi negative bagi jutaan orang. Tergantung bagaimana melihatnya. Di sinilah diperlulan wisdom bagi parapengelola media massa.

Sejarah banyakmencatatkan berbagai perpecahan, permusuhan, peperangan yang akhirnya berbunuh-bunuhan mulai dari antara dua orang sahabat, suami istri sampai ketingkat negara yang disebabkan oleh peranan media.  Semoga ini menjadi pelajaran berharga kita semua.

Penulis berasal dari Sumatera Indonesia, sekretaris Muhammadiyah Malaysia dan mahasiswa S3 bidang Politik Islam di UniversitiMalaya Kuala Lumpur

Sumber : Hidayatullah