Oleh H.Muh.Nur Abdurahman

BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM

Pada sepuluh malam terakhir dalam bulan Ramadhan kita sering mendengarkan orang menyebutkan umgkapan: Menunggu Turunnya LaylatulQadri. Sebuah Hadits dari St ‘Aisyah RA yang diriwayatkan oleh Bukhari demikian matannya: THRWA LYLT ALQDR FY AL’ASYR ALAWAKHR MN RMDHAN, dibaca: Taharraw laylatal qadri fil ‘asyril awa-khiri mir ramadha-na., artinya: Cari LaylatulQadri dalam sepuluh terakhir dari Ramadhan. Dijelaskan dalam sebuah Shahih Bukhari yang lain khususnya malam ke-25, 27 dan 29.

Menurut Hadits tersebut RasuluLlah SAW menyuruh kita mencari LaylatulQadri pada sepuluh malam terkahir dari Ramadhan. Jadi kita tidak disuruh menunggu, melainkan mencari, yaitu tidak pasif melainkan proaktif. RasuluLlah SAW proaktif mencari LaylatulQadri dengan cara I’tikaf dalam masjid, seperti diriwayatkan pula oleh Bukhari, juga dari St ‘Aisyah RA, yang matannya seperti berikut: KAN LA YDKHL ALBYT ILA LHAJT IDZA KAN M’ATKFA,dibaca: Ka-na la- yadkhulul bayta illa- liha-jatin idza- ka-na mu’takifan, artinya: (RasuluLlah SAW) tidak masuk ke dalam rumah kecuali suatu keperluan (penting), apabila (beliau) sedang beri’tikaf.

Menghadapkan qalbu kita kepada Allah SWT dalam masjid pada sepuluh malam terakhir untuk mencari LaylatulQadr, itulah yang disebut i’tikaf. Sementara i’tikaf boleh pulang ke rumah untuk suatu keperluan penting, misalnya ke belakang, tetapi diingatkan dalam Al Quran, tidak boleh bercampur dengan isteri. WLA TBASYRW HN WANTM ‘AAKFWN FY ALMSJD (S. Al BQRT, 2:187), dibaca: Wala- tuba-syiru- hunna wa antum ‘a-kifu-na fil masa-jidi, artinya: Janganlah kamu bercampur dengan isterimu apabila kamu beri’tikaf dalam masjid (S. Al Baqarah, 2:187). Pada malam bulan puasa kita diperbolehkan bercampur dengan isteri, kecuali sedang i’tikaf. AHL LKM LYLT ALSHIYAM ALRFTS ALY NSA”KM (S. Al BQRT, 2:187), dibaca: Uhilla lakum laylatsh shiya-mir rafatsu ila- nisa-ikum, artinya: Dihalalkan bagimu pada malam (bulan) puasa bercampur dengan isterimu (S. Al Baqarah, 2:187).

Dalam Hadits di atas itu tidak disebutkan bahwa LaylatulQadri itu turun. Jadi ungkapan turunnya LaylatulQadri perlu kita tinjau kembali. Sebenarnya apa yang turun pada sepuluh malam terkahir dalam bulan Ramadhan? Firman Allah SWT: ANA ANZLNH FY LYLT ALQDR (S. AL QDR, 97:1), dibaca: Inna- anzalna-hu fi- laylatil qadri, artinya: Sesungguhnya Kami menurunkannya pada LaylatulQadri (S. Al Qadri, 97:1). Dhamir (kata ganti) hu (nya) dalam anzalna-hu dimaksudkan adalah Al Quran. Jadi yang diturunkan Allah SWT pada LaylatulQadri adalah Al Quran, sehingga ungkapan turunnya LaylatulQadri salah sekali, LaylatulQadri sama sekali tidak turun, melainkan malam yang didalamnya Al Quran diturunkan Allah SWT, seperti yang biasa kita dengar NuzululQuran.

Pengucapan yang populer ungkapan turunnya LaylatulQadri mempunyai implikasi, yaitu orang tidak merasa janggal jika disebutkan bahwa NuzulQuran itu pada 17 Ramadhan. Bukankah pada sepuluh malam terakhir itu LaylatulQadri yang turun? Jadi sepintas lalu orang berfaham bahwa tidak ada yang janggal: Sepuluh malam terakhir LaylatulQadri turun, sedangkan pada 17 Ramadhan Al Quran yang turun!

Dari mana pula asalnya NuzululQuran pada 17 Ramadhan? Firman Allah SWT: ANKNTM AMNTM BALLH WMA ANZLNA ‘ALY ‘ABDNA YWM ALFRQAN YWM ALTQY ALJM’AN (S. AL ANFAL, 8:41), dibaca: Inkuntum a-mantum billa-hi wama- anzalna- ‘ala- ‘abdina- yawmal furqa-ni yawmal taqal jam.’a-ni, artinya: Jika kamu beriman kepada Allah dan (beriman kepada) apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami pada hari Al Furqan, hari bertempurnya dua pasukan (S. Al Anfa-l, 8:41).

Ditafsirkan bahwa yang diturunkan kepada hamba Kami (Muhammad) adalah Al Quran dan hari bertempurnya dua pasukan adalah perang Badar yang menurut catatan sejarah terjadi pada 17 Ramadhan. Sehingga kesimpulannya NuzululQuran pada 17 Ramadhan. Jadi dalam penafsiran ini ada dua pemikiran manusia (yang diturunkan adalah Alquran, hari bertempurnya dua pasukan adalah perang Badar), dan satu perbuatan manusia (pencatatan peristiwa perang Badar). Pemikiran (baca: penafsiran) dan perbuatan manusia dapat saja keliru, karena ternyata 17 Ramadhan tidak termasuk dalam sepuluh malam terakhir dari Ramadhan. NuzululQuran tidak berlangsung pada 17 Ramadhan. Di mana letak kesalahan pemikiran sang penafsir dan kekeliruan perbuatan mencatat peristiwa?

Kemungkinan pertama, dengan asumsi yang diturunkan adalah Al Quran. Kesalahan terletak pada salah satunya, atau dalam penafsiran bertempurnya dua pasukan bukanlah Perang Badar, melainkan perang yang lain, atau dalam pencatatan sejarah bukan pada 17 Ramadhan.

Kemungkinan kedua, kesalahan terletak dalam penafsiran, yaitu bukanlah Al Quran yang diturunkan pada waktu pertempuran itu. Dalam ayat (8:41) disebutkan urutan pertama jika kamu beriman kepada Allah dan urutan berikutnya (baca: kedua) ialah beriman kepada apa yang diturunkan Allah. Dalam urutan Rukun Iman, yang pertama adalah beriman kepada Allah dan kedua beriman kepada malaikat. Menilik urutan Rukun Iman ini maka yang diturunkan Allah pada hari pertempuran itu adalah malaikat yang membantu pasukan Islam dari Madinah melawan pasukan kafir Quraisy dari Makkah. Dalam hal ini penafsiran bertempurnya dua pasukan dapat saja perang Badar, dan pencatatan sejarah bahwa perang Badar pada 17 Ramadhan dapat saja benar adanya.

Ada pula yang memaksakan kehendak akalnya, yaitu mengakali bahwa pada LaylatulQadri Al Quran diturunkan Allah pada langit pertama, yaitu pada sepuluh malam terkahir dari Ramadhan, dan dari langit pertama dibawa turun berdikit-dikit oleh malaikat Jibril atau secara langsung. Pada 17 Ramadhan, S. Al ‘Alaq ayat 1 s/d 5 dibawa turun untuk pertama kalinya oleh Jibril ke gua Hira dan Jibril menyuruh RasuluLlah SAW untuk membacanya.

Pada LaylatulQadri Al Quran diturunkan Allah pada langit pertama, kemudian secara berdikit-dikit dibawa turun oleh Jibril atau secara langsung kepada Nabi Muhammad SAW, adalah peristiwa yang ghaib, harus ada keterangan dari Nash yang mendukungnya. Kalau tidak ada Nash yang mendukung, kemudian memaksakan kehendak akal, itu berarti akal itu diangkat kedudukannya sama dengan Ilmu Allah yang mengetahui yang ghaib. Oleh sebab itu berfaham atau pemahaman NuzululQuran pada 17 Ramadhan harus ditolak!. Walla-hu a’lamu bishshawa-b.

Makassar, 17 Januari 1999 [H.Muh.Nur Abdurahman]
(http://www.geocities.com/xtvthmna/357.htm)

3 Tanggapan to “Menunggu Turunnya LaylatulQadr dan NuzululQuran pada 17 Ramadhan?”


  1. […] Berita, Info, Islam | Tag: Alquran, Nuzulul Quran, Pikiran-Rakyat |   Meski masih terjadi perdebatan, namun umat Islam masih memperingati 17 Ramadan sebagai hari Nuzulul Quran yaitu turunnya wahyu […]

  2. Itje paulina Says:

    Subhanalloh, quran utk diamalkan bukan diperdebatkan wkt turunnya, anzalna atw nazalna mmng beda mnrt ilmu alat… , msing2 punya hujah, smoga tdk mnjdi pemicu pprchn..

  3. Itje paulina Says:

    Bismil-laahir-rahmaanir-rahiim.. *Laqad jaa-akum rasuulum-min anfusikum ‘aziizun ‘alaihi maa ‘anit-tum hariishun ‘alaikum bil mu’miniina ra-uufur-rahiim.
    (QS 9:128)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s