Informasi


Oleh Ihsan Tandjung

Benarlah Ahmad Thomson ketika di dalam bukunya yang berjudul Dajjal – The AntiChrist mengatakan bahwa dunia yang sedang kita jalani dewasa ini –terutama sejak hampir satu abad yang lalu- telah menjadi sebuah Sistem Dajjal. Peradaban dunia semenjak raibnya sistem Islam yang bernama Khilafah Islamiyyah telah perlahan namun pasti mengarah dan membentuk diri menjadi sebuah peradaban yang sarat dengan Dajjalic Values. Kian hari kian nyata bahwa nilai-nilai Ilahi yang suci dan mulia secara sistematis mengalami marginalisasi alias penghapusan.

Sedemikian hegemoniknya sistem Dajjal sehingga menurut Ahmad Thomson bilamana dalam waktu dekat si oknum Dajjal muncul ke tengah umat manusia, maka ia akan segera dinobatkan menjadi pemimpin sistem tersebut. Sebab sistem yang dibangun dengan sebutan Novus Ordo Seclorum (the New World Order) ini sangat compatible dengan karakteristik oknum Dajjal. Berbagai lini kehidupan telah dirancang dan dibentuk agar cocok dengan the arrival of the AntiChrist (kedatangan Dajjal). Segenap lini kehidupan manusia yang mencakup ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, militer, pertahanan-keamanan, pendidikan dan hukum dijauhkan dari dienullah alias nilai-nilai Islam. Bahkan aspek entertainment-pun diarahkan untuk menyambut kedatangan Dajjal.

Oleh karenanya saudaraku, waspadailah berbagai filem yang dewasa ini menjadi primadona bentuk hiburan di abad modern. Salah satunya ialah filem box office yang dewasa ini sedang menyedot perhatian sebagian besar penduduk planet bumi, yaitu filem berjudul 2012. Apa sesungguhnya masalah filem ini?

Pertama, filem ini ingin mengkondisikan umat manusia untuk meyakini bahwa the end of time atau apocolypse ataushollallahu ’alaih wa sallam juga tidak tahu kapan persisnya hari Kiamat. –katakanlah- hari Kiamat bakal terjadi pada tanggal tertentu yang sudah bisa diprediksi, yaitu tanggal 21 desember tahun 2012. Ini merupakan suatu ramalan yang sangat berbahaya dari sudut pandang aqidah Islam. Mengapa? Karena Islam mengajarkan setiap kita untuk menyadari bahwa hanya Allah saja yang tahu kapan persisnya hari Kiamat bakal terjadi. Bahkan Nabi Muhammad

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي

لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا

قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

”Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS Al-A’raaf ayat 187)

Satu-satunya isyarat soal jadwal hari Kiamat dari Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam hanyalah bahwa ia bakal terjadi pada hari Jumat. Namun jumat tanggal, bulan dan tahun berapa?  Wallahu a’lam. Hanya Allah Yang Maha Tahu. Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:

وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ

“Dan tidak akan terjadi hari Kiamat kecuali pada hari Jum’at.” (HR Muslim)

Maka barangsiapa yang sesudah maupun sebelum menonton filem ini meyakini bahwa hari Kiamat  pasti bakal terjadi pada tanggal 21 desember tahun 2012, berarti ia telah mempertaruhkan eksistensi aqidahnya. Sebab seorang muslim senantiasa meyakini bahwa hanya Allah Yang Maha Tahu perkara nyata maupun ghaib. Jika ada fihak selain Allah yang layak memberi tahu kita soal perkara ghaib seperti jadwal Kiamat, maka itu sepatutnya adalah Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam utusan Allah yang seringkali memang diberitahu Allah rahasia-rahasia perkara ghaib. Namun dalam hal ini kita tidak mendapati satu haditspun yang menjelaskan tanggal, bulan dan tahun kejadian hari Kiamat. Sikap mempercayai adanya fihak selain Allah yang mengetahui perkara ghaib bisa mengantarkan seseorang terjatuh kepada dosa syirik…! Sebab ia rela mengalihkan kepercayaannya dalam perkara ghaib kepada fihak selain Allah.

Kedua, filem 2012 ini ternyata berakhir dengan masih adanya segelintir manusia yang dapat survive atau bertahan hidup sesudah dahsyatnya peristiwa hari Kiamat. Padahal dalam keimanan Islam, kita diajarkan bahwa pada saat Malaikat Israfil meniup sangkakala pertama kali sebagai tanda Kiamat berlangsung, maka segenap makhluk bernyawa akan dimatikan Allah. Bukti bahwa semua dimatikan ialah bahwa kemudian Malaikat Israfil akan meniup sangkakala kedua kalinya sebagai pertanda berlangsungnya hari Berbangkit, yaitu hari dimana kembalilah roh-roh ke jasadnya masing-masing untuk hidup kembali.

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ

إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

”Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (QS Az-Zumar ayat 68)

Artinya, kita dapat menyimpulkan bahwa ide di balik filem ini sungguh mengerikan, karena ia ingin mengajak penonton mengingkari adanya Kiamat dalam pengertian aqidah Islam. Islam mengajarkan bahwa hari Kiamat merupakan the day of total destruction of the whole universe by Allah the Al-Mighty Creator (hari penghancuran total alam semesta atas kehendak Pencipta Yang Maha Kuasa, Allah Subhanahu wa ta’ala). Hari Kiamat merupakan berakhirnya kehidupan fana dunia untuk selanjutnya akan hadir kehidupan abadi akhirat yang sangat berbeda dengan dunia fana ini.

Sedangkan Kiamat menurut produser filem peradaban Sistem Dajjal hanyalah sebuah proses evolusi perjalanan kehidupan manusia di dunia. Sehingga setelah berlangsungnya apocolypse masih ada segelintir manusia yang sanggup terus hidup melewati dahsyatnya hari kehancuran tersebut. Lalu tentunya akan ada sejenis kehidupan dan peradaban baru yang muncul di muka bumi. Selanjutnya, siapakah yang bakal memimpin dan berkuasa di dunia sesudah 2012?

Ketiga, jika kita buka situs www.whowillsurvive2012.com yang merupakan 2012 – Official Movie Site, maka bila Anda klik kotak berjudul ”The Experience”, maka Anda akan temukan salah satu kotak pilihan lagi dengan judul Vote For The Leader of the Post 2012 World (Pilihlah Pemimpin Dunia Paska 2012). Apakah gerangan maksudnya?

Saudaraku, sungguh saya khawatir bahwa gagasan mendasar di balik filem ini ialah keinginan produsernya untuk secara implisit mempromosikan kehadiran Sang Penyelamat Dunia Palsu yaitu Dajjal. Lalu Dajjal akan digambarkan sebagai Pemimpin dan Pelindung para survivors (orang-orang yang berhasil selamat melewati bencana 2012). Sungguh, mereka benar-benar berharap bahwa umat manusia akan memandang Dajjal sebagai figur pemilik surga dan neraka, alias dialah Tuhan. Barangsiapa mematuhinya dan merasa butuh kepadanya bakal diberikan surga kepadanya. Dan barangsiapa yang mengingkarinya dan merasa tidak butuh kepadanya bakal dimasukkan ke dalam neraka Dajjal. Sehingga Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:

وَإِنَّ مِنْ فِتْنَتِهِ أَنَّ مَعَهُ جَنَّةً وَنَارًا فَنَارُهُ جَنَّةٌ وَجَنَّتُهُ نَارٌ

“Dan sesungguhnya di antara fitnahnya Dajjal memiliki surga dan neraka. Maka nerakanya adalah surga (Allah) dan surganya adalah neraka (Allah).” (HR Ibnu Majah)

Maka sudah tiba masanya bagi setiap muslim untuk mempersiapkan diri dan keluarganya dari fitnah yang paling dahsyat sepanjang zaman, yaitu fitnah Dajjal. Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mengajarkan beberapa kiat untuk menyelamatkan diri dari fitnah Dajjal, di antaranya:

Pertama, bacalah doa permohonan perlindungan Allah pada saat duduk sholat tahiyyat terakhir dalam sebelum salam kanan dan kiri:

اللهم إني أعوذبك بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari azab jahannam,  dari azab kubur,  dari fitnah kehidupan dan kematian serta dari jahatnya fitnah Al-Masih Ad-Dajjal” (HR Muslim)

Kedua, bacalah surat Al-Kahfi di malam Jumat atau hari Jumat sesuai hadits berikut:

من قرأ سورة الكهف يوم الجمعة فأدرك

الدجال لم يسلط عليه ، – أو قال : لم يضره

“Barangsiapa membaca surah Al-Kahfi di hari Jumat, maka Dajjal tidak bisa menguasainya atau memudharatkannya.” (HR Baihaqi)

Ketiga, hafalkan sepuluh ayat pertama surat Al-Kahfi sesuai hadits berikut:

مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ

“Barangsiapa menghafal sepuluh ayat pertama surah Al-Kahfi, ia terlindungi dari fitnah Dajjal.” (HR Abu Dawud)

Keempat, menjauh dan tidak berkeinginan mendekati Dajjal pada masa kemunculannya telah tiba sesuai hadits berikut:

مَنْ سَمِعَ بِالدَّجَّالِ فَلْيَنْأَ عَنْهُ فَوَاللَّهِ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَأْتِيهِ

وَهُوَ يَحْسِبُ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ فَيَتَّبِعُهُ مِمَّا يَبْعَثُ بِهِ

مِنْ الشُّبُهَاتِ أَوْ لِمَا يَبْعَثُ بِهِ مِنْ الشُّبُهَاتِ هَكَذَا قَال

“Barangsiapa mendengar tentang Dajjal, hendaknya ia berupaya menjauh darinya, sebab -demi Allah- sesungguhnya ada seseorang yang mendekatinya (Dajjal) sedang ia mengira bahwa Dajjal tersebut mukmin kemudian ia mengikutinya karena faktor syubhat (tipu daya) yang ditimbulkannya.”  (HR Abu Dawud)

Kelima, menetap di Mekkah atau Madinah pada masa Dajjal telah keluar dan berkeliaran dengan segenap fitnah yang ditimbulkannya. Sebagaimana hadits berikut:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ مِنْ بَلَدٍ إِلَّا سَيَطَؤُهُ الدَّجَّالُ إِلَّا مَكَّةَ وَالْمَدِينَةَ وَلَيْسَ نَقْبٌ مِنْ أَنْقَابِهَا إِلَّا عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ صَافِّينَ تَحْرُسُهَا

“Tidak ada negeri (di dunia) melainkan akan dipijak (dilanda/diintervensi) oleh Dajjal kecuali Mekah dan Madinah kerana setiap jalan dan lereng bukit dijagai oleh barisan Malaikat.” (HR Bukhari-Muslim)

Sumber : Eramuslim

Iklan

Oleh Ustadz Sigit Pronowo, Lc.

Imam Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan Nasai dari Zaid bin Arqom menyaksikan bersama Rasulullah saw bersatunya dua hari raya. Maka beliau saw melaksanakan shalat id diawal siang kemudian memberikan rukhshah (keringanan) terhadap shalat jum’at dan bersabda,”Barangsiapa yang ingin menggabungkan maka gabungkanlah.” Didalam sanadnya ada yang tidak dikenal maka hadits ini lemah.

Abu Daud dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Hurairoh bahwa Nabi saw bersabda,”Sungguh telah bersatu dua hari raya pada hari kalian. Maka barangsiapa yang ingin menjadikannya pengganti (shalat) jum’at. Sesungguhnya kami menggabungkannya.” Terdapat catatan didalam sanadnya. Sementara Ahmad bin Hambal membenarkan bahwa hadits ini mursal, yaitu tidak terdapat sahabat didalamnya.

Nasai dan Abu Daud meriwayatkan bahwa pernah terjadi dua hari raya bersatu pada masa Ibnu az Zubeir lalu dia mengakhirkan keluar (untuk shalat, pen) hingga terik meninggi lalu dia keluar dan berkhutbah kemudian melaknakan shalat. Dia dan orang-orang tidak melaksanakan shalat (id) pada hari jum’at..

Catatan bahwa shalat yang dilakukan itu adalah shalat jum’at, hal itu ditunjukkan dengan mengedepankan khutbah sebelum shalat.

Didalam riwayat Abu Daud bahwa pada masa Ibnu az Zubeir telah terjadi hari raya bertepatan dengan hari jum’at lalu dia menggabungkan keduanya dan melaksanakan shalat keduanya dengan dua rakaat lebih awal dan tidak tidak melebihkan dari keduanya hingga dia melaksanakan shalat ashar..

Terhadap berbagai nash tertentu tentang bertepatannya hari jum’at dengan hari raya maka para ulama Hanafi dan Maliki berpendapat bahwa suatu shalat tidaklah bisa menggantikan shalat yang lainnya dan sesungguhnya setiap dari shalat itu tetap dituntut untuk dilakukan. Suatu shalat tidaklah bisa menggantikan suatu shalat lainnya bahkan tidak diperbolehkan menggabungkan (jama’) diantara keduanya. Sesungguhnya jama’ adalah keringanan khusus terhadap shalat zhuhur dan ashar atau maghrib dan isya.

Sedangkan para ulama Hambali mengatakan bahwa barangsiapa yang melaksanakan shalat id maka tidak lagi ada kewajiban atasnya shalat jum’at kecuali terhadap seorang imam maka kewajiban itu tetap ada padanya jika terdapat jumlah orang yang cukup untuk sahnya suatu shalat jum’at. Adapun jika tidak terdapat jumlah yang memadai maka tidak diwajibkan untuk shalat jum’at…

Para ulama Syafi’i mengatakan bahwa sesungguhnya shalat id sudah mencukupinya dari shalat jum’at bagi penduduk suatu kampung yang tidak mendapatkan jumlah orang yang memadai untuk sahnya suatu shalat jum’at dan mereka yang mendengar suara adzan dari negeri lain yang disana dilaksanakan shalat jum’at maka hendaklah berangkat untuk shalat jum’at. Dalil mereka adalah perkataan Utsman didalam khutbahnya,”Wahai manusia sesungguhnya hari kalian ini telah bersatu dua hari raya (jum’at dan id, pen). Maka barangsiapa dari penduduk al ‘Aliyah—Nawawi mengatakan : ia adalah daerah dekat Madinah dari sebelah timur—yang ingin shalat jum’at bersama kami maka shalatlah dan barangsiapa yang ingin beranjak (tidak shalat jum’at) maka lakukanlah.

Didalam Fatawa Ibnu Taimiyah disebutkan bahwa terdapat tiga pendapat para fuqaha tentang bertepatannya hari jum’at dengan hari raya ini :

1. Bahwa shalat jum’at diwajibkan bagi orang yang telah melaksanakan shalat id maupun yang tidak melaksanakan shalat id, sebagaimana pendapat Malik dan yang lainnya.

2. Bahwa shalat jum’at tidak diwajibkan bagi orang-orang di luat kota, sebagaimana hal itu diriwayatkan dari Utsman bin ‘Affan dan pendapat ini diikuti oleh Syafi’i,

3. Bahwa siapa yang telah melaksanakan shalat id maka tidak ada kewajiban atasnya shalat jum’at akan tetapi bagi seorang imam hendaklah melaksanakan shalat jum’at bersama orang-orang yang menginginkannya, sebagaimana terdapat didalam kitab-kitab sunnah dari Nabi saw, ini adalah pendapat Ahmad.

Kemudian dia (Ibnu Taimiyah) mengatakan : pendapat ini dinukil dari Nabi saw, para khalifah dan sahabatnya. Ini juga perkataan para imam seperti Ahmad dan lainnya yang telah sampai sunnah-sunnah dan atsar kepada mereka sedangkan para ulama yang yang memiliki pendapat berbeda adalah mereka yang tidak sampai sunnah-sunnah dan atsar itu kepada mereka.

Jadi permasalahan ini adalah permasalahan yang didalamnya terdapat perbedaan pendapat para ulama akan tetapi pendapat yang menyatakan cukup dengan shalat id saja atas shalat jum’at adalah lebih kuat tanpa membedakan penduduk di kampung atau di kota, seorang imam atau bukan imam karena tujuan dari kedua shalat itu telah tercapai… Berkumpulnya orang-orang untuk melaksanakan shalat berjamaah serta mendengarkan ceramah jadi shalat apa pun dari kedua shalat itu yang dilakukannya maka itu sudah cukup. “Lihat : Nailul Author, asy Syaukani juz III hal 299, al Fatawa al Islamiyah jilid I hal 71, Fatawa Ibnu Taimiyah jilid XXIV hal 212” (Fatawa al Azhar juz VIII hal 479)

Wallahu A’lam

[Eramuslim]


سبحان الذي أسرى بعبده ليلا من المسجد الحرام إلى المسجد الأقصى الذي باركنا حوله لنريه من آياتنا إنه هو السميع البصير

Terjemah :

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidilharam ke Al Masjidilaqha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Qs. Al Israa’ : 1)

Masjid Al Aqsha

Makna Yerusalem Bagi Seorang Muslim

Oleh Ibnu Kahfi, Alumni S2 Universitas Oldenburg (Jerman)

Ketika tulisan ini dibuat, sekelompok muslim sedang berdiam diri di dalam Masjidil Aqsha. Yang dilakukan oleh sekelompok muslim ini hanya berdiam diri di dalamnya, layaknya i’tikaf. Tetapi i’tikaf ini bukan dalam rangka hari-hari terakhir Ramadhan, karena momentum maha penting yang diharapkan merubah keadaan Umat Islam itu sudah berlalu, dan sedang bergerak ke momentum maha penting lainnya, yaitu Haji.

Bila seorang muslim melakukan i’tikaf di Bulan Ramadhan karena ingin bersungguh-sungguh sebelum Bulan ALLAH itu berpisah dengan dirinya, maka sekelompok muslim yang saat ini berdiam diri di dalam Masjidil Aqsha sedang bersungguh-sungguh pula menjadi tameng bahkan kalau perlu sebagai martir sebelum mereka benar-benar berpisah dengan Masjid Suci ini.

Masjid Suci hanya berada di tanah suci. Bila Masjidil Haram berada di tanah Makkah, dan Masjid Nabawi berada di tanah Madinah, maka bagaimana mungkin Masjidil Aqsha dipisahkan dari tanah Yerusalem, Al Quds. Tetapi lihatlah kondisi sekarang. Lihatlah bagaimana Umat Islam memperlakukan ketiga masjid ini.

Sebentar lagi kita akan melihat berbondong-bondong Umat Islam bergerak ke Madinah dan Makkah. Mereka akan bersungguh-sungguh mencari keutamaan di kedua tanah ini, shalat di Masjid Nabawi dan Haji di Baitullah. InsyaALLAH tidak ada yang menghambat gerak mereka. Tidak ada yang menghadang kedatangan mereka. Pintu masuk Masjidil Haram dan Masjid Nabawi itu terbuka untuk setiap manusia yang sudah tidak membawa identitas lain selain kalimat tauhid sebagai identitas tunggal mereka.

Tetapi ada yang berbeda dengan Masjid Terjauh itu. Umat Islam dihadang bila ingin memasukinya. Setiap gerak umat yang mengarah ke Masjid Suci ini dihambat dengan barikade rapat penuh ancaman. Sejak radius 200 km dari Masjid Suci ini barikade sudah disiapkan untuk menghalangi setiap muslim yang bergerak bahkan dengan berjalan kaki, hanya untuk berziarah ke masjid ini, ingin melihat bagaimana kabar Al Aqsha saat ini. Yang diperbolehkan memasuki masjid ini hanya mereka yang berusia 50 tahun ke atas, itupun hanya mereka yang sudah ‘terlanjur’ bermukim di Yerusalem. Di sekitar masjid tanah sudah dikeruk untuk mempersiapkan bangunan baru. Di bawah masjid penggalian sudah tak terhitung jari hingga menimbulkan keretakan yang tak terhitung pula. Mereka yang pernah mempelajari fisika tidak akan ragu, bahwa hanya dengan sedikit ’sentuhan’ lagi, maka bangunan yang tegak di atas galian itu akan berubah menjadi puing-puing. Ini hanya persoalan menunggu waktu yang tepat agar kejadian itu kelak menjadi sebuah ‘pertunjukan’.

Bila Umat Islam adalah umat yang tidak membedakan para nabi, maka bagaimana mungkin mereka melupakan bahwa hampir semua nabi yang diceritakan Al Quran pernah bermukim di Yerusalem. Mengetahui bahwa Masjid Suci ini adalah kiblat pertama Umat Islam ternyata belum cukup menyadarkan umat bahwa hendaknya mereka meletakkan pembebasan Al Aqsha pada baris pertama agenda perjuangan mereka. Ternyata pesan Rasulullah SAW bahwa lakukanlah perjalanan pada Tiga Masjid Suci belum cukup menjadi motivasi bagi umat agar suatu saat kaki ini harus menginjak ketiga tanah suci itu dan kening ini harus sujud di ketiga tanah suci itu.

Sungguh aneh bila 15 juta bangsa Yahudi merasa lebih memiliki Yerusalem ketimbang 1,5 milyar Umat Islam yang kebanyakan saat ini hanya menonton saudara-saudara mereka yang berjumlah 7 juta sudah terusir dan harus mengungsi meninggalkan rumah mereka, karena sejak 60 tahun lalu hingga sekarang, separuh populasi Yahudi dunia itu sudah bermigrasi dan merampas tanah itu dari pemiliknya.

Adakah ini konflik tanah belaka ? Adakah ini persengketaan tanah belaka ? Adakah ini persoalan penjajahan semata ? Sadarlah wahai muslim ! Bangunlah wahai muslim yang memiliki akal ! Mereka yang merampas Al Aqsha tidak pernah menyebutnya sebagai Masjid Suci. Mereka memanggilnya dengan The Third Temple. Mereka ingin membangun kembali kuil mereka setelah dua kali dihancurkan oleh Babilonia dan Romawi. Mereka sedang menanti Mesiah mereka, Raja mereka yang menurut mereka adalah Raja yang dijanjikan. Dan bagi kita yang muslim, Raja mereka itu adalah Dajjal, makhluk yang ALLAH ciptakan agar kelak ketika ia sudah dalam dimensi waktu yang sama dengan kita, maka dia inilah yang akan menipu manusia dengan mempersonifikasikan dirinya sebagai Isa as, Al Masih sebenarnya.

Sadarlah wahai muslim ! Bangunlah wahai muslim yang memiliki akal ! Mereka yang merampas Yerusalem itu menyebut kaum muslimin dengan Gog and Magog (Ya’juj dan Ma’juj). Mereka mendefinisikan kaum muslimin sebagai kaum perusak yang akan menyulitkan mereka di akhir zaman. Sungguh sudah banyak studi bahwa justru Ya’juj dan Ma’juj itu adalah orang-orang Zionis yang kita kenal saat ini. Bangsa Yahudi saat ini kebanyakan bukanlah bangsa Bani Israil keturunan Nabi Ya’qub itu. Kebanyakan mereka yang saat ini mengaku Yahudi dan Zionis adalah keturunan Bangsa Khazar dari pegunungan Kaukasus yang dengan misterius kemudian memeluk Yahudi. Ciri khas pada wajah mereka adalah ciri khas bangsa Khazar. Mereka inilah sang perusak. Mereka adalah kaum yang sama tatkala memulai Perang Salib. Mereka adalah kaum yang sama tatkala mencuri Yerusalem dari Khilafah Utsmani. Mereka adalah kaum yang sama yang memantik Perang Dunia.

Mereka adalah kaum yang sama ketika Peristiwa Nakba terjadi. Mereka adalah kaum yang sama yang saat ini menggenggam dunia dalam rangka mempersiapkan kembali masa keemasan. Menguasai dunia dari Yerusalem seperti dahulu Nabi Sulaiman dengan kerajaannya. Simaklah studi Syeikh Imran Hosein mengenai masalah ini. Perhatikanlah peringatan Syeikh Safar Al Hawali yang karena mengungkap belitan zionis di Semenanjung Arabia, maka ia dicopot dari jabatan Pimpinan Fakultas Akidah Universitas Ummul Qura di Makkah.

Lalu masihkah engkau berpikir ini persoalan sebagaimana yang berusaha mereka tampilkan di media-media yang sudah mereka kuasai ? Masihkah ini persoalan sebagaimana ia terlihat ? Ini adalah persoalan akidah ! Ini adalah persoalan kaum yang melempar Taurat dan menggenggam Talmud meyakini apa yang ada di genggaman mereka dan sedang bergerak menggapai tujuan mereka. Lalu bagaimana mungkin seorang muslim tidak pula menjadikan persoalan ini sebagai bentuk keyakinan mereka pada Al Quran dan Al Hadits lalu bergerak pula untuk memenangkan Kalimat ALLAH ini. Bila kita mengaku sebagai pengikut Rasulullah SAW, maka terimalah hadits – hadits darinya, termasuk hadits mengenai keadaan akhir zaman, keadaan Kaum Muslimin dan Yahudi, dan keadaan Bumi Palestina yang saat ini dikenal.

Sudah cukup Umat Islam terbawa aturan main musuhnya sendiri. Sudah cukup Umat Islam berjalan di muka bumi tanpa agenda yang jelas, sibuk mengikuti agenda musuh mereka. Dajjal itu sudah memasuki hampir setiap pelosok dunia ini. Jangan cari wujudnya, lihat bekasnya. Sistem Dajjal sudah mencengkeram dunia, bahkan diadopsi oleh sebagian besar kaum muslimin sendiri. Belum cukupkah ini menunjukkan betapa Saat itu telah dekat ?

Sungguh Ya Muslim, kita adalah count down generation. Akhir Sejarah itu sudah dalam hitungan mundur. InsyaALLAH kita adalah saksi dari episode Akhir Zaman itu. Danau Tiberias itu sudah mencapai level terendah sepanjang sejarah. Tahukah engkau apa episode yang menunggu bila danau itu mengering ? Kapan engkau akan bangun Ya Muslim, Ya Ummatul Wahidah !

Oh Al Aqsha, betapa mulianya dirimu. Bouraq ditambatkan di tembokmu. Rasulmu naik hingga langit ketujuh dari batu yang ada di halamanmu. Baitul Ma’mur tegak lurus berada di atasmu. Seluruh Nabi dan Rasul shalat di hamparanmu dengan Rasul junjunganmu sebagai imamnya. Engkau menjadi saksi perintah shalat diturunkan sebagai tiang agama umat harapanmu. Engkau pula yang kelak akan menjadi saksi betapa Kalimat ALLAH itu akan menang jua.

Bumi Al Quds selalu menjadi bumi ujian. Dan ia juga menjadi ujian bagi Kaum Muslimin, siapa di antara mereka yang termasuk dalam kelompok yang dijanjikan Rasulullah SAW. Kelompok yang selalu ada hingga akhir zaman untuk memerangi mereka yang berusaha memadamkan Cahaya ALLAH. Wahai muslim, ketimbang engkau sibukkan diri dengan rencana membangun rumah duniamu, kenapa tidak dari sekarang engkau rencanakan dan tetapkan kapan kakimu akan menginjak Bumi Al Quds dan menegakkan Bendera Tauhid itu di sana ?

“Kalau hal itu merupakan harta dunia yang mudah dan perjalanan yang dekat, niscaya mereka mengikutimu. Namun tempat yang dituju itu sangat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan nama ALLAH, “Jikalau kami sanggup, niscaya kami berangkat bersama-sama kamu.” Mereka membinasakan diri sendiri. ALLAH mengetahui sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta. “ (Q.S. At Taubah 42)

“Maka bersabarlah kamu. Sesungguhnya janji ALLAH adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini itu menggelisahkan kamu. “ (Q.S. Ar Ruum 60)

Sumber : Adioecoep.wordpress.com

Oleh Denny Kusumah

Dari Muadz bin Jabal dari Ibn Abbas Radhiyallahu’anhu,

Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW di kediaman seorang sahabat Anshar, tiba – tiba terdengar panggilan seseorang dari luar rumah: “Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk..? Sebab kalian akan membutuhkanku. “

Rasulullah bersabda:”Tahukah kalian siapa yang memanggil?”

Kami menjawab: “Allah dan rasulNya yang lebih tahu.”

Beliau melanjutkan, “Itu Iblis, laknat Allah bersamanya.”

Umar bin Khattab berkata: “izinkan aku membunuhnya wahai Rasulullah”

Nabi menahannya: “Sabar wahai Umar, bukankah kamu tahu bahwa Allah memberinya kesempatan hingga hari kiamat? Lebih baik bukakan pintu untuknya, sebab dia telah diperintahkan oleh Allah untuk ini, pahamilah apa yang hendak ia katakan dan dengarkan dengan baik.”

Ibnu Abbas RA berkata: pintu lalu dibuka, ternyata dia seperti seorang kakek yang cacat satu matanya. di janggutnya terdapat 7 helai rambut seperti rambut kuda, taringnya terlihat seperti taring babi, bibirnya seperti bibir sapi.

Iblis berkata: “Salam untukmu Muhammad,… . salam untukmu para hadirin…”

Rasulullah SAW lalu menjawab: Salam hanya milik Allah SWT, sebagai mahluk terlaknat, apa keperluanmu?”

Iblis menjawab: “Wahai Muhammad, aku datang ke sini bukan atas kemauanku, namun karena terpaksa.”

” Siapa yang memaksamu?”

Seorang malaikat dari utusan Allah telah mendatangiku dan berkata:

“Allah SWT memerintahkanmu untuk mendatangi Muhammad sambil menundukkan diri, beritahu Muhammad tentang caramu dalam menggoda manusia. jawablah dengan jujur semua pertanyaannya. Demi kebesaran Allah, andai kau berdusta satu kali saja, maka Allah akan jadikan dirimu debu yang ditiup angin.”

oleh karena itu aku sekarang mendatangimu. Tanyalah apa yang hendak kau tanyakan. jika aku berdusta, aku akan dicaci oleh setiap musuhku. tidak ada sesuatu pun yang paling besar menimpaku daripada cacian musuh.”

Orang Yang Dibenci Iblis

Rasulullah SAW lalu bertanya kepada Iblis: “Kalau kau benar jujur, siapakah manusia yang paling kau benci?”

Iblis segera menjawab: “Kamu, kamu dan orang sepertimu adalah mahkluk Allah yang paling aku benci.”

“Siapa selanjutnya?”

“Pemuda yang bertakwa yang memberikan dirinya mengabdi kepada Allah SWT.”

“lalu siapa lagi?”

“Orang Aliim dan wara’ (Loyal)”

“Lalu siapa lagi?”

“Orang yang selalu bersuci.”

“Siapa lagi?”

“Seorang fakir yang sabar dan tak pernah mengeluhkan kesulitannnya kepada orang lain.”

“Apa tanda kesabarannya?”

“Wahai Muhammad, jika ia tidak mengeluhkan kesulitannya kepada orang lain selama 3 hari, Allah akan memberi pahala orang -orang yang sabar.”

” Selanjutnya apa?”

“Orang kaya yang bersyukur.”

“Apa tanda kesyukurannya?”

“Ia mengambil kekayaannya dari tempatnya, dan mengeluarkannya juga dari tempatnya.”

“Orang seperti apa Abu Bakar menurutmu?”

“Ia tidak pernah menurutiku di masa jahiliyah, apalagi dalam Islam.”

“Umar bin Khattab?”

“Demi Allah setiap berjumpa dengannya aku pasti kabur.”

“Usman bin Affan?”

“Aku malu kepada orang yang malaikat pun malu kepadanya.”

“Ali bin Abi Thalib?”

“Aku berharap darinya agar kepalaku selamat, dan berharap ia melepaskanku dan aku melepaskannya. tetapi ia tak akan mau melakukan itu.” (Ali bin Abi Thalib selau berdzikir terhadap Allah SWT)

Amalan Yang Dapat Menyakiti Iblis

“Apa yang kau rasakan jika melihat seseorang dari umatku yang hendak shalat?”

“aku merasa panas dingin dan gemetar.”

“Kenapa?”

“Sebab, setiap seorang hamba bersujud 1x kepada Allah, Allah mengangkatnya 1 derajat.”

“Jika seorang umatku berpuasa?”

“Tubuhku terasa terikat hingga ia berbuka.”

“Jika ia berhaji?”

“Aku seperti orang gila.”

“Jika ia membaca al-Quran?”

“Aku merasa meleleh laksana timah diatas api.”

“Jika ia bersedekah?”

“Itu sama saja orang tersebut membelah tubuhku dengan gergaji.”

“Mengapa bisa begitu?”

“Sebab dalam sedekah ada 4 keuntungan baginya. yaitu keberkahan dalam hartanya, hidupnya disukai, sedekah itu kelak akan menjadi hijab antara dirinya dengan api neraka dan segala macam musibah akan terhalau dari dirinya.”

“Apa yang dapat mematahkan pinggangmu?”

“Suara kuda perang di jalan Allah.”

“Apa yang dapat melelehkan tubuhmu?”

“Taubat orang yang bertaubat.”

“Apa yang dapat membakar hatimu?”

“Istighfar di waktu siang dan malam.”

“Apa yang dapat mencoreng wajahmu?”

“Sedekah yang diam – diam.”

“Apa yang dapat menusuk matamu?”

“Shalat fajar.”

“Apa yang dapat memukul kepalamu?”

“Shalat berjamaah.”

“Apa yang paling mengganggumu?”

“Majelis para ulama.”

“Bagaimana cara makanmu?”

“Dengan tangan kiri dan jariku.”

“Dimanakah kau menaungi anak – anakmu di musim panas?”

“Di bawah kuku manusia.”

Manusia Yang Menjadi Teman Iblis

Nabi lalu bertanya : “Siapa temanmu wahai Iblis?”

“Pemakan riba.”

“Siapa sahabatmu?”

“Pezina.”

“Siapa teman tidurmu?”

“Pemabuk.”

“Siapa tamumu?”

“Pencuri.”

“Siapa utusanmu?”

“Tukang sihir.”

“Apa yang membuatmu gembira?”

“Bersumpah dengan cerai.”

“Siapa kekasihmu?”

“Orang yang meninggalkan shalat jum’at”

“Siapa manusia yang paling membahagiakanmu?”

“Orang yang meninggalkan shalatnya dengan sengaja.”

Iblis Tidak Berdaya Di hadapan Orang Yang Ikhlas

Rasulullah SAW lalu bersabda : “Segala puji bagi Allah yang telah membahagiakan umatku dan menyengsarakanmu.”

Iblis segera menimpali:

“Tidak,tidak… tak akan ada kebahagiaan selama aku hidup hingga hari akhir.

Bagaimana kau bisa berbahagia dengan umatmu, sementara aku bisa masuk ke dalam aliran darah mereka dan mereka tak bisa melihatku. Demi yang menciptakan diriku dan memberikan ku kesempatan hingga hari akhir, aku akan menyesatkan mereka semua. Baik yang bodoh, atau yang pintar, yang bisa membaca dan tidak bisa membaca, yang durjana dan yang shaleh, kecuali hamba Allah yang ikhlas.”

“Siapa orang yang ikhlas menurutmu ?”

“Tidakkah kau tahu wahai Muhammad, bahwa barang siapa yang menyukai emas dan perak, ia bukan orang yang ikhlas. Jika kau lihat seseorang yang tidak menyukai dinar dan dirham, tidak suka pujian dan sanjungang, aku bisa pastikan bahwa ia orang yang ikhlas, maka aku meninggalkannya. Selama seorang hamba masih menyukai harta dan sanjungan dan hatinya selalu terikat dengan kesenangan dunia, ia sangat patuh padaku.”

Iblis Dibantu oleh 70.000 anak – anaknya

Tahukah kamu Muhammad, bahwa aku mempunyai 70.000 anak. Dan setiap anak memiliki 70.000 syaithan.

Sebagian ada yang aku tugaskan untuk mengganggu ulama. Sebagian untuk menggangu anak – anak muda, sebagian untuk menganggu orang -orang tua, sebagian untuk menggangu wanita – wanita tua, sebagian anak-anakku juga aku tugaskan kepada para Zahid.

Aku punya anak ynag suka mengencingi telinga manusia sehingga ia tidur pada shalat berjamaah. tanpanya, manusia tidak akan mengantuk pada waktu shalat berjamaah.

aku punya anak yang suka menaburkan sesuatu di mata orang yang sedang mendengarkan ceramah ulama hingga mereka tertidur dan pahalanya terhapus.

Aku punya anak yang senang berada di lidah manusia, jika seseorang melakukan kebajikan lalu ia beberkan kepada manusia, maka 99% pahalanya akan terhapus.

Pada setiap seorang wanita yang berjalan, anakku dan syaithan duduk di pinggul dan pahanya, lalu menghiasinya agar setiap orang memandanginya.

Syaithan juga berkata,”keluarkan tanganmu”, lalu ia mengeluarkan tangannya lalu syaithan pun menghiasi kukunya.

mereka, anak – anakku selalu meyusup dan berubah dari satu kondisi ke kondisi lainnya, dari satu pintu ke pintu yang lainnya untuk menggoda manusia hingga mereka terhempas dari keikhlasan mereka.

Akhirnya mereka menyembah Allah tanpa ikhlas, namun mereka tidak merasa.

Tahukah kamu, Muhammad? bahwa ada rahib yang telah beribadat kepada Allah selama 70 tahun. Setiap orang sakit yang didoakan olehnya, sembuh seketika. Aku terus menggodanya hingga ia berzina, membunuh dan kufur.

Cara Iblis Menggoda

Tahukah kau Muhammad, dusta berasal dari diriku?

Akulah mahluk pertama yang berdusta.

Pendusta adalah sahabatku. barangsiapa bersumpah dengan berdusta, ia kekasihku.

Tahukah kau Muhammad?

Aku bersumpah kepada Adam dan Hawa dengan nama Allah bahwa aku benar – benar menasihatinya.

Sumpah dusta adalah kegemaranku.

Ghibah (gossip) dan Namimah (Adu domba) kesenanganku.

Kesaksian palsu kegembiraanku.

Orang yang bersumpah untuk menceraikan istrinya ia berada di pinggir dosa walau hanya sekali dan walaupun ia benar. Sebab barang siapa membiasakan dengan kata – kata cerai, isterinya menjadi haram baginya. Kemudian ia akan beranak cucu hingga hari kiamat. jadi semua anak – anak zina dan ia masuk neraka hanya karena satu kalimat, CERAI.

Wahai Muhammad, umatmu ada yang suka mengulur ulur shalat. Setiap ia hendak berdiri untuk shalat, aku bisikan padanya waktu masih lama, kamu masih sibuk, lalu ia manudanya hingga ia melaksanakan shalat di luar waktu, maka shalat itu dipukulkannya kemukanya.

Jika ia berhasil mengalahkanku, aku biarkan ia shalat. Namun aku bisikkan ke telinganya ‘lihat kiri dan kananmu’, iapun menoleh. pada saat itu aku usap dengan tanganku dan kucium keningnya serta aku katakan ‘shalatmu tidak sah’

Bukankah kamu tahu Muhammad, orang yang banyak menoleh dalam shalatnya akan dipukul.

Jika ia shalat sendirian, aku suruh dia untuk bergegas. ia pun shalat seperti ayam yang mematuk beras.

jika ia berhasil mengalahkanku dan ia shalat berjamaah, aku ikat lehernya dengan tali, hingga ia mengangkat kepalanya sebelum imam, atau meletakkannya sebelum imam.

Kamu tahu bahwa melakukan itu batal shalatnya dan wajahnya akan dirubah menjadi wajah keledai.

Jika ia berhasil mengalahkanku, aku tiup hidungnya hingga ia menguap dalam shalat. Jika ia tidak menutup mulutnya ketika mnguap, syaithan akan masuk ke dalam dirinya, dan membuatnya menjadi bertambah serakah dan gila dunia.

Dan iapun semakin taat padaku.

Kebahagiaan apa untukmu, sedang aku memerintahkan orang miskin agar meninggalkan shalat. aku katakan padaknya, ‘kamu tidak wajib shalat, shalat hanya wajib untuk orang yang berkecukupan dan sehat. orang sakit dan miskin tidak, jika kehidupanmu telah berubah baru kau shalat.’

Ia pun mati dalam kekafiran. Jika ia mati sambil meninggalkan shalat maka Allah akan menemuinya dalam kemurkaan.

Wahai Muhammad, jika aku berdusta Allah akan menjadikanku debu.

Wahai Muhammad, apakah kau akan bergembira dengan umatmu padahal aku mengeluarkan seperenam mereka dari islam?”

10 Hal Permintaan Iblis kepada Allah SWT

“Berapa hal yang kau pinta dari Tuhanmu?”

“10 macam”

“apa saja?”

“Aku minta agar Allah membiarkanku berbagi dalam harta dan anak manusia, Allah mengizinkan. Allah berfirman,

“Berbagilah dengan manusia dalam harta dan anak. dan janjikanlah mereka, tidaklah janji setan kecuali tipuan.” (QS Al-Isra :64)

Harta yang tidak dizakatkan, aku makan darinya. Aku juga makan dari makanan haram dan yang bercampur dengan riba, aku juga makan dari makanan yang tidak dibacakan nama Allah.

Aku minta agar Allah membiarkanku ikut bersama dengan orang yang berhubungan dengan istrinya tanpa berlindung dengan Allah, maka setan ikut bersamanya dan anak yang dilahirkan akan sangat patuh kepada syaithan.

Aku minta agar bisa ikut bersama dengan orang yang menaiki kendaraan bukan untuk tujuan yang halal.

Aku minta agar Allah menjadikan kamar mandi sebagai rumahku.

Aku minta agar Allah menjadikan pasar sebagai masjidku.

Aku minta agar Allah menjadikan syair sebagai Quranku.

Aku minta agar Allah menjadikan pemabuk sebagai teman tidurku.

Aku minta agar Allah memberikanku saudara , maka Ia jadikan orang yang membelanjakan hartanya untuk maksiat sebagai saudaraku.

Allah berfirman, “Orang -orang boros adalah saudara – saudara syaithan. ” (QS Al-Isra : 27).

Wahai Muhammad, aku minta agar Allah membuatku bisa melihat manusia sementara mereka tidak bisa melihatku.

Dan aku minta agar Allah memberiku kemampuan untuk mengalir dalam aliran darah manusia.

Allah menjawab, “silahkan”, dan aku bangga dengan hal itu hingga hari kiamat.

Sebagian besar manusia bersamaku di hari kiamat.

Iblis berkata : “wahai muhammad, aku tak bisa menyesatkan orang sedikitpun, aku hanya bisa membisikan dan menggoda.”

jika aku bisa menyesatkan, tak akan tersisa seorangpun…!!!

Sebagaimana dirimu, kamu tidak bisa memberi hidayah sedikitpun, engkau hanya rasul yang menyampaikan amanah.

Jika kau bisa memberi hidayah, tak akan ada seorang kafir pun di muka bumi ini.

Kau hanya bisa menjadi penyebab untuk orang yang telah ditentukan sengsara.

Orang yang bahagia adalah orang yang telah ditulis bahagia sejak di perut ibunya. Dan orang yang sengsara adalah orang yang telah ditulis sengsara semenjak dalam kandungan ibunya.

Rasulullah SAW lalu membaca ayat :

“Mereka akan terus berselisih kecuali orang yang dirahmati oleh Allah SWT” (QS Hud :118 – 119) juga membaca,

“Sesungguhnya ketentuan Allah pasti berlaku” (QS Al-Ahzab : 38)

Iblis lalu berkata:

“Wahai Muhammad Rasulullah, takdir telah ditentukan dan pena takdir telah kering. Maha Suci Allah yang menjadikanmu pemimpin para nabi dan rasul, pemimpin penduduk surga, dan yang telah menjadikan aku pemimpin mahluk mahluk celaka dan pemimpin penduduk neraka. aku si celaka yang terusir, ini akhir yang ingin aku sampaikan kepadamu. dan aku tak berbohong.”

Sampaikanlah risalah ini kepada saudara2 kita…agar mereka mengerti dengan benar, apakah tugas2 dari Iblis/Syaithan tsb,sehingga kita semua dapat mengetahui dan dapat mencegahnya dan tidak menuruti bisikan dan godaan Iblis/Syaithan… Mudah2an dengan demikian kita dapat setidak2nya membuat hidup ini lebih nyaman…dan membuat tempat serta limgkungan kita lebih aman…..

Sumber : (Milis TentangQatar.Com)

Terenyuh hati ini ketika melihat saudara-saudara kita di Sumatera Barat menangis merasakan kepedihan dan kesusahan yang tak terkira pasca-gempa dahsyat yang terjadi pada tanggal 1 Oktober 2009 dengan kekuatan 7,6 SR itu telah meluluh lantakkan ribuan tempat tinggal dan gedung, menewaskan lebih dari 700 orang serta melukai ribuan penduduk lainnya.

Kami yang berdomisili jauh di luar negeri dengan sangat jelas menyaksikan kondisi korban-korban gempa bahkan saat-saat kejadian gempa melalui berbagai stasiun televisi timur tengah yang rata-rata meliput musibah yang menimpa salah satu kota dimana di tempat itu telah banyak melahirkan ulama-ulama kelas dunia seperti Syaikh Ahmad Yassin Al Fadani rahimahullah yang menjadi guru hampir sebagian besar ulama-ulama besar saat ini dan juga seorang sufi yang menjadi tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia Buya Hamka rahimahullah.

Kami menyaksikan proses evakuasi mayat yang berlangsung cukup rumit karena medan yang susah, kurangnya peralatan dan hujan lebat yang seakan ingin ikut meramaikan kesedihan masal ini.

Belum lagi kepedihan yang dirasakan oleh korban-korban yang masih hidup. Rumah-rumah mereka telah hancur, tidak punya tempat untuk menginap, tidur beratapkan langit ditambah lagi hujan lebat yang walaupun mereka mendapatkan tempat untuk berteduh di sisi-sisi bangunan yang masih tersisa, tetap tidak akan menghalangi tetesan-tetesan dingin air hujan mengenai tubuh-tubuh lapar mereka.

Perut-perut mereka dalam kelaparan yang luar biasa sebab tidak adanya makanan dan katanya mereka makan hanya dengan kerak nasi. Anak-anak bayi tidak mendapatkan susu. Sementara bantuan makanan terlambat dan tidak merata. Air bersih susah dan sedikit hingga untuk mandi dan buang air pun susah dan tidak ada tempat. Apalagi buat wudhu dan sholat, sudah tidak menentu jadinya. Makanya siapa-siapa korban sebuah bencana yang mampu mempertahankan shalatnya, patut untuk diancungi jenpol.

Tidur-tidur mereka tidak akan pernah tenang dan nyenyak sebab takut akan terjadi gempa susulan Semuanya berada dalam rasa ketakutan dan kegelisahan akan nasib anak, istri, suami, ayah, ibu dan semua sanak saudara serta teman-temannya apakah mereka masih hidup atau ikut terkubur dalam reruntuhan gempa.Yah begitulah memang susah dan repotnya jika kita berada dalam sebuah kondisi bencana alam.

و لنبلونكم بشىء من الخوف والجوع و نقص من الأموال و الأنفس و الثمرات و بشر الصابرين (البقرة: 155)

“Dan sungguh kami akan menguji engkau dengan sesuatu daripada ketakutan, kelaparan, berkurangnya harta, jiwa dan buah-buahan dan gembirakanlah orang-orang yang sabar.”

Sepertinya tidak ada yang menolong para korban itu, seolah-olah tidak ada yang mendengar dan melihat jeritan serta kesusahan mereka. Allah benar-benar menciptakan sebuah kondisi dimana mereka hanya bisa mengeluh, menangis, merengek dan mengadu kepadanya. Seolah-olah Allah ingin mengatakan di depan mereka, “Sekarang tidak ada siapapun di sini yang dapat menolongmu selain Aku yang Maha Kuasa.“

و إن يمسسك الله بضر فلا كاشف له إلا هو… (الأنعام: 17)

“Dan jika Allah menyentuhmu dengan marabahaya maka tidak ada yang dapat menghilangkannya melainkan Dia (Allah)…”

Namun dibalik kerugian fisik ini semua, ada banyak keuntungan batin. Orang-orang arif dan bijak sangat memahami bahwa seharusnya musibah ini tidak perlu disesalkan tetapi sepatutnya disyukuri,

وعسى أن تكرهوا شيئا و هو خير لكم…(البقرة: 216)

“…dan boleh jadi kamu membenci sesuatu sementara ia baik bagimu…”

Di balik tangisan hamba atas kesusahan yang menimpanya, tersimpan keridhoan dan ampunan sebab Allah sangat menyukai tangisan dan rengekan dari makhluk yang dibuat dengan tangan-Nya sendiri yang bernama manusia ini.

إذا اشتكى المؤمن أخلصه الله من ذنوبه كما يخلص الكير خبث الحديد (رواه البخاري)

“Jika seorang mukmin merintih (karena kesusahan dan kesakitan) Allah membersihkannya dari dosa-dosanya sebagaiamana ubupan membersihkan karat-karat besi.”

Mari kita sedikit menggali rahasia di balik musibah ini: 1) Pertama, seharusnya orang yang tertimpa musibah patut berterima kasih kepada Allah sebab tak ubahnya orang yang tertimpa musibah dengan Allah adalah seperti pasien dengan dokter. Dokter mengamputasi salah satu organ tubuh orang yang sakit agar ia memperoleh kesembuhan. Begitu pula Allah, telah mengambil harta dan sebagian sanak keluarga kita karena di situ ada kesembuhan untuk kita dari penyakit yang bernama ghaflah (lalai daripada Allah).

Harta, anak-anak dan keluarga mungkin selama ini memang telah membuat kita lalai dari mengingat Allah. Kita mungkin telah banyak meninggalkan shalat dan dzikir karena sibuk mengejar dunia untuk mengenyangkan perut anak-anak kita dan memuaskan nafsu dunia istri-istri kita. Allah Swt berfirman:

و اعلموا أنما أموالكم و أولادكم فتنة…(الأنفال: 28)

“…dan ketahuilah bahwasanya harta-harta dan anak-anak kamu adalah fitnah…”

Di sini Allah ingin menegur kita dengan berbagai marabahaya itu, bukan ingin menindih kita. Persis seperti ketika anda berjalan bersama wanita kekasih anda dan anda melihat kepada wanita lain selain dia maka dia akan mencubit anda agar anda menoleh kembali kepadanya. Seperti itu pulalah Allah kepada kita agar kita kembali kepadanya.

Coba deh buka Alqur’an, lihatlah ayat-ayat yang menceritakan tentang marabahaya atau bala’ yang menimpa kaum muslimin! Allah membahasakannya dengan “مس“ (menyentuh), bukan semata-mata “عذب” (mengadzab).

و إن يمسسك الله بضر فلا كاشف له إلا هو… (الأنعام: 17)

“Dan jika Allah menyentuhmu dengan marabahaya maka tidak ada yang dapat menghilangkannya melainkan Dia (Allah)…”

و إذا مس الإنسان ضر دعا ربه منيبا إليه… (سورة الزمر:8)

“Dan jika marabahaya menyentuh manusia iapun berdoa dan kembali kepada Tuhannya.”

و إذا مس الإنسان ضر دعانا لجنبه أو قاعدا أو قائما (سورة يونس:12)

“Dan jika marabahaya menyentuh manusia dia berdoa kepada kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri…”

Kembali kepada-Nya, itulah maksud Allah ketika menurunkan musibah kepada hamba-hambanya.

الذين إذا أصابتهم مصيبة قالوا إنا لله و إنا إليه راجعون (البقرة:156)

“Yaitu orang-orang yang jika tertimpa musibah mereka mengatakan sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nyalah kami kembali.”

2) Kedua, bukan hanya mengembalikan perhatian kita kepada-Nya, tetapi juga Allah pasti ingin menghapus dosa-dosa kita dengan bala’ atau musibah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ما من مصيبة يصاب بها المسلم إلا كفر بها عنه حتى الشوكة يشاكها (رواه مسلم)

“Tidaklah daripada musibah yang menimpa seorang muslim melainkan dibersihkan dosa-dosanya dengan musibah itu bahkan sampai sebab duri yang menusuknya sekalipun.”

Apa bedanya adzab yang akan dirasakan seorang hamba di akhirat kelak, atau di dunia, kedua-duanya seorang hamba akan merasakan sakit. Hanya saja Allah sangat suka untuk menyegerakan kaffarat dosa-dosa hambanya kaum muslimin di dunia daripada mereka harus menanggungnya di akhirat dengan rasa sakit yang jauh berlipat ganda.

أمتي هذه أمة مرحومة ليس عليها عذاب في الأخرة إنما عذابها في الدنيا الفتن و الزلزال و القتل و البلايا (رواه أبو داود و أحمد و أبو يعلى)

“Umatku ini adalah umat yang dirahmati, adzabnya bukan di akhirat melainkan adzabnya di dunia berupa fitnah, gempa, pembunuhan dan bala’.”

Lalu bagaimana dengan anak-anak kecil?! Bukankah mereka tidak memiliki dosa?! Mengapa mereka ikut menjadi korban juga?! Jawabnya adalah dengan musibah itu, bukan untuk mengampuni dosa-dosa anak kecil itu, tetapi untuk mengampuni dosa-dosa kedua orang tuanya. Inilah yang ditafsirkan oleh Imam Syafi’i rahimahullah atas ayat ke 155 surat Al Baqarah di atas bahwa الثمرات di atas tafsirnya adalah buah hati yaitu anak-anak. Imam Syafi’i menafsirkan demikian berdasarkan Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إذا مات ولد العبد قال الله للملائكة: أقبضتم ولد عبدي؟ فيقولون نعم. فيقول الله تعالى: أقبضتم ثمرة قلبه؟ فيقولون نعم. فيقول الله تعالى: ماذا قال؟ فيقولون: حمدك و استرجع, فيقول الله: ابنوا لعبدي بيتا في الجنة و سموه بيت الحمد ( البحر المديد في تفسير القرأن لإبن عجيبة ص: 152 ج: 1 )

“Jika mati seorang anak hamba maka Allah berfirman kepada para malaikat: Apakah kalian sudah mengambil nyawa anak hambaku? Malaikat menjawab ya. Allah berfirman lagi (untuk menguatkannya): Apakah kalian sudah mengambil nyawa buah hati hambaku? Malaikat menjawab: ya. Allah berfirman: Apa yang dikatakan hambaku itu? Malaikat menjawab: Ia malah memuji Engkau dan kembali (kepada-Mu). Maka Allah berfirman: Kalian bangunkanlah untuk hambaku itu sebuah rumah di surga dan namakanlah ia dengan rumah al-hamd.”

Lalu bagaimana dengan orang-orang shaleh yang sudah diampuni dosanya?! Mengapa mereka tertimpa musibah juga?! Jawabnya adalah jika seseorang tidak memiliki dosa, maka musibah itu akan mengangkat derajat bagi seorang hamba yang shaleh itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ما يصيب المؤمن من شوكة فما فوقها إلا رفعه الله درجة أو حط عنه بها خطيئة (رواه مسلم)

“Tidaklah menimpa seorang mukmin sesuatu daripada duri dan yang lebih besar daripadanya melainkan Allah mengangkatnya satu derajat atau dihapuskan daripadanya kesalahan.”

Ada pertanyaan lagi jika memang musibah atau adzab itu berfungsi untuk membersihkan dosa-dosa para hamba, lalu kenapa justru musibah itu tidak di turunkan saja di Jakarta, Bandung, Surabaya atau kota-kota lainnya yang lebih hebat kemaksiatannya?! Bukankah mereka lebih perlu untuk diturunkan adzab agar bersih dosa-dosanya?! Jawabnya adalah firman Allah Swt:

فيغفر لمن يشاء و يعذب من يشاء و الله على كل شيء قدير (البقرة:284)

“Dan Allah mengampuni siapa-siapa yang dikehendaki-Nya dan mengadzab siapa-siapa yang dikehendakinya dan Allah meha kuasa atas segala sesuatu.”

Kuasa kita hanya terbatas pada ilmu dan pengetahuan kita yang sempit ini. Apa hak kita mengatur dan mempertanyakan Allah, kenapa bala’ tidak turun di sini saja, kenapa bala’ tidak turun di sana saja?! Sementara Allah maha kuasa dan ikmunya yang tak terbatas itu melingkupi segala sesuatu.lebih tahu daripada kita, mana-mana negeri yang pantas untuk diturunkannya adzab, mana-mana negeri yang pantas untuk diampuninya, dan mana-mana negeri yang pantas untuk dibiarkannya. Bisa jadi kota-kota yang belum diturunkan Allah adzab itu hanya bersifat penundaan saja, mungkin besok, lusa, bulan depan atau bebarapa tahun yang akan datang, giliran kota kita yang akan ditimpakan Allah bencana-bencana ini. Atau bisa jadi penundaan itu karena istidraj dari Allah ke atas kita. Kita di biarkan Allah berbuat semaunya hingga sampai batas waktu yang telah ditentukan, apakah di akhirat ataupun di dunia, Allah langsung mengadzab kita sekuat-kuatnya dengan balasan yang justru jauh berlipat ganda.

Bersyukurlah kaum muslimin yang disegerakan Allah adzabnya di dunia. Sebab akan terhindar dari adzab di akhirat yang lebih keras lagi siksanya. Maka saya menyimpulkan bahwa penduduk Padang dan Aceh lebih dicintai dan diridhoi Allah daripada penduduk kota-kota lainnya, sebab dengan menyegerakan adzabnya, itu berarti Allah telah meringankan balasannya atau bahkan telah mengampuni dosa mereka semua. Subhanallah…Amin…Allahumma amin…

إن عظم الجزاء مع عظم البلاء, و إن الله إذا أحب قوما ابتلاهم, فمن رضي فله الرضا, و من سخط فله السخط (أخرجه الترمذي و ابن ماجة)

“Sesungguhnya besarnya pahala berdasarkan besarnya bala’ (ujian), dan sesungguhnya Allah jika mencintai suatu kaum maka diturunkannya bala’ atas mereka. Siapa yang ridha maka baginya ridha (Allah) dan siapa yang marah maka baginya kemarahan (Allah).”

Pertanyaan terakhir, kalaulah memang mushibah atau adzab itu untuk membersihkan dosa-dosa, kenapa toh ternyata juga diturunkan di negara-negara kafir seperti gempa di Jepang dan Badai Katrina di Amerika Serikat?

Jawabannya adalah karena hakekat musibah itu bukan hanya untuk mengingatkan dan membersihkan dosa-dosa para hamba sebagaimana yang berlaku atas kaum muslimin di atas, tetapi juga untuk menghukum makhluk-makhluk durhaka yang sudah kelewat batas yang tidak bisa diampuni lagi dosa-dosanya. Itulah mereka orang-orang kafir. Sudah melakukan kezaliman kepada Allah dengan menyekutukan-Nya, malah suka melakukan kemaksiatan dan menzhalimi makhluk Allah pula.

و أما من تولى و كفر فيعذبه الله العذاب الأكبر (الغاشية: 24)

“Dan adapun yang berpaling lagi kafir, maka Allah mengadzabnya dengan adzab yang paling besar”

Dan adzab yang paling besar itu dapat dipastikan bukan pembersihan, melainkan itu benar-benar hukuman, sebab apanya lagi yang mau dibersihkan dan diampuni dari orang-orang kafir?!

Tuhannya saja sudah dia zalimi dengan kesyirikannya, apalagi makhluk-makhluk Tuhannya.

إن الله لا يغفر أن يشرك به و يغفر ما دون ذالك…(النساء:48)

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa-dosa orang) yang menyekutukannya dan mengampuni (dosa-dosa) yang selain itu…”

Toh kalaupun mereka melakukan amal dan ditimpa ujian, tetap tidak dapat menutupi dan menebus dosa-dosa penyekutuan mereka terhadap Tuhannya. Sebab dosa menyekutukan Tuhan dari seorang makhluk itu sangat besar dan tidak terampuni jika belum bertaubat. Pahala, ampunan dan kebaikan itu terhalangi oleh kesyirikan. Jadi tujuan penurunan bala’ sebagai pembersihan dosa (الكفرات) tidak dapat terealisasi selama mereka masih dalam kekafiran. Maka dapat dipastikan bahwa bala’ yang ditimpakan kepada mereka adalah benar-benar hukuman (العقاب).

Mari kita renungkan beberapa ayat di bawah ini:

إنه من يشرك بالله فقد حرمه الله عليه الجنة و مأواه النار وما للظالمين من أنصار (المائدة:72)

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya adalah di neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolongpun.” (Al-Ma-idah: 72)

و قدمنا إلى ما عملوا من عمل فجعلناه هباء منثورا (الفرقان: 23)

“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan…” (Al-Furqaan: 23)

و الذين كذبوا بأيتنا و لقاء الأخرة حبطت أعمالهم (الأعراف: 147)

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mendustakan akan menemui akhirat, sia-sialah perbuatan mereka…” (Al-A’raaf : 147)

Subhanallah…itulah yang terjadi pada kaum Saba’, kaum Sodom, kaum Madyan, kaum Fir’aun, kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam, kaum Nabi Shaleh ‘alaihissalam. dan kaum-kaum para nabi lainnya sebelum kaum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam . Adzab itu benar-benar ditimpakan ke atas mereka dengan makna hukuman yang sebenar-benarnya. Sampai-sampai Alquran telah mencap mereka sebagai kaum yang fasiq, kufur, zhalim dan sebagainya seolah-olah tidak ada ampunan lagi bagi mereka.

Adapun umat Sayyidina Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam ini sangat dirahmati dan disayangi Allah Ta’ala. Adzab-adzab yang ditimpakan kepada mereka tidak sedahsya t adzab-adzab yang ditimpakan kepada umat-umat nabi-nabi terdahulu. Adzab yang diturunkan kepada kaum muslimin umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ini hanya setitik saja. Sampai-sampai Allah membahasakannya dengan sentuhan (المس)

Coba deh kita lihat gempa yang yang menimpa kota Padang, ternyata tidak semua orang Islam tewas di sana, hanya sebahagian kecil saja. Tidak semuanya terluka, hanya beberapa ribu saja. Sungguh menakjubkan. Seolah-olah memang Allah benar-benar ingin menyapa dan menegur kita. Kalaulah Allah benar-benar ingin menghukum dan membalas kita, pastilah kita semua akan dimusnahkan-Nya.

Atau coba deh lihat tsunami di Aceh kemaren, juga tidak semuanya penduduk Aceh ditimpakan bala’ oleh Allah. Dan lihatlah jauh ke belakang dari zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan hingga sekarang. Belum pernah Allah menimpakan adzab yang begitu besar hingga menewaskan lebih dari 50 persen umatnya ini. Sangat berbeda dengan apa yang terjadi para umat-umat para nabi sebelum Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, biasanya hampir 90 persen atau sebahagian besar umat-umat para nabi terdahulu itu dimusnahkan oleh Allah Ta’ala, hingga yang tersisa hanya beberapa persen atau beberapa puluh atau ratus orang saja yang masih dibiarkan hidup.

Sungguh-sungguh Allah memang bukan hendak mengadzab kita dengan adzab yang sebenar-benarnya, tetapi Allah hanya ingin menegur kita. Mungkin sebab karena masih ada jasad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah-tengah kita hingga Allah tidak pernah berkenan untuk mengadzab Umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ini.

وما كان الله ليعذبهم و أنت فيهم…(الأنفال:33)

“Dan Allah tidak hendak akan menyiksa mereka (umatmu Wahai Muhammad) sementara engkau berada di tengah-tengah mereka.”

Subhanallah walhamdulillah, kita harus bersyukur telah dijadikan Allah menjadi umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kita harus berterima kasih kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebab berkat keberadaan beliau kita menjadi hamba yang senantiasa amal dan mushibah yang menimpa kita menjadi kaffarat atas dosa-dosa kita.

Saudara-saudaraku yang senantiasa diampuni Allah… Ada sebahagian orang egois yang menafikan hikmah ini semua. Mereka berkata bahwa tidak layak bagi kita untuk mengaitkan bencana alam ini dengan dosa-dosa para penduduknya terlebih dalam suasana duka seperti ini, hanya akan menyinggung perasaan para korban gempa saja, sebab mereka merasa telah disudutkan.

Sungguh kalam ini sangat naïf dan picik. Justru kalau kita tidak mengaitkan peristiwa bencana ini dengan dosa-dosa kita malah akan membuat tujuan Allah menurunkan musibah ini menjadi tidak terealisasi, yaitu mengingatkan para hambanya untuk tidak mengulangi dosa-dosanya lagi dan yang belum melakukannya untuk tidak melakukannya. Para Rasul dan Anbiya’ yang arif dan bijak saja dahulu senantiasa mengingatkan umatnya bahwa bala’ yang menimpa adalah akibat dari kemarahan Allah atas perbuatan dosa dan maksiat.

Begitu pula Alquran tak ketinggalan untuk mengkaitkan antara kehancuran negeri-negeri umat terdahulu dengan perbuatan para penghuninya. Dan sebaliknya mengkait-kaitkan bahwa ketentraman dan kesejahteraan suatu negeri itu adalah karena ketaatan dan ketundukan para penduduknya.

Dengan tidak mengurangi simpati dan empati kepada para korban gempa di Sumatera Barat, di sini bukan maksud saya untuk menjelek-jelekkan mereka. Tetapi ini adalah kesempatan emas bagi kita untuk melakukan muhasabah atas dosa-dosa yang telah kita lakukan. Bagaimana kita bisa bermuhasabah kalau tidak ada dosa-dosa yang kita sadari, dan bagaiamana kita bisa menyadari, kalau tidak ada yang mengingatkan. Nah…izinkanlah saya untuk hanya sekedar mengingatkan Saudara-saudaraku sekalian, baik yang tertimpa musibah maupun yang belum tertimpa musibah di kota-kota lainnya.

Saya hanya ingin mengatakan bahwa memang alam Indonesia sudah tidak lagi bersahabat dengan penduduknya. Berkali-kali sudah alam ini membantai kita, tetapi terus saja Allah menurunkan bala’nya, dan menurunkan lagi dan terus demikian. Tidak tahu hingga sampai kapan berakhirnya bencana-bencana ini. Mungkin ini disebabkan karena tidak ada perubahan dalam diri kita. Mungkin itu akibat kita hanya menganggap bencana-bencana itu hanya fenomena alam biasa yang tidak membawa pesan apa-apa.

Atau memang kita menganggap dan sadar bahwa itu teguran Tuhan, kita menangis menyesali dosa-dosa kita, tetapi air mata yang jatuh dari mata kita hanya berlangsung selama beberapa hari saja. Kesedihan kita hanya bersifat sementara. Setelah itu kita kembali melakukan kemaksiatan, kita kembali memakan riba dan harta haram, kita kembali menzalimi orang, kita kembali berzina, kita kembali tidak melakukan shalat, kita kembali melupakan Allah. Apalah artinya kesedihan ini, jika sifatnya hanya sementara. Jika ia tidak membawa perubahan. Buayapun ketika bersedih, matanya akan mengeluarkan air mata. Apa bedanya kita dengan buaya. Sungguh-sungguh kita telah tertipu dan terbuai dengan kesedihan kita.

Benar sekali kata Ibnu Atha’illah As-Sakandari ulama shufi abad ketujuh Hijriyah yang berkata, ”Sering bersedih karena perbuatan dosa tanpa ada upaya untuk meninggalkannya sungguh kamu tertipu dan terbuai dengan kesedihanmu dan sering bersedih karena tidak melakukakan perbuatan ta’at tanpa ada upaya untuk melakukannya, sungguh lagi-lagi kamu tertipu dan terbuai dengan kesedihanmu.” (Baca Hikam Ibnu Atha’)

Seharusnya bencana tsunami di Aceh kemaren sudah cukup untuk mengingatkan kaum muslimin Indonesia di tempat-tempat lainnya. Bahwa perbuatan dosa akan mendatangkan bala’ dan bencana. Tetapi ternyata tidak demikian, kita pandainya hanya bersimpati dan berempati, menyampaikan bela sungkawa dan mengirimkan rangkaian bunga. Semua itu hanya seremonial belaka. Di belakang itu kita tetap tertawa terbahak-bahak, tetap menikmati harta riba, tetap menikmati tubuh-tubuh molek para wanita, tetap menikmati musik-musik yang diharamkan Allah, tetap menikmati tidur nyenyak kita di waktu-waktu akhir sepertiga malam ketika Tuhan menunggu hamba-Nya memohon ampunan.

Maka jangan heran, pasca-tsunami Aceh kemaren, Allah tetap saja menurunkan bencana terus-menerus di setiap kota di Indoensia. Di mulai dari Nias, Yogya, Porong, Situ Gintung, Tasik Malaya, Mandailing Natal, Jambi dan terakhir Padang serta masih banyak lagi yang belum saya sebutkan seperti musibah-musibah kebakaran hutan, kerusakan alam bawah laut, banjir, kekeringan, kecelakaan dan sebagainya. Sebab kita membeo atas peringatan-perinagatan Allah. Maka jangan terkejut jika suatu saat nanti bencana alam akan menimpa kota atau kampung kita, jika kita terus berdiam diri tanpa ada melakukan usaha perubahan. Wa na’udzubillah.

Terakhir…penulis ingin mengajak para pembaca sekalian untuk merenungi beberapa hadits di bawah ini. Sebelum gempa mendatangi kota-kota kita, alangkah baiknya jika kita mencegah sebabnya terlebih dahulu sebab mencegah itu lebih baik daripada mengobati.

“Bila perzinahan dan riba (penyelewengan) telah terang-terangan dilakukan oleh penduduk suatu negeri maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan bagi diri mereka untuk terkena azab Allah.” (Hadits Riwayat Bukhari)

“Dan menuturkan Ibnu Abi Ad-Dunya dari Anas bin Malik, bahwasanya beliau bertanya kepada A’isyah, Wahai Ummul Mu’minin: Katakan kepada kami tentang gempa, maka A’isyah berkata: Ketika para manusia telah membolehkan zina, meminum khamar dan menabuh alat-alat musik. Maka Allah berkata kepada bumi: Bergoncanglah hingga mereka bertaubat dan meninggalkan (kemaksiatan) mereka. Dan apabila tidak, maka binasakan mereka!”

Kami teringat kalam guru kami, Al Ustadz Al Fadhil Rohimuddin Nawawi Al Bantani ‘athalallahu ‘umrahu, “Seorang hamba yang cerdas adalah hamba yang segera membersihkan dosa-dosanya dengan taubat, bukan menunggu Allah yang akan membersihkan dosa-dosanya dengan mushibat.”

Wallahu a’lam…

Al-faqir ila maghfirati Rabbih

Muhammad Haris F. Lubis Pelajar Universitas Al Azhar Fak. Syariah wal Qanun Kairo Penulis aktif di Darul Hasani Centre for Islamic Tasawuf Studies Cairo Email: haris_lbs@yahoo.com

Sumber : Eramuslim

Hisab dengan kriteria (i) konjungsi terjadi sebelum maghrib, (ii) moonset setelah sunset, maka kriteria ini sudah dipenuhi di seluruh wilayah Indonesia. Menurut kriteria ini, 19 September 2009 maghrib sudah dinyatakan sebagai masuknya bulan Syawwal, sehingga 1 Syawwal 1430 H = 20 September 2009. Ramadhan 1430 H terdiri dari 29 hari.

Bulan Ramadhan yang mulia hampir berakhir. Di akhir-akhir bulan Ramadhan ini, sudah semestinya kaum muslimin berupaya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kepada Allah SWT, seperti puasa, shalat wajib dan tarawih, tilawah Quran, i’tikaf, zakat, infaq, shadaqah dan sebagainya. Di 10 hari terakhir Ramadhan terdapat satu malam yang disebut Lailatul Qadar yang lebih baik daripada 1000 bulan.

Berakhirnya bulan Ramadhan bersamaan dengan datangnya bulan Syawwal. Dalam kesempatan ini, penulis akan menjelaskan tentang hisab yang berkaitan dengan 1 Syawwal 1430 H. Tulisan ini semoga menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi kaum muslimin, serta pedoman bagi siapa yang ingin melakukan rukyatul hilal (pengamatan hilal) sebagai tanda datangnya bulan baru (new month).

Istilah-istilah bulan

Terlebih dahulu, penulis ingin memberikan sedikit gambaran perbedaan sederhana tentang kata “bulan”. Dalam bahasa Indonesia, “bulan” sering dipakai untuk tiga kata yang berbeda, dimana padanannya dalam bahasa Inggris adalah “moon”, “month” dan “crescent”. Kadang-kadang orang sering tertukar ketika menggunakan istilah “bulan baru”. Karena itu dalam tulisan ini penulis terkadang menggunakan pula padanan bahasa Inggrisnya.

Bulan (moon, lunar atau al-qamar) berarti benda langit yang menjadi satelit bumi dan tidak memiliki cahaya sendiri. Cahaya bulan (moon light) berasal dari pantulan sinar matahari yang jatuh ke permukaan bulan (moon surface) dan dilihat oleh manusia di bumi. Istilah new moon berarti saat ketika bulan (moon) dan matahari berada pada bujur ekliptika yang sama.

Bulan (month atau asy-syahru) juga bermakna satuan waktu yang digunakan dalam kalender, baik kalender Masehi (Gregorian), Islam (Hijriyah) maupun kalender lainnya. Contoh bulan Islam (Islamic month) adalah bulan Ramadhan dan Syawwal. Penentuan datangnya bulan Islam (Islamic month) adalah berdasarkan posisi bulan (moon position).

Bulan atau tepatnya bulan sabit (crescent moon atau al-hilal) adalah bagian kecil permukaan bulan (moon surface) yang tampak setelah satu atau dua hari terjadinya fase bulan baru (new moon). Istilah new moon berbeda dengan new month.

Setelah ketiga istilah dijelaskan, semoga orang dapat dengan mudah membedakan ketiga jenis “bulan”, seperti misalnya pada tulisan berikut. Ilmu hisab berguna untuk menentukan posisi bulan (moon), mengetahui kapan terjadinya fase bulan baru (new moon) serta untuk memprediksi kapan terlihatnya bulan (crescent atau hilal) sebagai syarat datangnya bulan baru (new month).

Fase Bulan baru (New Moon, bukan New Month)

Pertama kali, akan ditentukan dahulu kapan jatuhnya konjungsi geosentrik (ijtima’ atau new moon), yaitu ketika bujur ekliptika bulan (moon ecliptical longitude) = bujur ekliptika matahari dengan pusat bumi sebagai titik O. New moon merupakan satu dari empat fase-fase bulan (moon phases), seperti telah penulis jelaskan dalam tulisan sebelumnya tentang FASE-FASE BULAN. Silakan gunakan file Excel untuk menentukan kapan terjadinya fase-fase bulan dengan menggunakan algoritma Meeus yang dapat diunduh di

http://www.4shared.com/file/124301305/39f0c820/fase-bulan.html

Dengan mengisi bulan Hijriyah 10 dan tahun Hijriyah 1430, diperoleh bulan baru (new moon) terjadi pada tanggal 18 September 2009 pukul 18:44:19 UT (atau GMT) atau sama dengan tanggal 19 September 2009 pukul 01:44:19 WIB (karena WIB = UT + 7). Waktu ini hanya berbeda 1 detik dengan hasil perhitungan menurut algoritma VSOP dan ELP yang memberikan hasil pukul 18:44:18 UT.

Sementara itu, dengan menggunakan file Excel untuk menentukan posisi bulan dan matahari menggunakan algoritma Meeus, peristiwa konjungsi geosentrik terjadi pada pada tanggal 19 September 2009 pukul 01:44:12 WIB atau 18 September 2009 pukul 18:44:12 UT. Pada saat itu, bujur ekliptika bulan nampak (apparent moon ecliptical longitude) = bujur ekliptika matahari nampak = 175:59:02 derajat (175 derajat 59 menit busur 2 detik busur). Disini, waktunya hanya berselisih 6 detik dengan hasil perhitungan algoritma VSOP dan ELP. Adanya perbedaan kecil ini disebabkan suku-suku koreksi algoritma Meeus tidak sebanyak dan selengkap algoritma VSOP dan ELP. Insya Allah pada kesempatan mendatang, penulis akan menjelaskan metode menentukan posisi bulan dan matahari menggunakan algoritma Meeus. File Excel untuk menentukan posisi bulan dan matahari menggunakan algoritma Meeus dapat diunduh di

http://www.4shared.com/file/132303792/742cb339/Posisi-Bulan-Matahari-Algoritma-Meeus.html

Sebagai kesimpulan, jika dibulatkan ke menit terdekat, fase bulan baru (new moon, bukan new month) geosentrik untuk datangnya bulan Syawwal (month of Syawwal) terjadi pada tanggal 18 September 2009 pukul 18:44 UT atau 19 September 2009 pukul 01:44 WIB (Waktu Indonesia Barat). Fase bulan baru (new moon) sebelumnya untuk datangnya bulan Ramadhan terjadi pada tanggal 20 Agustus 2009 pukul 17:01 WIB. Hal ini berarti, rentang waktu dari fase bulan baru ke bulan baru berikutnya pada lunasi bulan Ramadhan adalah selama 29 hari 8 jam 43 menit. Ini lebih cepat sekitar 4 jam dari lama rata-rata satu bulan sinodik (synodic period of the moon) sebesar 29 hari 12 jam 44 menit 3 detik. Karena rentang waktu tersebut (29 hari 8 jam 43 menit) lebih dekat ke 29 hari daripada ke 30 hari, setidak-tidaknya hal ini memberikan kemungkinan bahwa di beberapa tempat di penjuru dunia, Ramadhan 1430 H hanya sebanyak 29 hari. Tetapi untuk lebih detil dan jelasnya, harus dihitung berbagai posisi bulan dan matahari yang dijelaskan di bawah ini.

29 Ramadhan 1430 H

Di Indonesia, pemerintah menetapkan 1 Ramadhan 1430 H jatuh pada hari Sabtu, 22 Agustus 2009. Silakan lihat tulisan penulis sebelumnya tentang Hisab 1 Ramadhan 1430 H. Perlu diketahui, pemerintah menetapkan tanggal 1 Ramadhan dengan kriteria rukyatul hilal, namun menetapkan tanggal 1 Sya’ban dengan kriteria hisab MABIMS. Ada perbedaan tanggal antara hisab MABIMS (1 Sya’ban 1430 H = 23 Juli 2009) dengan rukyat (1 Sya’ban 1430 H = 24 Juli 2009) dalam penetapan 1 Sya’ban 1430 H. Namun kedua kriteria tersebut menghasilkan tanggal yang sama dalam penetapan 1 Ramadhan 1430 H, yaitu 22 Agustus 2009.

Perbedaannya lagi adalah, dengan kriteria hisab MABIMS untuk 1 Sya’ban, maka rukyat untuk 1 Ramadhan 1430 H dilaksanakan pada tanggal 20 Agustus 2009 maghrib. Karena rukyat saat itu gagal melihat hilal (sebab ketinggian masih negatif) sehingga dilakukan istikmal dan akhirnya ditetapkan 1 Ramadhan 1430 H = 22 Agustus 2009. Dengan kriteria MABIMS ini, Sya’ban 1430 terdiri dari 30 hari. Sementara itu, pengguna rukyat secara konsusten (misalnya ormas Nahdhatul Ulama) yang menyatakan bahwa 1 Sya’ban 1430 H = 24 Juli 2009, mengadakan rukyat pada tanggal 21 Agustus 2009 (karena bersesuaian dengan 29 Sya’ban 1430 H). Saat rukyat dilakukan, hilal terlihat dengan jelas, karena memang posisi hilal sangat memungkinkan untuk dilihat.

Sehingga, dengan penetapan 1 Ramadhan 1430 H = 22 Agustus 2009, maka tanggal 29 Ramadhan 1430 H = hari Sabtu 19 September 2009. Karena itu, perhitungan hisab dan pengamatan rukyat difokuskan pada hari Sabtu sore tanggal 19 September 2009 saat matahari terbenam (sunset atau maghrib). Mengingat konjungsi terjadi pada 19 September 2009 pukul 01:44 WIB atau waktu dini hari, ada rentang waktu sekitar 16 jam bagi bulan (moon) untuk bisa nampak sebagai hilal (crescent) pada waktu maghrib. Seperti diketahui, selama rentang satu hari, bulan (moon) bergerak lebih lambat daripada matahari. Maksudnya, matahari berada pada satu posisi di langit pada waktu tertentu dan 24 jam kemudian posisi matahari relatif kembali ke posisi atau di dekat posisi tersebut sebelumnya. Sementara, bulan (moon) rata-rata membutuhkan waktu sekitar 24 jam 50 menit untuk bisa relatif kembali ke posisi sebelumnya.

19 September 2009 maghrib

Selanjutnya, perhitungan akan dilakukan lebih detil untuk menentukan posisi bulan (moon) dan matahari pada 19 September 2009 maghrib. Kita akan mengambil Jakarta (106:51 BT, 6:10 LS, 0 meter, UT + 7) sebagai posisi acuan.

Di Jakarta, pada tanggal 19 September 2009 matahari terbenam pada pukul 17:49:07 WIB. Hal ini disebabkan pada waktu tersebut, ketinggian sejati (true altitude) matahari adalah minus 0:49:55 derajat (minus 49 menit busur 55 detik busur) dan sudut jari-jari matahari adalah 0:15:55 derajat (15 menit busur 55 detik busur) sehingga memenuhi hubungan: true altitude = minus 0:34:00 derajat dikurangi sudut jari-jari matahari. Disini, minus 0:34:00 derajat (minus 34 menit busur) adalah koreksi ketinggian benda langit di horison oleh pembiasan atmosfer untuk keadaan standar (tekanan 1010 mbar dan suhu 10 derajat C di permukaan laut). Pada waktu tersebut, posisi azimuth matahari adalah 271:15:16 derajat atau sekitar satu seperempat derajat di sebelah kanan titik arah barat.

Untuk menghitung ketinggian nampak (apparent altitude) matahari saat terbenam, maka tinggal ditambahkan saja dengan faktor koreksi pembiasan atmosfer sebesar 0:34:00 derajat. Jadi ketinggian nampak matahari saat terbenam adalah minus 0:15:55 derajat yang tepat sama dengan minus sudut jari-jari matahari. Artinya yang nampak oleh manusia, saat matahari terbenam, bagian cakram/piringan atas matahari berada pada ketinggian 0 derajat sehingga titik pusat matahari adalah minus 0:15:55 derajat. Adapun untuk azimuth matahari praktis tidak mengalami faktor pembiasan atmosfer.

Bagaimanakah posisi bulan (moon) saat matahari terbenam? Saat itu, ketinggian sejati bulan (moon) adalah positif 6:17:25 derajat. Selisih ketinggian sejati bulan dengan matahari adalah positif 7:07:20 derajat. Azimuth bulan saat itu adalah 264:05:37 derajat sehingga selisih azimuth bulan dengan matahari adalah 7:09:39 derajat. Posisi bulan terletak sekitar tujuh derajat di sebelah kiri matahari.

Faktor pembiasan atmosfer untuk true altitude bulan tersebut adalah sebesar 0:08:05 derajat, sehingga titik pusat bulan nampak oleh mata manusia pada apparent altitude 6:17:25 + 0:08:05 = positif 6:25:30 derajat. Karena itu selisih ketinggian nampak bulan dan matahari adalah 6:25:30 – (- 0:15:55) = positif 6:41:25 derajat. Adapun untuk azimuth bulan praktis juga tidak mengalami faktor pembiasan atmosfer.

Selanjutnya dapat dihitung sudut elongasi antara bulan (moon) dan matahari. Sudut elongasi adalah jarak sudut yang Jika yang digunakan adalah true altitude (ketinggian sejati), maka sudut elongasi antara keduanya adalah 10:05:26 derajat. Adapun jika yang digunakan adalah apparent altitude, maka sudut elongasi antara keduanya adalah 9:47:22 derajat. Posisi bulan (moon) dan matahari saat maghrib di Jakarta dilukiskan pada Gambar 1.

Gambar 1. Posisi apparent altitude (bukan true altitude) dan azimuth bulan dan matahari saat maghrib di Jakarta.

Pada saat matahari terbenam, umur bulan (crescent) sejak konjungsi (new moon) terjadi adalah 16 jam 5 menit. Terakhir, dapat pula dihitung iluminasi bulan (moon) atau banyaknya bagian permukaan cakram bulan yang terkena pantulan cahaya matahari, yang besarnya adalah 0,78%.

Sementara itu, bulan terbenam (moonset) pada pukul 18:14:52 WIB. Hal ini disebabkan, terpenuhinya relasi saat bulan terbenam: true altitude = 0,7275*Sudut Paralaks – 0:34:00, dimana saat itu Sudut Paralaks bulan = 0:59:09 derajat dan true altitude = 0:09:00 derajat (positif 9 menit busur). Jadi, selisih (time lag) antara matahari terbenam (sunset) dengan bulan terbenam (moonset) adalah 25 menit 45 detik.

Dari penjelasan di atas, dapat diambil kesimpulan (sudut dibulatkan ke derajat terdekat, waktu ke jam dan menit) bahwa di Jakarta :

  • – Konjungsi geosentrik terjadi pada tanggal 19 September 2009 pukul 01: 44 WIB.
  • – Saat matahari terbenam (17:49 WIB), umur bulan setelah fase konjungsi geosentrik adalah sekitar 16 jam 5 menit.
  • – Apparent altitude bulan (moon) saat maghrib adalah sekitar 6 derajat di atas ufuk.
  • – Posisi azimuth bulan saat maghrib kira-kira 7 derajat di sebelah kiri matahari.
  • – Sudut elongasi bulan-matahari saat maghrib adalah sekitar 10 derajat.
  • – Iluminasi bulan saat maghrib adalah 0,78%.
  • – Bulan terbenam (18:15 WIB) kira-kira 26 menit setelah matahari terbenam.

Kota-kota lain di Indonesia

  • Di Jayapura saat matahari terbenam: umur bulan 13 jam 53 menit, apparent altitude bulan sekitar 5 derajat di atas ufuk, sudut elongasi bulan-matahari sekitar 9 derajat, iluminasi bulan 0,62%. Moonset terjadi 19 menit setelah sunset.
  • Di Gorontalo saat maghrib: umur bulan 15 jam 1 menit, apparent altitude bulan sekitar 5,7 derajat di atas ufuk, sudut elongasi bulan-matahari sekitar 9,5 derajat, iluminasi bulan 0,70%. Moonset terjadi 20 menit setelah sunset.
  • Di Surabaya saat maghrib: umur bulan 15 jam 41 menit, apparent altitude bulan sekitar 6,2 derajat di atas ufuk, sudut elongasi bulan-matahari sekitar 10 derajat, iluminasi bulan 0,75%. Moonset terjadi 26 menit setelah sunset.
  • Di Aceh saat maghrib: umur bulan 16 jam 52 menit, apparent altitude bulan sekitar 5 derajat di atas ufuk, sudut elongasi bulan-matahari sekitar 10,5 derajat, iluminasi bulan 0,84%. Moonset terjadi 21 menit setelah sunset.
  • Di Pelabuhan Ratu saat maghrib: umur bulan 16 jam 6 menit, apparent altitude bulan sekitar 7 derajat di atas ufuk, sudut elongasi bulan-matahari sekitar 10 derajat, iluminasi bulan 0,78%. Moonset terjadi 26 menit setelah sunset.

Kriteria hisab

Jika masuknya bulan baru (new month) menggunakan kriteria hisab, maka

  • 1) Hisab dengan kriteria (i) konjungsi terjadi sebelum maghrib, (ii) moonset setelah sunset, maka kriteria ini sudah dipenuhi di seluruh wilayah Indonesia. Menurut kriteria ini, 19 September 2009 maghrib sudah dinyatakan sebagai masuknya bulan Syawwal, sehingga 1 Syawwal 1430 H = 20 September 2009. Ramadhan 1430 H terdiri dari 29 hari.
  • 2) Hisab dengan kriteria MABIMS (i) saat maghrib umur hilal lebih dari 8 jam setelah konjungsi, (ii) altitude hilal lebih dari 2 derajat, (iii) sudut elongasi lebih dari 3 derajat, maka kriteria ini sudah dipenuhi di seluruh wilayah Indonesia. Di Indonesia, umur hilal saat maghrib berkisar antara 14 – 16 jam, tinggi hilal antara 5 – 7 derajat, dan sudut elongasi antara 9 – 10,5 derajat. Menurut kriteria ini, 19 September 2009 maghrib sudah dinyatakan sebagai masuknya bulan Syawwal, sehingga 1 Syawwal 1430 H = 20 September 2009. Ramadhan 1430 H terdiri dari 29 hari.
  • 3) Hisab dengan kriteria limit Danjon: (i) konjungsi terjadi sebelum maghrib, (ii) moonset setelah sunset, (iii) sudut elongasi bulan-matahari lebih dari 7 derajat (iv) iluminasi bulan (moon) di atas 1%, maka tiga syarat pertama {(i), (ii) dan (iii)} terpenuhi sedangkan syarat (iv) tidak terpenuhi.

Prediksi rukyat

Pelaksanaan rukyat dilaksanakan pada hari Sabtu, 19 September 2009 menjelang matahari terbenam. Saat matahari terbenam, secara matematis bulan (moon) memang sudah berada di ufuk dengan ketinggian berkisar antara 5 – 7 derajat di seluruh wilayah Indonesia. Posisi hilal terletak di sebelah kiri atas matahari. Sudut elongasi bulan-matahari memang berkisar antara 9 – 10,5 derajat di seluruh wilayah Indonesia. Namun, iluminasi bulan rata-rata di bawah ambang 1%, yaitu sekitar 0,6 – 0,8 %. Menurut Mohamad Odeh (ICOP, Accurate Times), pada kondisi ini berdasarkan statistik rukyat-rukyat sebelumnya, hilal baru bisa dilihat dengan bantuan alat optik.

Dalam hal ini, ada beberapa hal yang penting untuk diketahui dan dipersiapkan, seperti posisi bulan dan matahari, bantuan alat untuk menentukan arah dan ketinggian benda langit, ketepatan jam penunjuk waktu, posisi tempat pengamatan yang baik serta bebasnya ufuk barat dari berbagai “gangguan ketinggian” seperti gunung, bangunan dan pepohonan. Perlu juga diwaspadai “salah hilal”, maksudnya kesaksian bahwa hilal terlihat, namun sebenarnya jika diselidiki secara ilmiah yang dilihat bukanlah hilal. Beberapa kemungkinan kesalahan, diantaranya adalah posisi “hilal” yang jauh melenceng dari perhitungan, bentuk “hilal” yang menyimpang dari bentuk yang seharusnya berdasarkan posisi bulan (moon) dan matahari, kesaksian terlihatnya “hilal” namun waktu saat itu matahari belum terbenam atau bulan sudah terbenam, dan lain-lain. Untuk menghindari kesalahan, terjaminnya kesahihan pengamatan rukyat, serta kesesuaian antara hisab yang teliti dengan rukyat yang akurat, maka segala data pengamatan perlu dilengkapi, tak ubahnya seperti melakukan eksperimen dan disertai dengan bukti penunjang seperti foto atau video.

Jika hilal kali ini gagal dilihat, maka bisa jadi disebabkan oleh iluminasi bulan yang berada di bawah ambang 1%, serta faktor cuaca dan awan yang cukup sulit diprediksi.

1 Syawwal 1430 H

Pemerintah Indonesia menetapkan 1 Syawwal 1430 H dengan berdasarkan rukyat, maka Hari Raya Iedul Fithri akan jatuh pada hari Ahad, 20 September 2009, jika dalam pelaksanaan rukyat hilal berhasil dilihat . Akan tetapi jika hilal gagal dilihat, maka Iedul Fithri jatuh pada hari Senin, 21 September 2009.

Prediksi 1 Syawwal 1430 H di negara-negara lain

Setelah diberikan penjelasan tentang hisab dan prediksi rukyat di Indonesia, bagaimanakah dengan di negara-negara lain? Penulis akan membaginya ke dalam beberapa bagian, yaitu Asia Timur, ASEAN, Asia Tengah, Timur Tengah, Afrika, Eropa dan Amerika. Untuk informasi kapan jatuhnya 1 Ramadhan 1430 H di berbagai negara, penulis merujuk pada data dari Islamic Crescents’ Observation Project (ICOP) di alamat

http://www.icoproject.org/icop/ram30.html#day

Dalam website tersebut terdapat informasi bahwa mayoritas negara-negara di seluruh dunia memulai Ramadhan 1430 H pada 22 Agustus 2009. Negara Libya, Turki dan Eropa barat di dekat Turki memulai satu hari lebih awal dengan menggunakan kriteria perhitungan astronomi, sedangkan India, Pakistan dan Bangladesh memulai satu hari lebih lambat, berdasarkan 30 hari bulan Sya’ban.

Jepang dan Asia Timur

Di Jepang (UT + 9), dimana penulis tinggal saat ini (kota Fukuoka), 1 Ramadhan jatuh pada hari yang sama dengan di Indonesia, yaitu 22 Agustus. Otoritas muslim Jepang yang memutuskan soal ini adalah Islamic Center of Japan di Tokyo. Pada tanggal 19 September 2009 maghrib, hilal tampaknya mustahil dilihat di seluruh Jepang, mulai dari Sapporo, Tokyo, Osaka, Fukuoka hingga Kagoshima, karena saat maghrib, bulan sudah lebih dahulu terbenam. Sebagai contoh, di Tokyo sunset terjadi pukul 17:44 sedangkan moonset pukul 17:39 waktu setempat atau 5 menit sebelumnya. Di Osaka, moonset (17:56) terjadi 4 menit sebelum sunset (18:00). Di Fukuoka, moonset (18:17) terjadi 3 menit sebelum sunset (18:20). Hanya di Okinawa (kepulauan Jepang selatan) saja, moonset terjadi setelah sunset tetapi itupun hanya berselisih 4 menit saja. Waktu time lag yang singkat ini nampaknya tidak memungkinkan hilal untuk dapat dilihat, bahkan dengan bantuan alat optik.

Sehingga, jika otoritas muslim Jepang memutuskan hanya berdasarkan rukyat di Jepang, perkiraannya Iedul Fithri akan jatuh pada 21 September 2009. Namun, setahu penulis, biasanya otoritas muslim Jepang juga merujuk kepada keputusan negara muslim terdekat, yaitu Malaysia/Indonesia. Dengan demikian bagi muslim di Jepang termasuk penulis, ditunggu saja keputusan dari Islamic Center of Japan.

Di negara-negara Asia Timur lainnya, situasi serupa dengan Jepang terjadi. Di Seoul dan Busan Korea Selatan, Beijing China, moonset sebelum sunset. Di Taipei Taiwan memang moonset setelah sunset sekitar 5 menit tetapi altitude bulan hanya sekitar 1 derajat. Penulis tidak mengetahui bagaimanakah otoritas muslim di negara-negara tersebut memutuskan masuknya bulan Syawwal, apakah berdasarkan hisab, rukyat setempat atau merujuk kepada negara tertentu.

ASEAN dan Australia

Di Malaysia, Brunei dan Singapura, 1 Ramadhan 1430 H juga ditetapkan pada tanggal yang sama, yaitu 22 Agustus 2009. Di Kuala Lumpur Malaysia (UT + 8), moonset (19:32 waktu lokal) terjadi 21 menit setelah sunset (19:11). Tinggi hilal sekitar 5,5 derajat, sudut elongasi bulan-matahari sekitar 10 derajat sehingga di atas ambang Limit Danjon, namun iluminasi hilal hanya 0,81%. Prediksi hilal: dapat dilihat hanya dengan bantuan alat optik.

Di Singapura (UT + 8), keadaan yang hampir sama terjadi. Moonset (19:23 waktu lokal) terjadi 22 menit setelah sunset (19:01). Tinggi hilal sekitar 5,5 derajat, sudut elongasi bulan-matahari sekitar 10 derajat sehingga di atas ambang Limit Danjon, namun iluminasi hilal hanya 0,79%. Prediksi hilal juga sama seperti di Malaysia: dapat dilihat hanya dengan bantuan alat optik.

Nampaknya, keadaan posisi bulan menurut pengamat di Malaysia dan Singapura hampir sama dengan di Indonesia. Penulis memprediksi, negara-negara di ASEAN akan menetapkan keputusan yang sama. Jika hilal berhasil dilihat, Iedul Fithri jatuh pada 20 September 2009.

Di Australia seperti Canberra, Sydney dan Melbourne, hilal nampaknya bisa dilihat dengan bantuan alat optik. Namun di Perth Australia Barat, hilal bisa diamati dengan mata tanpa perlu bantuan alat optik. Kemungkinan otoritas muslim di Australia menetapkan 20 September 2009.

Timur Tengah

Arab Saudi (UT + 3) dan berbagai negara Timur Tengah juga memulai Ramadhan pada tanggal 22 Agustus 2009. Untuk awal Syawwal, walaupun posisi Timur Tengah berada di sebelah barat di Indonesia, ini tidak menjamin hilal akan terlihat lebih tinggi dibandingkan dengan di Indonesia. Di Makkah pada 19 September 2009 maghrib, meski hilal sudah lewat 20,5 jam sejak konjungsi namun ketinggian bulan hanya sekitar 4 derajat di atas ufuk, walaupun sudut elongasi bulan-matahari mencapai 12 derajat. Moonset (18:37 waktu lokal) hanya berselang 17 menit setelah sunset (18:20). Iluminasi bulan sekitar 1,17 %. Jika hilal bisa diamati, Iedul Fithri di Arab Saudi jatuh pada 20 September 2009. Kemungkinan besar, negara-negara Timur Tengah lainnya juga akan mengikuti keputusan Saudi Arabia.

Afrika

Hampir seluruh negara di Afrika memulai Ramadhan pada tanggal 22 Agustus 2009, kecuali Libya. Di Kairo Mesir, hilal Syawwal nampaknya sulit dilihat karena selang waktu antara moonset dengan sunset hanya 10 menit, dan ketinggian hilal hanya 2 derajat, walaupun elongasinya mencapai 12 derajat. Makin ke selatan, hilal semakin besar berpeluang diamati. Di Afrika Selatan menurut kriteria Odeh, hilal mudah dilihat dengan mata, sebab ketinggian hilal mencapai 11 derajat dan selang waktu antara moonset dan sunset mencapai 50 menit.

Khusus untuk Libya (UT + 2), negara ini memulai Ramadhan 1 hari lebih awal yaitu 21 Agustus 2009. Libya menggunakan kriteria bulan baru (new month) dengan konsep new moon, yaitu masuknya new month apabila new moon terjadi sebelum waktu Fajar/subuh. Artinya, jika pada waktu fajar tersebut new moon sudah terjadi maka pada waktu fajar tersebut tanggal 1 bulan baru (new month) dinyatakan masuk. Seperti dijelaskan sebelumnya, new moon untuk Ramadhan terjadi pada 20 Agustus 2009 pukul 17:01 WIB atau pukul 10:01 UT. Karena waktu lokal di Libya adalah UT + 2 (asumsi tidak ada daylight saving time), maka new moon terjadi pada 20 Agustus 2009 pukul 12:01 waktu setempat. Ini berarti pada waktu subuh di Libya tanggal 21 Agustus 2009, new moon sudah terjadi sehingga tanggal tersebut dinyatakan sebagai 1 Ramadhan 1430 H di Libya.

Jadi di Libya, Iedul Fithri akan jatuh pada tanggal 19 September 2009 karena new moon terjadi pada 18 September 2009 pukul 20:44 waktu setempat.

Eropa

Mayoritas otoritas muslim di negara-negara Eropa menetapkan Ramadhan pada 22 Agustus 2009. Meskipun Eropa jauh lebih berada di sebelah barat Indonesia, tetapi ternyata pada 19 September 2009 maghrib, hilal akan mustahil diamati di banyak negara-negara di Eropa. Hal ini disebabkan di berbagai negara-negara di Eropa, bulan sudah lebih terbenam pada saat maghrib. Di London Inggris, moonset terjadi 15 menit sebelum sunset. Di Paris Perancis, 11 menit. Makin ke utara Eropa, moonset makin jauh mendahului sunset. Di Amsterdam Belanda dan Berlin Jerman, 17 menit. Di Moskwa Rusia 25 menit. Di Stockholm Swedia moonset sampai 34 menit lebih dahulu daripada sunset. Di Oslo Norwegia mencapai 36 menit.

Jadi, jika otoritas muslim di masing-masing negara di Eropa memutuskan berdasarkan pengamatan hilal di negara masing-masing, maka Iedul Fithri di Eropa akan jatuh pada 21 September 2009. Lain halnya, jika keputusannya merujuk kepada keputusan suatu negara tertentu.

Khusus untuk Turki, pemerintah di sana menetapkan 1 Ramadhan pada 21 Agustus 2009 berdasarkan perhitungan astronomis. Ini diikuti oleh beberapa negara Eropa barat di dekat Turki seperti Bosnia, Rumania, Albania dan lain-lain. Penulis tidak mengetahui secara persis kriteria apakah yang digunakan di Turki, namun jika sama seperti kriteria Libya, maka Iedul Fithri di Turki juga akan jatuh pada tanggal yang sama seperti di Libya, yaitu 19 September 2009.

Amerika Utara dan Selatan

Otoritas muslim di USA menetapkan Ramadhan pada 22 Agustus 2009. Di Los Angeles pada 19 September 2009, moonset terjadi 20 menit setelah sunset dengan tinggi hilal sekitar 4 derajat. Perkiraan hilal: dapat diamati dengan bantuan alat optik. Sementara di Chicago nampaknya hilal sulit diamati.

Jika di Amerika Utara, hilal relatif lebih sulit diamati, berbeda halnya dengan di Amerika Selatan. Komunitas minoritas muslim di Amerika Selatan yang melakukan rukyat akan dengan mudah mengamati hilal. Di Rio de Janeiro Brazil, ketinggian hilal sekitar 13,5 derajat dan sudut elongasi sekitar 15 derajat, moonset sekitar 1 jam setelah sunset sehingga hilal mudah diamati. Makin ke selatan, semakin mudah diamati. Di Buenos Aires Argentina, ketinggian hilal sekitar 15 derajat, sudut elongasi sekitar 15,5 derajat, moonset sekitar 1 jam 15 menit setelah sunset.

Asia Tengah

Khusus di Asia Tengah, yaitu India, Pakistan dan Bangladesh, otoritas muslim dan pemerintah di sana menetapkan Ramadhan satu hari lebih lambat dari rata-rata tanggal 1 Ramadhan, yaitu hari Ahad, 23 Agustus 2009. Tanggal tersebut ditetapkan berdasarkan istikmal atau 30 hari bulan Sya’ban. Ini berarti 1 Sya’ban 1430 H di ketiga negara tersebut jatuh pada 24 Juli 2009, dan 29 Sya’ban 1430 H = 21 Agustus 2009. Ketika ketiga negara tersebut melakukan rukyat pada 21 Agustus 2009 maghrib, ternyata dugaan penulis, hilal “gagal dilihat” sehingga akhirnya ditetapkan istikmal.

Penulis secara pribadi ingin memberikan tanggapan pada “kegagalan rukyat” di ketiga negara tersebut pada tanggal 21 Agustus 2009 maghrib. Sebenarnya, pada waktu tersebut di India, Pakistan dan Bangladesh, hilal cukup memungkinkan untuk dilihat. Berdasarkan hisab kontemporer seperti paparan di atas, pada tanggal 21 Agustus 2009 maghrib di New Delhi India, ketinggian hilal sekitar 6 derajat, sudut elongasi sekitar 16 derajat, serta iluminasi bulan 2%. Besarnya sudut elongasi ini disebabkan besarnya selisih azimuth antara bulan (moon) dan matahari, yaitu sekitar 14,5 derajat. Di Dhaka Bangladesh, ketinggian hilal sekitar 7 derajat, sudut elongasi bulan-matahari sekitar 15,5 derajat serta iluminasi bulan 1,87%. Di Peshawar Pakistan, ketinggian hilal sekitar 5 derajat, sudut elongasi bulan-matahari sekitar 16 derajat dan iluminasi bulan 2,05%. Paparan di atas menunjukkan keadaan hilal sudah di atas limit Danjon, sehingga hilal cukup memungkinkan untuk dilihat. Entah, apakah di ketiga negara tersebut cuaca secara seragam tidak mendukung rukyat saat itu, tetapi memang selama ini berdasarkan catatan di website ICOP ketiga negara tersebut sering terlambat dalam memulai Ramadhan atau Syawwal dibandingkan misalnya dengan Indonesia. Sebagai perbandingan di Indonesia, para perukyat berhasil melihat hilal pada 21 Agustus 2009 maghrib dengan besar sudut elongasi yang hampir sama , bahkan dengan iluminasi bulan yang lebih kecil, meskipun memang ketinggian hilal di Indonesia untuk rukyat awal Ramadhan lebih besar.

Demikianlah, dengan ditetapkannya 1 Ramadhan 1430 H = 23 Agustus 2009 di ketiga negara tersebut, maka 29 Sya’ban 1430 H = 20 September 2009. Rukyat pada 20 September 2009 maghrib di ketiga negara tersebut secara perhitungan mudah dilihat. Hilal sudah berumur sekitar 42 jam sejak new moon. Ketinggian hilal di ketiga negara tersebut berkisar antara 7 – 11 derajat, sudut elongasi sekitar 23 derajat. Iluminasi bulan mencapai 4%. Jika hilal berhasil dilihat, maka Iedul Fitri di ketiga negara tersebut = 21 September 2009.

Catatan akhir

Sebelum penulis mengakhiri tulisan yang cukup panjang ini, ada sedikit catatan akhir.

Pertama, daerah yang terletak di sebelah barat belum tentu lebih mudah mengamati hilal dibandingkan dengan daerah timur. Contohnya, Indonesia berpeluang melihat hilal pada 19 September maghrib karena ketinggiannya lebih besar, tetapi Arab Saudi dan Mesir ketinggiannya lebih kecil (meskipun elongasinya lebih besar). Bahkan Eropa bisa dikatakan mustahil karena moonset sebelum sunset.

Kedua, Daerah yang bujurnya sama juga tidak ada jaminan akan mendapatkan ketinggian hilal yang sama. Sebagai contoh, Jayapura dan Tokyo memiliki bujur yang hampir sama, tetapi di Jayapura ketinggian hilal sekitar 5 derajat sedangkan di Tokyo negatif.

Ketiga, pada pergerakan bulan untuk awal bulan Syawwal 1430 H ini, daerah yang terletak di belahan bumi selatan lebih mudah mengamati hilal daripada di belahan bumi utara. Untuk memahami catatan di atas, penulis perlu menjelaskan dari sudut pandang koordinat ekuator geosentrik dengan 2 buah komponen yaitu right ascension (alpha) dan declination (delta). Ketika bulan (moon) dan matahari mengalami konjungsi, keduanya bisa dikatakan memiliki alpha yang hampir sama. Bisa dikatakan, keduanya bergerak mengitari bumi (dari sudut pandang pengamat di bumi) secara beriringan, sehingga sunrise dan moonrise serta sunset dan moonset hampir berdekatan. Yang membedakannya adalah nilai delta bulan dan matahari. Pada tanggal 19 September 2009, deklinasi matahari secara rata-rata adalah sekitar 1,5 derajat, sedangkan deklinasi bulan berubah secara cepat dari minus 4 derajat hingga minus 9 derajat. Ini berarti, bulan terletak di sebelah selatan matahari, karena bulan berada di selatan khatulistiwa sedangkan matahari di utara. Karena itu, bagi orang yang tinggal di belahan bumi utara, bulan tampak jauh di selatan dibanding matahari sehingga logikanya, bulan lebih cepat untuk tenggelam dibandingkan matahari. Inilah yang menjelaskan, mengapa di belahan bumi utara (seperti Jepang dan Eropa), pada waktu itu moonset terjadi sebelum sunset. Sementara bagi yang tinggal di belahan bumi selatan, matahari tampak lebih di utara daripada bulan sehingga matahari lebih cepat tenggelam dibandingkan bulan. Jadi bagi yang tinggal di belahan bumi selatan, sunset mendahului moonset sehingga hilal lebih mudah diamati.

Penutup

Demikianlah, beberapa catatan penulis mengenai hisab 1 Syawwal 1430 H di berbagai penjuru dunia. Memang masih menyisakan berbagai pertanyaan mengenai beragamnya cara penetapan awal bulan (month) di berbagai negara. Namun sekurangnya catatan di atas semoga memberikan tambahan wawasan bagi pembaca.

Semoga Allah SWT menerima segala amal kebaikan kita khususnya selama bulan Ramadhan ini, melipatgandakan pahala kita dan kita semakin dekat untuk menjadi golongan orang-orang yang bertaqwa. Mohon maaf atas segala kesalahan. Selamat Hari Raya Iedul Fithri 1430 H. Taqabballahu minna wa minkum.

DR. Rinto Anugraha (Dosen Fisika UGM)

Pengurus Harian Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar telah menyampaikan dihadapan Jamaah Shalat Tarawih Masjid Agung Al-Agung Al-Azhar yang menetapkan bahwa 1 Syawal 1430 Hijriyah/2009 Masehi akan jatuh hari Ahad, 20 September 2009 Masehi. Keputusan diambil oleh Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar dengan memperhatikan Hasil Hisab yang dikeluarkan oleh Departemen Agama Republik Indonesia dan Ormas-Osmas Islam tentang 1 Syawal 1430 Hijriyah/2009 Masehi.

Sementara itu, Masjid Agung Al-Azhar akan menyelenggarakan shalat ‘Ied, dilapangan Masjid Agung Al-Azhar dengan khotib Prof.Dr.H.Miftah Faridl (Ketua MUI Kota Bandung), dan bertindak sebagai  Imam Drs.H.Buchari Muslim SQ. Keputusan penetapan 1 Syawal itu oleh Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar, berdasarkan SK Pengurus Harian YPIA No.21/!X/KEP/YPIA/1430 Hijriyah, tertanggal 4 September 2009.

Tentu, nantinya diharapkan tidak adanya perbedaan antara hasil hisab yang dikeluarkan oleh Departemen Agama Republik Indonesia bersama dengan Ormas-Ormas Islam dengan pemerintah yang masih menunggu hasil ru’yah untuk menetapkan jatuhnya 1 Syawal 1430 Hijriyah. Kaum muslimin mengharapkan tidak akan adanya perbedaan antara perhitungan hisab dengan ru’yah, sehingga seluruh kaum muslimin dapat melaksanakan shalat ‘Ied bersama, tanpa perbedaan, termasuk di Indonesia.

Dan, sebagian besar  berdasarkan hisab di berbagai negara termasuk Dewan Muslim Eropa, yang melakukan hisab, telah pula mengumumkan bahwa 1 Syawal 1430 Hijriyah akan jatuh pada 20 September 2009 Masehi. (lihat Dr.Rinto Nugraha tentang hisab 1 Syawal).

Sumber : Eramuslim

Laman Berikutnya »