Iptek


Oleh Usman Didi Khamdani

(Sebuah Tinjauan)

ISRA`MI`RAJ, sebagai sebuah peristiwa metafisika (gaib), barangkali bukan sesuatu yang istimewa. Kebenarannya bukanlah sesuatu yang luarbiasa. Kebenaran metafisika adalah kebenaran naqliyah (: dogmatis) yang tidak harus dibuktikan secara akal, namun lebih bersifat imani. Valid tidaknya kebenaran peristiwa metafisika—secara akal, bukanlah soal selagi ia diimani.

Namun, Isra` Mi`raj bukanlah peristiwa metafisika. Ia adalah peristiwa fisika (: nyata; badaniah) yang dialami dan dijalani Nabi Muhammad saw dengan segenap kesadaran inderawinya, sebagaimana diterangkan dalam Alqur`an surat Al-isra` ayat 1 dan Annajm ayat 13.

Maka, sebagai peristiwa fisika, Isra` Mi`raj adalah sesuatu yang istimewa. Kebenaran Isra` Mi`raj adalah kebenaran yang luarbiasa. Keistimewaan ataupun keluarbiasaan tersebut, tidak lain karena pemberontakannya pada tradisi. Kebenaran Isra` Mi`raj adalah kebenaran inkonvensional.

Maka, wajar kiranya, jika banyak orang pun mempertanyakan (meragukan?) ke-shahih-an Isra` Mi`raj tersebut. Menganggap Isra` Mi`raj sebagai sesuatu yang mengada-ada dan dongeng Nabi belaka.

Toh, Isra` Mi`raj bukanlah cerita rekaan ataupun dongeng Nabi. Isra` Mi`raj adalah sebuah firman Ilahi dan, firman Ilahi tetaplah sebuah kebenaran. Kebenaran hakiki dan mutlak yang tidak dapat diganggu-gugat. Meski ia berseberangan dengan tradisi ilmu pengetahuan. Meski ia bertentangan dengan akal nalar manusia.

Albert Einstein

Maka, bukan suatu kebetulan kiranya, jika kemudian Allah ciptakan seorang manusia bernama Albert Einstein, ilmuwan berbangsa Yahudi (bangsa yang sejak awal `menentang` Islam), yang kelak dengan teorinya, kebenaran Isra` Mi`raj menjadi nyata adanya.

Lahir di Jerman tanggal 14 Maret 1879 dan meninggal di Amerika Serikat tanggal 16 April 1955. Sebagai ilmuwan, Einstein telah menghabiskan lebih dari separuh hidupnya untuk menerobos dan membabat kelebatan dan kepekatan hutan ilmu pengetahuan. Dengan dedikasi dan vitalitasnya yang tinggi, iapun dapat membukakan jalan pencerahan bagi banyak orang. Ia telah menyumbangkan pikiran-pikirannya yang begitu berharga. Menyumbangkan teori-teorinya yang dapat memecahkan banyak teka-teki dan persoalan yang selama ini menyelimuti kehidupan.

Teori Relativitas

Satu dari sekian teorinya, adalah tentang relativitas. Sebuah teori yang mengupas hakikat alam semesta sebagai suatu susunan terpadu di mana segala yang ada di dalamnya, dengan kemajemukan dan keberagamannya, tunduk pada satu hukum universal, dengan kecepatan cahaya sebagai konstanta bandingnya. Sebuah teori yang, kelak melahirkan pula teori (ide) tentang bom atom yang begitu mengerikan itu.

Dalam teorinya itu, Einstein menerangkan bahwa tidak ada sesuatu yang mutlak dalam kehidupan ini. Segala sesuatu relatif dalam gerak dan kedudukannya. Sebuah bola yang bulat, suatu saat akan dapat berubah pipih. Begitu pun penggaris yang panjang, pada saat yang berbeda dapat mengerut, pendek. Sebuah benda yang berbobot ringan di satu saat, dapat menjadi berat atau tidak berbobot sama sekali di saat-saat lainnya. Jarum jam yang bergerak cepat mengukur waktu, ada kalanya menjadi lambat bahkan pada satu titik masa, berhenti sama sekali. Juga jantung yang berdenyut menandai usia, dapat mengalami kelambatan hingga usia pun berjalan lebih lambat dari yang semestinya.

Einstein merumuskan teorinya dalam sebuah persamaan:


t’ = waktu benda yang bergerak
t = waktu benda yang diam
v = kecepatan benda
c = kecepatan cahaya

Diterangkan bahwa perbandingan nilai kecepatan suatu benda dengan kecepatan cahaya, akan berpengaruh pada keadaan benda tersebut. Semakin dekat nilai kecepatan suatu benda (v) dengan kecepatan cahaya (c), semakin besar pula efek yang dialaminya (t`): perlambatan waktu. Hingga ketika kecepatan benda menyamai kecepatan cahaya (v=c), benda itu pun sampai pada satu keadaan nol. Demikian, namun jika kecepatan benda dapat melampaui kecepatan cahaya (v>c), keadaan pun berubah. Efek yang dialami bukan lagi perlambatan waktu, namun sebaliknya.

Pada awalnya, teori Relativitas itu pun mendapat banyak tentangan. Seperti halnya Nabi saat memberitakan Isra` Mi`raj, Einstein saat mengumumkan teori tersebut, banyak dicemooh bahkan dianggap tidak waras karena, sebagaimana juga Isra` Mi`raj, teorinya itu pun telah menentang tradisi yang selama ini dianut dan dielu-elukan. Relativitas telah menolak kemutlakan ukuran bahwa semua benda selalu dalam keadaan tetap, tidak pernah berubah. Sebuah bola akan tetap bulat, sebuah penggaris akan tetap panjang, usia akan tetap berlari menua, bagaimanapun kondisinya.

Namun ketika laboratorium kemudian dapat menemukan gejala yang sama sebagaimana terurai dalam Relativitas, segera teori itu pun memperoleh kedudukannya yang semestinya sebagai sebuah kebenaran.

Studi tentang sinar kosmis, merupakan satu pembuktian.

Didapati bahwa di antara partikel-partikel yang dihasilkan dari persingungan partikel-partikel sinar kosmis yang utama dengan inti-inti atom Nitrogen dan Oksigen di lapisan Atmosfer atas, jauh ribuan meter di atas permukaan bumi, yaitu partikel Mu Meson (Muon), itu dapat mencapai permukaan bumi. Padahal partikel Muon ini mempunyai paruh waktu (half-life) sebesar dua mikro detik yang artinya dalam dua perjuta detik, setengah dari massa Muon tersebut akan meleleh menjadi elektron. Dan dalam jangka waktu dua perjuta detik, satu partikel yang bergerak dengan kecepatan cahaya (± 300.000 km/dt) sekalipun paling-paling hanya dapat mencapai jarak 600 m. padahal jarak ketinggian Atmosfer di mana Muon terbentuk, dari permukaan bumi, adalah 20.000 m yang mana dengan kecepatan cahaya hanya dapat dicapai dalam jangka minimal 66 mikro-detik.

Lalu, bagaimana Muon dapat melewati kemustahilan itu?

Ternyata, selama bergerak dengan kecepatannya yang tinggi—mendekati kecepatan cahaya, partikel Muon mengalami efek sebagaimana diterangkan teori Relativitas, yaitu perlambatan waktu.

Kebenaran Isra` Mi`raj

Demikianlah Relativitas telah dapat membuktikan kebenarannya. Menyingkap kebenaran-kebenaran yang selama ini tersembunyi di balik keruwetan dan arogansi ilmu pengetahuan. Termasuk, kebenaran Isra` Mi`raj.

Sebagaimana diterangkan di depan, ketika sebuah benda bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya, seperti halnya partikel Muon, benda itu akan mengalami efek perlambatan waktu. Seseorang yang meluncur ke angkasa dengan pesawat yang berkecepatan mendekati kecepatan cahaya, maka ia akan mengalami pertambahan usia yang lebih lambat dari yang semestinya di bumi. Ketika kembali ke bumi ia akan mendapati bumi telah begitu tuanya sedang dirinya hanya bertambah beberapa waktu saja. Ia telah terlempar ke masa depan. Namun jika kecepatannya ditambahkan hingga melampaui batas kecepatan cahaya, yang akan dialaminya bukanlah perlambatan waktu, namun sebaliknya. Ketika kembali ke bumi, bukan masa depan yang didapatinya. Namun, ia kembali ke masa lalu. Ia telah menjadi penziarah masa lalu.

Dan, inilah yang telah direfleksikan buraq, hewan sejenis kuda bersayap sebagai kendaraan Nabi saat melakukan perjalanan Isra`. Ketika memulai perjalanan yaitu dari Masjid Alharam (Mekkah), dengan daya kecepatan buraq (v>c), Nabi tidaklah mengarah ke masa depan. Namun kembali ke masa lalu. Dan, melewati masa lalu itulah Nabi memberangkatkan perjalanannya. Hingga, seiring guliran-guliran waktu perjalanan itu, perjalannpun melaju ke titik waktu saat mana beliau baru memulai. Hingga, kesan yang ada pun seolah-olah Nabi melakukan perjalanan Isra` Mi`raj hanyalah sesaat. Padahal, hakikatnya, beliau pun menjalani Isra` Mi`raj, berdasarkan `perhitungan` waktu pribadinya, lazimnya perjalanan-perjalanan sejenis lainnya dengan menghabiskan waktu berjam-jam atau berhari-hari atau bahkan lebih.

Demikianlah, Allah memang senantiasa memfirmankan kebenaran. Dan, firman-firman Allah memang senantiasa benar adanya. Meski terkadang akal & logika kita sangat sulit untuk menjangkaunya.

Shadaqallahul-adzim.

Kepustakaan:

  • Addardir, Ahmad. Qishatul Mi`raj lil `Alamah Najmuddin Alghaythy. Usaha Keluarga. Semarang.
  • Alkhaibawi, Usman dan Abdullah Shonhadji (Penj.). Durratun Nashihin: Mutiara Mubaligh, Jilid 2. Almunawar. Semarang.
  • Almuhally, Jalaluddin Muhammad bin Ahmad dan Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar Assuyuthy. Tafsirulqur`nilkarim. Toha Putra. Semarang.
  • http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_relativitas
  • http://www.qurancomplex.org
  • Mekantronika, Edisi Maret 1979.
  • Mahmud, Musthafa, Dr. 1981. Einstein dan Teori Relativitas, Cetakan kedua. Al-Hidayah. Jakarta.
  • Van Klimken, Gerry. 1989. Pengantar Fisika Modern. Satya Wacana. Semarang.
  • Hidayah, Edisi 25, Jumadil Ula 1424 H/Agustus 2003.

Sumber :  Usmandidikhamdani.blogspot.com

Iklan

Oleh DR. Rinto Anugraha

Salah satu fenomena alam yang sangat menarik untuk diamati adalah peristiwa gerhana bulan (moon eclipse) dan gerhana matahari (solar eclipse). Terjadinya gerhana adalah sebagai bukti tanda-tanda kekuasaan Allah SWT yang meletakkan matahari dan bulan pada garis edarnya dan bergerak dengan perhitungan yang dapat dipelajari oleh manusia. Allah SWT berfirman, “Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.” (Ibrahim:33).

Salah satu fenomena alam yang sangat menarik untuk diamati adalah peristiwa gerhana bulan (moon eclipse) dan gerhana matahari (solar eclipse). Terjadinya gerhana adalah sebagai bukti tanda-tanda kekuasaan Allah SWT yang meletakkan matahari dan bulan pada garis edarnya dan bergerak dengan perhitungan yang dapat dipelajari oleh manusia. Allah SWT berfirman, “Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.” (Ibrahim:33).

Allah SWT juga berfirman, “Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (Yasin:40)

Pada hari Rabu, 22 Juli 2009, Insya Allah akan terjadi gerhana matahari total (total solar eclipse). Gerhana matahari terjadi ketika matahari-bulan-bumi terletak pada satu garis lurus. Karena itu, gerhana matahari selalu terjadi saat bulan baru (new moon), meskipun tidak setiap bulan baru akan terjadi gerhana matahari. Gerhana matahari bersifat total jika ada permukaan bumi yang terkena bayangan umbra bulan.

Pada tulisan ini, penulis tidak akan banyak menjelaskan secara detail tentang gerhana matahari total tersebut. Pembaca dapat membaca banyak referensi di buku sains, artikel maupun internet. Dalam tulisan ini, penulis hanya ingin menjelaskan, bagaimana cara menentukan daerah manakah yang merasakan gerhana total, berapakah koordinat (bujur, lintang geografis) yang bisa menyaksikan gerhana total tersebut, kapankah gerhana total terjadi di tempat itu, berapakah lebar daerah di tempat tersebut yang merasakan gerhana total, berapakah ketinggian (altitude) dan azimuth matahari saat itu dan lain-lain. Untuk dapat menentukan semua pertanyaan di atas, ada satu kata kunci yaitu angka-angka atau elemen Bessel (Besselian elements). Dengan mengetahui angka-angka Bessel pada suatu gerhana matahari, maka kita akan dapat mengetahui detail keadaan gerhana di bumi dari awal hingga akhir.

Sebenarnya, pembaca dapat merujuk pada prediksi dan perhitungan gerhana matahari 22 Juli 2009 yang dirilis oleh NASA dengan alamat

http://eclipse.gsfc.nasa.gov/SEmono/TSE2009/TSE2009.html

NASA juga mengeluarkan semacam technical publication (TP) untuk gerhana matahari ini yang dapat diunduh di

http://eclipse.gsfc.nasa.gov/SEpubs/20090722/TP214169a.pdf

Berikut ini ringkasan prediksi/perhitungan gerhana yang dikeluarkan oleh Fred Espenak, astronom NASA yang dijuluki Mr. Eclipse. Lintasan bayangan umbra bulan berawal di India dan bergerak melewati Nepal, Bangladesh, Bhutan, Myanmar dan China. Setelah meninggalkan daratan Asia, lintasan tersebut melewati kepulauan Okinawa (Jepang selatan). Lintasannya lalu membelok ke arah tenggara menuju samudera Pasifik.

Sementara itu lintasan bayangan penumbra bulan dapat diamati di sebagian besar Asia (Tengah, Selatan, Timur, Tenggara) dan Samudera Pasifik. Khusus untuk Indonesia, daerah yang dapat mengamati gerhana parsial adalah sebagian Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi terutama daerah Utara, serta seluruh Papua.

Lebih detail, lintasan gerhana matahari total pada tanggal 22 Juli 2009 terdapat pada Gambar 1.

Gambar 1. Lintasan Gerhana Matahari 22 Juli 2009. Dikutip dari NASA.

Hasil perhitungan menurut NASA (Fred Espenak) adalah sebagai berikut (lihat tabel 4 pada technical publication NASA halaman 27). Agar tidak terlampau banyak hasil yang ditampilkan, disini hanya disajikan hasil dalam rentang 30 menit.

  • Permulaan gerhana pukul 0:52:54 UT, lintang 20:21:42 N, bujur 70:31:6 E, altitude matahari 0 derajat, azimuth matahari 68,3 derajat, lebar lintasan 205,5 km, durasi gerhana total 3 menit 9 detik.
  • Pukul 1 UT, 27:5:54 N, 91:2:6 E, 21,5 derajat, 77,5 derajat, 225 km, 4 menit 6 detik.
  • Pukul 1:30 UT, 30:49 N, 116:16:6 E, 50,2 derajat, 94,9 derajat, 245 km, 5 menit 36 detik.
  • Pukul 2 UT, 29:9:42 N, 131:5:54 E, 69,4 derajat, 110,9 derajat, 255 km, 6 menit 24 detik.
  • Pukul 2:30 UT, 25:7:24 N, 142:20:24 E, 84,9 derajat, 161 derajat, 258 km, 6 menit 39 detik.
  • Pukul 3 UT, 19:20:24 N, 151:58:54 E, 75,5 derajat, 276,3 derajat, 258 km, 6 menit 24 detik.
  • Pukul 3:30 UT, 11:46:24 N, 161:46:12 E, 57,5 derajat, 289,4 derajat, 255 km, 5 menit 44 detik.
  • Pukul 4 UT, 1:15:24 N, 175:23:6 E, 34,2 derajat, 293,8 derajat, 241 km, 4 menit 37 detik.
  • Akhir gerhana total pukul 4:17:48 UT, 12:54:42 S, 157:41:18 W, 0 derajat, 290,8 derajat, 205 km, 3 menit 9 detik.

Setelah dijelaskan hasil perhitungan NASA di atas, selanjutnya penulis ingin menyampaikan bagaimana cara menghitung seperti halnya perhitungan NASA di atas. Cara menghitung dimanakah koordinat di bumi yang terkena gerhana matahari total memang lumayan panjang, tetapi tidak sulit karena hanya perhitungan matematik biasa.

Terlebih dahulu harus diketahui angka-angka Bessel (Besselian elements) untuk gerhana tersebut. Angka-angka Bessel tersebut berasal dari perpaduan algoritma VSOP87 (matahari) dan ELP2000-82 (bulan). Angka-angka tersebut dapat dilihat di buku Elements of Solar Eclipses 1951-2200 karya Jean Meeus, maupun Report yang dikeluarkan oleh NASA untuk gerhana matahari 22 Juli 2009. Angka-angka Bessel untuk setiap gerhana matahari berbeda-beda. Angka Bessel ini digunakan untuk menentukan tempat (bujur, lintang) di bumi yang terkena garis umbra, lebar garis umbra, lama maksimum gerhana di tersebut, ketinggian (alitude) matahari dan azimuth yang diamati dari tempat tersebut dan lain-lain.

Disini penulis mengambil angka Bessel yang berasal dari buku karya Jean Meeus tersebut. Angka-angka Bessel tersebut untuk gerhana matahari 22 Juli 2009 adalah sebagai berikut:

  • Waktu referensi (T0) = pukul 3 TD.
  • X0 = 0,239953. X1 = 0,5563954. X2 = -0,0000576. X3 = -0,00000943.
  • Y0 = -0,003456. Y1 = -0,1774579. Y2 = -0,0001344. Y3 = 0,00000318.
  • d0 = 20,26424. d1 = -0,007874. d2 = -0,000005.
  • M0 = 223,38822. M1 = 15,001002.
  • L10 = 0,53042. L11 = 0,0000063. L12 = -0,0000128.
  • L20 = -0,015626. L21 = 0,0000063. L22 = -0,0000127.
  • tan f1 = 0,0046014. tan f2 = 0,0045784.

Perlu diingat, angka Bessel di atas hanya untuk gerhana matahari 22 Juli 2009. Untuk gerhana matahari pada waktu yang lain, angka Besselnya tentu saja berbeda. Selanjutnya, metode untuk menentukan daerah yang mengalami gerhana matahari total pada tanggal 22 Juli 2009 adalah sebagai berikut.

Misalnya kita ingin mengetahui dimanakah tempat yang mengalami gerhana total pada pukul 2:35:19 UT. Kita ubah waktu UT (Universal Time atau GMT) tersebut menjadi TD (Dynamical Time), yaitu TD = UT + Delta_T. Untuk tahun 2009, Delta_T = 66 detik, sehingga 2:35:19 UT + 66 detik sama dengan pukul 2:36:25 TD = pukul 2,60694444 TD. Karena waktu referensi untuk gerhana ini adalah T0 = 3 TD, maka t = TD – T0 = 2,60694444 – 3 = -0,39305556. Akhirnya dapat dihitung rumus-rumus sekaligus beserta hasilnya sebagai berikut.

  • X = X0 + X1*t + X2*t*t + X3*t*t*t = 0,021250371.
  • Y = Y0 + Y1*t + Y2*t*t + Y3*t*t*t = 0,066273857.
  • d = d0 + d1*t + d2*t*t = 20,26733415 derajat.
  • M = M0 + M1*t = 217,4919928 derajat.
  • L2 = L20 + L21*t + L22*t*t = -0,015630438.
  • X’ = X1 + 2X2*t + 3*X3*t*t = 0,556436309.
  • Y’ = Y1 + 2Y2*t + 3*Y3*t*t = -0,177350773.
  • w = 1/SQRT(1 – 0,006694385*COS(d)*COS(d)) = 1,00295863.
  • p = M1/57,2957795 = 0,261816876.
  • b = Y’ – p*X*SIN(d) = -0,179278045.
  • c = X’ + p*Y*SIN(d) = 0,562446924.
  • y1 = w*Y = 0,066469936.
  • b1 = w*SIN(d) = 0,347425752.
  • b2 = 0,99664719*w*SIN(d) = 0,937707499.
  • B = SQRT(1 – X*X – y1*y1) = 0,997562113.

Untuk menentukan koordinat yang terkena bayang-bayang umbra bulan, maka nilai B harus positif. Jika B negatif, maka tidak ada koordinat yang terkena garis umbra/garis sentral pada waktu tersebut.

  • H = ATAN(X/(B*b2 – y1*b1)) = 1,334318687 derajat.
  • fai1 = ASIN(B*b1 + y1*b2) = 24,13626333 derajat.
  • TAN(Lintang) = 1,00336409*TAN(fai1) = 0,449588777.
  • Lintang = 24,20814868 = 24:12:29 derajat.
  • Bujur = H + 0,00417807*Delta_T – M = -215,8819215 derajat = 144,1180785 derajat = 144:7:5 derajat.

Dalam rumus di atas, Delta_T dinyatakan dalam detik. Bujur harus dalam rentang -180 derajat hingga 180 derajat. Jika bujur lebih kecil dari -180 derajat, tambahkan dengan 360 derajat. Jika lebih besar dari 180 derajat, kurangkan dengan 360 derajat. Bujur negatif menunjukkan sebelah barat Greenwich. Bujur positif berarti sebelah timur Greenwich.

  • L2′ = L2 – B*tan f2 = -0,020197677.
  • a = c – p*B*COS(d) = 0,317438788.
  • n = SQRT(a*a + b*b) = 0,364565497.
  • Durasi = 7200*ABS(L2′)/n = 398,89 detik = 6 menit 39 detik.

Jenis gerhana matahari ini dapat dilihat dari nilai L2′. Jika L2′ negatif maka gerhana total. Jika L2′ positif maka gerhana cincin. Karena L2′ negatif, maka gerhana matahari ini adalah gerhana total. Untuk mengetahui posisi matahari (altitude) saat itu, maka digunakan rumus

  • SIN(Altitude) = SIN(d)*SIN(Lintang) + COS(d)*COS(Lintang)*COS(H) = 0,997403573.
  • Altitude = 85,87028886 derajat = 85:52:13 derajat.

Dengan menggunakan rumus transformasi koordinat dari ekuator ke horison, azimuth matahari juga dapat dihitung = 197,6579012 derajat = 197:39:28 derajat.

  • K = SQRT(B^2 + ((X*a + Y*b)/n)^2) = 0997661577.
  • Lebar lintasan (path width) = 12756*ABS(L2′)/K = 258 km.
  • L1′ = L10 + L11*t + L12*t*t – B*tan f1 = 0,525825364.
  • Sudut radius bulan /sudut radius matahari = (L1′ – L2′)/(L1′ + L2′) = 1,079891498.

Karena perbandingan sudut radius bulan dengan matahari lebih besar dari satu, maka dalam gerhana ini sudut radius bulan lebih besar daripada sudut radius matahari, sehingga sifat gerhana adalah total.

Hasil perhitungan di atas menunjukkan bahwa pada pukul 2:35:19 UT, daerah yang terkena gerhana total memiliki koordinat lintang 24:12:29 derajat, bujur 144:7:5 derajat, altitude matahari 85:52:13 derajat, azimuth matahari = 197:39:28 derajat, lebar lintasan gerhana total 258 km, lama gerhana total di tempat tersebut 6 menit 39 detik.

Rumus-rumus di atas sudah penulis susun dalam file MS Excel yang dapat diunduh di

http://www.4shared.com/file/119020611/8afddf1b/gerhana-matahari-total-22-juli-2009.html

Dengan menggunakan file tersebut untuk menentukan koordinat yang terkena gerhana total, maka hasilnya disajikan di bawah ini.

  • Permulaan gerhana terjadi pada pukul 0:52:51,03 UT, koordinat yang mengalami gerhana total terletak pada lintang 20:21:57 N dan bujur 70:33:42 E, altitude matahari 0,04 derajat, azimuth matahari 68,3 derajat, lebar lintasan gerhana total di koordinat tersebut 205 km, lama gerhana total di tempat tersebut 3 menit 9 detik.
  • Pukul 1 UT, 27:5:28 N, 91:2:46 E, 21,47 derajat, 77,46 derajat, 225 km, 4 menit 6 detik.
  • Pukul 1:30 UT, 30:48:24 N, 116:16:23 E, 50,20 derajat, 94,89 derajat, 245 km, 5 menit 37 detik.
  • Pukul 2 UT, 29:09:04 N, 131:05:59 E, 69,40 derajat, 110,88 derajat, 254 km, 6 menit 25 detik.
  • Pukul 2:30 UT, 25:06:45 N, 142:20:19 E, 84,89 derajat, 160,98 derajat, 258 km, 6 menit 40 detik.
  • Pukul 3 UT, 19:19:46 N, 151:58:46 E, 75,52 derajat, 276,29 derajat, 258 km, 6 menit 24 detik.
  • Pukul 3:30 UT, 11:45:45 N, 161:46:04 E, 57,55 derajat, 289,37 derajat, 254 km, 5 menit 44 detik.
  • Pukul 4 UT, 1:14:46 N, 175:23:00 E, 34,18 derajat, 293,82 derajat, 241 km, 4 menit 37 detik.
  • Akhir gerhana pukul 4:17:47 UT, 12:52:02 S, 157:50:11 W, 0,15 derajat, 290,84 derajat, 205 km, 3 menit 9 detik.

Dengan membandingkan antara kedua perhitungan di atas, nampak bahwa perhitungan yang penulis susun dalam file Excel di atas berdasarkan algoritma Meeus memberikan hasil yang praktis sama dengan hasil perhitungan NASA..Perbedaan posisi koordinat antara kedua perhitungan rata-rata kurang dari satu menit busur. Ketinggian dan azimuth matahari dapat dikatakan persis sama, demikian pula lama waktu (durasi) tempat tersebut merasakan gerhana total. Adapun perbedaan lebar lintasan umbra hanya berkisar 1 km saja. Dengan demikian, pembaca dapat menggunakan file Excel di atas untuk memperoleh gambaran daerah yang merasakan gerhana total.

DR. Rinto Anugraha (Dosen Fisika FMIPA UGM Yogyakarta)

Referensi: # Jean Meeus, Elements of Solar Eclipses 1951-2200, Willmann-Bell, Virginia, 1989. # Jean Meeus, Astronomical Algorithm, Willmann-Bell, Virginia, 1991. # Fred Espenak and J. Anderson, Total Solar Eclipse of 2009 July 22, NASA.

Sumber : Eramuslim

Gaya hidup serba praktis telah melekat pada generasi muda saat ini. Tak heran, semua teknologi yang dapat mempersingkat waktu dan memudahkan pekerjaan semakin digandrungi. Termasuk cara mendapatkan informasi atau berita.

Menurut survei yang dirilis lembaga riset Pew Research Centre, masyarakat di benua Amerika saat ini cenderung memilih televisi dan media internet untuk mendapatkan berita ketimbang koran. Konsumen berita online dan televisi rata-rata adalah pembaca usia muda. Sementara kelompok yang tua, lebih menyukai membaca koran.

Survei Pew tersebut juga menunjukkan pengguna dua sumber berita sekaligus, yaitu koran dan internet, mempunyai tingkat kebutuhan yang sangat tinggi akan berita-berita terkini. Selain itu, bila dikategorikan secara sosial, golongan itu diistilahkan sebagai ‘integrator’, yaitu kelompok yang suka melakukan integrasi.

Kelompok ini memiliki ciri khas sendiri. Mereka kelompok masyarakat yang berpendidikan tinggi, lebih canggih, tercukupi secara materi, serta masuk dalam golongan berpengaruh. Selain itu, bila dibandingkan dengan kelompok yang hanya terfokus pada berita dari internet saja, usia kelompok ini pun rata-rata lebih matang. Jumlahnya 23% dari total responden yang disurvei.

Penelitian semesteran Pew Research Centre mengenai kebiasaan konsumsi masyarakat yang baru ini dilakukan terhadap 3.615 orang dewasa. Usia mereka di atas 18 tahun. Adapun tingkat margin kesalahan adalah 2%.

Dalam riset ini, diketahui televisi masih dianggap sumber berita utama dibandingkan media lain. Porsinya adalah 46% dari total responden, dengan usia rata-rata di atas 50 tahun. Umumnya, kelompok ini bukanlah pengkonsumsi berita internet .

Sedangkan usia rata-rata kelompok pemakai berita internet, paling muda adalah sekitar 35 tahun. Kelompok ini mencakup 13% dari total responden. Golongan ini secara khusus kurang bergantung kepada berita-berita televisi. Mereka lebih senang menggunakan komputer dan membaca melalui internet daripada versi cetak. Tingkat pendidikan konsumen berita online ini secara umum lebih tinggi dari kelompok lainnya.

Hasil survei ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan turunnya jumlah surat kabar yang beredar di AS. Menurut Media Consultant Freedom Forum, sejak tahun 1959, tercatat sebanyak 300 ribu perusahaan surat kabar tutup.

Diungkapkan pula, konsumsi masyarakat akan berita telah bergerak menuju konsumen media internet. Sejumlah 50% pembaca surat kabar di AS beralih menjadi pembaca situs berita. Hal itu dapat menjelaskan tren pertumbuhan media-media internet, baik versi media cetaknya ataupun yang hanya berupa situs berita.

Secara keseluruhan, hasil survei ini menunjukkan masyarakat pengkonsumsi surat kabar harian turun menjadi 34% dari 40% pada tahun 2006. Sementara responden yang menyatakan mengkonsumsi berita melalui internet minimal tiga kali dalam seminggu meningkat menjadi 25%, dibanding tahun 2006 sebanyak 18%.

Apakah hal ini akan terjadi di Indonesia? Lihat saja nanti.. (Sumber : Inilah)

Danau Baikal

Rusia berhasil menjadi negara pertama di dunia yang melakukan eksplorasi air tawar di kedalaman 1.680 meter di bawah permukaan laut.

Rekor ini dicetak setelah sejumlah ilmuwan yang diketuai Artur Chilingarov sukses mengarungi dasar Danau Baikal di Siberia yang merupakan danau terdalam di dunia. Para ilmuwan yang menumpang kapal selam Mir-1 dan Mir-2 itu berada di kedalaman 1.680 meter di bawah permukaan laut tepat pada pukul 10.15 waktu setempat.

Berbeda dengan kebanyakan kapal selam lain, kapal selam Mir-1 dan Mir-2 berukuran lebih kecil. Bentuknya pun dibuat menyerupai kapsul yang dapat mengangkut dua ilmuwan. Guna memudahkan eksplorasi, Mir-1 dan Mir-2 dihubungkan dengan pusat pengendali di permukaan laut.

“Ini rekor dunia untuk penyelaman kapal selam di air tawar.Kendati demikian, kami masih menunggu pengukuhan resmi dari pihakpihak terkait. Rusia juga berhasil menancapkan benderanya di sana,” tulis kantor berita Interfax dan Itar-Tass mengutip sejumlah ilmuwan yang terlibat dalam eksplorasi. Misi yang hanya berlangsung selama dua jam untuk mengumpulkan data tentang kondisi di dasar danau, salah satunya mengambil contoh minyak bumi tersebut tidak berjalan mulus.

“Ada beberapa kendala teknis, di antaranya keadaan cuaca yang tidak menentu.Tapi, kami berhasil melewatinya,” ujar Chilingarov yang juga ketua ekspedisi di Kutub Utara pada Agustus silam.

Kapal selam Mir-1 dan Mir- 2 sebelumnya telah mengarungi dasar laut Kutub Utara. Namun, untuk kepentingan eksplorasi di Danau Baikal, para ilmuwan memodifikasi kapal selam mini itu, termasuk mengurangi bebannya hingga hanya 18 ton. Ini dilakukan supaya kapal dapat tetap mengambang saat berada di dasar danau.Pada percobaan sebelumnya, Mir-1 dan Mir-2 sukses menjelajahi Danau Baikal di kedalaman 420 meter.

Selain memiliki ukuran paling dalam sedunia, pada 1996 silam, Danau Baikal juga dinobatkan oleh UNESCO – Badan di Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengurusi pendidikan dan budaya – sebagai salah satu warisan budaya yang harus dilindungi. Ini tidak berlebihan. Sebab, volume air bersih yang ada di danau ini cukup besar, yakni mencapai seperlima dari total persediaan air bersih di dunia.

Tidak hanya itu, danau yang juga dikenal dengan sebutan Blue Eye of Siberia tersebut menjadi rumah bagi sekitar 1.700 spesies tanaman dan hewan. Dalam konferensi pers sebelum eksplorasi dilakukan, Chilingarov menyatakan,apa yang dilakukan ilmuwan Rusia adalah untuk mengintai dampak negatif pemanasan global terhadap biota dasar laut Danau Baikal. Selain itu, misi tersebut untuk menggugah pemerintah Rusia agar lebih peduli dengan nasib warisan dunia tersebut.

“Kami mengumpulkan data-data penting tentang dampak pemanasan global pada ekosistem danau.Kami berharap pemerintah dapat lebih peduli terhadap danau itu,” jelas Chilingarov. [Okezone]


MOSKOW – Ilmuwan Rusia kini bergabung di Danau Baikal untuk mencari tahu ekosistem sekaligus ukuran kedalaman yang dimiliki oleh danau terdalam di dunia ini.

Eksplorasi dikabarkan telah dimulai akhir pekan ini dengan melibatkan dua buah kapal selam kecil buatan Rusia, Mir-1 dan Mir-2. Pada hari pertama, kedua kapal selam tersebut hampir berada di kedalaman 420 meter. Pada hari kedua, kapal selam tersebut akan menjangkau kedalaman danau yang lebih jauh lagi.

Dilansir melalui AFP, Jumat (25/7/2008), diharapkan kedua kapal selam tersebut mampu mencapai kedalaman 1,637 meter, tepat berada di dasar danau. Kabarnya dasar danau Baikal memiliki ekosistem yang cukup unik dan masih ‘perawan’. Menurut para ilmuwan Rusia, belum pernah ada satupun penelitian yang menjamah dan mengeksplor ekosistem Baikal.

Dalam misi sebelumnya, para ilmuwan hanya bisa menjangkau kedalaman danau beberapa ratus meter saja.

Ekspedisi danau Baikal ini dipimpin oleh Artur Chilingarov. Chilingarov merupakan anggota parlemen Kremlin yang juga dikenal sebagai penjelajah kutub utara. Bahkan Chilingarov pernah memimpin kelompok ilmuwan yang berhasil menancapkan bendera Rusia di kutub Utara.

Ekspedisi Baikal ini akan dijadikan alat oleh para ilmuwan untuk mendapatkan data efek global warming terhadap danau tersebut. Tidak hanya itu, data tersebut juga akan diberikan kepada pemerintah Rusia agar mereka mau lebih memperhatikan dan melindungi ekosistem dan lingkungan yang ada di Rusia.

Selain memiliki ukuran paling dalam sedunia, danau Baikal juga dinobatkan PBB sebagai salah satu warisan budaya yang harus dilindungi. Pasalnya volume air bersih yang berada di danau ini cukup besar. Bahkan mencapai 20 persen dari total persediaan air bersih di dunia. Danau yang terletak di sebelah selatan Siberia ini juga dikenal dengan sebutan Blue Eye of Siberia. (Okezone)

SEMAKIN menipisnya cadangan energi yang tak terbaharukan untuk pembangkit energi listrik, membuat para peneliti bekerja keras menemukan alternatif pengganti yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan energi listrik. Salah satu yang sedang dicoba oleh tim peneliti dari NASA adalah teknologi pembangkit listrik dari mikroba.

Walaupun gagasan ini belum sepenuhnya berhasil menggantikan sumber energi lain yang ada, namun penyempurnaan terhadap hasil penelitian akan terus dilakukan, sehingga diharapkan akan diperoleh hasil yang optimal.

Pesawat luar angkasa dalam perjalanan ke Planet Mars, diperkirakan memiliki kru yang terdiri atas enam orang. Keenam astronot ini akan menghasilkan lebih dari enam ton limbah yang sebagian besar adalah limbah padat yaitu tinja. Jumlah yang sangat besar tentunya. Lalu, apa yang dapat dilakukan terhadap limbah ini?

Sekarang, feses astronot dapat dikirim kembali ke Bumi. Tapi, ke depannya ilmuwan di NASA akan berpikir untuk mendaur ulang, sebab limbah ini adalah sumber daya yang diperlukan astornot. Salah satunya dapat dijadikan air minum murni, untuk keperluan mereka di luar angkasa selama melakukan misinya. Juga dapat dijadikan pupuk. Bahkan, dengan bantuan mikroba tertentu yang unik dan spesifik, limbah ini dapat juga disulap menjadi listrik.

“Geobacter metallireducens”

Seperti banyak jenis mikroba, bakteri dari keluarga Geobacteraceae ini dapat memakan dan hidup dengan mengurai material organik. Mikroba geobacter yang pertama ditemukan di tambang batu bara di Sungai Potomac, Washington D.C. 1987. Bakteri ini bersifat anaerob, yaitu hidup pada tempat yang tidak ada oksigen. Mereka juga mempunyai kemampuan untuk berpindah, dengan cara menggerakkan elektron dalam metal. Kemampuan ini menjadikan bakteri geobacter, mampu menguraikan limbah sekaligus menghasilkan listrik.

Bakteri ini dikenal sebagai Geobacter metallireducens, adalah mikroba pertama yang mampu mengoksidasi bahan organik menghasilkan karbon dioksida. Geobacter metallireducens mendapat tenaganya dengan memanfaatkan oksida dari besi, dengan cara yang sama seperti manusia menghirup oksigen.

Spesies Geobacter dapat digunakan mengatasi pencemaran lingkungan. Misalnya, menguraikan tumpahan minyak di perairan menjadi karbon dioksida yang tak berbahaya. Spesies Geobacter mengubah kondisi lingkungan, dengan mempercepat laju degradasi kontaminan. Spesies Geobacter juga memiliki kemampuan menyingkirkan kontaminan logam radioaktif dari perairan.

Genom beberapa Sesies Geobacter sudah diurutkan dan sedang dimasukkan ke dalam model komputer, yang bisa meramalkan metabolisme Geobacter di bawah kondisi lingkungan berbeda. Pendekatan biologi sistem ini sangat mempercepat proses bagaimana Spesies Geobacter berfungsi dan mengoptimasi proses bioremediasi dan produksi energi listrik.

“Microbial fuel cell”

Menciptakan kondisi alami, memicu peneliti menemukan suatu jenis bahan bakar baru, yaitu sel bahan bakar mikroba (microbial fuel cell). Jenis bahan bakar baru ini sekarang sedang dikembangkan tim riset NASA yang dipimpin Dr. Bruce Rittmann, soarang profesor pada Northwestern University.

Semua jenis sel bahan bakar menghasilkan listrik, dengan memproduksi dan mengendalikan suatu arus elektron. Sel-sel konvensional, termasuk menggunakan pintalan dan dalam beberapa mobil prototipe, memperoleh elektron dengan melepaskan atom hidrogen. Dalam melakukan itu, sel-sel bahan bakar ini harus diberi persediaan hidrogen secara tetap.

Sel bahan bakar mikroba memperoleh elektron dari limbah organik. Bakteri hidup dengan limbah sebagai bagian dari proses pencernaan mereka. Geobacter, menurut peneliti NASA ini dapat `dibujuk` untuk menyampaikan elektron secara langsung kepada elektroda sel bahan bakar ke dalam suatu sirkuit. Ketika elektron dialirkan sepanjang sirkuit, mereka menghasilkan listrik. Sel bahan-bakar mikroba ini telah dicoba di Pennsylvania University, untuk menghasilkan listrik pada saat proses memurnikan limbah cair domestik.

Guna membuat gagasan ini menjadi bentuk yang praktis, Prof. Rittmann berpikir harus mempunyai suatu bentuk yang efisien dan sangat ringkas. Bahan bakar sel tidak bisa dibentuk dengan banyak ruang dengan ukuran yang luas. Untuk kebutuhan ini, peneliti sedang mempertimbangkan suatu sel bahan bakar serabut yang dikemas dengan ketat, masing-masing akan merupakan suatu sel bahan bakar dalam kemasan all in one.

Masing-masing serabut akan terdiri dari tiga lapisan, seperti tiga untai jerami, satu di dalam serabut lainnya. Masing-masing lapisan terdiri dari kutub positif (luar), electrolyte-membrane (tengah), dan katoda (dalam). Saluran dari cairan limbah akan dipompa melewati lapisan luar, di mana Geobacter dapat mengikat elektron dan memindahkannya ke kutub positif, yaitu ke dalam sirkuit, dan kemudian diteruskan ke katoda pada lapisan dalam.

Namun, Rittmann dan timnya masih menemukan kendala mekanisme yang tepat memindahkan elektron ke elektroda oleh mikroba yang masih lambat. Peneliti masih harus mengetahui bagaimana membuat mekanisme ini lebih cepat dan menghasilkan tenaga yang lebih kuat. Sampai sejauh ini peneliti memiliki banyak gagasan, termasuk kemungkinan faktor voltase pada elektroda. Ini adalah salah satu pertanyaan mereka yang sedang berusaha untuk dijawab.

Model pembangkit listrik mikroba itu dalam uji coba di laboratorium, saat ini baru mampu mengisi baterai telefon seluler dan kalkulator atau menyalakan satu lampu LED. Daya listrik yang dibangkitkan memang masih terlalu kecil, untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, namun sudah memadai untuk memenuhi kebutuhan energi listrik yang paling mendasar di zaman teknologi komunikasi yang semakin maju.

Kita harus memanfaatkan limbah menjadi salah satu produk yang berguna. Jadi, kenapa tidak membuat proses untuk menghasilkan energi, sebagai penghasil energi alternatif? Dengan memproduksi listrik, sel bahan bakar dari miroba akan menjadikan limbah jauh lebih ekonomis. Sel bahan bakar mikroba akan mengubah bentuk, dari sesuatu yang tidak berguna menjadi sumber daya listrik yang bermanfaat. Sampah, kenapa tidak? (Kabelan Kunia, M.Si., PP Bioteknologi ITB) [Pikiran-Rakyat]

Dengan menggunakan lembaran kaca yang diselimuti oleh cat organik para ilmuwan telah membuat satu alat kekuatan sinar matahari yang efisien dan praktis yang mereka yakini dapat membuat sumber energi baru yang murah dan sekaligus bersih tanpa polusi.

Para ilmuwan bersemangat untuk mencari alternatif sumber energi baru yang mengunakan sinar matahari sebagai sumber energi pengganti di masa mendatang.

Para ilmuwan menggunakan lembaran gelas kaca yang dilapisi dengan cat organik untuk mengkonsentrasikan sinar matahari di satu bidang tembak.

Cat organik tersebut mengabsorbsi sinar matahari yang terkumpul yang kemudian dipindahkan ke lapisan kaca yang membawa panas sinar matahari hingga ke bagian pinggir lapisan kaca membawa atau memindahkan sinar matahari ke jarak tertentu, demikian dikatakan oleh para peneliti.

Pada bagian tepi lapisan gelas kaca terletak sel-sel sinar matahari yang kemudian mengubah sinar matahari menjadi listrik.

“Jadi kami mengerjakannya hanya dengan menggunakan selembar kaca yang dilapisi cat organik diatasnya,” kata profesor elektro di MIT, Marc Baldo yang memimpin proyek penelitian tersebut.

“Pemikiran dasarnya adalah sinar matahari ditangkap lembaran kaca yang dilapisi cat organik . Cat itu kemudian berpindah ke bidang dipinggrir lembaran kaca . Jadi kami berpendapat dengan menggunakan metode itu kami dapat menggurangi biaya pembuatan listrik dengan menggunakan energi sinar matahari,” kata Baldo.

“Yang dibutuhkan hanyalah sel-sel sinar matahari yang berpindah ke bagian pinggir lembar kaca , sehingga kita dapat menghemat biaya listrik yang dihasilkan sinar matahari.

Lembar kaca yang digunakan adalah yang rata dan ringan sehingga dapat digunakan dalam panel sinar matahari yang dapat diletakkan di bagian atap atau digunakan sebagai jendela yang dapat membangkitkan tenaga listrik .

Para ilmuwan memperkirakan system yang mereka temukan dapat digunakan masyarakat luas dalam waktu tiga tahun mendatang dan dapat ditambahkan kepada sistem panel solar untuk menambah efisiensi sistem penghasil listrik mengunakan sinar matahari.

Sebagian peneliti MIT kini membentuk perusahaan yang berkantor pusat di Boston untuk mengembangkan pemasaran dan teknologi alat penghasil listrik menggunakan cahaya matahari. (Media Indonesia)

Laman Berikutnya »