Umum


Bahan Renungan Untuk Anda, Sahabatku, yang mungkin terlalu sibuk bekerja…

Luangkanlah waktu sejenak untuk membaca dan merenungkan pesan ini…
Alhamdulillah, Anda beruntung telah terpilih untuk mendapatkan kesempatan membaca Renungan ini.

Aktifitas keseharian kita selalu mencuri konsentrasi kita. kita seolah lupa dengan sesuatu yang kita tak pernah tau kapan kedatangannya. Sesuatu yang bagi sebagian orang sangat menakutkan.Tahukah kita kapan kematian akan menjemput kita???
Berikanlah waktu anda dan bacalah sampai habis, semoga dapat menjadikan hikmah buat kita semua dan sadar, bahwa kita akan mati dan tinggal menunggu waktunya,
Semoga kita termasuk dalam orang-orang yang khusnul khotimah…. amien…. .

Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar doa ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang. Aku sungguh heran, bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri

: Alangkah sabarnya mereka….setiap hari begitu…benar- benar mengherankan!

Aku belum tahu bahwa disitulah kebahagiaan orang mukmin dan itulah shalat orang orang pilihan. Mereka bangkit dari tempat tidurnya untuk munajat kepada Allah.

Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah padahal berbagai nasehat selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu. Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan di kota yang jauh dari kotaku.
Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing. Disana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur’an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati. Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol.. Di samping menjaga
keamanan jalan, tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.

Pekerjaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi.
Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak. Aku bingung dan sering melamun sendirian …. banyak waktu luang … pengetahuanku terbatas.
Aku mulai jenuh … tak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentuk penganiayaan lain. Aku bosan dengan rutinitas.. Sampai suatu hari terjadilah sebuah
peristiwa yang hingga kini tak pernah aku lupakan.
Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas disebuah pos jalan..
Kami asyik ngobrol … tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Kami mengedarkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah yang berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban.
Kejadian yang sungguh tragis.

Kami lihat dua awak salah satu mobil dalam kondisi kritis. Keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah. Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas
dengan amat mengerikan.
Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma.
Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat. Ucapkanlah “Laailaaha Illallaah …. Laailaaha Illallaah ..” perintah temanku..
Tetapi sungguh mengerikan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding.
emanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat ..
Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat. Aku diam membisu. Aku tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti ini.
Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat.
tetapi …. keduanya tetap terus saja melantunkan lagu.
Tak ada gunanya …. Suara lagunya terdengar semakin melemah ….lemah dan lemah sekali.. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua.
Tak ada gerak …. keduanya telah meninggal dunia. Kami segera membawa mereka ke dalam mobil. Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatahpun. Selama perjalanan hanya ada kebisuan. Hening…
kesunyian pecah ketika temanku mulai bicara…Ia berbicara tentang hakikat kematian dan su’ul khatimah (kesudahan yang buruk).
Ia berkata “Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk..

Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama di dunia.
Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku islam. Ia juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin.
Perjalanan kerumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa kami sedang membawa mayat. Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat khusyu’ sekali.
Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu. Aku kembali pada kebiasaanku semula … Aku seperti tak pernah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu yang lalu. Tetapi sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala.

Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pernah kudengar dari dua orang yang sedang sekarat dahulu. Kejadian yang menakjubkan !.

Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu …. sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku. Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju kota . Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia berdiri dibelakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itupun langsung tersungkur seketika.
Aku dengan seorang kawan, bukan yang menemaniku pada peristiwa pertama cepat-cepat menuju tempat kejadian. Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapat penanganan. Dia masih sangat muda, wajahnya begitu bersih.Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu.
Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya.
Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an … dengan suara amat lemah.

Subhanallah ! dalam kondisi kritis seperti itu ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an ? Darah mengguyur seluruh pakaiannya, tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati. Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu.
Selama hidup, aku tak pernah mendengar bacaan Al-Qur’an se indah itu.

Dalam batin aku bergumam sendirian “Aku akan menuntunnya membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu …apalagi aku sudah punya pengalaman.” aku meyakinkan diriku sendiri. Aku dan kawanku seperti terhipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur’an yang
merdu itu.

Sekonyong-konyong sekujur tubuhku merinding, menjalar dan menyelusup ke setiap rongga. Tiba-tiba, suara itu terhenti. Aku menoleh kebelakang. Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang.
kupegang tangannya, degup jantungnya, nafasnya, tidak ada yang terasa..

Dia telah meninggal. Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku. Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah meninggal. Kawanku tak
kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan. …Sampai di rumah sakit …..Kepada orang-orang di sana , kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan.
Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit
yang meneteskan air mata.
Adalah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium keningnya. Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan dishalatkan. . . Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada
jenazah. Semua ingin ikut menyolatinya. Ia adalah seorang petugas rumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut mengantar jenazah hingga ke rumah keluarganya. .
Salah seorang saudaranya mengisahkan, ketika kecelakaan, sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari senin. Disana almarhum juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin.
Ketika terjadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang dia santuni. Bahkan juga membawa permen untuk dibagikan kepada anak-anak kecil.

Bila tiba saatnya kelak, kita menghadap Allah Yang Perkasa. hanya ada satu harap, semoga kita menjadi penghuni surga. Biarlah dunia jadi kenangan, juga langkah-langkah kaki yang terseok, di sela dosa dan
pertaubatan. Hari ini, semoga masih ada usia, untuk mengejar surga itu, dengan amal-amal yang nyata : “memperbaiki diri dan mengajak orang lain “?

Allah Swt berfirman: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan
yang memperdayakan. ” (QS. Al-Imran:185)

Rasulullah Saw telah mengingatkan dalam sabdanya, “Barangsiapa yang lambat amalnya, tidak akan dipercepat oleh nasabnya.” Saudaraku, siapa yang tau kapan, dimana, bagaimana, sedang apa, kita
menemui tamu yang pasti menjumpai kita, yang mengajak menghadap Allah SWT.
Orang yang cerdik dan pandai adalah yang senantiasa mengingat kematian dalam waktu-waktu yang ia lalui kemudian melakukan persiapan persiapan untuk menghadapinya. Suruh dirimu berbuat taat, sudah pasti dirimu tidak akan patuh kepadamu dan pasti ia akan menolak dan merasa berat untuk mengerjakan ketaatan.asehat ini terutama untuk diri saya sendiri, dan saudara-saudaraku seiman pada umumnya.

Orang Cerdas Adalah Orang Yang Banyak Mengingat Akan Kematian, dan berusaha memanifestasikan dan optimalisasi amal demi menghadapi hidup setelah kematian

(H.A.S)

Sumber : http://www.facebook.com/?ref=home#!/pages/Kembang-Anggrek/197674079227

Iklan

Hancur sudah tempatku bermain. Tempat-tempat terindah di masa kecil di Sumbar, kini hanya bisa kukenang. Semoga bisa menjadi pelajaran bagi semua

Walaupun aku jauh di rantau orang, sesungguhnya jiwaku sangat terluka dengan gempa yang terjadi di Sumbar 7,6 SR tanggal 30 September bulan lalu. Hatiku sangat sedih. Bukan apa-apa, ini karena aku hanya bisa mengikuti perkembangan gempa melalui berbagai media di internet secara online 24 jam.

Bagaimanapun, rasa was-was sedih sangat tinggi. Di tempat asalku, di Kota Padang, ada adik, anak abang, dan saudaraku lainnya yang sedang kuliah di sana. Hatiku semakin gelisah karena setiap orang yang kutelepon tidak bisa kuhubungi selama 2 hari. Walaupun aku agak keras kepala, namun beberapa hari ini aku hanya bisa menangis melihat kesan gempa melalui media.

Di media, kawasan yang dulunya tempatku bermain, hancur-lebur. Bangunan yang dulunya biasa kulihat, rumah-rumah yang dulunya bersusun rapi, keluarga yang dulunya biasa kulihat ceria, semuanya telah berubah hanya dengan sekelip mata akibat gempa.

Sebenarnya aku mampu membeli tiket pesawat untuk pulang melihat secara langsung. Namun keberadaanku di sana mungkin tidak akan mengurangi penderitaan mereka yang telah kehilangan nyawa, sanak-keluarga, harta-benda, dan sebagainya. Lebih baik harga tiket itu aku sumbangkan kepada mereka.

Aku lebih memilih untuk tetap tinggal di Kuala Lumpur dengan mengumpulkan sumbangan dari orang-orang Malaysia yang kukenali. Walaupun jutaan rupiah telah dan akan kukirimkan untuk membantu korban gempa, pastinya itu semua tidak akan mampu mengganti penderitaan mereka yang telah kehilangan segalanya.

Alhamdulillah, melalui organisasi kami, Cabang Muhammadiyah-Kuala Lumpur,  bergerak mengumpulkan dana sejauh yang mampu kami lakukan.

Indah Kabar dari Rupa

Secara ikhlas aku menyadari bahwa Allah SWT. adalah pemilik mutlak alam semesta. Dia berhak melakukan apa saja ke atas alam yang menjadi milik-Nya ini. Kita sebagai makhluk-Nya hanya menumpang sementara di bumi Allah yang luas ini. Apapun ketentuan-Nya, kita sebagai hamba harus pasrah dan sabar menerimanya. Pasti ada hikmah di balik peristiwa ini, mungkin Allah ingin mengingatkan dan menyadarkan kita dari kesilapan dan dosa yang sering kita lakukan selama ini. Peringatan seperti ini juga pernah berlaku kepada umat-umat sebelum kita dulunya.

Dengan gempa bisa membuat kita merenung tentang bagaimana kekuatan dan kekuasaan Allah SWT. Mungkinkah adanya bencana disebabkan karena Allah murka melihat kemunafikan kita. Kita bangga dengan slogan Islamic tetapi kenyataan di lapangan jauh dari realitas simbol “Serambi Mekah atau Adat Basandi Syara`, Syara` Basandi Kitabullah.” Seperti halnya Aceh, Padang juga dikenal dengan daerah yang religius (hanya) “dari luar”. Kekurangan dan kelemahan sebenarnya bisa kita lihat dan kita rasakan sendiri jika kita berada di dalamnya.

Jika mau jujur, rumah-rumah kos sebagian mahasiswa, mirip hotel murah tempat memuaskan nafsu syetan pasangan belum nikah.  Lihat saja, tempat-tempat maksiat di pantai Air Manis, pantai Padang, daerah Pertambangan lainnya yang difasilitasi sedemikian rupa. Judi dan narkoba menjadi budaya dan kebanggaan anak bangsa. Semua lapisan masyarakat hampir tidak ada yang peduli dan membiarkan semua kejahatan itu berlaku. Para ustaz hanya bisa mengajak kepada kebaikan. Institusi polisi juga tidak mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar yang berlaku di bumi bundo kandung ini.

“Adat Basandi Syara`, Syara` Basandi Kitabullah”
ini hanyalah indah kabar dari rupa. Adat-adat jahiliyah seperti mengadu ayam, main judi, dan pergaulan muda mudi menjadi-jadi.

Setiap keramaian wajib ada dangdutan keyboard tunggal (electone), dengan menyewa penyanyi dangdut yang sudah tentu menampilkan goyang ngebor a la Inul. Siang hari artisnya berpakaian sopan, tapi malamnya berubah seperti syetan seksi yang memperlihatkan bentuk-bentuk tubuh mereka.

Arak, judi, dan pergaulan bebas bergaul di sana. Kalau di negara sekuler, acara seperti itu diadakan tertutup dan hanya bisa diadakan di tempat khusus yang dihadiri oleh orang dan batas umur tertentu saja. Maka di tempat kelahiranku,  tarian dangdut erotis bisa disaksikan oleh segala lapisan masyarakat, bahkan anak-anak.

Saya tidak hanya sedang bercerita tentang orang lain. Perkara itu juga berlaku dalam keluargaku sendiri. Di saat ada acara kenduri pernikahan, ada saja acara orkes tunggal lengkap dengan goyang ngebornya. Kenapa bukan pengajian saja, atau hiburan ringan dan menyantuni fakir miskin/anak yatim yang menderita kesusahan selama ini?.“Ini sudah menjadi budaya kewajiban baru,” begitu kata mereka.

Saya teringat Buya Hamka yang pernah mengatakan,  derajat “khaira ummah” atau umat terbaik bukanlah sesuatu yang gratis atau otomatis. Menurutnya, ia harus diikuti dengan dua syarat. Pertama, menyuruh kepada kebaikan, Kedua, mencegah dari kemungkaran. Sayangnya syarat yang kedua ini tidak dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, dan oleh organisasi ke-Islaman yang ada.

Adalah menjadi rahasia umum, dalam berbagai kasus yang saya ketahui, aparat bahkan bertindak sebagai pelindung dan penonton kemungkaran itu.

Semoga para korban mendapat maqam (tempat) yang mulia dan Syahid di sisi Allah SWT. Dan semoga bencana ini mampu  membuka mata dan telinga batin kita semua.

[kiriman Afriadi Sanusi. Penulis kelahiran Sumbar asli, Kini sedang melanjutkan program S3 bidang Islamic Political Science di Universiti Malaya Kuala Lumpur. Email: adirao76@gmail.com

foto: reuter pictures/dlf

Sumber : Hidayatullah.com

Geliat Islam di Selandia Baru

Agama Islam merupakan salah satu kelompok minoritas
yang terus berkembang di New Zealand.

Dibandingkan negara-negara lainnya yang ada di benua Australia, New Zealand (Selandia Baru) baru mendapatkan ajaran Islam setelah kedatangan para penambang emas dari Cina yang bekerja di pertambangan emas Otago, sekitar tahun 1870-an (abad ke-19).

Kemudian, disusul oleh kedatangan tiga keluarga Muslim asal Gujarat, India. Para Muslim pendatang ini kemudian membentuk organisasi Islam pertama di Selandia Baru bernama Asosiasi Muslim Selandia Baru (New Zealand Muslim Association/NZMA) di Auckland pada 1950.

Gelombang kedua imigran Muslim ke negara anggota Persemakmuran Britania (Commonwealth Realm) ini terjadi tahun 1951 saat kedatangan para perompak laut yang membawa lebih dari 60 Muslim dari Eropa Timur. Di dalam rombongan ini, ada Mazhar Krasniqi. Gencarnya perjuangan yang dilakukan Mazhar, membuat dirinya dipilih menjadi presiden NZMA selama dua periode.

Keberadaan pendatang Muslim (dari Gujarat, Cina, dan imigran Eropa) ini melakukan kerja sama dengan membeli sebuah rumah yang selanjutnya dijadikan Islamic Centre pada tahun 1959. Pada tahun berikutnya, datanglah seorang ulama Islam dari Gujarat yang bernama Maulana Said Musa Patel. Patel menjadi imam pertama di Selandia Baru.

Peran mahasiswa
Tak hanya oleh para imigran ini, keberadaan para mahasiswa dari Asia Selatan dan Asia Tenggara yang sedang menempuh pendidikan di Selandia Baru turut berperan dalam penyebaran agama Islam. Mereka membantu mendirikan tempat-tempat peribadatan dan pusat-pusat kegiatan Islam lainnya di berbagai tempat sampai era 1960-an. Hal itu terus berjalan meskipun populasi Muslim di Selandia Baru merupakan kaum minoritas di negeri itu.

Migrasi Muslim dalam skala besar terjadi pada era 1970-an yang ditandai dengan migrasi para pekerja Fiji-India. Arus migrasi semakin deras seiring dengan kekacauan yang terjadi di Fiji pada tahun 1987. Ada juga sejumlah kecil komunitas Muslim yang berasal dari Turki, sebagian wilayah Pakistan, India, dan Bangladesh serta Asia Tenggara.

Para imigran ini terkonsentrasi di kota-kota besar, seperti Auckland, Hamilton, Wellington, dan Christchurch. Beberapa tahun belakangan ini, arus masuk para pelajar asing dari Malaysia dan Singapura turut meningkatkan jumlah kaum Muslim di negeri itu.

Walaupun dalam jumlah yang kecil, populasi Muslim di Selandia Baru juga turut dipengaruhi oleh perpindahan agama kaum Kiwi (sebutan internasional untuk penduduk asli Selandia Baru–Red). Ada juga pergerakan Muslim Maori yang dinamakan Aotearoa Maori Muslim Association (AMMA) yang berpusat di Provinsi Hawkes Bay.

Sensus penduduk pada tahun 2001 menunjukkan, terdapat 700 orang Maori dan tiga ribu orang Eropa yang terdaftar sebagai Muslim. Saat ini, terdapat sejumlah masjid di pusat-pusat kota Selandia Baru dan dua sekolah Islam, yaitu Al Madinah and Zayed College (khusus sekolah Muslimah).

Selandia Baru memiliki populasi sekitar 4 juta. Sekitar 80 persen dari populasinya adalah turunan Eropa. Suku Maori adalah grup etnik kedua terbesar (14,7 persen). Sementara itu, jumlah orang Asia yang bermukim di Selandia Baru mencapai 6,6 persen, melewati jumlah orang dari Kepulauan Pasifik (6,5 persen).

Kristen adalah agama dominan di Selandia Baru meskipun hampir 40 persen populasinya tidak memiliki agama. Menurut hasil sensus, agama minoritas lain adalah Hindu, Buddha, dan Islam. Diperkirakan, saat ini terdapat lebih dari 36 ribu Muslim di Selandia Baru walaupun harus diakui sangat sulit untuk mendapatkan angka yang akurat tentang jumlah Muslim di sana karena pemerintah setempat lebih mengutamakan kategori penduduk berdasarkan etnisitas daripada agama. Muslim Selandia Baru berasal dari 42 negara berbeda yang hidup membaur secara harmonis bersama komunitas lainnya di negeri itu.

Untuk mewadahi kepentingan para Muslim yang tersebar di berbagai kota di Selandia Baru, Mazhar Krasniqi kemudian menggabungkan tiga organisasi Islam di Canterbury, Wellington, dan Auckland ke dalam satu wadah organisasi Islam berskala nasional yang kemudian diberi nama Federation of Islamic Associations of New Zealand (FIANZ) pada April 1979. Atas upayanya ini, Krasniqi memperoleh penghargaan Queens Service Medal dari Pemerintah Selandia Baru pada tahun 2002.

Pekan Pemahaman Islam
Kaum Muslim di Selandia Baru kini mulai menyadari pentingnya mempromosikan ide tentang keanekaragaman di negara barat daya Pasifik tersebut. Melalui kegiataan bertajuk Pekan Pemahaman Islam, mereka mencoba memberi pemahaman bahwa Islam adalah agama yang menghargai keberagaman. Juga, meluruskan kesalahpahaman terhadap keimanan yang dimiliki umat Islam.

Pasalnya, usai peristiwa September 2001 di Menara WTC Amerika Serikat (AS), stigma terhadap orang Islam semakin memburuk. Media-media Barat mengindentikkan Islam dengan terorisme. Padahal, Islam tidak seperti itu.

”Dengan adanya Pekan Pemahaman Islam, diharapkan stigma negatif terhadap Islam bisa dihapuskan,” kata Presiden Federation of Islamic Associations New Zealand (FIANZ), Anwarul Ghani, seperti dikutip NZPA, awal Agustus lalu.

Kegiatan yang sudah berjalan enam tahun terakhir ini memang dimaksudkan agar publik Selandia Baru makin memahami keyakinan Islam yang luhur dan bebas dari stigma terorisme. Melalui kegiatan ini, diharapkan penduduk Selandia Baru bisa belajar dan menghargai kepercayaan, nilai, dan praktik ibadah Muslim di sekitar mereka.

Pada tahun lalu, kegiatan ini mengusung tema  Persatuan dalam Keberagaman . Sementara itu, tema pada tahun ini adalah Al-Mizan yang berarti keseimbangan hidup. ”Islam mengajarkan keseimbangan dalam segala aspek kehidupan, baik dari segi ekonomi, lingkungan, politik, etnis, keluarga, maupun gender,” tutur Ghani.

Pekan Pemahaman Islam menyuguhkan sejumlah kegiatan, mulai dari pemutaran film,  talkshow, pameran hasil kesenian dan kerajinan Muslim, pameran makanan Islami, hingga pembagian bahan-bahan bacaan secara cuma-cuma. Hampir seluruh masjid dan Islamic Centre yang tersebar di Selandia Baru akan menggelar acara itu. Selama ajang ini berlangsung, masjid-masjid di seluruh kota di Selandia Baru akan membuka pintunya sepanjang hari untuk dikunjungi non-Muslim yang mau belajar tentang agama Islam.

Kehidupan antarumat beragama di Selandia Baru amat damai dan hampir tidak ada konflik. Tidak seperti kaum minoritas Muslim di Eropa yang kerap menghadapi diskriminasi, isu tersebut relatif tak ditemukan di Selandia Baru. Umat Muslim di Selandia Baru mendapatkan hak yang sama. Di bidang ekonomi, sosial, dan politik, tidak ada yang membedakan umat Muslim dengan agama lainnya. (berbagai sumber/Republika)

Duduk bersama dalam menyelesaikan masalah Indonesia-Malaysia jauh lebih utama dibanding dengan cara jalanan

Oleh: Afriadi Sanusi

Alkisah, seorang raja terkejut menemukan isterinya tidur setilam dengan seorang budak hambasahaya miliknya pada suatu malam. Sebagai seorang raja yang memiliki kuasa penuh waktu itu dia bisa saja membunuh isteri dan budaknya hanya dengan sekalihunusan pedang. Dia tidak jadi menjatuhkan hukuman itu sebelum adanyapengadilan sah yang mendengar pengakuan kedua belah pihak. Karena ketika itu dalam hatinya dia mendengar ayat “”Yaayyuhalladzina aamanu in jaa’akum faa siqun binaba’in fatabayyanuu an tushibuqauman bijahaalatin fatush bihuu ala maa fa’altum naa dimiin.” (Haiorang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasiq (satu kaum)membawa berita, maka hendaklah kamu selidiki, jangan sampai kamu membalas kepada suatu kaum dengan kebodohan, maka kamu kelak akan merasa menyesal). [QS:Alhujuraat:6].

Ayat ini adalah penegasan wajibnya kaum Muslim melakukan koreksi kebenaran setiap mendapat/menerima berita yang kita terima.

Singkat cerita,setelah dibangunkan, sang raja menggunakan kuasanya dengan mengatakan, “kenapakalian melakukan semua ini!…” Sang isteri mengatakan kepada suaminya, “Sayakira orang yang tidur diatas tilam tadi adalah kakanda, karena menyangka kandatidak jadi pergi berburu ke hutan,. Si hamba sahaya juga menjawab, “Tadi sore di saat saya membersihkan kamar tuan, teringin sekali rasanya saya menyentuh tilam yang empuk ini, setelah ku sentuh aku pun ingin mencoba bagaimana rasanyaberada di atas tilam ini. Aku pun tertidur karena terlalu capek dan karena merasa betapa enaknya berada diatas tilam tuan yang empuk ini.”

Dengan berkat hidayah dari Allah SWT. Ayat Al-Quran diatas telah menyelamatkan anak manusiadari melakukan kesalahan yang fatal. Sang raja tidak jadi membunuh dua insanyang sebenarnya tidak berdosa dan dua insan yang secara logis harus mati di tangan penguasa tidak jadi mati. Dalam Islam fitnah dikatakan lebih kejam dari pembunuhan,ini karena fitnah bisa menyebabkan berlakunya permusuhan, dendam, perang dan berbagai kehancuran lainnya karena boleh membunuh ratusan bahkan ribuan nyawayang tidak berdosa.

Dalam falsafahkita di ajarkan “berikan 25% kepercayaanmu terhadap apa yang kamu dengar,berikan 50% kepercayaanmu terhadap apa yang kamu lihat dan percayalah setelahdiselidiki atau dikaji.”


Indonesia-Malaysia Pra Nasionalisme

Sebelum lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 dan Negara Malaysia pada 31 Agustus 1957, Asia Tenggara memiliki hubungan sejarah yang sangat rapatdan panjang. Kerajaan Iskandar Muda pada tahun 1607 hingga tahun 1936 kekuasaannya meliputi Deli, Johor, Bintan, Pahang, Kedah, Melaka. Kerajaan Melayu Riau Lingga kekuasaannya meliputi Riau, Johor dan Pahang pada abad ke19. Terdapat ikatan kekeluargaan yang kuat antara masyarakat dan keluarga diRaja Riau, Bugis, Betawi, Johor, Rao, Pahang, Selangor, Jambi, Minangkabau,Negeri Sembilan, Jawa dan sebagainya

Penghijrahan dalam kawasan Asia Tenggara ketika itu adalah perkara biasa, tiada batassempadan negara. Terdapat kesamaan dari segi alam, ekonomi, politik, sejarah masa lalu, bentuk tubuh, warna kulit, budaya, bahasa dan agama. Belum ada mengenal sistem pasport, visa dan fiskal ketika itu. Asia Tenggara pula pernah menjadi sebuah kesatuan ketika air laut turun.

Banyak orang-orang Melayu Malaysia sekarang ini nenek moyangnya berasal dari Riau, Bugis, Betawi, Johor, Rao, Jambi, Minangkabau, Negeri Sembilan, Jawa dan sebagainya.Mereka masih menggunakan bahasa daerahnya dalam kalangan keluarga dan masih mengamalkan adat budaya suku kaumnya. Diantara mereka banyak yang menjadi orang penting seperti menjadi Perdana Menteri, Menteri, Profesor dan sebagainya.Tetapi mereka bukan berasal dari Indonesia, karena Indonesia baru saja lahir 63tahun yang lalu yaitu pada 17 Agustus 1945.

Orang Melayu Rao(Rawa) Malaysia, misalnya, banyak terdapat di negara bagian Perak, Kedah, Pulau Pinang, Kuala Lumpur, Selangor, Kelantan, Pahang Malaysia. Begitu juga dengan orang Minangkabau, Riau, Jambi, Kerinci, Mandailing dan sebagainya yang mendominasi tempat-tempat tertentu di Malaysia. Mereka masih mempertahankanadat, budaya dan bahasa suku kaumnya. Mereka melakukan hubungan kekeluargaan yang erat. Saling mengunjungi antara keluarga di Indonesia-Malaysia. Ini karenahubungan persaudaraan dan darah yang telah terjalin ribuan tahun lalu tidakakan bisa dipisahkan oleh perbedaan batas teritory negara, politik dan rasa nasionalisme sempit yang baru lahir beberapa puluh tahun ini saja.

Ulama memberikanperanan yang kuat dalam menjalin hubungan kekeluargaan dan persaudaraan yang didasarkan pada kalimat tauhid ketika itu. Sampai sekarang masih diabadikan dalam buku-buku sejarah tentang peranan ulama melayu, Riau, Bugis, Betawi,Johor, Rao, Pahang, Selangor, Jambi, Minangkabau, Negeri Sembilan dalambuku-buku sejarah dalam menyebarkan ajaran Islam di Kepulauan Melayu ini. Para ulama menyatukan umat dengan ajaran Islam, melalui murid dan melalui jalinan perkawinan yang memiliki ramai keturunan dan ahli keluarga. Hubungan kekeluargaan yang kuat didasari pada hubungan darah, persemendaan, hubungansuku kaum, dan adat budaya. Sebagai tokoh, mereka memiliki pengaruh yang tiadaterhingga hingga saat ini.

Peran Berita Media

Meminjam istilah Dr P. Ramlee, aktor film, sutradara, penyanyi, dan sastrawan yang dikenal di Malaysia dan memiliki ikatan keluarga Aceh, “Sedangkan lidah lagi tergigit apalagihubungan suami isteri.” Menurutnya, semakin dekat hubungan kita dengan sesuatu,maka semakin sering terjadi perselisihan dan perbedaan pendapat.

Hari-hari inimedia –khususnya di Indonesia—disibukkan dengan pemberitakan yang beraromapermusuhan dan bisa saja meledakkan hubungan antara Indonesia dan Malaysia.

Banyak konflikberlaku setelah terbentuknya dan lahirnya kedua negara yang disebabkan olehperbedaan politik, kepentingan dan kekuasaan yang dipanaskan oleh media massa.Konflik ini secara umumnya hanya menguntungkan penguasa dan jelas dirakan merugikanrakyat. Hubungan darah, persaudaraan dan seagama tidak seharusnya di keruhkan dengan kepentingan politik dan kekuasaan. Media memainkan peranan yang kuat dalam memperkeruh hubungan kedua-dua negara. Banyak dari berita yang disiarkanoleh media selama ini lebih bersifat provokatif.

Dalam banyak hal, pemberitaan di Indonesia sering tak berimbang di banding kenyataan yangada.  Berita penyiksaan pembantu rumah tangga dan pelecehan terhadap TKW, umumnya dilakukan oleh majikan mereka yang bukan Islam. Sebaliknya, banyak juga TKW yang bernasib baik sampai di hajikan majikannya di Malaysia. Namun berita seperti ini jelas tak menarik dibanding satu-dua kasus penyiksaan. Memang sebaiknya pemerintah kita menyediakan lapangan pekerjaan yang mencukupi guna menghalangi tenaga Indonesia dengan SDM rendah keluar negara. Dalam beberapa kasus, banyak kejahatan manipulasi TKI/TKW justrudilakukan saudara-saudara kita sendiri asal Indonesia. Misalnya manipulasi umurTKW agar bisa berangkat ke Malaysia.

Berita tentang kebudayaan Indonesia yang dikabarkan telah diklaim Malaysia, seharusnya menjadiperingatan pada kita sendiri.  Sebab ini,lebih karena kelemahan pemerintah RI sendiri dalam mendata dan menghargaibudaya local kita.

Sama halnya dengan masalah sengketa perbatasan. Karena tidak adanya data dan karenalemahnya pemerintah dalam menjaga pulau-pulaunya, menyebabkan puluhan tahunlamanya pulau-pulau itu tak terurus dan dibiarkan begitu saja tanpa pembangunanseperti yang dilakukan oleh negara lain.

Memang sebaiknya kasus ini membuat pemerintah lebih berhati-hati dan menjadikan pelajaranberharga. Seharusnya, pemerintah segera membuat peraturan tertulis dengan Malaysiaguna melindungi TKW kita, pula kita dan budaya kita. Kita tak bisa semena-mena marahatas banyak kasus yang ditimbulkan oleh TKW sementara pemerintah tidak memperbaikiekonomi yang menyebabkan banyak pekerja non-profesional menyebrang ke Negara lain.

Kedutaan juga harusmemainkan diplomasinya secara optimal dengan meningkatkan kemampuan intelijen guna meredam upaya adu domba kedua negara seperti kasus lagu Indonesia Raya yangsempat diramaikan.

Penulis melihatada pihak-pihak tertentu menangguk di air keruh dengan memanfatkan konflikMalaysia-Indonesia untuk mencari keuntungan secara politik, kekuasaan ataupunmateri.

Pemerintah juga harus bersikap tegas, mengadili media yang sering menyebarkan berita panas danprovokatif  yang mengganggu kenyamanan dan ketentraman hubungan kedua negara.

Penulis akui apayang dilakukan oleh Malaysia terhadap Indonesia terkadang memang sesuatukesalahan dan kelewat batas. Akan tetapi sesuatu yang mengherankan adalah di saat satu persatu pulau-pulau kecil Indonesia tenggelam karena pasirnya di angkut secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan ke Singapura oleh para mafia, hanyasedikit media dan pejabat kita menjadikan ini sebagai perhatian berharga.

Duduk Bersama

Kesimpulannya, kasus seperti ini jelas tak bisa diselesaikan dengan cara jalanan. Kedua Negara,harus duduk bersama, saling menghormati, saling berjumpa dan berdiskusi terhadapmasa depan keduanya.

Pemerintah keduanegara tidak seharusnya melibatkan rakyat untuk memikirkan apa yang menjaditugas dan kewajiban mereka. Membicarakan nasib dan kepentingan masing-masing jauh lebih baikdan sangat penting daripada hanya menanggapinya provokasi melalui media massa yang hanya akan memperkeruh suasana.

Indonesia sangat memerlukan Malaysia dan Malaysia juga sangat memerlukan Indonesia, adalah dua perkara yang tidak bisa dinafikan. Puluhan ribu TKI Indonesia ada di Malaysia, ribuan pelajar dan mahasiswa juga ada di Malaysia. Sama halnya warga Malaysia di Indonesia. Saling memerlukan ini akan menjadi sebuah energi positif dan saling menguntungkan kalau saja berlaku kerjasama pemimpin dan masyarakat keduanegara.

Selebihnya, media massa, seharusnya berada di garda depan pembangunan masyarakat dan menciptakan iklim saling menguntungkan kedua Negara. Berita fitnah atau berbau adu-domba, bukanlah solusi bagi permasalahan sesungguhnya. Tindakan itu juga adalah sebuah implementasi rasa nasionalisme yang salah sebab hanya akanmerugikan dan menghancurkan hubungan kedua Negara. Seolah-olah dengan perang semuanya bisa selesai.

Islam sangat membenci fitnah. Bahkan mendudukannya jauh lebih kejam daripada pembunuhan.Sebab akibat dari fitnah bisa menimbulkan perpecahan, permusuhan, kebencian, dendam, perang yang bisa membunuh ratusan bahkan ribuan nyawa yang tidakberdosa lainnya.

Dengan kemampuan dan efek yang sangat luar biasa, media massa memang berpeluang melahirkan fitnahdan saling bermusuhan. Sebaliknya, tak semua fakta yang disajikan, bisa melahirkan maslahat apalagi harus disampaikan. Sebab ada fakta yang berdampak positif dan ada pula fakta yang justru bisa berimplikasi negative bagi jutaan orang. Tergantung bagaimana melihatnya. Di sinilah diperlulan wisdom bagi parapengelola media massa.

Sejarah banyakmencatatkan berbagai perpecahan, permusuhan, peperangan yang akhirnya berbunuh-bunuhan mulai dari antara dua orang sahabat, suami istri sampai ketingkat negara yang disebabkan oleh peranan media.  Semoga ini menjadi pelajaran berharga kita semua.

Penulis berasal dari Sumatera Indonesia, sekretaris Muhammadiyah Malaysia dan mahasiswa S3 bidang Politik Islam di UniversitiMalaya Kuala Lumpur

Sumber : Hidayatullah

Sungguh merupakan kebahagiaan seorang muslim jika ia meninggal dunia dalam keadaan husnul khotimah ( akhir hayat yang baik ). Dan hal ini yang selalu didambakan oleh seorang muslim, baik yang taat maupun yang tidak taat sekalipun. Karena kesemuanya menginginkan nikmat yang tiada tara, yaitu Surga.

Penyebutan angka 18 bukanlah berarti sebagai pembatasan, karena kriteria dan tanda-tanda husnul khotimah itu lebih dari 18 tanda. Sebagaimana yang dikatakan al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani,  “Dan telah terkumpul pada kami dari jalan-jalan yang baik lebih dari 20 kriteria (husnul khotimah, khususnya mati syahid,).”

Sesungguhnya Pembuat Syari’at Yang Maha Bijaksana telah memberikan tanda-tanda yang jelas sekaligus menunjukan kepada husnul khotimah ( akhir kehidupan yang baik ) mudah-mudahan Alloh menetapkannya  bagi kita dengan karunia-Nya, maka siapa saja yang meninggal dengan salah dari satu tanda-tanda tersebut, maka baginyalah berita yang menggembirakan. Di antara tanda-tanda yang menggembirakan itu adalah sebagai berikut :

1.    Mengucapkan Syahadat Ketika Hendak Meninggal.
2.    Meninggal Dengan Mengeluarkan Keringat di Dahi.
3.    Meninggal Dunia Malam Jum’at atau Pada Siang Harinya.
4.    Syahid Di Medan Perang.

5.    Meninggal Dunia Dalam Keadaan Perang Di Jalan Alloh.

6.    Meninggal Dunia Karena Penyakit Tho’un.
7.    Meninggal Karena Penyakit Perut.
8.    Meninggal Karena Tenggelam

9.    Meninggal Karena Tertimpa Reruntuhan

10.  Wanita Yang Meninggal Ketika Mengalami Masa NIfasnya Disebabkan (Melahirkan)
11.    Meninggal Karena Terbakar.
12.    Meninggal Karena Tumor di Rusuk.
13.    Meninggal Dunia Karena Penyakit TBC.
14.    Meninggal Dunia Karena Mempertahankan Harta yang hendak Dirampas.
15.    Meninggal Dunia Dalam Mempertahankan Agama.
16.    Meninggal Dunia Dalam Mempertahankan Jiwa.
17.    Meninggal Karena Berperang di Jalan Alloh.
18.    Meninggal Dalam Beramal Sholih.

Sumber : Syaikh Nasirudin Al-Albani, “18 Tanda Hunul Khotimah” Pustaka Ulil Abab

(Voa-Islam)

Selama 20 tahun lebih, tak ada yang bisa mengalahkan kekayaan Pangeran Al Walid bin Talal bin Abdulazis Alsaud di Timur Tengah. Ia adalah orang terkaya nomor satu di tanah Arab, dan menduduki peringkat ke-13 di seluruh dunia—menurut Forbes. Seberapa kayakah Al Walid?

Tak ada yang bisa memprediksikan dengan tepat, berapa banyak kekayaan Al Walid. Termasuk mungkin Al Walid sendiri. Orang hanya mengira-ngira jumlah antara $15 sampai $30 trilyun! Tidak usah memikirkan seberapa banyak, karena jumlah ini sungguh tak terhingga banyaknya.

Kekayaan A Walid tersebar dalam lima bidang: stok perdagangan publik, perusahaan-perusahaan besar yang dimiliki Al Walid, real estate, asset kekayaan, dan kekayaan yang bersifat tunai dan tersebar di berbagai bank di seluruh dunia.

Jika dikalkulasikan, maka perusahaan Al Walid menyumbang $7,88 trilyun, dan menjadikannya sebagai pemilik perusahaan terbesar di Arab Saudi dan Timur Tengah. Perusahaannya meliputi bidang teknologi informasi, kesehatan, entertainmen dan turisme. Cittigroup, Apple dan News Corporation adalah tiga nama besar yang dimiliki Al Walid.

Dari perusahaan-perusahaan kecilnya, Al Walid mendapatkan “recehan” sekitar $1.611 trilyun. Perusahaannya yang terkenal di sektor ini adalah Rotana, yang bergerak di bidang hiburan di Timur Tengah. 85% industri musik dan 45% industri film di bawah label Rotana.

Sedangkan dari departemen Real Estate, Al Walid mengantongi $3,196 trilyun. Al Walid saat ini memiliki Kingdom Resort. Namun ia tengah membangun Kingdom Oasis yang diperkirakan jauh lebih mewah daripada Kingdom Resort. Biaya pembangunannya saja mencapai lebih dari $4 juta dan akan siap diluncurkan akhir 2009. Di Kingdom Oasis akan ada danau dan kebun binatang pribadi.

Ia mempunyai kapal pesiar sangat mewah, pesawat Boeing 747 pribadi, dan pesawat jet Aibus A380, yang merupakan pesawat paling mewah dan paling besar di seluruh dunia. Ia memiliki 300 mobil dan salah satunya konon adalah Mercedes SL600 yang setara dengan $4,8 juta.

Pangeran Al-Waleed bin Talal bin Abdul Aziz Al lahir pada Maret 1955 dan merupakan anggota kerajaan Saudi. Ia adalah cucu dari perdana menteri Lebanon yang pertama. Saat ini ia mempunyai tiga orang istri.

Pangeran Al Walid tinggal di sebuah “rumah” yang seharga $100 juta, mempunyai 317 ruangan, berkarpet sutra, 250 unit televisi, dan pelayan yang siap menyuguhkan makanan untuk 2000 orang dalam satu jam. Di rumah itu juga terdapat kolam renang yang menyerupai danau dan sebuah bioskop bawah tanah. (sa/berbagaisumber/Eramuslim)

Dewan Da’wah Islam Indonesia Cabang Depok anggap Pimpinan HKBP  melecehkan warga Muslim Depok

Gugatan Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Pangkalan Jati, Kelurahan Cinere, Kecamatan Limo, Kota Depok kepada Walikota Depok, Nurmahmudi Ismail ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Bandung rupanya membuahkan reaksi kalangan Muslim. Dewan Da’wah Islam Indonesia (DDII) Cabang Depok melakukan protes terhadap sikap HKBP.

Sebagaimana diketahui, belum lama ini, HKBP telah melayangkan surat protes dengan cara menggugat Walikota Depok Nurmahmudi Ismail atas kasus  pencabutan surat izin mendirikan bangunan (IMB) gereja dan gedung serbaguna tersebut.

Sebelumnya, kasus pencabutan IMB Gereja Gereja HKBP  oleh Walikota Depok, mendapat penentangan keras dari Pimpinan Tertinggi HKBP,  Bonar Napitupulu (lihat Jurnal Indonesia dan Monitor Depok, 18 Mei 2008).

Dalam sebuah Koran Jurnal Depok, edisi 18 Mei 2009,  pihak HKBP merasa keberatan atas pencabutan yang dinilai sepihak itu.
Pihak HKBP tetap menyatakan keberatan atas tindakan Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail mencabut IMB HKBP Cinere.  Sebab, menurut Bonar, pembangunan gereja tersebut sudah memenuhi peraturan yang ada.

Menurut Bonar, setiap agama harus memiliki kebebasan. “Dalam beragama memang harus ada toleransi, tetapi tidak harus minta izin terlebih dahulu ketika akan beribadah karena itu merupakan hak asasi.

Namun sikap Pimpinan Tertinggi HKBP Bonar Napitupulu ini disambut reaksi keras Dewan Da’wah Islamiyah Depok. Dalam pernyataan pers yang dikirim ke redaksi http://www.hidayatullah.com DDII menyesalkan sikap Bonar tersebut.

“Bonar mestinya mempertimbangkan keberatan warga Muslim Cinere yang merupakan mayoritas penduduk Muslim di situ dan juga keberatan tokoh-tokoh Islam di sekitar Cinere dan Depok,” ujar Ketua DDII Depok Nuim Hidayat.

Berdasarkan penelusuran DDII, sebagaimana diungkapkan Nuim, Gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan), yang akan didirikan di Cinere Depok, ternyata sudah lama mendapat penolakan warga Muslim setempat.

Mereka merasa bahwa hanya sedikit penduduk Krsten di situ dan juga telah ada gereja tidak jauh dari wilayah itu. Maka ketika tahun 1998, keluar IMB dari Bupati Bogor, warga Muslim setempat menolak lebih keras.

“Karena penolakan warga Muslim sekitar Kampung Cinere itu berlarut-larut, maka pada tahun 2000 Walikota Depok Badrul Kamal, menghentikan pembangunan gereja HKBP Cinere itu,” kata Ustadz H Saifudin, Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama Depok kepada DDII Kota Depok.

Melihat aspirasi masyarakat Islam Cinere dan Depok, maka DDII melihat suatu hal yang wajar bila kemudian Walikota mencabut IMB pembangunan gereja yang menimbulkan keresahan masyarakat Muslim Depok.

DDII berharap Bonar dan pihak gereja HKBP menarik segera gugatannya ke pengadilan dalam masalah pencabutan IMB Gereja HKBP Cinere ini.  “Bonar seharusnya melihat dengan hati terbuka bagaimana toleransi warga Muslim Depok saat ini kepada umat Kristen khususnya warga HKBP, bukan makin memperkeruh suasana dalam masalah ini,” tambah Nuim. [cha/www.hidayatullah.com]

Laman Berikutnya »