Oleh Adi Junjunan Mustafa

Sahabat sekalian yang tengah berpuasa Ramadhan,

Mari kita terus kuatkan jiwa untuk menekuni segenap peribadahan di bulan Ramadhan ini demi menggapai ketaqwaan kepada Allah swt. Mari kita terus bersemangat dan bersegera meraih magfirah dari Allah swt dan sorga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa kepada Allah swt (QS Ali Imran:133).

Dan diantara yang senantiasa mesti kita perkuat dalam hati adalah keimanan kepada sorga yang Allah janjikan. Adapun kuatnya keimanan ini berbanding lurus dengan ma’rifah (pengenalan) kepada sorga itu sendiri.

Ibnu Mas’ud r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Saya mengetahui akhir ahli neraka keluar dari neraka, dan akhir ahli sorga masuk sorga. Yaitu seorang yang keluar dari neraka dengan merangkak-rangkak, maka Allah berfirman kepadanya: Pergilah masuk sorga! Maka pergilah orang itu. Tiba-tiba terbayang padanya seolah-olah (sorga) sudah penuh, maka ia berkata: Ya Tuhan saya mendapatkannya sudah penuh. Allah berfirman: Pergilah masuk sorga! Maka ia kembali pergi dan didapatkannya seolah-olah sudah penuh. Ia pun kembali berkata: Ya Tuhan, ia sudah penuh. Maka Allah berfirman: Pergilah masuk sorga, bagimu di sorga sepuluh kali besarnya dunia. Maka berkata orang itu: Apakah Kau menertawakan (mengejek) saya, Tuhan, padahal Engkau raja? Berkata Ibnu Mas’ud: Maka saya melihat Rasulullah saw. tertawa hingga tampak giginya, sambil berkata: Demikianlah serendah-rendah ahli sorga tingkatnya. (HR Bukhari-Muslim).

Subhanallah. Sedemikian besar balasan sorga yang Allah telah siapkan bagi hamba-hambaNya. Maka alangkah meruginya kalau balasan yang agung itu ditukar dengan dunia yang amat kecil ini.

Sahabat sekalian, pernahkah kita merenungi sungguh-sungguh seluas apakah sorga itu? Sorga itu seluas langit dan bumi, sebagaimana difirmankan Allah swt pada Alquran surat Ali Imran:133.

Mari kita simak sebuah hadits yang memberi gambaran kuantitatif tentang keadaan sorga ini.

Abu Sa’id Alkhudry r.a. berkata: Berkata Rasulullah saw.: Di sorga ada pohon, kalau seorang berkendaraan kuda yang paling cepat lalu kuda itu berlari di bawahnya selama seratus tahu, tidak akan habis (putus) naungannya. (HR Bukhari-Muslim).

Maka seluas apakah kiranya naungan satu pohon sorga itu? Kalau kita misalkan kuda tercepat berlari dengan kecepatan 70 km/jam, maka naungan pohon itu lebih besar daripada 100 tahun x 364 hari x 24 jam x 70 km/jam atau 61.152.000 km, enam puluh satu juta seratus lima puluh dua ribu kilometer!

Untuk membandingkan jarak itu dengan jarak tempuh di bumi, mari kita hitung keliling bumi yang berjari-jari sekitar 6.378 km. Maka keliling bumi didapat dari perkalian 2 x 3.14 x 6.378 km atau sekitar 40.053,84 km. Jika kita bagikan 61.152.000 km dengan 40.053,84 km, maka akan diperoleh angka 1.526,75.

Subhanallah. Artinya naungan pohon di sorga itu lebih panjang daripada 1526 kali keliling bumi!

Sahabat sekalian, hitung-hitungan ini hanya untuk mengokohkan keyakinan akan luasnya balasan sorga yang dijanjikan Allah swt. Dan hitungan ini hanyalah untuk sebuah pohon sorga saja. Wallahu a’lamu bish shawwab.

Sahl bin Sa’ad r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya orang sorga melihat orang yang di atas tingkat mereka, bagaikan melihat bintang di langit. (HR. Bukhari-Muslim)

Semoga kita termasuk diantara yang akan dimasukkan Allah swt ke dalam sorga yang penuh kenikmatan di dalamnya. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

Cibinong, 8 Ramadhan 1429 H,
Adi Junjunan Mustafa.

Catatan:
Hadits-hadits di atas dikutip dari Tarjamah Riyadush Shalihin, tulisan Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf Annawawy, Pasal Persediaan dari Allah bagi Kaum Mu’minin di Sorga, dengan perterjemah H. Salim Bahreisy, 1987, penerbit PT Alma’arif, Bandung. Di dalam pasal ini masih banyak hadits-hadits lain yang memberikan gambaran sorga.

(http://adijm.multiply.com/journal/item/315/Betapa_Luasnya_Sorga)

Oleh Adi Junjunan Mustafa

Allah swt menyatakan bahwa Dia akan mengangkat beberapa derajat kedudukan sebagian orang-orang beriman dan orang-orang yang menggali ilmu (QS. Al Mujadilah:11). Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Di balik kewajiban ini ada jaminan pahala dan kedudukan mulia bagi mereka yang menjalankannya. Bagaimana tidak, dengan ilmulah umat manusia akan dapat memecahkan berbagai masalah kehidupan. Dengan ilmu pula manusia akan memperoleh kesejahteraan dalam hidupnya [1]. Maka amat mulialah mereka yang terus-menerus gigih menggali ilmu untuk kemashalahatan umat manusia.

Diantara profil pembelajar yang luar biasa adalah Imam Syafi’i [2]. Beliau adalah salah satu dari empat imam dalam mahdzab fiqih Islam, yang pemikirannya hingga saat ini menjadi ilmu yang terus bermanfaat bagi umat Islam dan umat manusia pada umumnya.

Imam Syafi’i terlahir dalam keadaan yatim pada tahun 150H. Kehidupan beliau di masa kecil relatif sulit. Akan tetapi beliau sudah hafal Qur’an pada usia 9 tahun. Imam Syafi’i pun tetap gigih belajar ilmu tafsir dan ilmu hadits kepada para imam/ulama di Makkah, seperti Imam Sufyan bin Unayyah dan Imam Muslim bin Khalid al-Zinji [3]. Untuk mencatat ilmu yang dipelajarinya, beliau sering memungut kertas-kertas bekas di kantor pemerintahan kala itu. Pada akhirnya catatan-catatan ini pun tidak lagi beliau perlukan, sebab dengan kebulatan tekadnya beliau berhasil menghafal semua ilmu yang beliau pelajari.

Pada usia 15 tahun Imam Syafi’i sudah memiliki ilmu yang amat mendalam, hingga sudah memperoleh ijazah untuk memberikan fatwa bersama para imam di Masjidil Haram. Beliau ditawari menjadi mufti di Makkah, tetapi menolak. Bahkan beliau sampaikan kepada para gurunya untuk mengijinkan beliau belajar ke Madinah, untuk berguru kepada Imam Malik yang amat termashur. Para guru dan juga Walikota Makkah pun merestui keinginan Imam Syafi’i. Imam Syafi’i memang memiliki obsesi untuk menjadi murid penulis kitab Al-Muwaththa yang amat terkenal. Bahkan sebelum beliau berangkat ke Madinah, dengan meminjam kepada sahabatnya, beliau telah berhasil menghafalkan al-Muwaththa di luar kepala [4]. >> Selengkapnya…

Oleh Adi Junjunan Mustafa

Kalau kita perhatikan dengan seksama, akan kita dapati bahwa tayangan-tayangan televisi kita banyak merampas anak-anak dari dunianya. Anak-anak sangat sedikit mendapatkan tayangan yang pas dan cocok dengan perkembangan kejiwaan mereka. Yang lebih memprihatinkan, dalam beberapa “acara anak” mereka justru tidak lagi menjadi anak-anak. Mereka dipaksa menjadi “orang dewasa”. Contoh hal yang terakhir disebutkan ini adalah pada acara “Idola Cilik” atau yang lebih kentara pada acara “Mama Mia”.

Pada dua acara di atas, anak-anak seringkali dipaksakan bergaya seperti orang dewasa, mulai dari berpakaian hingga make-up yang mereka pakai. Kemudian mereka pun seringkali menyanyikan lagu-lagu orang dewasa. Sebagai orang tua, apa kesan kita melihat anak-anak membawakan syair lagu seperti ini: O o kamu ketahuan, pacaran lagi, dengan si dia, teman baikku …? Kalau kita berpikir jernih, tentu kita merasa miris mendengar ini. Tapi, saksikanlah bagaimana para penonton acara live itu, termasuk juga para orang tua anak-anak yang sedang tampil; Mereka tertawa-tawa dan bersorak-sorai melihat dan mendengar anak-anak itu beraksi.

Pada acara “Mama Mia” eksploitasi anak-anak usia antara 12-15 tahunan juga terjadi. Acara tersuguh dengan mempermainkan kondisi kejiwaan remaja yang senang menjadi populer, senang meraih prestasi, dan bisa jadi -karena berbagai faktor pemicu- senang mendapatkan uang dalam jumlah besar. Pakaian yang dikenakan para kontestan dan lagi-lagi lagu-lagu yang dibawakan, banyak menyimpang dari nilai-nilai luhur yang mestinya dipupuk pada jiwa remaja.

Efek dari tayangan-tayangan di atas di masyarakat sungguh dahsyat. Acara-acara itu ditayangkan dalam alokasi waktu yang panjang. Waktunya pun pada jam-jam yang strategis (prime-time). Maka wajar kalau tontonan berjam-jam itu menyita perhatian banyak keluarga. Di dalamnya dikemas setting sedemikian rupa, sehingga para pemirsa turut hanyut dengan “perjuangan” para kontestan. Misalnya diperlihatkan bahwa para kontestan ini mesti berlatih keras, hingga mereka bisa mencapai “prestasi” dan tampil memukau.

Ketika menyaksikan acara-acara di atas, para penonton sudah sulit memfilter, bahwa yang sedang di”perjualbeli”kan pada tayangan itu adalah anak-anak dan remaja, yang semestinya dipelihara kepribadiannya untuk memiliki sifat-sifat mulia. Yang terjadi adalah putaran roda bisnis entertainment yang mewarnai atau menguasai obsesi orang tua dan anak-anak untuk memperoleh sukses di dunia pentas dan hiburan.

Acara seperti di atas meraih rating tinggi di dunia pertelevisian. Rating yang tinggi ini tentu memiliki nilai jual tinggi untuk mengundang iklan. Belum lagi acara seperti ini seringkali berkolaborasi dengan bisnis telekomunikasi lewat kiriman SMS. Tidak heran acara-acara serupa terus diproduksi. Dan sesuatu yang sering melintas dalam benak dan pikiran akhirnya menjadi obsesi dan nilai yang dianggap baik dan benar di tengah masyarakat.

Tanpa menjelaskan secara panjang lebar, pada tayangan-tayangan sinetron pun banyak ditemukan eksploitasi anak-anak. Sangat sedikit

***

Menghadapi kecenderungan terampasnya dunia anak lewat tayangan televisi, ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan berbagai pihak:

1. Pihak Orang Tua
Orang tua mesti memberikan bimbingan kepada anak-anak pada saat mereka mulai tertarik dengan tayangan-tayangan yang tidak menguntungkan mereka. Kalau anak-anak punya bakat dan kecerdasan musikal, orang tua mesti bisa mengarahkan mereka. Akan tetapi ketika ada lagu-lagu yang belum layak mereka nyanyikan orang tua mesti memberikan pengertian yang benar kepada anak-anak.

Sementara itu, sedapat mungkin orang tua pun memberikan alternatif tontonan atau hal-hal lain yang bersifat menarik dan mendidik. Kalau memungkinkan, jadikan perhatian mereka pada membaca meningkat. Kalau anak-anak suka membaca, mereka tak akan menjadi orang-orang yang kecanduan menonton TV.

Kemudian menimbang fitrah anak yang sedang memiliki sifat suka dipuji dan ingin dikenal, maka orang tua dapat mengarahkan mereka pada prestasi-prestasi pada pelajaran, olah raga, seni dan lain-lain secara seimbang. Perkenalkan kepada anak-anak biografi orang-orang sukses yang banyak memberi manfaat kepada masyarakat dan dunia. Ini akan mengisi ruang kejiwaan mereka untuk mengukir prestasi pada kehidupan mereka kelak.

2. Pihak Pemerintah
Pemerintah, terutama yang mengurusi masalah pendididikan, informasi & komunikasi, agama, dan pemberdayaan perempuan, mesti memiliki sensitifitas tinggi dalam memfilter acara-acara yang mengeksploitasi anak-anak.

Pemerintah dapat mengeluarkan regulasi yang dapat melindungi anak-anak dari kerugian akibat tayangan TV tertentu atau malah mereka dilibatkan pada acara-acara yang merugikan.

3. Para Pendidik, Budayawan dan Seniman
Para pakar pendidikan dan budayawan mesti terus menyuarakan nilai-nilai luhur yang hendak dituju pada pendidikan anak dan remaja. Kritik yang sifatnya membangun tak boleh berhenti disampaikan mereka dalam menanggapi acara-acara yang ditujukan kepada dan melibatkan anak-anak.

Para seniman dan ilmuwan mesti bekerja keras menghadirkan acara-acara yang berorientasi pada kebaikan dan kecerdasan anak-anak. Contoh acara seperti acara iptek untuk anak, acara belajar menggambar, acara bina vokalia, mengenal permainan tradisional dan budaya anak-anak nusantara acara cerdas-cermat atau cepat-tepat dan lainnya patut untuk semakin banyak diproduksi. Begitu juga acara yang mengeksplorasi flora dan fauna, masalah lingkungan, ilmu pengetahuan populer dan lain-lain juga mesti banyak diproduksi.

4. Production House dan Pengelola TV
Para pengusaha dunia tayangan TV mesti memiliki visi yang jelas pada pangsa pasar anak-anak. Visi ini adalah visi mencerdaskan mereka. Ini mesti tercermin pada alokasi waktu khusus untuk tayangan anak-anak.

Seorang kawan saya yang lama tinggal di Amerika untuk studinya bercerita, bahwa di Amerika tayangan TV publik (non-TV kabel) untuk anak-anak itu jelas waktunya, yaitu sampai jam 6 sore. Anak-anaknya yang lahir di Amerika tahu bahwa sampai jam 6 itulah tayangan untuk mereka. Ini diperoleh melalui pendidikan di rumah dan di sekolah. Maka setelah anak-anaknya pulang ke tanah air, sudah menjadi refleks mereka untuk tidak menyetel TV setelah pukul 6 sore. Kalau pun seorang anaknya mengetahui ada tayangan sepak bola di malam hari, ia tidak akan menyetel TV kecuali setelah meminta ijin ayah atau ibunya.

Tentu saja untuk menghasilkan produksi tayangan TV yang berkualitas ini dibutuhkan kesadaran dan kreatifitas yang tinggi dari para pengusaha TV. Yang pasti mereka adalah juga orang tua dari anak-anak, yang tentu mereka ingin dorong meraih sukses dalam kehidupan. (adijm.muliply.com)

Oleh Adi Junjunan Mustafa

Filem Ayat-ayat Cinta (AAC) sudah membukukan suksesnya di pasaran. Tak kurang HNW (Hidayat Nur Wahid), SBY, JK dan para petinggi lain negeri ini ikut menyemarakan hadirnya filem cinta* bernuansa islami.

Saya sendiri termasuk yang menyambut senang hadirnya filem tersebut. Sambutan masyarakat Indonesia pada filem AAC menunjukkan bahwa pasar siap menyambut hangat gagasan-gagasan sineas dengan tawaran budaya islami. Ini bisa mengimbangi life-style kebarat-baratan yang lebih banyak diekspose lewat filem atau sinetron.

Di tengah sukses AAC ini, ada satu hal yang saya pikir mesti jadi pertimbangan penting buat para sineas dan budayawan muslim, yaitu agar para pemain filem atau sinetron bisa menampilkan kepribadian yang selaras pada saat main filem dan di luar filem. Terus terang buat saya AAC yang sukses itu menjadi semu dan bahkan palsu, saat kemudian melihat para pemeran Aisha, Maria dan yang lainnya tak berkerudung di keseharian.

Saya teringat tentang ucapan Rasulullah saw. saat ditanya para sahabat ketika beliau bercanda. Kata beliau, “… akan tetapi yang aku sampaikan adalah kebenaran.” Artinya dalam canda pun seorang muslim disunnahkan untuk tidak berbohong. Nah, sunnah ini mesti menjadi rujukan bagi para artis muslim dan muslimah. Semestinya mereka menjaga keselarasan kepribadian yang baik yang mereka tampilkan saat berakting dan dalam keseharian.

Hal yang sama saya pikir berlaku juga pada para produsen kerudung. Saat mereka memilih selebritis untuk pada iklan, sebaiknya diperhatikan betul kepribadian para selebritis itu. Saya perhatikan pada beberapa iklan kerudung Majalah Ummi, masih ada selebritis yang di keseharian tidak berkerudung tampil sebagai model. Saya berbaik sangka, barangkali ini adalah jalan dari para produsen kerudung untuk perlahan mengajak para modelnya akhirnya berbusana muslimah.

Ada beberapa permasalahan yang bisa ditampilkan memenuhi tuntutan peran dalam filem atau sinetron. Akan tetapi untuk masalah kerudung atau masalah menutup aurat, saya melihat mesti ada perlakuan yang berbeda. Menutup aurat bagi muslimah dan muslim bukanlah permasalahan sederhana. Ini adalah kewajiban penting, sebab terkait dengan jati diri pribadi dan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai agamanya.

WaLlaahu a’lamu bish shawwab.

Salam,
Adi J. Mustafa

* Saat berdiskusi dengan beberapa teman, ada yang bertanya di mana sih letak ayat-ayat cintanya? Tentu saja maksudnya adalah ayat-ayat Quran yang menjadi inspirasi cinta. Terus terang saya sendiri tidak menemukan kuatnya pesan ayat-ayat Quran ini dalam filem. Kalau membaca novelnya, buat saya ayat-ayat cinta itu justru terasa pada Maria saat membaca hafalan surat Maryam di trem. Atau bisa jadi, ayat-ayat itu tersirat pada semangat Fakhri belajar qira’ah sab’ah -sisi penting yang juga tak terasa dalam filem-. Lewat Syaikh yang mengajar qira’ah inilah Fakhri akhirnya bisa bertemu dengan Aisha.

Oleh Adi J. Mustafa

Beberapa quick count atau perhitungan cepat hasil pilkada gubernur dan wagub Jawa Barat menunjukkan kemenangan pasangan HADE (Ahmad Heriyawan-Dede Yusuf) di atas AMAN (Agum-Nu’man) dan DAI (Danny-Iwan). Angka capaian HADE pada kisaran 39-40%, sementara AMAN dan DAI masing-masing sekitar 35-36% dan 24-25%. Sebagian pengamat melihat kemenangan HADE sebagai kejutan. Sebagian bahkan menyebut sebagai ketiban durian runtuh. Apa sebenarnya rahasia di balik kemenangan HADE ini?*

Saya melihat paling tidak ada lima faktor kunci di balik keunggulan HADE: 1) rakyat yang ingin perubahan, 2) jaringan kader partai yang kuat dan dinamis, 3) faktor popularitas Dede Yusuf, 4) dukungan kaum muda dan 5) bertemunya PAN dan PKS.**

(1)

Kalau kita ngobrol dekat dengan masyarakat umum, mereka sungguh merindukan hadirnya pemimpin yang betul-betul memperhatikan mereka. Rakyat terus-menerus dirundung kesulitan hidup. Ketika keluhan dan rintihan mereka tak pernah sampai pada satu titik dimana mereka sudah “pasrah”. Maka momentum pilkada menjadi kesempatan para calon pemimpin untuk merasakan penderitaan rakyat. Mereka juga mengekspresikan janji untuk mengisi program pembangunan pro-rakyat.

Dari beberapa obrolan dengan masyarakat di sekitar perumahan saya dan juga teman-teman kerja, terungkap janji HADE tentang penyediaan 1 juta lapangan kerja sungguh mereka nantikan. Begitu juga janji untuk menggratiskan sekolah sampai tingkat SMA amat mereka tunggu-tunggu.

Pada masalah janji ini HADE punya comparative-advantage, sebab mereka adalah pendatang baru di ranah kepemimpinan publik. Rakyat tidak buta dan tidak tuli. Mereka mengetahui bahwa dua pasang kontestan lain sudah pernah punya kesempatan mempimpin dalam skala propinsi bahkan nasional. Sementara itu sampai saat ini kesulitan rakyat semakin menghimpit.

Saya terus penasaran, kenapa masyarakat umum yang berpenghasilan relatif rendah banyak memilih HADE. Ternyata kerja-kerja sosial yang dilakukan kader-kader PKS amat berkesan di hati mereka. Dalam bahasanya yang sederhana bibi yang membantu di rumah kami berkata, “Pan yang suka ngadain pasar murah, kesehatan gratis dari PKS … Orang-orang kampung mah butuh dan seneng kalau ada acara gituan, Pak!”

Jadi nampaknya pilihan kepada HADE dari masyarakat umum terkait dengan harapan mereka pada kepemimpinan baru.

(2)

Sementara itu jaringan kader yang kokoh saya lihat menjadi kekuatan besar yang dimiliki HADE. Yang saya amati langsung adalah teman-teman dari PKS. Mereka memiliki soliditas kerja hingga ke level ranting atau level desa. Bukan cuma itu, kegiatan-kegiatan pengajian hingga kelompok-kelompok kecil menjadi saluran komunikasi yang amat efektif untuk menyamakan persepsi, mengokohkan kesatuan spiritual serta menyamakan derap langkah.

Kader yang terbina baik mentalitas, pemikiran dan teruji dalam kerja-kerja nyata berbeda dengan seonggok tubuh yang bergerak hanya kalau ada uang. Kader yang memiliki cita-cita luhur untuk mengorbankan apa yang mereka miliki demi kebaikan masyarakat dan menggapai ridho Ilahi berbeda dengan mereka yang orientasi hidupnya hanyalah masalah duniawi. Kader yang bekerja keras di waktu siang dan bermunajat khusyu’ kepada Allah swt di malam hari, tentulah berbeda dengan orang-orang yang hatinya lalai dari mengingat Allah swt.

Kader seperti inilah yang siap melakukan rapat konsolidasi hingga larut malam dan cukup disuguhi konsumsi martabak dan gorengan pinggir jalan. Kader seperti ini yang siap secara tulus berjalan hingga ke pelosok-pelosok kampung untuk menyapa masyarakat dan memperkenalkan pemimpin yang insya Allah akan memegang amanah, walaupun tak ada uang transportasi. Kader seperti ini yang sungguh-sungguh menabung walau hanya mampu 1000 rupiah sehari, hingga saatnya diinfakkan untuk dakwah. Atau ketika keadaan amat urgen, siap kokoreh uang yang mestinya buat belanja dapur untuk mensuplai biaya akomodasi para saksi, yang memang tak ada budget-nya. Atau pada sikap sigap dan senang hati para ibu untuk menyiapkan makan siang bagi para saksi di lapangan. Dan bahkan pada seorang yang karena lelahnya mengalami musibah kecelakaan serius di jalan, tapi berkata kepada ibunya, “Bu, jangan sedih … insya Allah ini semua dicatat Allah sebagai perjuangan!”

Pada mobilisasi tenaga dan dana-dana pribadi kader terukur soliditas mental, pemikiran dan gerak sebuah komunitas. Soliditas ini nampak pada penyiapan saksi-saksi secara sistematis (bukan sakatimu di jalan). Bahkan para saksi ini terus mengikuti kotak suara hingga ke kantor desa/kelurahan, padahal mereka tidak mendapatkan bayaran apapun untuk tugas itu. Soliditas juga nampak pada penyiapan proses quick-count dan real-count. Mereka siap datang menyampaikan data lapangan walaupun harus menempuh perjalanan selama 2-3 jam dan tiba tengah malam di tempat perhitungan.

Faktor-faktor di atas nampaknya yang berada di luar jangkauan pemikiran para pengamat politik umumnya. Bisa jadi dalam praktek politik yang berlaku umum, berputarnya mesin politik selalu identik dengan uang yang disuplai “orang berduit”. Atau dengan daya tarik artis yang sekedar mengumbar nafsu masyarakat yang sebetulnya harus diobati hatinya. Pada praktek politik yang ada amat sulit menemukan kekuatan cita-cita dan ideologis sebagai motor utama. Juga sangat sulit menemukan persaudaraan dalam perjuangan sebagai perekat hati saat bekerja. Bisa jadi ini yang membuat ungkapan “menangnya HADE adalah kejutan” terlontar.

Yang sebenarnya, bergeraknya mesin politik ini didukung kuat oleh jaringan kader yang kokoh. Pemenuhan finansial di lapangan adalah adalah kebutuhan alami dalam proses sosialisasi calon pemimpin, tapi ia bukanlah faktor kunci kesuksesan.

(3)

Dede Yusuf adalah publik figur yang amat dikenal di masyarakat. Bisa jadi ia lebih dikenal daripada Danny, Iwan, Nu’man atau bahkan Ahmad Heriyawan sendiri. Mungkin hanya Agum yang relatif sama dikenalnya seperti Dede Yusuf. Saya melihat faktor popularitas Dede menjadi salah satu faktor kemenangan HADE.

Akan tetapi ada sisi lain yang saya yakin bisa diamati masyarakat luas pada diri Dede Yusuf, yaitu kemampuannya berkomunikasi secara santun tapi tajam. Jawabannya pada sebuah acara TV bahwa ia akan memberdayakan mahasiswa-mahasiswa terpandai untuk menjadi think-tank HADE sungguh brilyan (mudah-mudahan benar akan dilakukan). Ketika ditanya Yudi Latif, bagaimana HADE akan menghadapi mayoritas anggota DPRD Jabar? Dede menyampaikan, bahwa yang akan ditawarkan adalah program bagi kesejahteraan rakyat. Maka ia yakin semua pihak akan sejalan. Ia juga sampaikan, dirinya dan Ahmad Heriyawan masih muda, maka mereka akan bersilaturahim, berkomunikasi dengan para senior di Jabar untuk meminta masukan-masukan. Faktor popularitas Dede bertemu dengan santunnya komunikasi, menjadi sebuah faktor penentu kemenangan HADE.

Saya sempat ngobrol ringan dengan teman-teman di kantor, bisa jadi Dede ini serupa dengan Rano Karno. Mereka artis tapi matang dan cerdas. Bukan artis yang sibuk dengan gonjang-ganjing rumah tangga, misalnya. Saya berharap Dede menjadi contoh artis yang sungguh-sungguh berhasil mendedikasikan dirinya bagi masyarakat lewat kerja-kerja birokrasi dan politiknya.

Ada lagi obrolan ringan lainnya, yaitu yang terjadi di Jabar bukan masalah artis an-sich. Kalau cuma itu, mengapa hal ini tak terjadi di Banten (dengan Marissa Haque-nya) atau di Tangerang (dengan Airin)? Bisa jadi soliditas kader -terutama kader akhawat- tumbuh lebih kuat, karena di Jabar ini meskipun pilihan jatuh pada artis, tapi ia adalah lelaki. Ini lebih dekat pada kebaikan ditinjau dari kesiapan menunaikan amanah dan juga ditinjau dari sisi nilai-nilai keislaman.

(4)

HADE adalah pasangan muda. Usia mereka baru 40-an. Meskipun belum ada survei tentang ini, saya yakin dukungan kaum muda kepada mereka amat besar. Yang pasti, tim pemenangan mereka di tingkat propinsi, tingkat kabupaten kota, hingga ke tingkat desa bahkan RT/RW mayoritasnya adalah orang-orang berusia 20 hingga 40 tahunan.

Anak-anak SMA atau mahasiswa dugaan saya memberikan dukungan besar kepada HADE. Belum lagi para remaja putri menurut saya tidak sedikit yang pilihan pada HADE amat dipengaruhi dengan menawannya penampilan Dede Yusuf. Satu alasan yang sangat mungkin terjadi di lapangan … *smile*.

Sebetulnya sejarah memang membuktikan, perubahan-perubahan besar pada suatu komunitas lebih banyak ditentukan oleh anak-anak muda mereka. Tentu anak muda yang membuat perubahan adalah yang cerdas, berani dan siap bekerja keras. Tak usah jauh-jauh, bahkan di negeri ini, anak-anak muda lah yang mendorong agar proklamasi cepat dilakukan lewat peristiwa Rengasdengklok. Tokoh seperti Soekarno dan Hatta yang masih 40 tahunan usianya sudah termasuk “golongan tua” saat itu. Dalam perjuangan dakwah Islam, Nabi Muhammad berusia 40 tahun saat diangkat menjadi Rasul Allah. Dan para sahabat beliau kebanyakan berusia 20-30 tahunan. Hanya sedikit yang usianya dekat dengan Nabi.

Maka bisa jadi pada usia muda ini adalah harapan bagi generasi muda untuk lebih besar berkontribusi dalam mengelola negeri ini, khususnya untuk propinsi Jawa Barat.

(5)

Last but not least, pada HADE ada senyawa PAN-PKS. Saya termasuk yang merindukan senyawa seperti ini. Para aktifis reformasi tahun 97-98 pasti merindukan hal yang sama. PAN dan PKS adalah dua partai di antara sekian partai lain yang lahir dengan semangat reformasi di negeri ini.

Semogalah kesuksesan di Jawa Barat membuat tokoh-tokoh PAN dan PKS semakin erat berkomunikasi dan bersilaturahim. Dari komunikasi ini cita-cita reformasi yang masih banyak PR-nya bisa diselesaikan lebih cepat lagi. Saya yakin PKS dan PAN masing-masing punya kelebihan dan bisa saling mengisi dalam menyusun berbagai rencana strategis membangun negeri ini ke arah lebih maju dan lebih baik lagi.

***

Masih banyak catatan tersisa dari pilkada Jabar, misalnya tentang langkah strategis apa yang mesti disiapkan HADE untuk membangun kepemimpinan yang smart dan efektif. Akan tetapi untuk tulisan tentang rahasia suskes HADE saya cukupkan sampai di sini dulu.

Untuk masyarakat Jabar, selamat atas terselenggaranya pilkada yang secara umum berjalan lancar dan aman. Semoga pilihan kita di bilik suara hari Ahad lalu berujung pada terpilihnya pemimpin yang betul-betul jujur, amanah dan siap bekerja keras untuk rakyat. Dan semoga Allah selalu melindungi kita semua. Aamiin.

Salam,

Adi Junjunan Mustafa


# warga Kota Bogor, yang jari kelingking kirinya masih berwarna biru tinta #

* Perhitungan total hasil pilkada baru akan disampaikan KPUD Jabar pada tanggal 22 atau 23 April 2008. Akan tetapi hasil quick-count beberapa lembaga survei menunjukkan angka yang hampir sama. Ini menjadi indikasi yang hampir pasti, insya Allah HADE akan muncul sebagai pemenang.

** Masih banyak faktor lain yang menjadi penyebab unggulnya HADE, termasuk kreativitas CREW HADE dalam memilih akronim “hade”; Sebuah akronim yang amat familiar pada telinga orang Sunda. Pilihan lima faktor pada tulisan ini semata atas dasar pertimbangan saya untuk memilih faktor-faktor terpenting di balik kemenangan HADE.

Kamus Kata
kokoreh = Bahasa Sunda, aslinya kata yang digunakan untuk menggambarkan kaki ayam yang sedang mencari makanan di tanah (kalau saya enggak salah *smile*).

sakatimu = Bahasa Sunda, seketemunya.

akhawat = Bahasa Arab, penyebutan bagi kader dakwah perempuan.

Oleh  Adi Junjunan Mustafa[2]

Dan rendahkanlah dirimu terhadap kedua (orang tua) dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ”Wahai Rabbku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku sewaktu kecil.” (QS al-Isra, 17:24)

Sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia berdoa, ” Wahai Rabbku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada-Mu dan sungguh, aku termasuk orang muslim.” (QS al-Ahqaf, 46:15)

Ayat pada surat al-Isra di atas menggambarkan betapa besarnya arti pendidikan orang tua kepada anak-anak semasa mereka kecil, hingga Allah swt mengabadikan dalam lafazh doa pada al-Quran. Sementara itu, pada surat al-Ahqaf:15 tergambar bahwa kematangan kepribadian seorang beriman tercermin dalam usaha dan permohonan kepada Allah agar kebaikan pada dirinya menjadi washilah kebaikan yang akan diperoleh anak cucunya. Oleh karenanya perhatian orang tua terhadap pendidikan anak-anak semasa kecil menjadi sebuah kewajiban dalam ajaran Islam.

Orang tua hendaknya memiliki pengetahuan dan visi yang shahih (benar) dan jelas akan arah pendidikan anak. Ayat di atas memberi bekal para orang tua agar mengarahkan pendidikan anak pada sikap bersyukur kepada Allah dan pada perbuatan-perbuatan kebajikan (’amal shalih) yang diridhai Allah. Visi ini harus melekat pada orang tua di tengah berbagai tarikan-tarikan materialisme dalam tujuan kehidupan [1].

Professor Arief Rachman mengatakan bahwa anak butuh akhlak dan watak [2]. Beliau melihat pendidikan di Indonesia secara umum hanya menekankan aspek kognitif (pikiran, akademis). Hal-hal yang sifatnya terukur saja. Sementara itu, soal akhlak dan watak serta hal lain yang tidak terukur, boleh dibilang ditelantarkan. Padahal kalau kita membaca tujuan pendidikan dalam Undang-Undang Pendidikan, kita bisa melihat bahwa tujuan pendidikan itu memuat juga kedua hal tersebut. Inilah yang menyebabkan bangsa ini sulit menjadi bangsa yang besar. Korupsi masih ada di mana-mana, sikap tidak sportif merebak di berbagai dimensi kehidupan dan sikap-sikap negatif lainnya.

Menimbang hal-hal di atas, makalah ini akan dibuka dengan sifat pendidik suskes menurut arahan Nabi Muhammad saw. Kemudian dikupas secara singkat bentuk-bentuk pelibatan orang tua dalam pendidikan anak di sekolah. Dan pada bagian akhir disampaikan kiat-kiat orang tua dalam membangun jiwa (kepribadian) anak yang merupakan bagian paling mendasar dalam pendidikan.

Sifat-sifat Pendidik Sukses dalam Pengarahan Nabi saw.

Ustadz Muhammad Ibnu Abdul Hafizh Suwaid mencatat beberapa sifat pendidik sukses sebagai berikut [3]

   1. Penyabar dan tidak pemarah, karena dua sifat ini dicintai Allah swt. (h.r. Muslim dari Ibnu ’Abbas)

   2. Lemah lembut (rifq) dan menghindari kekerasan.

Allah itu Maha Lemah Lembut, cinta kelemahlembutan. Diberikan kepada kelembutan apa yang tidak diberikan kepada kekerasan dan kepada selainnya (h.r. Muslim dari ’Aisyah). Tidaklah kelemahlembutan itu terdapat pada sesuatu melainkan akan membuatnya indah, dan ketiadaannya dari sesuatu akan menyebabkannya menjadi buruk. (h.r. Muslim)

   3. Hatinya penuh rasa kasih sayang

Sesungguhnya setiap pohon itu berbuah. Buah hati adalah anak. Allah tidak akan menyayangi orang yang tidak sayang kepada anaknya. Demi Dzat yang jiwaku di Tangan-Nya, tidak akan masuk surga kecuali orang yang bersifat penyayang. (h.r. Ibnu Bazzar dari Ibnu ’Umar)

   4. Memilih yang termudah di antara dua perkara selama tidak berdosa

Tidaklah dihadapkan kepada Rasulullah antara dua perkara melainkan akan dipilihnya perkara yang paling mudah selama hal itu tidak berdosa. (Mutafaq ‘alaih)

   5. Fleksibel (layyin)

Bukanlah fleksibilitas yang berarti lemah dan kendor sama sekali, melainkan sikap fleksibel dan mudah yang tetap berada di dalam koridor syariah. Neraka itu diharamkan terhadap orang yang dekat, sederhana, fleksibel (lembut) dan mudah –qariib, hayyin, layyin, sahlin- (h.r. Al Kharaiti, Ahmad dan Thabrani)

   6. Ada senjang waktu dalam memberi nasihat

Ibnu Mas’ud hanya memberi nasihat kepada para sahabat setiap hari Kamis. Maka ada seorang yang berkata kepada beliau, “Wahai Abu Abdur Rahman, alangkah baiknya jika Anda memberi nasihat kepada kami setiap hari.” Beliau menjawab, “Saya enggan begitu karena saya tidak ingin membuat kalian bosan dan saya memberi senjang waktu dalam memberikan nasihat sebagaimana Rasulullah lakukan terhadap kami dahulu, karena khawatir kami bosan.” (Muttafaq ‘alaih).

Dasar dari sifat-sifat mulia di atas adalah keshalihan orang tua. Keshalihan orang tua ini akan memiliki pengaruh positif terhadap anak-anak. Firman Allah, “Dan orang-orang yang beriman, Kami akan pertemukan keturunan mereka dengan mereka. Dan Kami sedikitpun tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.”  [QS ath-Thur, 52:21]. Mengomentari ayat ini, Ibnu ‘Abbas berkata, “Allah akan mengangkat derajat keturunan manusia bersama orang tuanya di Surga nanti walaupun kedudukannya tidak setinggi orang tuanya.”

Keikutsertaan Orang Tua dalam Pendidikan Anak di Sekolah

Beberapa peneliti mencatat bahwa keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak di sekolah berpengaruh positif pada hal-hal berikut [4].

Ø  Membantu penumbuhan rasa percaya diri dan penghargaan pada diri sendiri

Ø  Meningkatkan capaian prestasi akademik

Ø  Meningkatkan hubungan orang tua-anak

Ø  Membantu orang tua bersikap positif terhadap sekolah

Ø  Menjadikan orang tua memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap proses pembelajaran di sekolah

Pihak sekolah dapat menyiapkan beberapa metoda untuk dapat melibatkan orang tua pada pendidikan anak, diantaranya dengan:

Ø  Acara pertemuan guru-orang tua

Ø  Komunikasi tertulis guru-orang tua

Ø  Meminta orang tua memeriksa dan menandatangani PR

Ø  Mendukung tumbuhnya forum orang tua murid yang aktif diikuti para orang tua

Ø  Kegiatan rumah yang melibatkan orang tua dengan anak dikombinasikan dengan kunjungan guru ke rumah

Ø  Terus membuka hubungan komunikasi (telepon, sms, e-mail, portal interaktif dll)

Ø  Dorongan agar orang tua aktif berkomunikasi dengan anak

Diantara teori pendidikan menyebutkan sebuah paradigma tripartite (tiga pusat pendidikan), yang menempatkan sekolah, keluarga dan masyarakat sebagai tiga elemen yang tidak terpisahkan dalam proses pendidikan [5]. Dari ketiga elemen tripartite itu, keluarga merupakan fokus utama yang harus mendapat perhatian lebih, karena anak lebih banyak berada di rumah.

Cara Efektif Membangun Jiwa Anak

Sesungguhnya tugas utama pendidikan anak adalah membangun jiwa mereka agar siap menerima berbagai pelajaran dan kelak mengaplikasikan ilmu yang mereka peroleh demi kebaikan sesama. Ustadz Muhammad mengupas pengarahan Nabi Muhammad saw dalam membangun jiwa anak [6], sebagai berikut.

   1. Menemani anak

Persahabatan punya pengaruh besar dalam jiwa anak. Teman adalah cermin bagi temannya yang lain. Satu sama lain saling belajar dan mengajar. Rasulullah saw berteman dengan anak-anak hampir di setiap kesempatan. Kadang-kadang menemani Ibnu ’Abbas berjalan, pada waktu lain menemani anak paman beliau, Ja’far. Juga menemani Anas. Begitulah Rasulullah berteman dengan anak-anak tanpa canggung dan tidak merasa terhina.

   2. Menggembirakan hati anak

Kegembiraan punya kesan mengagumkan dalam jiwa anak. Sebagai tunas muda yang masih bersih, anak-anak menyukai kegembiraan. Bahkan orang tua merasakan kegembiraan dengan riangnya mereka. Oleh karena itu, Rasulullah saw selalu membuat anak-anak bergembira, antara lain dengan cara:

Ø  Menyambut anak dengan baik

Ø  Mencium dan mencandai anak

Ø  Mengusap kepala mereka

Ø  Menggendong dan memangku mereka

Ø  Menghidangkan makanan yang baik

Ø  Makan bersama mereka

   3. Membangun kompetisi sehat dan memberi imbalan kepada pemenangnya

Umumnya manusia, apalagi anak-anak, suka berlomba. Rasulullah pun suka membuat anak-anak berlomba, misalnya ketika beliau membariskan Abdullah, Ubaidillah, dan anak-anak ‘Abbas lainnya, lalu bersabda, “Siapa yang mampu membalap saya, dia bakal dapat ini dan itu …” Maka mereka pun berlomba membalap Rasulullah saw sehingga berjatuhan di atas dada dan punggung beliau. Setelah itu mereka diciumi dan dipegangi oleh beliau.

   4. Memberi pujian

Pujian punya pengaruh penting dalam diri anak, sebab dapat menggerakkan perasaan dan emosinya sehingga cepat memperbaiki kesalahannya. Mereka bahkan menunggu-nunggu dan mendambakan pujian.

   5. Bercanda dan bersenda gurau

Canda dan senda gurau akan membantu perkembangan jiwa anak dan melahirkan potensinya yang terpendam. Rasulullah saw menyerukan, “Barangsiapa punya anak kecil hendaklah diajak bersenda gurau!” (h.r. Ibnu Asakir)

   6. Membangun kepercayaan diri anak

Ini dilakukan dalam bentuk:

Ø  Mendukung kekuatan ‘azzam pada anak, misalnya melatih menjaga rahasia dan membiasakan anak berpuasa

Ø  Membangun kepercayaan sosial

Ø  Membangun kepercayaan ilmiah

Ø  Membangun kepercayaan ekonomi dan perdagangan

   7. Memanggil dengan panggilan yang baik

Bermacam-macam cara Rasulullah saw memanggil anak, tujuannya untuk menarik perhatian dan membuat anak siap mendengar apa yang hendak dipesankan. Panggilan ini misalnya “nughair” atau si burung pipit, “ghulam” yang berarti anak, atau “wahai anakku”. Sementara para sahabat memanggil anak-anak dengan “wahai anak saudaraku”.

   8. Memenuhi keinginan anak

Adakalanya orang tua harus memenuhi permintaan anak. Ini juga merupakan cara efektif untuk menumbuhkan emosinya dan menambat jiwanya terhadap orang tua. “Sesungguhnya barangsiapa berusaha menyenangkan hati anak keturunannya sehingga menjadi senang, Allah akan membuatnya merasa senang sehingga di akhirat ia benar-benar akan merasa senang.” (h.r. Ibnu Asakir)

   9. Bimbingan terus-menerus

Anak, sebagaimana manusia lazimnya, sering salah dan lupa. Dibanding semua makhluk lain, masa anak-anak manusia adalah yang paling panjang. Ini semua kehendak Allah, agar cukup sebagai waktu untuk mempersiapkan diri menerima taklif  (kewajiban memikul syariat). Orang tua harus secara telaten membimbing anak pada masa kanak-kanaknya. Ibnu Mas’ud berkata, “Biasakanlah mereka (anak-anak) dengan kebaikan, karena kebaikan itulah yang akan menjadi adat (kebiasaannya).”

  10. Bertahap dalam pengajaran

Contohnya pada saat mendidik anak untuk shalat. “Perintahkan anakmu untuk shalat ketika berusia tujuh tahun dan pukullah mereka (jika enggan shalat) ketika berumur sepuluh tahun.” (h.r. Abu Dawud)

  11. Imbalan dan ancaman

Cara ini tidak kalah pentingnya dalam membangun jiwa. Rasulullah saw juga menggunakan cara ini dalam pendidikan. Contohnya untuk membuat anak berbakti kepada orang tua, beliau menyebutkan besarnya pahala berbakti kepada orang tua dan besarnya ancaman begi mereka yang durhaka kepada orang tua.

Catatan Penutup

Pendidikan anak pada hakikatnya adalah tanggung jawab para orang tua. Oleh karena itu keterlibatan orang tua dalam mendukung sukses anak menuntut ilmu di sekolah merupakan kewajiban. Untuk menjadi pendidik yang baik, orang tua mesti menghiasi dirinya dengan keshalihan. Peran penting orang tua adalah membangun dan menyempurnakan kepribadian dan akhlak mulia pada anak. Untuk itu perlu sikap-sikap pendidik seperti sabar, lembut, dan kasih sayang.

Untuk melengkapi pendidikan anak di sekolah, orang tua mesti membangun jiwa anak sesuai pengarahan Nabi Muhammad saw.

Daftar Bacaan

[1] Untuk lebih detil, kami mencatat masalah visi pendidikan anak dalam tulisan ”Memaknai Pendidikan Anak”, blog entry dengan alamat link: http://adijm.multiply.com/journal/item/221

[2] Harian Seputar Indonesia, Minggu, 17 Februari 2008 pada artikel/wawancara tokoh Kak Seto (Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak) berjudul ”Pusing dengan Perceraian Artis”.

[3] Untuk lebih detil silakan membaca buku tulisan Ustadz Muhammad Ibnu Abdul Hafizh Suwaid berjudul ”Cara Nabi Mendidik Anak”, bab Pengantar Umum bagi Orang Tua, hal 18-22, Penerbit Al-I’tishom Cahaya Umat.

[4] Involving Parents in the Education of Their Children, tulisan Patricia Clark Brown pada http://www.kidsource.com/kidsource/content2/Involving_parents.html

[5] Peningkatan Peran Orang Tua dalam Pendidikan Keluarga, tulisan M. Ridha Alta, Peneliti pada Pusat Kajian Pendidikan dan Masyarakat (PKPM) dan Mahasiswa Pascasarjana IAIN Ar-Raniry

[6] Untuk lebih detil silakan membaca buku tulisan Ustadz Muhammad Ibnu Abdul Hafizh Suwaid berjudul ”Cara Nabi Mendidik Anak”, bab Cara-cara Nabi Mendidik Anak, hal 91-104, Penerbit Al-I’tishom Cahaya Umat.

[1] Disampaikan pada pertemuan FPOM-SDIT Ummul Quro, Bogor, Sabtu 23 Februari 2008.

[2] Ayah 4 orang anak; Pemerhati masalah keluarga; Ketua Bidang Litbang Yayasan Peduli Keluarga, Bogor;

Homepage http://adijm.multiply.com/ ; E-mail adijm2001@yahoo.com.

Bismillaahi wal hamdu lillaahi.  Assalaamu’alaikum.

Diantara kerinduan para orang tua yang aktif dalam kegiatan dakwah adalah terwariskannya semangat berdakwah kepada anak cucu keturunan mereka. Ini adalah kondisi alamiah yang bahkan diabadikan dalam al-Quran dalam munajat Nabi Zakaria as:

“… yang akan mewarisi aku dan mewarisi dari keluarga Ya’qub; dan jadikanlah dia, wahai Rabbku, seorang yang diridhai” (QS Maryam, 19:6)

dan juga tersurat dalam do’a hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah:

“Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami dari pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS al-Furqan, 25:74)

atau pada do’a seorang hamba yang mencapai kematangan spiritual ketika usianya menginjak 40 tahun:

“Kami perintahkan manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: Wahai Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah kau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat beramal shalih yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS al-Ahqaf, 46:15)

Tentu saja harapan, doa dan pewarisan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran ini hanya dapat dilakukan melalui proses pendidikan (at-tarbiyyah).

Pada prakteknya secara tidak disadari saat ini tengah terjadi ketidakseimbangan porsi perhatian pada pendidikan anak. Ketidaksadaran orang tua ini bisa terjadi paling tidak karena tiga faktor:

   1. Kesibukan;
2. Kesalahan persepsi;
3. Kesulitan ekonomi.

Kesibukan

Aktifitas dakwah saat ini memang memiliki dimensi yang jauh lebih luas dibandingkan pada era tahun 80-an atau 90-an. Pada era 80-an dakwah masih berdimensi pembinaan internal para kadernya. Pada era 90-an perluasan sasaran dakwah baru berkembang pada masyarakat lewat pendekatan kultural. Saat ini dimensi kerja dakwah selain melingkupi apa yang telah dikerjakan sejak tahun 80-an, mesti memikul juga tugas-tugas struktural kenegaraan lewat aktifitas politik.

Ada banyak imbas pada kehidupan keluarga aktifis dakwah dengan semakin luasnya bidang garapan dakwah. Dalam konteks pendidikan anak imbas ini berupa semakin sedikitnya waktu teralokasi untuk pendidikan anak-anak.

Kesalahan Persepsi

Sebagian orang tua secara tidak sadar beranggapan bahwa pewarisan nilai dakwah terjadi karena hubungan darah semata. Kemudian terlupakanlah bahwa proses pendidikan membutuhkan perhatian seksama, dialog, keteladanan, hingga pemilihan institusi pendidikan formal tempat anak-anak bersekolah.

Terkait dengan pemilihan sekolah anak. Alhamdulillah seiring tumbuhnya anak-anak kader memasuki usia sekolah, berdiri sekolah-sekolah dengan kurikulum pendidikan Islam secara terpadu. Makna terpadu diantaranya adalah memadukan muatan-muatan ‘ulum diniyyah dan ‘ulum kauniyyah (ilmu-ilmu keagamaan dan ilmu-ilmu alam/sosial). Ini satu pendekatan yang baik. Pada pendekatan ini bukan hanya faktor pragmatis memenuhi kebutuhan sekolah bagi anak-anak muslim. Akan tetapi di dalamnya tersimpan motivasi kuat untuk mengimplementasikan ide besar para ilmuwan dunia Islam untuk melakukan islamization of knowledge.

Sampai pendirian institusi pendidikan tidak ada masalah, walaupun mesti diakui melahirkan kurikulum islami dan realisasi praktisnya bukanlah pekerjaan mudah. Butuh kerja keras dan usaha untuk senantiasa memperbaharui kurikulum ini.

Yang menjadi masalah adalah, sebagian orang tua merasa ketika mereka sudah mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah islam terpadu, mereka merasa selesai dengan tugas mendidik. Diantara parameter kejadian ini adalah dengan jarangnya mereka menghadiri pertemuan-pertemuan orang tua dan wali kelas yang diselenggarakan sekolah. Walaupun belum menjadi trend umum, ada pengelola pondok pesantren yang bercerita, bahwa ada orang tua (yang nota bene aktifis dakwah senior) yang selama tiga tahun belum pernah hadir dalam pembagian raport anaknya.

Inilah contoh kesalahan persepsi orang tua yang mengakibatkan anak-anak merasa diabaikan. Tentu kondisi seperti ini akan melahirkan suasana kejiwaan yang labil pada anak. Tidak heran kalau kemudian terjadi kasus-kasus anak seorang aktifis dakwah yang “bandel”-nya melebihi proporsi yang semestinya.

Kesulitan Ekonomi

Seiring pertumbuhan usia anak-anak kader dakwah, kebutuhan ekonomi pun meningkat. Ditambah lagi suasana perekonomian negara membuat laju inflasi sering tidak terkendali. Harga-harga semakin mahal. Termasuk biaya pendidikan pun semakin hari semakin mahal. Pada sekolah islam terpadu terdekat dari rumah kami saja, uang pangkal masuk SD sudah mencapai 9 juta rupiah tahun ini. Dibandingkan 5 tahun ke belakang, uang pangkal ini sudah hampir dua kali lipat lebih mahal.

Kesulitan ekonomi ini tentu saja bukan hanya terasa pada biaya pendidikan anak. Berbagai kebutuhan primer pangan, papan dan sandang pun semakin membutuhkan biaya besar. Akibatnya, kondisi kejiwaan para kader dakwah, sebagai suami-istri ataupun sebagai orang tua, sering tidak stabil. Pada kondisi ini keharmonisan komunikasi rumah tangga terganggu. Demikian juga pemenuhan peran sebagai orang tua tidak dapat dilakukan secara optimal. Orang tua, terutama suami, dipacu untuk mencari penghasilan yang mencukupi. Sementara itu kesibukan dakwah pun tidak dapat ditinggalkan. Keadaan seperti ini, langsung atau tidak langsung, mempengaruhi kualitas pendidikan anak-anak kader dakwah.

***

Sejak awal dakwah ini dicanangkan, disadari bahwa marahilul ‘amal (tahapan-tahapan ‘amal) mesti melalui jenjang perbaikan pribadi muslim, perbaikan keluarga-keluarga muslim, perbaikan masyarakat, hingga perbaikan kondisi negara dan bahkan dunia. Karenanya kesibukan memperbaiki negara, diantaranya melalui aktifitas dakwah pada dimensi kepartaian akan menjadi semu, ketika proses perbaikan keluarga terabaikan.

Sekarang, bagaimana perasaan para orang tua yang aktif dalam dakwah mendapatkan ucapan anak mereka,”Kalau sudah besar aku enggak mau seperti abi dan ummi?” Tentu secara kejiwaan orang tua akan terpukul dengan ucapan ini. Apalagi, sebagaimana disampaikan pada mukadimah tulisan, kerinduan untuk mewariskan nilai-nilai dakwah adalah fitrah para orang tua.

Sebetulnya perkataan anak-anak ini bisa dianggap wajar sebagai respon ketidaksenangan dengan sibuknya orang tua mereka. Akan tetapi pernyataan ini bisa berarti serius, ketika kalimat ini tersimpan dalam benak terdalam mereka dan akan terus melekat hingga usia dewasa nanti.

Lalu bagaimana kita meneropong permasalahan pendidikan anak kader dakwah dalam konteks sosial di tanah air, yang memang tidak kondusif dalam masalah pendidikan anak dan remaja? Cukupkah pendidikan anak hanya mengandalkan institusi sekolah, sementara penciptaan lingkungan masyakarat yang “ramah pendidikan anak/remaja” terabaikan? Mengapa pada era 80-an dan 90-an begitu marak aktifitas remaja masjid, sedangkan sekarang tidak ada lagi kemarakan itu? Bagaimana pula langkah-langkah sistematis yang harus ditempuh gerakan dakwah  untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi pendidikan anak? Insya Allah pada seri tulisan mendatang permasalahan di atas akan kita diskusikan.

— bersambung —

Bogor, 24 Januari 2008,


Adi Junjunan Mustafa

Sumber : www.adijm.multifly.com