Presiden jangan menggunakan ‘ilmu abu-abu’ terhadap masalah umat Islam.

JAKARTA — Gelombang unjuk rasa besar-besaran kaum Muslim di berbagai daerah, seperti Surabaya (Jawa Timur), Palembang (Sumatra Selatan), hingga Jakarta, terus menyuarakan desakan pembubaran ajaran dan organisasi aliran sesat Ahmadiyah. Mereka menilai SKB belum tegas sehingga mendesak diterbitkan keputusan presiden (keppres) untuk menindak Ahmadiyah yang terus merusak Islam dari dalam.

Tuntutan keppres itu sudah mengemuka sebelum SKB terbit. Tapi, pemerintah tidak menggubrisnya. Dalam implementasinya, SKB itu dinilai umat Islam tidak efektif untuk mencegah penyesatan Ahmadiyah terhadap ajaran Islam.Untuk kembali mendesak terbitnya keppres, di Jakarta, kemarin, Forum Umat Islam (FUI) menggelar aksi damai di depan Istana Negara. Aksi yang berlangsung sejak pukul 09.00 WIB hingga waktu shalat Ashar ini berlangsung tertib meski sempat ada yang memprovokasi.

Massa yang berdatangan dari kawasan Jabodetabek, Banten, Cianjur, Sukabumi, Garut, dan Tasikmalaya itu mayoritas menggunakan pakaian serbaputih. Sambil mengusung sejumlah spanduk bertuliskan ”Bubarkan Ahmadiyah dengan Keppres”, mereka melantunkan shalawat Nabi. Menjelang Dzuhur, sejumlah ulama dari berbagai pelosok menyampaikan orasinya, termasuk Amir Majelis Mujahiddin Indonesia (MMI), Ustadz Abu Bakar Ba’asyir.

Sekjen FUI, Muhammad Al Khaththath, mengatakan, aksi ini sebagai reaksi umat Islam di Indonesia terhadap pemerintah yang lembek terhadap permasalahan umat Islam. SKB Tiga Menteri yang dikeluarkan sekitar dua bulan lalu untuk melarang penyebaran ajaran Ahmadiyah, dinilai FUI hanya menyentuh individu tanpa membubarkan organisasinya. ”Dua organisasi Ahmadiyah, yaitu Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) dan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), harus dibubarkan karena keberadaannya telah menodai agama Islam,” tegas Al Khaththath.

Selain itu, SKB tersebut berarti memberi peluang kepada Ahmadiyah untuk tetap eksis dengan membawa nama Islam. Padahal, sudah jelas akidah dalam Ahmadiyah itu menyimpang dari ajaran Islam. ”Hingga kini, mereka masih mengakui adanya nabi setelah Nabi Muhammad SAW, yaitu Mirza Ghulam Ahmad,” katanya.

Bukti pelanggaran
Salah satu perwakilan dari Forum Pembela Rosul, Mahdi Alatas, mengatakan, selain tidak efektif, SKB itu tidak berjalan semestinya. Sejumlah pelanggaran SKB sudah terjadi. Misalnya, di Tangerang, Banten. Di kota industri itu, Ahmadiyah secara terang-terangan mengumumkan ajarannya tidak sesat. Lalu, di Padang, Ahmadiyah memasang baliho memperingati 100 tahun Ahmadiyah.
”Itu semua bentuk pelanggaran terhadap SKB. Padahal, dalam SKB itu mereka dilarang menyebarkan ajarannya,” kata Mahdi.

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir mengatakan, umat Islam harus terus mendesak pemerintah agar membubarkan Ahmadiyah. Sebab, keberadaan Ahmadiyah sangat berbahaya dan menjadi musuh dalam selimut. ”Beda dengan PKI yang terang-terangan menyatakan bukan Islam, Ahmadiyah lebih berbahaya karena menggunakan lafaz bismilah, alhamdulillah, syhadu allaa illaa ha illallah, padahal bukan Islam. Ini sangat berbahaya,” ujar pemimpin Pondok Pesantren almukmun, Ngruki, Solo, Jawa Tengah. Ia menuntut SBY segera bertindak arif dan bijaksana. ”Selama ini SBY menyikapi masalah Ahmadiyah dengan ilmu abu-abu. Sikapnya selalu ragu-ragu. Bahkan, untuk menyelesaikan masalah Ahmadiyah ini, SBY memilih penasihat yang sama sekali tidak mengerti agama Islam,” katanya.

Sementara itu, tokoh KH Didin Hafidhuddin, mengatakan, aksi damai yang dilakukan sejumlah umat Islam di berbagai kota harus disikapi dengan positif. ”Ini adalah suatu kegalauan dan aspirasi dari masyarakat Muslim terhadap SKB yang tidak ada pengaruhnya terhadap kegiatan Ahmadiyah di Indonesia,” katanya. Anggota Komisi VII DPR, DH Al Yusni, berpendapat, masih adanya massa yang turun ke jalan menjadi bukti SKB Tiga Menteri tidak efektif. ”Sejak awal kami katakan, SKB itu banci dan setengah hati. Sebaiknya pemerintah mengevaluasi SKB itu agar tidak seperti api dalam sekam,” katanya.
(http://republika.co.id/launcher/view/mid/22)

Iklan
Akhir Kehidupan yang Menghinakan

Oleh Ustadz Qomar ZA

Ajaran Ahmadiyah banyak mendapat penentangan dari para ulama di India. Di antara ulama yang terdepan menentangnya adalah Asy-Syaikh Tsana`ullah Al-Amru Tasri. Karena geram, Ghulam Ahmad akhirnya mengeluarkan pernyataan pada tanggal 15 April 1907 yang ditujukan kepada Asy-Syaikh Tsana`ullah.

Di antara bunyinya:

“…Engkau selalu menyebutku di majalahmu (‘Ahlu Hadits’) ini sebagai orang terlaknat, pendusta, pembohong, perusak… Maka aku banyak tersakiti olehmu… Maka aku berdoa, jika aku memang pendusta dan pembohong sebagaimana engkau sebutkan tentang aku di majalahmu, maka aku akan binasa di masa hidupmu. Karena aku tahu bahwa umur pendusta dan perusak itu tidak akan panjang… Tapi bila aku bukan pendusta dan pembohong bahkan aku mendapat kemuliaan dalam bentuk bercakap dengan Allah, serta aku adalah Al-Masih yang dijanjikan maka aku berdoa agar kamu tidak selamat dari akibat orang-orang pendusta sesuai dengan sunnatullah.
Aku umumkan bahwa jika engkau tidak mati semasa aku hidup dengan hukuman Allah yang tidak terjadi kecuali benar-benar dari Allah seperti mati dengan sakit tha’un, atau kolera berarti AKU BUKAN RASUL DARI ALLAH…
Aku berdoa kepada Allah, wahai penolongku Yang Maha Melihat, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Berilmu, Yang mengetahui rahasia qalbu, bila aku ini adalah pendusta dan perusak dalam pandangan-Mu dan aku berdusta atas diri-Mu malam dan siang hari, ya Allah, maka matikan aku di masa hidup Ustadz Tsana`ullah. Bahagiakan jamaahnya dengan kematianku –Amin–.
Wahai Allah, jika aku benar dan Tsana`ullah di atas kesalahan serta berdusta dalam tuduhannya terhadapku, maka matikan dia di masa hidupku dengan penyakit-penyakit yang membinasakan seperti tha’un dan kolera atau penyakit-penyakit selainnya….
Akhirnya, aku berharap dari Ustadz Tsana`ullah untuk menyebarkan pernyataan ini di majalahnya. Kemudian berilah catatan kaki sekehendaknya. Keputusannya sekarang di tangan Allah.
Penulis, hamba Allah Ash-Shamad, Ghulam Ahmad, Al-Masih Al-Mau’ud. Semoga Allah memberinya afiat dan bantuan. (Tabligh Risalat juz 10 hal. 120)

Apa yang terjadi? Setelah berlalu 13 bulan 10 hari dari waktu itu, justru Ghulam Ahmad yang diserang ajal. Doanya menimpa dirinya sendiri.

Putranya Basyir Ahmad menceritakan: Ibuku mengabarkan kepadaku bahwa Hadrat (Ghulam Ahmad) butuh ke WC langsung setelah makan, lalu tidur sejenak. Setelah itu butuh ke WC lagi. Maka dia pergi ke sana 2 atau 3 kali tanpa memberitahu aku. Kemudian dia bangunkan aku, maka aku melihatnya lemah sekali dan tidak mampu untuk pergi ke ranjangnya. Oleh karenanya, dia duduk di tempat tidurku. Mulailah aku mengusapnya dan memijatnya. Tak lama kemudian, ia butuh ke WC lagi. Tetapi sekarang ia tidak dapat pergi ke WC, karena itu dia buang hajat di sisi tempat tidur dan ia berbaring sejenak setelah buang hajat. Kelemahan sudah mencapai puncaknya, tapi masih saja hendak buang air besar. Diapun buang hajatnya, lalu dia muntah. Setelah muntah, dia terlentang di atas punggungnya, dan kepalanya menimpa kayu dipan, maka berubahlah keadaannya.” (Siratul Mahdi hal. 109 karya Basyir Ahmad)

Mertuanya juga menerangkan: “Malam ketika sakitnya Hadhrat (Ghulam Ahmad), aku tidur di kamarku. Ketika sakitnya semakin parah, mereka membangunkan aku dan aku melihat rasa sakit yang dia derita. Dia katakan kepadaku, ‘Aku terkena kolera.’ Kemudian tidak bicara lagi setelah itu dengan kata yang jelas, sampai mati pada hari berikutnya setelah jam 10 pagi.” (Hayat Nashir Rahim Ghulam Al-Qadiyani hal. 14)

Pada akhirnya dia mati tanggal 26 Mei 1908.
Sementara Asy-Syaikh Tsana`ullah tetap hidup setelah kematiannya selama hampir 40 tahun. Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala singkap tabir kepalsuannya dengan akhir kehidupan yang menghinakan, sebagaimana dia sendiri memohonkannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kini siapa yang sadar dan bertobat setelah tersingkap kedustaannya?

Wallahu a’lam bish-shawab

(http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=679)

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI)  Amidhan meminta kepada pemerintah untuk melaksanakan secara benar dan konsekuen Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri tentang pelarangan aktivitas Ahmadiyah. Salah satunya dengan memusnahkan semua atribut Ahmadiyah, termasuk buku dan tazkiroh.

"Negara harus menarik 46 judul buku tentang Ajaran Ahmadiyah. Karena itu berisi ajaran menyimpang. Kan salah satu isi SKB menyatakan Ahmadiyah adalah ajaran meyimpang," kata Amidhan kepada okezone, Selasa (10/6/2008).

Pemerintah juga harus memberangus tazkiroh, yang berdasarkan penelitian MUI, isinya telah mengacak-acak kitab suci Alquran.

"Ada 101 ayat yang diinsert dari perkataan Mirza Gulam Ahmad dan mereka klaim itu sebagai wahyu," terangnya.

Dia mengimbau kepada umat Islam untuk menerima SKB Ahmadiyah tersebut. Namun jika Ahmadiyah tetap melanggar SKB, maka Amidhan akan mendesak pemerintah membubarkan Ahmadiyah.

"Kita akan mendesak pemerintah mengeluarkan Kepres pembubaran Ahmadiyah," pungkasnya. (Okezone)

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amidhan meminta kepada pemerintah untuk melaksanakan secara benar dan konsekuen Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri tentang pelarangan aktivitas Ahmadiyah. Salah satunya dengan memusnahkan semua atribut Ahmadiyah, termasuk buku dan tazkiroh.

“Negara harus menarik 46 judul buku tentang Ajaran Ahmadiyah. Karena itu berisi ajaran menyimpang. Kan salah satu isi SKB menyatakan Ahmadiyah adalah ajaran meyimpang,” kata Amidhan kepada okezone, Selasa (10/6/2008).

Pemerintah juga harus memberangus tazkiroh, yang berdasarkan penelitian MUI, isinya telah mengacak-acak kitab suci Alquran.

“Ada 101 ayat yang diinsert dari perkataan Mirza Gulam Ahmad dan mereka klaim itu sebagai wahyu,” terangnya.

Dia mengimbau kepada umat Islam untuk menerima SKB Ahmadiyah tersebut. Namun jika Ahmadiyah tetap melanggar SKB, maka Amidhan akan mendesak pemerintah membubarkan Ahmadiyah.

“Kita akan mendesak pemerintah mengeluarkan Kepres pembubaran Ahmadiyah,” pungkasnya. (Okezone)

Instruksi Bernomor 1358/A.II.03/6/2008.
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menginstruksikan jajarannya di tingkat wilayah dan cabang agar tidak melibatkan diri dalam konflik Front Pembela Islam (FPI) dengan Aliansi Kebangsaan Untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB).

“Karena hal itu tidak ada kaitannya dengan NU sebagai organisasi,” demikian instruksi PBNU sebagaimana dikutip dalam siaran pers yang diterima ANTARA di Jakarta, Jumat.
Instruksi bernomor 1358/A.II.03/6/2008 tersebut ditandatangani Rais Syuriah PBNU Prof Dr KH Chotibul Umam, Ketua PBNU Ahmad Bagdja, dan Sekjen Dr H Endang Turmudi MA.

Jajaran NU juga diminta waspada dan tidak terprovokasi oleh mereka yang sengaja “mengumpankan” warga NU agar bentrok dengan massa FPI dan warga masyarakat lain.
Menurut PBNU, penyelesaian terhadap kekerasan yang dilakukan oleh anggota FPI sebaiknya diserahkan kepada pihak yang berwajib sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

Terkait adanya warga NU yang mempunyai sudut pandang berbeda tentang Ahmadiyah, PBNU menegaskan bahwa ulama NU sudah menetapkan Ahmadiyah menyimpang dari ajaran Islam.

Bagi PBNU, masalah Ahmadiyah bukan soal kebebasan beragama dan berkeyakinan, tapi soal penodaan ajaran Islam.
Oleh karena itu, pemerintah diharapkan segera mengambil langkah-langkah hukum untuk mencegah timbulnya tindakan masyarakat yang anarkis. (Republika)

Nama Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) menjadi buah bibir setelah peristiwa rusuh di silang Monas pada hari ahad siang, 1 Juni 2008. Aliansi cair ini terdiri dari banyak organisasi, lembaga swadaya masyarakat, dan juga kelompok-kelompok “keagamaan”, termasuk kelompok sesat Ahmadiyah. Mereka yang tergabung dalam AKKBB adalah:

• Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP)
• National Integration Movement (IIM)
• The Wahid Institute
• Kontras
• LBH Jakarta
• Jaingan Islam Kampus (JIK)
• Jaringan Islam Liberal (JIL)
• Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF)
• Generasi Muda Antar Iman (GMAI)
• Institut Dian/Interfidei
• Masyarakat Dialog Antar Agama
• Komunitas Jatimulya
• eLSAM
• Lakpesdam NU
• YLBHI
• Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika
• Lembaga Kajian Agama dan Jender
• Pusaka Padang
• Yayasan Tunas Muda Indonesia
• Konferensi Waligereja Indonesia (KWI)
• Crisis Center GKI
• Persekutuan Gereja-gereeja Indonesia (PGI)
• Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci)
• Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI)
• Gerakan Ahmadiyah Indonesia
• Tim Pembela Kebebasan Beragama
• El Ai Em Ambon
• Fatayat NU
• Yayasan Ahimsa (YA) Jakarta
• Gedong Gandhi Ashram (GGA) Bali
• Koalisi Perempuan Indonesia
• Dinamika Edukasi Dasar (DED) Yogya
• Forum Persaudaraan antar Umat Beriman Yogyakarta
• Forum Suara Hati Kebersamaan Bangsa (FSHKB) Solo
• SHEEP Yogyakarta Indonesia
• Forum Lintas Agama Jawa Timur Surabaya
• Lembaga Kajian Agama dan Sosial Surabaya
• LSM Adriani Poso
• PRKP Poso
• Komunitas Gereja Damai
• Komunitas Gereja Sukapura
• GAKTANA
• Wahana Kebangsaan
• Yayasan Tifa
• Komunitas Penghayat
• Forum Mahasiswa Syariahse-Indonesia NTB
• Relawan untuk Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (REDHAM) Lombok
• Forum Komunikasi Lintas Agama Gorontalo
• Crisis Center SAG Manado
• LK3 Banjarmasin
• Forum Dialog Antar Kita (FORLOG-Antar Kita) Sulsel Makassar
• Jaringan Antar Iman se-Sulawesi
• Forum Dialog Kalimantan Selatan (FORLOG Kalsel) Banjarmasin
• PERCIK Salatiga
• Sumatera Cultural Institut Medan
• Muslim Institut Medan
• PUSHAM UII Yogyakarta
• Swabine Yasmine Flores-Ende
• Komunitas Peradaban Aceh
• Yayasan Jurnal Perempuan
• AJI Damai Yogyakarta
• Ashram Gandhi Puri Bali
• Gerakan Nurani Ibu
• Rumah Indonesia

Menurut data yang ada, AKKBB merupakan aliansi cair dari 64 organisasi, kelompok, dan lembaga swadaya masyarakat. Tidak semua simpatisan maupun anggota AKKBB yang sebenarnya menyadari ‘The Hidden Agenda’ di balik AKKBB, karena agenda besar ini hanya diketahui oleh pucuk-pucuk pimpinan aliansi ini, sedangkan simpatisan maupun anggota di tingkat akar rumput kebanyakan hanya terikat secara emosionil kepada pimpinannya dan tidak berdasarkan pemahaman dan ilmu yang cukup. [hafez.wordpress.com]

ما كان محمد أبا أحد من رجالكم ولكن رسول الله وخاتم النبيين وكان الله بكل شيء عليما

“Muhammad is not the father of any of your men, but (he is) the Messenger of Allah, and the Seal of the Prophets: and Allah has full knowledge of all things. ” ( QS. Al Ahzab : 40 ) PICKTHAL: Muhammad is not the father of any man among you, but he is the messenger of Allah and the Seal of the Prophets; and Allah is ever Aware of all things. SHAKIR: Muhammad is not the father of any of your men, but he is the Messenger of Allah and the Last of the prophets; and Allah is cognizant of all things. KHALIFA: Muhammad was not the father of any man among you. He was a messenger of GOD and the final prophet. GOD is fully aware of all things.

Pada surat Al Ahzab ayat; 40 yang artinya; “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS. Al ahzab: 40) Imam ahli tafsir Ibnu Katsir rahimahullah berkata; “…Allah telah mengabarkan dalam kitab-Nya dan rasul-Nya dalam sunnahnya yang mutawatir bahwa tidak ada nabi setelahnya. Hal ini agar semua orang mengetahui bahwa siapa pun yang mengaku-ngaku sebagai nabi setelah beliau shalallahu ‘alaihi wasallam , ia adalah pendusta besar, pembual, dajjal sesat dan menyesatkan…”

Akan tetapi ajaibnya masih saja ada orang yang mengaku akalnya sehat tertipu dengan bualan Mirza Ghulam Ahmad, yang lainnya membela dan merasa risih mengkafirkan mereka. Padahal orang ini disisi pengakuannya sebagai nabi ia juga mengaku sebagai Al Mahdi, Al Masih, mujaddid bahkan ia mengaku sebagai Nabi Isa, Nuh, Ibrahim, Musa, Daud, Yusuf, Yahya Alaihimusshalaatu Was Salaam, bahkan ia mengaku sebagai Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, sampai-sampai ia menganggap dirinya lebih utama dari seluruh nabi dan rasul. Dari sini bukan merupakan keanehan apabila orang ini juga mengaku sebagai Maryam ibunda Isa As atau sebagai Malaikat Mikail , seperti yang ia sebutkan sendiri dalam tulisannya Nuzulul Masih (hal: 964), Izalatul Awham (hal; 253) dan Haqiqatul Wahyi (hal; 22). Oleh karena itu Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Rahimahullah Mufti Saudi Arabia (wafat;1389 H) berkata; “Orang ini kalau bukan gila, maka ia lebih kafir daripada yahudi dan nashrani…bahkan barangsiapa yang tidak mengkafirkannya maka ia kafir wajib dimintai taubat, apabila ia bertaubat (maka dilepas) kalau tidak, dibunuh sebagai orang yang telah murtad”. lihat Majmu’ Rasail wal Fatawa Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-Syaikh rahimahullah.

Berikut ini adalah fatwa-fatwa ulama besar Islam yang tergabung dalam Lajnah Da’imah lil Buhuts Al Ilmiyah wal Ifta’ (komisi tetap dewan fatwa dan penelitian ilmiyah) Kerajaan Saudi Arabia >>Selengkapnya…