Elpiji tabung tiga kilogram (kg) semakin dilirik pascakenaikan harga elpiji tabung 12 kg dan 50 kg. Bila kecenderungan ini terus terjadi, program konversi minyak tanah ke gas dikhawatirkan gagal.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Rusman Heriawan, menyayangkan bila ongkos kenaikan elpiji 12 kg dan 50 kg adalah kegagalan program konversi. Pasalnya, program itu untuk mengurangi subsidi BBM.

Jika masyarakat menengah-atas beralih ke tabung tiga kg, Rusman memastikan, Pertamina tak akan memperoleh tambahan penerimaan dari kenaikan harga elpiji. Di samping itu, masyarakat juga akan semakin sulit. Sebab, jatah elpiji tiga kg sudah direbut, sementara pasokan minyak tanah sudah dikurangi.

”Nantinya, ini akan menimbulkan kelangkaan baru, yaitu kelangkaan elpiji tabung tiga kg. Masyarakat miskin juga akan semakin sulit, terutama yang di Jawa,” katanya di Jakarta, Rabu (27/8).

Sejak Senin (25/8), harga elpiji 12 kg yang semula Rp 63 ribu dinaikkan 9,5 persen menjadi Rp 69 ribu. Adapun elpiji 50 kg dinaikkan dengan cara dikurangi diskonnya, dari 15 persen menjadi 10 persen atau dari Rp 6.878 per kg menjadi Rp 7.255 per kg. Elpiji tiga kg harganya tetap.

Ny Eko Bambang (52 tahun), penyalur gas di Kasihan, Bantul, Yogyakarta, mengatakan, banyak konsumennya yang beralih ke tabung tiga kg. Pasalnya, harga tabung 12 kg sudah mencapai Rp 80 ribu.

Ukuran tiga kg, kata dia, dipilih karena harganya di tingkat pengecer masih Rp 13.500 hingga Rp 14 ribu per tabung. ”Kalau beralih ke minyak tanah juga nggak mungkin. Minyak saja sulit setengah mati. Kalaupun ada, harganya sudah Rp 6.000 per liter.”

Sri Wahyuni (31), warga Tamanan, Banguntapan, Bantul, sudah beralih ke tabung tiga kg sejak harga elpiji naik, 1 Juli lalu. ”Aku langsung pindah ke tiga kg. Lha, harganya saja dulu sudah Rp 70 ribu per tabung, sekarang malah hampir Rp 80 ribu. Kemahalan,” rutuknya.

Sejumlah warung dan perusahaan katering di Yogyakarta juga telah beralih ke tabung tiga kg. Warung makan Padang di Jl Cendana, Yogyakarta, bahkan menggunakan tiga bahan bakar untuk memasak, yaitu gas tabung tiga kg, minyak tanah, dan kayu bakar.

Wahyuni, ibu rumah tangga di Perumahan Buring, Malang, Jawa Timur, juga beralih ke tabung tiga kg. Semula dia berlangganan tabung 12 kg. ”Minyak tanah langka, tapi elpiji 12 kg mahal. Terus, kami sebagai rakyat biasa ini mau bagaimana?” keluh Wahyuni.

Tak seperti Wahyuni yang masih punya pilihan, Suminah yang tinggal di Kec Tumpang, Kab Malang, memilih kembali memasak dengan kayu bakar. ”Kalau elpiji pemberian pemerintah (dari program konversi) habis, kami menggunakan kayu bakar. Pokoknya, tidak ngoyo seperti orang kota.”

Di Kota Magelang, kenaikan harga membuat konsumen kesal. ”Saya kena damprat konsumen,” kata Wiyono, pimpinan PT Gratra Lestari Prima Gasindo, salah satu penyalur elpiji di Jl Ahmad Yani.

Sejumlah pengusaha kecil di Kota Magelang dan Temanggung mengeluh usahanya terancam kolaps. Pasalnya, selain harga elpiji yang makin tak terjangkau, minyak tanah yang seharusnya bisa menjadi alternatif, harganya sudah jauh di atas harga eceran tertinggi (HET).

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Magelang, Edy Sutrisno, memprediksi, akan banyak pelaku usaha kecil, seperti pedagang makanan dan pedagang kaki lima, bangkrut. ”Sepuluh dari 20 pedagang dari sekitar 300 industri kecil di Kota Magelang bakal menerima dampak langsung kenaikan elpiji, sedangkan industri besar akan mengalami penurunan omzet,” katanya.

Di Indramayu, Jawa Barat, harga minyak tanah juga sudah mencapai Rp 6.000 per liter atau sama dengan harga premium. Pedagang nasi goreng di Jl Jenderal Soedirman, Kasum (49), mengatakan, selain mahal, minyak tanah juga sulit didapat.

Nurohman, pemilik warung makan di sekitar kompleks DPRD Indramayu, mengaku terpaksa berburu minyak tanah hingga ke Karangampel, Balongan, dan Jatibarang. ”Kalau sekadar mahal sih agak mendingan. Lha, ini sudah mahal, langka pula,” keluh Nurohman.

Di Semarang, sekitar 700 nelayan Tambaklorok, Kel Tanjung Mas, berdemo menolak penarikan minyak tanah bersubsidi dari pasaran. Mereka mendesak diberi jaminan ketersediaan minyak tanah setelah solar tak terjangkau lagi. Mereka sempat menyegel keran pipa penyalur BBM milik Pertamina. (lis/rig/owo/yli/asd/ant)

Beralih ke Tabung 3 Kg

Harga elpiji 12 kg di berbagai kota melonjak. Nilainya melampaui keputusan Pertamina yang menaikkan dari Rp 63 ribu ke Rp 69 ribu. Sejak Senin (25/8), harga elpiji 12 kg naik dari Rp 5.250 per kg menjadi Rp 5.750 per kg, sedangkan elpiji 3 kg tetap Rp 4.250 per kg.

Di sejumlah kota, lonjakan harga elpiji 12 kg meningkatkan pembelian elpiji 3 kg. Ini terjadi, antara lain di Semarang, Surabaya, Kotabaru, Pangkalpinang, dan Malang. Sedangkan, di Cianjur dan Samarinda, warga kembali menggunakan minyak tanah.

Harga Elpiji 12 kg di Beberapa Kota

Palu Rp 125 ribu
Balikpapan Rp 100 ribu
Samarinda Rp 100 ribu
Pontianak Rp 100 ribu
Palangkaraya Rp 120 ribu
Bukittinggi Rp 86 ribu
Manado Rp 150 ribu
Kendari Rp 120 ribu
Jambi Rp 79 ribu
Bogor Rp 76 ribu
Bekasi Rp 76 ribu
Sukabumi Rp 75 ribu
Banjarmasin Rp 105 ribu
Klaten Rp 78 ribu
Surabaya Rp 75 ribu
Mataram Rp 87 ribu
Makassar Rp 95 ribu
Medan Rp 85 ribu
Lebak Rp 90 ribu
(Republika Online)

Mitan Mahal, Nelayan Segel Keran Pertamina

Ratusan nelayan Tambaklorok, Semarang Utara, yang tergabung dalam Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) berunjuk rasa memprotes kelangkaan minyak tanah (mitan) bersubsidi. Selain melakukan demo, massa menyegel instalasi stasiun keran pengisian BBM milik Pertamina. Aksi tersebut merupakan bentuk protes atas kebijakan Pertamina yang mencabut subsidi minyak tanah per 1 September mendatang.

Nelayan merasa kecewa. Sebab, setelah kenaikan solar per liter menjadi Rp 6 ribu pada Mei lalu, mereka telah beralih ke minyak tanah sebagai bahan bakar motor tempelnya.

Pencabutan subsidi jelas mengancam kehidupan sekitar 3 ribuan nelayan di sana. Sebab, dengan minyak tanah yang kini harganya melonjak, nelayan harus beralih ke solar lagi. Padahal, nelayan menyatakan, harga solar yang juga tinggi tak sebanding dengan pendapatan mereka.

Nelayan mengaku sudah sampai pada puncak keresahan. Sebab, kini minyak tanah telah langka. Kalaupun ada, hargaya mencapai Rp 4 ribu-Rp 5 ribu per liter. Padahal, setiap melaut, mereka butuh sekitar 30-50 liter. “Pendapatan per kapal rata-rata cuma Rp 30 ribu. Itu dibagi banyak orang. Lha kalau subsidi dicabut, itu sama saja dengan membunuh kami,” keluh Ikhwan, 39, salah seorang nelayan.

Aksi dimulai dari Pasar Ikan Tambaklorok pada pukul sembilan. Ratusan nelayan berjalan berbaris satu-satu ke belakang. Membentuk ular-ularan, mereka membawa jeriken-jeriken kosong yang diikat. Itu sekaligus sentilan bagi Pertamina yang menganggap kesusahan masyarakat sebagai sesuatu yang indah dipandang.

Untaian jeriken diletakkan di depan stasiun keran pengisian BBM. Dikomandoi koordinator aksi Timopthy Sterry Joel, nelayan kemudian menyegel keran dengan sebuah poster bertulisan Keran ini disegel oleh warga nelayan Tambaklorok.

“Pemerintah harus serius memperhatikan kami. Di sini ada sekitar 647 perahu dengan 3 ribu lebih nelayan yang akan kehilangan penghidupan,” kata Joel. (Jawa Pos)

Iklan

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bulan lalu bisa jadi bukan yang terakhir. Sebab, harga minyak dunia di pasar internasional saat ini terus membubung tinggi. Dalam sepekan terakhir, harga minyak mendekati USD 140 per barel.

Kemarin (22/6) sejumlah negara produsen beserta konsumen bertemu di Jeddah, Arab Saudi. Mereka berusaha mencari jalan keluar untuk mengontrol lonjakan harga minyak. Salah satu opsi yang mengemuka adalah menambah suplai minyak di pasar. Namun, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) tetap bersikukuh menolak penambahan produksi itu.

”Harga minyak tinggi bukan karena faktor fundamental. Permintaan dan pasokan masih seimbang,” ujar Presiden OPEC Chakib Khelil di sela Energy Meeting seperti dilansir AFP.

Direktur Eksektif ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto mengatakan, anggota OPEC memang memiliki kepentingan agar harga minyak tetap tinggi. Karena itu, mereka tidak mudah berkomitmen menaikkan jumlah produksi. Menurut dia, sikap OPEC cukup wajar karena harga minyak saat ini terutama disebabkan faktor nonfundamental akibat spekulasi.

Pri Agung menyebutkan, suplai dan permintaan minyak dunia per hari masih stabil di kisaran 86 juta-88 juta barel. Meski Tiongkok sudah menaikkan harga minyak dalam negeri, konsumsi dunia diperkirakan masih stabil di level tersebut. ”Bukan fundamental, tapi lebih banyak karena spekulasi,” kata Pri Agung kemarin (22/6).

Dia mengatakan, faktor nonfundamental menjadi penyebab melejitnya harga minyak karena lemahnya kurs dolar AS atas mata uang kuat lainnya, terutama euro. Saat krisis kredit perumahan kelas bawah (subprime mortgage) meledak, investor banyak melarikan dananya ke bursa komoditas dengan membeli minyak.

Harga minyak internasional, sambung dia, sebenarnya sangat dipengaruhi faktor Amerika Serikat. Pertumbuhan ekonomi, cadangan minyak, dan nilai tukar uang Negeri Paman Sam tersebut sangat memengaruhi harga dunia.

Sedikit berbeda dengan Pri Agung, pengamat perminyakan Kurtubi mengatakan, meski aksi spekulasi sangat tinggi, faktor fundamental tetap memengaruhi harga minyak. ”Demand terus tinggi, tapi tidak ada tambahan suplai yang signifikan meski Arab Saudi berjanji menaikkan produksi 200 ribu barel per hari Juli nanti,” kata Kurtubi.

Menurut Kurtubi, aksi Arab Saudi tersebut tidak cukup meredam tingginya harga minyak. Anggota OPEC, lanjut dia, akan mempertahankan harga tetap tinggi jika dolar AS terus melemah. Sebab, dengan pelemahan dolar AS, penerimaan minyak akan menurun karena pendapatannya menggunakan mata uang dolar AS. ”Karena itu, mereka menginginkan harga minyak tetap tinggi,” jelasnya.

Mengenai spekulasi di Nymex (New York Mercantile Exchange), Kurtubi berpendapat, tak ada yang bisa melarang setiap orang membeli minyak di pasar. Investor memang ramai-ramai mengalihkan portofolionya ke pasar komoditas seperti minyak mentah, CPO, emas, dan komoditas utama dunia lainnya.

Indonesia sendiri saat ini hanya mampu memproduksi minyak siap jual 927 ribu barel per hari. Untuk memenuhi konsumsi BBM dalam negeri yang mencapai 1,2 juta barel, Indonesia harus mengimpor 300 ribu barel per hari. (Jawa Pos)

Pemerintah menyiapkan skenario kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi rata-rata sebesar 28,7% untuk mengamankan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2008. Dalam skenario itu, harga BBM bersubsidi akan dinaikkan per 1 Juni 2008. Dokumen yang beredar di kalangan anggota DPR menyebutkan, skenario kenaikan harga mencakup tiga jenis BBM bersubsidi,yakni premium naik Rp1.500 (33,33%) menjadi Rp6.000 per liter dari sebelumnya Rp4.500 per liter.

Solar naik Rp1.200 (27,90%) menjadi Rp5.500 per liter dari harga saat ini Rp4.300, serta minyak tanah menjadi Rp2.500 per liter, atau naik Rp500 (25%) dari harga sekarang Rp2.000. Berdasarkan dokumen itu, pilihan menaikkan harga BBM paling memungkinkan dari sisi administrasi maupun dampak sosial ekonomi dibandingkan opsi lain seperti penggunaan kartu pintar (smart card) dan pemberian subsidi terbatas.

Opsi menaikkan harga BBM rata-rata sebesar 28,7% pada Juni 2008 berpotensi menghemat anggaran hingga Rp21,491 triliun. Apabila ditambah sisa dana cadangan risiko APBN-P, total penghematan mencapai Rp25,877 triliun. Sebaliknya, apabila pemerintah tidak melakukan langkah apa pun (do nothing) terkait kenaikan harga minyak dunia,kekurangan pembiayaan APBN-P 2008 akan mencapai Rp31,5 triliun.

Dalam dokumen itu diungkapkan, dana penghematan Rp25,877 triliun akan didistribusikan sejumlah pos, antara lain pembiayaan program bantuan langsung tunai (BLT) Rp11,5 triliun, dan tambahan cadangan risiko Rp3 triliun. Kemudian pengurangan defisit 0,2% produk domestik bruto (PDB) menjadi 1,9% sebesar Rp8,37 triliun,dan tambahan anggaran beras untukwargamiskin(raskin) Rp3triliun.

Dikonfirmasi mengenai hal itu, Menteri Negara PPN/ Kepala Bappenas Paskah Suzetta mengatakan bahwa pemerintah belum memutuskan kenaikan harga BBM bersubsidi pada 1 Juni 2008. ”Ah, kata siapa itu? Sampai sejauh ini,kita belum ada opsi kenaikan harga BBM bersubsidi,” ujarnya di Gedung Bappenas Jakarta kemarin. Di tempat terpisah, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menegaskan bahwa pilihan menaikkan harga BBM bersubsidi merupakan opsi terakhir pemerintah.Pemerintah akan mengkaji secara hati-hati opsi tersebut.

”Saya ingin kita semua melakukan analisis dampaknya (kenaikan BBM) dan bagaimana menanggu langinya,” ujar Presiden seperti dikutip Ketua Umum Kadin Indonesia MS Hidayat di Kantor Kepresidenan, Jakarta, kemarin. Kadin bertemu Presiden SBY untuk mempresentasikan usulan dunia usaha tentang kebijakan peningkatan produksi pangan,energi, dan mineral.

Menurut Hidayat, Kadin berharap pemerintah menaikkan harga BBM maksimal 30% dan dilakukan sekaligus. Kenaikan harga BBM, kata Hidayat, telah dihitung secara matang dan sudah dibahas secara informal di antara para menteri terkait. ”Menaikkan harga BBM,saya kira, 100% merupakan keputusan politik. Karena ini keputusan politik, menteri tidak ada yang berani ngomong,” ujarnya. Pemerintah saat ini sedang menganalisis dampak kenaikan harga BBM.

Hidayat mengatakan, kenaikan harga BBM sulit dihindari karena dengan harga minyak dunia yang mendekati USD120 per barel, subsidi akan membengkak hingga Rp260 triliun.” Ini merupakah hal yang tidak mungkin lagi terpikul oleh pemerintah,”katanya. Menurut Hidayat, berbagai program penghematan seperti diversifikasi minyak tanah ke gas dan pemberlakuan smart card pun tidak akan mampu mengubah secara signifikan subsidi dalam APBN.

”Kami meminta kita bersikap realistis.Tapi,kalau toh dilakukan sekaligus (kenaikan BBM) saya minta kepada Presiden agar kelompok masyarakat miskin diberi bantuan tunai langsung,”katanya. Di tempat lain,Wakil Ketua Panitia Anggaran (Panggar) DPR Harry Azhar Azis mengharapkan pemerintah mempertimbangkan opsi kenaikan harga BBM bersubsidi. Kenaikan harga minyak dunia yang terus berlanjut bisa mengancam daya tahan APBN-P 2008.

”Dengan catatan bahwa penghematan yang diperoleh pemerintah dari kenaikan tersebut dialokasikan seluruhnya untuk menjaga kestabilan masyarakat berpenghasilan rendah,”ujar dia. Pengalokasian anggaran untuk masyarakat miskin itu dapat dilakukan dengan memperbesar BLT dan raskin. ”Jangan dulu dialokasikan ke sektor lain, fokuskan ke situ (masyarakat miskin),” katanya.

Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat (LPEM) UI Chatib Basri mengatakan,kenaikan harga BBM bersubsidi perlu segera dilakukan.Sebab, saat ini pemerintah dituntut mampu membiayai pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Namun,Chatib menyarankan agar kenaikan harga BBM tidak terlalu tinggi.Tujuannya agar bisa disesuaikan dengan daya beli masyarakat.

” Paling tidak 10% atau 20%. Kalau 10% kita bisa hemat Rp9 triliun,kalau 15% bisa hemat Rp20 triliun,” ujarnya. Menurut Chatib, selain bisa menghemat anggaran, kenaikan harga BBM juga berpeluang menekan konsumsi berlebih. Kenaikan juga berpeluang menekan praktik penye lundupan BBM bersubsidi.

Spekulasi

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Anggito Abimanyu mengatakan, harga minyak Indonesia di pasar internasional (Indonesian crude price/ ICP) sepanjang kuartal I 2008 mencapai USD103 per barel. Bagi Anggito, saat ini harga minyak dunia mengandung unsur spekulasi dan tidak seluruhnya mencerminkan keseimbangan harga antara permintaan dan penawaran.

‘’Harga yang terjadi saat ini karena faktor spekulasi dan rumor.Sebenarnya tidak mencerminkan kondisi fundamental, meskipun akhirnya spekulasi yang jadi,’’ kata Anggito di Jakarta kemarin. Untuk itu, pemerintah terus melakukan berbagai simulasi sesuai dengan perkembangan di pasar dunia. ‘’Pokoknya semua antisipasi kami lakukan. Semua perhitungan juga kami lakukan. Kami lakukan berbagai simulasi sesuai perkembangan,’’ ujarnya.

Anggito meragukan ramalan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) bahwa harga minyak bisa mencapai USD200 per barel tahun ini.Menurut dia,angka itu mengandung unsur spekulasi.‘’ Ya tidak mesti begitu juga. Karena penjual juga tergantung konsumennya. Kalau pembelinya tidak mampu beli, tidak mungkin menjual tinggi-tinggi,’’ katanya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pemerintah hingga kini masih konsisten menjalankan opsi-opsi pengamanan yang ditetapkan APBN-P 2008, kendati harga minyak dunia sudah menembus USD119 per barel.‘’Pokoknya sama dengan pengamanan APBN-P yang sudah pernah dijelaskan kemarin-kemarin,’’ kata Sri Mulyani.

Sementara itu, untuk menyikapi kenaikan harga minyak dunia, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan melakukan sejumlah upaya seperti menekan konsumsi,merasionalkan harga, dan meningkatkan produksi minyak dalam negeri.Namun,upaya peningkatan produksi minyak ini masih terhambat oleh beberapa faktor,di antaranya masalah fiskal, lingkungan, otonomi daerah, kehutanan, dan yang paling utama adalah tank top.

”Tank top itu produksi minyak kita yang tidak bisa kita lift, tapi ada dalam storage. Tank top itu produksinya terus berjalan, tetapi tidak ada kapal (tanker) yang mengambil, tidak ada yang membeli,” ungkap Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro dalam keterangan pers seusai rapat koordinasi produksi minyak dan gas di Kantor Wakil Presiden, Jakarta,kemarin.

Dalam rapat yang dipimpin oleh Wakil Presiden M Jusuf Kalla ini Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (BP Migas) melaporkan, jika setengah dari tank topbisa diangkat (lifted), maka Indonesia akan memperoleh tambahan produksi minyak sekitar 30.000 barel per hari. Selanjutnya, produksi minyak tambahan tersebut bisa dimasukkan dalam penerimaan negara. (Koran-Sindo)