Anda programmer dan memiliki software karya sendiri yang menarik dan berguna untuk masyarakat banyak? Perlu uang untuk pengembangannya? Anda membaca artikel yang tepat. Baik Anda programmer profesional maupun pelajar Sekolah Dasar (SD) sekalipun boleh mengikuti kompetisi ini!

Pada tanggal 3 Maret 2008 lalu, pemerintah melalui Depkominfo resmi me-launch-ing Indonesia ICT Award 2008 (INAICTA 2008) . Acara ini sendiri merupakan kelanjutan dari acara serupa yang pernah diselenggarakan tahun lalu 2007. Acara bertajuk “Kebangkitan Nasional, melalui Kreativitas Digital” ini merupakan kompetisi untuk menyaring perangkat lunak terbaik dan terinovasi karya anak bangsa. Adapun perangkat lunak / software yang di kompetisikan terbagi dalam 10 kategori, yakni:

1. Kategori e-government
2. Kategori e-Business
3. Kategori e-Education
4. Kategori e-Turism and e-Culture
5. Kategori e-Entertainment
6. Kategori Tools and Infrastucture
7. Kategori Research and Development
8. Kategori Student
9. Kategori Robot
10. Kategori Smart Campus

Pendaftarannya sendiri rencananya baru akan dibuka mulai tanggal 15 Mei sampai 15 Juni. >> Selengkapnya…

Iklan

Dua kali situs Departemen Komunikasi dan Informatika dijebol oleh ‘hantu’ dunia maya. Selain meninggalkan pesan khusus untuk Depkominfo dan Roy Suryo, sang ‘hantu’ juga sempat menyertakan sebuah alamat email.

Okezone pun berinisiatif untuk mengirimkan beberapa pertanyaan seputar tingkah polahnya yang menjahili situs Depkominfo. Berikut petikan wawancara khusus okezone dengan ‘Hantu’ situs Kominfo yang enggan disebut sebagai hacker atau cracker, melalui email, Rabu (16/4/2008),

Halo Mas/ mba….
Saya Cowo, mba… Jangan panggil Mas, saya masih ABG (anak baru gede).

Saya dari Okezone, kira-kira apa kami bisa tanya-tanya ke anda?
Boleh…. Kalau saya tahu jawabannya!

Apa maksud anda mengacak-ngacak situs depkominfo?
Tidak ada maksud lain. Selain cuma ingin memberi tahu kepada adminnya untuk memperbaiki script. Kemarin sempat memberi tahu tapi adminnya tidak merespons. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan bagi admin pemerintah untuk dibuktikan terlebih dahulu (kelemahannya) baru direspons!

Selain itu saya juga mau tunggu respons Om ‘pakar’ Roy Suryo, apa dia tahu siapa yang menyerang situs kominfo? Soalnya yang saya kutip dari debat (dengan blogger) kemarin sepertinya dia tidak punya akses ke server Kominfo. Bukannya untuk melacak hacker (tepatnya cracker) itu harus melihat log di server? Trus atas dasar apa Roy Suryo mengatakan “Saya tahu siapa mereka”. Kok bisa langsung tahu penyerangnya?

Bagaimana cara Anda sampai bisa meng-crack situs tersebut? Secara teknis bagaimana caranya?
Saya menggunakan teknik SQL Injection ke http://www.depkominfo.go.id/e-commerce/index.php?opt=login. Dengan memasukkan kode SQL Inject kita bisa log in sebagai admin situs. Kita bisa melakukan penghapusan atau mengubah isi situs tersebut.

Selain situs Depkominfo, situs apa lagi yang kira-kira akan menjadi incaran Anda?
Hahaha …. Saya orang baik-baik, Mba. Kan sudah saya tulis di pesan. Saya tidak ada niat untuk merusak. Cuma saya pikir itulah cara agar admin Kominfo update security. Kalau tidak masuk berita, Admin Kominfo tidak akan bekerja. Ya, Mudah-mudahan setelah kejadian ini Om Admin kita mulai update Security. Untung saja kelemahan situs tersebut lebih dulu diketahui orang Indonesia. Bagaimana jika yang tahu lebih dulu orang luar dan datanya penting. Gimana coba?
Tapi target berikutnya?? hehehe… Okezone.com mungkin! Ho..ho..ho!!!

Jika situs pemerintah saja rapuh dan bisa dijebol. Kira-kira apa situs-situs perbankan juga memiliki kelemahan yang sama?
Hehehe… Mungkin adminnya khilaf kali, mba. Manusia kan tidak luput dari kesalahan. Server saya sendiri masih banyak kelemahannya, kok. Intinya tidak ada sistem yang dijamin aman. Setiap sistem pasti punya kelemahan.

Situs perbankan lumayan banyak kelemahannya. Terutama di online bankingnya. Saya rasa pihak bank sendiri sudah tahu kelemahan online banking mereka. Namun yang jadi masalah adalah keamanan sistem biasanya berbanding terbalik dengan kenyamanan. Saat ini online banking Indonesia masih mengutamakan kenyamanan. Pelanggan kan tidak mau tahu soal keamanan dan lain-lain. Umumnya mereka mengutamakan kemudahan atau kenyamanan bertransaksi di internet. Nah, kalau sudah begini, siapa yang salah coba?

Gini loh, mba. Kalau bahasa orang kampungnya, Yahoo mail aja masih bisa dikerjain. Apalagi online banking Indonesia, yang gaji adminnya tidak sampai 1/4 dari gaji admin Yahoo. Hahahaha……

Di akhir pesan, dirinya mengaku tidak ingin dianggap hacker atau cracker. Untuk menghindari dirinya terjerat UU ITE, Dia meminta Okezone untuk menyebutnya sebagai netter (orang yang hobi berinternet).

(Tata bahasa dan penulisan dalam isi wawancara sudah diperbaiki terlebih dahulu)

Roy Suryo: Ada Korelasi Hacker, Cracker, dan Blogger

Nama Roy Suryo kembali disebut-sebut saat salah satu cracker mendeface situs Depkominfo, Selasa 15 April kemarin. Roy mengaku tidak terprovokasi oleh aksi tersebut.

“Disadari atau tidak oleh mereka, penggunaan idiom agitatif ‘jangan kutip…’ saat mendeface situs Depkominfo kemarin makin menunjukkan ada relasi hacker, cracker, dan (sebagian) blogger,” kata Roy Suryo dalam pesan singkatnya kepada okezone, Rabu (16/4/2008).

Seperti diketahui, situs Depkominfo kemarin dicrack. Sebagian perwajahannya pada bagian e-commerce berubah. Bahkan salah satu item kontak person, diisi dengan kalimat: “Jangan Kutip Roy Suryo.”

Selanjutnya, Roy Suryo menyatakan, jika blogger tidak mau disebut negatif, ini saatnya bagi mereka untuk membantu pemerintah dengan tidak membiarkan hal tersebut makin merajalela, minimal menunjukkan citra blog yang positif bagi masyarakat, tidak justru malahan tampak ‘menikmati’ kondisi ini.

“Saya Insya Allah tidak terpengaruh dengan provokasi tersebut dan tetap terus berjuang memajukan Indonesia melalui TI, sekaligus mempersilahkan media menilai semuanya,” ujarnya.

Blogger: Bukannya Cari Solusi Malah Bikin Statement Menyesatkan

Tuduhan blogger memiliki korelasi dengan hacker dan cracker yang diungkapkan Roy Suryo ditanggapi dingin oleh salah satu blogger, Riyogarta. Bahkan Riyo berpendapat bahwa Depkominfo juga memiliki andil untuk bertanggung jawab.

“Saya kira Depkominfo dalam hal ini juga turut bertanggung jawab, yakni membuat Roy Suryo berburuk sangka kepada blogger dan hacker akibat ulah oknum jahil yang membawa nama dirinya,” ujar Riyo kepada Okezone, Rabu (16/4/2008).

Menurut Riyo, Depkominfo tidak pernah mau mengupdate keamanan situsnya padahal mereka (para hacker) sudah memberitahukan kelemahan ini kepada Depkominfo. Ini artinya, sang admin yang mengelola situs tersebut memiliki tanggung jawab cukup besar.

Akibatnya, aksi diam Depkominfo ini membuat blogger selalu menjadi korban tuduhan-tuduhan Roy Suryo yang tidak berdasar padahal sudah jelas bahwa blogger memiliki arti yang jauh berbeda dengan hacker apalagi cracker.

“Padahal pak menteri sendiri yang mengatakan bahwa kami adalah bagian dari keluarga ICT. Bahkan Roy Suryo sendiri malah membuat pernyataan yang menyesatkan, bukannya mencari solusi,” tegas Riyo.

Rupanya Diskusi UU ITE di Radio Trijaya dan diskusi terbuka Blogger kemarin, yang mempertemukan Roy dengan beberapa blogger, sepertinya tidak juga mengubah pemahaman Roy Suryo terhadap perbedaan makna blogger, hacker dan cracker.

Bahkan beberapa media menyatakan tidak berani lagi meng-quote statement pria yang disebut-sebut sebagai pakar telematika itu. Pasalnya, Roy Suryo berkali-kali melimpahkan kesalahan kepada wartawan karena dianggap selalu memelintir pernyataan sehingga tidak sesuai dengan apa yang dimaksud.

“Saya khawatir nanti akan muncul lagi hal yang disebut Roy sebagai mispersepsi massal,” ujar salah seorang wartawan yang menyempatkan hadir di acara diskusi tersebut, sambil mengerutkan dahinya.

Hal yang sama juga dilontarkan para blogger dengan menyebarkan button ‘Jangan Kutip Roy Suryo’ sebagai aksi ketidaksetujuan mereka akan statement-statement Roy Suryo. Pria yang disebut sebagai pakar telematika itu menyebut aksi ini sebagai idiom agitatif (idiom yang bersifat menghasut).

Istilah idiom pun dibantah blogger sebagai kata yang kurang tepat karena dalam kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) ‘idiom’ merupakan konstruksi yang maknanya tidak sama dengan gabungan makna unsurnya. Mereka malah menyebut kalimat tersebut sebagai ‘Moto’, yang dalam KBBI berarti frasa, kata atau kalimat yang digunakan sebagai semboyan, pedoman atau prinsip. Menurut mereka kalimat ‘Jangan Kutip Roy Suryo’ tersebut masing-masing katanya memiliki korelasi dan makna yang sama dengan gabungan makna unsurnya.(Okezone)

Online Demi Susu Anak
Akhirnya Speedy memblokir Film Fitna. Informasi pemblokiran tersebut disampaikannya melalui situs portalnya yang beralamat di telkomspeedy.com. Dalam informasi tersebut, setidaknya ada 7 situs yang diblok oleh Speedy.

Ketujuh situs tersebut adalah Youtube, MySpace, Metacafe, Rapidshare, Multiply, Liveleak dan Themoviefitna.com

"Situs-situs dan blog tersebut tidak akan bisa diakses hingga ada pemberitahuan lebih lanjut," demikian isi informasi tersebut.

Menjerit

Pemblokiran akses Speedy, salah satunya ke Multiply tersebut, mengakibatkan sejumlah pengusaha rumah tangga dan industri mikro menjerit. "Bangkrut deh aku," ujar Budi Dhima, seorang ibu rumah tangga kepada detikINET, Selasa (8/4/2008).

Budi adalah salah satu dari ratusan ibu rumah tangga di bilangan Bekasi yang menjalankan bisnis rumahan atau mikro melalui Internet, dengan bermodalkan akses Internet Speedy dan situs Multiply.

"Aku pakai multiply untuk menawarkan daganganku, seperti baju dan jilbab muslimah," ujarnya. "Kalau gini caranya (diblokir), aku bisa bangkrut. Pelangganku kan kumpulnya di multiply," tambahnya dengan memelas.

Budi, sebagaimana keluarga muda pada umumnya, membantu suaminya dalam hal keuangan keluarga, dengan berdagang kecil-kecilan dengan pemasukan sekitar Rp 2 juta per bulan. "Keuntungannya paling hanya pas untuk menambah biaya sekolah TK putri sulungnya dan membeli susu untuk anak balitanya," tambahnya.

Menurut Budi, setidaknya sekitar seribuan member yang tergabung dalam indonesiaonlineshop.multiply.com. "Sekitar 50%-60%-nya menggunakan Speedy," tandasnya dengan nada datar.

Senada dengan Budi, Ifran seorang peneliti yang berdomisili di Depok juga mengalami nasib yang sama lantaran menggunakan Speedy. "Duh, padahal saya pake situs-situs yang diblok tersebut untuk keperluan riset, khususnya yang terkait dengan foto-foto teknologi. Adik saya malah perlu untuk ngumpulin resep masakan," ujarnya.

 Catatan Diskusi Menkominfo dengan Blogger Indonesia

Tak banyak yang bisa diulas tuntas dalam diskusi informal antara Menkominfo M. Nuh dengan para blogger Indonesia. Bahkan beberapa isu strategis, nyaris terhempas begitu saja.

Sejak awal pembukaan diskusi yang berlangsung di kantor Depkominfo, Senin (7/4/2008), Nuh sudah menegaskan permintaan bantuannya, setidaknya berupa saran, tentang teknik memblokir film Fitna (saja), tanpa harus menutup keseluruhan isi situs semisal di YouTube.

Tetapi, karena mungkin niatnya adalah silaturahim (tak lebih), maka justru dari sekian banyak blogger peserta yang hadir dan mendapatkan kesempatan berbicara, lagi-lagi hanya mengulang-ulang pertanyaan tentang mengapa pemerintah harus menutup YouTube.

Pun alasannya, menurut Nuh, sudah jelas. Presiden SBY telah meminta kepada dirinya untuk meminimalisir masuknya Film Fitna ke Indonesia, termasuk yang melalui Internet. Nuh pun mengakui di depan para blogger, bahwa jajarannya tidak akan mungkin memblokir seluruh situs di Internet yang mengandung film Fitna.

Nuh, yang didampingi oleh Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar, Dirjen Aptel Cahyana Ahmadjayadi, dan Staf Ahli Bidang Hukum Edmon Makarim tersebut juga paham bahwa memblokir keseluruhan isi YouTube adalah bukan solusi yang terbaik, mengingat banyak konten YouTube yang memang positif dan bermanfaat.

"Untuk itu, kalau ada masukan atau saran dari rekan-rekan tentang bagaimana memblokir hanya pada film Fitna saja, silakan disampaikan," pinta Nuh, yang sayangnya tak banyak masukan yang khusus menanggapi hal tersebut.

Blogger Negatif

Uniknya, ada pula blogger yang memutar rekaman wawancara sebuah radio dengan seorang yang suaranya mirip dengan pengamat TI Roy Suryo. Menurut blogger tersebut, wawancara tersebut isinya cenderung mendiskreditkan dirinya atau rekan blogger lainnya.

Padahal, sepengetahuan penulis, perilaku yang dilakukan oleh blogger tersebut dengan memutar rekaman suara di depan khalayak ramai untuk menguatkan pendapatnya, tak ada bedanya dengan yang dilakukan oleh Roy Suryo, pihak yang dianggapnya sedang berkontra dengan dirinya lantaran menyebut dirinya sebagai blogger negatif.

Maka tak heran, di akhir acara Nuh sempat ‘didaulat paksa’ untuk menyatakan secara eksplisit bahwa blogger tidak identik dengan pihak yang gemar melakukan kerusakan di dunia maya. Nuh pun berhasil berkelit dengan menjawab diplomatis, yang intinya menegaskan bahwa pihaknya menganggap blogger sebagai mitra dalam membangun bangsa.

Sungguh, sangat disayangkan sesi pertemuan yang sangat berharga tersebut, tak dioptimalkan untuk melahirkan sebuah inisiatif bersama dan sinergis antara komunitas blogger dengan Depkominfo. "Ya, namanya juga silaturahim," ujar salah seorang blogger melalui SMS kepada penulis. Jadi mungkin, sah-sah saja akhirnya kesempatan yang langka tersebut, (hanya) dijadikan sarana menumpahkan uneg-uneg pribadi atau kelompok.

Ide Cemerlang

Meskipun demikian, tidak sedikit pula peserta diskusi yang kemudian memunculkan sejumlah ide cemerlang. Bahkan ide-ide tersebut kemudian menjadi kesimpulan yang ditegaskan Nuh saat menutup sesi diskusi.

Beberapa ide tersebut semisal yang disampaikan oleh blogger Boy Avianto. Menurutnya, sudah tidak saatnya lagi menghadapi sebuah konten negatif dengan pemblokiran. "Masyarakat kita adalah masyarakat yang kreatif dan mampu untuk melakukan hal tersebut. Bukan masyarakat yang minder (rendah diri)," ujarnya.

"Justru kita harus tantang masyarakat Indonesia, bagaimana membuat video yang positif sebanyak-banyaknya untuk menjawab (meng-counter) film Fitna, dan di-upload di YouTube," tegasnya. "Pemerintah, dalam hal ini Depkominfo, kemudian memberikan penghargaan bagi konten atau hasil kreatif terbaik tersebut," tambahnya.

Ide lain juga datang dari Jim Geovedi. Di awal, Jim menyatakan salut bahwa isu tentang blogger sampai menjadi isu penting di tataran pemerintah. "Indonesia adalah pertama kalinya, negara yang pemerintahnya sampai membahas soal blogger," ujar Jim. "Which is, (sebenarnya) nggak penting sama sekali," ujarnya yang disambut gelak tawa peserta dan jajaran Depkominfo lainnya.

Kemudian Jim menegaskan bahwa salah satu penyebab mengapa orang kemudian tertarik untuk mengakses konten dari luar negeri, dan juga menghabiskan bandwidth menurutnya, adalah sangat minimnya konten lokal berbahasa Indonesia.

"Sudah saatnya kita membangun konten-konten lokal, agar masyarakat Indonesia tak lagi harus menghabiskan bandwidth karena (tergantung pada) konten di luar negeri," ujar Jim menegaskan. Jim pun menyempatkan diri menitip pesan kepada Depkominfo agar lebih piawai dalam mengkomunikasikan kebijakannya kepada masyarakat luas (awam).

Mendukung

Nuh sendiri menyatakan dirinya mendukung komunitas blogger. "Kami (Depkominfo) justru ingin mendorong komunitas blogger sebagai pendorong dinamika baru, pencerahan masyarakat," ujar Nuh sesaat sebelum menutup acara.

"Saya bahkan mendorong blogger itu sebagai komunitas baru untuk menyebarkan fungsi pendidikan, pemberdayaan, dan memberi fungsi pencerahan masyarakat. Oleh sebab itu blogger itu part of our family," tegas Nuh. Nuh pun menjanjikan untuk adanya diskusi rutin dengan para blogger, "ada ataupun tidak ada masalah", tandasnya.

Diskusi itu sendiri diikuti oleh setidaknya sekitar 70 orang, terdiri atas perwakilan komunitas blogger, pemerhati dan praktisi TI dan sejumlah media massa. Diskusi di mulai pukul 19.15 WIB dan ditutup resmi sekitar pukul 21.15 WIB

Untuk tautan informasi tentang diskusi antara blogger dengan Menkominfo, beberapa diantaranya dapat dilihat di:

http://ndorokakung.com
http://romisatriawahono.net
http://media-ide.bajingloncat.com
(detikINET)