Oleh Ihsan Tandjung

Benarlah Ahmad Thomson ketika di dalam bukunya yang berjudul Dajjal – The AntiChrist mengatakan bahwa dunia yang sedang kita jalani dewasa ini –terutama sejak hampir satu abad yang lalu- telah menjadi sebuah Sistem Dajjal. Peradaban dunia semenjak raibnya sistem Islam yang bernama Khilafah Islamiyyah telah perlahan namun pasti mengarah dan membentuk diri menjadi sebuah peradaban yang sarat dengan Dajjalic Values. Kian hari kian nyata bahwa nilai-nilai Ilahi yang suci dan mulia secara sistematis mengalami marginalisasi alias penghapusan.

Sedemikian hegemoniknya sistem Dajjal sehingga menurut Ahmad Thomson bilamana dalam waktu dekat si oknum Dajjal muncul ke tengah umat manusia, maka ia akan segera dinobatkan menjadi pemimpin sistem tersebut. Sebab sistem yang dibangun dengan sebutan Novus Ordo Seclorum (the New World Order) ini sangat compatible dengan karakteristik oknum Dajjal. Berbagai lini kehidupan telah dirancang dan dibentuk agar cocok dengan the arrival of the AntiChrist (kedatangan Dajjal). Segenap lini kehidupan manusia yang mencakup ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, militer, pertahanan-keamanan, pendidikan dan hukum dijauhkan dari dienullah alias nilai-nilai Islam. Bahkan aspek entertainment-pun diarahkan untuk menyambut kedatangan Dajjal.

Oleh karenanya saudaraku, waspadailah berbagai filem yang dewasa ini menjadi primadona bentuk hiburan di abad modern. Salah satunya ialah filem box office yang dewasa ini sedang menyedot perhatian sebagian besar penduduk planet bumi, yaitu filem berjudul 2012. Apa sesungguhnya masalah filem ini?

Pertama, filem ini ingin mengkondisikan umat manusia untuk meyakini bahwa the end of time atau apocolypse ataushollallahu ’alaih wa sallam juga tidak tahu kapan persisnya hari Kiamat. –katakanlah- hari Kiamat bakal terjadi pada tanggal tertentu yang sudah bisa diprediksi, yaitu tanggal 21 desember tahun 2012. Ini merupakan suatu ramalan yang sangat berbahaya dari sudut pandang aqidah Islam. Mengapa? Karena Islam mengajarkan setiap kita untuk menyadari bahwa hanya Allah saja yang tahu kapan persisnya hari Kiamat bakal terjadi. Bahkan Nabi Muhammad

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي

لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا

قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

”Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS Al-A’raaf ayat 187)

Satu-satunya isyarat soal jadwal hari Kiamat dari Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam hanyalah bahwa ia bakal terjadi pada hari Jumat. Namun jumat tanggal, bulan dan tahun berapa?  Wallahu a’lam. Hanya Allah Yang Maha Tahu. Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:

وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ

“Dan tidak akan terjadi hari Kiamat kecuali pada hari Jum’at.” (HR Muslim)

Maka barangsiapa yang sesudah maupun sebelum menonton filem ini meyakini bahwa hari Kiamat  pasti bakal terjadi pada tanggal 21 desember tahun 2012, berarti ia telah mempertaruhkan eksistensi aqidahnya. Sebab seorang muslim senantiasa meyakini bahwa hanya Allah Yang Maha Tahu perkara nyata maupun ghaib. Jika ada fihak selain Allah yang layak memberi tahu kita soal perkara ghaib seperti jadwal Kiamat, maka itu sepatutnya adalah Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam utusan Allah yang seringkali memang diberitahu Allah rahasia-rahasia perkara ghaib. Namun dalam hal ini kita tidak mendapati satu haditspun yang menjelaskan tanggal, bulan dan tahun kejadian hari Kiamat. Sikap mempercayai adanya fihak selain Allah yang mengetahui perkara ghaib bisa mengantarkan seseorang terjatuh kepada dosa syirik…! Sebab ia rela mengalihkan kepercayaannya dalam perkara ghaib kepada fihak selain Allah.

Kedua, filem 2012 ini ternyata berakhir dengan masih adanya segelintir manusia yang dapat survive atau bertahan hidup sesudah dahsyatnya peristiwa hari Kiamat. Padahal dalam keimanan Islam, kita diajarkan bahwa pada saat Malaikat Israfil meniup sangkakala pertama kali sebagai tanda Kiamat berlangsung, maka segenap makhluk bernyawa akan dimatikan Allah. Bukti bahwa semua dimatikan ialah bahwa kemudian Malaikat Israfil akan meniup sangkakala kedua kalinya sebagai pertanda berlangsungnya hari Berbangkit, yaitu hari dimana kembalilah roh-roh ke jasadnya masing-masing untuk hidup kembali.

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ

إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

”Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (QS Az-Zumar ayat 68)

Artinya, kita dapat menyimpulkan bahwa ide di balik filem ini sungguh mengerikan, karena ia ingin mengajak penonton mengingkari adanya Kiamat dalam pengertian aqidah Islam. Islam mengajarkan bahwa hari Kiamat merupakan the day of total destruction of the whole universe by Allah the Al-Mighty Creator (hari penghancuran total alam semesta atas kehendak Pencipta Yang Maha Kuasa, Allah Subhanahu wa ta’ala). Hari Kiamat merupakan berakhirnya kehidupan fana dunia untuk selanjutnya akan hadir kehidupan abadi akhirat yang sangat berbeda dengan dunia fana ini.

Sedangkan Kiamat menurut produser filem peradaban Sistem Dajjal hanyalah sebuah proses evolusi perjalanan kehidupan manusia di dunia. Sehingga setelah berlangsungnya apocolypse masih ada segelintir manusia yang sanggup terus hidup melewati dahsyatnya hari kehancuran tersebut. Lalu tentunya akan ada sejenis kehidupan dan peradaban baru yang muncul di muka bumi. Selanjutnya, siapakah yang bakal memimpin dan berkuasa di dunia sesudah 2012?

Ketiga, jika kita buka situs www.whowillsurvive2012.com yang merupakan 2012 – Official Movie Site, maka bila Anda klik kotak berjudul ”The Experience”, maka Anda akan temukan salah satu kotak pilihan lagi dengan judul Vote For The Leader of the Post 2012 World (Pilihlah Pemimpin Dunia Paska 2012). Apakah gerangan maksudnya?

Saudaraku, sungguh saya khawatir bahwa gagasan mendasar di balik filem ini ialah keinginan produsernya untuk secara implisit mempromosikan kehadiran Sang Penyelamat Dunia Palsu yaitu Dajjal. Lalu Dajjal akan digambarkan sebagai Pemimpin dan Pelindung para survivors (orang-orang yang berhasil selamat melewati bencana 2012). Sungguh, mereka benar-benar berharap bahwa umat manusia akan memandang Dajjal sebagai figur pemilik surga dan neraka, alias dialah Tuhan. Barangsiapa mematuhinya dan merasa butuh kepadanya bakal diberikan surga kepadanya. Dan barangsiapa yang mengingkarinya dan merasa tidak butuh kepadanya bakal dimasukkan ke dalam neraka Dajjal. Sehingga Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:

وَإِنَّ مِنْ فِتْنَتِهِ أَنَّ مَعَهُ جَنَّةً وَنَارًا فَنَارُهُ جَنَّةٌ وَجَنَّتُهُ نَارٌ

“Dan sesungguhnya di antara fitnahnya Dajjal memiliki surga dan neraka. Maka nerakanya adalah surga (Allah) dan surganya adalah neraka (Allah).” (HR Ibnu Majah)

Maka sudah tiba masanya bagi setiap muslim untuk mempersiapkan diri dan keluarganya dari fitnah yang paling dahsyat sepanjang zaman, yaitu fitnah Dajjal. Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mengajarkan beberapa kiat untuk menyelamatkan diri dari fitnah Dajjal, di antaranya:

Pertama, bacalah doa permohonan perlindungan Allah pada saat duduk sholat tahiyyat terakhir dalam sebelum salam kanan dan kiri:

اللهم إني أعوذبك بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari azab jahannam,  dari azab kubur,  dari fitnah kehidupan dan kematian serta dari jahatnya fitnah Al-Masih Ad-Dajjal” (HR Muslim)

Kedua, bacalah surat Al-Kahfi di malam Jumat atau hari Jumat sesuai hadits berikut:

من قرأ سورة الكهف يوم الجمعة فأدرك

الدجال لم يسلط عليه ، – أو قال : لم يضره

“Barangsiapa membaca surah Al-Kahfi di hari Jumat, maka Dajjal tidak bisa menguasainya atau memudharatkannya.” (HR Baihaqi)

Ketiga, hafalkan sepuluh ayat pertama surat Al-Kahfi sesuai hadits berikut:

مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ

“Barangsiapa menghafal sepuluh ayat pertama surah Al-Kahfi, ia terlindungi dari fitnah Dajjal.” (HR Abu Dawud)

Keempat, menjauh dan tidak berkeinginan mendekati Dajjal pada masa kemunculannya telah tiba sesuai hadits berikut:

مَنْ سَمِعَ بِالدَّجَّالِ فَلْيَنْأَ عَنْهُ فَوَاللَّهِ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَأْتِيهِ

وَهُوَ يَحْسِبُ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ فَيَتَّبِعُهُ مِمَّا يَبْعَثُ بِهِ

مِنْ الشُّبُهَاتِ أَوْ لِمَا يَبْعَثُ بِهِ مِنْ الشُّبُهَاتِ هَكَذَا قَال

“Barangsiapa mendengar tentang Dajjal, hendaknya ia berupaya menjauh darinya, sebab -demi Allah- sesungguhnya ada seseorang yang mendekatinya (Dajjal) sedang ia mengira bahwa Dajjal tersebut mukmin kemudian ia mengikutinya karena faktor syubhat (tipu daya) yang ditimbulkannya.”  (HR Abu Dawud)

Kelima, menetap di Mekkah atau Madinah pada masa Dajjal telah keluar dan berkeliaran dengan segenap fitnah yang ditimbulkannya. Sebagaimana hadits berikut:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ مِنْ بَلَدٍ إِلَّا سَيَطَؤُهُ الدَّجَّالُ إِلَّا مَكَّةَ وَالْمَدِينَةَ وَلَيْسَ نَقْبٌ مِنْ أَنْقَابِهَا إِلَّا عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ صَافِّينَ تَحْرُسُهَا

“Tidak ada negeri (di dunia) melainkan akan dipijak (dilanda/diintervensi) oleh Dajjal kecuali Mekah dan Madinah kerana setiap jalan dan lereng bukit dijagai oleh barisan Malaikat.” (HR Bukhari-Muslim)

Sumber : Eramuslim

Iklan

Terenyuh hati ini ketika melihat saudara-saudara kita di Sumatera Barat menangis merasakan kepedihan dan kesusahan yang tak terkira pasca-gempa dahsyat yang terjadi pada tanggal 1 Oktober 2009 dengan kekuatan 7,6 SR itu telah meluluh lantakkan ribuan tempat tinggal dan gedung, menewaskan lebih dari 700 orang serta melukai ribuan penduduk lainnya.

Kami yang berdomisili jauh di luar negeri dengan sangat jelas menyaksikan kondisi korban-korban gempa bahkan saat-saat kejadian gempa melalui berbagai stasiun televisi timur tengah yang rata-rata meliput musibah yang menimpa salah satu kota dimana di tempat itu telah banyak melahirkan ulama-ulama kelas dunia seperti Syaikh Ahmad Yassin Al Fadani rahimahullah yang menjadi guru hampir sebagian besar ulama-ulama besar saat ini dan juga seorang sufi yang menjadi tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia Buya Hamka rahimahullah.

Kami menyaksikan proses evakuasi mayat yang berlangsung cukup rumit karena medan yang susah, kurangnya peralatan dan hujan lebat yang seakan ingin ikut meramaikan kesedihan masal ini.

Belum lagi kepedihan yang dirasakan oleh korban-korban yang masih hidup. Rumah-rumah mereka telah hancur, tidak punya tempat untuk menginap, tidur beratapkan langit ditambah lagi hujan lebat yang walaupun mereka mendapatkan tempat untuk berteduh di sisi-sisi bangunan yang masih tersisa, tetap tidak akan menghalangi tetesan-tetesan dingin air hujan mengenai tubuh-tubuh lapar mereka.

Perut-perut mereka dalam kelaparan yang luar biasa sebab tidak adanya makanan dan katanya mereka makan hanya dengan kerak nasi. Anak-anak bayi tidak mendapatkan susu. Sementara bantuan makanan terlambat dan tidak merata. Air bersih susah dan sedikit hingga untuk mandi dan buang air pun susah dan tidak ada tempat. Apalagi buat wudhu dan sholat, sudah tidak menentu jadinya. Makanya siapa-siapa korban sebuah bencana yang mampu mempertahankan shalatnya, patut untuk diancungi jenpol.

Tidur-tidur mereka tidak akan pernah tenang dan nyenyak sebab takut akan terjadi gempa susulan Semuanya berada dalam rasa ketakutan dan kegelisahan akan nasib anak, istri, suami, ayah, ibu dan semua sanak saudara serta teman-temannya apakah mereka masih hidup atau ikut terkubur dalam reruntuhan gempa.Yah begitulah memang susah dan repotnya jika kita berada dalam sebuah kondisi bencana alam.

و لنبلونكم بشىء من الخوف والجوع و نقص من الأموال و الأنفس و الثمرات و بشر الصابرين (البقرة: 155)

“Dan sungguh kami akan menguji engkau dengan sesuatu daripada ketakutan, kelaparan, berkurangnya harta, jiwa dan buah-buahan dan gembirakanlah orang-orang yang sabar.”

Sepertinya tidak ada yang menolong para korban itu, seolah-olah tidak ada yang mendengar dan melihat jeritan serta kesusahan mereka. Allah benar-benar menciptakan sebuah kondisi dimana mereka hanya bisa mengeluh, menangis, merengek dan mengadu kepadanya. Seolah-olah Allah ingin mengatakan di depan mereka, “Sekarang tidak ada siapapun di sini yang dapat menolongmu selain Aku yang Maha Kuasa.“

و إن يمسسك الله بضر فلا كاشف له إلا هو… (الأنعام: 17)

“Dan jika Allah menyentuhmu dengan marabahaya maka tidak ada yang dapat menghilangkannya melainkan Dia (Allah)…”

Namun dibalik kerugian fisik ini semua, ada banyak keuntungan batin. Orang-orang arif dan bijak sangat memahami bahwa seharusnya musibah ini tidak perlu disesalkan tetapi sepatutnya disyukuri,

وعسى أن تكرهوا شيئا و هو خير لكم…(البقرة: 216)

“…dan boleh jadi kamu membenci sesuatu sementara ia baik bagimu…”

Di balik tangisan hamba atas kesusahan yang menimpanya, tersimpan keridhoan dan ampunan sebab Allah sangat menyukai tangisan dan rengekan dari makhluk yang dibuat dengan tangan-Nya sendiri yang bernama manusia ini.

إذا اشتكى المؤمن أخلصه الله من ذنوبه كما يخلص الكير خبث الحديد (رواه البخاري)

“Jika seorang mukmin merintih (karena kesusahan dan kesakitan) Allah membersihkannya dari dosa-dosanya sebagaiamana ubupan membersihkan karat-karat besi.”

Mari kita sedikit menggali rahasia di balik musibah ini: 1) Pertama, seharusnya orang yang tertimpa musibah patut berterima kasih kepada Allah sebab tak ubahnya orang yang tertimpa musibah dengan Allah adalah seperti pasien dengan dokter. Dokter mengamputasi salah satu organ tubuh orang yang sakit agar ia memperoleh kesembuhan. Begitu pula Allah, telah mengambil harta dan sebagian sanak keluarga kita karena di situ ada kesembuhan untuk kita dari penyakit yang bernama ghaflah (lalai daripada Allah).

Harta, anak-anak dan keluarga mungkin selama ini memang telah membuat kita lalai dari mengingat Allah. Kita mungkin telah banyak meninggalkan shalat dan dzikir karena sibuk mengejar dunia untuk mengenyangkan perut anak-anak kita dan memuaskan nafsu dunia istri-istri kita. Allah Swt berfirman:

و اعلموا أنما أموالكم و أولادكم فتنة…(الأنفال: 28)

“…dan ketahuilah bahwasanya harta-harta dan anak-anak kamu adalah fitnah…”

Di sini Allah ingin menegur kita dengan berbagai marabahaya itu, bukan ingin menindih kita. Persis seperti ketika anda berjalan bersama wanita kekasih anda dan anda melihat kepada wanita lain selain dia maka dia akan mencubit anda agar anda menoleh kembali kepadanya. Seperti itu pulalah Allah kepada kita agar kita kembali kepadanya.

Coba deh buka Alqur’an, lihatlah ayat-ayat yang menceritakan tentang marabahaya atau bala’ yang menimpa kaum muslimin! Allah membahasakannya dengan “مس“ (menyentuh), bukan semata-mata “عذب” (mengadzab).

و إن يمسسك الله بضر فلا كاشف له إلا هو… (الأنعام: 17)

“Dan jika Allah menyentuhmu dengan marabahaya maka tidak ada yang dapat menghilangkannya melainkan Dia (Allah)…”

و إذا مس الإنسان ضر دعا ربه منيبا إليه… (سورة الزمر:8)

“Dan jika marabahaya menyentuh manusia iapun berdoa dan kembali kepada Tuhannya.”

و إذا مس الإنسان ضر دعانا لجنبه أو قاعدا أو قائما (سورة يونس:12)

“Dan jika marabahaya menyentuh manusia dia berdoa kepada kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri…”

Kembali kepada-Nya, itulah maksud Allah ketika menurunkan musibah kepada hamba-hambanya.

الذين إذا أصابتهم مصيبة قالوا إنا لله و إنا إليه راجعون (البقرة:156)

“Yaitu orang-orang yang jika tertimpa musibah mereka mengatakan sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nyalah kami kembali.”

2) Kedua, bukan hanya mengembalikan perhatian kita kepada-Nya, tetapi juga Allah pasti ingin menghapus dosa-dosa kita dengan bala’ atau musibah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ما من مصيبة يصاب بها المسلم إلا كفر بها عنه حتى الشوكة يشاكها (رواه مسلم)

“Tidaklah daripada musibah yang menimpa seorang muslim melainkan dibersihkan dosa-dosanya dengan musibah itu bahkan sampai sebab duri yang menusuknya sekalipun.”

Apa bedanya adzab yang akan dirasakan seorang hamba di akhirat kelak, atau di dunia, kedua-duanya seorang hamba akan merasakan sakit. Hanya saja Allah sangat suka untuk menyegerakan kaffarat dosa-dosa hambanya kaum muslimin di dunia daripada mereka harus menanggungnya di akhirat dengan rasa sakit yang jauh berlipat ganda.

أمتي هذه أمة مرحومة ليس عليها عذاب في الأخرة إنما عذابها في الدنيا الفتن و الزلزال و القتل و البلايا (رواه أبو داود و أحمد و أبو يعلى)

“Umatku ini adalah umat yang dirahmati, adzabnya bukan di akhirat melainkan adzabnya di dunia berupa fitnah, gempa, pembunuhan dan bala’.”

Lalu bagaimana dengan anak-anak kecil?! Bukankah mereka tidak memiliki dosa?! Mengapa mereka ikut menjadi korban juga?! Jawabnya adalah dengan musibah itu, bukan untuk mengampuni dosa-dosa anak kecil itu, tetapi untuk mengampuni dosa-dosa kedua orang tuanya. Inilah yang ditafsirkan oleh Imam Syafi’i rahimahullah atas ayat ke 155 surat Al Baqarah di atas bahwa الثمرات di atas tafsirnya adalah buah hati yaitu anak-anak. Imam Syafi’i menafsirkan demikian berdasarkan Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إذا مات ولد العبد قال الله للملائكة: أقبضتم ولد عبدي؟ فيقولون نعم. فيقول الله تعالى: أقبضتم ثمرة قلبه؟ فيقولون نعم. فيقول الله تعالى: ماذا قال؟ فيقولون: حمدك و استرجع, فيقول الله: ابنوا لعبدي بيتا في الجنة و سموه بيت الحمد ( البحر المديد في تفسير القرأن لإبن عجيبة ص: 152 ج: 1 )

“Jika mati seorang anak hamba maka Allah berfirman kepada para malaikat: Apakah kalian sudah mengambil nyawa anak hambaku? Malaikat menjawab ya. Allah berfirman lagi (untuk menguatkannya): Apakah kalian sudah mengambil nyawa buah hati hambaku? Malaikat menjawab: ya. Allah berfirman: Apa yang dikatakan hambaku itu? Malaikat menjawab: Ia malah memuji Engkau dan kembali (kepada-Mu). Maka Allah berfirman: Kalian bangunkanlah untuk hambaku itu sebuah rumah di surga dan namakanlah ia dengan rumah al-hamd.”

Lalu bagaimana dengan orang-orang shaleh yang sudah diampuni dosanya?! Mengapa mereka tertimpa musibah juga?! Jawabnya adalah jika seseorang tidak memiliki dosa, maka musibah itu akan mengangkat derajat bagi seorang hamba yang shaleh itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ما يصيب المؤمن من شوكة فما فوقها إلا رفعه الله درجة أو حط عنه بها خطيئة (رواه مسلم)

“Tidaklah menimpa seorang mukmin sesuatu daripada duri dan yang lebih besar daripadanya melainkan Allah mengangkatnya satu derajat atau dihapuskan daripadanya kesalahan.”

Ada pertanyaan lagi jika memang musibah atau adzab itu berfungsi untuk membersihkan dosa-dosa para hamba, lalu kenapa justru musibah itu tidak di turunkan saja di Jakarta, Bandung, Surabaya atau kota-kota lainnya yang lebih hebat kemaksiatannya?! Bukankah mereka lebih perlu untuk diturunkan adzab agar bersih dosa-dosanya?! Jawabnya adalah firman Allah Swt:

فيغفر لمن يشاء و يعذب من يشاء و الله على كل شيء قدير (البقرة:284)

“Dan Allah mengampuni siapa-siapa yang dikehendaki-Nya dan mengadzab siapa-siapa yang dikehendakinya dan Allah meha kuasa atas segala sesuatu.”

Kuasa kita hanya terbatas pada ilmu dan pengetahuan kita yang sempit ini. Apa hak kita mengatur dan mempertanyakan Allah, kenapa bala’ tidak turun di sini saja, kenapa bala’ tidak turun di sana saja?! Sementara Allah maha kuasa dan ikmunya yang tak terbatas itu melingkupi segala sesuatu.lebih tahu daripada kita, mana-mana negeri yang pantas untuk diturunkannya adzab, mana-mana negeri yang pantas untuk diampuninya, dan mana-mana negeri yang pantas untuk dibiarkannya. Bisa jadi kota-kota yang belum diturunkan Allah adzab itu hanya bersifat penundaan saja, mungkin besok, lusa, bulan depan atau bebarapa tahun yang akan datang, giliran kota kita yang akan ditimpakan Allah bencana-bencana ini. Atau bisa jadi penundaan itu karena istidraj dari Allah ke atas kita. Kita di biarkan Allah berbuat semaunya hingga sampai batas waktu yang telah ditentukan, apakah di akhirat ataupun di dunia, Allah langsung mengadzab kita sekuat-kuatnya dengan balasan yang justru jauh berlipat ganda.

Bersyukurlah kaum muslimin yang disegerakan Allah adzabnya di dunia. Sebab akan terhindar dari adzab di akhirat yang lebih keras lagi siksanya. Maka saya menyimpulkan bahwa penduduk Padang dan Aceh lebih dicintai dan diridhoi Allah daripada penduduk kota-kota lainnya, sebab dengan menyegerakan adzabnya, itu berarti Allah telah meringankan balasannya atau bahkan telah mengampuni dosa mereka semua. Subhanallah…Amin…Allahumma amin…

إن عظم الجزاء مع عظم البلاء, و إن الله إذا أحب قوما ابتلاهم, فمن رضي فله الرضا, و من سخط فله السخط (أخرجه الترمذي و ابن ماجة)

“Sesungguhnya besarnya pahala berdasarkan besarnya bala’ (ujian), dan sesungguhnya Allah jika mencintai suatu kaum maka diturunkannya bala’ atas mereka. Siapa yang ridha maka baginya ridha (Allah) dan siapa yang marah maka baginya kemarahan (Allah).”

Pertanyaan terakhir, kalaulah memang mushibah atau adzab itu untuk membersihkan dosa-dosa, kenapa toh ternyata juga diturunkan di negara-negara kafir seperti gempa di Jepang dan Badai Katrina di Amerika Serikat?

Jawabannya adalah karena hakekat musibah itu bukan hanya untuk mengingatkan dan membersihkan dosa-dosa para hamba sebagaimana yang berlaku atas kaum muslimin di atas, tetapi juga untuk menghukum makhluk-makhluk durhaka yang sudah kelewat batas yang tidak bisa diampuni lagi dosa-dosanya. Itulah mereka orang-orang kafir. Sudah melakukan kezaliman kepada Allah dengan menyekutukan-Nya, malah suka melakukan kemaksiatan dan menzhalimi makhluk Allah pula.

و أما من تولى و كفر فيعذبه الله العذاب الأكبر (الغاشية: 24)

“Dan adapun yang berpaling lagi kafir, maka Allah mengadzabnya dengan adzab yang paling besar”

Dan adzab yang paling besar itu dapat dipastikan bukan pembersihan, melainkan itu benar-benar hukuman, sebab apanya lagi yang mau dibersihkan dan diampuni dari orang-orang kafir?!

Tuhannya saja sudah dia zalimi dengan kesyirikannya, apalagi makhluk-makhluk Tuhannya.

إن الله لا يغفر أن يشرك به و يغفر ما دون ذالك…(النساء:48)

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa-dosa orang) yang menyekutukannya dan mengampuni (dosa-dosa) yang selain itu…”

Toh kalaupun mereka melakukan amal dan ditimpa ujian, tetap tidak dapat menutupi dan menebus dosa-dosa penyekutuan mereka terhadap Tuhannya. Sebab dosa menyekutukan Tuhan dari seorang makhluk itu sangat besar dan tidak terampuni jika belum bertaubat. Pahala, ampunan dan kebaikan itu terhalangi oleh kesyirikan. Jadi tujuan penurunan bala’ sebagai pembersihan dosa (الكفرات) tidak dapat terealisasi selama mereka masih dalam kekafiran. Maka dapat dipastikan bahwa bala’ yang ditimpakan kepada mereka adalah benar-benar hukuman (العقاب).

Mari kita renungkan beberapa ayat di bawah ini:

إنه من يشرك بالله فقد حرمه الله عليه الجنة و مأواه النار وما للظالمين من أنصار (المائدة:72)

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya adalah di neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolongpun.” (Al-Ma-idah: 72)

و قدمنا إلى ما عملوا من عمل فجعلناه هباء منثورا (الفرقان: 23)

“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan…” (Al-Furqaan: 23)

و الذين كذبوا بأيتنا و لقاء الأخرة حبطت أعمالهم (الأعراف: 147)

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mendustakan akan menemui akhirat, sia-sialah perbuatan mereka…” (Al-A’raaf : 147)

Subhanallah…itulah yang terjadi pada kaum Saba’, kaum Sodom, kaum Madyan, kaum Fir’aun, kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam, kaum Nabi Shaleh ‘alaihissalam. dan kaum-kaum para nabi lainnya sebelum kaum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam . Adzab itu benar-benar ditimpakan ke atas mereka dengan makna hukuman yang sebenar-benarnya. Sampai-sampai Alquran telah mencap mereka sebagai kaum yang fasiq, kufur, zhalim dan sebagainya seolah-olah tidak ada ampunan lagi bagi mereka.

Adapun umat Sayyidina Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam ini sangat dirahmati dan disayangi Allah Ta’ala. Adzab-adzab yang ditimpakan kepada mereka tidak sedahsya t adzab-adzab yang ditimpakan kepada umat-umat nabi-nabi terdahulu. Adzab yang diturunkan kepada kaum muslimin umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ini hanya setitik saja. Sampai-sampai Allah membahasakannya dengan sentuhan (المس)

Coba deh kita lihat gempa yang yang menimpa kota Padang, ternyata tidak semua orang Islam tewas di sana, hanya sebahagian kecil saja. Tidak semuanya terluka, hanya beberapa ribu saja. Sungguh menakjubkan. Seolah-olah memang Allah benar-benar ingin menyapa dan menegur kita. Kalaulah Allah benar-benar ingin menghukum dan membalas kita, pastilah kita semua akan dimusnahkan-Nya.

Atau coba deh lihat tsunami di Aceh kemaren, juga tidak semuanya penduduk Aceh ditimpakan bala’ oleh Allah. Dan lihatlah jauh ke belakang dari zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan hingga sekarang. Belum pernah Allah menimpakan adzab yang begitu besar hingga menewaskan lebih dari 50 persen umatnya ini. Sangat berbeda dengan apa yang terjadi para umat-umat para nabi sebelum Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, biasanya hampir 90 persen atau sebahagian besar umat-umat para nabi terdahulu itu dimusnahkan oleh Allah Ta’ala, hingga yang tersisa hanya beberapa persen atau beberapa puluh atau ratus orang saja yang masih dibiarkan hidup.

Sungguh-sungguh Allah memang bukan hendak mengadzab kita dengan adzab yang sebenar-benarnya, tetapi Allah hanya ingin menegur kita. Mungkin sebab karena masih ada jasad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah-tengah kita hingga Allah tidak pernah berkenan untuk mengadzab Umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ini.

وما كان الله ليعذبهم و أنت فيهم…(الأنفال:33)

“Dan Allah tidak hendak akan menyiksa mereka (umatmu Wahai Muhammad) sementara engkau berada di tengah-tengah mereka.”

Subhanallah walhamdulillah, kita harus bersyukur telah dijadikan Allah menjadi umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kita harus berterima kasih kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebab berkat keberadaan beliau kita menjadi hamba yang senantiasa amal dan mushibah yang menimpa kita menjadi kaffarat atas dosa-dosa kita.

Saudara-saudaraku yang senantiasa diampuni Allah… Ada sebahagian orang egois yang menafikan hikmah ini semua. Mereka berkata bahwa tidak layak bagi kita untuk mengaitkan bencana alam ini dengan dosa-dosa para penduduknya terlebih dalam suasana duka seperti ini, hanya akan menyinggung perasaan para korban gempa saja, sebab mereka merasa telah disudutkan.

Sungguh kalam ini sangat naïf dan picik. Justru kalau kita tidak mengaitkan peristiwa bencana ini dengan dosa-dosa kita malah akan membuat tujuan Allah menurunkan musibah ini menjadi tidak terealisasi, yaitu mengingatkan para hambanya untuk tidak mengulangi dosa-dosanya lagi dan yang belum melakukannya untuk tidak melakukannya. Para Rasul dan Anbiya’ yang arif dan bijak saja dahulu senantiasa mengingatkan umatnya bahwa bala’ yang menimpa adalah akibat dari kemarahan Allah atas perbuatan dosa dan maksiat.

Begitu pula Alquran tak ketinggalan untuk mengkaitkan antara kehancuran negeri-negeri umat terdahulu dengan perbuatan para penghuninya. Dan sebaliknya mengkait-kaitkan bahwa ketentraman dan kesejahteraan suatu negeri itu adalah karena ketaatan dan ketundukan para penduduknya.

Dengan tidak mengurangi simpati dan empati kepada para korban gempa di Sumatera Barat, di sini bukan maksud saya untuk menjelek-jelekkan mereka. Tetapi ini adalah kesempatan emas bagi kita untuk melakukan muhasabah atas dosa-dosa yang telah kita lakukan. Bagaimana kita bisa bermuhasabah kalau tidak ada dosa-dosa yang kita sadari, dan bagaiamana kita bisa menyadari, kalau tidak ada yang mengingatkan. Nah…izinkanlah saya untuk hanya sekedar mengingatkan Saudara-saudaraku sekalian, baik yang tertimpa musibah maupun yang belum tertimpa musibah di kota-kota lainnya.

Saya hanya ingin mengatakan bahwa memang alam Indonesia sudah tidak lagi bersahabat dengan penduduknya. Berkali-kali sudah alam ini membantai kita, tetapi terus saja Allah menurunkan bala’nya, dan menurunkan lagi dan terus demikian. Tidak tahu hingga sampai kapan berakhirnya bencana-bencana ini. Mungkin ini disebabkan karena tidak ada perubahan dalam diri kita. Mungkin itu akibat kita hanya menganggap bencana-bencana itu hanya fenomena alam biasa yang tidak membawa pesan apa-apa.

Atau memang kita menganggap dan sadar bahwa itu teguran Tuhan, kita menangis menyesali dosa-dosa kita, tetapi air mata yang jatuh dari mata kita hanya berlangsung selama beberapa hari saja. Kesedihan kita hanya bersifat sementara. Setelah itu kita kembali melakukan kemaksiatan, kita kembali memakan riba dan harta haram, kita kembali menzalimi orang, kita kembali berzina, kita kembali tidak melakukan shalat, kita kembali melupakan Allah. Apalah artinya kesedihan ini, jika sifatnya hanya sementara. Jika ia tidak membawa perubahan. Buayapun ketika bersedih, matanya akan mengeluarkan air mata. Apa bedanya kita dengan buaya. Sungguh-sungguh kita telah tertipu dan terbuai dengan kesedihan kita.

Benar sekali kata Ibnu Atha’illah As-Sakandari ulama shufi abad ketujuh Hijriyah yang berkata, ”Sering bersedih karena perbuatan dosa tanpa ada upaya untuk meninggalkannya sungguh kamu tertipu dan terbuai dengan kesedihanmu dan sering bersedih karena tidak melakukakan perbuatan ta’at tanpa ada upaya untuk melakukannya, sungguh lagi-lagi kamu tertipu dan terbuai dengan kesedihanmu.” (Baca Hikam Ibnu Atha’)

Seharusnya bencana tsunami di Aceh kemaren sudah cukup untuk mengingatkan kaum muslimin Indonesia di tempat-tempat lainnya. Bahwa perbuatan dosa akan mendatangkan bala’ dan bencana. Tetapi ternyata tidak demikian, kita pandainya hanya bersimpati dan berempati, menyampaikan bela sungkawa dan mengirimkan rangkaian bunga. Semua itu hanya seremonial belaka. Di belakang itu kita tetap tertawa terbahak-bahak, tetap menikmati harta riba, tetap menikmati tubuh-tubuh molek para wanita, tetap menikmati musik-musik yang diharamkan Allah, tetap menikmati tidur nyenyak kita di waktu-waktu akhir sepertiga malam ketika Tuhan menunggu hamba-Nya memohon ampunan.

Maka jangan heran, pasca-tsunami Aceh kemaren, Allah tetap saja menurunkan bencana terus-menerus di setiap kota di Indoensia. Di mulai dari Nias, Yogya, Porong, Situ Gintung, Tasik Malaya, Mandailing Natal, Jambi dan terakhir Padang serta masih banyak lagi yang belum saya sebutkan seperti musibah-musibah kebakaran hutan, kerusakan alam bawah laut, banjir, kekeringan, kecelakaan dan sebagainya. Sebab kita membeo atas peringatan-perinagatan Allah. Maka jangan terkejut jika suatu saat nanti bencana alam akan menimpa kota atau kampung kita, jika kita terus berdiam diri tanpa ada melakukan usaha perubahan. Wa na’udzubillah.

Terakhir…penulis ingin mengajak para pembaca sekalian untuk merenungi beberapa hadits di bawah ini. Sebelum gempa mendatangi kota-kota kita, alangkah baiknya jika kita mencegah sebabnya terlebih dahulu sebab mencegah itu lebih baik daripada mengobati.

“Bila perzinahan dan riba (penyelewengan) telah terang-terangan dilakukan oleh penduduk suatu negeri maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan bagi diri mereka untuk terkena azab Allah.” (Hadits Riwayat Bukhari)

“Dan menuturkan Ibnu Abi Ad-Dunya dari Anas bin Malik, bahwasanya beliau bertanya kepada A’isyah, Wahai Ummul Mu’minin: Katakan kepada kami tentang gempa, maka A’isyah berkata: Ketika para manusia telah membolehkan zina, meminum khamar dan menabuh alat-alat musik. Maka Allah berkata kepada bumi: Bergoncanglah hingga mereka bertaubat dan meninggalkan (kemaksiatan) mereka. Dan apabila tidak, maka binasakan mereka!”

Kami teringat kalam guru kami, Al Ustadz Al Fadhil Rohimuddin Nawawi Al Bantani ‘athalallahu ‘umrahu, “Seorang hamba yang cerdas adalah hamba yang segera membersihkan dosa-dosanya dengan taubat, bukan menunggu Allah yang akan membersihkan dosa-dosanya dengan mushibat.”

Wallahu a’lam…

Al-faqir ila maghfirati Rabbih

Muhammad Haris F. Lubis Pelajar Universitas Al Azhar Fak. Syariah wal Qanun Kairo Penulis aktif di Darul Hasani Centre for Islamic Tasawuf Studies Cairo Email: haris_lbs@yahoo.com

Sumber : Eramuslim

Hisab dengan kriteria (i) konjungsi terjadi sebelum maghrib, (ii) moonset setelah sunset, maka kriteria ini sudah dipenuhi di seluruh wilayah Indonesia. Menurut kriteria ini, 19 September 2009 maghrib sudah dinyatakan sebagai masuknya bulan Syawwal, sehingga 1 Syawwal 1430 H = 20 September 2009. Ramadhan 1430 H terdiri dari 29 hari.

Bulan Ramadhan yang mulia hampir berakhir. Di akhir-akhir bulan Ramadhan ini, sudah semestinya kaum muslimin berupaya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kepada Allah SWT, seperti puasa, shalat wajib dan tarawih, tilawah Quran, i’tikaf, zakat, infaq, shadaqah dan sebagainya. Di 10 hari terakhir Ramadhan terdapat satu malam yang disebut Lailatul Qadar yang lebih baik daripada 1000 bulan.

Berakhirnya bulan Ramadhan bersamaan dengan datangnya bulan Syawwal. Dalam kesempatan ini, penulis akan menjelaskan tentang hisab yang berkaitan dengan 1 Syawwal 1430 H. Tulisan ini semoga menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi kaum muslimin, serta pedoman bagi siapa yang ingin melakukan rukyatul hilal (pengamatan hilal) sebagai tanda datangnya bulan baru (new month).

Istilah-istilah bulan

Terlebih dahulu, penulis ingin memberikan sedikit gambaran perbedaan sederhana tentang kata “bulan”. Dalam bahasa Indonesia, “bulan” sering dipakai untuk tiga kata yang berbeda, dimana padanannya dalam bahasa Inggris adalah “moon”, “month” dan “crescent”. Kadang-kadang orang sering tertukar ketika menggunakan istilah “bulan baru”. Karena itu dalam tulisan ini penulis terkadang menggunakan pula padanan bahasa Inggrisnya.

Bulan (moon, lunar atau al-qamar) berarti benda langit yang menjadi satelit bumi dan tidak memiliki cahaya sendiri. Cahaya bulan (moon light) berasal dari pantulan sinar matahari yang jatuh ke permukaan bulan (moon surface) dan dilihat oleh manusia di bumi. Istilah new moon berarti saat ketika bulan (moon) dan matahari berada pada bujur ekliptika yang sama.

Bulan (month atau asy-syahru) juga bermakna satuan waktu yang digunakan dalam kalender, baik kalender Masehi (Gregorian), Islam (Hijriyah) maupun kalender lainnya. Contoh bulan Islam (Islamic month) adalah bulan Ramadhan dan Syawwal. Penentuan datangnya bulan Islam (Islamic month) adalah berdasarkan posisi bulan (moon position).

Bulan atau tepatnya bulan sabit (crescent moon atau al-hilal) adalah bagian kecil permukaan bulan (moon surface) yang tampak setelah satu atau dua hari terjadinya fase bulan baru (new moon). Istilah new moon berbeda dengan new month.

Setelah ketiga istilah dijelaskan, semoga orang dapat dengan mudah membedakan ketiga jenis “bulan”, seperti misalnya pada tulisan berikut. Ilmu hisab berguna untuk menentukan posisi bulan (moon), mengetahui kapan terjadinya fase bulan baru (new moon) serta untuk memprediksi kapan terlihatnya bulan (crescent atau hilal) sebagai syarat datangnya bulan baru (new month).

Fase Bulan baru (New Moon, bukan New Month)

Pertama kali, akan ditentukan dahulu kapan jatuhnya konjungsi geosentrik (ijtima’ atau new moon), yaitu ketika bujur ekliptika bulan (moon ecliptical longitude) = bujur ekliptika matahari dengan pusat bumi sebagai titik O. New moon merupakan satu dari empat fase-fase bulan (moon phases), seperti telah penulis jelaskan dalam tulisan sebelumnya tentang FASE-FASE BULAN. Silakan gunakan file Excel untuk menentukan kapan terjadinya fase-fase bulan dengan menggunakan algoritma Meeus yang dapat diunduh di

http://www.4shared.com/file/124301305/39f0c820/fase-bulan.html

Dengan mengisi bulan Hijriyah 10 dan tahun Hijriyah 1430, diperoleh bulan baru (new moon) terjadi pada tanggal 18 September 2009 pukul 18:44:19 UT (atau GMT) atau sama dengan tanggal 19 September 2009 pukul 01:44:19 WIB (karena WIB = UT + 7). Waktu ini hanya berbeda 1 detik dengan hasil perhitungan menurut algoritma VSOP dan ELP yang memberikan hasil pukul 18:44:18 UT.

Sementara itu, dengan menggunakan file Excel untuk menentukan posisi bulan dan matahari menggunakan algoritma Meeus, peristiwa konjungsi geosentrik terjadi pada pada tanggal 19 September 2009 pukul 01:44:12 WIB atau 18 September 2009 pukul 18:44:12 UT. Pada saat itu, bujur ekliptika bulan nampak (apparent moon ecliptical longitude) = bujur ekliptika matahari nampak = 175:59:02 derajat (175 derajat 59 menit busur 2 detik busur). Disini, waktunya hanya berselisih 6 detik dengan hasil perhitungan algoritma VSOP dan ELP. Adanya perbedaan kecil ini disebabkan suku-suku koreksi algoritma Meeus tidak sebanyak dan selengkap algoritma VSOP dan ELP. Insya Allah pada kesempatan mendatang, penulis akan menjelaskan metode menentukan posisi bulan dan matahari menggunakan algoritma Meeus. File Excel untuk menentukan posisi bulan dan matahari menggunakan algoritma Meeus dapat diunduh di

http://www.4shared.com/file/132303792/742cb339/Posisi-Bulan-Matahari-Algoritma-Meeus.html

Sebagai kesimpulan, jika dibulatkan ke menit terdekat, fase bulan baru (new moon, bukan new month) geosentrik untuk datangnya bulan Syawwal (month of Syawwal) terjadi pada tanggal 18 September 2009 pukul 18:44 UT atau 19 September 2009 pukul 01:44 WIB (Waktu Indonesia Barat). Fase bulan baru (new moon) sebelumnya untuk datangnya bulan Ramadhan terjadi pada tanggal 20 Agustus 2009 pukul 17:01 WIB. Hal ini berarti, rentang waktu dari fase bulan baru ke bulan baru berikutnya pada lunasi bulan Ramadhan adalah selama 29 hari 8 jam 43 menit. Ini lebih cepat sekitar 4 jam dari lama rata-rata satu bulan sinodik (synodic period of the moon) sebesar 29 hari 12 jam 44 menit 3 detik. Karena rentang waktu tersebut (29 hari 8 jam 43 menit) lebih dekat ke 29 hari daripada ke 30 hari, setidak-tidaknya hal ini memberikan kemungkinan bahwa di beberapa tempat di penjuru dunia, Ramadhan 1430 H hanya sebanyak 29 hari. Tetapi untuk lebih detil dan jelasnya, harus dihitung berbagai posisi bulan dan matahari yang dijelaskan di bawah ini.

29 Ramadhan 1430 H

Di Indonesia, pemerintah menetapkan 1 Ramadhan 1430 H jatuh pada hari Sabtu, 22 Agustus 2009. Silakan lihat tulisan penulis sebelumnya tentang Hisab 1 Ramadhan 1430 H. Perlu diketahui, pemerintah menetapkan tanggal 1 Ramadhan dengan kriteria rukyatul hilal, namun menetapkan tanggal 1 Sya’ban dengan kriteria hisab MABIMS. Ada perbedaan tanggal antara hisab MABIMS (1 Sya’ban 1430 H = 23 Juli 2009) dengan rukyat (1 Sya’ban 1430 H = 24 Juli 2009) dalam penetapan 1 Sya’ban 1430 H. Namun kedua kriteria tersebut menghasilkan tanggal yang sama dalam penetapan 1 Ramadhan 1430 H, yaitu 22 Agustus 2009.

Perbedaannya lagi adalah, dengan kriteria hisab MABIMS untuk 1 Sya’ban, maka rukyat untuk 1 Ramadhan 1430 H dilaksanakan pada tanggal 20 Agustus 2009 maghrib. Karena rukyat saat itu gagal melihat hilal (sebab ketinggian masih negatif) sehingga dilakukan istikmal dan akhirnya ditetapkan 1 Ramadhan 1430 H = 22 Agustus 2009. Dengan kriteria MABIMS ini, Sya’ban 1430 terdiri dari 30 hari. Sementara itu, pengguna rukyat secara konsusten (misalnya ormas Nahdhatul Ulama) yang menyatakan bahwa 1 Sya’ban 1430 H = 24 Juli 2009, mengadakan rukyat pada tanggal 21 Agustus 2009 (karena bersesuaian dengan 29 Sya’ban 1430 H). Saat rukyat dilakukan, hilal terlihat dengan jelas, karena memang posisi hilal sangat memungkinkan untuk dilihat.

Sehingga, dengan penetapan 1 Ramadhan 1430 H = 22 Agustus 2009, maka tanggal 29 Ramadhan 1430 H = hari Sabtu 19 September 2009. Karena itu, perhitungan hisab dan pengamatan rukyat difokuskan pada hari Sabtu sore tanggal 19 September 2009 saat matahari terbenam (sunset atau maghrib). Mengingat konjungsi terjadi pada 19 September 2009 pukul 01:44 WIB atau waktu dini hari, ada rentang waktu sekitar 16 jam bagi bulan (moon) untuk bisa nampak sebagai hilal (crescent) pada waktu maghrib. Seperti diketahui, selama rentang satu hari, bulan (moon) bergerak lebih lambat daripada matahari. Maksudnya, matahari berada pada satu posisi di langit pada waktu tertentu dan 24 jam kemudian posisi matahari relatif kembali ke posisi atau di dekat posisi tersebut sebelumnya. Sementara, bulan (moon) rata-rata membutuhkan waktu sekitar 24 jam 50 menit untuk bisa relatif kembali ke posisi sebelumnya.

19 September 2009 maghrib

Selanjutnya, perhitungan akan dilakukan lebih detil untuk menentukan posisi bulan (moon) dan matahari pada 19 September 2009 maghrib. Kita akan mengambil Jakarta (106:51 BT, 6:10 LS, 0 meter, UT + 7) sebagai posisi acuan.

Di Jakarta, pada tanggal 19 September 2009 matahari terbenam pada pukul 17:49:07 WIB. Hal ini disebabkan pada waktu tersebut, ketinggian sejati (true altitude) matahari adalah minus 0:49:55 derajat (minus 49 menit busur 55 detik busur) dan sudut jari-jari matahari adalah 0:15:55 derajat (15 menit busur 55 detik busur) sehingga memenuhi hubungan: true altitude = minus 0:34:00 derajat dikurangi sudut jari-jari matahari. Disini, minus 0:34:00 derajat (minus 34 menit busur) adalah koreksi ketinggian benda langit di horison oleh pembiasan atmosfer untuk keadaan standar (tekanan 1010 mbar dan suhu 10 derajat C di permukaan laut). Pada waktu tersebut, posisi azimuth matahari adalah 271:15:16 derajat atau sekitar satu seperempat derajat di sebelah kanan titik arah barat.

Untuk menghitung ketinggian nampak (apparent altitude) matahari saat terbenam, maka tinggal ditambahkan saja dengan faktor koreksi pembiasan atmosfer sebesar 0:34:00 derajat. Jadi ketinggian nampak matahari saat terbenam adalah minus 0:15:55 derajat yang tepat sama dengan minus sudut jari-jari matahari. Artinya yang nampak oleh manusia, saat matahari terbenam, bagian cakram/piringan atas matahari berada pada ketinggian 0 derajat sehingga titik pusat matahari adalah minus 0:15:55 derajat. Adapun untuk azimuth matahari praktis tidak mengalami faktor pembiasan atmosfer.

Bagaimanakah posisi bulan (moon) saat matahari terbenam? Saat itu, ketinggian sejati bulan (moon) adalah positif 6:17:25 derajat. Selisih ketinggian sejati bulan dengan matahari adalah positif 7:07:20 derajat. Azimuth bulan saat itu adalah 264:05:37 derajat sehingga selisih azimuth bulan dengan matahari adalah 7:09:39 derajat. Posisi bulan terletak sekitar tujuh derajat di sebelah kiri matahari.

Faktor pembiasan atmosfer untuk true altitude bulan tersebut adalah sebesar 0:08:05 derajat, sehingga titik pusat bulan nampak oleh mata manusia pada apparent altitude 6:17:25 + 0:08:05 = positif 6:25:30 derajat. Karena itu selisih ketinggian nampak bulan dan matahari adalah 6:25:30 – (- 0:15:55) = positif 6:41:25 derajat. Adapun untuk azimuth bulan praktis juga tidak mengalami faktor pembiasan atmosfer.

Selanjutnya dapat dihitung sudut elongasi antara bulan (moon) dan matahari. Sudut elongasi adalah jarak sudut yang Jika yang digunakan adalah true altitude (ketinggian sejati), maka sudut elongasi antara keduanya adalah 10:05:26 derajat. Adapun jika yang digunakan adalah apparent altitude, maka sudut elongasi antara keduanya adalah 9:47:22 derajat. Posisi bulan (moon) dan matahari saat maghrib di Jakarta dilukiskan pada Gambar 1.

Gambar 1. Posisi apparent altitude (bukan true altitude) dan azimuth bulan dan matahari saat maghrib di Jakarta.

Pada saat matahari terbenam, umur bulan (crescent) sejak konjungsi (new moon) terjadi adalah 16 jam 5 menit. Terakhir, dapat pula dihitung iluminasi bulan (moon) atau banyaknya bagian permukaan cakram bulan yang terkena pantulan cahaya matahari, yang besarnya adalah 0,78%.

Sementara itu, bulan terbenam (moonset) pada pukul 18:14:52 WIB. Hal ini disebabkan, terpenuhinya relasi saat bulan terbenam: true altitude = 0,7275*Sudut Paralaks – 0:34:00, dimana saat itu Sudut Paralaks bulan = 0:59:09 derajat dan true altitude = 0:09:00 derajat (positif 9 menit busur). Jadi, selisih (time lag) antara matahari terbenam (sunset) dengan bulan terbenam (moonset) adalah 25 menit 45 detik.

Dari penjelasan di atas, dapat diambil kesimpulan (sudut dibulatkan ke derajat terdekat, waktu ke jam dan menit) bahwa di Jakarta :

  • – Konjungsi geosentrik terjadi pada tanggal 19 September 2009 pukul 01: 44 WIB.
  • – Saat matahari terbenam (17:49 WIB), umur bulan setelah fase konjungsi geosentrik adalah sekitar 16 jam 5 menit.
  • – Apparent altitude bulan (moon) saat maghrib adalah sekitar 6 derajat di atas ufuk.
  • – Posisi azimuth bulan saat maghrib kira-kira 7 derajat di sebelah kiri matahari.
  • – Sudut elongasi bulan-matahari saat maghrib adalah sekitar 10 derajat.
  • – Iluminasi bulan saat maghrib adalah 0,78%.
  • – Bulan terbenam (18:15 WIB) kira-kira 26 menit setelah matahari terbenam.

Kota-kota lain di Indonesia

  • Di Jayapura saat matahari terbenam: umur bulan 13 jam 53 menit, apparent altitude bulan sekitar 5 derajat di atas ufuk, sudut elongasi bulan-matahari sekitar 9 derajat, iluminasi bulan 0,62%. Moonset terjadi 19 menit setelah sunset.
  • Di Gorontalo saat maghrib: umur bulan 15 jam 1 menit, apparent altitude bulan sekitar 5,7 derajat di atas ufuk, sudut elongasi bulan-matahari sekitar 9,5 derajat, iluminasi bulan 0,70%. Moonset terjadi 20 menit setelah sunset.
  • Di Surabaya saat maghrib: umur bulan 15 jam 41 menit, apparent altitude bulan sekitar 6,2 derajat di atas ufuk, sudut elongasi bulan-matahari sekitar 10 derajat, iluminasi bulan 0,75%. Moonset terjadi 26 menit setelah sunset.
  • Di Aceh saat maghrib: umur bulan 16 jam 52 menit, apparent altitude bulan sekitar 5 derajat di atas ufuk, sudut elongasi bulan-matahari sekitar 10,5 derajat, iluminasi bulan 0,84%. Moonset terjadi 21 menit setelah sunset.
  • Di Pelabuhan Ratu saat maghrib: umur bulan 16 jam 6 menit, apparent altitude bulan sekitar 7 derajat di atas ufuk, sudut elongasi bulan-matahari sekitar 10 derajat, iluminasi bulan 0,78%. Moonset terjadi 26 menit setelah sunset.

Kriteria hisab

Jika masuknya bulan baru (new month) menggunakan kriteria hisab, maka

  • 1) Hisab dengan kriteria (i) konjungsi terjadi sebelum maghrib, (ii) moonset setelah sunset, maka kriteria ini sudah dipenuhi di seluruh wilayah Indonesia. Menurut kriteria ini, 19 September 2009 maghrib sudah dinyatakan sebagai masuknya bulan Syawwal, sehingga 1 Syawwal 1430 H = 20 September 2009. Ramadhan 1430 H terdiri dari 29 hari.
  • 2) Hisab dengan kriteria MABIMS (i) saat maghrib umur hilal lebih dari 8 jam setelah konjungsi, (ii) altitude hilal lebih dari 2 derajat, (iii) sudut elongasi lebih dari 3 derajat, maka kriteria ini sudah dipenuhi di seluruh wilayah Indonesia. Di Indonesia, umur hilal saat maghrib berkisar antara 14 – 16 jam, tinggi hilal antara 5 – 7 derajat, dan sudut elongasi antara 9 – 10,5 derajat. Menurut kriteria ini, 19 September 2009 maghrib sudah dinyatakan sebagai masuknya bulan Syawwal, sehingga 1 Syawwal 1430 H = 20 September 2009. Ramadhan 1430 H terdiri dari 29 hari.
  • 3) Hisab dengan kriteria limit Danjon: (i) konjungsi terjadi sebelum maghrib, (ii) moonset setelah sunset, (iii) sudut elongasi bulan-matahari lebih dari 7 derajat (iv) iluminasi bulan (moon) di atas 1%, maka tiga syarat pertama {(i), (ii) dan (iii)} terpenuhi sedangkan syarat (iv) tidak terpenuhi.

Prediksi rukyat

Pelaksanaan rukyat dilaksanakan pada hari Sabtu, 19 September 2009 menjelang matahari terbenam. Saat matahari terbenam, secara matematis bulan (moon) memang sudah berada di ufuk dengan ketinggian berkisar antara 5 – 7 derajat di seluruh wilayah Indonesia. Posisi hilal terletak di sebelah kiri atas matahari. Sudut elongasi bulan-matahari memang berkisar antara 9 – 10,5 derajat di seluruh wilayah Indonesia. Namun, iluminasi bulan rata-rata di bawah ambang 1%, yaitu sekitar 0,6 – 0,8 %. Menurut Mohamad Odeh (ICOP, Accurate Times), pada kondisi ini berdasarkan statistik rukyat-rukyat sebelumnya, hilal baru bisa dilihat dengan bantuan alat optik.

Dalam hal ini, ada beberapa hal yang penting untuk diketahui dan dipersiapkan, seperti posisi bulan dan matahari, bantuan alat untuk menentukan arah dan ketinggian benda langit, ketepatan jam penunjuk waktu, posisi tempat pengamatan yang baik serta bebasnya ufuk barat dari berbagai “gangguan ketinggian” seperti gunung, bangunan dan pepohonan. Perlu juga diwaspadai “salah hilal”, maksudnya kesaksian bahwa hilal terlihat, namun sebenarnya jika diselidiki secara ilmiah yang dilihat bukanlah hilal. Beberapa kemungkinan kesalahan, diantaranya adalah posisi “hilal” yang jauh melenceng dari perhitungan, bentuk “hilal” yang menyimpang dari bentuk yang seharusnya berdasarkan posisi bulan (moon) dan matahari, kesaksian terlihatnya “hilal” namun waktu saat itu matahari belum terbenam atau bulan sudah terbenam, dan lain-lain. Untuk menghindari kesalahan, terjaminnya kesahihan pengamatan rukyat, serta kesesuaian antara hisab yang teliti dengan rukyat yang akurat, maka segala data pengamatan perlu dilengkapi, tak ubahnya seperti melakukan eksperimen dan disertai dengan bukti penunjang seperti foto atau video.

Jika hilal kali ini gagal dilihat, maka bisa jadi disebabkan oleh iluminasi bulan yang berada di bawah ambang 1%, serta faktor cuaca dan awan yang cukup sulit diprediksi.

1 Syawwal 1430 H

Pemerintah Indonesia menetapkan 1 Syawwal 1430 H dengan berdasarkan rukyat, maka Hari Raya Iedul Fithri akan jatuh pada hari Ahad, 20 September 2009, jika dalam pelaksanaan rukyat hilal berhasil dilihat . Akan tetapi jika hilal gagal dilihat, maka Iedul Fithri jatuh pada hari Senin, 21 September 2009.

Prediksi 1 Syawwal 1430 H di negara-negara lain

Setelah diberikan penjelasan tentang hisab dan prediksi rukyat di Indonesia, bagaimanakah dengan di negara-negara lain? Penulis akan membaginya ke dalam beberapa bagian, yaitu Asia Timur, ASEAN, Asia Tengah, Timur Tengah, Afrika, Eropa dan Amerika. Untuk informasi kapan jatuhnya 1 Ramadhan 1430 H di berbagai negara, penulis merujuk pada data dari Islamic Crescents’ Observation Project (ICOP) di alamat

http://www.icoproject.org/icop/ram30.html#day

Dalam website tersebut terdapat informasi bahwa mayoritas negara-negara di seluruh dunia memulai Ramadhan 1430 H pada 22 Agustus 2009. Negara Libya, Turki dan Eropa barat di dekat Turki memulai satu hari lebih awal dengan menggunakan kriteria perhitungan astronomi, sedangkan India, Pakistan dan Bangladesh memulai satu hari lebih lambat, berdasarkan 30 hari bulan Sya’ban.

Jepang dan Asia Timur

Di Jepang (UT + 9), dimana penulis tinggal saat ini (kota Fukuoka), 1 Ramadhan jatuh pada hari yang sama dengan di Indonesia, yaitu 22 Agustus. Otoritas muslim Jepang yang memutuskan soal ini adalah Islamic Center of Japan di Tokyo. Pada tanggal 19 September 2009 maghrib, hilal tampaknya mustahil dilihat di seluruh Jepang, mulai dari Sapporo, Tokyo, Osaka, Fukuoka hingga Kagoshima, karena saat maghrib, bulan sudah lebih dahulu terbenam. Sebagai contoh, di Tokyo sunset terjadi pukul 17:44 sedangkan moonset pukul 17:39 waktu setempat atau 5 menit sebelumnya. Di Osaka, moonset (17:56) terjadi 4 menit sebelum sunset (18:00). Di Fukuoka, moonset (18:17) terjadi 3 menit sebelum sunset (18:20). Hanya di Okinawa (kepulauan Jepang selatan) saja, moonset terjadi setelah sunset tetapi itupun hanya berselisih 4 menit saja. Waktu time lag yang singkat ini nampaknya tidak memungkinkan hilal untuk dapat dilihat, bahkan dengan bantuan alat optik.

Sehingga, jika otoritas muslim Jepang memutuskan hanya berdasarkan rukyat di Jepang, perkiraannya Iedul Fithri akan jatuh pada 21 September 2009. Namun, setahu penulis, biasanya otoritas muslim Jepang juga merujuk kepada keputusan negara muslim terdekat, yaitu Malaysia/Indonesia. Dengan demikian bagi muslim di Jepang termasuk penulis, ditunggu saja keputusan dari Islamic Center of Japan.

Di negara-negara Asia Timur lainnya, situasi serupa dengan Jepang terjadi. Di Seoul dan Busan Korea Selatan, Beijing China, moonset sebelum sunset. Di Taipei Taiwan memang moonset setelah sunset sekitar 5 menit tetapi altitude bulan hanya sekitar 1 derajat. Penulis tidak mengetahui bagaimanakah otoritas muslim di negara-negara tersebut memutuskan masuknya bulan Syawwal, apakah berdasarkan hisab, rukyat setempat atau merujuk kepada negara tertentu.

ASEAN dan Australia

Di Malaysia, Brunei dan Singapura, 1 Ramadhan 1430 H juga ditetapkan pada tanggal yang sama, yaitu 22 Agustus 2009. Di Kuala Lumpur Malaysia (UT + 8), moonset (19:32 waktu lokal) terjadi 21 menit setelah sunset (19:11). Tinggi hilal sekitar 5,5 derajat, sudut elongasi bulan-matahari sekitar 10 derajat sehingga di atas ambang Limit Danjon, namun iluminasi hilal hanya 0,81%. Prediksi hilal: dapat dilihat hanya dengan bantuan alat optik.

Di Singapura (UT + 8), keadaan yang hampir sama terjadi. Moonset (19:23 waktu lokal) terjadi 22 menit setelah sunset (19:01). Tinggi hilal sekitar 5,5 derajat, sudut elongasi bulan-matahari sekitar 10 derajat sehingga di atas ambang Limit Danjon, namun iluminasi hilal hanya 0,79%. Prediksi hilal juga sama seperti di Malaysia: dapat dilihat hanya dengan bantuan alat optik.

Nampaknya, keadaan posisi bulan menurut pengamat di Malaysia dan Singapura hampir sama dengan di Indonesia. Penulis memprediksi, negara-negara di ASEAN akan menetapkan keputusan yang sama. Jika hilal berhasil dilihat, Iedul Fithri jatuh pada 20 September 2009.

Di Australia seperti Canberra, Sydney dan Melbourne, hilal nampaknya bisa dilihat dengan bantuan alat optik. Namun di Perth Australia Barat, hilal bisa diamati dengan mata tanpa perlu bantuan alat optik. Kemungkinan otoritas muslim di Australia menetapkan 20 September 2009.

Timur Tengah

Arab Saudi (UT + 3) dan berbagai negara Timur Tengah juga memulai Ramadhan pada tanggal 22 Agustus 2009. Untuk awal Syawwal, walaupun posisi Timur Tengah berada di sebelah barat di Indonesia, ini tidak menjamin hilal akan terlihat lebih tinggi dibandingkan dengan di Indonesia. Di Makkah pada 19 September 2009 maghrib, meski hilal sudah lewat 20,5 jam sejak konjungsi namun ketinggian bulan hanya sekitar 4 derajat di atas ufuk, walaupun sudut elongasi bulan-matahari mencapai 12 derajat. Moonset (18:37 waktu lokal) hanya berselang 17 menit setelah sunset (18:20). Iluminasi bulan sekitar 1,17 %. Jika hilal bisa diamati, Iedul Fithri di Arab Saudi jatuh pada 20 September 2009. Kemungkinan besar, negara-negara Timur Tengah lainnya juga akan mengikuti keputusan Saudi Arabia.

Afrika

Hampir seluruh negara di Afrika memulai Ramadhan pada tanggal 22 Agustus 2009, kecuali Libya. Di Kairo Mesir, hilal Syawwal nampaknya sulit dilihat karena selang waktu antara moonset dengan sunset hanya 10 menit, dan ketinggian hilal hanya 2 derajat, walaupun elongasinya mencapai 12 derajat. Makin ke selatan, hilal semakin besar berpeluang diamati. Di Afrika Selatan menurut kriteria Odeh, hilal mudah dilihat dengan mata, sebab ketinggian hilal mencapai 11 derajat dan selang waktu antara moonset dan sunset mencapai 50 menit.

Khusus untuk Libya (UT + 2), negara ini memulai Ramadhan 1 hari lebih awal yaitu 21 Agustus 2009. Libya menggunakan kriteria bulan baru (new month) dengan konsep new moon, yaitu masuknya new month apabila new moon terjadi sebelum waktu Fajar/subuh. Artinya, jika pada waktu fajar tersebut new moon sudah terjadi maka pada waktu fajar tersebut tanggal 1 bulan baru (new month) dinyatakan masuk. Seperti dijelaskan sebelumnya, new moon untuk Ramadhan terjadi pada 20 Agustus 2009 pukul 17:01 WIB atau pukul 10:01 UT. Karena waktu lokal di Libya adalah UT + 2 (asumsi tidak ada daylight saving time), maka new moon terjadi pada 20 Agustus 2009 pukul 12:01 waktu setempat. Ini berarti pada waktu subuh di Libya tanggal 21 Agustus 2009, new moon sudah terjadi sehingga tanggal tersebut dinyatakan sebagai 1 Ramadhan 1430 H di Libya.

Jadi di Libya, Iedul Fithri akan jatuh pada tanggal 19 September 2009 karena new moon terjadi pada 18 September 2009 pukul 20:44 waktu setempat.

Eropa

Mayoritas otoritas muslim di negara-negara Eropa menetapkan Ramadhan pada 22 Agustus 2009. Meskipun Eropa jauh lebih berada di sebelah barat Indonesia, tetapi ternyata pada 19 September 2009 maghrib, hilal akan mustahil diamati di banyak negara-negara di Eropa. Hal ini disebabkan di berbagai negara-negara di Eropa, bulan sudah lebih terbenam pada saat maghrib. Di London Inggris, moonset terjadi 15 menit sebelum sunset. Di Paris Perancis, 11 menit. Makin ke utara Eropa, moonset makin jauh mendahului sunset. Di Amsterdam Belanda dan Berlin Jerman, 17 menit. Di Moskwa Rusia 25 menit. Di Stockholm Swedia moonset sampai 34 menit lebih dahulu daripada sunset. Di Oslo Norwegia mencapai 36 menit.

Jadi, jika otoritas muslim di masing-masing negara di Eropa memutuskan berdasarkan pengamatan hilal di negara masing-masing, maka Iedul Fithri di Eropa akan jatuh pada 21 September 2009. Lain halnya, jika keputusannya merujuk kepada keputusan suatu negara tertentu.

Khusus untuk Turki, pemerintah di sana menetapkan 1 Ramadhan pada 21 Agustus 2009 berdasarkan perhitungan astronomis. Ini diikuti oleh beberapa negara Eropa barat di dekat Turki seperti Bosnia, Rumania, Albania dan lain-lain. Penulis tidak mengetahui secara persis kriteria apakah yang digunakan di Turki, namun jika sama seperti kriteria Libya, maka Iedul Fithri di Turki juga akan jatuh pada tanggal yang sama seperti di Libya, yaitu 19 September 2009.

Amerika Utara dan Selatan

Otoritas muslim di USA menetapkan Ramadhan pada 22 Agustus 2009. Di Los Angeles pada 19 September 2009, moonset terjadi 20 menit setelah sunset dengan tinggi hilal sekitar 4 derajat. Perkiraan hilal: dapat diamati dengan bantuan alat optik. Sementara di Chicago nampaknya hilal sulit diamati.

Jika di Amerika Utara, hilal relatif lebih sulit diamati, berbeda halnya dengan di Amerika Selatan. Komunitas minoritas muslim di Amerika Selatan yang melakukan rukyat akan dengan mudah mengamati hilal. Di Rio de Janeiro Brazil, ketinggian hilal sekitar 13,5 derajat dan sudut elongasi sekitar 15 derajat, moonset sekitar 1 jam setelah sunset sehingga hilal mudah diamati. Makin ke selatan, semakin mudah diamati. Di Buenos Aires Argentina, ketinggian hilal sekitar 15 derajat, sudut elongasi sekitar 15,5 derajat, moonset sekitar 1 jam 15 menit setelah sunset.

Asia Tengah

Khusus di Asia Tengah, yaitu India, Pakistan dan Bangladesh, otoritas muslim dan pemerintah di sana menetapkan Ramadhan satu hari lebih lambat dari rata-rata tanggal 1 Ramadhan, yaitu hari Ahad, 23 Agustus 2009. Tanggal tersebut ditetapkan berdasarkan istikmal atau 30 hari bulan Sya’ban. Ini berarti 1 Sya’ban 1430 H di ketiga negara tersebut jatuh pada 24 Juli 2009, dan 29 Sya’ban 1430 H = 21 Agustus 2009. Ketika ketiga negara tersebut melakukan rukyat pada 21 Agustus 2009 maghrib, ternyata dugaan penulis, hilal “gagal dilihat” sehingga akhirnya ditetapkan istikmal.

Penulis secara pribadi ingin memberikan tanggapan pada “kegagalan rukyat” di ketiga negara tersebut pada tanggal 21 Agustus 2009 maghrib. Sebenarnya, pada waktu tersebut di India, Pakistan dan Bangladesh, hilal cukup memungkinkan untuk dilihat. Berdasarkan hisab kontemporer seperti paparan di atas, pada tanggal 21 Agustus 2009 maghrib di New Delhi India, ketinggian hilal sekitar 6 derajat, sudut elongasi sekitar 16 derajat, serta iluminasi bulan 2%. Besarnya sudut elongasi ini disebabkan besarnya selisih azimuth antara bulan (moon) dan matahari, yaitu sekitar 14,5 derajat. Di Dhaka Bangladesh, ketinggian hilal sekitar 7 derajat, sudut elongasi bulan-matahari sekitar 15,5 derajat serta iluminasi bulan 1,87%. Di Peshawar Pakistan, ketinggian hilal sekitar 5 derajat, sudut elongasi bulan-matahari sekitar 16 derajat dan iluminasi bulan 2,05%. Paparan di atas menunjukkan keadaan hilal sudah di atas limit Danjon, sehingga hilal cukup memungkinkan untuk dilihat. Entah, apakah di ketiga negara tersebut cuaca secara seragam tidak mendukung rukyat saat itu, tetapi memang selama ini berdasarkan catatan di website ICOP ketiga negara tersebut sering terlambat dalam memulai Ramadhan atau Syawwal dibandingkan misalnya dengan Indonesia. Sebagai perbandingan di Indonesia, para perukyat berhasil melihat hilal pada 21 Agustus 2009 maghrib dengan besar sudut elongasi yang hampir sama , bahkan dengan iluminasi bulan yang lebih kecil, meskipun memang ketinggian hilal di Indonesia untuk rukyat awal Ramadhan lebih besar.

Demikianlah, dengan ditetapkannya 1 Ramadhan 1430 H = 23 Agustus 2009 di ketiga negara tersebut, maka 29 Sya’ban 1430 H = 20 September 2009. Rukyat pada 20 September 2009 maghrib di ketiga negara tersebut secara perhitungan mudah dilihat. Hilal sudah berumur sekitar 42 jam sejak new moon. Ketinggian hilal di ketiga negara tersebut berkisar antara 7 – 11 derajat, sudut elongasi sekitar 23 derajat. Iluminasi bulan mencapai 4%. Jika hilal berhasil dilihat, maka Iedul Fitri di ketiga negara tersebut = 21 September 2009.

Catatan akhir

Sebelum penulis mengakhiri tulisan yang cukup panjang ini, ada sedikit catatan akhir.

Pertama, daerah yang terletak di sebelah barat belum tentu lebih mudah mengamati hilal dibandingkan dengan daerah timur. Contohnya, Indonesia berpeluang melihat hilal pada 19 September maghrib karena ketinggiannya lebih besar, tetapi Arab Saudi dan Mesir ketinggiannya lebih kecil (meskipun elongasinya lebih besar). Bahkan Eropa bisa dikatakan mustahil karena moonset sebelum sunset.

Kedua, Daerah yang bujurnya sama juga tidak ada jaminan akan mendapatkan ketinggian hilal yang sama. Sebagai contoh, Jayapura dan Tokyo memiliki bujur yang hampir sama, tetapi di Jayapura ketinggian hilal sekitar 5 derajat sedangkan di Tokyo negatif.

Ketiga, pada pergerakan bulan untuk awal bulan Syawwal 1430 H ini, daerah yang terletak di belahan bumi selatan lebih mudah mengamati hilal daripada di belahan bumi utara. Untuk memahami catatan di atas, penulis perlu menjelaskan dari sudut pandang koordinat ekuator geosentrik dengan 2 buah komponen yaitu right ascension (alpha) dan declination (delta). Ketika bulan (moon) dan matahari mengalami konjungsi, keduanya bisa dikatakan memiliki alpha yang hampir sama. Bisa dikatakan, keduanya bergerak mengitari bumi (dari sudut pandang pengamat di bumi) secara beriringan, sehingga sunrise dan moonrise serta sunset dan moonset hampir berdekatan. Yang membedakannya adalah nilai delta bulan dan matahari. Pada tanggal 19 September 2009, deklinasi matahari secara rata-rata adalah sekitar 1,5 derajat, sedangkan deklinasi bulan berubah secara cepat dari minus 4 derajat hingga minus 9 derajat. Ini berarti, bulan terletak di sebelah selatan matahari, karena bulan berada di selatan khatulistiwa sedangkan matahari di utara. Karena itu, bagi orang yang tinggal di belahan bumi utara, bulan tampak jauh di selatan dibanding matahari sehingga logikanya, bulan lebih cepat untuk tenggelam dibandingkan matahari. Inilah yang menjelaskan, mengapa di belahan bumi utara (seperti Jepang dan Eropa), pada waktu itu moonset terjadi sebelum sunset. Sementara bagi yang tinggal di belahan bumi selatan, matahari tampak lebih di utara daripada bulan sehingga matahari lebih cepat tenggelam dibandingkan bulan. Jadi bagi yang tinggal di belahan bumi selatan, sunset mendahului moonset sehingga hilal lebih mudah diamati.

Penutup

Demikianlah, beberapa catatan penulis mengenai hisab 1 Syawwal 1430 H di berbagai penjuru dunia. Memang masih menyisakan berbagai pertanyaan mengenai beragamnya cara penetapan awal bulan (month) di berbagai negara. Namun sekurangnya catatan di atas semoga memberikan tambahan wawasan bagi pembaca.

Semoga Allah SWT menerima segala amal kebaikan kita khususnya selama bulan Ramadhan ini, melipatgandakan pahala kita dan kita semakin dekat untuk menjadi golongan orang-orang yang bertaqwa. Mohon maaf atas segala kesalahan. Selamat Hari Raya Iedul Fithri 1430 H. Taqabballahu minna wa minkum.

DR. Rinto Anugraha (Dosen Fisika UGM)

Pengurus Harian Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar telah menyampaikan dihadapan Jamaah Shalat Tarawih Masjid Agung Al-Agung Al-Azhar yang menetapkan bahwa 1 Syawal 1430 Hijriyah/2009 Masehi akan jatuh hari Ahad, 20 September 2009 Masehi. Keputusan diambil oleh Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar dengan memperhatikan Hasil Hisab yang dikeluarkan oleh Departemen Agama Republik Indonesia dan Ormas-Osmas Islam tentang 1 Syawal 1430 Hijriyah/2009 Masehi.

Sementara itu, Masjid Agung Al-Azhar akan menyelenggarakan shalat ‘Ied, dilapangan Masjid Agung Al-Azhar dengan khotib Prof.Dr.H.Miftah Faridl (Ketua MUI Kota Bandung), dan bertindak sebagai  Imam Drs.H.Buchari Muslim SQ. Keputusan penetapan 1 Syawal itu oleh Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar, berdasarkan SK Pengurus Harian YPIA No.21/!X/KEP/YPIA/1430 Hijriyah, tertanggal 4 September 2009.

Tentu, nantinya diharapkan tidak adanya perbedaan antara hasil hisab yang dikeluarkan oleh Departemen Agama Republik Indonesia bersama dengan Ormas-Ormas Islam dengan pemerintah yang masih menunggu hasil ru’yah untuk menetapkan jatuhnya 1 Syawal 1430 Hijriyah. Kaum muslimin mengharapkan tidak akan adanya perbedaan antara perhitungan hisab dengan ru’yah, sehingga seluruh kaum muslimin dapat melaksanakan shalat ‘Ied bersama, tanpa perbedaan, termasuk di Indonesia.

Dan, sebagian besar  berdasarkan hisab di berbagai negara termasuk Dewan Muslim Eropa, yang melakukan hisab, telah pula mengumumkan bahwa 1 Syawal 1430 Hijriyah akan jatuh pada 20 September 2009 Masehi. (lihat Dr.Rinto Nugraha tentang hisab 1 Syawal).

Sumber : Eramuslim

Oleh Ustadz Sigit Pranowo, Lc.

Dinamakan lailatul qodr karena pada malam itu malaikat diperintahkan oleh Allah swt untuk menuliskan ketetapan tentang kebaikan, rezeki dan keberkahan di tahun ini, sebagaimana firman Allah swt :

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ ﴿٣﴾
فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ ﴿٤﴾
أَمْرًا مِّنْ عِندِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ ﴿٥﴾
Artinya : ”Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi[1369] dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi kami. Sesungguhnya kami adalah yang mengutus rasul-rasul.” (QS. Ad Dukhan : 3 – 5)

Al Qurthubi mengatakan bahwa pada malam itu pula para malaikat turun dari setiap langit dan dari sidrotul muntaha ke bumi dan mengaminkan doa-doa yang diucapkan manusia hingga terbit fajar. Para malaikat dan jibril as turun dengan membawa rahmat atas perintah Allah swt juga membawa setiap urusan yang telah ditentukan dan ditetapkan Allah di tahun itu hingga yang akan datang. Lailatul Qodr adalah malam kesejahteraan dan kebaikan seluruhnya tanpa ada keburukan hingga terbit fajar, sebagaimana firman-Nya :

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ ﴿٤﴾
سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ﴿٥﴾
Artinya : ”Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qodr : 4 – 5)

Diantara hadits-hadits yang menceritakan tentang tanda-tanda lailatul qodr adalah :

1. Sabda Rasulullah saw,”Lailatul qodr adalah malam yang cerah, tidak panas dan tidak dingin, matahari pada hari itu bersinar kemerahan lemah.” Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah yang dishahihkan oleh Al Bani.

2. Sabda Rasulullah saw,”Sesungguhnya aku diperlihatkan lailatul qodr lalu aku dilupakan, ia ada di sepuluh malam terakhir. Malam itu cerah, tidak panas dan tidak dingin bagaikan bulan menyingkap bintang-bintang. Tidaklah keluar setannya hingga terbit fajarnya.” (HR. Ibnu Hibban)

3. Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya para malaikat pada malam itu lebih banyak turun ke bumi daripada jumlah pepasiran.” (HR. Ibnu Khuzaimah yang sanadnya dihasankan oleh Al Bani)

4. Rasulullah saw berabda,”Tandanya adalah matahari terbit pada pagi harinya cerah tanpa sinar.” (HR. Muslim)

Terkait dengan berbagai tanda-tanda Lailatul Qodr yang disebutkan beberapa hadits, Syeikh Yusuf al Qaradhawi mengatakan,”Semua tanda tersebut tidak dapat memberikan keyakinan tentangnya dan tidak dapat memberikan keyakinan yakni bila tanda-tanda itu tidak ada berarti Lailatul Qodr tidak terjadi malam itu, karena lailatul qodr terjadi di negeri-negeri yang iklim, musim, dan cuacanya berbeda-beda. Bisa jadi ada diantara negeri-negeri muslim dengan keadaan yang tak pernah putus-putusnya turun hujan, padahal penduduk di daerah lain justru melaksanakan shalat istisqo’. Negeri-negeri itu berbeda dalam hal panas dan dingin, muncul dan tenggelamnya matahari, juga kuat dan lemahnya sinarnya. Karena itu sangat tidak mungkin bila tanda-tanda itu sama di seluruh belahan bumi ini. (Fiqih Puasa hal 177 – 178)

Perbedaan Waktu Antar Negara

Lailatul qodr merupakan rahasia Allah swt. Untuk itu dianjurkan agar setiap muslim mencarinya di sepuluh malam terakhir, sebagaimana sabda Rasulullah saw,”Carilah dia (lailatul qodr) pada sepuluh malam terakhir di malam-malam ganjil.” (HR. Bukhori Muslim).

Dari Abu Said bahwa Nabi saw menemui mereka pada pagi kedua puluh, lalu beliau berkhotbah. Dalam khutbahnya beliau saw bersabda,”Sungguh aku diperlihatkan Lailatul qodr, kemudian aku dilupakan—atau lupa—maka carilah ia di sepuluh malam terakhir, pada malam-malam ganjil.” (Muttafaq Alaihi)

Pencarian lebih ditekankan pada tujuh malam terakhir bulan Ramadhan sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhori Muslim dari Ibnu Umar bahwa beberapa orang dari sahabat Rasulullah saw bermimpi tentang Lailatul Qodr di tujuh malam terakhir. Menanggapi mimpi itu, Rasulullah saw bersabda,”Aku melihat mimpi kalian bertemu pada tujuh malam terakhir. Karena itu barangsiapa hendak mencarinya maka hendaklah ia mencari pada tujuh malam terakhir.”

Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw bersabda,”Carilah ia di sepuluh malam terakhir. Jika salah seorang kalian lemah atau tdak mampu maka janganlah ia dikalahkan di tujuh malam terakhir.” (HR. Muslim, Ahmad dan Ath Thayalisi)

Malam-malam ganjil yang dimaksud dalam hadits diatas adalah malam ke- 21, 23, 25, 27 dan 29. Bila masuknya Ramadhan berbeda-beda dari berbagai negara—sebagaimana sering kita saksikan—maka malam-malam ganjil di beberapa negara menjadi melam-malam genap di sebagian negara lainnya sehingga untuk lebih berhati-hati maka carilah Lailatul Qodr di setiap malam pada sepuluh malam terakhir. Begitu pula dengan daerah-daerah yang hanya berbeda jamnya saja maka ia pun tidak akan terlewatkan dari lailatul qodr karena lailatul qodr ini bersifat umum mengenai semua negeri dan terjadi sepanjang malam hingga terbit fajar di setiap negeri-negeri itu.

Karena tidak ada yang mengetahui kapan jatuhnya lailatul qodr itu kecuali Allah swt maka cara yang terbaik untuk menggapainya adalah beritikaf di sepuluh malam terakhir sebagaimana pernah dilakukan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya.

Ciri-ciri Orang Yang Mendapatkan Lailatul Qodr

Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dai Abu Hurairoh bahwa Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa melakukan qiyam lailatul qodr dengan penuh keimanan dan pengharapan (maka) dosa-dosanya yang telah lalu diampuni.”

Juga doa yang diajarkan Rasulullah saw saat menjumpai lailatul qodr adalah ”Wahai Allah sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemberi Maaf, Engkau mencintai pemaafan karena itu berikanlah maaf kepadaku.” (HR. Ibnu Majah)

Dari kedua hadits tersebut menunjukkan bahwa dianjurkan bagi setiap yang menginginkan lailatul qodr agar menghidupkan malam itu dengan berbagai ibadah, seperti : shalat malam, tilawah Al Qur’an, dzikir, doa dan amal-amal shaleh lainnya. Dan orang yang menghidupkan malam itu dengan amal-amal ibadah akan merasakan ketenangan hati, kelapangan dada dan kelezatan dalam ibadahnya itu karena semua itu dilakukan dengan penuh keimanan dan mengharapkan ridho Allah swt.

Wallahu A’lam

Kota Tromsø merupakan kota terbesar di wilayah paling utara Norwegia. Kota ini terkenal sebagai salah satu kota pariwisata di Norwegia karena mempunyai beberapa daya tarik tersendiri untuk dikunjungi, khususnya karena letak geografisnya yang berada di Arctic Circle atau sekitar 2000 km dari kutub utara. Di musim dingin kota Tromsø merupakan salah satu lokasi terbaik untuk mengamati Aurora Borealis (Northern Light), sementara di puncak musim panas khususnya di bulan Juli, ia dibanjiri wisatawan mancanegara yang ingin menikmati indahnya Midnight Sun, saat matahari bersinar 24 jam sehari di wilayah ini.

Per 1 Januari 2009 tercatat penduduk kota Tromsø berjumlah 66.513 jiwa dan sekitar 800 orang dari jumlah tersebut adalah umat muslim. Dengan jumlah penduduk muslim yang terus bertambah, keberadaan masjid tidak hanya sebatas sebagai rumah ibadah, tapi juga pusat kegiatan dakwah keislaman di kota yang mayoritas penduduknya adalah umat kristiani ini. ”Alnor Senter” kiranya menjadi jawaban akan kebutuhan ini.

Alnor Senter memang tidak menggunakan kata “masjid” sebagai identitasnya. Namun demikian bangunan pusat kegiatan keislaman di kota Tromso ini sejatinya adalah sebuah masjid. Sejak tahun 2006 Tromsø Islamske Senter (Pusat Keislaman Tromsø) atau Masjid Al-Noor resmi berada dalam pengelolaan badan berbentuk yayasan dengan nama ”Alnor”.

Keistimewaan Alnor tidak hanya karena lokasinya yang berada di wilayah paling utara Norwegia. Yang lebih istimewa Alnor sangat aktif dalam dakwah, rutin mengadakan kajian keislaman dan kegiatan sosial untuk mendekatkan Islam dengan masyarakat setempat. Satu hal lagi yang membuat penulis takjub atas kekuasaan Allah adalah bahwa sebagian dari aktivis dan penggerak Alnor adalah para mualaf, yang baru kembali ke fitrah Islam beberapa tahun terakhir. Namun semangat dan jihad mereka sungguh membuat penulis salut.

Selama kunjungan dua hari di kota Tromsø di akhir bulan Juni lalu, alhamdulillah penulis dapat bersilaturrahim dengan para muslimah aktivis “Alnor Senter”. Pada kesempatan pertama, penulis diundang untuk hadir di forum kajian rutin yang diselenggarakan oleh para muslimah mualaf. Di forum yang penuh rasa kekeluargaan dan keakraban ini kami membahas tentang bahaya ghibah yang menjadi topik utama pada hari itu. Sebagai pengantar, tuan rumah (seorang ibu muda yang baru dua tahun menjadi muslimah) memberikan ulasan dan dalil-dalil tentang ghibah, lalu dilanjutkan dengan diskusi, diselingi contoh-contoh kasus yang ditemui sehari-hari dan bagaimana Islam menuntun muslimah untuk menghadapinya.

Sungguh diskusi yang menarik, apalagi dipandang dari pengalaman para mualaf yang di satu sisi berjuang menghidupkan Islam secara kaffah dalam keseharian mereka dan di sisi lain juga berhadapan dengan lingkungan masa lalu yang belum bisa seratus persen menerima perobahan tersebut.

Sore hari setelah pertemuan itu, dengan petunjuk peta penulis berjalan kaki dari hotel tempat penulis menginap menuju masjid yang juga berlokasi di pusat kota. Tak lebih sepuluh menit penulis telah berada di alamat yang dituju. Karena memang belum masuk waktu shalat Maghrib, pintu masuk masjid masih terkunci. Bukan hal yang ganjil bagi penulis bahwa di kota-kota Norwegia masjid tidak terbuka 24 jam, namun hanya pada jadwal tertentu, terutama saat waktu salat saja. Namun begitu di pintu masuk penulis melihat terpampang nama dan nomor telepon yang dapat dihubungi jika diperlukan.

Pusat kegiatan keislaman “Alnor Senter” bukanlah satu bangunan megah, bahkan minus kubah seperti lazimnya bangunan masjid. Dari luar bangunannya terlihat sangat sederhana, merupakan bagian dari satu kompleks bangunan yang diantaranya merupakan toko dan rumah tinggal. Letaknya pun tidak persis di pinggir jalan utama, namun masuk sedikit ke dalam gang, di area pusat kota Tromsø. Di dekat pintu masuk terpancang tiang yang menyangga lampu boks bertuliskan “Alnor Senter”. Rupanya pintu di bagian depan itu khusus untuk wanita. Dengan sebuah penunjuk arah, diinformasikan bahwa pintu masuk untuk laki-laki berada di bagian samping bangunan.

Hari kedua dan juga hari terakhir kunjungan penulis di Tromsø bertepatan dengan hari Jumat. Karena itu penulis mengambil kesempatan untuk dapat melakukan ibadah berjamaah di masjid. Rupanya sebelum shalat Jumat ada pula forum belajar bahasa Arab bagi muslimah yang dijadwalkan rutin setiap minggu. Shalat Jumat juga diikuti oleh banyak jemaah wanita. Subhanallah! Bagian dalam “Alnor Senter” rupanya cukup luas dan tertata rapi. Muslimin dan muslimah beraktifitas di ruang yang terpisah. Di dekat pintu masuk wanita, selain ada tempat berwudhu juga ada dapur yang bersih.

Ruang shalat wanita berada di area paling dalam. Di depannya ada satu ruang yang berfungsi sebagai ruang serbaguna, lengkap dengan kid’s corner yang ditata dengan selera khas anak-anak. Manfaat kid’s corner ini agar anak-anak yang belum mengerti ibadah dapat asyik bermain atau menggambar sementara orang tuanya beribadah. Meja, kursi dan papan tulis besar melengkapi fungsi ruang ini sebagai ruang belajar yang nyaman.

Meskipun terpisah ruang shalat muslimin dan muslimah dihubungkan dengan jendela kecil berhijab. Di sudut depan ruang shalat muslimah tergantung televisi layar datar, sehingga jemaah dapat melihat dan mendengar imam dengan jelas dengan bantuan pengeras suara. Al Quran dan buku-buku bacaan serta perlengkapan shalat juga tersedia dalam jumlah yang memadai. Seluruh lantai dilapisi karpet tebal yang bersih dan berwarna cerah. Sungguh masjid yang dirawat dan ditata dengan sangat baik.

Banyak kegiatan lain yang diangkat oleh “Alnor Senter”. Tidak hanya kajian keislaman dan belajar ilmu Al Quran, kelas keterampilan seperti kelas menjahit bagi muslimah juga dikelola secara gratis oleh relawan Alnor. Sebuah situs internet juga dibuat untuk mensosialisasikan tentang Alnor kepada publik. Tak kalah penting pendidikan Islam bagi anak juga menjadi agenda. Memang, tidak seperti kondisi di tanah air atau di negara-negara muslim pada umumnya, pendidikan keislaman bagi anak-anak adalah kebutuhan yang lebih primer di Norwegia ini, mengingat sehari-hari anak-anak muslim bersekolah di sekolah umum dengan lingkungan yang tidak Islami.

Kegiatan lain yang diorganisir muslimah Alnor dan menurut penulis sangat layak untuk dicontoh adalah suatu forum yang diberi nama Nettverkskafe (Network Cafe). Forum ini dirancang sebagai forum pertemuan dan diskusi terbuka bagi para wanita di kota Tromsø. Nettverkskafe tak hanya dibuka untuk muslimah, namun yang tak kalah penting adalah untuk kalangan non-muslim, agar semua dapat berinteraksi dan saling mengenal.

alam pertemuan yang diadakan sebulan sekali ini dihadirkan pembicara utama yang merupakan nara sumber ahli sesuai dengan topik yang diangkat. Dengan adanya forum ini diharapkan akan terjalin saling pengertian dan pengenalan masyarakat akan Islam, sehingga hubungan baik antara muslimah dan masyarakat luar dapat dibangun.

Pada bulan Juni lalu “Alnor Senter” berhasil mengangkat satu even besar dengan mendatangkan ulama asal Amerika: Syeikh Yusuf Estes ke daratan Skandinavia. Selama beberapa minggu Syeikh Yusuf Estes memberikan tausiyah-tausiyah keIslaman di kota-kota besar di Norwegia, Swedia dan beberapa negara lain di Eropa. Subhanallah, dengan izin Allah tak sedikit warga Norwegia yang melafazkan kalimat syahadat dalam forum dakwah ini.

Masih banyak ide dakwah yang terus di rancang oleh saudara-saudari kita, muslim dan muslimah di “Alnor Senter”. Ide-ide yang dijiwai semangat jihad fii sabiilillah dan berlomba-lomba dalam kebaikan demi menegakkan Islam. Semoga semangat yang sama juga hidup dalam jiwa setiap muslim dimana pun berada.

Sesuai namanya, semoga “Alnor Senter” menjadi cahaya yang bersinar semakin cemerlang di puncak bola dunia. Insya Allah!I (kiriman Yeni Mulia, Trondheim, Norwegia)

Sumber : Eramuslim

Allah mensyari’atkan shaum dan berbagai ibadah Ramadhan sebagai salah satu program yang harus dilewati setiap Muslim dan Mukmin dalam pembentukan karakter taqwa meraka.

Serial Manajemen Ramadhan Rasulullah saw.

Oleh Fathuddin Ja’far, MA

Hal-Hal Yang Perlu Diketahui Tentang Ramadhan

Sebelum menjalankan ibadah Ramadhan, ada beberaa hal yang perlu dipahami. Di antaranya :

1. Shaum Ramadhan adalah rukun Islam yang keempat. Hukumnya adalah fardhu (wajib) yang datang langsung dari Tuhan Pencipta, Allah Ta’ala.

2. Allah mensyari’atkan shaum dan berbagai ibadah Ramadhan sebagai salah satu program yang harus dilewati setiap Muslim dan Mukmin dalam pembentukan karakter taqwa meraka. (Q.S. Al-Baqoroh : 183).

3. Ancaman keras bagi orang-orang beriman yang tidak melaksanakan ibadah Ramadhan, khususnya ibadah shaum seperti yang dijelaskan Rasul Saw : Ikatan dan basis agama Islam itu ada tiga. Siapa yang meniggalkan salah satu darinya, maka ia telah kafir; halal darahnya : Syahadat Laa ilaaha illallah, sholat fardhu (5 X sehari) dan shaum Ramadhan. (H.R. Abu Ya’la dan Dailami). Dalam hadiits lain Rasul Saw. bersabda : Siapa berbuka satu hari dalam bulan Ramadhan tanpa ada ruhkshah (faktor yang membolehkan berbuka / dispensasi) dari Allah, maka tidak akan tergantikan kendati ia melaksanakan shaum sepanjang masa. (H.R. Abu Daud, Ibnu Majad dan Turmuzi).

4. Ramadhan memiliki aturan main yang perlu ditaati, agar proses dan pelaksanaan ibadahnya, khususnya shaum Ramadhan dapat berjalan dengan baik dan maksimal. Paling tidak ada sembilan hal terkait aturan main yang perlu diketahui sebelum kita melaksanakan ibadah shaum Ramadhan :

4.1. Macam-Macam Shaum

Shaum terbagi menjadi dua macam :
A. Shaum fardhu (wajib).
B. Shaum Tathowwu’ (puasa sunnah).

A. Adapun shaum wajib terbagi tiga :

Pertama, shaum Ramadhan, yakni shaum yang dilaksanakan selama bulan Ramadhan (29 / 30 hari) seperti yang dijelaskan Allah dalam Al-qur’an surat Al-Baqoroh : 183.

Kedua, Shaum Kafarat (Puasa Denda), yakni shaum yang wajib dilakukan sebagai denda dari pelanggaran hukum seperti pelanggaran dalam ibadah haji, membunuh tidak sengaja, melanggar sumpah dan sebagainya.

Ketiga adalah shaum Nazar, yaitu jika seseorang bernazar dengan shaum bagi perkara yang dinazarkannya seperti jika ia sembuh dari penyakit, jika bisnisnya goal dan sebagainya maka ia bernazar untuk shaum. Shaum seperti itu disebut dengan shaum nazar dan wajib hukumnya.

B. Adapun shaum tathowwu’ (Puasa Sunnah) adalah :

1. Shaum 6 hari di bulan Syawal. Dalam hadits Rasul Saw. dijelaskan : Siapa yang shaum Ramadhan kemudian dia teruskan dengan 6 hari di bulan Syawal, seakan ia shaum sepanjang masa (tahun). (H.R. Al-Jama’ah kecuali Bukhari dan Nasa’i)

2. Shaum hari Arofah bagi yang tidak menunaikan ibadah haji. Dalm hadiits dijelaskan : Shaum hari Arofah (9 Zul hijha) menghapuskan dosa dua tahun, setahun sebelum dan setahun sesudahnya… (H.R Al Jama’ah kecuali Bukhari dan Nasa’i).

3. Shaum hari ‘Asyura (10 bulan Muharrom). Dalam hadiits Rasul Saw. dijelaskan : Shaum pada hari ‘Arofah (9 Zulhijjah) menghapus dosa dua tahun; yang lalu dan yang akan datang. Dan shau hari Asyuro (10 Muharram) menghapuskan dosa setahun yang lalu. (HR. Riwayat Al-Jama’ah kecuali Bukhari dan Turmizi). Terkait shaum ‘Asyura, Rasul Saw. menyarankan agar ditambah sehari sebelumnya agar tidak sama dengan Yahudi, karena mereka juga puasa pada hari ‘Asyura.

4. Shaum diperbanyak di bulan Sya’ban. Dari A’isyah radhiyalllu ‘anha dia berkata : Aku tidak melihat Rasul Saw. menyempurnakan shaumnya kecuali di bulan Ramadhan saja, dan aku tidak melihat banyak berpuasa di bulan selain Ramadhan kecuali di bulan Sya’ban. (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Shaum Ayyamul bidh (tgl 13, 14 & 15 setiap bulan Hijriyah. Dari Abu Zar radhiyallahu ‘anhu beliau berkata : Kami diperintah Rasul Saw untuk shaum dalam sebulan tiga hari; 13, 14 dan 15. Lalu Rasul berkata : Yang demikian itu sama dengan shaum sepanjang masa. (HR. Nasa’i)

6. Shaum hari Senin dan Kamis. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata : Rasul Saw paling banyak shaum pada hari Senin dan Kamis. Lalu Beliau ditanya kenapa. Beliau menjawab : Sesungguhnya semua amal diangkat (ke langit) setiap hari Senin dan Kamis. Maka Allah akan mengampunkan setiap Muslim atau setiap Mukmin kecuali dua orang yang sedang berbantah, maka Allah berkata : Tangguhkan keduanya. (HR. Ahmad).

7. Shaum Nabi Daud; shaum satu hari dan berbuka hari berikutnya dan begitu seterusnya. Dari Abdullah Bin Umar dia berkata : Berkata Rasul Saw. : Shaum yang paling dicintai Allah adalah shaum Daud, dan shalat (malam) yang paling dicintai Allah adalah shalat Daud; dia tidur setengahnya, berdiri shalat sepertiganya dan kemudian tidur lagi seperenamnya, dia juga shaum satu hari dan berbuka satu hari. (HR. Muslim)

8. Shaum tathowwu’ (sunnah) dibolehkan berbuka, khususnya jika ada penyebabnya seperti diundang makan. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata : Saya menyiapkan makanan untuk Rasul Saw. maka Beliau datang dengan beberapa Sahabatnya. Ketika makanan dihidangkan salah seorang di antara mereka berkata : Sesungguhnya saya sedang shaum. Lalu Rasul berkata : Saudaramu telah mengundangmu dan telah bersusah payah untukmu. Kemudian Beliau bersabda : Berbukalah dan shaumlah di hari lain sebagai gantinya jika kamu mau. (HR. Baihaqi).


4.2. Hukum Shaum Ramadhan

Shaum Ramadhan hukumnya wajib atas setiap Muslim dan Muslimah yang sehat akalnya (tidak gila) dan telah mukallaf (umur remaja), tidak dalam keadaan musafir dan sakit. Khusus bagi wanita, tidak dalam keadaan haidh dan nifas. Tentang wajibnya shaum, Allah menjelaskannya dalam surat Al-baqoroh : 183 : Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atasmu sekalian shaum itu (shaum Ramadhan) sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, semoga kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa. Dalam sebuah hadits dijelaskan, Rasul Saw. bersabda : Sesungguhnya Islam itu dibangun di atas lima (dasar). Kesaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad itu adalah utusan-Nya, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan shaum Ramadhan dan menunaikan haji. (HR. Muslim)

Oleh sebab itu, Rasulullah Saw. mewanti wanti umatnya agar sekali-kali jangan meninggalkan shaum Ramadhan tanpa alasan yang dibolehkan. Dalam salah satu haditsnya, Rasul Saw. bersabda : Ikatan dan kaedah agama Islam itu ada tiga. Diatasnya dibangun Islam. Siapa meninggalkan salah satu darinya maka ia kafir, halal darahnya (karena sudah dihukumkan kepada orang murtad), syahadat La ilaaha illallah, sholat yang difardhukan dan shaum Ramadhan. (H.R Abu Ya’la dan Dailami)

4.3. Rukun Shaum

Setiap ibadah dalam Islam ada rukunnya agar ibadah itu bisa tegak dan berjalan dengan benar. Demikian juga dengan shaum Ramadhan. Rukunnya ada dua :
1. Niat. Niat adalah faktor pertama yang akan menentukan sah atau tidaknya ibadah seseorang seperti yang dijelaskan Rasul Saw. Sesungguhnya (sahnya) setiap amal itu tergantung adanya niat (bagi setiap amal tersebut). Dan sesungguhnya setiap orang (akan memperoleh) sesuai apa yang diniatkannya. Siapa yang berhijrah karena kepentingan dunia yang akan dia peroleh atau wanita yang akan dinikahinya, maka dia akan memperoleh apa yang diniatkannya. (HR. Islam). Setiap amal ibadah, baik wajib maupun yang sunnah akan bernilai di mata Allah jika didasari dengan niat. Niatnya harus hanya karena Allah, tidak melenceng sedikitpun. Kemudian itu letaknya dalam hati, bukan dilafazkan (diucapkan dengan lisan), termasuk niat shaum Ramadhan harus dilakukan dalam hati. Waktunya sebelum terbit fajar.

2. Menahan diri dari hal-hal yang membantalkan shaum sejak terbit fajar sampai mata hari tenggelam. (QS. Al-Baqoroh : 187).


4.4. Hal-Hal Yang membatalkan Shaum

Semua ibadah dalam Islam memerlukan syarat dan rukun agar ibadah tersebut sah dan bernilai di sisi Allah. Amal ibadah yang sudah sesuai syarat dan rukun tersebut bisa batal jika melanggar aturan mainnya atau terjadi hal-hal yang membatalkannya. Adapun yang membatalkan shaum terbagi dua. Pertama hal-hal yang membatalkan shaum dan wajib diqadha (diganti di hari-hari setelah Ramadhan). Kedua adalah yang membatalkan shaum dan wajib qadha dan kafarat (denda).

Adapun yang membatalkan shaum dan wajib qadha saja ialah:
1. Makan dan minun dengan sengaja. Rasul Saw. bersabda : Siapa yang berbuka (makan dan minum) di siang hari bulan Ramadhan karena lupa maka tidak perlu diqadha (diganti pada hari di luar Ramadhan), dan tidak pula kafarat (denda). (HR. Daru Quthni, Baihaqi dan Hakim).

2. Muntah dengan sengaja. Rasul Saw. berkata : Siapa yang terpaksa muntah maka tidak wajib baginya mengqadha (shaumnya). Namun siapa muntah dengan sengaja, maka hendaklah ia mengqadha (shaumnya). (HR. Ahmad, Abu Daud dan Tirmizi)

3. Haidh/menstruasi dan nifas (melahirkan), kendati terjadi sesaat sebelum berbuka. Ini yang disepakati oleh jumhur Ulama

4. Mengeluakan sperma dengan sengaja baik dengan cara onani/masturbasi ataupun dengan berbuat mesum dengan istri.

5. Memakan apa saja yang bukan yang lazim di makan, seperti plastik dan sebagainya.

6. Yang berniat membatalkan shaumnya di siang hari. Dengan demikian dia sudah batal shaumnya kendati dia tidak makan atau minum.

7. Jika dia makan, minum atau bercampur suami istri menduga waktu berbuka sudah masuk. Ternyata belum masuk. Dia wajib mengqadhanya.

Adapun yang membatalkan shaum dan harus diqadha dan kafarat menurut jumhur Ulama adalah berhubungan suami istri dengan sengaja. Tidak ada perbedaan antara suami dan istri, keduanya harus menjalankannya. Adapun kafarat bagi yang berhubungan suami istri ialah memerdekakan budak. Jika tidak sanggup, shaum 2 bulan berturut-turut. Jika tidak mampu memberi makan fakir miskin sebanyak 60 orang, seperti yang dijelaskan dalam salah satu hadits Rasul Saw. yang diriwayatkan imam Bukhari.

4.5. Adab Melaksanakan Shaum

Sebagaimana semua ajaran Islam itu ada adab atau kode etiknya, maka shaum juga ada adabnya. Di antaranya :

1. Sahur (Makan Sahur). Bersabda Rasul Saw. : Bersahurlah kamu sekalian karena sahur itu ada berkahnya. (HR. Bukhari dan Muslim). Waktu sahur itu dari pertengahan malam sampai terbit fajar (saat waktu shalat subuh masuk). Tetapi diperlambat sampai mendekati terbit fajar lebihdianjurkan.

2. Menyegerakan berbuka, yakni setelah tau waktu maghrib / tenggelam matahari maka segeralah berbuka. Bersabda Rasul Saw. : Manusia senantiasa dalam keadaan baik selama mereka menyegerakan berbuka. (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Berdoa waktu berbuka dan sepanjang melaksanakan shaum. Dari Abdullah Bin Amr Bin Ash radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Saw. berkata : Sesungguhnya bagi orang yang sedang shaum saat berbuka doanya tidak ditolak. (HR. Ibnu Majah) Dalam hadits lain Rasul bersabda : Ada tiga do’a yang tidak akan ditolak Allah; orang yang shaum sampai dia berbuka, imam (pemimpin) yang adil dan oang yang tezhalimi (teraniaya). (HR. Tirmizi).

Adapun doa saat berbuka ialah :

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Telah hilang haus dan telah basah tenggorokan dan telah tetap pahala insyaa Allah. (HR. Tirmizi)

4. Menahan diri dari hal-hal yang bertentangan dengan shaum (menahan diri dari berbagai dorongan syahwat yang halal dan yang haram), karena shaum adalah salah satu cara taqarrub pada Allah yang amat mahal. Sebab itu tidak sepantasnya shaum itu hanya sekedar menahan lapar dan haus saja, akan tetapi menahan semua apa saja yang akan mencederai nilai-nilai mulia yang ada dalam shaum. (Dalam sub tema : Kunci Sukses Training Manajemen Syahwat Ramadhan akan dijelaskan secara rinci)

5. Bersiwak dengan kayu arak atau benda lain yang menyucikan mulut seperti sikat gigi.

6. Berjiwa dermawan dan mempelajari Al-Qur’an. Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dia berkata : Adalah Rasul Saw. orang yang paling dermawan. Namun, di bulan Ramadhan lebih dermawan lagi ketika bertemu Jibril. Beliu liqo (bertemu) Jibril setiap malam dari bulan Ramadhan, maka Beliau belajar Al-Qur’an dari Jibril. Maka Rasul Saw. dalam kedermawanannya lebih cepat dari angin kencang. (HR. Bukhari)

7. Bersungguh-Sungguh Beribadah Pada 10 Hari Terakhir Ramadhan. Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata bahwa Nabi Saw. apabila masuk 10 hari terakhir Ramadhan Beliau menghidupkan sepanjang malam (dengan ibadah), membangunkan keluarganya dan mengencangkan ikat pinggangnya. (HR. Bukhari)

4.6. Siapa Saja yang Dapat Dispensasi Berbuka, Tapi Wajib Membayar
Fidyah (Denda)?

Kendati shaum itu wajib bagi setiap Muslim dan Muslimah yang berakal dan sudah baligh (remaja), tetapi Allah memberikan keringanan kepada orang-orang yang termasuk ke dalam kategori berikut :

a. Orang-orang yang sudah tua Bangka.
b. Orang-orang sakit yang kecil kemungkinan dapat sembuh.
c. Para pekerja keras di pelabuhan, bangunan dan sebagainya yang tidak punya sumber kehidupan lain selain pekerjaan tersebut. Syaratnya ialah jika mereka shaum mereka akan mengalami kesulitan atau beban fisik yang sangat kuat sehingga menyulitkan mereka melaksankan pekerjaan. Namun bagi yang kuat, maka shaum lebih baik.

Ketiga golongan / kategori tersebut mendapatkan dispensasi untuk tidak shaum di bulan Ramadhan. Akan tetapi, mereka wajib membayar fidyah (denda) sebanyak satu liter makanan / beras untuk setiap hari shaum yang ditinggalkan. Makanan / beras tersebut diberikan kepada orang-orang miskin yang ada di lingkungan tempat tinggal mereka.


d. Terkait wanita hamil dan menyusui, menurut imam Ahmad dan Syafi’i, jika mereka shaum itu berefek buruk terhadap janin dan anak mereka saja, maka mereka dapat dispensasi tidak shaum, tapi mereka harus mengqadha’nya serta membayar fidyah. Namun, jika shaum itu hanya berimplikasi negative terhadap diri mereka saja atau terhadap anak mereka saja, maka mereka hanya wajib mengqadha’nya. Satu hal yang perlu dicatat ialah bahwa pengaruh negative tersebut haruslah berdasarkan pendapat ahli kesehatan yang amanah secara keilmuan dan ketaqwaannya.


4.7. Siapa Saja Yang Dapat Dispensasi Berbuka, Tapi Wajib Qadha’ (menggantinya di hari lain)?

Adapun golongan yang mendapat dispensasi shaum akan tetapi mereka harus membayar / mengqadha’ pada hari yang lain di luar bulan Ramadhan ialah orang yang sakit dan tidak kuat untuk menunaikan shaum dan juga yang sedang musafir/ perjalanan untuk berperang di jalan Allah, berdagang dan berbagai keperluan lain yang bersifat primer, bukan sekunder seperti perjalanan wisata dan sebagainya. Dalam sebuah hadits dijelaskan : Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata : Dulu kami berperang bersama Rasul Saw di bulan Ramadhan. Di antara kami ada yang shaum dan ada yang berbuka. Bagi yang shaum tidak mempengaruhi yang berbuka dan bagi yang berbuka tidak mempengaruhi yang shaum. Kemudian bagi yang melihat dirinya kuat menjalankan shaum dia lakuakn dan itulah yang terbaik baginya dan bagi yang merasa dirinya lemah, maka ia berbuka, itulah yang terbaik baginya. (HR. Ahamd dan Muslim)

4.8. Siapa Saja yang Wajib Berbuka dan Wajib Qadha’ atasnya?

Di samping dua kondisi di atas ada lagi kondisi lain terkait shaum Ramadhan, yakni orang-orang yang wajib berbuka dan wajib qadha’. Mereka adalah wanita Muslimah yang sedang menstruasi / haidh dan melahirkan. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha dia berkata : Kami saat haidh di masa Rasul Saw diperintahkan untuk mengqadha’ shaum dan tidak diperintahkan mengqadha; shalat. (HR. Bukhari dan Muslim)

4.9. Hari-Hari Yang Dilarang Shaum Ramadahan adalah waktu termahal dalam hidup kita yang datang setiap tahun tanpa diundang.

Kendati shaum itu adalah ibadah yang disyari’atkan Allah di bulan Ramadhan dan di hari-hari lain di luar Ramadhan seperti yang dijelaskan pada pembahasan Shaum Tathowwu’ (Shaum Sunnah) dan sudah terbukti shaum itu memiliki keistimewaan dan efek positif dalam segala sisi kehidupan kita. Namun demikian, sesuai aturan main Allah, terdapat hari-hari dan kondisi yang dilarang (diharamkan) shaum, seperti :

a. Diharamkan shaum pada dua hari raya, yaitu Idul Fitri (tanggal satu Syawal) dan Idul Adha ( tanggal 10 Zulhijjah). Terkait dengan haramnya shaum pada kedua hari raya tersebut seharusnya membuat kita sangat berhati-hati dan tidak menyepelekannya. Aneh tapi nyata,di Indonesia ini selalu terjadi perbedaan penetapan awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha. Namun ada yang lebih ajaib lagi ialah pendapat yang mengatakan bahwa untuk menjaga kesatuan umat yang hukumnya wajib lebih penting dari sholat idul fitri dan idul Adha yang hukumnya sunnah. Sebab itu, boleh sholat Idnya pada hari berikutnya demi menjaga persatuan umat. Ini jelas-jelas pendapat yang ngawur, lemah dan tidak beralasan disebabkan :

1. Terkait dengan Idul Fitri dan Idul Adha terdapat dua hukum yang berbeda. Pertama, haram/larangan ibadah shaum pada kedua hari raya tersebut menurut Rasulullah Saw. seperti tercantum dalam hadits riwayat Ahmad : Dari Umar Ibnul Khattab dia berkata: Sesungguhnya Rasul Saw. melarang shaum pada dua hari ini (Idul Fitri dan Idul Adha). Adapun hari Fitri yaitu hari berbukanya kamu dari shaummu. Adapun hari Adha maka makanlah (pada hari itu) sebagian daging kurbanmu. (H.R. Ahmad). Kedua, adalah melaksanakan ibadah sholat Idul Fitri dan Idul Adha serta semua ibadah yang lain harus sesuai sunnah /contoh/ perintah Rasul Saw. Dalil Al-Qur’an dan Sunnah sangat banyak menjelaskan hal tersebut.

Dua hal yang berbeda, yang satu haram beribadah shaum dan yang satu lagi tuntutan melaksanakan ibadah shalat id, namun pada hari yang sama dan tidak dapat dipisahkan, kecuali dengan dalil yang diperbolehkan Rasul Saw. seperti tidak mengetahui jatuhnya tanggal satu syawal atau 10 Zulhijjah. Sebab itu, tidak ada kaitan keduanya dengan keharusan menjaga kesatuan umat.

2. Bagi yang mengetahui jatuhnya satu syawal dan 10 Zulhijjah, namun dia tetap shaum maka ia berdosa besar karena melanggar hukum/ketentuan Allah dan RasulNya. Berarti dia melakukan maksiat pada Allah dan RasulNya. Demikian juga bagi yang megetahui jatuhnya satu syawal atau 10 Zulhijjah, namun dia melaksanakan sholat Idnya pada tanggal / hari berikutnya, tanpa dalil syar’i, maka dia melakukan dosa dan bid’ah, alias melaksanakan ibadah keluar dari sunnah Rasul Saw.

3. Kendati kedua sholah Id tersebut secara fiqih hukumnya sunnah, bukan berarti kita bisa melakukan semau kita dan berdasarkan akal-akalan kita. Semua ibadah baik fardhu maupun yang sunnah wajib dilaksanakan didasari ikhlas ta’abbudiyah (ikhlas beribadah kepada Alllah). Untuk mencapai ikhlas ta’abbudiyah tersebut mengharuskan kita untuk melaksanakannya sesuai aturan main yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya, baik tata caranya maupun waktunya. Waktu sholat Idul Fitri adalah tanggal satu Syawal dan Idul Adha adalah tanggal 10 Zulhijjah setelah hari ‘Arofah, kecuali jika kita tidak tahu. Kalau dilakukan dengan cara atau hari yang tidak sesuai dengan yang telah dicontohkan Rasul Saw. berarti kita melakukan bid’ah dalam perkara ini. Hukumnnya jelas setiap bid’ah itu adalah kesesatan.

4. Kalimat menjaga kesatuan umat itu adalah akal-akalan yang tidak didukung dalil dan fakta yang kuat. Bersatu di atas pelanggaran hukum/aturan main Allah dan Sunnah Rasul Saw. baik fardhu maupun sunnah adalah maksiat dan kemungkaran besar. Toleransi pada ibadah Sunnah itu terletak pada melaksanakannya atau tidak, bukan pada niat atau tata caranya. Ibadah sunnah memang tidak mutlak harus dilaksanakan, sebagai ibadah tambahan taqarrub ilallah yang akan menambah kekuatan eksistensinya di mata Allah sebagai hamba yang taat, mencintai dan bersyukur pada Allah. Namun demikian, bukan berarti boleh dilaksanakan sesuai keinginan dan situasi yang kita inginkan.

5. Allah menyuruh kaum Muslimin menjaga kesatuan itu harus didasari berpegang teguh pada Allah dan agama-Nya, bukan akal dan pikiran kita yang picik dan mengada-ada, apalagi jika ada udang di balik batunya, seperti yang Allah jelaskan dalam surat Ali Imran : 103, Annisa’ : 146 & 175 dan Al-Haj : 78. Jika kesatuan umat ini dibangun di atas dasar pelanggaran agama Allah, maka kesatuan tersebut berarti kesatuan di atas dasar kesesatan dan murka Allah. Lalu, apa bedanya dengan orang-orang kafir yang bersatu di atas dasar agama/aturan main/ hidup yang tidak diridhai Allah? Apakah dengan kesatuan tersebut Allah merahmati mereka dan memasukkan mereka ke dalam syurga-Nya. Tentu jawabannya sebaliknya. Allah tetap murka pada mereka di dunia dan terlebih lagi di akhirat, kecuali jika mereka kembali kepada agama Allah saat mereka hidup di dunia ini dengan ikhlas dan maksimal.

b. Pada Hari-Hari Tasyriq, yakni tanggal 11- 13 Zulhijjah. Abu Hurairah meriwayatkan, bahwa Rasul Saw. mengutus Abdullah Bin Huzafah berkeliling di Mina sambil berrkata : Jangan kalian shaum pada hari-hari ini (11 – 13 Zulhijjah), karena sesungguhnya ini adalah hari-hari kalian makan, minum dan zikrullah ‘Azaa Wajallah. (HR. Ahmad).

c. Shaum pada hari Jumat saja. Dari Abdullah Bin Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasul Saw. berkunjung ke Juwairiyah Binti Harits yang sedang shaum pada hari Jumat itu. Lalu Rasul Saw. bertanya padanya : Apakah kamu shaum kemarin? Dia menjawab : Tidak. Rasul Saw. beratanya lagi : Apakah kamu berniat shaum besok? Dia menjawab : Tidak. Lalu Rasul bersabda : Maka berbukalah (batalkanlah) shaummu. (HR. Ahmad dan Nasa’i).

d. Mengkhususkan shaum pada hari Sabtu. Rasul Saw. bersabda : Janganlah kalian shaum pada hari Sabtu, kecuali memang hari itu bertepatan dengan Shaum wajib (Shaum Ramadhan, nazar dan tanggal yang disunahkan shaum seperti Arofah dan sebagainya). Jika kalian tidak punya makanan kecuali kulit anggur atau daun kayu maka kunyah/makanlah. (HR. Ahmad)

e. Pada hari syak (ragu) juga diharamkan shaum. Hari Syak ialah hari di mana kita ragu apakah sudah masuk awal Ramadhan atau belum. Larangan tersebut erat kaitannya dengan keharusan untuk komitmen dengan aturan main ibadah yang telah ditetapkan Allah, ternasuk shaum Ramadhan. Rasulullah meminta kita untuk mengetahui secara pasti awal Ramadhan. Jika ragu apakah awal Ramadhan sudah masuk atau belum, Rasul Saw. melarang kita shaum pada hari tersebut. Demikian juga halnya dengan larangan shaum pada hari raya Idul Fitr dan Idul Adha.

Dalam sebuah hadits Rasul Saw. bersabda : Siapa yang shaum pada hari syak, maka dia telah durhaka pada Abul Qashim (Muhammad Saw). Dalam hadits lain Rasul Saw. bersabda : Jangan kalian mendahulukan shaum Ramadhan satu atau dua hari sebelumnya kecuali jika ada yang mengharuskan kamu shaum (seperti shaum nazar dan sebagainya). (HR. Al-Jama’ah). Imam Tirmizi berpendapat dilarang seseorang shaum Ramadhan sebelum masuk waktunya, karena namanya saja shaum Ramadhan, maka harus terikat dengan nama bulannya, yakni di bulan Ramadhan.

f. Diharamkan shaum sunnah bagi wanita yang suaminya ada di rumah kecuali atas izin suaminya. Janganlah wanita shaum satu hari pun sedangkan suaminya berada di rumah kecuali atas izinnya dan (kecuali) shaum Ramadhan. (HR. Bukhari dan Muslim)

g. Dilarang shaum wishal (terus menerus). Dalam sebuah hadits Rasul Saw. bersabda : Sekali-kali jangan kamu melakukan shaum wishal. Beliau katakan sampai tiga kali. Lalu mereka (Sahabat) berkata : Bukankah engkau melakukannnya wahai Rasulullah? Beliau menjawab : Kamu sekalian bukanlah seperti aku dalam hal tersebut. Aku tidak ingin (tidak mungkin) Rabb (Tuhan Pencipta)-ku tidak memberi makan dan minum padaku. Maka kerjakan amal ibadah sesuai kemampuan kalian. (HR. Bukhari dan Muslim). Jika di antara kita hendak mendekatkan dirinya pada Allah secara intensif melalui ibadah shaum sebanyak-banyaknya sepanjang tahun, lakukanlah shaum Daud seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya pada pembahasan Shaum Tathowwu’ (Sunnah).

Sumber : Eramuslim