Ulama Palestina menjawab secara lengkap pertanyaan “Apakah benar Hamas sibuk memerangi saudara Muslimnya sendiri?”

“Kami sangat bersemangat membantu jihad di Palestina, tetapi Hamas kemudian berkelahi dengan sesama saudaranya Muslim Palestina, seperti ‘Fatah’ dan ‘Jundu Nashrullah’ atau ‘Emirat Islam’. Bagaimana ini?”

Begitulah pertanyaan yang paling sering diajukan oleh masyarakat Malaysia di beberapa kota kepada tim Rabithah Ulama Palestina yang sedang berkunjung ke negeri itu di paruh akhir bulan suci Ramadhan ini.

Ketua tim tersebut, Syeikh Abu Bakar Al-‘Awawidah, penasihat senior Rabithah Ulama Palestina di Suriah, memberikan jawaban mengenai masalah Hamas (Harakah Muqawamah Al-Islamiyah) dengan Fatah dan Jundu Nashrullah secara terinci.

Syeikh Abu Bakar menyebutkan, bahwa dalam Piagam Pendirian Hamas (1987) ada pasal khusus yang menyebutkan, bahwa, “PLO (Palestinian Liberation Organization) dan sayap militernya Fatah adalah saudara kami seperjuangan selama mereka berada di jalan Allah dan membela hak-hak rakyat Palestina.”

Jadi sejak awal pendiriannya, Hamas tidak pernah berinisiatif memerangi PLO yang waktu itu dipimpin oleh Yaser Arafat dan Fatah, sayap militernya. Para pemimpin Hamas seperti Asy-Syahid Syeikh Ahmad Yasin, sengaja memisahkan diri dari PLO, di mana selama puluhan tahun mereka juga berada di dalamnya, dengan tujuan untuk menegaskan garis perjuangan rakyat Palestina agar semata-mata untuk menegakkan Islam dan mencari keridhaan Allah Ta’ala.

“Perjuangan membebaskan Palestina dan Masjidil Aqsa,” kata Syeikh Abu Bakar, “tidak akan pernah menang tanpa pertolongan Allah. Dan pertolongan Allah hanya akan turun kalau bangsa Palestina taat kepada Allah dan menegakkan Syariat Islam secara istiqamah.”

Inilah yang menjadi alasan utama berdirinya Hamas, ujarnya.  Namun seiring berjalannya waktu, kata beliau, terutama sejak wafatnya Yaser Arafat tahun 2004, Fatah semakin bersikap kompromistis dan akrab dengan Zionis Israel.

Syeikh Abu Bakar menyatakan, “Kami memiliki bukti berupa foto-foto otentik, bahwa Mahmoud Abbas dan Muhammad Dahlan (komandan militer dan intelijen Fatah) sudah sejak tahun 1996, secara rahasia di belakan Yasser Arafat, menjalin hubungan sangat akrab dengan pemerintah Zionis Israel, terutama para pejabat intelijennya.”

Bahkan di dalam foto-foto yang juga diserahkan kepada www.hidayatullah.com tersebut nampak kedua tokoh yang kini menjadi pucuk pimpinan Fatah itu bergaul mesra dengan para pejabat tinggi Zionis Israel.

Di foto-foto tersebut juga nampak Dahlan berpelukan dan berciuman pipi dengan Madeline Albright, menteri luar negeri Amerika Serikat semasa pemerintahan Presiden Bill Clinton. Albright adalah seorang Yahudi keturunan Finlandia.

Kelak Abbas dan Dahlan inilah yang secara resmi didukung Amerika Serikat, Israel dan negara-negara Barat menjadi Presiden Otorita Palestina (OP). Sebuah badan yang menjalankan kekuasaan internal atas rakyat Palestina di kawasan Tepi Barat dan Gaza. Namun sejak 2006 Gaza dibebaskan oleh Hamas dari kekuasaan OP.

“Dengan kedekatan seperti itu,” kata Syeikh Abu Bakar, “pantaslah kalau dengan mudah Mahmoud Abbas membatalkan semua kesepakatan yang telah dibuatnya dengan para pemimpin Hamas, Khalid Misy’al dan Ismail Haniyah di depan Ka’bah di Masjidil Haram tahun 2007 yang lalu.”

Menurut, Syeikh Abu Bakar, pertentangan yang terjadi sebenarnya bukan antara Hamas dengan Fatah. Karena sebagian besar sayap militer Fatah seperti Fatah Intifadhah, Brigade Al-Quds, Brigade Nashr Shalahuddin dan lain-lain tetap bergabung bersama gerakan muqawamah (perlawanan) seperti Hamas dan Jihad Islam.

Jadi, Syeikh Abu Bakar menyimpulkan, pertentangan yang terjadi adalah antara rakyat dan Mujahidin Palestina melawan para Munafiqin dan Pengkhianat atas perjuangan Palestina.

Jundu Nashrullah alias Emirat Islam

Sedangkan mengenai pertempuran baru-baru ini antara “Al-Qaidah” dengan Hamas, Syeikh Abu Bakar menyebut, bahwa mereka bukan Al-Qaidah, melainkan Khawarij Hadzihil Ummah (orang-orang yang keluar dari barisan umat ini).

Syeikh Abu Bakar mengutip hadits Rasulullah Saw, “Kelak akan datang suatu masa di mana kalian akan bertemu dengan sekelompok orang yang tilawah Al-Quran-nya, shalatnya dan ibadah lainnya, akan membuat kalian merasa rendah diri karena begitu bagus dan khusyu’nya mereka. Tetapi ketahuilah bahwa bacaan Al-Quran mereka tidak masuk ke hati, melainkan hanya sampai ke leher mereka. Mereka ini menjadi kafir seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Mereka berkasih sayang dengan orang selain Muslim tetapi sangat mudah menumpahkan darah saudaranya sesama Muslim. Mereka inilah Khawarij Hadzihil Ummah.

Sebenarnya, menurut Syeikh Abu Bakar, mereka ini sudah ada sejak setahun yang lalu. Perilaku mereka, kata beliau, persis seperti yang pernah ditunjukkan oleh kaum Khawarij yang membunuh Khalifah ‘Ali ibn Abi Thalib Radhiallaahu ‘anhu.

Kata Syeikh Abu Bakar, “Hamas sudah mengirimkan 30 orang doktor Syari’ah untuk duduk bersama dan berdialog dengan mereka mengenai bagaimana cara yang benar menegakkan Syariat Islam. Diantaranya adalah Dr. Marwan Abu Rasy, Dr. Abdurrahman Jamal dll. Tetapi mereka tetap merasa bahwa Islam yang benar adalah yang mereka yakini.”

Ketika terjadi Ma’rakatul Furqon (pertempuran yang membedakan Al-Haq dan Al-Bathil) di Gaza awal tahun ini, Hamas memberikan senjata kepada mereka yang kemudian mereka gunakan untuk memerangi Hamas sendiri.

Bahkan waktu itu, menurut Syeikh Abu Bakar, Hamas juga memberitahukan kepada mereka banyak terowongan rahasia dan tempat-tempat militer strategis. Namun selama pertempuran 23 hari di Gaza waktu itu, mereka tidak sekalipun memuntahkan pelurunya ke arah Yahudi dan tidak satupun membunuh Yahudi.

Beberapa bulan yang lalu kelompok yang diperkirakan berkekuatan sekitar 300 orang ini mulai membuat kekacauan. Di Khan Yunis mereka melakukan peledakan atas sebuah walimatul ‘ursy (pesta pernikahan) dan membunuh para undangan, karena dianggap acara itu mengandung maksiat.

Begitu juga mereka meledakkan warung-warung internet karena menganggapnya sebagai pusat-pusat kemaksiatan. Bahkan, salah satu ulama yang dikirim oleh Hamas untuk berdialog, Dr. Marwan Abu Rasy, rumahnya dipasangi ranjau oleh mereka.

Syeikh Abu Bakar menegaskan, bahwa keberadaan kelompok ini sangat berbahaya bagi umat Islam di Gaza dan Palestina. “Ketika kami sibuk melawan Zionis Israel, mereka justru sibuk membuat kekacauan di tengah rakyat. Mereka menyebut pemerintahan PM Ismail Haniyah sebagai pemerintahan murtad,” kata Syeikh Abu Bakar.

Terakhir, Hamas mengirimkan seorang komandan Brigade ‘Izzuddin Al-Qassam untuk melakukan dialog dengan mereka, tetapi komandan tersebut justru mereka tembak dari belakang sampai syahid.

Kata Syeikh Abu Bakar, kelompok ini kemudian semakin giat menghalalkan darah dan harta para Mujahidin, serta giat menyebarluaskan isu jahat di kalangan rakyat Gaza. “Mereka pada dasarnya sedang melakukan makar kepada umat Islam.”

Syeikh Abu Bakar menutup penjelasannya, “Keputusan Hamas memerangi mereka sebenarnya keputusan yang sangat berat dan pahit. Akhirnya Hamas terpaksa menyerang mereka yang berada di Masjid Ibn Taimiyah.”

“Ketika Hamas berusaha  menangkap Dr. Abdul Latif Musa untuk menyelesaikan masalah dengan cara dialog, dia malah meledakkan dirinya sampai mati dan menganggapnya sebagai ‘amaliyah istisyhadiyah (bom syahadah).”

Menurut Syeikh Abu Bakar, saat ini rakyat dan para Mujahidin Gaza sedang berjuang kembali ke Al-Islam, melawan makar Zionis Israel, serta membangun kembali kehidupannya setelah dihancurkan Israel. “Lalu kenapa ketika 1,5 juta jiwa rakyat Gaza sedang berjuang, kemudian ada sekelompok kecil orang yang mengacaukan keadaan, justru dibesar-besarkan dan dipromosikan oleh kantor-kantor berita Barat? Ada apa di balik ini semua?” tanya Syeikh Abu Bakar. [Muhammad ‘Isa/www.hidayatullah.com]

Foto [Atas] Dr. Abd Latif Musa. Foto [Bawah] Komandan Fatah, Mohammad Dahlan, akrab bersama pejabat militer Israel

Iklan

Daripada merayakan penjajahan Israel terhadap Palestina, lebih baik menjenguk dan membantu 1,5 juta rakyat Palestina di Gaza yang sedang kelaparan dan krisis bahan bakar, karena diblokade Israel. Demikian pendapat Dr Musa Abu Marzuk, Wakil Kepala Biro Politik Hamas dalam Wawancara Khusus dengan Hidayatullah.com.

Rencana mantan Presiden Republik Indonesia Abdurrahman Wahid untuk menghadiri perayaan 60 tahun berdirinya negara Zionis Israel, bulan Mei mendatang, dikritik oleh tokoh pejuang kemerdekaan Palestina, Dr Musa Abu Marzuq.

Ditemui di kantornya di Damaskus beberapa jam yang lalu, Abu Marzuq, yang menjabat Wakil Kepala Biro Politik Hamas (Gerakan Perlawanan Islam untuk Kemerdekaan Palestina) menyebut rencana itu, “sungguh-sungguh memalukan.”

Menurut Abu Marzuq, merayakan 60 tahun berdirinya Zionis Israel sama halnya merayakan pembantaian, pengusiran, perusakan kebun-kebun dan penjajahan atas rakyat Palestina dan Masjidil Aqsa.

“Bagaimana mungkin seorang Muslim seperti Abdurrahman Wahid tega ikut serta merayakan kezaliman atas saudara-saudara Muslimnya sendiri?” tukasnya.

Menurut Abu Marzuq, kalau Presiden AS George Bush menghadiri perayaan seperti itu, dirinya masih bisa memahami, tapi kalau seorang bekas presiden dari sebuah bangsa Muslim terbesar di dunia yang melakukannya, “sungguh memalukan.”

Dr Musa menyarankan kepada tokoh-tokoh Indonesia untuk datang sendiri melihat keadaan saudara-saudaranya di Gaza.

“Sudah berbulan-bulan, 1,5 juta saudara-saudara Anda, terutama anak-anak, saat ini hidup tanpa bahan bakar, tanpa obat-obatan dan makanan yang sangat terbatas karena diblokade oleh Zionis Israel,” jelasnya.

Namun, Abu Marzuq mengingatkan, bahwa Israel tidak mungkin memberikan izin kepada siapapun untuk menyaksikan kekejaman mereka atas para penduduk Gaza.

“Minggu lalu, bekas (Presiden AS Jimmy) Carter juga dilarang Israel masuk ke Gaza,” katanya.

Karena masuk ke Gaza tidak mungkin, saat ini, ia menyarankan para tokoh Muslim Indonesia agar mengunjungi para pengungsi Palestina di Yordania, Mesir dan Suria. “Ada 6 juta saudara-saudara Anda bangsa Palestina yang sekarang diusir oleh Zionis Israel dan terpaksa hidup di pengungsian,” katanya.

Menanggapi langkah-langkah pemerintah Otoritas Palestina di bawah Mahmud Abbas yang menambah terus jumlah “duta besar” Palestina di berbagai negara, Abu Marzuq mengatakan, bahwa dirinya tak merasa ada masalah dengan itu.

Sejak sepuluh tahun silam, sudah lebih dari seratus negara yang memiliki duta besar atau perwakilan PLO. “Yang terpenting,” kata Abu Marzuq, “para duta besar itu bekerja untuk kepentingan kemerdekaan dan kesejahteraan bangsa Palestina. Jangan sampai mereka memperkeruh suasana dengan menjelek-jelekkan kelompok tertentu yang mengakibatkan lemahnya persatuan bangsa Palestina.”

Ketika berkunjung ke Indonesia beberapa bulan silam, Presiden Otoritas Palestina Mahmud Abbas di depan tokoh-tokoh Indonesia menyebut Hamas sebagai “kriminal”. Namun Abu Marzuq enggan menanggapi pernyataan-pernyataan yang bernada kampanye hitam itu.

Menurutnya, apapun yang dikatakan oleh Mahmud Abbas tentang Hamas, tidak akan banyak pengaruhnya bagi kepentingan Palestina.

“Sebab dunia sudah bisa menyaksikan,” ujarnya, “siapa yang benar-benar bekerja untuk kemerdekaan Palestina, dan siapa yang hanya bikin masalah.”

Menurut Abu Marzuq, saat ini ada upaya keras untuk membangun citra, seakan-akan Gaza di bawah Hamas adalah Korea Utara yang kacau-balau dan pemerintahnya salah urus. Sedangkan Tepi Barat adalah Korea Selatan yang modern dan kaya raya.

“Tapi kami ingin menyampaikan, bahwa prioritas pekerjaan kami adalah rekonsiliasi rakyat Palestina, keselamatan mereka dan dikembalikannya hak-hak mereka di manapun mereka berada,” kata Abu Marzuq.

Sejauh ini Mahmud Abbas telah melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri Zionis Israel Ehud Olmert sebanyak 51 kali. “Hasilnya bukan saja nol, malah semakin buruk,” simpul Abu Marzuq.

Dr Musa Abu Marzuq lahir di Gaza tahun 1951. Setelah menyelesaikan kesarjanaan tekniknya di Universitas Ayn Syams, Kairo ia bekerja di bidang industri di Uni Emirat sampai tahun 1981. Sepuluh tahun kemudian ia menyelesaikan studi S-3 di Amerika Serikat.

Di Biro Politik Hamas (Harakah Muqawwamah Al-Islamiyah), Abu Marzuq adalah wakil dari Khalid Misy’al yang pernah diwawancarai majalah Suara Hidayatullah, edisi September 2006. [Dzikrullah, Khadijah, dan Kaisya Fatina (fotojurnalis) dari Damaskus]

Sumber : Hidayatullah.com