Hancur sudah tempatku bermain. Tempat-tempat terindah di masa kecil di Sumbar, kini hanya bisa kukenang. Semoga bisa menjadi pelajaran bagi semua

Walaupun aku jauh di rantau orang, sesungguhnya jiwaku sangat terluka dengan gempa yang terjadi di Sumbar 7,6 SR tanggal 30 September bulan lalu. Hatiku sangat sedih. Bukan apa-apa, ini karena aku hanya bisa mengikuti perkembangan gempa melalui berbagai media di internet secara online 24 jam.

Bagaimanapun, rasa was-was sedih sangat tinggi. Di tempat asalku, di Kota Padang, ada adik, anak abang, dan saudaraku lainnya yang sedang kuliah di sana. Hatiku semakin gelisah karena setiap orang yang kutelepon tidak bisa kuhubungi selama 2 hari. Walaupun aku agak keras kepala, namun beberapa hari ini aku hanya bisa menangis melihat kesan gempa melalui media.

Di media, kawasan yang dulunya tempatku bermain, hancur-lebur. Bangunan yang dulunya biasa kulihat, rumah-rumah yang dulunya bersusun rapi, keluarga yang dulunya biasa kulihat ceria, semuanya telah berubah hanya dengan sekelip mata akibat gempa.

Sebenarnya aku mampu membeli tiket pesawat untuk pulang melihat secara langsung. Namun keberadaanku di sana mungkin tidak akan mengurangi penderitaan mereka yang telah kehilangan nyawa, sanak-keluarga, harta-benda, dan sebagainya. Lebih baik harga tiket itu aku sumbangkan kepada mereka.

Aku lebih memilih untuk tetap tinggal di Kuala Lumpur dengan mengumpulkan sumbangan dari orang-orang Malaysia yang kukenali. Walaupun jutaan rupiah telah dan akan kukirimkan untuk membantu korban gempa, pastinya itu semua tidak akan mampu mengganti penderitaan mereka yang telah kehilangan segalanya.

Alhamdulillah, melalui organisasi kami, Cabang Muhammadiyah-Kuala Lumpur,  bergerak mengumpulkan dana sejauh yang mampu kami lakukan.

Indah Kabar dari Rupa

Secara ikhlas aku menyadari bahwa Allah SWT. adalah pemilik mutlak alam semesta. Dia berhak melakukan apa saja ke atas alam yang menjadi milik-Nya ini. Kita sebagai makhluk-Nya hanya menumpang sementara di bumi Allah yang luas ini. Apapun ketentuan-Nya, kita sebagai hamba harus pasrah dan sabar menerimanya. Pasti ada hikmah di balik peristiwa ini, mungkin Allah ingin mengingatkan dan menyadarkan kita dari kesilapan dan dosa yang sering kita lakukan selama ini. Peringatan seperti ini juga pernah berlaku kepada umat-umat sebelum kita dulunya.

Dengan gempa bisa membuat kita merenung tentang bagaimana kekuatan dan kekuasaan Allah SWT. Mungkinkah adanya bencana disebabkan karena Allah murka melihat kemunafikan kita. Kita bangga dengan slogan Islamic tetapi kenyataan di lapangan jauh dari realitas simbol “Serambi Mekah atau Adat Basandi Syara`, Syara` Basandi Kitabullah.” Seperti halnya Aceh, Padang juga dikenal dengan daerah yang religius (hanya) “dari luar”. Kekurangan dan kelemahan sebenarnya bisa kita lihat dan kita rasakan sendiri jika kita berada di dalamnya.

Jika mau jujur, rumah-rumah kos sebagian mahasiswa, mirip hotel murah tempat memuaskan nafsu syetan pasangan belum nikah.  Lihat saja, tempat-tempat maksiat di pantai Air Manis, pantai Padang, daerah Pertambangan lainnya yang difasilitasi sedemikian rupa. Judi dan narkoba menjadi budaya dan kebanggaan anak bangsa. Semua lapisan masyarakat hampir tidak ada yang peduli dan membiarkan semua kejahatan itu berlaku. Para ustaz hanya bisa mengajak kepada kebaikan. Institusi polisi juga tidak mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar yang berlaku di bumi bundo kandung ini.

“Adat Basandi Syara`, Syara` Basandi Kitabullah”
ini hanyalah indah kabar dari rupa. Adat-adat jahiliyah seperti mengadu ayam, main judi, dan pergaulan muda mudi menjadi-jadi.

Setiap keramaian wajib ada dangdutan keyboard tunggal (electone), dengan menyewa penyanyi dangdut yang sudah tentu menampilkan goyang ngebor a la Inul. Siang hari artisnya berpakaian sopan, tapi malamnya berubah seperti syetan seksi yang memperlihatkan bentuk-bentuk tubuh mereka.

Arak, judi, dan pergaulan bebas bergaul di sana. Kalau di negara sekuler, acara seperti itu diadakan tertutup dan hanya bisa diadakan di tempat khusus yang dihadiri oleh orang dan batas umur tertentu saja. Maka di tempat kelahiranku,  tarian dangdut erotis bisa disaksikan oleh segala lapisan masyarakat, bahkan anak-anak.

Saya tidak hanya sedang bercerita tentang orang lain. Perkara itu juga berlaku dalam keluargaku sendiri. Di saat ada acara kenduri pernikahan, ada saja acara orkes tunggal lengkap dengan goyang ngebornya. Kenapa bukan pengajian saja, atau hiburan ringan dan menyantuni fakir miskin/anak yatim yang menderita kesusahan selama ini?.“Ini sudah menjadi budaya kewajiban baru,” begitu kata mereka.

Saya teringat Buya Hamka yang pernah mengatakan,  derajat “khaira ummah” atau umat terbaik bukanlah sesuatu yang gratis atau otomatis. Menurutnya, ia harus diikuti dengan dua syarat. Pertama, menyuruh kepada kebaikan, Kedua, mencegah dari kemungkaran. Sayangnya syarat yang kedua ini tidak dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, dan oleh organisasi ke-Islaman yang ada.

Adalah menjadi rahasia umum, dalam berbagai kasus yang saya ketahui, aparat bahkan bertindak sebagai pelindung dan penonton kemungkaran itu.

Semoga para korban mendapat maqam (tempat) yang mulia dan Syahid di sisi Allah SWT. Dan semoga bencana ini mampu  membuka mata dan telinga batin kita semua.

[kiriman Afriadi Sanusi. Penulis kelahiran Sumbar asli, Kini sedang melanjutkan program S3 bidang Islamic Political Science di Universiti Malaya Kuala Lumpur. Email: adirao76@gmail.com

foto: reuter pictures/dlf

Sumber : Hidayatullah.com

Duduk bersama dalam menyelesaikan masalah Indonesia-Malaysia jauh lebih utama dibanding dengan cara jalanan

Oleh: Afriadi Sanusi

Alkisah, seorang raja terkejut menemukan isterinya tidur setilam dengan seorang budak hambasahaya miliknya pada suatu malam. Sebagai seorang raja yang memiliki kuasa penuh waktu itu dia bisa saja membunuh isteri dan budaknya hanya dengan sekalihunusan pedang. Dia tidak jadi menjatuhkan hukuman itu sebelum adanyapengadilan sah yang mendengar pengakuan kedua belah pihak. Karena ketika itu dalam hatinya dia mendengar ayat “”Yaayyuhalladzina aamanu in jaa’akum faa siqun binaba’in fatabayyanuu an tushibuqauman bijahaalatin fatush bihuu ala maa fa’altum naa dimiin.” (Haiorang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasiq (satu kaum)membawa berita, maka hendaklah kamu selidiki, jangan sampai kamu membalas kepada suatu kaum dengan kebodohan, maka kamu kelak akan merasa menyesal). [QS:Alhujuraat:6].

Ayat ini adalah penegasan wajibnya kaum Muslim melakukan koreksi kebenaran setiap mendapat/menerima berita yang kita terima.

Singkat cerita,setelah dibangunkan, sang raja menggunakan kuasanya dengan mengatakan, “kenapakalian melakukan semua ini!…” Sang isteri mengatakan kepada suaminya, “Sayakira orang yang tidur diatas tilam tadi adalah kakanda, karena menyangka kandatidak jadi pergi berburu ke hutan,. Si hamba sahaya juga menjawab, “Tadi sore di saat saya membersihkan kamar tuan, teringin sekali rasanya saya menyentuh tilam yang empuk ini, setelah ku sentuh aku pun ingin mencoba bagaimana rasanyaberada di atas tilam ini. Aku pun tertidur karena terlalu capek dan karena merasa betapa enaknya berada diatas tilam tuan yang empuk ini.”

Dengan berkat hidayah dari Allah SWT. Ayat Al-Quran diatas telah menyelamatkan anak manusiadari melakukan kesalahan yang fatal. Sang raja tidak jadi membunuh dua insanyang sebenarnya tidak berdosa dan dua insan yang secara logis harus mati di tangan penguasa tidak jadi mati. Dalam Islam fitnah dikatakan lebih kejam dari pembunuhan,ini karena fitnah bisa menyebabkan berlakunya permusuhan, dendam, perang dan berbagai kehancuran lainnya karena boleh membunuh ratusan bahkan ribuan nyawayang tidak berdosa.

Dalam falsafahkita di ajarkan “berikan 25% kepercayaanmu terhadap apa yang kamu dengar,berikan 50% kepercayaanmu terhadap apa yang kamu lihat dan percayalah setelahdiselidiki atau dikaji.”


Indonesia-Malaysia Pra Nasionalisme

Sebelum lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 dan Negara Malaysia pada 31 Agustus 1957, Asia Tenggara memiliki hubungan sejarah yang sangat rapatdan panjang. Kerajaan Iskandar Muda pada tahun 1607 hingga tahun 1936 kekuasaannya meliputi Deli, Johor, Bintan, Pahang, Kedah, Melaka. Kerajaan Melayu Riau Lingga kekuasaannya meliputi Riau, Johor dan Pahang pada abad ke19. Terdapat ikatan kekeluargaan yang kuat antara masyarakat dan keluarga diRaja Riau, Bugis, Betawi, Johor, Rao, Pahang, Selangor, Jambi, Minangkabau,Negeri Sembilan, Jawa dan sebagainya

Penghijrahan dalam kawasan Asia Tenggara ketika itu adalah perkara biasa, tiada batassempadan negara. Terdapat kesamaan dari segi alam, ekonomi, politik, sejarah masa lalu, bentuk tubuh, warna kulit, budaya, bahasa dan agama. Belum ada mengenal sistem pasport, visa dan fiskal ketika itu. Asia Tenggara pula pernah menjadi sebuah kesatuan ketika air laut turun.

Banyak orang-orang Melayu Malaysia sekarang ini nenek moyangnya berasal dari Riau, Bugis, Betawi, Johor, Rao, Jambi, Minangkabau, Negeri Sembilan, Jawa dan sebagainya.Mereka masih menggunakan bahasa daerahnya dalam kalangan keluarga dan masih mengamalkan adat budaya suku kaumnya. Diantara mereka banyak yang menjadi orang penting seperti menjadi Perdana Menteri, Menteri, Profesor dan sebagainya.Tetapi mereka bukan berasal dari Indonesia, karena Indonesia baru saja lahir 63tahun yang lalu yaitu pada 17 Agustus 1945.

Orang Melayu Rao(Rawa) Malaysia, misalnya, banyak terdapat di negara bagian Perak, Kedah, Pulau Pinang, Kuala Lumpur, Selangor, Kelantan, Pahang Malaysia. Begitu juga dengan orang Minangkabau, Riau, Jambi, Kerinci, Mandailing dan sebagainya yang mendominasi tempat-tempat tertentu di Malaysia. Mereka masih mempertahankanadat, budaya dan bahasa suku kaumnya. Mereka melakukan hubungan kekeluargaan yang erat. Saling mengunjungi antara keluarga di Indonesia-Malaysia. Ini karenahubungan persaudaraan dan darah yang telah terjalin ribuan tahun lalu tidakakan bisa dipisahkan oleh perbedaan batas teritory negara, politik dan rasa nasionalisme sempit yang baru lahir beberapa puluh tahun ini saja.

Ulama memberikanperanan yang kuat dalam menjalin hubungan kekeluargaan dan persaudaraan yang didasarkan pada kalimat tauhid ketika itu. Sampai sekarang masih diabadikan dalam buku-buku sejarah tentang peranan ulama melayu, Riau, Bugis, Betawi,Johor, Rao, Pahang, Selangor, Jambi, Minangkabau, Negeri Sembilan dalambuku-buku sejarah dalam menyebarkan ajaran Islam di Kepulauan Melayu ini. Para ulama menyatukan umat dengan ajaran Islam, melalui murid dan melalui jalinan perkawinan yang memiliki ramai keturunan dan ahli keluarga. Hubungan kekeluargaan yang kuat didasari pada hubungan darah, persemendaan, hubungansuku kaum, dan adat budaya. Sebagai tokoh, mereka memiliki pengaruh yang tiadaterhingga hingga saat ini.

Peran Berita Media

Meminjam istilah Dr P. Ramlee, aktor film, sutradara, penyanyi, dan sastrawan yang dikenal di Malaysia dan memiliki ikatan keluarga Aceh, “Sedangkan lidah lagi tergigit apalagihubungan suami isteri.” Menurutnya, semakin dekat hubungan kita dengan sesuatu,maka semakin sering terjadi perselisihan dan perbedaan pendapat.

Hari-hari inimedia –khususnya di Indonesia—disibukkan dengan pemberitakan yang beraromapermusuhan dan bisa saja meledakkan hubungan antara Indonesia dan Malaysia.

Banyak konflikberlaku setelah terbentuknya dan lahirnya kedua negara yang disebabkan olehperbedaan politik, kepentingan dan kekuasaan yang dipanaskan oleh media massa.Konflik ini secara umumnya hanya menguntungkan penguasa dan jelas dirakan merugikanrakyat. Hubungan darah, persaudaraan dan seagama tidak seharusnya di keruhkan dengan kepentingan politik dan kekuasaan. Media memainkan peranan yang kuat dalam memperkeruh hubungan kedua-dua negara. Banyak dari berita yang disiarkanoleh media selama ini lebih bersifat provokatif.

Dalam banyak hal, pemberitaan di Indonesia sering tak berimbang di banding kenyataan yangada.  Berita penyiksaan pembantu rumah tangga dan pelecehan terhadap TKW, umumnya dilakukan oleh majikan mereka yang bukan Islam. Sebaliknya, banyak juga TKW yang bernasib baik sampai di hajikan majikannya di Malaysia. Namun berita seperti ini jelas tak menarik dibanding satu-dua kasus penyiksaan. Memang sebaiknya pemerintah kita menyediakan lapangan pekerjaan yang mencukupi guna menghalangi tenaga Indonesia dengan SDM rendah keluar negara. Dalam beberapa kasus, banyak kejahatan manipulasi TKI/TKW justrudilakukan saudara-saudara kita sendiri asal Indonesia. Misalnya manipulasi umurTKW agar bisa berangkat ke Malaysia.

Berita tentang kebudayaan Indonesia yang dikabarkan telah diklaim Malaysia, seharusnya menjadiperingatan pada kita sendiri.  Sebab ini,lebih karena kelemahan pemerintah RI sendiri dalam mendata dan menghargaibudaya local kita.

Sama halnya dengan masalah sengketa perbatasan. Karena tidak adanya data dan karenalemahnya pemerintah dalam menjaga pulau-pulaunya, menyebabkan puluhan tahunlamanya pulau-pulau itu tak terurus dan dibiarkan begitu saja tanpa pembangunanseperti yang dilakukan oleh negara lain.

Memang sebaiknya kasus ini membuat pemerintah lebih berhati-hati dan menjadikan pelajaranberharga. Seharusnya, pemerintah segera membuat peraturan tertulis dengan Malaysiaguna melindungi TKW kita, pula kita dan budaya kita. Kita tak bisa semena-mena marahatas banyak kasus yang ditimbulkan oleh TKW sementara pemerintah tidak memperbaikiekonomi yang menyebabkan banyak pekerja non-profesional menyebrang ke Negara lain.

Kedutaan juga harusmemainkan diplomasinya secara optimal dengan meningkatkan kemampuan intelijen guna meredam upaya adu domba kedua negara seperti kasus lagu Indonesia Raya yangsempat diramaikan.

Penulis melihatada pihak-pihak tertentu menangguk di air keruh dengan memanfatkan konflikMalaysia-Indonesia untuk mencari keuntungan secara politik, kekuasaan ataupunmateri.

Pemerintah juga harus bersikap tegas, mengadili media yang sering menyebarkan berita panas danprovokatif  yang mengganggu kenyamanan dan ketentraman hubungan kedua negara.

Penulis akui apayang dilakukan oleh Malaysia terhadap Indonesia terkadang memang sesuatukesalahan dan kelewat batas. Akan tetapi sesuatu yang mengherankan adalah di saat satu persatu pulau-pulau kecil Indonesia tenggelam karena pasirnya di angkut secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan ke Singapura oleh para mafia, hanyasedikit media dan pejabat kita menjadikan ini sebagai perhatian berharga.

Duduk Bersama

Kesimpulannya, kasus seperti ini jelas tak bisa diselesaikan dengan cara jalanan. Kedua Negara,harus duduk bersama, saling menghormati, saling berjumpa dan berdiskusi terhadapmasa depan keduanya.

Pemerintah keduanegara tidak seharusnya melibatkan rakyat untuk memikirkan apa yang menjaditugas dan kewajiban mereka. Membicarakan nasib dan kepentingan masing-masing jauh lebih baikdan sangat penting daripada hanya menanggapinya provokasi melalui media massa yang hanya akan memperkeruh suasana.

Indonesia sangat memerlukan Malaysia dan Malaysia juga sangat memerlukan Indonesia, adalah dua perkara yang tidak bisa dinafikan. Puluhan ribu TKI Indonesia ada di Malaysia, ribuan pelajar dan mahasiswa juga ada di Malaysia. Sama halnya warga Malaysia di Indonesia. Saling memerlukan ini akan menjadi sebuah energi positif dan saling menguntungkan kalau saja berlaku kerjasama pemimpin dan masyarakat keduanegara.

Selebihnya, media massa, seharusnya berada di garda depan pembangunan masyarakat dan menciptakan iklim saling menguntungkan kedua Negara. Berita fitnah atau berbau adu-domba, bukanlah solusi bagi permasalahan sesungguhnya. Tindakan itu juga adalah sebuah implementasi rasa nasionalisme yang salah sebab hanya akanmerugikan dan menghancurkan hubungan kedua Negara. Seolah-olah dengan perang semuanya bisa selesai.

Islam sangat membenci fitnah. Bahkan mendudukannya jauh lebih kejam daripada pembunuhan.Sebab akibat dari fitnah bisa menimbulkan perpecahan, permusuhan, kebencian, dendam, perang yang bisa membunuh ratusan bahkan ribuan nyawa yang tidakberdosa lainnya.

Dengan kemampuan dan efek yang sangat luar biasa, media massa memang berpeluang melahirkan fitnahdan saling bermusuhan. Sebaliknya, tak semua fakta yang disajikan, bisa melahirkan maslahat apalagi harus disampaikan. Sebab ada fakta yang berdampak positif dan ada pula fakta yang justru bisa berimplikasi negative bagi jutaan orang. Tergantung bagaimana melihatnya. Di sinilah diperlulan wisdom bagi parapengelola media massa.

Sejarah banyakmencatatkan berbagai perpecahan, permusuhan, peperangan yang akhirnya berbunuh-bunuhan mulai dari antara dua orang sahabat, suami istri sampai ketingkat negara yang disebabkan oleh peranan media.  Semoga ini menjadi pelajaran berharga kita semua.

Penulis berasal dari Sumatera Indonesia, sekretaris Muhammadiyah Malaysia dan mahasiswa S3 bidang Politik Islam di UniversitiMalaya Kuala Lumpur

Sumber : Hidayatullah

Andaikata Rasulullah masih hidup, beliau pasti membenci sineas Indonesia yang menjadikan hari Jumat seolah hari menakutkan dan horor

Novelis Ayu Sutrisna (diperankan Suzanna) sering mengalami tangan gemetar dan keringat dingin keluar karena mengidap phobia tertentu. Anton (diperankan Alan Nuari), psikiater dan sekaligus pacar yang merawatnya, menganjurkan hidup santai dan menghindari suasana sibuk dan bising.

Ia pun menyepi di sebuah rumah tua milik ayah Anton. Namun dua penjaga rumah tua itu mati mengerikan ketika mencoba memperkosa Ayu. Mereka diperkirakan dibunuh setan. Akhirnya tabir terbuka, ayah Anton mengaku bahwa istrinya telah melahirkan bayi di malam Jumat Kliwon dan terbunuh.

Malam Jumat Kliwon adalah film horor Indonesia yang dirilis pada tahun 1986. Film yang disutradari oleh Sisworo Gautama Putra ini dibintangi antara lain oleh Suzanna dan Alan Nuari.

Malam Jumat Kliwon adalah film horor Indonesia yang dirilis pada tahun 1986. Film yang disutradari oleh Sisworo Gautama Putra ini dibintangi antara lain oleh Suzanna dan Alan Nuari.

Alkisah, di atas era 80-an dan seterusnya, para sineas lain di Indonesia menjadikan hari Jumat sebagai hari menakutkan.  Hampir bisa disaksikan di semua TV atau film-film horor, menjadikan  hari Jumat sebagai hari “kebangkitan” para setan. Walhasil, hari Jumat adalah hari menyeramkan!

Begitulah para sineas Indonesia yang telah ikut menyumbang keburukan dengan menjadikan Hari Jumat seolah-oleh hari paling sial dan menakutkan. Andai Rasulullah masih hidup di tengah-tengah kita, mungkin baginda akan marah besar. Betapa tidak, karena baginda Rasulullah sangat memuliakan hari Jumat. Dalam banyak riwayat, Rasulullah bahkan meminta kita memuliakan hari itu.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah pernah bersabda. “Hari terbaik di mana matahari terbit di dalamnya ialah hari Jumat. Pada hari itu Adam Alaihis Salam diciptakan, dimasukkan ke surga, dikeluarkan daripadanya dan kiamat tidak terjadi kecuali di hari Jumat.” [Riwayat Muslim]

Rasulullah juga pernah bersabda, “Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jumat, maka perbanyaklah sholawat kepadaku di dalamnya, karena sholawat kalian akan ditunjukkan kepadaku, para sahabat berkata: ‘Bagaimana ditunjukkan kepadamu sedangkan engkau telah menjadi tanah?’ Nabi bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” (Shohih. HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i)

Keistimewaan lain hari Jumat adalah saat-saat dikabulkannya doa, yaitu saat-saat terakhir setelah shalat ashar (seperti yang dijelaskan dalam banyak hadits) atau di antara duduknya imam di atas mimbar saat berkhutbah Jumat sampai shalat selesai ditunaikan.

Amalan Mulia

Allah mengkhususkan hari Jumat ini hanya bagi kaum Muslimin dari seluruh kaum dari umat-umat terdahulu.  Di dalamnya banyak rahasia dan keutamaan yang datangnya langsung dari Allah.

Beberapa rahasia keagungan hari Jumat adalah sebagai berikut;

Pertama, Hari Keberkahan. Di mana di hari Jumat berkumpul kaum Muslimin di masjid-masjid  untuk mengikuti shalat dan sebelumnya mendengarkan dua khutbah Jumat yang mengandung pengarahan dan pengajaran serta nasihat-nasihat yang ditujukan kepada kaum muslimin yang kesemuanya mengandung manfaat agama dan dunia.  Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah menyebut hari Jumat memiliki 33 keutamaan. Bahkan Imam as-Suyuthi  menyebut ada 1001 keistimewaan.

Kedua, Hari Dikabulkannya doa. Di antara rahasia keutamaan hari Jumat lain adalah, di hari itu terdapat waktu-waktu dikabulkannya doa.

“Di hari Jumat itu terdapat satu waktu yang jika seorang Muslim melakukan shalat di dalamnya dan memohon sesuatu kepada Allah Ta’ala, niscaya permintaannya akan dikabulkan.’ Lalu beliau memberi isyarat dengan tangannya yang menunjukkan sedikitnya waktu itu.” [HR.Bukhari dan Muslim]

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya pada hari Jumat terdapat waktu mustajab bila seorang hamba muslim melaksanakan shalat dan memohon sesuatu kepada Allah pada waktu itu, niscaya Allah akan mengabulkannya.” [Muttafaqun Alaih]

Ketiga, Hari Diperintahkannya Shalat Jumat. Rasulullah bersabda, “Hendaklah kaum-kaum itu berhenti dari meninggalkan shalat Jumat. Atau (jika tidak) Allah pasti akan mengunci hari mereka, kemudian mereka pasti menjadi orang-orang yang lalai.” [Muslim]. Dalam riwayat lain Rasulullah menyebutkan, “Shalat Jumat adalah hak yang diwajibkan kepada setiap Muslim kecuali empat orang; budak atau wanita, atau anak kecil, atau orang sakit.” [Abu Daud]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (٩)

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” [QS: Al-Jumu’ah:9]

مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمْعَةِ وَاغْتَسَلَ ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنَ اْلإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامُهَا وَقِيَامُهَا

“Barangsiapa yang bersuci dan mandi, kemudian bergegas dan mendengar khutbah dari awal, berjalan kaki tidak dengan berkendaraan, mendekat dengan imam, lalu mendengarkan khutbah dan tidak berbuat sia-sia, maka baginya bagi setiap langkah pahala satu tahun baik puasa dan shalatnya..”

,Keempat, Hari Pembeda antara Islam dan Non-Muslim. Hari Jumat adalah hari istimewa bagi kaum Muslim. Selain itu diberikan Nabi untuk membedakan antara harinya orang Yahudi dan orang Nashrani.

Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah bersabda: “Allah telah memalingkan orang-orang sebelum kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya mereka, oleh karena itu hari raya orang Yahudi adalah hari Sabtu, dan hari raya orang Nasrani adalah hari Ahad, kemudian Allah memberikan bimbingan kepada kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya, sehingga Allah menjadikan hari raya secara berurutan, yaitu hari Jumat, Sabtu, dan Ahad. Dan di hari kiamat mereka pun akan mengikuti kita seperti urutan tersebut, walaupun di dunia kita adalah penghuni yang terakhir, namun di hari kiamat nanti kita adalah urutan terdepan yang akan diputuskan perkaranya sebelum seluruh makhluk.” [HR. Muslim]

Kelima, Hari Allah menampakkan diri.  Dalam sebuah riwayat disebutkan,Hari Jumat  Allah menampakkan diri kepada hamba-hamba-Nya yang beriman di Surga. Dari Anas bin Malik dalam mengomentari ayat: “Dan Kami memiliki pertambahannya” (QS.50:35) mengatakan: “Allah menampakkan diri kepada mereka setiap hari Jumat.”

Masih banyak keistimewan hari Jumat. Di antaranya adalah; Dalam “al-Musnad” dari hadits Abu Lubabah bin Abdul Munzir, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda:

“Penghulunya hari adalah hari Jumat, ia adalah hari yang paling utama di sisi Allah Subhanahu Wata’ala, lebih agung di sisi Allah Subhanahu Wata’ala dari pada hari Idul Fitri dan Idul Adha. Pada hari Jumat tersebut terdapat lima keistimewaan: Hari itu,  bapak semua umat manusia, Nabi Adam ‘Alaihissalam diciptakan, diturunkan ke dunia, dan wafat.  Hari kiamat tak akan terjadi kecuali hari Jum’at.

Karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sangat memuliakan hari ini, menghormatinya, dan mengkhususkannya untuk beribadah dibandingkan hari-hari lainnya.

Etika Menyambut Hari Jumat

Mandi Jum’at [jenabat]

Mandi pada hari Jumat wajib hukumnya bagi setiap muslim yang baligh berdasarkan hadits Abu Sa’id Al Khudri, di mana Rasulullah bersabda, yang artinya, “Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap orang yang baligh.” (HR. Bukhori dan Muslim). Mandi Jumat ini diwajibkan bagi setiap muslim pria yang telah baligh, tetapi tidak wajib bagi anak-anak, wanita, orang sakit, dan musafir. Sedangkan waktunya adalah sebelum berangkat sholat Jumat. Adapun tata cara mandi Jumat ini seperti halnya mandi jenabat biasa. Rasulullah bersabda yang artinya, “Barangsiapa mandi Jumat seperti mandi jenabat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

A. Berpakaian Bersih dan Memakai Wangi-Wangian

Rasulullah berkata, “Siapa yang mandi pada hari Jumat, bersuci sesuai kemampuan, merapikan rambutnya, mengoleskan parfum, lalu berangkat ke masjid, dan masuk masjid tanpa melangkahi di antara dua orang untuk dilewatinya, kemudian shalat sesuai tuntunan dan diam tatkala imam berkhutbah, niscaya diampuni dosa-dosanya di antara dua Jum’at.” [HR. Bukhari]

B. Menghentikan Aktivitas Jual-Beli dan Menyegerakan ke Masjid

Anas bin Malik berkata, “Kami berpagi-pagi menuju sholat Jumat dan tidur siang setelah sholat Jumat.” (HR. Bukhari). Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Makna hadits ini yaitu para sahabat memulai sholat Jumat pada awal waktu sebelum mereka tidur siang, berbeda dengan kebiasaan mereka pada sholat zuhur ketika panas, sesungguhnya para sahabat tidur terlebih dahulu, kemudian sholat ketika matahari telah rendah  panasnya.” (Lihat Fathul Bari II/388)

C. Sholat Sunnah Sebelum dan Sesudah Shalat Jumat

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa mandi kemudian datang untuk sholat Jumat, lalu ia sholat semampunya dan dia diam mendengarkan khotbah hingga selesai, kemudian sholat bersama imam maka akan diampuni dosanya mulai Jumat ini sampai Jumat berikutnya ditambah tiga hari.” [HR. Muslim]

D. Membaca Surat Al Kahfi

Nabi bersabda yang artinya, “Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat maka Allah akan meneranginya di antara dua Jumat.”

E.  Memperbanyak Shalawat.

Dari Anas ra,  Rasulullah  bersabda: “Perbanyaklah shalawat pada hari Jumat  dan malam Jumat.” [HR. Baihaqi]

Dari Aus Radhiallahu ‘anhu, dia mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bersabda: “Sebaik-baik hari kalian adalah hari Jumat: pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu beliau diwafatkan, pada hari itu sangkakala ditiup, pada hari itu manusia bangkit dari kubur, maka perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari itu, karena shalawat kalian akan diperlihatkan kepadaku”, para shahabat bertanya: “wahai Rasulullah, bagaimana diperlihatkan kepada engkau sedangkan tubuh engkau sudah hancur (sudah menyatu dengan tanah ketika sudah wafat), Beliau menjawab: “sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala mengharamkan kepada bumi untuk memakan (menghancurkan) jasad para Nabi.” [HR, “al-Khamsah]

Mencintai Apa yang Dicintai Nabi

Rasulullah Muhammad adalah orang pilihan dan kekasih Allah SWT. Apapun amalan yang disukai Nabi adalah hal yang paling disukai Allah dan setiap amalan yang dibenci Nabi juga dimurkai Allah.

Bentuk kesungguhan kita mencintai Rasulullah Saw adalah berlomba-lomba dan bersungguh-sungguh mengikuti dan meneladani apa yang telah beliau lakukan. Sebagaimana firman Allah SWT, وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا. Artinya, Apa saja yang dibawa oleh Rasul untuk kalian, ambillah, dan apa saja yang dilarangnya atas kalian, tinggalkanlah.” [QS. al-Hasyr [59]: 7]

Dalam ayat lain disebutkan, Katakanlah, “Jika kalian benar-benar  mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” [Qs. Ali-Imran [3]: 31].

Karena itu, apapun yang sudah ditetapkan Nabi –termasuk memuliakan hari Jumat– adalah sesuatu yang sudah pasti disukai Allah SWT. Sangatlah tidak pantas bagi kita sekalian mengada-adakan dan mengarang-ngarang sesuatu yang sesungguhnya tidak ada dan tidak pernah dilakukan Nabi kita.

Semoga setelah ini kita ikut menjadikan dan memuliakan hari Jumat. [cak, berbagai sumber/hidayatullah.com]

Warga hanya bisa menyaksikan pembongkaran masjid dengan derai air mata. Sebelumnya, masjid ini digunakan untuk jamaah dan belajar anak-anak

Pupus sudah harapan warga Perumahan Jatinegara Indah, Pulo Jahe Cakung, Jakarta, untuk melewati Ramadhan tahun ini dengan menempati Masjid Nurul Jannah di komplek tersebut.  Rencananya, masjid yang sudah lama mereka dambakan itu dapat segera dipakai untuk menyelenggarakan shalat tarawih dan serangkaian ibadah puasa lainnya di sana, setelah kurang lebih empat tahun mereka hanya melaksanakannya secara berpindah dari rumah ke rumah. Namun, masjid yang baru setengah jadi itu telah digusur pihak Pemerintah Kota Jakarta Timur, Rabu, (12/08) bulan lalu.

Pembongkaran dilakukan dengan mengerahkan sekitar 100 petugas gabungan, terdiri Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), TNI, dan Polisi. Menurut Sekretaris Kota Administrasi Jakarta Timur, Arifin Ibrahim, bangunan masjid itu didirikan di atas lahan fasilitas sosial dan umum yang peruntukannya sebagai ruang terbuka hijau. Lanjut dia, mesjid tersebut juga tidak memiliki izin mendirikan bangunan (IMB).

Namun, Wakil Ketua  Pembangunan Masjid Nurul Jannah, Arif Farwan, menyangkal hal itu. Menurutnya, pembangunan masjid di lahan tersebut sudah dibicarakan dengan camat setempat dan sudah mendapat izin dari developer.

“Pemerintah melalui camat setempat telah sepakat dengan pembangunan masjid ini. Termasuk juga pihak developer,” jelas Farwan kepada hidayatullah.com.

Dalam catatan kronologis pengurusan tanah Masjid Nurul Jannah, PT.Cakra Sarana Larasasri selaku developer telah mengeluarkan surat No. SP-019/Proyek JI/Tek&Opr/VIII/2006 tertanggal 10 Agustus 2006 tentang Persetujuan Desain Tempat Ibadah Proyek Perumahan Jatinegara Indah Pulo Jahe Jakarta Timur. Dalam surat tersebut developer menyetujui desain dan lahan untuk pembangunan tempat ibadah.

Berdasarkan surat dari developer tersebut, warga kemudian melakukan upaya untuk segera mewujudkan sarana ibadah sementara (mushollah). Antara lain yang telah dilakukan adalah pengurusan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang selesai tanggal 15 April 2007. Selain itu, untuk menindak lanjuti  syarat pembangunan masjid yang harus menyertakan surat Penyerahan Lahan dari developer ke yayasan, maka didirikanlah Yayasan Nurul Jannah dengan Akta Nomor 06 Tanggal 27 April 2007 Notaris Zulafrinal Zen, SH, serta sudah mendapat Pengesahan Akta Pendirian Yayasan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan nomor: C-2920.HT.01.02.TH 2007 tanggal 11 September 2007 dan Nomor Pokok Wajib Pajak 02.312.981.0-004.000.

Sejak bulan Juni lalu masjid sudah dapat digunakan untuk shalat Berjamaah. Anak-anak warga juga sudah mulai merasakan suasana yang lebih baru.

Baru beberapa bulan difungsikan dengan segala kekurangan yang ada, pada tanggal 10 Agustus 2009 tiba surat dari Walikota Jakarta Timur kepada Yayasan Nurul Jannah yang menyebutkan bahwa berdasarkan PERDA 7/1991 diminta warga untuk membongkar masjid sendiri atau dibongkar tim penertiban terpadu dari MUSPIKO.

Pada tanggal 12 Agustus pembongkaran masjid pun terjadi dengan melibatkan personel yang cukup banyak. Warga hanya bisa menyaksikannya dengan derai air mata.

Yang disayangkan warga, permohonan yayasan untuk menggunakan masjid sementara sampai ada tempat ibadah yang layak, atau untuk menyambut Ramadhan, juga tidak diperhatikan oleh Pemda.

“Semoga pihak pengembang diberikan kesadaran,” tutur Agus Purwanto, salah satu warga. [ain/www.hidayatullah.com]

Kalangan Muslim Indonesia kecewa kunjungan Kadin Israel. Awalnya ”silaturrahim”, selanjutnya sarat konspirasi, ujar kalangan Islam

Kunjungan delapan pengusaha Israel ke Indonesia rupanya masih menyisakan kekecewaan di kalangan Muslim.  Kunjungan pengusaha Israel yang berada di bawah organisasi Israel Export and International Cooperation Institute dan Kementerian Industri, Perdagangan, dan Tenaga Kerja  ini ke Indonesia disinyalir sebagai langkah yang mencederai sejarah.

Ketua Umum Pergerakan Islam untuk Tanah Air (PINTAR), Alfian Tanjung,  menilai bahwa ada lima kesimpulan yang dapat diretas atas diakuinya kantor Kamar Dagang Israel di Indonesia. Pertama, menurut Alfian,  secara tidak langsung, Indonesia telah mengakui kedaulatan negara Israel yang selama ini diperjuangkan. Kedua, bangsa Indonesia telah melegalkan operasi Zionist State.

Ketiga, bukti bahwa Indonesia membiarkan zionis Israel mencaplok kekayaan negeri ini. Keempat, hal ini akan sangat melukai sejarah perjuangan umat Islam di Indonesia. Dan, kelima, ini menunjukkan secara jelas akan lemahnya negara kita atas segala kedurjanaan gerakan zionis-Israel dan dominasi mereka.

Lebih lanjut, Alfian mengajak umat Islam menolak secara sadar atas segala bentuk penjajahan yang dimakari Zionis-Israel. ”Mari rapatkan barisan dan juga mempersiapkan perlawanan,” pesan Alfian.

Sementara itu, Forum Ummat Islam (FUI) juga menyayangkan sikap pemerintah Indonesia yang mengizinkan pengusaha Zionis membuka kantor perwakilan kamar dagang di Jakarta. Menurut Al Khaththath, tindakan tersebut inkonstitusional, sebab bertentangan dengan pembukaan UUD 1945 yang memiliki sikap tegas bahwa penjajahan di atas bumi harus dihapuskan.  “Kita jangan lupa, Zionis-Israel adalah penjajah!”

Direktur Eksekutif Forum Kajian Sosial Kemasyarakatan (FKSK), Luthfi Hakim, menilai, sikap media yang cenderung diam, bersikap standar ganda. Ini merupakan bukti bahwa kekuatan dunia informasi sangat lekat di genggaman Zionis-Israel.

“Kekuatan mereka ada di tiga titik; kekuatan senjata, kekuatan ekonomi, dan kekuatan manipulasi fakta-fakta (informasi). Ini yang terjadi hari ini,” ungkap Luthfi.

Sebagaimana diketahui, sebuah delegasi resmi Israel telah mengunjungi Indonesia untuk pertama kalinya. Rombongan delegasi Israel terdiri dari delapan perwakilan dari perusahaan Israel yang diorganisasi oleh Israel Export and International Cooperation Institute dan Kementerian Industri, Perdagangan, dan Tenaga Kerja Israel.

Kunjungan itu merupakan balasan atas kunjungan yang telah dilakukan pihak Indonesia –rombongan dari Kamar Dagang Indonesia (KADIN)– ke Israel di tahun 2006.

Media Satu Kata

Sementara Ridwan Saidi, budayawan Betawi, dengan nada tinggi menyampaikan orasi pada acara Tabligh Akbar dan Konferensi Pers Forum Ummat Islam (FUI) bertema, “Menolak Perwakilan Dagang Israel di Indonesia”, di Masjid Al Azhar, Jakarta. Media, baik cetak maupun elektronik, menurut dia, telah satu kata dalam memberikan stigma buruk terhadap Islam. “Dulu waktu stasiun televisi baru satu, hanya satu suara. Sekarang televisi sudah banyak, ternyata mereka juga tetap satu suara,” cecar Ridwan.

Pasca ledakan bom yang mengguncang dua hotel di bilangan Mega Kuningan Jakarta bulan Juli lalu, hampir semua media arus utama sibuk memberitakan peristiwa tersebut. “Tak ubahnya pertandingan bola. Reporter tak henti-hentinya melaporkan kejadian demi kejadian. Ujungnya-ujungnya, ya kita, Islam yang didiskreditkan,” tambahnya.

Entah karena sengaja atau masih sibuk “mendesain” pemberitaan tentang serangan terorisme yang masih hangat itu, media tampaknya tak terlalu peduli memberitakan tentang dibukanya secara gelap kantor Kamar Dagang Israel di Jakarta. Hanya beberapa media Islam yang sempat mengangkatnya, selebihnya pemberitaan di media arus utama lebih kepada isu teroris yang diberi label berjenggot, relatif pendiam, celananya cingkrang, istrinya pakai cadar, atau mereka yang rajin ibadah, dan tak doyan dugem. Sebuah pencitraan yang begitu sistematis.

Senada dengan itu, mantan Ketua Umum YLBHI yang kini menjadi Panglima Komando Laskar Islam, Munarman, merasa prihatin dengan sikap ambigu media terkait dibukanya kantor dagang Israel di Jakarta. ”Tak satu pun yang memberitakan,” sesal dia. [ain/www.hidayatullah.com]

Dalam perkembangan pemikiran sekarang ini, hanyalah pesantren ujung tombak pertahanan terakhir atas masuknya ide  sekuler

Oleh Lalu Nurul Bayanil Huda

Seminggu ini lembaga kepesantrenan ikut terusik dengan statemen dan pernyataan beberapa pakar. Ini bermula dari kasus serangan bom minggu lalu,  hari Jumat (17/7) pagi di kawasan Mega Kuningan, tepatnya di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton Jakarta.

Kasus bom tiba-tiba melebar, bahkan mungkin sengaja diperlebar ke mana-mana, sampai-sampai ada yang menyebut berkaitan dengan Wahabi,  kelompok Islam, serta ajaran dan kurikulum di pesantren. Ini memang bukan kasus baru. Tahun 2005, seorang pejabat penting Republik Indonesia pernah mengusulkan pengambilan sidik jari di berbagai pondok pesantren.

Pasca bom Bali II pemerintah melalui Departemen Agama telah menerjunkan tim penelitinya ke Pesantren Ngruki di Solo dan Pesantren Al-Islam di Tenggulun. Sementara pemerintahan Australia bahkan pernah mengusulkan adanya perombakan kurikulum di berbagai pondok pesantren.

Ibarat bangun kesiangan, sangat jauh usaha beberapa kelompok –yang sesungguhnya tak paham betul dunia pesantren—tiba-tiba ikut campur tangan terhadap institusi yang dijaga para ulama ini. Meminjam istilah Wapres M Jusuf Kalla, ada 12 ribu pondok pesantren tersebar di berbagai pulau di Indonesia ini. Jika pun satu saja lulusannya pernah bersalah, maka tidak adil jika 12 ribu institusi itu kena getahnya. Apalagi mengikuti pesan negara asing untuk campur tangan dalam kurikulum.

Pesantren, teror, dan sekularisme

Hal yang paling krusial saat ini yang sedang menjadi perhatian penting dunia pesantren adalah masalah sekularisme. Ini bukan berarti dunia pesantren mengabaikan kasus teror. Sekali lagi tidak. Justru karena kalangan pesantren tahu betul, melakukan teror, menyakiti, dan merugikan pihak lain, adalah hal yang tak mungkin dan tak pernah diajarkan di dunia pesantren. Karena itu, pembicaraan perubahan kurikulum di dunia pesantren adalah hal yang tak terlalu menarik perhatian.

Yang justru menjadi perhatian dan pengawasan serius umumnya kalangan pesantren, adalah masalah sekularisme dan liberalisme yang tumbuh seperti virus.

Memang hingga saat ini perdebatan tentang sekularisme dan sekularisasi masih kerap terjadi dan saling berbenturan di kalangan intelektual Muslim. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga konteks dunia. Sehingga muncul kelompok-kelompok yang bertentangan. Ada yang menentang keras karena negara tidak bisa dipisahkan dari agama dan ada juga yang mengupayakan sekularisme sebagai suatu paham, yang menurut mereka jika prinsip-prinsip sekularisme diterapkan secara benar justru melindungi kebebasan menjalankan keyakinan agama, berlaku adil terhadap agama-agama, dan menyetarakan agama-agama dalam konteks masyarakat dan negara.

Usaha untuk mensekularkan Indonesia sudah tampak nyata di kalangan intelektual Islam yang berhaluan liberal. Gagasan itu mulai diwacanakan secara terbuka oleh Nurcholis Madjid pada suatu diskusi yang diadakan tanggal 12 Januari 1970 di Jakarta, dalam suatu makalah berjudul “Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat”. Sejak itu ide sekular mulai banyak dilontarkan hingga saat ini. ( Adnin Armas, MA, Pengaruh Kristen-Orientalis terhadap Islam Liberal, Gema Insani, Jakarta, P. 15)

Namun sekulerisasi yang berkembang di Indonesia saat ini tidak lebih dari sebuah eksperimen yang gagal ditanamkan untuk menjadi ideologi masyarakat secara umum. Mungkin untuk kalangan tertentu atau sebagai wacana kampus, dia menunjukkan hasil yang signifikan. Tetapi sebagai pandangan hidup masyarakat muslim Indonesia, itu hanya mimpi di siang bolong. Kalaupun terlihat berhasil, itu hanyalah opini media massa yang terlalu over dalam membesar-besarkan berita. Buktinya, hingga saat ini tidak ada perubahan pandangan masyarakat muslim secara umum terhadap keyakinan dan agama mereka.

Tidak seperti yang pernah terjadi di Turki era Kamal Attatruk misalnya, yang sampai menjadikan sekularisme sebagai identitas negara. Itu pun sekarang sudah mulai goyah dengan kembalinya kesadaran banyak elit politik Turki tentang pentingnya agama dalam hidup dan kehidupan (M. Arfan Muammar, Majukah Islam dengan Menjadi Sekuler?, CIOS, 2007, P 66 – 67).

Di Indonesia, harapan para pembawa panji sekularisasi mengalami jalan buntu. Keputusan ambigu Pemerintah tentang Ahmadiyah, penangkapan Lia Eden, penangkapan beberapa pemimpin aliran sesat, ide pembubaran Departemen Agama dan MUI, dan lain-lain, merupakan bukti nyata serangan  para intelektual liberal dan sekuler.

Menarik apa yang dinyatakan oleh Prof. Hamka, ketika ditanya, “Bagaimana pendapatnya tentang gagasan bahwa modernisme haruslah ditegakkan atas sekulerisme.” Di akhir jawaban, beliau menyindir dengan mengatakan, “…dan kalau ada orang atau golongan yang menganjurkan modernisasi yang isinya bermaksud westernisasi, atau modernisasi bermaksud sekularisme, orang itu adalah “burung gagak” yang telah terlepas dari masyarakat kaumnya. Duduk di atas singgasana gading, terpesona pada budaya Barat dan hendak mengatur dari atas”. (Hamka, Dari Hati ke Hati,  Pustaka Panjimas, Jakarta, Tahun 2002, P 271).

Tamsil Hamka dengan burung gagak ini sungguh dalam dan tepat, sebab bagi beliau, menurut dongeng burung gagak itu dahulu hidup seperti ayam, berjalan baik-baik di atas tanah. Tetapi gagak ingin sekali hidup meniru burung yang dapat terbang di udara. Akhirnya terlepaslah dia dari masyarakat ayam, tetapi tidak diterima dalam masyarakat burung. Akan kembali hidup sebagai ayam, kandang sudah lama hilang. Akan hidup sebagai burung, sarang tidak ada. Sebab itu di antara segala burung, gagaklah yang tidak ada kandang dan tidak ada sarang. Dan berjalannya di atas pun tidak tenang dan kakinya tidak dapat menetap.

Sebagaimana halnya dengan prediksi Hamka, Amien Rais pun pernah meramalkan hal ini. Karena baginya, di Amerika Latin saja yang tidak memiliki tradisi keagamaan yang kuat seperti di dunia muslim (meskipun di sana Katolik yang dominan), ia tidak menghasilkan apa-apa, bahkan lenyap dimakan waktu. Apalagi kalau di sebuah negara muslim terbesar seperti Indonesia yang memiliki kultur dan tradisi yang kuat memegang agama. (Amien Rais dalam Islam dan Pembaharuan; Ensiklopedi Masalah-masalah, Rajawali Jakarta)

Sejarah juga membuktikan, para pejuang Muslimlah yang berada di garda depan mengusir paham komunisme dan antek-anteknya dari bumi Indonesia.  Padahal, ketika itu, ide  komunisme tak  hanya dikampanyekan dengan propaganda dan kata-kata, ia bahkan didukung  media massa, surat kabar, bahkan dijalankan dengan hasutan, kekerasan, dan kekejaman fisik. Toh, dengan perjuangan kaum Muslim,  akhirnya Komunisme hanya tinggal sejarah.

Sedikit ada kesamaan dengan zaman sekarang, di mana ide-ide liberalisme dan sekularisme didukung besar-besaran oleh Barat. Sudah bukan rahasia, NGO-NGO dalam negeri kita menjadi kepanjangan tangan Barat mensponsori paham sekuler dan liberal dengan kedok demokrasi, Hak Asasi Manusia (HAM), atau gender, yang kini sudah mulai memasuki ranah sensitif, yakni agama.

Nah, kesimpulannya, peristiwa ini sudah cukup sebagai bukti bahwa pesantrenlah saat ini yang bisa dijadikan ujung tombak pertahanan terakhir atas masuknya ide-ide liberal dan sekuler di bumi Indonesia tercinta ini.[www.hidayatullah.com]

Penulis adalah Peserta Kaderisasi Ulama (PKU) Institut Studi Islam Darussalam-Gontor

Jika Al-Quran, Kalamullah yang suci dan sekaligus pegangan hidup kaum Muslimin digugat, maka  unsur-unsur agama Islam lain akan ikut runtuh

Oleh  Lalu Nurul Bayanil Huda

Al-Quran adalah kitab suci yang disakralkan dan dijadikan pegangan hidup oleh umat Islam. Al-Quran adalah kalam Ilahi, diturunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui malaikat Jibril bagi umat manusia di dunia ini. Kaum Muslimin meyakini bahwa Al-Quran, dari ayat pertama hingga terakhir, merupakan kata-kata Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw secara verbatim (lafzon) maupun maknanya (ma’nan), dan meraka meyakini bahwa Al-Quran yang ada saat ini adalah sama dengan yang ada pada zaman Nabi Muhammad saw.

Karena merupakan kalam Allah swt, maka tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak mensucikannya. Begitu juga halnya dengan ajaran-ajaran, perintah, serta larangan yang terdapat di dalamnya, harus di pegang teguh dan dilaksanakan oleh semua umat manusia. Dengan kata lain Al-Quran merupakan Kitab suci yang harus dijadikan pegangan hidup umat manusia.

Di antara kitab-kitab suci yang Allah swt turunkan kepada nabi-nabi-Nya, Al-Quran lebih mempunyai keutamaan. Pertama karena Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, yang merupakan rasul Allah terakhir yang diturunkan kepada semua umat. Maka Al-Quran pun dengan sendirinya lebih bersifat universal, yaitu diturunkan kepada semua umat manusia dan tidak terbatas waktu hingga hari akhir.

Berbeda dengan kitab Injil dan Taurat yang diturunkan kepada umat tertentu karena diterima oleh nabi yang Allah swt utus untuk golongan tertentu saja. Sehingga dengan datangnya nabi berikut, maka doktrin yang terdapat di dalamnya secara otomatis tergantikan dengan doktrin baru.

Kedua, kandungan Al-Quran tidak hanya berisikan doktrin tentang Aqidah dan Syari’at saja, tetapi juga berisikan ilmu-ilmu kauniyah seperti sosial, ekonomi, ketatanegaraan, matematika, hukum, dan lain sebagainya. Selanjutnya dari segi bahasa, tentu saja Al-Quran tidak ada tandingannya. Maka tidak heran Allah swt “menantang” umat manusia untuk bisa membuat satu ayat serupa dengan kalam Allah yang termaktub dalam Al-Quran. Demikian betapa Al-Quran mempunyai banyak keutamaan melebihi kitab-kitab Allah swt yang diturunkan kepada nabi-nabi lainnya.

Dalam perjalanan sejarah Al-Quran, sejak awal diturunkannya hingga saat ini, gangguan-gangguan terhadap eksistensi Al-Quran tidak henti-hentinya terjadi. Pada awal turunnya ayat-ayat Al-Quran, masayrakat Arab saat itu sangat menyukai karya-karya sastra dan syair. Namun dengan datangnya Al-Quran, para maestro sastra saat itu tak mampu menandingi kualitas sastra Al-Quran, sehingga Al-Quran dianggap sebagai sihir.

Sepeninggal Nabi Muhammad saw, mulailah lawan-lawan Islam menyerang dengan berbagai cara. Salah satunya Musyailamah Al-Kadzab dengan membuat Al-Quran palsu, dengan ayat-ayat tandingannya. Dan gangguan terhadap Al-Quran terus berlanjut hingga era modern. Tercatat Gustav Flugel dengan mushaf “Corani Textus Arabicus” (1384), Theodor Noldeke dengan Geshichte des Qor’anDie Suro-aramaismshe Lesart des Koran: Ein Beitrag zur Entschlusselung der Koransprache” (Cara membaca Al-Quran dengan bahasa Syiro-aramaik: sebuah sumbangsih upaya pemecahan kesukaran memahami bahasa Al-Quran). Ini semua menunjukkan betapa gangguan terhadap eksistensi Al-Quran terus-menerus dilakukan oleh musuh-musuh Islam. ((1860), Arthur Jeffery dengan Al-Quran Edisi Kritis (1937), dan kasus terakhir, yaitu kasus Luxenberg dan bukunya “

Ironisnya, sakralitas Al-Quran pun berusaha dihilangkan oleh kalangan umat Islam sendiri. Sebut saja Dr. Muhammad Arkoun yang menyebutkan bahwa Al-Quran yang suci hanyalah Al-Qur-an pada masa Nabi Muhammad saw. Sedangkan Al-Quran setelah masa Rasulullah sudah tidak sakral lagi, tak lebih dari buku-buku karangan manusia biasa.

Demikian juga dengan konsep Al-Quran Nashr Hamid Abu Zaid, seorang pemikir asal Mesir. Ia mengatakan bahwa Al-Quran adalah produk budaya karena diturunkan selama dua puluh tiga tahun dalam realitas budaya Arab saat itu, serta ayat-ayat Al-Quran adalah bahasa Nabi Muhammad saw karena Allah hanya mengirim makna Al-Quran melalui Jibril.

Dengan statemen ini justru secara tidak langsung mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang pembohong karena telah menyatakan bahwa Al-Quran merupakan Kalmullah Lafzon wa Ma’nan. Belum lagi tuduhan bahwa Al-Quran yang kita kenal sekarang hanyalah Al-Quran yang sudah tidak asli lagi karena menjadi korban hegemoni Quraisy pada saat kodifikasi pada masa kholifah Ustman bin Affan.

Dan justru kalangan kampus di tanah air, gencar “mempromosikan” isu ini. Sebagaimana contohnya tulisan-tulisan yang terdapat pada Jurnal Justisia terbitan IAIN Wali Songo, Semarang. Ini menunjukkan sungguh ironis, Al-Qu’an yang suci justru justru menjadi obyek “serangan”, yang dilakukan tidak saja oleh para orientalis tetapi juga dari kalangan umat Islam sendiri.

Diskursus ini merupakan indikasi bahwa kaum muslim di dunia sedang memasuki babak baru yang sangat dahsyat. Belum pernah terjadi sebelumnya, bagaimana pemikir atau bahkan Ulama misionaris, Kristen, Yahudi, serta para orientalis beramai-ramai menggugat serta menyerang Al-Quran secara bersama-sama. Jika Al-Quran yang merupakan Kalamullah yang suci dan sekaligus pegangan hidup kaum muslimin saja digugat, maka tentu saja unsur-unsur agama, Islam seperti Hadits, Ijma’, Sahabat, otoritas ulama-ulama pun diruntuhkan.

Serangan ini dilakukan mereka dengan sangat serius dan terorganisir, dan tentunya dengan biaya yang tidak sedikit pula, serta energi yang sangat besar. Sudah ratusan tahun hal ini disiapkan. Para penyerang itu menguasai ilmi-ilmu tentang Al-Quran, bahasa Arab, bahkan Inggris, Hebrew, Syirak, dan mungkin bahasa-bahasa lainnya. Tak hanya itu manuskrip-manuskrip sudah terboyong ke Barat. Jelas nampak bagaimana saat ini kita sedang memasuki era baru yang lebih keras dalam menjawab tantangan Al-Quran.

Menghadapi ini semua tentunya, tidak cukup hanya dengan berfatwa ataupun dengan berdemonstrasi saja. Tetapi ini merupakan aksi intelektual yang harus dilawan dengan intelektual juga. Sebagaimana saat ini sejumlah institusi Islam juga turut menyebarkan pemahaman yang meruntuhkan fondasi agama. Di sini diberikan pendidikan kepada pemuda-pemuda Islam untuk menguasai “jurus-jurus” serangan terhadap Al-Quran dari berbagai sudut.

Tentu saja serangan dari dalam tubuh Islam, akan membawa dampak yang jauh lebih dahsyat terhadap umat. Tapi sayangnya, dalam hal intelektualitas ini justru kita sangat merasa kurang. Ini karena krikulum yang ada belum mampu menjawab tantangan era ini. Terbukti dengan  ribuan sarjana Islam tercetak setiap tahun, tapi kemampuan yang dimiliki masih sangat jauh dari harapan. Dengan demikian pola, bentuk, dan metodologi Pendidikan Agama Islam harus segera dirubah dan dirancang agar tanggung jawab akan pesan “dibumi manapun engkau berpijak, maka kamu bertanggung jawab akan keIslamannya” dapat terlaksana.[www.hidayatullah.com]

Penulis adalah Peserta Kaderisasi Ulama (PKU) Institut Studi Islam Darussalam Gontor. Tulisan ini dimuat di http://www.hidayatullah.com