Sekitar seratus orang aktivis anti-perang AS melakukan aksi unjuk rasa di depan gedung Kongres negara bagian Minnesota. Mereka menyatakan menentang rancangan undang-undang tentang seruan agar angkatan laut AS melakukan blokade terhadap Iran. Para pengunjuk rasa itu khawatir, tindakan tersebut akan memicu perang antara AS dan Negara Republik Islam Iran.

“Saat ini ada indikasi bahwa pemerintah ingin memulai perang dengan Iran. Dan mereka sedang merancang alasan untuk memulai perang serta membentuk opini publik agar siap menghadapi perang itu, ” kata Omeid Mohsseini-juru bicara aksi unjuk rasa-warga negara AS keturunan Iran.

Ia melanjutkan, “Dengan resolusi-resolusi baru ini, mereka akan memblokade kapal-kapal Iran, perdagangan, semuanya. Dan hal itu bisa memicu perang.”

Para aktivis anti-perang itu mendesak Senator Amy Klobuchar dan Norm Coleman, serta anggota Kongres Jim Ramstad menarik dukungan atas draft undang-undang yang saat ini sedang ditunda pembahasannya di Kongres AS. Draft tersebut diajukan oleh anggota DPR dan Senat AS, berisi seruan agar pemerintah AS menerapkan sanksi yang lebih berat pada Iran.
Salah butir draft bernomer H. Res 362, berisi desakan agar Presiden AS memperketat inspeksi pada semua orang, kendaraan, kapal-kapal, pesawat, kereta dan kargo yang menuju atau dari Iran.

Dalam aksi damai yang dikordinir oleh organisasi perdamaian lokal serta organisasi Woman Against Military Madness, putera Keith Ellison-Muslim AS pertama yang terpilih menjadi anggota Kongres-membacakan pernyataan dukungan dari ayahnya.

Sementara Mohssenini mengatakan, ia menentang konfrontasi AS dengan Iran baik sebagai orang Iran sekaligus warga negara Amerika. “Pertama, saya adalah orang Iran dan keluarga, sahabat serta kerabat saya masih tinggal di Iran dan saya sangat peduli dengan keselamatan mereka, ” tukas Mohsseini.

“Kedua, saya warga negara Amerika dan saya prihatin dengan kejahatan-kejahatan yang bisa dilakukan atas nama saya, seperti AS telah melakukannya di Irak, Afghanistan dan wilayah-wilayah lainnya, ” sambung Mohsseini.

Wakil dari para veteran perang dari Minneapolis, Andy Burman juga menentang perang dengan Iran. “Perang dengan Iran akan menjadi tragedi bagi rakyat AS dan bagi rakyat Iran. Perang itu juga akan memperburuk stabilitas perdamaian tidak hanya di Timur Tengah tapi juga seluruh dunia, ” kata Burman setelah memberikan orasinya.

Burman menuding Kongres dan pemerintahan Bush sedang berusaha membayar kekalahan mereka dalam perang di Irak, dengan mengobarkan perang lainnya dengan Iran.

Burman juga mengecam lembaga American Israel Public Affairs Committee (AIPAC) yang ikut berperan dalam upaya mengobarkan perang dengan Iran. “Mereka (AIPAC) tidak mewakili keinginan kalangan Yahudi Amerika yang sangat menginginkan perdamaian, ” tukas Burman yang juga keturunan Yahudi. (Eramuslim)

Laporan
Mochamad Elman
dari Teheran, Iran

TEHERAN – Kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Iran tidak hanya memperkuat hubungan politik, tapi juga kerja sama ekonomi kedua negara. Salah satu proyek besar yang digarap adalah penyulingan minyak (refinery) di Banten.

Pada jumpa pers di Joumhori Palace, tempat peristirahatan kepala negara di Teheran, yang berakhir pukul 20.30 atau sekitar 24.00 WIB Selasa (11/3), presiden menegaskan bahwa masyarakat Indonesia tidak perlu waswas sikap mendukung program nuklir Iran untuk tujuan damai akan menyulitkan posisi Indonesia.

“Ini sudah bukan era perang dingin lagi,” kata SBY yang saat itu didampingi, antara lain, Menlu Hassan Wirajuda dan Utusan Khusus Timur Tengah Alwi Shihab.

Dalam iklim hubungan internasional yang terjadi saat ini, lanjut presiden, Indonesia bisa memainkan politik luar negeri yang bebas aktif. Langkah itu sesuai dengan sikap Indonesia sebagai salah satu pendiri negara-negara Nonblok.

“Kalau saya sekarang berkunjung ke Iran, maka tak bisa diartikan saya menabuh genderang perang kepada Amerika. Sebaliknya, kalau saya berkunjung ke Amerika, tak bisa dikatakan Indonesia sedang berlawanan dengan Iran,” jelasnya.

Menurut presiden, wajar jika dalam menyikapi hal-hal tertentu sikap Indonesia berbeda dengan negara-negara yang selama ini menjadi negara sahabat yang baik. Namun, itu tidak bisa diartikan bahwa bersikap berbeda tersebut berarti bermusuhan.

Tentang kerja sama ekonomi, SBY juga mengungkapkan volume perdagangan Indonesia-Iran terus meningkat. Data terakhir menunjukkan nilainya sekitar USD 323 juta dengan posisi surplus untuk Indonesia.

Salah satu nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani di depan SBY dan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad siang harinya adalah megaproyek penyulingan minyak di Banten. Proyek bernilai triliunan rupiah itu akan mampu memproduksi sekitar 300 ribu barel minyak per hari.

Menurut SBY, proyek yang dikerjakan PT Pertamina dengan mitranya, Refining Industries Development Company (Iran), serta Petrofield Refining Company (Malaysia) itu akan besar manfaatnya bagi pemenuhan BBM di dalam negeri karena sudah tak perlu impor langsung yang mahal.

Satu topik yang juga ditanyakan wartawan adalah dampak sanksi ekonomi Barat terhadap Iran yang mengakibatkan transaksi perbankan di negeri mullah itu terganggu. Ini bisa mengakibatkan pembiayaan proyek-proyek investasinya di Indonesia terganggu. Kata SBY, kendala itu juga sudah diantisipasi pemerintah. Karena itu, menteri-menteri terkait kini sedang menggodok strategi yang workable dan feasible.

Beberapa proyek lain yang juga dibicarakan Indonesia dan Iran, lanjut SBY, adalah rencana Pertamina menggarap proyek petrokimia dengan mitra di Laleh, Iran. Dalam lelang proyek itu, Pertamina memang hanya jadi pemenang kedua. Namun, Iran setuju agar Pertamina bermitra dengan pemenang untuk mengerjakan proyek tersebut.

Hal lain yang juga dibicarakan adalah rencana masuknya maskapai penerbangan Iran langsung ke Indonesia. Sebab, saat ini telah ada penerbangan langsung dari Teheran ke Bangkok dan Kuala Lumpur. Padahal, potensi turis dari Iran ke Asia Tenggara selama ini cukup besar.

Dihubungi secara terpisah, Ketua Kadin Moh. Hidayat mengakui, Iran merupakan negara yang prospektif. Negara anggota OPEC pengekspor minyak terbesar kedua setelah Arab Saudi itu sedang bergelimang petro dolar. Terutama setelah harga minyak melambung di atas USD 100 seperti sekarang. “Ada pengusaha kita yang sudah sukses bangun properti di Teheran,” ujarnya kepada Jawa Pos.

Menurut Hidayat, salah satu hambatan berhubungan dagang dan investasi dengan Iran adalah negara tersebut sedang mendapat sanksi ekonomi dari Barat akibat proyek pengembangan nuklir (yang menurut Iran sebetulnya untuk tujuan damai). Terutama transaksi perbankan yang macet. “Ini mengakibatkan pengusaha kita hati-hati jika ada L/C dengan perbankan Iran. Takut tidak bisa cair,” ujarnya.

Seorang mitra Kadin dari Iran, lanjut Hidayat, menasihatkan agar tidak bertransaksi lewat bank-bank Amerika. Bank-bank Inggris seperti Standard Chartered Bank, misalnya, selama ini banyak dipakai dan tidak ada masalah.

Dari : Jawa Pos