Pemadaman listrik akan terus terjadi hingga akhir 2009 jika masyarakat tidak mampu menghemat penggunaan listrik. Alasannya, selama dua hingga tiga tahun ke depan, pasokan energi listrik dari tiga pembangkit baru belum bisa dioperasikan. Untuk itu, PT PLN melakukan program penghematan, termasuk mengurangi waktu nyala penerangan jalan umum (PJU).

General Manager PT PLN Distribusi Jabar dan Banten Budiman Bahrulhayat mengatakan itu ketika ditemui seusai pertemuan terbatas antara pimpinan DPRD Jabar dan PLN di ruang kerja Ketua DPRD Jabar Jln. Diponegoro, Kota Bandung, Rabu (18/6).

Budiman mengatakan, ketiga pembangkit baru yaitu di Indramayu, Labuan, dan Suryalaya itu, diperkirakan baru bisa beroperasi awal 2010. Sementara kebutuhan energi listrik masyarakat terus meningkat. “Satu-satunya jalan agar tidak ada lagi pemadaman listrik sampai akhir 2009 nanti, ya harus ada penghematan secara massal,” ujarnya.

Tren konsumsi energi listrik Jabar pada tahun 2008 meningkat 6,88%. Lonjakan konsumsi pada tahun ini mula-mula terjadi pada April yaitu sebesar 2.300 megawatt/hour (mwh) dari semula 2.167 mwh pada bulan sebelumnya. Konsumsi pada bulan Mei tercatat 2.353 mwh dan 2.432 mwh pada Juni ini. Grafik beban puncak juga menunjukkan kenaikan hingga 3.537 mwh pada Mei. Kebutuhan yang terus naik tidak diimbangi kenaikan pasokan.

Untuk melakukan penghematan, saat ini PLN di antaranya melakukan penjarangan, pengubahan waktu, dan pengurangan waktu nyala penerangan jalan umum (PJU). Penjarangan waktu nyala maksudnya dari seluruh PJU yang ada, hanya 50% yang dinyalakan. Program penjarangan 50% akan dilakukan mulai Juli. Bulan ini, PJU yang nyala masih 80%. Dengan program penjarangan tersebut, PLN diperkirakan bisa menghemat hingga Rp 228,9 miliar selama enam bulan.

Untuk PJU yang nyala itu, PLN tetap mengubah waktu nyala yang semula berlangsung dari pukul 18.00 hingga 6.00 WIB menjadi pukul 19.00-5.00 WIB. Dengan mengurangi waktu nyala PJU selama dua jam per hari, PLN bisa menghemat Rp 47,8 miliar selama enam bulan, mulai Juli hingga Desember.

Pengurangan waktu nyala pun berlaku untuk reklame jenis billboard dari semula 375 jam/bulan menjadi 150 jam/bulan. Dengan cara ini, PLN bisa menghemat 450 mwh/bulan. “Selama dua tahun ini, kita bisa lalui tanpa pemadaman jika bisa menghemat,” katanya.

Gerakan hemat listrik

Pada kesempatan itu, secara resmi DPRD Jabar akan menginisiasi pencanangan Gerakan Hemat Listrik 100 watt/rumah tangga. Dalam waktu dekat, Ketua DPRD Jabar H.A.M. Ruslan akan menyampaikan hal itu kepada Gubernur Jabar Ahmad Heryawan dan seluruh unsur musyawarah pimpinan daerah (muspida) Jabar lainnya. “Saya akan sampaikan secara pribadi dan lembaga, targetnya secepatnya ini harus dilakukan,” ujarnya.

Ruslan juga berharap agar PLN terus menyampaikan permohonan maaf terkait pemadaman listrik yang tanpa pemberitahuan sebelumnya ke masyarakat.

Pada kesempatan itu, Budiman mempresentasikan cara dan tips menghemat penggunaan listrik di unit rumah tangga. Misalnya, masyarakat diimbau mencabut kabel listrik jika peralatan elektronik tidak sedang digunakan. Selain itu, ia menyarankan memilih alat-alat elektronik yang hemat listrik.

Agar lebih detail, masyarakat bisa berkonsultasi di Klinik Hemat Listrik yang dibuka PLN di setiap kantor Unit Pelayanan Jaringan (UPJ) setiap Jumat pada jam kerja. Di klinik tersebut, masyarakat bisa memperoleh asistensi atau pendampingan untuk menghemat listrik agar tidak melebihi batas rekening hemat. Di klinik tersebut, masyarakat juga bisa belajar membaca kartu rekening pemakaian listrik agar bisa mengatur pemakaian listrik secara mandiri.

Pemetaan

Sementara Ketua Kadin Jabar Iwan Dermawan Hanafi mengatakan, untuk menyiasati potensi kerugian dunia usaha akibat adanya pemadaman listrik yang akan berlangsung hingga tahun depan, pihaknya sudah melakukan pembicaraan serius dengan pihak PLN. Dalam pertemuan beberapa hari lalu, disepakati beberapa hal sebagai solusi dari kondisi tersebut, di antaranya mapping (pemetaan) pemadaman, sehingga kalangan dunia usaha bisa mengatur bisnisnya sedemikian rupa, disesuaikan dengan waktu pemadaman. Tidak seperti pemadaman beberapa waktu lalu, banyak pengusaha mengalami kerugian akibat pemadaman mendadak oleh PLN.

Selain itu, Kadin dan PLN juga bersepakat membuat semacam kelompok kerja untuk melakukan kajian-kajian dan saling bertukar pikiran untuk kepentingan bersama, di antaranya untuk menyiasati pengurangan pemadaman dengan penghematan listrik dan sosialisasi pemadaman dengan cara lebih baik. [Pikiran Rakyat]

Iklan

Oleh Mohammad Yusuf

Jakarta, myRMnews. Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Pilkada Dewan Pimpinan Pusat Partai Keadilan Sejahtera (DPP PKS) Moh Razikun membeberkan kunci kemenangan Syamsul Arifin-Gatot Pujo Nugroho di pilkada Sumut.

Dia menyebutkan ada tiga modal utama yang dimiliki PKS. Pertama, menyodorkan kader mudanya, yakni Gatot. Kedua, PKS sudah punya basis kuat di Medan. Ketiga, militansi kader PKS.

“Kami menggarap persiapan pilkada Sumut sama dengan pilkada Jawa Barat. Kami menawarkan tokoh muda yakni Mas Gatot. Pak Syamsul kami usung juga karena beliau meski tua tapi berjiwa muda, merakyat dan humoris. Itu modal utama PKS di Sumut,” ujar Moh Razikun di Jakarta, Rabu (16/4).

Dia menambahkan, militansi para kader PKS di seluruh wilayah Sumut juga menjadi faktor kunci kemenangan calon dengan nomor urut 5 ini. Dijelaskan, cara kerja kader PKS mirip sales yang berjualan produk. Mereka datang door to door, person to person, guna menawarkan visi dan misi Syamsul-Gatot.

“Para tokoh masyarakat juga didatangi untuk dimintai dukungan dan doam” beber Razikun. Namun, dia tidak menafikan kerja keras para kader partai lain yang ikut mengusung Syamsul-Gatot. Ini hasil kerja semua partai pendukung, imbuhnya.

Lebih lanjut Razikun mengatakan, seluruh jajaran DPP PKS di Jakarta tidak ada yang terkejut dengan hasil quick count yang menempatkan Syamsul-Gatot berada di posisi teratas. Dikatakan, beberapa pekan lalu di DPP PKS digelar rapat pleno guna membahas persiapan pilkada Sumut dan pilkada Jawa Barat.

“Keyakinan ini didukung hasil survei internal PKS beberapa hari menjelang pencoblosan, dimana calon yang kami usung menang,” ujarnya.

Yang justru mengejutkan, katanya, adalah kemenangan pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf di pilkada Jabar. Saat rapat itu, para pimpinan PKS pesimis jago PKS di Jabar itu bisa menang.

“Begitu di Jawa Barat menang, kita semakin yakin Sumut pasti menang. Yang pesimis saja menang, apalagi yang optimis,” katanya.

Ditanya apakah PKS akan menggaet Syamsul Arifin sebagai kader PKS, Razikun tidak menjawab tegas. Dia hanya mengatakan, bila memang nantinya Syamsul menjadi Gubernur Sumut.

“Sudah tentu beliau menjadi keluarga besar PKS karena PKS partai pendukung utama.” tandasnya.

Syamsul sebelumnya merupakan fungsionaris Golkar Sumut. Lantaran Bupati Langkat itu ikut maju di pilkada Sumut, dia dipecat dari Golkar. Pasalnya, Golkar sudah memutuskan mengusung Ketua DPD Golkar Sumut Ali Umri yang berpasangan dengan Maratua Simanjuntak. hta

Sumber: Rakyat Merdeka


Mesin Politik PKS Bekerja Sangat Keras


Oleh Ningsih

Presiden PKS Tifatul Sembiring di Jakarta menyatakan bahwa kemenangan ini disebabkan mesin politik PKS di Jabar dan Sumut bekerja sangat keras, khususnya di daerah-daerah dimana suara PKS mayoritas.

PK-Sejahtera Online: Meski KPUD belum mengumumkan pemenang pilgub Jawa Barat, dan masih menunggu hasil penghitungan suara secara keseluruhan dari KPUD Sumatera Utara, namun PKS yakin akan keluar sebagai pemenang pada kedua pilgub tersebut.

Usai menyaksikan perhitungan suara sementara pasangan Syamsul Arifin-Gatot Pujonugroho, Presiden PKS Tifatul Sembiring di Jakarta menyatakan bahwa kemenangan pasangan nomor 5 ini, disebabkan mesin politik PKS di Jabar dan Sumut bekerja sangat keras, khususnya di daerah-daerah dimana suara PKS mayoritas.

“Untuk Jawa Barat kita mengoptimalkan di kantong-kantong PKS yang sudah dimenangkan di pilkada kabupaten/kota. Di Sumatera Utara juga demikian, kita menang di kantong-kantong PKS seperti di Medan, Binjai, Langkat,” papar Tifatul.

Namun demikian pihaknya mengakui banyak faktor yang menyebabkan kemenangan kedua pasang cagub tersebut. Selain ketokohan para cagub, mesin politik para parpol yang berkoalisi dengan PKS juga bekerja secara efektif.

“Baik di Jawa Barat dan Sumatera Utara PKS tidak bekerja sendiri, PKS bekerja sama dengan partai-partai lain, seperti di Jawa barat PKS bekerja sama dengan PAN, di Sumatera Utara dengan PPP dan PBB,” tuturnya. (Adine)
(www.pk-sejahtera.org)