Ledakan yang terjadi pada 30 Juni 1908 pukul 7.14 pagi waktu setempat itu membuat penduduk bumi tercengang. 100 tahun silam, sebuah ledakan mahadahsyat terjadi di langit Podkamennaya, Rusia.

Betapa tidak, ledakan misterius itu meluluhlantakkan wilayah seluas lebih dari 2.000 kilometer persegi (km2). Tak kurang dari 80 juta pohon terbakar. Beruntung, lokasi tempat ledakan itu jauh dari permukiman penduduk. Alhasil, korban jiwa tidak signifikan. Anehnya, belum ada penjelasan pasti tentang peristiwa ini.

Menurut perhitungan para ahli, ledakan yang diperkirakan terjadi diketinggian 10 km di atas permukaan bumi itu berkekuatan 1.000 kali lipat bom nuklir yang dijatuhkan Amerika Serikat (AS) di Hiroshima, Jepang, atau sepertiga daya ledak Tsar Bomba— bom nuklir terbesar yang pernah diledakkan di muka bumi. Selain membakar sebagian besar permukaan bumi, ledakan tersebut juga memicu guncangan yang sangat hebat yang diperkirakan lebih dari 5 Skala Richter (SR).

“Bayangkan saja kerusakan akibat ledakan itu. Apalagi, jika hal itu terjadi di bumi yang saat ini padat penghuni,” tulis jurnal sains Inggris Nature mengomentari peringatan 100 tahun Peristiwa Tunguska, seperti dikutip AFP akhir pekan lalu. Peristiwa Tunguska sendiri diambil dari nama sungai tempat ledakan tersebut terjadi.

Sungai Tunguska, demikian nama sungai yang terletak di barat Siberia itu. Meski puluhan ilmuwan telah melakukan penelitian, termasuk memeriksa secara detail lokasi kejadian,belum ada penjelasan pasti tentang penyebab ledakan berkekuatan 30 megaton itu. Sebagian ilmuwan menduga ledakan tersebut akibat meteor raksasa seperti halnya yang terjadi di Arizona sekitar 49.000 tahun silam. Namun, teori ini tidak sempurna, sebab tidak ditemukan adanya kawah bekas tumbukan.

Teori lain menyebutkan,ledakan itu berasal dari komet yang menghantam bumi. Namun, teori ini juga kurang tepat karena tidak ditemukan partikel-partikel yang terkandung dalam komet. “Jika memang ledakan itu akibat komet, hal itu sangat aneh karena komet akan meninggalkan jejak di bumi.Begitu juga jika ledakan itu ditimbulkan oleh asteroid,”tulis ilmuwan Italia Luca Gasperini,Enrico Bonatti, dan Giuseppe Longo di Scientific American.

Sementara itu, sejumlah pakar aerodinamika dan ahli-ahli peroketan yang dipelopori Dr Felix Zigel memperkirakan, ledakan itu berasal dari pesawat milik makhluk asing. Analisa ini didasarkan pada laporan para saksi, bukti-bukti dari gelombang balistik serta bentuk daerah kerusakan yang menunjukkan bahwa lintasan yang ditempuh “benda” dari kosmos itu tidak lurus, tetapi datang dari arah selatan, kemudian berubah arah ke barat.

“Lintasan yang berbelok-belok itu tidak mungkin dilakukan benda alamiah, tapi oleh suatu benda buatan,” papar Zigel. Namun, lagi-lagi teori Zigel ini dibantah karena keberadaan makhluk asing hingga kini belum dapat dipastikan. Bahkan, teori Zigel ini dianggap mengada-ada karena jika benar ledakan itu merupakan buah tangan makhluk asing, setidaknya, di era modern ini atau 100 tahun setelah Peristiwa Tunguska, ada kejadian aneh yang menguatkan teori tersebut. (Koran Sindo)

The Professional Association of Teachers (PAT)—sebuah asosiasi guru di Inggris—dalam laporannya kemarin menyatakan, usia pertama kali anak masuk sekolah seharusnya enam sampai tujuh tahun.

Usia di bawah itu, menurut PAT, belum siap untuk menerima pelajaran akademik. Deborah Lawson dari PAT mengatakan, anak seharusnya memiliki kebebasan lebih untuk bermain tanpa harus disuruh melakukan ini itu oleh orang dewasa. Lawson mengklaim bahwa tidak cukup bukti anak yang memulai sekolahnya pada usia di bawah enam tahun memiliki kemampuan lebih hebat dibanding mereka yang masuk sekolah belakangan.

“Sebagai praktisi yang juga seorang ibu, saya menyaksikan banyak anak-anak yang belum cukup umur dipaksa masuk sekolah. Saya kira akan lebih baik jika anak belajar berbicara dengan cara bermain secara alami,” papar Lawson. Menanggapi klaim Lawson, Juru Bicara Departemen Anak, Sekolah, dan Keluarga Inggris mengatakan, belajardi usia lebih dini justru membuat anak mampu mengembangkan kemampuannya.

“Dengan sistem pendidikan yang menarik, anak-anak justru dapat lebih mengembangkan bakatnya. Apalagi,ke depan kita harus mendidik anak-anak agar lebih kreatif,” ujarnya. [Koran Sindo]