Ulama Palestina menjawab secara lengkap pertanyaan “Apakah benar Hamas sibuk memerangi saudara Muslimnya sendiri?”

“Kami sangat bersemangat membantu jihad di Palestina, tetapi Hamas kemudian berkelahi dengan sesama saudaranya Muslim Palestina, seperti ‘Fatah’ dan ‘Jundu Nashrullah’ atau ‘Emirat Islam’. Bagaimana ini?”

Begitulah pertanyaan yang paling sering diajukan oleh masyarakat Malaysia di beberapa kota kepada tim Rabithah Ulama Palestina yang sedang berkunjung ke negeri itu di paruh akhir bulan suci Ramadhan ini.

Ketua tim tersebut, Syeikh Abu Bakar Al-‘Awawidah, penasihat senior Rabithah Ulama Palestina di Suriah, memberikan jawaban mengenai masalah Hamas (Harakah Muqawamah Al-Islamiyah) dengan Fatah dan Jundu Nashrullah secara terinci.

Syeikh Abu Bakar menyebutkan, bahwa dalam Piagam Pendirian Hamas (1987) ada pasal khusus yang menyebutkan, bahwa, “PLO (Palestinian Liberation Organization) dan sayap militernya Fatah adalah saudara kami seperjuangan selama mereka berada di jalan Allah dan membela hak-hak rakyat Palestina.”

Jadi sejak awal pendiriannya, Hamas tidak pernah berinisiatif memerangi PLO yang waktu itu dipimpin oleh Yaser Arafat dan Fatah, sayap militernya. Para pemimpin Hamas seperti Asy-Syahid Syeikh Ahmad Yasin, sengaja memisahkan diri dari PLO, di mana selama puluhan tahun mereka juga berada di dalamnya, dengan tujuan untuk menegaskan garis perjuangan rakyat Palestina agar semata-mata untuk menegakkan Islam dan mencari keridhaan Allah Ta’ala.

“Perjuangan membebaskan Palestina dan Masjidil Aqsa,” kata Syeikh Abu Bakar, “tidak akan pernah menang tanpa pertolongan Allah. Dan pertolongan Allah hanya akan turun kalau bangsa Palestina taat kepada Allah dan menegakkan Syariat Islam secara istiqamah.”

Inilah yang menjadi alasan utama berdirinya Hamas, ujarnya.  Namun seiring berjalannya waktu, kata beliau, terutama sejak wafatnya Yaser Arafat tahun 2004, Fatah semakin bersikap kompromistis dan akrab dengan Zionis Israel.

Syeikh Abu Bakar menyatakan, “Kami memiliki bukti berupa foto-foto otentik, bahwa Mahmoud Abbas dan Muhammad Dahlan (komandan militer dan intelijen Fatah) sudah sejak tahun 1996, secara rahasia di belakan Yasser Arafat, menjalin hubungan sangat akrab dengan pemerintah Zionis Israel, terutama para pejabat intelijennya.”

Bahkan di dalam foto-foto yang juga diserahkan kepada www.hidayatullah.com tersebut nampak kedua tokoh yang kini menjadi pucuk pimpinan Fatah itu bergaul mesra dengan para pejabat tinggi Zionis Israel.

Di foto-foto tersebut juga nampak Dahlan berpelukan dan berciuman pipi dengan Madeline Albright, menteri luar negeri Amerika Serikat semasa pemerintahan Presiden Bill Clinton. Albright adalah seorang Yahudi keturunan Finlandia.

Kelak Abbas dan Dahlan inilah yang secara resmi didukung Amerika Serikat, Israel dan negara-negara Barat menjadi Presiden Otorita Palestina (OP). Sebuah badan yang menjalankan kekuasaan internal atas rakyat Palestina di kawasan Tepi Barat dan Gaza. Namun sejak 2006 Gaza dibebaskan oleh Hamas dari kekuasaan OP.

“Dengan kedekatan seperti itu,” kata Syeikh Abu Bakar, “pantaslah kalau dengan mudah Mahmoud Abbas membatalkan semua kesepakatan yang telah dibuatnya dengan para pemimpin Hamas, Khalid Misy’al dan Ismail Haniyah di depan Ka’bah di Masjidil Haram tahun 2007 yang lalu.”

Menurut, Syeikh Abu Bakar, pertentangan yang terjadi sebenarnya bukan antara Hamas dengan Fatah. Karena sebagian besar sayap militer Fatah seperti Fatah Intifadhah, Brigade Al-Quds, Brigade Nashr Shalahuddin dan lain-lain tetap bergabung bersama gerakan muqawamah (perlawanan) seperti Hamas dan Jihad Islam.

Jadi, Syeikh Abu Bakar menyimpulkan, pertentangan yang terjadi adalah antara rakyat dan Mujahidin Palestina melawan para Munafiqin dan Pengkhianat atas perjuangan Palestina.

Jundu Nashrullah alias Emirat Islam

Sedangkan mengenai pertempuran baru-baru ini antara “Al-Qaidah” dengan Hamas, Syeikh Abu Bakar menyebut, bahwa mereka bukan Al-Qaidah, melainkan Khawarij Hadzihil Ummah (orang-orang yang keluar dari barisan umat ini).

Syeikh Abu Bakar mengutip hadits Rasulullah Saw, “Kelak akan datang suatu masa di mana kalian akan bertemu dengan sekelompok orang yang tilawah Al-Quran-nya, shalatnya dan ibadah lainnya, akan membuat kalian merasa rendah diri karena begitu bagus dan khusyu’nya mereka. Tetapi ketahuilah bahwa bacaan Al-Quran mereka tidak masuk ke hati, melainkan hanya sampai ke leher mereka. Mereka ini menjadi kafir seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Mereka berkasih sayang dengan orang selain Muslim tetapi sangat mudah menumpahkan darah saudaranya sesama Muslim. Mereka inilah Khawarij Hadzihil Ummah.

Sebenarnya, menurut Syeikh Abu Bakar, mereka ini sudah ada sejak setahun yang lalu. Perilaku mereka, kata beliau, persis seperti yang pernah ditunjukkan oleh kaum Khawarij yang membunuh Khalifah ‘Ali ibn Abi Thalib Radhiallaahu ‘anhu.

Kata Syeikh Abu Bakar, “Hamas sudah mengirimkan 30 orang doktor Syari’ah untuk duduk bersama dan berdialog dengan mereka mengenai bagaimana cara yang benar menegakkan Syariat Islam. Diantaranya adalah Dr. Marwan Abu Rasy, Dr. Abdurrahman Jamal dll. Tetapi mereka tetap merasa bahwa Islam yang benar adalah yang mereka yakini.”

Ketika terjadi Ma’rakatul Furqon (pertempuran yang membedakan Al-Haq dan Al-Bathil) di Gaza awal tahun ini, Hamas memberikan senjata kepada mereka yang kemudian mereka gunakan untuk memerangi Hamas sendiri.

Bahkan waktu itu, menurut Syeikh Abu Bakar, Hamas juga memberitahukan kepada mereka banyak terowongan rahasia dan tempat-tempat militer strategis. Namun selama pertempuran 23 hari di Gaza waktu itu, mereka tidak sekalipun memuntahkan pelurunya ke arah Yahudi dan tidak satupun membunuh Yahudi.

Beberapa bulan yang lalu kelompok yang diperkirakan berkekuatan sekitar 300 orang ini mulai membuat kekacauan. Di Khan Yunis mereka melakukan peledakan atas sebuah walimatul ‘ursy (pesta pernikahan) dan membunuh para undangan, karena dianggap acara itu mengandung maksiat.

Begitu juga mereka meledakkan warung-warung internet karena menganggapnya sebagai pusat-pusat kemaksiatan. Bahkan, salah satu ulama yang dikirim oleh Hamas untuk berdialog, Dr. Marwan Abu Rasy, rumahnya dipasangi ranjau oleh mereka.

Syeikh Abu Bakar menegaskan, bahwa keberadaan kelompok ini sangat berbahaya bagi umat Islam di Gaza dan Palestina. “Ketika kami sibuk melawan Zionis Israel, mereka justru sibuk membuat kekacauan di tengah rakyat. Mereka menyebut pemerintahan PM Ismail Haniyah sebagai pemerintahan murtad,” kata Syeikh Abu Bakar.

Terakhir, Hamas mengirimkan seorang komandan Brigade ‘Izzuddin Al-Qassam untuk melakukan dialog dengan mereka, tetapi komandan tersebut justru mereka tembak dari belakang sampai syahid.

Kata Syeikh Abu Bakar, kelompok ini kemudian semakin giat menghalalkan darah dan harta para Mujahidin, serta giat menyebarluaskan isu jahat di kalangan rakyat Gaza. “Mereka pada dasarnya sedang melakukan makar kepada umat Islam.”

Syeikh Abu Bakar menutup penjelasannya, “Keputusan Hamas memerangi mereka sebenarnya keputusan yang sangat berat dan pahit. Akhirnya Hamas terpaksa menyerang mereka yang berada di Masjid Ibn Taimiyah.”

“Ketika Hamas berusaha  menangkap Dr. Abdul Latif Musa untuk menyelesaikan masalah dengan cara dialog, dia malah meledakkan dirinya sampai mati dan menganggapnya sebagai ‘amaliyah istisyhadiyah (bom syahadah).”

Menurut Syeikh Abu Bakar, saat ini rakyat dan para Mujahidin Gaza sedang berjuang kembali ke Al-Islam, melawan makar Zionis Israel, serta membangun kembali kehidupannya setelah dihancurkan Israel. “Lalu kenapa ketika 1,5 juta jiwa rakyat Gaza sedang berjuang, kemudian ada sekelompok kecil orang yang mengacaukan keadaan, justru dibesar-besarkan dan dipromosikan oleh kantor-kantor berita Barat? Ada apa di balik ini semua?” tanya Syeikh Abu Bakar. [Muhammad ‘Isa/www.hidayatullah.com]

Foto [Atas] Dr. Abd Latif Musa. Foto [Bawah] Komandan Fatah, Mohammad Dahlan, akrab bersama pejabat militer Israel

Iklan

Tiga warga Israel di kota Ashkelon diangkut ke rumah sakit gara-gara syok oleh tembakan roket Grad yang jatuh di kota itu, hari Selasa pagi waktu setempat. Israel mengklaim tembakan roket itu berasal dari wilayah Gaza dan untuk pertama kalinya roket yang digunakan adalah roket jenis Grad.

Tembakan roket Grad itu membuat warga Ashkelon yang berada di selatan Israel panik, karena biasanya para pejuang Palestina di Gaza hanya menggunakan roket al-Qassam.

Tembakan-tembakan roket ke wilayah Israel terjadi sepanjang Senin kemarin. Pada pagi hari, sedikitnya tiga roket menghantam kota Eshkol dan pada sore hari sebuah roket al-Qasssam jatuh di lapangan terbuka di Sha’ar Hanegev. Semua tembakan roket itu tidak menimbulkan kerusakan dan korban jiwa di pihak Israel.

Namun sebagai balasan atas tembakan roket tersebut, Israel melakukan serangan udara ke selata Jalur Gaza yang menyebabkan satu warga Palestina syahid dan tiga orang lainnya luka-luka. Israel mengklaim target serangan mereka adalah kelompok orang yang melakukan tembakan roket ke Israel.

Para pejuang Palestina sesekali menembakkan roketnya ke Israel karena Israel tidak juga membuka perbatasan dan mengakhiri blokade sebagai syarat gencatan senjata yang diajukan para pejuang.

Yahudi Tak Boleh Masuk, Anjing Boleh

Semua gadis Yahudi selalu ingin tinggal di Turki. Impian mereka adalah bisa menikah di Sinagog terkenal Neveh Shaleom yang berada di Istanbul.

“Tempat yang indah,” ujar Sheila, seorang gadis Yahudi. “Tapi saya dan tunangan saya tak mungkin lagi menikah di sana. Ketika ibu saya pergi ke kantor kementerian di Istanbul untuk mengambil berkas-berkas pernikahan, mereka sama sekali tidak menolongnya. Itu karena ibu saya seorang Yahudi. Sekarang situasinya menjadi tak terkontrol.”

Sheila melanjutkan, “Semuanya menjadi buruk. Semua toko di Istanbul memasang banner ‘Yahudi Tak Boleh Masuk, Anjing Boleh.’ Anda semua bisa membayangkan bagaimana perasaan orang Yahudi sekarang ini. Gerakan anti-Yahudi di Turki mencapai tahap paling parah sepanjang sejarah.”

Sheila tidak sendiri. Nathalie, seorang imigran Yahudi yang berada di Istanbul juga merasakan hal yang sama. “Sekarang, rakyat Turki bukan hanya menentang Israel, tapi juga semua bangsa Yahudi. Semuanya ini tidak masuk akal.”

Pemerintah Israel sebenarnya sudah membuat pernyataan agar orang Yahudi yang menetap di Turki untuk segera kembali ke Israel. Tapi seruan ini ditolak mentah-mentah oleh banyak kaum Yahudi. “Saya katakan yang sejujurnya, saya sangat mencintai Turki. Siapapun tidak akan pernah bisa membuat saya meninggalkan Turki, walaupun saya dibayar mahal.” ujar Itzik Bahar, Yahudi yang tinggal di Istanbul sejak tahun 1948. “Sekarang kami tengah hidup dalam suasana teror yang kami buat sendiri.”
(Eramuslim)

“Ya Allah, tolonglah saudara kami muslim Palestina. Saudara-saudara kami dibantai dan kami hanya bisa demo. Aku malu Ya Allah!

Oleh Fauzan Al-Anshari
Direktur Lembaga Kajian Strategis Islam

SAMPAI hari ini (10 January 2009), korban tewas pembantaian warga Muslim di Jalur Gaza hampir mencapai 1000 orang. Sedang korban luka hampir 4000 orang. Meski semua orang menangis dan mengecam, Zionis-Israel, dengan dukungan Amerika tak bertindak apa-apa. Janganlah berharap Amerika memberi sanksi. Bahkan sekedar mengecam saja, tak akan dilakukan. Bandingkanlah, andai kata yang melakukan ini adalah kaum Muslim. Mungkin, semua pesawat tempur dan pasukan Amerika sudah langsung menyerbu. Lihat kasus invasi Iraq dan Afghanistan.
Pengabaian dunia terhadap pembantaian massal (genosida) yang secara terang-terangan ini adalah sebuah pemandangan paling memuakkan dan memalukan. Bahkan, Shlomo Ben Ami, mantan Menlu Israel dalam artikel di Jakarta Post (entah apa maksud koran ini yang justru memberi fasilitas suara penjajah ketika itu) justru seolah melegalkan aksi-aksi pembantaian dan pembunuhan massal yang dilakuan Israel tersebut.
Pertanyaannya, mengapa semua ini terjadi? Mengapa Amerika dan dunia Barat yang selama ini paling sering menjadikan HAM dan demokrasi tiba-tiba menelan ludah mereka sendiri ketika Israel melawan nilai-nilai HAM dan demokrasi?

Mengapa ini bisa terjadi? Mengapa di zaman terbuka –dimana masyarakat—senantiasa berharap menghargai pandangan dan nilai-nilai kemanusiaan, justru ada kaum bernama Yahudi-Israel paling sering melanggarnya?
Sebelum menjawab itu, ada baiknya kita memahami dulu karakter bangsa Yahudi (Israel). Mengapa bangsa yang kecil ini tiba-tiba begitu beringas dan sering tidak mematuhi kesepakatan dan nilai-nilai bersama. Secara umum, sejarahnya amat panjang. Hampir semua catatan sejarah –terutama— Al-Kitab dan Al-Quran menjelaskan perjalannya dengan rinci dan detil.

Kita ketahui dari firman Allah swt:

“Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israel dalam Kitab itu: Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali, dan pasti kamu akan meyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.” [QS. al-Isra’: 4]

Kerusakan pertama telah terjadi dan Yahudi pun dikutuk hingga tak memiliki tanah air sampai akhirnya mencaplok bumi suci Palestina sebagai bagian dari skenario langit untuk membasmi bangsa babi dan monyet itu secara keseluruhan akibat kesombongan mereka. Hal itu telah diisyaratkan dalam firman-Nya:

“Dan Kami berfirman sesudah itu kepada bani Israil: Tinggallah di muka bumi, maka apabila datang janji terakhir niscaya Kami datangkan kamu dalam keadaan bercampur baur”. [QS. al–Isra’: 104]

Kebiadaban Israel yang Cuma berjumlah 7 jutaan jiwa itu memang menjadi pertanda akan segera berakhirnya zaman ini. Bayangkan, jumlah umat Islam se dunia 1,5 milyaran, namun tak sanggup menghentikan kebrutalan Israel di Palestina. Bahkan kita melihat dengan mata kepala sendiri lewat televisi bagaimana Israel dengan pongahnya memborbardir Gaza, seolah kita membiarkan Israel membantai muslim Palestina. Tak berkutik sedikit pun, kecuali demo dan bantuan kemanusiaan. Padahal yang dibutuhkan adalah bahasa besi sebagaimana bahasa itu digunakan Israel menjajah Palestina. Bukan bahasa diplomasi lagi. Bahasa itu sudah usang. Suka atau tidak, peperangan total melawan Israel akan terjadi sebagai episode akhir zaman.

“Kiamat tidak akan terjadi sebelum kaum Muslimin memerangi kaum Yahudi. Mereka akan diperangi kaum Muslimin, sehingga orang-orang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon. Maka berkatalah batu dan pohon tersebut: Wahai orang Islam, wahai hamba Allah, ini ada orang Yahudi bersembunyi di belakangku, kemarilah, bunuhlah dia! Kecuali pohon gharqad, karena pohon itu adalah pohon Yahudi”. (HR.Bukhori-Muslim)

Fakta Kebiadaban Yahudi  >> Selengkapnya…

Oleh Misbahul Huda

Kepahitan Sejarah Telah 35 Abad

Sejarah mencatat, tak ada perseteruan dan permusuhan yang sedemikian lama ”seabadi” kasus Israel-Palestina, musuh bebuyutan sejak abad 14 SM sampai sekarang abad 21 M. Tak kurang dari 35 abad perseteruan itu belum juga menemukan jalan damai yang diimpikan.

Bandingkan dengan perang dingin Rusia v Amerika, yang tak lebih satu abad telah berakhir dengan pecahnya Rusia pasca glasnost dan perestroika. Perang ideologi besar dunia komunis versus kapitalis juga telah berakhir dengan ambruknya masing-masing ideologi. Komunisme telah luruh menjadi neo-komunisme sejak RRC menjadi negara yang membuka modal kapitalis.

Sebaliknya, kapitalis juga ambruk seiring runtuhnya ekonomi dunia yang episentrumnya ada di Amerika. Dan kini sedang berproses mencari model baru kapitalisme (neo-kapitalisme).

Ringkasan Sejarah dan Ibrah

Bani Israil adalah golongan keturunan Nabi Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim as, juga dikenal dengan nama Yahudi. Sejarah Bani Israil bermula ketika Nabi Ibrahim mengembara bersama pengikutnya menyeberangi Sungai Eufrat menuju Kan’an (kini Palestina). Ibrahim mempunyai dua orang istri. Dari istri mudanya, Siti Hajar, dia dikaruniai seorang anak bernama Ismail. Dari istri tuanya, Siti Sarah, dia dikaruniai seorang anak bernama Ishaq.

Sewaktu wafat, Ibrahim meninggalkan putranya yang kedua, Ishaq, di Kan’an dan putanya yang pertama, Ismail, di Hedzjaz (kini menjadi wilayah barat kerajaan Arab Saudi, yaitu Makkah, Madinah, Taif, dan Jeddah).

Konon, pengasingan dua anak yang berjauhan itu akibat perseteruan dua istri Ibrahim -Sarah dan Hajar- yang tidak akur. Dari sinikah awal perseteruan Israel-Palestina tersebut dimulai? Wallahu a’lam, karena ada yang bergumam, seandainya Ibrahim tidak beristri dua, niscaya dunia tidak seperti ini.

Ismail akhirnya menjadi bapak bagi sejumlah besar suku bangsa Arab, garis keturunannya hingga nabi terakhir Muhammad saw. Ishaq mempunyai dua anak, yakni Isu dan Ya’qub, yang disebut terakhir dikenal juga sebagai Israel dan darinyalah berasal keturunan Bani Israil.

Ya’qub mempunyai dua istri. Dari keduanya, dia dikaruniai 12 orang anak. Yakni, Raubin, Syam’un, Lawi, Yahuza (asal kata “Yahudi”), Yassakir, Zabulun, Yusuf as, Benyamin, Fad, Asyir, Dan, dan Naftah. Dari 12 putranya itulah kemudian keturunannya berkembang.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, orang-orang Israel sudah menjadi satu suku besar dan berpengaruh, mengembara ke berbagai daerah. Akhirnya, melalui pantai timur Laut Tengah, mereka sampai ke Mesir (ketika keluarga Ya’qub menemui Yusuf as yang telah menjadi orang kepercayaan Firaun di Mesir).

Di balik kisah keluarga Ya’qub, kebiadaban dan kelicikan anak-anak Ya’qub (baca: Bani Israil) sudah terbaca saat mereka tega memasukkan Yusuf as ke sumur tua karena iri hati lantaran Yusuf lebih disayangi ayahnya. Liciknya, mereka tega menyusun skenario alibi bahwa Yusuf dimakan serigala (dikisahkan dalam QS Yusuf).

Selama 100 tahun di Mesir, Bani Israil hidup dalam suasana aman dan makmur, tetapi berikutnya adalah masa-masa pahit karena penderitaan kerja paksa di Piton. Kemudian, Nabi Musa (cucu Ya’qub keturunan dari Lawi) membawa kaumnya kembali ke Palestina. Usaha Nabi Musa as untuk membawa Bani Israil masuk Palestina tidak berhasil karena umatnya membangkang hingga nabi wafat.

Akhirnya diteruskan oleh sahabatnya Yusa bin Nun. Dia membawa mereka memasuki Palestina melalui Sungai Yordan memasuki Kota Ariha dengan membunuh seluruh penduduknya. Dengan peristiwa itu, mulailah zaman pemerintahan Bani Israil atas tanah Palestina dan mereka berhasil membentuk suatu umat dari berbagai suku bangsa.

Kehidupan Bani Israil di Palestina itu dapat dibagi dalam tiga zaman. Pertama, zaman pemerintahan hakim-hakim (lebih kurang empat abad). Pada zaman tersebut, mereka mulai berubah dari cara hidup musafir kepada cara hidup menetap.

Kedua, zaman pemerintahan raja-raja (sekitar 1028-933 SM). Pada masa itulah, tepatnya pada masa pemerintahan Nabi Daud as, Bani Israil memasuki masa jaya di Palestina.

Ketiga, zaman perpecahan dan hilangnya kekuasaan Bani Israil. Setelah meninggalnya Nabi Sulaiman as kira-kira 935 SM, dia digantikan putranya, Rahub’am, tetapi keluarga Israil yang lain mengangkat saudara Rahub’am, yaitu Yarub’am. Dari sini mulailah Bani Israil memasuki masa perpecahan.

Sementara itu, Kerajaan Mesir di selatan kembali jaya, demikian pula Suriah di utara. Keadaan tersebut menyebabkan wilayah Israil di Palestina bagai wilayah kecil yang terjepit celah-celah dua rahang mulut musuh yang menganga. Menjelang tahun 721 SM, kerajaan Israil lenyap dihancurkan oleh tentara Asyur (kini Iraq).

Dengan demikian, Bani Israil hanya sempat hidup menetap selama periode 1473-586 SM. Setelah itu, mereka berpencar kembali ke berbagai negara, seperti Mesir dan Iraq.

Kehancuran Israel lebih tragis lagi saat pasukan Romawi menaklukkan Palestina dan menduduki Baitulmaqdis. Panglima Titus Flavius Vespasianus sempat memusnahkan Jerusalem karena terjadi pemberontakan Yahudi di situ. Akhirnya, Bani Israil berhasil menyelamatkan diri lari ke berbagai negara, seperti Mesir, Afrika Utara, dan Eropa. Dengan ini, mulailah babak baru pengembaraan Bani Israil ke seluruh penjuru dunia.

Yahudi Tak Bisa Hidup Berdamai

Ketika Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, dia telah menemukan orang-orang Israil sebagai suatu komunitas penting di sana. Maka, sebagai penghargaan terhadap mereka, Nabi Muhammad SAW menyusun Piagam Madinah yang mengatur hidup berdampingan secara damai antara umat Islam dan umat lain, termasuk umat Yahudi.

Namun, kemudian umat Yahudi mengkhianati perjanjian tersebut, sehingga Alquran mengutuk mereka secara terus-menerus sebagai orang yang mengkhianati janji dan mereka diusir dari Madinah.

Diakui Bani Israel memang diberi kelebihan Tuhan berupa otak yang cerdas, tetapi angkuh, sombong, dan rasis. Justru karena keangkuhan dan arogansinya itulah, mereka (Bani Israel) dikenal sebagai umat ngeyel, pembangkang (QS Al Baqarah). Meski kepadanya Tuhan mengutus beberapa nabi berturutan (Ya’qub, Yusuf, Musa, Harun, Zulkifli, Daud, Sulaiman, Zakariya, Yahya, dll) alih-alih mereka mentaati nabinya, bahkan ada yang membunuhnya. Kebiadaban yang sulit diceritakan dengan kata-kata.

Sejak awal pengembaraan ini sampai abad ke-19 (kira-kira 25 abad), orang Yahudi tidak banyak diperbincangkan. Hanya tercatat bahwa mereka terbuang dari satu daerah ke daerah lain atau terusir dari satu negara ke negara lain, sebaliknya umat Islam mengulurkan tangan kepada mereka.

Pada akhir abad ke-19 dan seterusnya, keadaan berbalik. Perang Dunia I dan Perang Dunia II mengubah nasib bangsa ini. Cita-cita zionisme ditunjang dengan semangat yang tinggi oleh seluruh peserta perang, kecuali Nazi Jerman. Dengan cara khusus, berangsur-angsur umat Yahudi bergelombang memasuki daerah Palestina.

Komisi persetujuan Amerika-Inggris memberi rekomendasi terhadap satu rombongan besar kaum ini untuk memasuki Palestina. Sampai pertengahan abad ke-20, dalam tempo 30 tahun, mereka yang memasuki Palestina mencapai angka 1.400.000 jiwa, hampir sama dengan jumlah penduduk asli Palestina.

Pada 1947, pemenang Perang Dunia II menghadiahkan satu negara Israel untuk orang Yahudi di Palestina. Negara ini sampai sekarang merupakan duri dalam daging bagi dunia Arab. Akibatnya, negara-negara Arab di satu pihak dan Israel di pihak lain merupakan dua kubu yang saling berhadapan. Peperangan antara dua kubu itu tidak putus-putusnya hingga kini, terhangat, ditandai dengan serbuan ke jalur Gaza yang membunuh ratusan korban tak berdosa.

Berkedok Historical Right

Gelombang imigrasi besar-besaran kaum Yahudi ke Palestina itu didorong oleh semangat zionisme pimpinan Theodor Herzl (1860-1904), mereka adalah orang-orang yang memiliki keyakinan agama yang sangat lemah, jika tidak ada sama sekali. Mereka melihat “keyahudian” sebagai sebuah nama ras, bukan masyarakat beriman. Mereka mengusulkan agar orang-orang Yahudi menjadi ras terpisah dari bangsa Eropa, yang mustahil bagi mereka untuk hidup bersama dan penting artinya bagi mereka untuk membangun tanah air sendiri. Mereka tidak mengandalkan pemikiran keagamaan ketika memutuskan tanah air manakah seharusnya itu.

Herzl, sang pendiri zionisme, suatu kali memikirkan Uganda, lalu dikenal sebagai “Uganda Plan”. Sang Zionis kemudian memutuskan Palestina karena mereka merasa mempunyai hak sejarah (historical right) atas bumi Palestina. Tegasnya, Palestina dianggap sebagai “tanah air bersejarah bagi orang-orang Yahudi”.

Sang zionis melakukan upaya-upaya besar untuk mengajak orang-orang Yahudi lainnya menerima gagasan yang tak sesuai agama ini dan mulai berpendapat bahwa Yahudi tidak dapat hidup dengan damai dengan bangsa-bangsa lainnya, bahwa mereka adalah “ras” yang tinggi dan terpisah. Karena itu, mereka harus bergerak dan menduduki Palestina.

Logika zionisme yang nasionalis, rasis, dan kolonialis inilah yang menginspirasi semua penjajahan dan semua peperangan. Tidak ada masa depan atau keamanan bagi Israel dan Timur Tengah, kecuali jika Israel meninggalkan paham zionismenya dan kembali ke agama Ibrahim. Warisan bersama tiga agama wahyu yang pro kasih sayang dan persaudaraan: Yudaisme, Nasrani dan Islam.

Dipilihnya Palestina sebagai negara zionis karena “historical right” adalah alasan yang dicari-cari dan dipaksakan. Bukankah sejak abad ke-5 SM yahudi di Palestina tinggal sedikit yang tersisa, karena menyebar, berlarian mengembara ke seluruh penjuru dunia? Pantaskah bangsa yang sudah meninggalkan tanah kelahirannya 25 abad, lalu memaksakan diri kembali ke tanah asal dengan klaim mempunyai hak sejarah?

Lebih naif lagi jika semangat “mudik” itu harus diikuti dengan peperangan dan membunuh penduduk asli Palestina yang sudah menempatinya ribuan tahun dan puluhan generasi.

Melihat arogansi zionisme yang rasis, kolonialis, serta tidak bermotif iman dan damai, mestinya Israel bukanlah sekadar musuh Palestina, bukan pula musuh negara-negara Arab, atau bukan pula musuh Islam, tetapi musuh bersama dunia semua agama yang cinta damai. Sebab, jika zionisme sekuler yang menjadi mind-set nya, tidak akan pernah bisa hidup secara damai dengan siapa pun, di mana pun, dengan agama apa pun.

Misbahul Huda, penggiat dakwah (E-mail: misbahul@temprina.com) [Jawa Pos]

PBB Mandul, RI Galang Sidang Umum Darurat

KOTA GAZA – Bala tentara Israel diliputi kesialan pada hari kesebelas penyerbuannya ke tanah Palestina di Jalur Gaza kemarin (6/1). Satu per satu anggota pasukan khusus negara Zionis itu bergelimpangan. Bukannya akibat tembakan pejuang-pejuang Hamas, mereka tewas dan terluka justru oleh tembakan rekan-rekannya sendiri.

Insiden friendly fire itu disampaikan juru bicara Angkatan Darat Israel. Menurut juru bicara yang tak disebutkan namanya itu, tiga prajurit tewas dan 24 lainnya terluka parah menjadi sasaran tembakan tank rekan-rekan mereka. ”Mereka sedang menginspeksi sebuah gedung yang diduga sebagai tempat persembunyian Hamas pada Senin malam (5/1) di pinggiran Kota Gaza,” ujarnya.

Adanya gerakan orang-orang bersenjata di dalam gedung itu dilihat pasukan Israel di sisi lain arah penyerbuan melalui teropong malam sebagai target, yakni kelompok Hamas. Kontan, pasukan Israel di dalam gedung tersebut langsung dihujani tembakan meriam oleh kelompok tank pasukan Israel lainnya. Hasilnya, sungguh merugikan Israel. ”Satu kolonel yang mengomandani brigade infanteri ikut tewas bersama 23 pasukan lainnya,” kata juru bicara AD Israel.

Di bagian lain Jalur Gaza, insiden friendly fire juga terjadi terhadap pasukan payung (para), juga dari Angkatan Darat Israel. Misil tank Israel yang, tampaknya, asal menembak menghantam seorang perwira yang sedang memimpin pertempuran sengit melawan para pejuang Hamas. ”Rincian kejadian masih diselidiki. Meski begitu, kejadian tersebut diduga juga karena sebuah tank telah keliru menembak sasaran,” ungkap sang jubir AD.

Kematian beruntun oleh insiden salah tembak itu membuat jumlah serdadu Israel yang terbunuh bertambah menjadi delapan orang sejak pasukan darat Israel membanjiri jantung pertahanan Hamas, Sabtu pekan lalu.

Sidang Umum Darurat

Dari dalam negeri, Indonesia mulai memainkan perannya untuk menghentikan krisis di Gaza melalui jalur diplomasi. Kemarin, pemerintah secara resmi mendesak Majelis Umum PBB untuk mengadakan sidang darurat demi menghentikan kekerasan yang terjadi di Jalur Gaza.

Dalam jumpa pers, Menteri Luar Negeri Nur Hassan Wirajuda menyatakan desakan tersebut tidak langsung dilakukan melalui Dewan Keamanan (DK) PBB. Pemerintah Indonesia akan mencari dukungan terealisasinya sidang darurat itu melalui negara-negara Gerakan Non-Blok (GNB). ”Kami yakin GNB akan mendukung upaya ini,” ujar Hassan di Gedung Deplu, Jalan Pejambon, Jakarta, kemarin (6/1).

Sejak Senin malam (5/1), pemerintah Indonesia mengirimkan permintaan adanya emergency session majelis PBB itu ke markasnya di New York. Permintaan tersebut mengacu pada pasal 51 Piagam PBB Uniting for Peace. ”Kegagalan DK PBB menjalankan mandat untuk menjaga keamanan dunia membuat kita meminta agar diadakan sidang umum majelis darurat berdasar pasal 51,” jelasnya.

Desakan itu disampaikan Duta Besar Indonesia di PBB Marty Natalegawa ke Sekjen PBB. Hassan menambahkan, surat tersebut telah diedarkan kepada anggota PBB lainnya, meski negara-negara Arab meminta proses tersebut ditunda menunggu sidang DK PBB Rabu hari ini atau Kamis besok.

Menurut Hassan, dukungan GNB atas perjuangan Palestina selama ini sangat jelas. Bagi GNB, pendudukan Israel selama ini merupakan bentuk penjajahan. Serangan yang dilakukan Israel sejak menjelang pergantian tahun 2009 itu semakin menghambat upaya kemerdekaan bagi Palestina.

”Seharusnya, Desember 2008 adalah target menciptakan Palestina merdeka. Namun, situasi ini membuat semua jadi tidak jelas,” ujarnya.

Dia menjelaskan, melalui GNB, upaya untuk mendesak sidang darurat majelis sangat mungkin terealisasi. Sebab, kekuatan GNB dalam PBB sudah menjadi mayoritas. Di antara 192 negara dalam PBB, anggota GNB mencapai 117 negara. ”Kami yakin akan ada dukungan dari negara di luar GNB,” lanjut dia.

Mengapa tidak melalui DK PBB? Hassan menjelaskan, dengan agresi Israel yang begitu gencar, DK PBB sampai saat ini belum memutuskan apa pun. Walaupun akan ada sidang DK PBB, tak ada jaminan hal itu bakal terealisasi. ”Kami skeptis karena itu bukan keterangan resmi dari presiden DK PBB,” ujarnya.

Dia menyebutkan, DK PBB sudah dua kali bersidang setelah Israel melancarkan agresi ke Gaza. Tapi, tidak ada pernyataan resmi yang dikeluarkan. ”Sementara itu, Israel terus melancarkan serangan darat. Saat ini, lebih dari 500 orang menjadi korban. Dunia tidak bisa membiarkan kebiadaban ini terus berlangsung,” tegasnya.

Hassan mengungkapkan, pada 2006, hal serupa terjadi di Lebanon Selatan. Lebih dari 30 hari DK PBB tidak berbuat apa-apa. ”Saat itu, kita belum menjadi anggota DK. Kita sesalkan negara-negara Arab dan OKI juga tidak berbuat apa-apa,” ungkapnya.

Menanggapi maraknya aspirasi jihad warga Indonesia, Hassan menyatakan bersimpati. Bantuan yang diberikan juga harus efektif. Kita perlu bertanya kepada pihak yang akan dibantu. Kemarin presiden bertemu Dubes Palestina dan Dubes menyampaikan keperluan yang mereka butuhkan, terutama obat-obatan dan peralatan medis. ”Agenda pengiriman jihad ke Gaza bukan suatu opsi,” katanya.

Perawat Kosongi Kolom Penyebab Kematian

Sejalan dengan upaya Indonesia, para diplomat serta pemimpin Eropa berkunjung ke wilayah di sekitar Gaza dalam upaya menghentikan serangan darat dan udara Israel yang kian luas. ”Eropa menginginkan gencatan senjata sesegera mungkin,” tegas Presiden Prancis Nicolas Sarkozy seusai bertemu Presiden Palestina Mahmoud Abbas kemarin.

Pernyataan yang sama disampaikan Sarkozy saat menemui Presiden Israel Shimon Peres. ”Israel harus mengambil risiko bagi perdamaian,” kata Sarkozy dalam pertemuan Senin malam. Setelah itu, dia bertemu Olmert dan Abbas.

Secara paralel, sebuah delegasi Uni Eropa (UE) menemui Menteri Luar Negeri (Menlu) Israel Tzipi Livni. ”UE bersikeras untuk gencatan senjata sesegera mungkin. Serangan roket terhadap Israel juga harus berhenti,” ungkap Karel Schwarzenberg dari Kementerian Luar Negeri Republik Ceko yang mengambil alih kepresidenan UE pekan lalu dari Prancis.

Sejauh ini, upaya mediasi para pemimpin Eropa itu belum membuahkan hasil. Kepada AP, Wakil Kepala Politbiro Hamas di Syria Moussa Abu Marzouk menolak proposal AS itu yang menekankan ”sebuah situasi de facto” dan mendorong Israel melanjutkan serangan terhadap Gaza.

”Perdana Menteri (PM) Israel Ehud Olmert pun menolak gencatan senjata,” kata seorang pejabat tinggi di kantor PM Israel itu setelah Olmert bertemu Presiden Prancis Nicolas Sarkozy, Senin (5/1).

Sikap menghindari jalur diplomasi kedua pihak yang bertikai tersebut tak urung semakin menambah penderitaan warga Palestina. Komite Palang Merah Internasional (International Committee of the Red Cross/ICRC) mengungkapkan, satu per satu warga Palestina yang luka-luka mulai meninggal karena ambulans tidak bisa menjangkau mereka.

Nyawa mereka tidak bisa diselamatkan karena tak dapat dijangkau tim bantuan kemanusiaan yang dikerahkan komunitas internasional. ”Warga yang terluka akhirnya meninggal ketika menanti kedatangan ambulans-ambulans Palang Merah Palestina. Pada sejumlah kasus lain, ambulans tidak bisa menjangkau korban luka-luka sama sekali akibat berlanjutnya pertempuran,” ungkap Juru Bicara ICRC Dorothea Krimitsas di Jenewa kemarin.

Hal itu memperparah situasi saat ruang-ruang darurat dan unit-unit perawatan intensif sudah penuh sesak. Sedikitnya dua rumah sakit kehabisan bahan bakar untuk generator-generator mereka yang merupakan satu-satunya pembangkit listrik yang tersedia.

Sejumlah pejabat di Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan, sejak dilancarkannya serangan darat pada Sabtu pekan lalu, tiga ambulans di Gaza dihantam jet-jet tempur Israel, sehingga menewaskan tujuh petugas medis. ”Sebuah rumah sakit medis yang dimiliki sebuah organisasi bantuan kemanusiaan yang tidak ada sangkut-pautnya dengan Hamas juga dibom,” ujar Mahmoud Daher, pejabat kesehatan PBB.

Raed Arini, seorang petugas di Rumah Sakit Shifa, menyatakan dirinya sudah berhenti mengisi kolom ”sebab-sebab kematian pasien” dalam lembaran rekam medis. ”Sebab-sebab kematian adalah tentara Israel,” kata Arini sebelum bergegas menyambut kembali kedatangan para korban luka-luka bersama sejumlah petugas medis lainnya.

Dahlan Iskan : Seberapa Luaskah Wilayah Gaza Itu?

Tidak lebih dari 500 kilometer persegi. Lebarnya hanya sekitar 10 kilometer dan panjangnya 50 kilometer. Kalau di Jatim, kira-kira hanya sama dengan dari Bangil ke Probolinggo. Lebarnya hanya sama dengan Probolinggo-Leces dan Bangil-Beji. Atau sama dengan dari Tanjung Kodok ke Tuban.

Wilayah itu berbukit, tapi tidak bergunung. Dataran paling tinggi hanya 150 meter. Meski punya pesisir sepanjang 45 kilometer, seluruh akses ke Laut Tengah itu dikuasai Israel. Bandaranya juga dikuasai Israel. Satu-satunya batas yang bukan Israel adalah bagian selatannya sepanjang 12 kilometer: berbatasan dengan Mesir.

Meski Gaza ini bagian dari wilayah negara Palestina, kalau mau ke ibu kota harus melalui daratan Israel sejauh kira-kira 40 kilometer. Ini berarti orang Palestina di wilayah Gaza kalau mau ke wilayah Palestina yang lain di Tepi Barat harus mengantongi paspor dan harus mendapat izin Israel. Luas wilayah Palestina yang di timur (disebut Tepi Barat, karena letaknya di tepi barat Sungai Jordan) itu sekitar lima kali lebih besar dari Gaza. Di wilayah Tepi Barat ini penduduknya sekitar 2,5 juta orang. Dengan demikian, kalau Gaza dan Tepi Barat dijumlah, penduduk Palestina 4 juta orang (wilayah Gaza berpenduduk 1,5 juta).

Israel memang berjanji menyerahkan wilayah Palestina kepada orang Palestina secara bertahap. Mula-mula hanya Jericho, satu kota sebesar Kecamatan Tulangan (Sidoarjo, Jatim) di timur Jerusalem. Lalu sebagian lagi wilayah di utara Jerusalem. Lalu bagian lain Tepi Barat. Tiga tahun lalu barulah wilayah Gaza yang diserahkan. Masih banyak lagi yang mestinya diserahkan, tapi diragukan apakah Israel masih mau menyerahkan sisanya. Termasuk Dataran Tinggi Golan yang harus dikembalikan ke Syiria.

Sejak diserahkan ke Palestina tiga tahun lalu, status Gaza tidak jelas. Bukan provinsi, bukan juga negara bagian. Bahkan, antara Gaza dan Tepi Barat hampir tidak ada hubungan sama sekali. Baik hubungan transportasi maupun hubungan politik. Gaza seperti tidak ada hubungan apa-apa dengan pemerintah pusat di wilayah Tepi Barat.

Di wilayah Gaza hampir 100 persen penduduknya pengikut Hamas. Yakni, aliran yang tidak mau menggunakan jalan diplomasi dalam merebut semua wilayah Palestina. Hamas tidak percaya Israel mau secara suka rela mengembalikan wilayah Palestina, termasuk Jerusalem. Hamas pernah minta agar seluruh wilayah Palestina dan Israel itu jadi satu negara saja: Negara Palestina. Bahwa sebagian besar penduduk negara “baru” itu beragama Yahudi, tidak apa-apa. Demokrasi yang akan mengatasi hubungan mayoritas-minoritas itu (Yahudi 7 juta, Palestina 4 juta). Israel menolak, karena khawatir lama-lama penduduk Arab (Palestina) akan mayoritas.

Kalau di Gaza penduduknya adalah pengikut Hamas, di Palestina wilayah timur (Tepi Barat) penduduknya mayoritas pengikut kelompok Fatah. Yakni, kelompok yang juga berjuang mengembalikan seluruh wilayah Palestina, tapi melalui jalan perundingan. Dua kelompok ini sering terlibat dalam perang bersenjata secara terbuka dan menelan banyak korban. Dengan demikian, meski Negara Palestina itu satu, pemerintahannya sebenarnya ada dua. Pemerintahan di Tepi Barat dipegang Fatah dan pemerintahan di Gaza dipegang Hamas.

Israel memang kelihatan tidak mau kehilangan kontrol. Wilayah timur (Tepi Barat) itu diserahkan ke Palestina tidak secara utuh. Wilayah Jericho, ibarat satu pulau kecil di tengah-tengah Israel. Wilayah utara juga seperti pulau besar di tengah-tengah Israel. Wilayah selatan juga berada di tengah-tengah wilayah Israel. Wilayah utara yang agak luas pun, bentuknya lucu karena banyak wilayah Israel yang menjorok ke wilayah Palestina di sana-sini.

Jadi, Palestina yang sekarang sebenarnya bukan terbagi dua wilayah (Gaza dan Tepi Barat), tapi terbagi empat atau lima wilayah yang tersebar di tengah-tengah negara Yahudi. (Jawa Pos)

وقالت اليهود يد الله مغلولة غلت أيديهم ولعنوا بما قالوا بل يداه مبسوطتان ينفق كيف يشاء وليزيدن كثيرا منهم ما أنزل إليك من ربك طغيانا وكفرا وألقينا بينهم العداوة والبغضاء إلى يوم القيامة كلما أوقدوا نارا للحرب أطفأها الله ويسعون في الأرض فسادا والله لا يحب المفسدين (Al Maidah : 64)

Terjemah :

Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan Al Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan. (Qs. Al Maidah : 64)

Translate :

The Jews say: “Allah’s hand is tied up.” Be their hands tied up and be they accursed for the (blasphemy) they utter. Nay, both His hands are widely outstretched: He giveth and spendeth (of His bounty) as He pleaseth. But the revelation that cometh to thee from Allah increaseth in most of them their obstinate rebellion and blasphemy. Amongst them we have placed enmity and hatred till the Day of Judgment. Every time they kindle the fire of war, Allah doth extinguish it; but they (ever) strive to do mischief on earth. And Allah loveth not those who do mischief. (5:64)

———————————————————————————————————-

SMS Peduli Palestina :

Medical Emergency Rescue Committe (Bulan Sabit Merah) kirim tim medis dpp alumni ESQ DR. BASUKI, sudah di Jordan, Jalan darat ke Gaza. Bantu Palestina Minimal Rp. 10.000,- ke rekening :

BCA : 6860153678
BSM : 0090121773
Muamalat : 3010052115

Mari Jihad Harta atau ketik MERC PEDULI kirim ke 7505
Rp. 5.000,- / SMS. Sebarkan SMS ini…

Janji merupakan penegasan dari suatu komitmen untuk dilaksanakan dengan sepenuh hati, janji mudah di ucapkan atau dibuat oleh seseorang dan paling sering dilanggar atau dikhianati.
Janji apabila sudah diucapkan atau dibuat wajib untuk ditunaikan sebagai tanda pribadi yang beriman, apabila dikhianati merupakan tanda kemunafikan seseorang.

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu. “(QS:Al Maa’idah/5: 1).

Tidak sedikit manusia yang kecewa bahkan sangat kecewa karena telah dikhianati oleh temannya atau pemimpinnya sehingga menyebabkan hubungan menjadi tidak baik, ukhuwah retak, silaturrahim putus, kepercayaan berkurang bahkan pupus sama sekali.

Umar bin Khathab, pemimpin orang-orang yang beriman, pemimpin yang bertaqwa, bijaksana, peduli kepada umat, paham tentang amanah yang harus diemban, tidak mau berkhianat, takut untuk bertindak zalim kepada rakyatnya, telah memberikan keteladanan yang baik terkait dengan janji yang harus ditepati.

Sikap Umar yang mulia tersebut disebabkan karena beliau meneladani Rasulullah saw dalam setiap gerak kehidupannya dengan penuh sukacita.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS: Al Ahzab/33: 21).

Umar dengan akhlaknya yang mulia menjadi daya tarik tersendiri bagi penduduk Yerusalem, Palestina, terutama tokoh agama Kristen, Uskup Agung Severinus untuk membuat perjanjian dan menyerahkan kunci Kota Al Quds yang di dalamnya ada masjid Al Aqsha, kiblat umat Islam yang pertama.

Umar bin Khathab telah membuat perjanjian dengan penduduk Iliya (nama lain dari Yerusalem), tahun 15H / 636M, perjanjian damai tersebut di kenal dengan “Perjanjian Umar”.

“Perjanjian Umar” telah memberikan kesan izzah (wibawa) yang dimiliki Khalifah Islam, Umar bin Khathab, dan merupakan jawaban yang jelas serta tegas mengenai toleransi.

Bagi umat Islam, toleransi bukan sekedar teori, tetapi sudah dilaksanakan kepada umat lainnya. Fakta sejarah ini tidak dapat dipungkiri oleh siapapun juga, kecuali mereka yang hasad, yang tertutup mata hatinya dan tidak mau berpihak kepada kebenaran yang hakiki.

Ketika pasukan Islam menguasai Yerusalem, di dalamnya ada Baitul Maqdis, dan gereja Al Qiyamah, semuanya itu dijaga dan dilindungi oleh kaum muslimin, bahkan pasukan Romawi Byzantium yang telah menyerah dan orang Kristen lainnya diperlakukan dengan baik sesuai dengan syari’at Islam.

Uskup Agung Severinus, memohon kehadiran khalifah agung yang adil dan bijaksana, Umar bin Khathab, Amir al Mu’minin agar datang langsung ke Palestina untuk melakukan penandatanganan perjanjian damai di daerah Jabiyah.

Perjanjian damai itu sangat bersejarah bagi penduduk Yerusalem dan peradaban umat manusia. Kemudian diadakan penyerahan secara resmi kunci kota suci Al Quds dari tokoh agama Kristen Yerusalem, Uskup Agung Severinus kepada khalifah Islam, Umar Amir al Mu’minin.

Semenjak itu penguasaan kota suci Al Quds berada di tangan kaum muslimin hingga berabad-abad lamanya. Pada tahun 1099 M hingga tahun 1187 M, selama 88 tahun kota suci Al Quds di kuasai tentara Salib. Saat itu kaum muslimin menderita karena ditindas, diintimidasi bahkan dibunuh dan tidak bebas beribadah di masjid Al Aqsha.

Dengan izin Allah, kota suci Al Quds dibebaskan kembali dari belenggu kaum Salib oleh kaum muslimin yang dipimpin oleh Panglima Islam, Shalahuddin Al Ayyubi pada hari Jum’at, 27 Rajab 583 H / 1187 M.
Untuk mengetahui lebih jelas isi “Perjanjian Umar”, marilah kita lihat teks perjanjian tersebut di bawah ini:

Bismillahirrahmanirrahim
Inilah jaminan keamanan yang diberikan oleh hamba Allah, Umar Amir al Mu’minin, terhadap penduduk Iliya:

Aku memberikan jaminan keamanan bagi jiwa raga dan harta benda mereka. Untuk gereja-gereja serta tiang-tiang salib mereka. Yang sakit maupun yang sehat, serta seluruh tradisi kepercayaan mereka.

Gereja-gereja mereka tidak akan diduduki atau dihancurkan, tidak akan dikurangi ataupun dirubah. Tidak akan dirampas salib maupun harta benda mereka, walaupun sedikit. Mareka tidak akan dimusuhi kerena keyakinan agamanya, dan tidak akan diganggu atau diancam seorangpun dari mereka. Dan tidak diizinkan bangsa Yahudi untuk tinggal bersama mereka di Iliya, meskipun hanya satu orang.

Terhadap penduduk Iliya, mereka harus membayar jizyah (pajak), sebagaimana pernah diberikan oleh penduduk kota-kota yang lain. Mereka juga harus mengusir bangsa Romawi dan kaun Lushut. Siapa diantara mereka yang keluar, dijamin aman nyawa serta hartanya, hingga mencapai tempat aman mereka. Dan siapa yang tetap tinggal diantara mereka, diapun dijamin aman. Hanya saja ia dikenakan jizyah (pajak), sebagaimana yang diwajibkan terhadap penduduk Iliya.
Siapapun, diantara penduduk Iliya, bebas untuk pergi dengan jiwa dan hartanya ke pihak bangsa Romawi. Dia boleh mengosongkan rumah peribadatannya, dan membawa salib mereka. Mereka dijamin aman, atas jiwa raga, tempat ibadah, dan salib-salib mereka, sampai mereka tiba di tempat amannya.

Siapa yang sudah ada di dalam negeri, dari penduduk asli, sebelum terbunuhnya fulan: yang mau boleh tinggal, dan harus membayar jizyah (pajak) seperti yang dikenakan atas penduduk Iliya. Dan kalau mau, dia boleh pergi bersama Romawi. Atau boleh juga dia kembali kepada keluarganya. Pada keadaan ini, tidak dipungut apapun dari mereka, sampai bias dipanen hasil jerih payah mereka.

Apa yang tertuang dalam surat perjanjian ini dilindungi oleh janji Allah, jaminan Rasul-Nya, jaminan para khalifah, serta jaminan kaum mu’minin, jika mereka memberikan jizyah (pajak) yang dikenakan atas mereka.

Traktat perjanjian ini disaksikan oleh Khalid bin Walid, ‘Amru bin ‘Ash, Abdurrahman bin ‘Auf, dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Dan dituliskan pada tahun 15 Hijriyah.

Dari perjanjian yang telah dibuat Umar bin Khathab dengan penduduk Yerusalem, ada yang menarik dan perlu diperhatikan dengan seksama, yaitu kalimat yang berbunyi: Dan tidak diizinkan bangsa Yahudi untuk tinggal bersama mereka di Iliya (Yerusalem), meskipun hanya satu orang.
Dari kalimat tersebut di atas, jelas ada kesepakatan kaum muslimin dan orang-orang Kristen untuk tidak mengizinkan orang-orang Yahudi menetap / tinggal di Yerusalem.

Hal ini disebabkan karena prilaku orang-orang Yahudi yang suka merusak, menghalalkan segala cara, membuat makar, pengkhianat dan suka mengadu domba umat seperti yang pernah mereka lakukan kepada kabilah Aus dan kabilah Khazraj, Muhajirin dan Anshar.

Prilaku buruk orang-orang Yahudi sangat berbahaya dalam masyarakat yang beradab, masyarakat yang ingin perdamaian dan ketentraman.

“…Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya dan mereka berusaha (menimbulkan) kerusakan di bumi. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”(QS: Al Maidah/5 : 64)

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (QS: Al Maidah/5 : 82).
Tetapi kenapa saat ini orang-orang Kristen mengkhianati “Perjanjian Umar” dengan bekerjasama dan mendukung orang-orang Yahudi menjajah bangsa Palestina, mengusir penduduknya, bahkan membunuh anak-anak yang tidak berdosa?
H. Ferry Nur S.Si
Emai : ferryn2006@yahoo.co.id
Website : www.kispa.org

Salurkan Infaq Peduli Al Aqsha
Ke Bank Muamalat Indonesia (BMI) Cabang Slipi
No. Rek. 311.01856.22 an Nurdin QQ KISPA

(Eramuslim)