Oleh  Adi Junjunan Mustafa[2]

Dan rendahkanlah dirimu terhadap kedua (orang tua) dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ”Wahai Rabbku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku sewaktu kecil.” (QS al-Isra, 17:24)

Sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia berdoa, ” Wahai Rabbku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada-Mu dan sungguh, aku termasuk orang muslim.” (QS al-Ahqaf, 46:15)

Ayat pada surat al-Isra di atas menggambarkan betapa besarnya arti pendidikan orang tua kepada anak-anak semasa mereka kecil, hingga Allah swt mengabadikan dalam lafazh doa pada al-Quran. Sementara itu, pada surat al-Ahqaf:15 tergambar bahwa kematangan kepribadian seorang beriman tercermin dalam usaha dan permohonan kepada Allah agar kebaikan pada dirinya menjadi washilah kebaikan yang akan diperoleh anak cucunya. Oleh karenanya perhatian orang tua terhadap pendidikan anak-anak semasa kecil menjadi sebuah kewajiban dalam ajaran Islam.

Orang tua hendaknya memiliki pengetahuan dan visi yang shahih (benar) dan jelas akan arah pendidikan anak. Ayat di atas memberi bekal para orang tua agar mengarahkan pendidikan anak pada sikap bersyukur kepada Allah dan pada perbuatan-perbuatan kebajikan (’amal shalih) yang diridhai Allah. Visi ini harus melekat pada orang tua di tengah berbagai tarikan-tarikan materialisme dalam tujuan kehidupan [1].

Professor Arief Rachman mengatakan bahwa anak butuh akhlak dan watak [2]. Beliau melihat pendidikan di Indonesia secara umum hanya menekankan aspek kognitif (pikiran, akademis). Hal-hal yang sifatnya terukur saja. Sementara itu, soal akhlak dan watak serta hal lain yang tidak terukur, boleh dibilang ditelantarkan. Padahal kalau kita membaca tujuan pendidikan dalam Undang-Undang Pendidikan, kita bisa melihat bahwa tujuan pendidikan itu memuat juga kedua hal tersebut. Inilah yang menyebabkan bangsa ini sulit menjadi bangsa yang besar. Korupsi masih ada di mana-mana, sikap tidak sportif merebak di berbagai dimensi kehidupan dan sikap-sikap negatif lainnya.

Menimbang hal-hal di atas, makalah ini akan dibuka dengan sifat pendidik suskes menurut arahan Nabi Muhammad saw. Kemudian dikupas secara singkat bentuk-bentuk pelibatan orang tua dalam pendidikan anak di sekolah. Dan pada bagian akhir disampaikan kiat-kiat orang tua dalam membangun jiwa (kepribadian) anak yang merupakan bagian paling mendasar dalam pendidikan.

Sifat-sifat Pendidik Sukses dalam Pengarahan Nabi saw.

Ustadz Muhammad Ibnu Abdul Hafizh Suwaid mencatat beberapa sifat pendidik sukses sebagai berikut [3]

   1. Penyabar dan tidak pemarah, karena dua sifat ini dicintai Allah swt. (h.r. Muslim dari Ibnu ’Abbas)

   2. Lemah lembut (rifq) dan menghindari kekerasan.

Allah itu Maha Lemah Lembut, cinta kelemahlembutan. Diberikan kepada kelembutan apa yang tidak diberikan kepada kekerasan dan kepada selainnya (h.r. Muslim dari ’Aisyah). Tidaklah kelemahlembutan itu terdapat pada sesuatu melainkan akan membuatnya indah, dan ketiadaannya dari sesuatu akan menyebabkannya menjadi buruk. (h.r. Muslim)

   3. Hatinya penuh rasa kasih sayang

Sesungguhnya setiap pohon itu berbuah. Buah hati adalah anak. Allah tidak akan menyayangi orang yang tidak sayang kepada anaknya. Demi Dzat yang jiwaku di Tangan-Nya, tidak akan masuk surga kecuali orang yang bersifat penyayang. (h.r. Ibnu Bazzar dari Ibnu ’Umar)

   4. Memilih yang termudah di antara dua perkara selama tidak berdosa

Tidaklah dihadapkan kepada Rasulullah antara dua perkara melainkan akan dipilihnya perkara yang paling mudah selama hal itu tidak berdosa. (Mutafaq ‘alaih)

   5. Fleksibel (layyin)

Bukanlah fleksibilitas yang berarti lemah dan kendor sama sekali, melainkan sikap fleksibel dan mudah yang tetap berada di dalam koridor syariah. Neraka itu diharamkan terhadap orang yang dekat, sederhana, fleksibel (lembut) dan mudah –qariib, hayyin, layyin, sahlin- (h.r. Al Kharaiti, Ahmad dan Thabrani)

   6. Ada senjang waktu dalam memberi nasihat

Ibnu Mas’ud hanya memberi nasihat kepada para sahabat setiap hari Kamis. Maka ada seorang yang berkata kepada beliau, “Wahai Abu Abdur Rahman, alangkah baiknya jika Anda memberi nasihat kepada kami setiap hari.” Beliau menjawab, “Saya enggan begitu karena saya tidak ingin membuat kalian bosan dan saya memberi senjang waktu dalam memberikan nasihat sebagaimana Rasulullah lakukan terhadap kami dahulu, karena khawatir kami bosan.” (Muttafaq ‘alaih).

Dasar dari sifat-sifat mulia di atas adalah keshalihan orang tua. Keshalihan orang tua ini akan memiliki pengaruh positif terhadap anak-anak. Firman Allah, “Dan orang-orang yang beriman, Kami akan pertemukan keturunan mereka dengan mereka. Dan Kami sedikitpun tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.”  [QS ath-Thur, 52:21]. Mengomentari ayat ini, Ibnu ‘Abbas berkata, “Allah akan mengangkat derajat keturunan manusia bersama orang tuanya di Surga nanti walaupun kedudukannya tidak setinggi orang tuanya.”

Keikutsertaan Orang Tua dalam Pendidikan Anak di Sekolah

Beberapa peneliti mencatat bahwa keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak di sekolah berpengaruh positif pada hal-hal berikut [4].

Ø  Membantu penumbuhan rasa percaya diri dan penghargaan pada diri sendiri

Ø  Meningkatkan capaian prestasi akademik

Ø  Meningkatkan hubungan orang tua-anak

Ø  Membantu orang tua bersikap positif terhadap sekolah

Ø  Menjadikan orang tua memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap proses pembelajaran di sekolah

Pihak sekolah dapat menyiapkan beberapa metoda untuk dapat melibatkan orang tua pada pendidikan anak, diantaranya dengan:

Ø  Acara pertemuan guru-orang tua

Ø  Komunikasi tertulis guru-orang tua

Ø  Meminta orang tua memeriksa dan menandatangani PR

Ø  Mendukung tumbuhnya forum orang tua murid yang aktif diikuti para orang tua

Ø  Kegiatan rumah yang melibatkan orang tua dengan anak dikombinasikan dengan kunjungan guru ke rumah

Ø  Terus membuka hubungan komunikasi (telepon, sms, e-mail, portal interaktif dll)

Ø  Dorongan agar orang tua aktif berkomunikasi dengan anak

Diantara teori pendidikan menyebutkan sebuah paradigma tripartite (tiga pusat pendidikan), yang menempatkan sekolah, keluarga dan masyarakat sebagai tiga elemen yang tidak terpisahkan dalam proses pendidikan [5]. Dari ketiga elemen tripartite itu, keluarga merupakan fokus utama yang harus mendapat perhatian lebih, karena anak lebih banyak berada di rumah.

Cara Efektif Membangun Jiwa Anak

Sesungguhnya tugas utama pendidikan anak adalah membangun jiwa mereka agar siap menerima berbagai pelajaran dan kelak mengaplikasikan ilmu yang mereka peroleh demi kebaikan sesama. Ustadz Muhammad mengupas pengarahan Nabi Muhammad saw dalam membangun jiwa anak [6], sebagai berikut.

   1. Menemani anak

Persahabatan punya pengaruh besar dalam jiwa anak. Teman adalah cermin bagi temannya yang lain. Satu sama lain saling belajar dan mengajar. Rasulullah saw berteman dengan anak-anak hampir di setiap kesempatan. Kadang-kadang menemani Ibnu ’Abbas berjalan, pada waktu lain menemani anak paman beliau, Ja’far. Juga menemani Anas. Begitulah Rasulullah berteman dengan anak-anak tanpa canggung dan tidak merasa terhina.

   2. Menggembirakan hati anak

Kegembiraan punya kesan mengagumkan dalam jiwa anak. Sebagai tunas muda yang masih bersih, anak-anak menyukai kegembiraan. Bahkan orang tua merasakan kegembiraan dengan riangnya mereka. Oleh karena itu, Rasulullah saw selalu membuat anak-anak bergembira, antara lain dengan cara:

Ø  Menyambut anak dengan baik

Ø  Mencium dan mencandai anak

Ø  Mengusap kepala mereka

Ø  Menggendong dan memangku mereka

Ø  Menghidangkan makanan yang baik

Ø  Makan bersama mereka

   3. Membangun kompetisi sehat dan memberi imbalan kepada pemenangnya

Umumnya manusia, apalagi anak-anak, suka berlomba. Rasulullah pun suka membuat anak-anak berlomba, misalnya ketika beliau membariskan Abdullah, Ubaidillah, dan anak-anak ‘Abbas lainnya, lalu bersabda, “Siapa yang mampu membalap saya, dia bakal dapat ini dan itu …” Maka mereka pun berlomba membalap Rasulullah saw sehingga berjatuhan di atas dada dan punggung beliau. Setelah itu mereka diciumi dan dipegangi oleh beliau.

   4. Memberi pujian

Pujian punya pengaruh penting dalam diri anak, sebab dapat menggerakkan perasaan dan emosinya sehingga cepat memperbaiki kesalahannya. Mereka bahkan menunggu-nunggu dan mendambakan pujian.

   5. Bercanda dan bersenda gurau

Canda dan senda gurau akan membantu perkembangan jiwa anak dan melahirkan potensinya yang terpendam. Rasulullah saw menyerukan, “Barangsiapa punya anak kecil hendaklah diajak bersenda gurau!” (h.r. Ibnu Asakir)

   6. Membangun kepercayaan diri anak

Ini dilakukan dalam bentuk:

Ø  Mendukung kekuatan ‘azzam pada anak, misalnya melatih menjaga rahasia dan membiasakan anak berpuasa

Ø  Membangun kepercayaan sosial

Ø  Membangun kepercayaan ilmiah

Ø  Membangun kepercayaan ekonomi dan perdagangan

   7. Memanggil dengan panggilan yang baik

Bermacam-macam cara Rasulullah saw memanggil anak, tujuannya untuk menarik perhatian dan membuat anak siap mendengar apa yang hendak dipesankan. Panggilan ini misalnya “nughair” atau si burung pipit, “ghulam” yang berarti anak, atau “wahai anakku”. Sementara para sahabat memanggil anak-anak dengan “wahai anak saudaraku”.

   8. Memenuhi keinginan anak

Adakalanya orang tua harus memenuhi permintaan anak. Ini juga merupakan cara efektif untuk menumbuhkan emosinya dan menambat jiwanya terhadap orang tua. “Sesungguhnya barangsiapa berusaha menyenangkan hati anak keturunannya sehingga menjadi senang, Allah akan membuatnya merasa senang sehingga di akhirat ia benar-benar akan merasa senang.” (h.r. Ibnu Asakir)

   9. Bimbingan terus-menerus

Anak, sebagaimana manusia lazimnya, sering salah dan lupa. Dibanding semua makhluk lain, masa anak-anak manusia adalah yang paling panjang. Ini semua kehendak Allah, agar cukup sebagai waktu untuk mempersiapkan diri menerima taklif  (kewajiban memikul syariat). Orang tua harus secara telaten membimbing anak pada masa kanak-kanaknya. Ibnu Mas’ud berkata, “Biasakanlah mereka (anak-anak) dengan kebaikan, karena kebaikan itulah yang akan menjadi adat (kebiasaannya).”

  10. Bertahap dalam pengajaran

Contohnya pada saat mendidik anak untuk shalat. “Perintahkan anakmu untuk shalat ketika berusia tujuh tahun dan pukullah mereka (jika enggan shalat) ketika berumur sepuluh tahun.” (h.r. Abu Dawud)

  11. Imbalan dan ancaman

Cara ini tidak kalah pentingnya dalam membangun jiwa. Rasulullah saw juga menggunakan cara ini dalam pendidikan. Contohnya untuk membuat anak berbakti kepada orang tua, beliau menyebutkan besarnya pahala berbakti kepada orang tua dan besarnya ancaman begi mereka yang durhaka kepada orang tua.

Catatan Penutup

Pendidikan anak pada hakikatnya adalah tanggung jawab para orang tua. Oleh karena itu keterlibatan orang tua dalam mendukung sukses anak menuntut ilmu di sekolah merupakan kewajiban. Untuk menjadi pendidik yang baik, orang tua mesti menghiasi dirinya dengan keshalihan. Peran penting orang tua adalah membangun dan menyempurnakan kepribadian dan akhlak mulia pada anak. Untuk itu perlu sikap-sikap pendidik seperti sabar, lembut, dan kasih sayang.

Untuk melengkapi pendidikan anak di sekolah, orang tua mesti membangun jiwa anak sesuai pengarahan Nabi Muhammad saw.

Daftar Bacaan

[1] Untuk lebih detil, kami mencatat masalah visi pendidikan anak dalam tulisan ”Memaknai Pendidikan Anak”, blog entry dengan alamat link: http://adijm.multiply.com/journal/item/221

[2] Harian Seputar Indonesia, Minggu, 17 Februari 2008 pada artikel/wawancara tokoh Kak Seto (Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak) berjudul ”Pusing dengan Perceraian Artis”.

[3] Untuk lebih detil silakan membaca buku tulisan Ustadz Muhammad Ibnu Abdul Hafizh Suwaid berjudul ”Cara Nabi Mendidik Anak”, bab Pengantar Umum bagi Orang Tua, hal 18-22, Penerbit Al-I’tishom Cahaya Umat.

[4] Involving Parents in the Education of Their Children, tulisan Patricia Clark Brown pada http://www.kidsource.com/kidsource/content2/Involving_parents.html

[5] Peningkatan Peran Orang Tua dalam Pendidikan Keluarga, tulisan M. Ridha Alta, Peneliti pada Pusat Kajian Pendidikan dan Masyarakat (PKPM) dan Mahasiswa Pascasarjana IAIN Ar-Raniry

[6] Untuk lebih detil silakan membaca buku tulisan Ustadz Muhammad Ibnu Abdul Hafizh Suwaid berjudul ”Cara Nabi Mendidik Anak”, bab Cara-cara Nabi Mendidik Anak, hal 91-104, Penerbit Al-I’tishom Cahaya Umat.

[1] Disampaikan pada pertemuan FPOM-SDIT Ummul Quro, Bogor, Sabtu 23 Februari 2008.

[2] Ayah 4 orang anak; Pemerhati masalah keluarga; Ketua Bidang Litbang Yayasan Peduli Keluarga, Bogor;

Homepage http://adijm.multiply.com/ ; E-mail adijm2001@yahoo.com.

Bismillaahi wal hamdu lillaahi.  Assalaamu’alaikum.

Diantara kerinduan para orang tua yang aktif dalam kegiatan dakwah adalah terwariskannya semangat berdakwah kepada anak cucu keturunan mereka. Ini adalah kondisi alamiah yang bahkan diabadikan dalam al-Quran dalam munajat Nabi Zakaria as:

“… yang akan mewarisi aku dan mewarisi dari keluarga Ya’qub; dan jadikanlah dia, wahai Rabbku, seorang yang diridhai” (QS Maryam, 19:6)

dan juga tersurat dalam do’a hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah:

“Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami dari pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS al-Furqan, 25:74)

atau pada do’a seorang hamba yang mencapai kematangan spiritual ketika usianya menginjak 40 tahun:

“Kami perintahkan manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: Wahai Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah kau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat beramal shalih yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS al-Ahqaf, 46:15)

Tentu saja harapan, doa dan pewarisan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran ini hanya dapat dilakukan melalui proses pendidikan (at-tarbiyyah).

Pada prakteknya secara tidak disadari saat ini tengah terjadi ketidakseimbangan porsi perhatian pada pendidikan anak. Ketidaksadaran orang tua ini bisa terjadi paling tidak karena tiga faktor:

   1. Kesibukan;
2. Kesalahan persepsi;
3. Kesulitan ekonomi.

Kesibukan

Aktifitas dakwah saat ini memang memiliki dimensi yang jauh lebih luas dibandingkan pada era tahun 80-an atau 90-an. Pada era 80-an dakwah masih berdimensi pembinaan internal para kadernya. Pada era 90-an perluasan sasaran dakwah baru berkembang pada masyarakat lewat pendekatan kultural. Saat ini dimensi kerja dakwah selain melingkupi apa yang telah dikerjakan sejak tahun 80-an, mesti memikul juga tugas-tugas struktural kenegaraan lewat aktifitas politik.

Ada banyak imbas pada kehidupan keluarga aktifis dakwah dengan semakin luasnya bidang garapan dakwah. Dalam konteks pendidikan anak imbas ini berupa semakin sedikitnya waktu teralokasi untuk pendidikan anak-anak.

Kesalahan Persepsi

Sebagian orang tua secara tidak sadar beranggapan bahwa pewarisan nilai dakwah terjadi karena hubungan darah semata. Kemudian terlupakanlah bahwa proses pendidikan membutuhkan perhatian seksama, dialog, keteladanan, hingga pemilihan institusi pendidikan formal tempat anak-anak bersekolah.

Terkait dengan pemilihan sekolah anak. Alhamdulillah seiring tumbuhnya anak-anak kader memasuki usia sekolah, berdiri sekolah-sekolah dengan kurikulum pendidikan Islam secara terpadu. Makna terpadu diantaranya adalah memadukan muatan-muatan ‘ulum diniyyah dan ‘ulum kauniyyah (ilmu-ilmu keagamaan dan ilmu-ilmu alam/sosial). Ini satu pendekatan yang baik. Pada pendekatan ini bukan hanya faktor pragmatis memenuhi kebutuhan sekolah bagi anak-anak muslim. Akan tetapi di dalamnya tersimpan motivasi kuat untuk mengimplementasikan ide besar para ilmuwan dunia Islam untuk melakukan islamization of knowledge.

Sampai pendirian institusi pendidikan tidak ada masalah, walaupun mesti diakui melahirkan kurikulum islami dan realisasi praktisnya bukanlah pekerjaan mudah. Butuh kerja keras dan usaha untuk senantiasa memperbaharui kurikulum ini.

Yang menjadi masalah adalah, sebagian orang tua merasa ketika mereka sudah mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah islam terpadu, mereka merasa selesai dengan tugas mendidik. Diantara parameter kejadian ini adalah dengan jarangnya mereka menghadiri pertemuan-pertemuan orang tua dan wali kelas yang diselenggarakan sekolah. Walaupun belum menjadi trend umum, ada pengelola pondok pesantren yang bercerita, bahwa ada orang tua (yang nota bene aktifis dakwah senior) yang selama tiga tahun belum pernah hadir dalam pembagian raport anaknya.

Inilah contoh kesalahan persepsi orang tua yang mengakibatkan anak-anak merasa diabaikan. Tentu kondisi seperti ini akan melahirkan suasana kejiwaan yang labil pada anak. Tidak heran kalau kemudian terjadi kasus-kasus anak seorang aktifis dakwah yang “bandel”-nya melebihi proporsi yang semestinya.

Kesulitan Ekonomi

Seiring pertumbuhan usia anak-anak kader dakwah, kebutuhan ekonomi pun meningkat. Ditambah lagi suasana perekonomian negara membuat laju inflasi sering tidak terkendali. Harga-harga semakin mahal. Termasuk biaya pendidikan pun semakin hari semakin mahal. Pada sekolah islam terpadu terdekat dari rumah kami saja, uang pangkal masuk SD sudah mencapai 9 juta rupiah tahun ini. Dibandingkan 5 tahun ke belakang, uang pangkal ini sudah hampir dua kali lipat lebih mahal.

Kesulitan ekonomi ini tentu saja bukan hanya terasa pada biaya pendidikan anak. Berbagai kebutuhan primer pangan, papan dan sandang pun semakin membutuhkan biaya besar. Akibatnya, kondisi kejiwaan para kader dakwah, sebagai suami-istri ataupun sebagai orang tua, sering tidak stabil. Pada kondisi ini keharmonisan komunikasi rumah tangga terganggu. Demikian juga pemenuhan peran sebagai orang tua tidak dapat dilakukan secara optimal. Orang tua, terutama suami, dipacu untuk mencari penghasilan yang mencukupi. Sementara itu kesibukan dakwah pun tidak dapat ditinggalkan. Keadaan seperti ini, langsung atau tidak langsung, mempengaruhi kualitas pendidikan anak-anak kader dakwah.

***

Sejak awal dakwah ini dicanangkan, disadari bahwa marahilul ‘amal (tahapan-tahapan ‘amal) mesti melalui jenjang perbaikan pribadi muslim, perbaikan keluarga-keluarga muslim, perbaikan masyarakat, hingga perbaikan kondisi negara dan bahkan dunia. Karenanya kesibukan memperbaiki negara, diantaranya melalui aktifitas dakwah pada dimensi kepartaian akan menjadi semu, ketika proses perbaikan keluarga terabaikan.

Sekarang, bagaimana perasaan para orang tua yang aktif dalam dakwah mendapatkan ucapan anak mereka,”Kalau sudah besar aku enggak mau seperti abi dan ummi?” Tentu secara kejiwaan orang tua akan terpukul dengan ucapan ini. Apalagi, sebagaimana disampaikan pada mukadimah tulisan, kerinduan untuk mewariskan nilai-nilai dakwah adalah fitrah para orang tua.

Sebetulnya perkataan anak-anak ini bisa dianggap wajar sebagai respon ketidaksenangan dengan sibuknya orang tua mereka. Akan tetapi pernyataan ini bisa berarti serius, ketika kalimat ini tersimpan dalam benak terdalam mereka dan akan terus melekat hingga usia dewasa nanti.

Lalu bagaimana kita meneropong permasalahan pendidikan anak kader dakwah dalam konteks sosial di tanah air, yang memang tidak kondusif dalam masalah pendidikan anak dan remaja? Cukupkah pendidikan anak hanya mengandalkan institusi sekolah, sementara penciptaan lingkungan masyakarat yang “ramah pendidikan anak/remaja” terabaikan? Mengapa pada era 80-an dan 90-an begitu marak aktifitas remaja masjid, sedangkan sekarang tidak ada lagi kemarakan itu? Bagaimana pula langkah-langkah sistematis yang harus ditempuh gerakan dakwah  untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi pendidikan anak? Insya Allah pada seri tulisan mendatang permasalahan di atas akan kita diskusikan.

— bersambung —

Bogor, 24 Januari 2008,


Adi Junjunan Mustafa

Sumber : www.adijm.multifly.com

Arti Penting Keteladanan dalam Pendidikan Anak*

Oleh Adi Junjunan Mustafa**

A. Pendahuluan

v   Saat ini anak-anak mengalami krisis keteladanan. Hal ini terjadi karena sedikitnya mass media yang mengangkat tema tentang tokoh-tokoh teladan bagi anak-anak. Tayangan-tayangan televisi misalnya, didominasi acara hiburan dalam berbagai variasinya, acara sinetron atau acara gosip selebriti tidak dapat diharapkan memberikan contoh kehidupan Islami secara utuh. Sementara itu porsi penanaman akhlak mulia melalui contoh pribadi tedalan pada pelajaran-pelajaran keislaman di sekolah juga masih rendah.

v    Dalam kondisi krisis keteladanan ini, keluarga menjadi basis penting bagi anak untuk menemukan keteladanan. Maka ayah dan ibu menjadi figur-figur pertama bagi anak untuk memenuhi kebutuhan ini. Oleh karenanya orang tua mesti memiliki kesadaran untuk menjadi pribadi teladan dalam proses pembentukan akhlak Islami pada anak.

v   Dalam rangka tugas mulia di atas, orang tua mesti memiliki panduan dalam mengarahkan diri mereka dan anak-anak untuk secara optimal menyerap contoh sikap dan perilaku mulia dari tokoh-tokoh teladan.

B. Pengarahan al-Quran dan as-Sunnah

v   Nabi Musa as walaupun seorang Nabi tetap mencari tokoh yang dapat menjadi teladan dirinya dalam hal ilmu. Imam Bukhari –semoga Allah merahmatinya- meriwayatkan bahwa Nabi Musa as. pernah ditanya tentang orang yang paling pandai. Dijawabnya bahwa ia sendirilah orang terpandai atau paling ‘alim. Tetapi Allah swt menegurnya bahwa ia salah dalam pengakuannya, karena masih ada orang yang lebih pandai daripada dirinya. Inilah yang kemudian yang menjadi latar belakang kisah tentang Nabi Musa dengan seorang hamba Allah yang shalih dalam al-Quran, surat al-Kahfi:60-82. Ada dua catatan menarik dari kisah pertemuan Nabi Musa dengan orang shalih ini, yaitu:

1.    Kesungguhan dan kerja keras Nabi Musa as. selama bertahun-tahun untuk menemui orang shalih dalam rangka belajar tentang ilmu yang diajarkan Allah swt kepadanya (QS al-Kahfi:60-62)

2.   Nabi Musa as menunjukkan adab sopan santun terhadap orang shalih yang berilmu, sehingga diijinkan menjadi muridnya. (QS al-Kahfi:66, 69)

v   Nabi Muhammad saw. dibimbing Allah swt. untuk meneladani para Nabi sebelum beliau setelah Allah mengisahkan kisah mereka pada surat al-An’aam. “Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petujuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (QS al-An’aam:90). Secara khusus Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya diarahkan Allah swt. untuk meneladani Nabi Ibrahim as dan pengikutnya dalam mentaati Allah. “Sesungguhnya pada mereka itu ada teladan yang baik bagi kalian.” (QS al-Mumtahanah:6).

v   Nabi Muhammad saw. sendiri ditegaskan oleh Allah swt sebagai teladan bagi orang-orang beriman (QS al-Ahzab:21) dan Allah memuji beliau karena memiliki akhlaq yang luhur (QS al-Qalam:4). Demikianlah, riwayat hidup beliau dan petuah-petuah beliau terkodifikasi dengan amat baik oleh para ulama hadits dan para ulama sejarah dalam bentuk kumpulan hadits dan tarikh. Dengan demikian umat Islam sepanjang masa akan dapat terus mereguk keteladanan dari pribadi Nabi Muhammad saw yang disebutkan Aisyah ra, “Akhlak beliau adalah al-Quran.”

v  Maka Nabi Muhammad saw pun mengajari umatnya untuk mengambil pelajaran dari beliau, termasuk dalam mendidik anak. Beliau bersabda, “Rabb-ku telah mendidikku dengan pendidikan yang baik.” (H.R. Al-Asaakir dan Ibnu Sam’ani). Beliau juga bersabda, “Didiklah anak-anak kalian dalam tiga perkara: mencintai Nabimu, mencintai keluarganya  dan tilawah al-Quran, sebab orang yang memelihara al-Quran itu berada dalam lindungan singgasana Allah bersama para NabiNya dan orang-orang yang suci, pada hari tidak ada perlindungan selain daripada perlindunganNya.” (H.R. Ath-Thabrani dari Ali ra.)

v    Rasulullah saw bersabda, “Para sahabatku bagaikan bintang-bintang. Dari siapa saja di antara mereka kalian ikuti, niscaya kamu mendapat petunjuk.” (H.R. Al-Baihaqi dan Ad-Dailami)

v  Kisah-kisah dalam al-Quran, kisah-kisah sebagaimana disampaikan lewat hadits-hadits Nabi Muhammad saw dan juga kisah para sahabat Nabi adalah sarana penting bagi penemuan dan pembentukan jati diri muslim. Anak-anak dan manusia secara umum senang mendapatkan pelajaran dari kisah-kisah, apalagi ketika kisah-kisah itu disampaikan dengan bahasa yang indah dan baik. Allah Maha Mengetahui tentang jiwa manusia. Dengan kisah-kisah pada KitabNya itulah Dia hendak mendidik jiwa manusia. Para ulama salaf berkata, “Kisah adalah salah satu tentara Allah yang mampu meneguhkan hati.”

C. Beberapa Ucapan dan Sikap Salafush Shalih

v   Sa’ad bin Abi Waqash ra. berkata, “Kami mengajar anak-anak kami tentang peperangan Rasulullah saw. sebagaimana kami mengajarkan surat al-Quran kepada mereka.”

v   Imam Ghazali berkata, “Ajarkan al-Quranul karim kepada anak, hadits-hadits akhbar, hikayat orang baik, kemudian beberapa hukum agama.”

v     Al-Fadhl bin Zaid kagum terhadap seorang anak A’rabi, maka ibu anak tersebut berkata, ”Apabila ia berumur lima tahun, maka aku akan menyerahkannya kepada seorang pendidik. Pendidik itu menghafalkan al-Quran dan membacanya, lalu mengajarkan syi’ir dan meriwayatkannya. Ia juga disenangkan dengan kejayaan kaumnya, serta diajar meneladani jejak-jejak terpuji bapak dan kakeknya …”

v   Imam Abu Hanifah pernah mengingatkan seorang anak, “Awas, nanti kami jatuh!” Si anak menjawab, “Justru Andalah yang harus berhati-hati, sebab kejatuhan seorang ‘alim adalah bencana bagi ‘alam.” Imam Abu Hanifah amat terkesan dengan ucapan anak itu. Sejak saat itu ia tidak pernah mengeluarkan fatwa, sebelum mengkaji bersama murid-muridnya selama sebulan.

v     Ketika Umar bin Abdul Aziz dilantik menjadi khalifah berdatangan para tamu untuk mengucapkan selamat dan berjanji setia. Salah satu kelompok menunjuk seorang anak muda (11 tahun) untuk jadi juru bicara. Umar berkata, “Apakah tidak sebaiknya orang yang lebih tua daripada kamu yang berbicara?” Anak tersebut menjawab, “Wahai Amirul mukminin, jika persoalannya terletak pada usia, niscaya Anda pun tidak pantas diangkat sebagai khalifah, karena masih banyak orang lain yang lebih tua daripada Anda. Wahai Amirul mukminin, tahukah Anda bahwa yang membuat orang itu kecil adalah lisan dan hatinya?” Umar pun berkata, “Wahai anak muda, nasihatilah aku!” Maka beliau pun dinasihati hingga menangis.

D. Kiat Orang Tua

v   Orang tua hendaklah banyak membaca sirah Nabi Muhammad saw dan juga profil orang-orang shalih. Internalisasi bacaan ini akan membentuk pribadi berakhlak terpuji, sehingga pantas menjadi salah satu panutan bagi anak. Bacaan ini juga sekaligus menjadi pengetahuan untuk diajarkan kepada anak-anak. Dr. Abdullah Nashih ‘Ulwan menyebutkan sifat-sifat asasi seorang pendidik mencakup:

1.     Keikhlasan

2.     Ketakwaan

3.     Keluasan ilmu

4.     Sifat santun

5.   Rasa tanggung jawab. Yaitu tanggung jawab untuk melindungi anak dari berbagai serangan terhadap kepribadian mereka (sisi pemikiran, kejiwaan dan akhlak).

v Menghargai nasihat dan kebenaran meskipun dari seorang anak kecil. Pada masa kejayaan peradaban Islam banyak kisah tentang kedudukan anak-anak yang dihormati oleh para pemimpin saat itu. Akar dari kondisi ini adalah didikan dari Rasulullah saw terhadap para sahabat. Ibnu Mas’ud pernah dinasihati beliau dengan kalimat, “Sembahlah Allah dan jangan kau sekutukan dengan yang lain. Berjalanlah kamu bersama al-Quran di manapun kamu berada. Terimalah kebenaran dari siapapun, baik dari anak kecil ataupun dari orang dewasa, meskipun ia adalah orang jauh yang kamu benci. Dan tolaklah kebatilan dari siapapun, baik dari anak kecil atau orang dewasa, meskipun itu adalah orang dekat yang kamu cintai.” (H.R. Ibnu Asaakir dan Ad-Dailami)

v  Mengajak dan mendorong anak untuk membaca kisah-kisah orang teladan. Orang tua berperan untuk memilihkan buku yang menarik dan sesuai dengan perkembangan kejiwaan dan pemikiran anak. Untuk anak yang telah menginjak usia remaja, orang tua dapat berdiskusi dengan mereka dalam memilih buku-buku yang menjadi minat mereka.

v   Mengajak anak berkesempatan berdialog dengan orang-orang shalih. Banyak riwayat menceritakan bahwa para sahabat mengajak anak-anak mereka untuk berjumpa dengan Nabi Muhammad saw. Hadits yang berbunyi, “Wahai anak, makanlah dengan tangan kananmu dan ambillah makanan yang dekat denganmu.” Disampaikan Rasulullah saw kepada anak seorang sahabatnya yang diajak berkunjung kepada beliau oleh ayahnya.

v    Pada fase pembiasaan (untuk anak usia balita terutama), orang tua hendaknya termotivasi untuk senantiasa merujuk kepada perilaku Rasulullah saw ketika membetulkan sikap atau perilaku yang keliru dari anak.

v   Pada fase remaja, orang tua hendaklah mengalokasikan waktu dialog dengan mereka tentang kondisi ideal yang diharapkan ada pada mereka. Suasana berdialog juga dipilih agar mereka nyaman dalam mencerna nilai-nilai yang hendak ditanamkan.

v    Mengirimkan anak-anak ke sekolah-sekolah yang memiliki pendidik berakhlak mulia serta memiliki ilmu yang berkualitas, sehingga kepribadian anak-anak terbina dengan baik.

v   Selain kepada Nabi Muhammad saw, yang memang menjadi model manusia berakhlak paling mulia, pengambilan contoh keteladanan kepada siapapun bukanlah peleburan kepribadian (meniru habis-habisan). Setiap orang memiliki kekhasan, karenanya seseorang tetaplah mesti menjadi dirinya sendiri, akan tetapi menjadi pribadi yang semakin hari semakin baik. Karenanya ketika mengarahkan anak untuk meneladani seseorang orang tua pun hendaknya tetap mendorong anak untuk tetap pada kekhasan dirinya sendiri.

E. Bahan Bacaan

1.   Cara Nabi Mendidik Anak, Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaih, Penerbit Al-I’tishom Cahaya Umat, 2004

Terutama pada Bab 3: Cara-cara Nabi Mendidik Anak (hal 57-104). Bab ini menjelaskan panduan dasar dalam pendidikan anak, cara membangun pemikiran anak dan cara membangun jiwa anak. Pada panduan dasar disebutkan bahwa keteladanan akan menanamkan kesan positif dalam mendidik jiwa anak.

2.   Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam, Abdullah Nashih ‘Ulwan, Penerbit Asy-Syifa, 1990

Buku ini adalah salah satu buku panduan utama tentang pendidikan anak dalam Islam. Pada bagian ketiga buku ini, Dr. Nashih ‘Ulwan mengungkapkan secara khusus pentingnya keteladanan sebagai metode pendidikan influentif bagi anak. Beliau menyampaikan contoh-contoh keteladanan Rasulullah saw seperti semangatnya dalam berdakwah, kerendahan hatinya, ketekunan ibadahnya kedermawanannya, kasih sayangnya terhadap anak-anak dll. (Sajian keteladanan Rasulullah saw juga ikupas secara luas dalam buku Ar-Rasul saw. tulisan Said Hawwa.)

3.   Cara-cara Efektif Mengasuh Anak dengan EQ, Maurice J. Elias, Steven E. Tobias dan Brian S. Friedlander, Penerbit Kaifa, 2000

Buku ini menjadi panduan yang baik bagi orang tua untuk mendidik anak-anak dengan memperhatikan kondisi kejiwaan yang tepat. Walaupun buku ini ditujukan untuk membuat anak cerdas secara emosional, justru orang tua diajak untuk memiliki kecerdasan emosional (EQ) terlebih dahulu untuk menjadi teladan anak. Kelebihan buku ini adalah pada penyampaian contoh-contoh praktis yang dialami orang tua dalam mendidik EQ.

4.  Melipatgandakan Kecerdasan Emosi Anak, Irawati Istadi, Penerbit Pustaka Inti, 2006

Buku ini menjelaskan masalah pendidikan kecerdasan emosional secara praktis. Digali dari pengalaman keseharian seorang ibu atau pendidik TK. Lebih banyak mengupas kiat-kiat pendidikan untuk anak usia balita.

5.   Menjadi Pribadi Sukses, Akrim Ridha, Penerbit Syaamil Cipta Media, 2003

Pada Kiat Ketiga (hal 16-20), Dr. Akrim mengangkat diskusi bahwa kelelahan paling utama dalam membangun pribadi suskes adalah dalam menemukan teladan. Pada bagian ini dijelaskan juga cara memperoleh figur ideal dan hal-hal yang perlu diperhatikan ketika memilih figur teladan.

———————————————————-

*  Disampaikan pada Talkshow tentang “Anak Butuh Contoh Baik”, Ahad, 30 Desember 2007, Masjid Baitussalaam, Perumahan Bogor Raya Permai, Bogor.
** Pemerhati dan penulis masalah keluarga, URL: http://adijm.multiply.com; E-mail: adijm2001@yahoo.com. Ketua Bidang Litbang, Yayasan Peduli Keluarga, Bogor.