Ayo Ajak Anak Berpuasa

Oleh Siti Aisyah Nurmi

Hanya berhitung hari, Insya Allah kita memasuki bulan penuh Berkah dari Allah SWT. Bulan yang dinyatakan sebagai penghulu segala bulan, bulan yang dinanti ummat yang taat dan dibenci ummat yang lalai.

Bulan Ramadhan semestinya senantiasa dirindukan manusia. Di bulan ini, ampunan dibuka seluas-luasnya sambil keburukan perbuatan dosa dijauhkan sejauh-jauhnya. Bulan mulia ini merupakan momen pendidikan penting bagi para pendidik generasi yang akan datang. Banyak sekali hikmah ibadah Ramadhan yang mengarah pada pembentukan karakter terpuji bagi anak. Berpuasa melatih kesabaran, keikhlasan, ketulusan, kekuatan, dan banyak lagi. Termasuk yang terpenting adalah melatih kepekaan sosial dan kemampuan empati. Untuk memanfaatkan momen penting ini, sebagai pendidik kita harus mempunyai strategi.

Beberapa kiat berikut ini mudahan-mudahan dapat membantu:

1. Orangtua hendaknya mengetahui dalil-dalil tentang puasa dan Ramadhan, fadhilah masing-masing ibadah, juga ayat dan hadits rujukannya. Lebih baik lagi jika di perpustakaan pribadi di rumah kita ada buku rujukan yang cukup lengkap seperti Fiqh Sunnah karangan Syekh Sayyid Sabiq atau lainnya dan buku atau clipping artikel yang mengulas hikmah-hikmah Ramadhan. Dengan mengoleksi referensi yang memadai, jika suatu saat anak bertanya sesuatu kita memiliki rujukan yang terjangkau.

2. Orangtua mengetahui tabiat dan kekhususan anak dan mengetahui dasar-dasar pendidikan anak menurut Islam. Mengenai dasar-dasar pendidikan anak dalam Islam sebelumnya sudah dibahas singkat dalam rubrik ini. Yang cukup penting diperhatikan adalah masalah tahapan-tahapan usia anak. Tentang kekhasan setiap anak, maka ibunyalah yang semestinya paling tahu. Contoh, apakah si A mudah bangun pagi atau apakah ia susah disuruh makan? Coba pelajari apakah ada sifat khusus anak yang mungkin menyulitkannya melaksanakan ibadah Ramadhan. Misalnya anak yang gemar makan, maka harus dicari kiat yang tepat agar anak tahan tidak makan selama jam berpuasa. Inilah tugas penting sang ibu.

3. Orangtua mempunyai hubungan yang baik dengan anak/ anak mempunyai keterikatan hati terhadap orangtuanya. Dalam menyuruh apapun kepada siapapun, sebagian dari keberhasilan menyuruh adalah karena faktor kedekatan hati antara yang menyuruh dengan yang disuruh. Kita lihat ada anak yang lebih mudah disuruh sesuatu oleh ayah atau ibunya. Jika kita sebagai orangtua ingin sukses menyuruh anak berpuasa, maka sebelumnya bangunlah dahulu hubungan baik dengan anak.

4. Orangtua siap menjadi teladan/ “role model” bagi anak dalam hal ibadah. Nah ini adalah faktor terpenting dalam keberhasilan pendidikan. Jika kita sendiri tak tahan berpuasa, jika kita sendiri malas berpuasa, jika kita sendiri mencari-cari alasan untuk tidak berpuasa, atau ibadah lainnya….maka jangan harap anak akan melaksanakan suruhan kita. Berikan dahulu teladannya, maka barulah anak diberi pengarahan untuk melakukannya. Khusus bagi kaum ibu yang masih mengalami haid atau sedang nifas, inilah kesempatan untuk menjelaskan kepada anak tentang haid dan nifas itu sendiri. By the way, justru ini merupakan bagian dari Tarbiyah Jinsiyah atau Pendidikan tentang Gender. Beri tahulah dengan cara sederhana saja, oleh karena itu kita butuh buku referensi fiqh untuk diulas.

5. Beri pengenalan tentang apa itu puasa dan apa itu Ramadhan. Berbicaralah sesuai dengan referensi namun dengan bahasa sesuai dengan pemahaman anak. Jangan lupa menjelaskan batasan puasa, waktu maupun larangannya. Jangan lupa pula untuk memberitahu batasan usia wajib puasa dan lain-lain.

6. Perkenalkan secara kongkret apa itu puasa dan bagaimana cara berpuasa dengan cara kita melaksanakan puasa sunnah dan menjelaskan pada anak apa yang kita lakukan (3 th ke atas). Menjelaskan dengan lisan saja memang belum cukup, harus diberi contoh kongkrit. Lakukanlah sebelum puasa Ramadhan.

7. Ajak anak merasakan suasana sahur dengan cara sekali-sekali mengajak/ membiarkan anak yang masih kecil (di bawah 3 th) bangun pada waktu sahur. Namun ini jangan sampai mengganggu anak yang sudah lebih besar yang sedang sahur. Sebagai orangtua kita harus pandai-pandai mengatur perhatian sesuai kebutuhan anak sesuai usianya. Jika kita sedang melatih si kakak untuk sahur, jangan sampai si adik menjadi perhatian utama padahal ia belum semestinya diajak puasa.

8. Ajak anak yang masih kecil (di bawah 3 th) ikut merasakan berbuka dan menjelaskan secara sederhana apa itu ifthor. Sama seperti di atas, jangan lupa untuk memperhatikan kebutuhan si kakak yang sedang latihan puasa.

9. Melatih anak yang sedang dilatih puasa untuk menahan godaan untuk makan dan minum pada saat tengah puasa dan juga menahan marah dan ngambek pada saat puasa. Kita dapat membuat program khusus untuk mengalihkan anak dari rasa laparnya, misalnya mengajak melakukan pekerjaan tangan, mengajak main sandiwara, membacakan cerita dan lain-lain. Jika anak sudah sangat sulit dikendalikan marah dan ngambeknya, cobalah periksa, jangan-jangan ia memang sakit sehingga harus membatalkan puasa.

10. Konsisten untuk mulai menyuruh anak berpuasa pada usia 7 tahun dan menghukum anak yang menolak diajak puasa pada usia 10 tahun. Hendaknya orangtua tidak memaksakan puasa bagi anak yang belum baligh, baik yang sanggup maupun apalagi yang sedang sakit atau dalam pengobatan. Asalkan mereka diberi penjelasan mengapa mereka boleh berbuka. Juga kita membolehkan anak di bawah usia 7 th untuk mencoba berpuasa dengan bertahap, jika ia sendiri meminta.

Begitulah tips mengajarkan anak berpuasa. Satu hal yang harus selalu diingat, Islam adalah agama yang kuat referensinya. Tiada amal yang diterima tanpa ilmu yang mendasarinya. Hendaknya sejak kecilpun anak sudah mulai berkenalan dengan referensi tanpa memaksakan. Wallahu a’lam..[Eramuslim]

Oleh Adi Junjunan Mustafa

Allah swt menyatakan bahwa Dia akan mengangkat beberapa derajat kedudukan sebagian orang-orang beriman dan orang-orang yang menggali ilmu (QS. Al Mujadilah:11). Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Di balik kewajiban ini ada jaminan pahala dan kedudukan mulia bagi mereka yang menjalankannya. Bagaimana tidak, dengan ilmulah umat manusia akan dapat memecahkan berbagai masalah kehidupan. Dengan ilmu pula manusia akan memperoleh kesejahteraan dalam hidupnya [1]. Maka amat mulialah mereka yang terus-menerus gigih menggali ilmu untuk kemashalahatan umat manusia.

Diantara profil pembelajar yang luar biasa adalah Imam Syafi’i [2]. Beliau adalah salah satu dari empat imam dalam mahdzab fiqih Islam, yang pemikirannya hingga saat ini menjadi ilmu yang terus bermanfaat bagi umat Islam dan umat manusia pada umumnya.

Imam Syafi’i terlahir dalam keadaan yatim pada tahun 150H. Kehidupan beliau di masa kecil relatif sulit. Akan tetapi beliau sudah hafal Qur’an pada usia 9 tahun. Imam Syafi’i pun tetap gigih belajar ilmu tafsir dan ilmu hadits kepada para imam/ulama di Makkah, seperti Imam Sufyan bin Unayyah dan Imam Muslim bin Khalid al-Zinji [3]. Untuk mencatat ilmu yang dipelajarinya, beliau sering memungut kertas-kertas bekas di kantor pemerintahan kala itu. Pada akhirnya catatan-catatan ini pun tidak lagi beliau perlukan, sebab dengan kebulatan tekadnya beliau berhasil menghafal semua ilmu yang beliau pelajari.

Pada usia 15 tahun Imam Syafi’i sudah memiliki ilmu yang amat mendalam, hingga sudah memperoleh ijazah untuk memberikan fatwa bersama para imam di Masjidil Haram. Beliau ditawari menjadi mufti di Makkah, tetapi menolak. Bahkan beliau sampaikan kepada para gurunya untuk mengijinkan beliau belajar ke Madinah, untuk berguru kepada Imam Malik yang amat termashur. Para guru dan juga Walikota Makkah pun merestui keinginan Imam Syafi’i. Imam Syafi’i memang memiliki obsesi untuk menjadi murid penulis kitab Al-Muwaththa yang amat terkenal. Bahkan sebelum beliau berangkat ke Madinah, dengan meminjam kepada sahabatnya, beliau telah berhasil menghafalkan al-Muwaththa di luar kepala [4]. >> Selengkapnya…

Oleh Adi Junjunan Mustafa

Kalau kita perhatikan dengan seksama, akan kita dapati bahwa tayangan-tayangan televisi kita banyak merampas anak-anak dari dunianya. Anak-anak sangat sedikit mendapatkan tayangan yang pas dan cocok dengan perkembangan kejiwaan mereka. Yang lebih memprihatinkan, dalam beberapa “acara anak” mereka justru tidak lagi menjadi anak-anak. Mereka dipaksa menjadi “orang dewasa”. Contoh hal yang terakhir disebutkan ini adalah pada acara “Idola Cilik” atau yang lebih kentara pada acara “Mama Mia”.

Pada dua acara di atas, anak-anak seringkali dipaksakan bergaya seperti orang dewasa, mulai dari berpakaian hingga make-up yang mereka pakai. Kemudian mereka pun seringkali menyanyikan lagu-lagu orang dewasa. Sebagai orang tua, apa kesan kita melihat anak-anak membawakan syair lagu seperti ini: O o kamu ketahuan, pacaran lagi, dengan si dia, teman baikku …? Kalau kita berpikir jernih, tentu kita merasa miris mendengar ini. Tapi, saksikanlah bagaimana para penonton acara live itu, termasuk juga para orang tua anak-anak yang sedang tampil; Mereka tertawa-tawa dan bersorak-sorai melihat dan mendengar anak-anak itu beraksi.

Pada acara “Mama Mia” eksploitasi anak-anak usia antara 12-15 tahunan juga terjadi. Acara tersuguh dengan mempermainkan kondisi kejiwaan remaja yang senang menjadi populer, senang meraih prestasi, dan bisa jadi -karena berbagai faktor pemicu- senang mendapatkan uang dalam jumlah besar. Pakaian yang dikenakan para kontestan dan lagi-lagi lagu-lagu yang dibawakan, banyak menyimpang dari nilai-nilai luhur yang mestinya dipupuk pada jiwa remaja.

Efek dari tayangan-tayangan di atas di masyarakat sungguh dahsyat. Acara-acara itu ditayangkan dalam alokasi waktu yang panjang. Waktunya pun pada jam-jam yang strategis (prime-time). Maka wajar kalau tontonan berjam-jam itu menyita perhatian banyak keluarga. Di dalamnya dikemas setting sedemikian rupa, sehingga para pemirsa turut hanyut dengan “perjuangan” para kontestan. Misalnya diperlihatkan bahwa para kontestan ini mesti berlatih keras, hingga mereka bisa mencapai “prestasi” dan tampil memukau.

Ketika menyaksikan acara-acara di atas, para penonton sudah sulit memfilter, bahwa yang sedang di”perjualbeli”kan pada tayangan itu adalah anak-anak dan remaja, yang semestinya dipelihara kepribadiannya untuk memiliki sifat-sifat mulia. Yang terjadi adalah putaran roda bisnis entertainment yang mewarnai atau menguasai obsesi orang tua dan anak-anak untuk memperoleh sukses di dunia pentas dan hiburan.

Acara seperti di atas meraih rating tinggi di dunia pertelevisian. Rating yang tinggi ini tentu memiliki nilai jual tinggi untuk mengundang iklan. Belum lagi acara seperti ini seringkali berkolaborasi dengan bisnis telekomunikasi lewat kiriman SMS. Tidak heran acara-acara serupa terus diproduksi. Dan sesuatu yang sering melintas dalam benak dan pikiran akhirnya menjadi obsesi dan nilai yang dianggap baik dan benar di tengah masyarakat.

Tanpa menjelaskan secara panjang lebar, pada tayangan-tayangan sinetron pun banyak ditemukan eksploitasi anak-anak. Sangat sedikit

***

Menghadapi kecenderungan terampasnya dunia anak lewat tayangan televisi, ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan berbagai pihak:

1. Pihak Orang Tua
Orang tua mesti memberikan bimbingan kepada anak-anak pada saat mereka mulai tertarik dengan tayangan-tayangan yang tidak menguntungkan mereka. Kalau anak-anak punya bakat dan kecerdasan musikal, orang tua mesti bisa mengarahkan mereka. Akan tetapi ketika ada lagu-lagu yang belum layak mereka nyanyikan orang tua mesti memberikan pengertian yang benar kepada anak-anak.

Sementara itu, sedapat mungkin orang tua pun memberikan alternatif tontonan atau hal-hal lain yang bersifat menarik dan mendidik. Kalau memungkinkan, jadikan perhatian mereka pada membaca meningkat. Kalau anak-anak suka membaca, mereka tak akan menjadi orang-orang yang kecanduan menonton TV.

Kemudian menimbang fitrah anak yang sedang memiliki sifat suka dipuji dan ingin dikenal, maka orang tua dapat mengarahkan mereka pada prestasi-prestasi pada pelajaran, olah raga, seni dan lain-lain secara seimbang. Perkenalkan kepada anak-anak biografi orang-orang sukses yang banyak memberi manfaat kepada masyarakat dan dunia. Ini akan mengisi ruang kejiwaan mereka untuk mengukir prestasi pada kehidupan mereka kelak.

2. Pihak Pemerintah
Pemerintah, terutama yang mengurusi masalah pendididikan, informasi & komunikasi, agama, dan pemberdayaan perempuan, mesti memiliki sensitifitas tinggi dalam memfilter acara-acara yang mengeksploitasi anak-anak.

Pemerintah dapat mengeluarkan regulasi yang dapat melindungi anak-anak dari kerugian akibat tayangan TV tertentu atau malah mereka dilibatkan pada acara-acara yang merugikan.

3. Para Pendidik, Budayawan dan Seniman
Para pakar pendidikan dan budayawan mesti terus menyuarakan nilai-nilai luhur yang hendak dituju pada pendidikan anak dan remaja. Kritik yang sifatnya membangun tak boleh berhenti disampaikan mereka dalam menanggapi acara-acara yang ditujukan kepada dan melibatkan anak-anak.

Para seniman dan ilmuwan mesti bekerja keras menghadirkan acara-acara yang berorientasi pada kebaikan dan kecerdasan anak-anak. Contoh acara seperti acara iptek untuk anak, acara belajar menggambar, acara bina vokalia, mengenal permainan tradisional dan budaya anak-anak nusantara acara cerdas-cermat atau cepat-tepat dan lainnya patut untuk semakin banyak diproduksi. Begitu juga acara yang mengeksplorasi flora dan fauna, masalah lingkungan, ilmu pengetahuan populer dan lain-lain juga mesti banyak diproduksi.

4. Production House dan Pengelola TV
Para pengusaha dunia tayangan TV mesti memiliki visi yang jelas pada pangsa pasar anak-anak. Visi ini adalah visi mencerdaskan mereka. Ini mesti tercermin pada alokasi waktu khusus untuk tayangan anak-anak.

Seorang kawan saya yang lama tinggal di Amerika untuk studinya bercerita, bahwa di Amerika tayangan TV publik (non-TV kabel) untuk anak-anak itu jelas waktunya, yaitu sampai jam 6 sore. Anak-anaknya yang lahir di Amerika tahu bahwa sampai jam 6 itulah tayangan untuk mereka. Ini diperoleh melalui pendidikan di rumah dan di sekolah. Maka setelah anak-anaknya pulang ke tanah air, sudah menjadi refleks mereka untuk tidak menyetel TV setelah pukul 6 sore. Kalau pun seorang anaknya mengetahui ada tayangan sepak bola di malam hari, ia tidak akan menyetel TV kecuali setelah meminta ijin ayah atau ibunya.

Tentu saja untuk menghasilkan produksi tayangan TV yang berkualitas ini dibutuhkan kesadaran dan kreatifitas yang tinggi dari para pengusaha TV. Yang pasti mereka adalah juga orang tua dari anak-anak, yang tentu mereka ingin dorong meraih sukses dalam kehidupan. (adijm.muliply.com)

Oleh Doni Koesoema A

Tidak pernah dalam sejarah Indonesia modern, status guru begitu terpuruk seperti sekarang, menjadi teroris. Pasukan Densus 88 Antiteror adalah satuan elite polisi untuk memburu teroris. Kini, mereka juga menggerebek dan menangkap guru. Hal ini patut disayangkan.

Namun, pokok persoalan bukan di situ. Sistem ujian nasional (UN)-lah yang telah memberangus otonomi guru. Kebobrokan itu ada dalam sistem, bukan dalam individu guru.

Kebijakan UN secara sistematis telah memaksa guru memikul beban berat di luar tanggung jawabnya berhadapan dengan kepentingan orangtua dan siswa. Kebijakan UN memaksa mereka menjadi pelaku kecurangan dan kriminal, bahkan teroris. Fakta inilah yang ingin ditutup-tutupi dengan mengambinghitamkan para guru yang tertangkap basah. Kebijakan seperti ini jelas tidak pada tempatnya diberlakukan di negeri yang sesungguhnya ingin mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan.

Tanggung jawab pemerintah

Pemerintah ingin lari dari tanggung jawab atas ketidakbecusan mengelola pendidikan dengan melokalisasi tanggung jawab, yaitu pada korps guru. Guru merupakan penanggung jawab utama kebobrokan pendidikan kita. Itulah pesan utama penangkapan guru oleh Densus 88 Antiteror.

Kini Indonesia sedang memasuki masa teknokrasi absolut dalam pendidikan, di mana proses belajar mengajar hanya dinilai melalui angka-angka hasil ujian yang sama sekali abai terhadap kenyataan, kesulitan, dan kompleksitas persoalan pendidikan di lapangan.

Data nilai UN sama sekali tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi di lapangan. Nilai itu tidak berbicara sama sekali tentang bagaimana hancurnya sarana-prasarana pendidikan yang ada. Nilai UN juga tidak berbicara sama sekali tentang kualitas guru di lapangan.

Melokalisasi tanggung jawab dan menilai keberhasilan pendidikan semata-mata melalui angka-angka keberhasilan UN sebenarnya mengaburkan atau bahkan menutupi ketidakmampuan pemerintah sebagai lembaga yang paling bertanggung jawab dalam menyediakan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai serta bertanggung jawab menyediakan guru-guru berkualitas bagi dunia pendidikan. Inilah yang ingin ditutupi melalui UN. Pemerintah lari dari tanggung jawab sebab mereka tidak mampu melaksanakan semua ini.

Lebih dari itu, afirmasi pengadilan tinggi atas kemenangan class action warga negara terhadap kebijakan UN menunjukkan, sejak reformasi digulirkan 10 tahun lalu, pemerintah kita bukannya menjadi semakin demokratis, melainkan menjadi semakin otoriter. Ini merupakan tata cara kehidupan berdemokrasi yang memalukan!

Melakukan kecurangan dalam UN tentu ”mencederai kesucian lembar jawaban UN” sebagaimana dikatakan Menteri Pendidikan Nasional. Namun, tetap melanggengkan kebijakan UN seperti sekarang juga mencederai kesucian martabat guru yang jika diteruskan akan berakibat fatal bagi kelangsungan pendidikan di negeri ini dalam jangka panjang.

Beberapa guru di Papua mulai memikirkan, apakah tidak lebih baik mereka memilih profesi lain selain guru sebab kini profesi guru sudah tidak berharga lagi ketimbang profesi tukang ojek atau tukang becak. Jika menjadi guru berakhir dalam penjara, mereka akan memilih pekerjaan yang lebih memberi kedamaian dan kesejahteraan, menjadi tukang ojek, tukang becak, atau apa saja asal aman dan halal.

Tidak ada sebuah masyarakat yang kokoh jika mereka meremehkan kehadiran guru. Negeri kita sudah mengalami defisit guru yang bermutu karena pemerintah telah gagal memberi kesejahteraan ekonomi terhadap mereka. >> Selengkapnya…

Oleh Mas Amri

Mari kita simak kisah ilustrasi seorang TUKANG BAKSO yang hanya tamatan SD, tapi lulus “The life University” sehingga mampu “Belajar dari jalan kehidupan” yang berdampak positif terhadap pencapaian “financial freedom” setelah bekerja hanya lebih kurang 5 tahun saja, dengan “passive income” Rp. 9 juta/bulan !!!

Gerobak Bakso ke-1 :

Seorang tukang bakso memiliki gerobak bakso dengan penghasilan bersih Rp. 60,000/hari (bekerja dari pagi hingga larut malam). Biaya hidupnya sekitar Rp. 30,000/hari. Lalu ia berjuang utk konsisten menabung Rp. 30,000/hari. Dalam tempo 400 hari, ia mampu membeli gerobak bakso kedua yang harganya Rp. 12 juta/unit.

Gerobak Bakso Ke-2 :

Ia sewakan gerobak bakso keduanya dengan tarif Rp. 30,000/hari.

Sementara ia tetap jualan bakso pertamanya. Sekarang ia bisa menabung Rp. 60,000/hari. Dalam tempo 200 hari, ia mampu membeli gerobak bakso ketiga.

Gerobak Bakso Ke-3 :

Ia sewakan gerobak bakso ketiganya, sehingga sekarang ia mampu menabung Rp. 90,000/hari. Dalam tempo 134 hari, ia membeli gerobak bakso ke-4.

Gerobak Bakso Ke-4 :

Ia sewakan gerobak bakso keempatnya, sehingga sekarang ia mampu menabung Rp. 120,000/hari. Dalam tempo 100 hari, ia membeli gerobak bakso ke-5

Gerobak Bakso Ke-5 :

Ia sewakan gerobak bakso kelimanya, sehingga sekarang ia mampu menabung Rp. 150,000/hari. Dalam tempo 80 hari, ia membeli gerobak bakso-6

Gerobak Bakso Ke-6 :

Ia sewakan gerobak bakso keenamnya, sehingga sekarang ia mampu menabung Rp. 180,000/hari. Dalam tempo 67 hari, ia membeli gerobak bakso ke-7

Gerobak Bakso Ke-7 :

Ia sewakan gerobak bakso ketujuhnya, sehingga sekarang ia mampu menabung Rp. 210,000/hari. Dalam tempo 57 hari, ia membeli gerobak bakso ke-8

Gerobak Bakso Ke-8 :

Ia sewakan gerobak bakso kedelapannya, sehingga sekarang ia mampu menabung Rp. 240,000/hari. Dalam tempo 50 hari, ia membeli gerobak bakso ke-9

Gerobak Bakso Ke-9 :

Ia sewakan gerobak baksok tsb, sehingga sekarang ia mampu menabung Rp. 270,000/hari. Dalam tempo 45 hari, ia membeli gerobak bakso ke 10

Gerobak Bakso Ke-10 :

Ia sewakan gerobak bakso kesepuluhnya, sehingga sekarang ia mampu menabung Rp. 300,000/hari. Dalam tempo 40 hari, ia membeli gerobak bakso lagi.

Setelah gerobak bakso ke-10, ia berhenti jualan bakso. Ia sewakan gerobak bakso pertamanya ke orang lain. Ia lalu menggaji seorang “mandor bakso” untuk mengurusi ke-10 gerobak baksonya. IA PENSIUN. Kini ia menikmati penghasilan Rp. 300,000/hari, atau Rp. 9 juta/bulan (sebelum potong gaji sang mandor bakso). Jika ditotal semua usahanya tsb hanya dicapai dalam tempo 3,2 tahun saja.

Tentu saja ini cuma sebuah ilustrasi, dengan menarik garis lurus dari sebuah bisnis. Katakanlah dalam tempo lima sampai sepuluh tahun (bukan 3,2 tahun seperti dalam ilustrasi), sang PENJUAL BAKSO mampu mencapainya. Ini LOGIS, dan bisa terjadi.

Berapa banyak TUKANG BAKSO di dunia yang seperti itu ? Mungkin 1 banding 10 juta. Tetapi ADA khan !!!

Berapa banyak TUKANG BAKSO di dunia yang menjadi tukang bakso seumur hidupnya dan terus hidup susah ? Banyaaaaaaaaakkkkkkk sekaliiiiiiiiii ………

Kalau kita mau jujur pada diri sendiri, banyak diantara kita tamatan S1, S2, dan S3 atau apapun lulusannya, namun tidak lulus ”The Life University”, sehingga tidak mampu “Belajar dari jalan kehidupan”. Sehingga, masih harus bergelut dengan kesibukan mencari nafkah setiap hari. Bahkan, banyak diantara kita puluhan tahun bekerja di perusahan dan setelah pensiun, tetap saja bergelut mencari nafkah, dan tetap masih kekurangan. Kemudian bandingkan dengan ”TUKANG BAKSO” yang hanya tamanatan SD, namun lulus ”The Life University”, kontras sekali bukan. Semoga bisa jadi renungan kita bersama.

INGAT LHO, TUHAN MENGHENDAKI KITA KAYA, WALAUPUN KAYA TIDAK HARUS UANG.

Berani hadapi tantangan menjadi “financial freedom”, agar kita semakin bermanfaat bagi banyak orang !!! Atau lebih memilih bergelut dengan kesibukan yang tidak produktif, sampai jumlah anak saja lupa he..he… ???

——————————————–

Masrukhul Amri

Seorang Knowledge Entrepreneur-pengusaha gagasan, bertempat tinggal di hp. 0812-2329518, Aktivitas sehari-hari sebagai Konsultan Manajemen Stratejik-Alternatif dan Director The Life University; Reengineering Mindsets – Unlocking Potential Power, sampai sekarang mengasuh acara MQ Enlightenment di 102.7 MQ FM.

Spesialis konsultasi alternatif di beberapa perusahaan nasional dan multi nasional MBA-Main Bersama Amri di CyberMQ dan dosen tamu di beberapa perguruan tinggi di Bandung dan luar Bandung. Mottonya adalah mari sama-sama belajar menjadi yang terbaik.

Make you real excellent one
Virtual Office : HP. 0812-2329518
http://amri.web.id | E-mail amri{at}mq{dot}co{dot}id

Head Office : Komplek Daarul Halim,
Jl. Daarul Fikri No. 6 dan 12 Bandung

Rep. Office : Jl. Gegerkalong Girang-Cempaka I/14
Bandung 40154 Fax 022-2004314

Oleh Ahmad Sadeli

Madrasah, mengutip Direktur Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama, Yahya Umar, adalah forgotten community. Maknanya, kira-kira, adalah bahwa madrasah memberikan sumbangan besar pada pendidikan Indonesia, namun kerap kali kebijakan pendidikan melupakan keberadaan madrasah.

Sebagai gambaran peran madrasah dalam dunia pendidikan dapat dikemukakan beberapa perjuangan di daerah terpencil. Pada beberapa daerah terpencil, pemerintah kadang masih sibuk dengan urusan peningkatan ekonomi. Sementara pendirian lembaga sekolah kadangkala belum menjadi prioritas. SD di banyak desa atau kecamatan belum didirikan. Kalau pun ada, letaknya jauh di desa tetangga atau kecamatan tetangga. Pada saat itu, dengan inisiatif bersama dan dengan ghirah keagamaan, masyarakat mewakafkan harta dan ilmunya untuk mendirikan madrasah ibtidaiyah (MI). Barulah setelah beberapa MI berdiri, pemerintah mendirikan SDN.

Setelah di satu daerah memiliki banyak lulusan SD, pemerintah juga kerap alpa menyediakan pendidikan lanjutan, SMP. Pada saat itu juga, masyarakat bahu membahu menyediakan lembaga pendidikan lanjutan, mereka mendirikan madrasah tsanawiyah (MTs). Hal ini dapat dibuktikan dengan cara sederhana. Hitung saja berapa jumlah MTs. swasta, lalu bandingkan dengan keberadaan MTs negeri. Di Depok, sebagai contoh, terdapat sekitar 300 MTs. swasta dan hanya satu MTs. negeri. Sementara di banyak daerah masih banyak yang belum memiliki SMPN atau MTsN, untungnya diselamatkan oleh kehadiran MTs. swasta.

Komunitas terpinggirkan

Sebagai gambaran partisipasi masyarakat Indonesia dalam pendirian lembaga sekolah dapat dikemukakan perbandingan ini. Pada tingkat pendidikan dasar, jumlah MI negeri hanya 4,8%, sedangkan MI swasta 95,2%. Keadaan ini terbalik dengan SDN yang berjumlah 93,1%, sedangkan SD swasta 6,9%. Keadaan serupa juga terjadi pada tingkat SLTP, yakni MTsN berjumlah 24,3%, sedangkan MTs. swasta 75,7%. Sebagai perbandingan, di lingkungan Depdiknas SMPN berjumlah 44,9%, sedangkan SMP swasta 55,9%. Demikian pula pada tingkat SLTA, MAN berjumlah 30%, sedangkan MA swasta 70%. Di lingkungan Depdiknas, SMUN berjumlah 30,5%, sedangkan SMU swasta 69,4%.

Melalui pendirian MI ini, warga negara Indonesia mulai mendapatkan hak untuk “melek huruf”, juga “melek agama”. Hal ini sudah terjadi jauh sebelum program Paket A, B atau C berlangsung. Atau jauh sebelum program Wajar Dikdas 9 tahun. Namun bagaimana nasib madrasah? Bagaimana kebijakan pemerintah terhadap keberadaan madrasah?

Pada tahun anggaran 1999/2000, sebagai salah satu contoh, pemerintah mengeluarkan kebijakan pembiayaan pendidikan per siswa untuk MIN adalah Rp 19.000,00 sedangkan SDN Rp 100.000,00 (1:5,2). Kemudian, MTsN Rp 33.000,00 sedangkan SMPN Rp 46.000,00 (1:1,4). Sedangkan SMUN Rp 67.000,00 (1:1,3) dan IAIN Rp 50.000,00 sedangkan UN/institut negeri Rp 150.000,00 (1:3). Kebijakan ini sungguh timpang, terlebih lagi kebijakan ini masih terfokus pada madrasah-madrasah negeri yang hanya 10%-nya saja dari keseluruhan madrasah yang ada.

Ketakberimbangan ini masih terus berlangsung sampai saat ini. Ketika anggaran pendidikan dinaikkan menjadi 20%, pemerintah daerah membatasi pendidikan hanya untuk pendidikan umum. Madrasah kerap tidak masuk dalam kategori anggaran. Alasannya sangat teknis, bahwa madrasah telah menjadi tanggung jawab departemen agama. Padahal pada sisi lain, laporan partisipasi masyarakat dalam pendidikan yang dilakukan pemerintah daerah (dalam rangka penghitungan IPM, misalnya) memasukkan data-data madrasah sebagai capaian program pembangunan pendidikan.

Ketakberimbangan yang lain terdapat pada perlakuan pemerintah terhadap guru-guru madrasah swasta. Peluang sertifikasi lebih banyak diberikan pada guru-guru sekolah nonmadrasah. Ini berarti ketika ada wacana tentang nestapa nasib guru, yang dimaksudkan adalah nasib guru nonmadrasah.

Persatuan guru madrasah

Madrasah memang “komunitas yang terlupakan” bahkan dapat juga ditegaskan sebagai “komunitas yang terpinggirkan”. Walaupun demikian, dengan segala keterbatasan penghargaan terhadap mereka, mereka tetap mewakafkan waktunya bagi kecerdasan bangsa. Untuk dapat memenuhi kebutuhan ekonominya, sebagian guru-guru madrasah berprofesi ganda sebagai tukang ojek, pedagang keliling, dan sebagainya. Lalu, dengan tetap berprasangka baik bahwa seluruh diskrimansi pemerintah disebabkan minimnya informasi, guru-guru madrasah di Jawa Barat bersepakat untuk mendirikan persatuan guru madrasah (PGM).

PGM adalah organisasi profesi bagi guru-guru madrasah yang ada di Indonesia dengan mengacu dan berlandaskan pada UU No. 20/2003, UU No. 14/2005, dan PP No. 55/2007. PGM didirikan untuk memperjuangkan 250.000 guru madrasah di Jawa Barat yang patut dan pantas untuk mendapat perlakuan dan pengakuan yang sama dari berbagai pihak, baik masyarakat maupun pemerintah, pusat maupun daerah.

PGM Jawa Barat sebenarnya merupakan kelanjutan dari beberapa perjuangan guru madrasah di daerah. Semenjak tahun 2002, misalnya, beberapa guru madarasah di Bekasi, Bogor, Bandung, dan Bekasi telah mendirikan PGM –atau dengan nama yang lain– dan memperjuangkan nasib guru madrasah. Perjuangan PGM di beberapa kota dan kabupaten kini telah menunjukkan hasil yang signifikan. Di Kota Bekasi, misalnya, kini guru madrasahnya mendapatkan tunjangan kesra dari APBD-nya. Kota Bandung, Kab. Bogor, dan Depok mendapatkan alokasi dana komite dari pemdanya.

Atas dasar pengalaman ini, guru-guru madrasah berkesimpulan bahwa kebijakan pemerintah daerah yang tidak seimbang disebabkan oleh ketidakadaan informasi yang berimbang mengenai madrasah. Lalu pada tanggal 27 Desember 2008, 11.000 guru madrasah (guru mengaji, RA, MI, MTs. MA, dan dosen agama) dari seluruh Jawa Barat berkumpul di Gasibu mendeklarasikan PGM Jawa Barat. Semua guru madrasah menegaskan keberadaannya bahwa mereka harus terus meningkatkan profesionalismenya agar mampu bersaing dan bersanding dengan guru sekolah pada umumnya. Kemudian, mendorong pemerintah agar memperlakukan guru madrasah sama dengan memperlakukan guru pada umumnya. Lalu, meningkatkan martabat dan kesejahteraan guru madrasah dan menggali dan meningkatkan potensi dan kualitas guru madrasah sehingga mampu beraktualisasi, berinovasi, dan berkreasi.

Dengan visi “Terwujudnya Guru Madrasah yang Berkualitas, Sejahtera, dan Bermartabat” PGM Jawa Barat menjadi mitra pemerintah Jawa Barat untuk mencapai peningkatan IPM yang dicita-citakan.

Bila kita merujuk pada filosofi demokrasi bahwa inspirasi masyarakat menjadi dasar dari kebijakan, maka keberadaan madrasah (dengan tingkat partisipasi 90%) dapat menjadi landasan bagi seluruh program pembangunan. Di masa depan, dengan demikian, pemerintah daerah dapat menjadikan madrasah sebagai ujung tombak peningkatan daya baca, daya beli, dan daya sehat.

Saatnya kini untuk memperjuangkan pendidikan dengan bercermin pada apa yang sudah dilakukan oleh masyarakat.***

Penulis, pengurus Persatuan Guru Madrasah Jawa Barat.
(Pikiran Rakyat)

Oleh IRFAN ANSHORY

SUATU hal yang sering dilupakan oleh umat Islam umumnya (atau mungkin memang belum banyak diketahui) adalah bahwa Allah Swt melalui Malaikat Jibril mengajarkan kepada Nabi Muhammad saw. qira`at (cara membaca) Alquran yang tidak semacam, kemudian Rasulullah pun mengajarkan variasi bacaan tersebut kepada para sahabat beliau.

Dalam Shahih al-Bukhari, Volume 6, hadits No. 514, diceritakan bahwa Umar ibn Khattab pernah memarahi Hisyam ibn Hakim yang membaca Surat Alfurqan dengan bacaan berbeda dari yang diajarkan Rasulullah saw. kepada Umar. Setelah Hisyam menerangkan bahwa Rasulullah sendiri yang mengajarkan bacaan itu, mereka berdua menghadap Rasulullah untuk meminta konfirmasi. Rasulullah membenarkan kedua sahabat beliau itu dan menjelaskan bahwa Alquran memang diturunkan Allah Swt dengan beberapa variasi bacaan. “Faqra`uu maa tayassara minhu,” sabda Rasulullah saw., “Maka bacalah mana yang engkau anggap mudah daripadanya.”

Perbedaan qira`at itu merupakan salah satu kehebatan dan keunggulan kitab suci umat Islam: bacaan bisa berbeda, tetapi tidak bertentangan, malahan saling memperkuat pemahaman makna ayat Alquran! Sebagai contoh, Rasulullah kepada sebagian sahabat mengajarkan bacaan maaliki yaumi d-diin (Pemilik Hari Pembalasan) dalam Surat Alfatihah: 4, tetapi kepada sebagian sahabat yang lain Rasulullah mengajarkan bacaan maliki yaumi d-diin (Raja Hari Pembalasan). Kedua bacaan ini sudah tentu sama-sama benar, sebab Allah memang satu-satunya Pemilik dan Raja.

Dalam Surat Ali Imran: 81 ada dua variasi bacaan yang diajarkan Rasulullah, yakni ataytukum min kitaab (Aku memberi kamu kitab) dan ataynaakum min kitaab (Kami memberi kamu kitab). Dua-duanya benar, sebab Allah SWT membahasakan diri ada kalanya dengan “Aku” untuk menyatakan keakraban-Nya dan ada kalanya dengan “Kami” untuk menyatakan kekuasaan-Nya.

Demikian juga dalam Surat Arrahman: 22 terdapat dua pilihan bacaan. Yang pertama yakhruju min humaa l-lu`lu`u wa l-marjaan (keluar dari kedua lautan itu mutiara dan marjan), sedangkan yang kedua memakai kata kerja pasif yukhraju (dikeluarkan). Kedua variasi bacaan ini berasal dari Rasulullah saw. dan saling menerangkan satu sama lain.

Ada juga variasi bacaan Alquran berdasarkan dialek. Sebagai contoh, Surat Adhdhuha yang lazimnya kita baca wa dh-dhuhaa wa l-laili idzaa sajaa bisa juga dibaca wa dh-dhuhéé wa l-laili idzaa sajéé, sebab ada dialek Quraisy yang membaca alif maqshurah (alif di atas ya) dengan imalah (bunyi é seperti logat Betawi).

Pembakuan tulisan Alquran pada masa Khalifah Utsman ibn Affan (23-35 H atau 644-656 M), yang dikenal sebagai Mushhaf ’Utsmani, ternyata mampu mengakomodasi berbagai variasi bacaan tersebut, sebab pada masa itu tulisan Arab masih berwujud konsonantal murni yang belum diberi syakal (baris pembeda vokal dan huruf mati) dan i`jam (titik pembeda huruf).

Pemberian syakal kepada tulisan Alquran baru dilakukan oleh Abul-Aswad Ad-Du`ali (w. 69 H/688 M) atas perintah Gubernur Basrah, Ziyad ibn Samiyah, pada masa Khalifah Mu’awiyah ibn Abi Sufyan (41-60 H atau 661-680 M). Sementara pemberian i`jam dilakukan dua orang murid Abul-Aswad, yaitu Nashr ibn Ashim (w. 87 H/708 M) dan Yahya ibn Ya`mur (w. 130 H/747 M), atas perintah Gubernur Irak, Hajjaj ibn Yusuf, pada masa Khalifah Abdul-Malik ibn Marwan (65-86 H atau 685-705 M).

Alquran yang digunakan sejumlah besar umat Islam di dunia dewasa ini, termasuk kita di Indonesia, memakai qira`at HAFSH, yaitu bacaan Hafsh ibn Sulaiman Al-Kufi (90-180 H atau 709-796 M) dari Ashim ibn Abunnujud Al-Asadi (50-127 H atau 671-745 M), yang memperoleh bacaan itu dari 80-an tabi’in (generasi sesudah sahabat) yang belajar kepada sahabat-sahabat Rasulullah, antara lain Utsman ibn Affan, Ali ibn Abi Thalib, Abdullah ibn Mas’ud, dan Zaid ibn Tsabit.

Akan tetapi, saudara-saudara kita umat Islam di kawasan Afrika Utara dan Afrika Barat memakai Alquran qira`at WARSY, yaitu bacaan Warsy Utsman ibn Sa’id Al-Mishri (110-198 H atau 727-812 M) dari Nafi’ ibn Abdurrahman Al-Madani (70-169 H atau 689-785 M), yang memperoleh bacaan itu dari 70 tabi’in yang belajar kepada sahabat-sahabat Rasulullah, antara lain Abdullah ibn Abbas, Abu Hurairah, dan Ubay ibn Ka’b.

Alquran bacaan Warsy memiliki beberapa perbedaan dengan Alquran bacaan Hafsh. Karena di Indonesia terbiasa dengan bacaan Hafsh, ada baiknya kita mengenali bacaan Warsy, supaya jangan kaget jika suatu saat kita berkesempatan membaca atau mendengarnya.

Pada bacaan Warsy, huruf-huruf fa, qaf, nun, dan ya tidak bertitik jika terletak di akhir kata. Huruf-huruf ini hanya bertitik jika di depan atau di tengah kata. Huruf fa bertitik satu di bawah, sedangkan huruf qaf bertitik satu di atas. Bentuk huruf kaf selalu sama, baik terletak di depan, di tengah, maupun di akhir kata.

Pada bacaan Warsy, tidak ada hamzah mati di tengah kata, tetapi vokal sebelumnya dibuat panjang (madd). Sebagai contoh, mu`shadah dalam bacaan Hafsh menjadi muushadah dalam bacaan Warsy atau ka’ashfim ma`kuul menjadi ka’ashfim maakuul.

Huruf mati di ujung kata harus divokalkan jika bertemu dengan huruf alif pada kata berikutnya. Contoh, min aayaatinaa menjadi minaayaatinaa.

Perlu ditegaskan bahwa bacaan Hafsh dan Warsy sama-sama berasal dari Nabi Muhammad saw. dengan sanad (rantai berita) yang sahih dan mutawatir, dan sama-sama menggunakan Mushhaf ’Utsmani dalam tulisan konsonantalnya. Baik Hafsh maupun Warsy diproduksi besar-besaran di Percetakan Alquran milik Kerajaan Saudi Arabia di Madinah, untuk disebarluaskan ke seluruh dunia Islam, sesuai dengan kawasan pemakainya masing-masing.

Pada era globalisasi ini, tidak mustahil ada orang Indonesia yang melancong ke Aljazair atau Nigeria lalu membaca Alquran qira`at Warsy di sana, kemudian salat berjemaah dengan imam dari Maroko atau Senegal yang bacaan ayatnya sedikit berbeda.***

Penulis, peminat keagamaan, aktif di Pusat Studi Sunda.

Dari : PR Online