Meski masih terjadi perdebatan, namun umat Islam masih memperingati 17 Ramadan sebagai hari Nuzulul Quran yaitu turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad saw. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. menerima wahyu pertama yakni surat Al Alaq ayat 1-5 tatkala berada di dalam Gua Hira. Saat itu tubuh Akhirul Annbiya gemetar hebat saat diperintahkan Jibril melafazkan perintah Allah SWT.

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah. Dan Tuhanmu Maha Pemurah. Yang mengajarkan dengan pena. Mengajarkan kepada manusia apa yang belum mereka ketahui..” merupakan bunyi wahyu pertama tersebut.

Adanya peristiwa kerasulan tersebut seharusnya menjadi sebuah peringatan bagi seluruh umat Islam untuk senantiasa membaca, mengkaji, dan mendalami Alquran. Dengan diturunkannya Alquran berarti manusia telah mendapatkan sebuah petunjuk dan penuntun jalan kehidupan di dunia. Untuk itulah seharusnya manusia bersyukur.

“Tidak perlu dan memang tidak ada ritual khusus dalam memperingati Nuzulul Quran. Yang perlu dilakukan oleh umat Islam adalah senantiasa membuka pikiran untuk membaca dunia dan mencari pemecahannya di dalam Alquran. Sebab, kitab yang di bawa Nabi Muhammad saw. itu merupakan petunjuk hidup bagi manusia agar selamat di dunia dan akhirat,” ujar Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bandung Miftah Faridh.

Menurut Miftah Faridh, saat ini Alquran masih sekadar dijadikan bacaan. Sebagian besar umat Islam di dunia termasuk di Indonesia belum memahami makna kitab suci yang terdiri atas 30 juz dan 114 surat tersebut. Apalagi Alquran menggunakan bahasa yang tak dimengerti sebagian umat Muslim Indonesia.

Untuk memahami Alquran tentunya diperlukan sebuah kajian studi mengenai isinya. Sebab manusia memiliki keterbatasan untuk dapat menafsirkan firman Allah SWT itu sendiri. Apalagi Alquran menggunakan bahasa Arab yang memiliki nilai sastra tertinggi yang tak akan bisa dibuat oleh manusia. “Sayangnya, minat umat Islam untuk mempelajari tafsir Alquran masih sangat minim. Jadi kebanyakan umat kita membaca tanpa memahami artinya,” ujarnya.

Lalu, mengapa mempelajari dan memahami Alquran menjadi sangat penting? Allah SWT menurunkan Alquran yang isinya mencakup seluruh aspek kehidupan masyarakat yakni ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, bahkan keamanan. Seluruh isi Alquran dapat diaplikasikan dalam kehidupan manusia agar selamat di dunia dan akhirat.

“Alquran itu mengatur bagaimana kita menjalani hidup. Mengatur sikap manusia saat memangku sebuah jabatan. Bagaimana cara berinteraksi dengan sesama manusia meski berbeda keyakinan. Mengatur pernikahan, perdagangan, bersedekah, hingga kematian, dan juga warisan,” tutur Miftah.

Mengetahui begitu lengkapnya isi Alquran, seharusnya membuat umat Islam tak ragu lagi untuk menjadikannya pedoman hidup. Namun menurut Miftah, saat ini masih ada sebuah tawar menawar dalam menerapkan aturan Allah SWT. Perintah yang masih dapat terjangkau saja yang dilaksanakan, sementara aturan Allah SWT yang dianggap sulit tak ditaati.

Lebih lanjut Miftah menuturkan bahwa untuk menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup umat Islam bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan keyakinan yang kuat dalam diri umat Islam untuk menegakkan agama Allah SWT. Setelah meyakini maka seorang Muslim tak akan segan untuk menjalani sebuah proses pendalaman Alquran.

“Hal itu menjadi sebuah tantangan bagi para ulama yang bertugas untuk menyebarkan perintah Allah SWT dengan ukhuwah dan persaudaraan. Mereka harus memberikan pendidikan Alquran agar dipahami dan diterapkan dalam kehidupan. Namun usaha tersebut tak akan pernah berhasil bila tidak muncul keinginan yang kuat dari diri pribadi setiap Muslim,” ungkap Miftah…(Pikiran-Rakyat)

Iklan

Oleh Renny H.Y.R.

PADA zaman dulu kita kenal empat kategori penyakit, yaitu penyakit anak-anak, penyakit orang tua, penyakit orang miskin, dan penyakit orang kaya. Penyakit anak-anak yang terkenal adalah cacar air, gondongen, cacingan dan kutuan. Penyakit orang tua adalah pikun, tidak bisa berjalan, dan TBC. Sementara penyakit orang miskin adalah gatal-gatal, borok-borok, dan kurang gizi. Penyakit orang kaya yang sering kita dengar adalah jantung dan darah tinggi. Tidak pernah terpikir bahwa kategori ini akan menjadi terbalik-balik di zaman modern ini.

Simak saja. Penyakit orang kaya saat ini adalah borok-borok, terutama orang kaya yang jadi pejabat. Akan tetapi, diagnosisnya bukan dibuat oleh para dokter, melainkan oleh ICW atau KPK. Selain borok-borok, orang kaya juga kurang gizi akibat terlalu sering makan enak. Lalu muncul kumpulan gejala penyakit baru yang disebut sindrom metabolik yang ditandai dengan lingkar perut yang membesar (obesitas perut), darah tinggi, gula darah tinggi (diabetes melitus/DM), dan hiperkolesterol. Akibat penyakit tersebut, mereka harus diet. Jadinya ironis, secara finansial mereka mampu, tetapi tubuhnya tak mau menerima lagi.

Pergeseran

Para pakar berkumpul di hotel berbintang lima untuk mendiskusikan fenomena ini dan mencari obat yang paling canggih untuk mengobatinya. Para mikroba (bakteri, virus, protozoa, dll.) berpacu dalam melodi untuk menemukan kiat-kiat menghadapi obat-obatan mutakhir buatan manusia. Mereka lebih berhasil karena lebih mudah mencapai kata sepakat dibanding manusia. Akibatnya, penyakit seolah “bandel”, mengalami perubahan pola serangan, gejala, dan respons pengobatan.

Menurut data buku Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2005, usia harapan hidup penduduk mulai bergeser. Kalau dulu tahun 2001 adalah 71 tahun, pada tahun 2005 menjadi 72,56 tahun. Semakin tinggi usia harapan hidup akan terjadi pergeseran pola penyakit menjadi penyakit degeneratif (penyakit akibat penuaan) dan berakibat pada peningkatan pola pembiayaan kesehatan.

Pergeseran morbiditas penyakit ini diikuti dengan kenaikan konsumsi obat-obatan canggih yang cukup tinggi menyedot biaya. Celakanya, banyak dokter yang belum “sadar biaya”. Contoh yang paling mudah, tak sedikit dokter yang tidak tahu berapa sebenarnya harga 10 buah antibiotik generik golongan Ciprofloxacin (Rp 3.400,00) dibanding dengan 10 buah antibiotik paten dengan isi yang sama merek X yang berharga puluhan kali lipat (Rp 120.000,00).

Rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM, tentunya akan menambah kronis penyakit masyarakat.

Penderitaan ini akan bertambah parah apabila ditambah ketidakpedulian dokter terhadap pilihan obat dan pemeriksaan penunjang medis (laboratorium, radiologi, dll.) bagi pasien. Sudah dapat dipastikan, kenaikan BBM akan memicu kenaikan-kenaikan lainnya antara lain kenaikan harga barang, bahan, jasa, dan yang utama kenaikan tekanan darah.

Balada Apandi

Apandi adalah penduduk Babakan Duri. Dia mengeluh susah dan nyeri buang air kecil. Dengan obat tradisional, Apandi tak kunjung sembuh bahkan sudah dua hari tak dapat kencing sama sekali. Oleh keluarganya, Apandi segera dilarikan ke rumah sakit terdekat dan dipasangi selang/kateter sebagai alat bantu kencing. Kemudian dokter menyarankan untuk dilakukan operasi karena ada batu di saluran kencingnya. Faktor biaya menjadi beban berat bagi Apandi. Tukang tambal ban ini tercatat sebagai penduduk miskin.

Rumah sakit terdekat adalah rumah sakit (RS) swasta, maka Apandi dihadapkan pada dua pilihan. Segera pindah RS atau mencari dana jutaan untuk operasi. Dengan kateter terpasang di saluran kencing, Apandi terpaksa menyewa angkot untuk pindah ke RS lain yang seharusnya dapat menerima orang miskin. Namun sayang, Apandi ditolak karena kamar bagi orang miskin di RS yang ditujunya hanya sedikit dan itu pun sudah penuh.

Apandi terpaksa melakukan road show ke beberapa RS. Tentu saja ini membutuhkan biaya tersendiri, belum lagi dalam kondisi demikian, Apandi tidak dapat menambal ban dan tetap harus menanggung ongkos berobat. Praktis ibarat ban sepeda, Apandi benar-benar kempis, menempel satu sama lain, baik saku, kulit, maupun tulangnya.

Berbekal surat miskin saja, walau lengkap, ternyata belum aman. Pergantian prosedur penanganan orang miskin tidak hanya membuat bingung orang miskin, tetapi juga RS. Soalnya, RS di kota harus membuat MoU dulu dengan kabupaten untuk dapat melayani orang miskin dari kabupaten. Bila tidak, klaim tagihan tidak dapat dibayarkan.

Masih banyak Apandi-Apandi lain yang miskin, yang menderita kelumpuhan sekeluarga atau kutil liar di sekujur tubuh, atau kelainan katup jantung. Hal ini membuat kita tercenung, mengapa penyakit orang miskin sekarang aneh-aneh?

Penolakan

Bagi orang miskin yang nomaden, jalan panjang harus ditempuh untuk dapat mencicipi pelayanan Askeskin yang sekarang telah berganti nama, prosedur, dan alur penanganannya.

Pengalaman di lapangan memperlihatkan, di samping persyaratan administratif yang tidak lengkap, penolakan klaim dapat terjadi apabila setelah diklarifikasi oleh yang berwenang terdapat perbedaan persepsi terhadap diagnosis, terapi, atau tindakan medis yang berakibat pada besaran nilai rupiah klaim. Ada RS yang memang nakal menggelembungkan klaim sampai miliaran rupiah, tetapi ada pula RS yang semula berniat tulus untuk membantu melayani orang miskin. Namun, karena muncul penolakan klaim akibat berbagai sebab dan perhitungan tarif yang rendah akhirnya membuat RS jera berhubungan dengan pelayanan bagi orang miskin.

RS kerap diancam untuk dibubarkan apabila tidak mau melayani orang miskin. RS pemerintah sibuk membangun paviliun bertingkat bak apartemen mewah yang tentunya bukan untuk menampung rakyat miskin. RS swasta lebih suka merujuk ke RS pemerintah daripada bermain pingpong atas klaim tagihan yang ujung-ujungnya menjadi piutang tak tertagih atau piutang macet. Walhasil? Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih, orang miskin tidak boleh sakit!***

Penulis, Direktur Pelayanan Kesehatan PT CMP-RS Pindad. (Pikiran-Rakyat)