Politisi PKS
Tidak Jera, Anak dan Istri Beri Dukungan

BENGKULU – Ironi terjadi di dunia hukum Bengkulu. Ketua DPRD Kota Bengkulu Ahmad Zarkasi SP yang mengungkap dugaan korupsi proyek pengadaan buku Diknas malah dijebloskan ke penjara.

Hukuman tersebut harus diterima setelah dia dilaporkan dengan tuduhan pencemaran nama baik. Atas tindakannya itu, dia divonis bersalah dengan hukuman satu bulan penjara.

Sedangkan laporan korupsi yang disampaikan tidak jelas penyelidikannya. ”Mengapa bukan kasus korupsinya yang diusut dulu. Jika tidak terbukti, baru pencemaran nama baiknya yang diperiksa,” sesalnya, sesaat sebelum eksekusi putusan pengadilan atas dirinya kemarin.

Sejak pukul 19.15 Jumat malam lalu, politisi PKS itu resmi menjalani masa hukumannya di Lapas Kelas II A Malabero. Dia ”diantar” Kasi Pidum Kejari Bengkulu Fauzi SH dan Kasi Penyidikan Kejati Bengkulu yang juga menjadi jaksa penuntut umum kasusnya, Agus Irawan.

Selama proses eksekusi tersebut, Zarkasi terlihat tenang dan banyak tersenyum. Dia menyalami puluhan kader PKS yang ikut mengantar ke lapas.

Insiden kecil terjadi saat Zarkasi hendak dinaikkan ke mobil tahanan kejaksaan. Ban kiri depan mobil yang diparkir di depan rumah dinas Zarkasi tiba-tiba meletus. ”Ini bukan kesengajaan. Mungkin pertanda Zarkasi tidak boleh dieksekusi,” kata anggota DPRD Kota Bengkulu Irman Sawiran.

Setiba di lapas, puluhan kader PKS menyambut Zarkasi dengan bentangan spanduk. ”Ketua DPRD mengungkap kasus korupsi Rp 1,6 M justru dipenjara, di mana keadilan itu.”

Sebelum eksekusi, Zarkasi sempat mendatangi kantor kejaksaan sekitar pukul 10.30. Masih dengan berpakaian dinas anggota dewan, dia menemui Fauzi di ruang Kajari Effendi Harahap SH.

Saat itu sebenarnya sudah beredar informasi bahwa eksekusi terhadap Zarkasi segera dilaksanakan. Namun, tembusan putusan MA belum sampai ke PN Bengkulu.

Karena belum ada kejelasan, Zarkasi pun meninggalkan kejaksaan untuk salat Jumat. Dia bahkan sempat menghadiri sebuah acara di GOR Sawah Lebar. Setelah ada kepastian soal putusan MA, kejaksaan pun berniat menjemput Zarkasi di rumah dinasnya sore itu juga.

Sebelum menuju lapas, Zarkasi sempat mengadakan jumpa pers. Sambil memegang Alquran, bapak delapan anak itu mengungkapkan kekecewaannya atas sikap aparat hukum Bengkulu.

Menurut dia, aparat hukum Bengkulu dan juga di Indonesia pada umumnya belum memihak kepada kebenaran. Banyak kasus korupsi yang jelas-jelas merugikan negara tidak tertangani sampai tuntas.

”Kita sama-sama tahu, belum lama ini terdengar aparat penegak hukum menyidik kasus dugaan korupsi dalam jumlah besar. Namun nyatanya, hingga kini belum ada yang berlanjut ke persidangan. Tersangkanya masih duduk santai di rumah,” katanya.

Dia menduga, kejadian yang dialami itu adalah bagian dari risiko politik yang harus dihadapi. Itu, tegasnya, tidak akan mengubah sikap dan perjuangannya. ”Selama menurut saya dan agama saya itu benar, saya akan terus memperjuangkannya. Tidak ada di dalam kamus saya, kapok dalam menegakkan kebenaran,” tandasnya.

Sikap tegas Zarkasi tersebut mendapat dukungan istrinya, Eko Sulistyawati. Perempuan itu sudah siap menghadapi berbagai risiko yang dialami sang suami. Baginya, Zarkasi adalah pejuang bagi keluarga dan warga Kota Bengkulu.

Demikian juga dengan anak pertama mereka, Roidah, yang masih menempuh pendidikan di SMP. Dia mengaku tidak malu ayahnya dipenjara. ”Kenapa malu? Bapak kan enggak korupsi,” katanya.

Kasus tersebut berawal ketika Zarkasi masih menjadi anggota DPRD Kota Bengkulu 2002 lalu. Dia mengkritisi anggaran ganda dalam pengadaan buku Diknas Pemkot Bengkulu.

Merasa tersinggung, Wali Kota Chalik melaporkan Zarkasi ke polisi dengan tuduhan pencemaran nama baik. Kejaksaan ternyata lebih memperhatikan laporan Chalik daripada laporan Zarkasi.

Kasus pencemaran nama baik pun diproses terlebih dahulu, sementara dugaan korupsi diabaikan. Meski belakangan BPK menjelaskan ada dugaan penyimpangan dana dalam proyek tersebut sebesar Rp 1,5 miliar.

Dalam sidang pertama di PN Bengkulu 2006 lalu, Zarkasi divonis lima bulan penjara. Pengadilan tinggi menerima banding Zarkasi dan mengurangi hukumannya menjadi satu bulan.

Masih tidak terima, Zarkasi pun mengajukan kasasi ke MA. Hasilnya, MA memperkuat putusan PT Bengkulu. Eksekusi pun dilakukan Jumat malam lalu. Soal dugaan korupsi? Tidak ada kejelasan penyidikannya meski BPK sudah menengarai adanya kemungkinan tersebut. (Jawa Pos)

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) terus melakukan inovasi politik menjelang Pemilu 2009. Di tengah kasak-kusuk parta-partai lain dalam pencalonan anggota legislatif, PKS terus melaju dengan gagasan-gagasan yang mengejutkan.

Kamis (26/6), DPP PKS meluncurkan Calon Anggota Dewan (CAD). Menurut Presiden PKS Tifatul Sembiring, dengan peluncuran calon anggota legislatif ini, diharapkan publik dapat mengenal jauh-jauh hari sosok caleg yang diusung PKS. Selain membincangkan peluncuran caleg PKS, Tifatul juga menyebutkan kriteria capres yang diusung pada 2009 mendatang.

“Kita gaungkan pemimpin ‘balita’ (di bawah lima puluh tahun), agar ada perubahan di negeri ini,” tegasnya. Berikut ini wawancara lengkapnya:

Kenapa jauh-jauh hari PKS sudah mengenalkan caleg ke publik?

Dengan ini masyarakat agar lebih mengenal sosok-sosok yang ditawarkan PKS. Saya perlu garis bawahi bahwa PKS tidak hanya menawarkan figur semata, namun dengan program dan kebersamaan tim. Kita harus mengubah negara ini dari korupsi menjadi antikorupsi. Dari kemiskinan menjadi kesejahteraan, dari kebodohan menjadi orang-orang yang terdidik.

Bagaimana cara PKS memilih caleg PKS?

Rekutmen caleg PKS sebagain daerah dengan pemilihan raya internal. Ada sekitar 30% orang eksternal yang kita pasang. Ini adalah aspirasi dari DPD dan DPW, kemudian diusulkan ke pusat. Selama prosedur itu ditempuh. insya Allah kita (DPP) menerimanya.

Berapa total caleg yang akan diusung PKS, termasuk komposisinya?

Komposisi perempuan sampai kini sebesar 36%. Pada 2004 juga PKS paling banyak mencalokan caleg perempuan, yaitu sebesar 39%. Komposisi saat ini masih ada rekrutmen lanjutan, paling tidak Calon Anggota Dewan (CAD) sebelum didaftarkan akan ada penambahan caleg.

Sedangkan dari komposisi umur, paling banyak 35-35 tahun, karena kita mencanangkan program pemipin ‘balita’, yaitu di bawah lima puluh tahun. Termasuk capresnya juga diusulkan yang balita. Dari sisi anggota dewan yang sekarang, kita baru punya 45, kita butuh pengalaman mereka juga, makanya hampir 70% dari mereka kita pertahankan untuk kembali kita calonkan, walaupun tidak di nomor urut satu semua.

Bagaimana dengan target perolehan suara 20%, apa ini tidak terlalu percaya diri?

Analisis kami di DPP, tidak ada partai-partai yang lebih dari 25%. Kalau bahasa kyai-nya itu kita masih musyrakah (koalisi). Angka 20% adalah tiga kali lipat dari perolehan 2004. Namanya target, kita harus optimis.

Namun, jika melihat dari fakta-fakta, misalnya dalam Pilkada DKI, meski tidak berhasil menjadi gubernur, PKS jalan sendiri mendapat dukungan 42,5%. Jadi dari 24% di Pemilu 2004 merujuk perolehan pilkada DKI, PKS sudah meningkat. Di Jawa Barat juga demikian. Calon kita mendapat dukungan 40%, walaupun kita berkoalisi dengan PAN. Di Sulawesi Utara juga demikian.

Jadi dari 94 pilkada yang dimenangkan PKS dari 154 yang PKS berpartisipasi ikut mencalonkan, itu rata-rata mendapat dukungan di atas 30%. Ya malu juga, kalau kita naikkan menjadi 30%. Paling tidak, kita targetkan 20%. Jadi PKS bukan PD ya, tapi PA (Percaya Allah).

Untuk menghindari ganjalan dalam pengusungan caleg, seperti sejumlah calon PKS yang tersandung oleh kasus hukum seperti dalam Pilkada Jawa Tengah kemarin, bagaimana mengantisipasinya di calon legsilatif ini?

Jadi semua calon yang diusulkan dari daerah ini, harus lolos scan dari Dewan Syariah baik di tingkat wilayah maupun pusat. Dewan Syariah ini adalah dewan yudikatif di internal PKS. Jadi kalau mereka bermasalah secara moral, maka secara otomatis akan gugur.

Berapa caleg yang diusung?

Yang saya teken kemarin, untuk pusat sebanyak 314 orang. Walaupun target kita sebanyak 145 kursi DPR RI.

Berapa jumlah dana yang dibutuhkan setiap caleg dalam pemilu legislatif?

Kalau dana, sesuai kemampuan masing-masing. Tapi kalau dalam hitungan kami, minimalnya per orang menghabiskan sekitar Rp 300 juta. Tapi di PKS, bukan orang yang bekerja secara individu tapi tim kerja. Kami punya prinsip shunduquna juyubuna (kantong kami adalah kas kami sendiri).

Bagaimana kebijakan DPP PKS terhadap kader yang diusung oleh partai lain dalam pilpres mendatang?

Insya allah tidak ada.

Bagaimana kriteria capres 2009 menurut PKS?

Yang penting adalah kriterianya. Saya dulu mengatakan persoalan bangsa ini adalah bagaimana bangsa ini tidak bodoh, tidak miskin, kelaparan, tidak menganggur. Siapa yang bisa menyelesaikan ini? Saya juga mengusulkan usia capres di bawah lima puluh tahun. Karena Soekarno, Soharto, di bawah lima puluh tahun. Bahkan Obama anginnya datang ke Indonesia, usianya 46 tahun.

Jadi ini harus kita gaungkan, supaya ada perubahan. Ayo kita pikirkan ini. Kalaupun PKS sharing, ada yang terbaik, ayo monggo. PKS bisa saja mendukung. Tapi kalau PKS mendapat 20% dalam pemilu legislatif 2009, maka akan mengusung capres/cawapres kader sendiri. [Inilah.com]

Oleh H. M. Didi Turmudzi

MENYIMAK kegiatan pemuda Muslim beberapa dasawarsa terakhir, saya semakin optimistis bahwa kiamat belum segera datang pada abad ini akibat tidak ada lagi orang yang bersedia memperjuangkan Islam. Wallahualam, hanya Allah Yang Mahatahu kapan tepatnya kiamat akan terjadi.

Tidaklah berlebihan apabila kita memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada generasi muda Muslim sekarang yang terus gigih melakukan perjuangan di tengah semakin gencarnya tekanan dari kalangan non-Muslim. Mereka, khususnya Barat, seperti tidak pernah berhenti mencari celah dan menunggu momentum umat Islam berbuat kesalahan dan anarkis. Begitu umat Islam terjebak, telunjuk mereka secara beramai-ramai akan menunjuk muka umat Islam sembari berteriak, “Terorissss…!”

Anton Winardi dalam bukunya Konsep Negara & Gerakan Islam Baru — Menuju Negara Modern Sejahtera telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi penggambaran peta perjuangan dakwah kaum Muslimin, baik yang berjuang melalui pembentukan partai politik maupun pembentukan organisasi massa dan LSM. Anton berhasil secara apik melukiskan peta perbedaan maupun kesamaan antara Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Hizbut Tahrir (HT).

Apresiasi banyak diberikan kepada para aktivis PKS dan HT. Mereka pada umumnya digambarkan sebagai generasi muda yang sangat peduli terhadap Islam dan menyadari sepenuhnya posisi kaum Muslimin yang sehasta demi sehasta dan sejengkal demi sejengkal menjadi kacung dan akhirnya menjadi “bancakan” masyarakat Barat. Kesadaran ini sangat penting, mengingat sejak bangsa Indonesia berkenalan dengan bangsa Barat empat abad yang lalu, mereka senantiasa memperlakukan bangsa ini tak lebih sebagai budak dan sapi perahan. Selama berabad-abad, mereka menjajah Indonesia dan negara-negara dunia ketiga. Lepas dari penjajahan secara teritorial, mereka kemudian memasang perangkap dengan berbagai pinjaman dan utang, sehingga pada akhirnya semua kekayaan milik bangsa ini mereka kuasai tanpa menyisakan sedikit pun untuk rakyat, kecuali kesengsaraan dan penderitaan. Tak pernah ada niat baik dari mereka kecuali mengajak masyarakat dunia ketiga masuk ke dalam lubang kadal sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad saw. >> Selengkapnya…

Oleh Mohammad Yusuf

Jakarta, myRMnews. Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Pilkada Dewan Pimpinan Pusat Partai Keadilan Sejahtera (DPP PKS) Moh Razikun membeberkan kunci kemenangan Syamsul Arifin-Gatot Pujo Nugroho di pilkada Sumut.

Dia menyebutkan ada tiga modal utama yang dimiliki PKS. Pertama, menyodorkan kader mudanya, yakni Gatot. Kedua, PKS sudah punya basis kuat di Medan. Ketiga, militansi kader PKS.

“Kami menggarap persiapan pilkada Sumut sama dengan pilkada Jawa Barat. Kami menawarkan tokoh muda yakni Mas Gatot. Pak Syamsul kami usung juga karena beliau meski tua tapi berjiwa muda, merakyat dan humoris. Itu modal utama PKS di Sumut,” ujar Moh Razikun di Jakarta, Rabu (16/4).

Dia menambahkan, militansi para kader PKS di seluruh wilayah Sumut juga menjadi faktor kunci kemenangan calon dengan nomor urut 5 ini. Dijelaskan, cara kerja kader PKS mirip sales yang berjualan produk. Mereka datang door to door, person to person, guna menawarkan visi dan misi Syamsul-Gatot.

“Para tokoh masyarakat juga didatangi untuk dimintai dukungan dan doam” beber Razikun. Namun, dia tidak menafikan kerja keras para kader partai lain yang ikut mengusung Syamsul-Gatot. Ini hasil kerja semua partai pendukung, imbuhnya.

Lebih lanjut Razikun mengatakan, seluruh jajaran DPP PKS di Jakarta tidak ada yang terkejut dengan hasil quick count yang menempatkan Syamsul-Gatot berada di posisi teratas. Dikatakan, beberapa pekan lalu di DPP PKS digelar rapat pleno guna membahas persiapan pilkada Sumut dan pilkada Jawa Barat.

“Keyakinan ini didukung hasil survei internal PKS beberapa hari menjelang pencoblosan, dimana calon yang kami usung menang,” ujarnya.

Yang justru mengejutkan, katanya, adalah kemenangan pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf di pilkada Jabar. Saat rapat itu, para pimpinan PKS pesimis jago PKS di Jabar itu bisa menang.

“Begitu di Jawa Barat menang, kita semakin yakin Sumut pasti menang. Yang pesimis saja menang, apalagi yang optimis,” katanya.

Ditanya apakah PKS akan menggaet Syamsul Arifin sebagai kader PKS, Razikun tidak menjawab tegas. Dia hanya mengatakan, bila memang nantinya Syamsul menjadi Gubernur Sumut.

“Sudah tentu beliau menjadi keluarga besar PKS karena PKS partai pendukung utama.” tandasnya.

Syamsul sebelumnya merupakan fungsionaris Golkar Sumut. Lantaran Bupati Langkat itu ikut maju di pilkada Sumut, dia dipecat dari Golkar. Pasalnya, Golkar sudah memutuskan mengusung Ketua DPD Golkar Sumut Ali Umri yang berpasangan dengan Maratua Simanjuntak. hta

Sumber: Rakyat Merdeka


Mesin Politik PKS Bekerja Sangat Keras


Oleh Ningsih

Presiden PKS Tifatul Sembiring di Jakarta menyatakan bahwa kemenangan ini disebabkan mesin politik PKS di Jabar dan Sumut bekerja sangat keras, khususnya di daerah-daerah dimana suara PKS mayoritas.

PK-Sejahtera Online: Meski KPUD belum mengumumkan pemenang pilgub Jawa Barat, dan masih menunggu hasil penghitungan suara secara keseluruhan dari KPUD Sumatera Utara, namun PKS yakin akan keluar sebagai pemenang pada kedua pilgub tersebut.

Usai menyaksikan perhitungan suara sementara pasangan Syamsul Arifin-Gatot Pujonugroho, Presiden PKS Tifatul Sembiring di Jakarta menyatakan bahwa kemenangan pasangan nomor 5 ini, disebabkan mesin politik PKS di Jabar dan Sumut bekerja sangat keras, khususnya di daerah-daerah dimana suara PKS mayoritas.

“Untuk Jawa Barat kita mengoptimalkan di kantong-kantong PKS yang sudah dimenangkan di pilkada kabupaten/kota. Di Sumatera Utara juga demikian, kita menang di kantong-kantong PKS seperti di Medan, Binjai, Langkat,” papar Tifatul.

Namun demikian pihaknya mengakui banyak faktor yang menyebabkan kemenangan kedua pasang cagub tersebut. Selain ketokohan para cagub, mesin politik para parpol yang berkoalisi dengan PKS juga bekerja secara efektif.

“Baik di Jawa Barat dan Sumatera Utara PKS tidak bekerja sendiri, PKS bekerja sama dengan partai-partai lain, seperti di Jawa barat PKS bekerja sama dengan PAN, di Sumatera Utara dengan PPP dan PBB,” tuturnya. (Adine)
(www.pk-sejahtera.org)