Siapkan rohani kita dan ucapkan tahniah kepada saudara seiman di saat menjelang Ramadhan tiba. Marilah kita sambut bulan mulia ini

Bulan Ramadhan akan segera tiba, insya Allah pertengahan bulan Agustus 2009. Itu artinya kita diberi hak istimewa, bukan

saja bilangan umur yang kian bertambah, tapi juga belaian kasih Ar-Rahmaan menghampiri kita (lagi) agar bersih jiwa-raga.

Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan rahmat dan keberkatan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan,

Ramadhan adalah penghulu dari sebelas bulan yang lain. Hanya orang yang kenal keistimewaan Ramadhan saja yang akan suka cita bila Ramadhan akan tiba.

Jelas, kita harus mempersiapkan diri baik-baik guna menyambutnya. Bagaimana caranya? Langkah-langkah berikut ini barangkali bisa membantu.

1. Mengulangi kembali pelajaran-pelajaran yang berkaitan dengan puasa. Hendaknya kita memasuki dan menjalani puasa

dengan pengetahuan, pedoman-pedoman yang baik, serta pengalaman-pengalaman yang telah lalu. Pelajaran itu bisa seputar

rukun, syarat sah, syarat membatalkan, perkara-perkara sunnat dan makruh, dan hikmah yang terkandung di dalamnya.

2. Persiapan ruhani, yaitu menenangkan jiwa dalam menghadapi bulan puasa sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat.

3. Memperbanyak doa, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi kesehatan, tenaga, kelapangan, dan kesempatan mengerjakan puasa. Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah supaya kita dapat berpuasa dengan hati yang jujur, tulus dan jauh dari riya’, ujub, dan segala penyakit yang menghilangkan pahala puasa.

4. Menguatkan semangat untuk melaksanakan satu bentuk latihan dengan sempurna agar kita memperoleh predikat sebagai muttaqin (orang yang bertaqwa).

5. Siapkan diri untuk menjalankan puasa dengan perkataan dan perbuatan yang baik dengan sepenuh hati serta ikhlas semata-mata karena Allah.

6. Tinggalkan kebiasan-kebiasan yang memberatkan dan merugikan diri, seperti berbelanja berlebihan, tenggelam dalam hiburan, membuang waktu, dan melakukan perbuatan yang tidak mendatangkan faedah. Hal tersebut justru bertentangan dengan hikmah puasa.

7. Sambutlah bulan puasa dengan cita-cita dan azzam (tekad) yang tinggi dengan memperbanyak ibadah, baik siang atau malam. Ini diperlukan untuk melatih diri dan mensucikan jiwa.

8. Ucapkan tahniah kepada saudara seiman. Diriwayatkan oleh Ahmad dan Nasa’i dari Abi Hurairah Radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah senantiasa menggembirakan para sahabat saat kedatangan bulan Ramadhan. Rasulullah menggembirakan para sahabat dengan sabdanya, ”Sesungguhnya akan datang kepada kamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkati, Allah

mewajibkan kamu berpuasa di dalamnya. Pada bulan Ramadhan dibuka pintu-pintu syurga, dikunci semua pintu neraka, dibelenggu semua syaitan. Di malamnya ada satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa yang tidak memperoleh kebajikan pada malam itu, berartilah diharamkan baginya segala kebaikan untuk dirinya.”

Semoga dengan rasa kesungguhan dalam menyambut kehadiran Ramadhan, kita bisa sukses dalam menjalankan ibadah puasa.

Amin. [Ali Athwa/Sahid/www.hidayatullah.com]

Iklan

Assalamualaikum warohmatullahi wabarookatuhu.

Akhi fillah, bulan Rojab telah berlalu, dan sekarang kita berada di bulan Sya’ban, telah berjaya mereka yang bertaqarrub dan bersiap-siap dibulan Rojab untuk menemui Ramadhon,  Sya’ban telah datang sedangkan kebanyakan manusia melalaikannya.
Bersama bulan yang penuh berkah ini kita akan melihat keadaan Rasulullah shallawahu ‘alaihi wasallam dan para salafus sholih, yang mana kita diperintahkan untuk mengikuti mereka serta kita akan menyebutkan beberapa keutamaan dan hukum-hukumnya.

Dari Usamah bin Zaid radhiallahu anhu berkata : Ya Rasulullah : aku tidak melihat anda berpuasa pada bulan tertentu seperti anda berpuasa pada bulan Sya’ban ? Beliau berkata : “Itulah bulan yang dilalaikan manusia, antara Rojab dan Ramadhan, dibulan itulah diangkat amalan-amalan ke Robb semesta alam, dan aku ingin amalanku diangkat dalam keadaan berpuasa “ [ HR Nasaie].

Dari Anas bin malik radhiallahu anhu berkata :  Rasulullah terus-menerus berpuasa dan tidak berbuka sampai kami berkata: Rasulullah tidak berniat berbuka tahun ini, lalu beliau berbuka dan tidak puasa sampai kami berkata: Beliau tidak berniat berpuasa tahun ini. Puasa yang paling beliau cintai dibulan Sya’ban “ [HR Ahmad].

Rasulullah shallawahu ‘alaihi wasallam sangat menjaga puasa di bulan Sya’ban, terbukti bahwa istri-istri beliau berkata  Beliau berpuasa terus-menerus sepanjang bulan Sya’ban, meskipun sebanarnya beliau shallawahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali Ramadhan. Inilah yang di riwayatkan oleh Aisyah radhiallahu anhu : “ Rasulullah shallawahu ‘alaihi wasallam terus-menerus berpuasa sampai kami berkata beliau tidak berbuka, dan beliau berbuka sampai kami berkata beliau tidak berpuasa, dan aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallawahu ‘alaihi wasallam menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau banyak berpuasa kecuali bulan Sya’ban”[HR Bukhari dan muslim].

Didalam riwayat Imam Nasaie dan Tirmidzie beliau berkata:” aku tidak pernah melihat Rasulullah shallawahu ‘alaihi wasallam mempeerbanyak berpuasa kecuali bulan Sya’ban, beliau berpuasa sepanjang bulan Sya’ban kecuali sedikit, bahkan beliau berpuasa seluruh Sya’ban, kemudian menyambungnya dengan Ramadhan”.

Dan Ummu Salamah radhiallahu anhu berkata :”aku tidak pernah melihat Rasulullah shallawahu ‘alaihi wasallam berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali bulan Sya’ban dan Ramadhan “

Oleh karena Rasulullah shallawahu ‘alaihi wasallam sangat menjaga puasa di bulan Sya’ban, maka sebagian ulama berkata; sesungguhnya puasa bulan Sya’ban lebih utama dari bulan-bulan yang lainnya., meskipun ada nas yang menunjukkan bahwa bulan Allah Muharram adalah bulan puasa yang paling utama setelah Ramadhan, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata : Rasulullah shallawahu ‘alaihi wasallam bersabda : “puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa bulan Muharram, dan sholat yang paling utama sesudah sholat fardhu adalah sholat malam”.[HR muslim].

Diriwayatkan oleh Imam Nasaie dengan sanad yang shahih dari Jundab bin Sufyan radhiallahu anhu berkata : Rasulullah shallawahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda : “ sesungguhnya sholat yang paling utama setelah sholat fardhu adalah sholat dipertengahan malam, dan puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa bulan yang kalian namakan Muharram”.

Para ulama menyebutkan hikmah diutamakannya puasa bulan sya’ban :

1- Puasa sunah yang paling utama adalah yang dekat dengan Ramadhan sebelum atau sesudahnya, dan itu mendapatkan keutamaan bulan Ramadhan karena berdekatan dengannya, dan kedudukan puasa dibulan itu seperti sholat sunah rawatib dengan sholat fardu sebelum atau sesudahnya, maka keutamaannya mengikut keutamaan amalan yang fardhu, yaitu untuk menyempurnakan kekurangan amalan fardhu, demikian pula puasa sebelum atau sesudah Ramadhan.

Sebagaimana sunah rawatib lebih  utama dari pada sunah mutlak, begitu juga puasa sebelum atau sesudah Ramadhan lebih utama dari pada puasa di waktu yang lain.oleh karena itu kita mendapati bahwa Ramadhan didahului dengan puasa dibulan Sya’ban dan disunahkan  memperbanyaknya kemudian setelah selesai Ramadhan disunahkan puasa enam hari bulan Syawwal, maka seperti iulah sunah rawatib serbelum dan sesudah sholat fardhu.

2-Termasuk juga hikmah memperbanyak puasa Sya’ban : apa yang terkandung dalam hadits Usamah bin Zaid yang telah dikemukakan sebelumnya yang didalamnya beliau berkata : ya Rasulullah aku tidak melihat anda berpuasa pada bulan yang lain seperti anda berpuasa dibulan Sya’ban ? lalu Beliau shallawahu ‘alaihi wasallam menjelaskan sebabnya dengan berkata : (( itulah bulan yang dilalaikan manusia, yaitu antara Rojab dan Ramadhan)) dan apa lagi ? Beliau bersabda : (( dialah bulan yang didalamnya diangkat amalan-amalan kepada Robb semesta alam dan akau ingin amalku diangkat dalam keadaan berpuasa)).
Sesungguhnya hadits ini mengandung dua makna yang penting :

Yang pertama: bahwa dialah  bulan yang dilalaikan manusia yang ada diantara Rojab dan Ramadhan.

Yang kedua: bahwa amalan diangkat dan dipaparkan kepada Robb semesta alam.

Adapun Sya’ban bulan yang dilalaikan manusia karena berada diantara dua bulan yang agung, yaitu bulan haram Rojab dan bulan puasa Ramadhan, dimana manusia sibuk dengan keduanya, dan melupakan bulan Sya’ban, bahkan kebanyakan manusia mengira bahwa puasa bulan Rojab lebih utama dari Sya’ban karena Rojab adalah bulan haram, dan ini tidak benar, karena puasa sya’ban lebih utama dari Rojab berdasarkan hadits-hadits yang dikemukakan sebelumnya.

Dalam sabda beliau : (( bulan yang dilalaikan manusia, antara Rojab dan Ramadhan)) ada isyarat bahwa sebagian waktu, tempat maupun orang yang telah masyhur keutamaannya bisa jadi yang lain lebih utama darinya secara mutlak atau khusus, yang tidak dipahami kebanyakan manusia, sehingga mereka menyibukkan dengan yang mereka kenal, dan mereka tidak mendapatkan keutamaan yang tidak mereka kenal. Dan ketika manusia menyibukkan dengan selain Sya’ban dan melalaikan Sya’ban maka Nabi shallawahu ‘alaihi wasallam memakmurkannya dengan ketaatan dan berpuasa, dan Beliau berkata kepada Usamah ketika menyakan sebab beliau memperbanyak puasa Sya’ban, yaitu karena itu bulan yang dilalaikan manusia antara Rojab dan Ramadhan.

Dalam hal ini para ulama mengatakan : didalamnya ada dalil disunahkannya memakmurkan waktu-waktu yang dilalaikan manusia dengan ketaatan, karena yang demikian  itu dicintai Allah, oleh karenanya sebagian para salaf suka menghidupkan antara dua isya’ dengan sholat dengan mengatakan : itulah waktu yang dilalaikan, demikian juga Nabi shallawahu ‘alaihi wasallam lebih suka sholat dipertengahan malam karena kebanyakan manusia telah diliputi kelalaian sehingga meninggalkan  berdzikir kepada Allah sebagaimana sabda beliau: (( sesungguhnya sholat yang paling utama sesudah sholat fardhu sholat dipertengahan malam))
Karena makna ini juga Rasulullah pernah mengakhirkan sholat isya’ sampai tengah malam, dan beliau meninggalkannya karena kuatir memberatkan manusia, dari Ibnu Umar radhiallahu anhu berkata : pada suatu malam kami menunggu Rasullullah shallawahu ‘alaihi wasallam untuk sholat isya’, lalu beliau keluar ketika sudah lewat sepertiga malam atau lebih, kami tidak tahu apakah karena beliau sibuk dengan keluarga atau yang lain ? lalu ketika keluar Beliau berkata : “sesungguhnya kalian menunggu sholat yang tidak ditunggu oleh pemeluk agama ini selain kalian, kalau bukan karena memberatkan umatku, niscaya akau akan sholat bersama mereka diwaktu ini)).[HR Muslim].

Dalam riwayat lain : (( tidak ditunggu oleh seorangpun penduduk bumi selain kalian)) memberi isyarat keutamaan berdzikir dengan sendirian diwaktu yang tidak ada seorangpun yang berdzikir.

Sebagaiman Sya’ban merupakan muqoddimah bagi Ramadhan maka disyariatkan didalamnya seperti yang disyariatkan dalam bulan Ramadhan seperti puasa dan membaca Al-Quran sebagai persiapan menemui Ramadhan, karena hikmah-hikmah inilah maka Rasulullah shallawahu ‘alaihi wasallam mempeerbanyak puasa dibulan yang berkah ini, dan memanfaatkan waktu disaat manusia lalai, padahal siapa beliau ? beliau adalah Rasulullah  shallawahu ‘alaihi wasallam yang telah diampuni dosanya yang lalu maupun yang akan datang, oleh karena itulah para salaf bersungguh-sungguh dalam bulan Sya’ban sebagai persiapan untuk menyongsong Ramadhan.

Berkata Salamah bin Kuhail : dahulu bulan Sya’ban disebut bulan Para pembaca Al-Quran.
Dan ‘Amru bin Qois ketika telah memasuki bulan Sya’ban beliau menutup tokonya dan menghabiskan waktu membaca Al-Quran.

Berkata Abu Bakar Al-Balkhi : bulan Rojab adalan bulan menanam, dan bulan Sya’ban bulan menyirami tanaman, dan bulan Ramadhan bulan menuai hasil tanaman, dan beliau juga berkata: perumpamaan bulan Rojab seperti angin, dan bulan Sya’ban seperti awan, dan bulan Ramadhan seperti hujan, dan barangsiapa yang tidak menanam dibulan Rojab, dan tidak menyiraminya dibulan Sya’ban maka bagaimana dia ingin menuainya dibulan Ramadhan ?

Bulan Rojab telah berlalu dan apa yang telah kita lakukan dibulan Sya’ban jika kita mengharapkan Ramadhan, beginilah keadaan Nabi kita dan para salaful umat dalam bulan yang berkah ini, maka dimana posisi kita dibandingkan mereka?

“Allah melihat kepada semua makhluqnya pada malam nisfu Sya’ban , lalu Dia Mengampuni seluruh makhluqnya kecuali orang musyrik dan atau pembenci”

Dari Muadz bin Jabal radhiallahu anhu dari Nabi shallawahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Allah melihat kepada semua makhluqnya pada malam nisfu Sya’ban , lalu Dia Mengampuni seluruh makhluqnya kecuali orang musyrik dan atau pembenci” [Diriwayatkan oleh Thabrani dan Ibnu Hibban dan Haditsnya shahih].

Akhi fillah, ada empat pelajaran penting yang berkaitan dengan hadits keutamaan sya’ban :

1- Bahwa Allah mengampuni seluruh hambanya kecuali musyrik, maka periksalah diri kita masing-masing, barangkali masih ada kesyirikan walaupun sekecil apapun dia, jangan kita terlena danmengira kita bersih dan suci dari syirik, dan tidak mungkin terjerumus kedalamnya, sehingga kita merasa aman darinya, padahal Nabi Ibrahim yang merupakan Imam bagi orang-orang yang luruspun khuatir terjatuh dalam kesyirikan dirinya dan keturunannya, ketika beliau berdoa :” jauhkanlah diriku dan anak-anakku dari beribadah kepada berhala “  dan tidak ada yang merasa aman dari kesyirikan kecuali orang jahil, oleh karena itu Rasulullah shallawahu ‘alaihi wasallam bersabda :” yang paling aku takuti dari kalian adalah syirik yang terkecil .beliau ditanya ? apa itu? Beliau berkata : riya’”

2-Bahaya kebencian dan permusuhan diantara manusia,dan  Allah tidak mengampuni orang-orang yang saling bermusuhan,kebencian adalah:seorang muslim dengki kepada saudaranya karena benci kepadanya        disebabkan hawa nafsunya, bukan karena sebab yang syarie, maka ini dalam kebanyakan waktu dapat menghalangi ampunan Allah dan rahmatNya, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dengan sanad yang marfu’ : (( pada hari senin dan kamis dibuka pintu-pintu surge, lalu Allah mengampuni setiap hambanya yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun kecuali seseorang yang memiliki kebencian terhadap saudaranya, lalu Allah Berkata : lihatlah dua orang ini sampai berbaikan)).

Allah telah mensifati orang-orang yang beriman secara umum bahwa mereka selalu mengucapkan :
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”[ Al-Hasyr:10].

Berkata sebagaian salaf : amalan yang paling utama adalah lapang dada dan kedermawanan hati dan nasihat untuk umat dengan akhlaq inilah sebagian telah mencapai kedudukannya, dan tuan dari kaum adalah orang yang member maaf.
.
3- Sebagian orang menghidupkan malam nisfu Sya’ban, sebagian lagi dengan sholat berjamaah dan merayakannya dengan bermacam cara, barangkali sampai menghias rumah-rumah mereka, dan ini semua termasuk perkara-perkara yang baru yang tidak ada tuntunannya, tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallawahu ‘alaihi wasallam maupun para sahabat dan tabi’in, merekalah hujah bagi siapa yang menghendaki jalan yang lurus.

Dan riwayat yang shahih berkaitan dengan malam ini adalah sepeerti yang telah disampaikan bahwa kita hendaknya membersihkan tauhid kita dari perbuatan syirik, dan member maaf kepada orang yang kita benci dan musuhi. Adapun menghidupkannya dengan perkara yang tidak ada syariatnya maka merekalah yang jauh dari rahmat Allah dan sepantasnya mereka bertaubat kepada Allah.

4- Tidak boleh berpuasa setelah pertengahan Sya’ban dengan niat menyambut Ramadhan atau untuk kehati-hatian karena ini termasuk sikap ghuluw dalam agama sebagaimana sabda Rasulullah shallawahu ‘alaihi wasallam : (( apabila telah masuk pertengahan Sya’ban maka janganlah kalian berpuasa sampai Ramadhan)). Kecuali orang yang terbiasa puasa senin dan kamis.

Wallahu a’lam bishowaf. (Voa-Islam)

Kata pak ustad, bulan puasa adalah bulan penuh berkah dan ampunan. Semua amal baik dilipatgandakan. Selain itu, semua dosa diampuni. Maka, setelah bulan puasa kita menyambut bulan fitri yang berarti bersih suci. Yakni, kembalinya manusia seperti bayi “polos tanpa dosa”.

Namun, dosa-dosa yang dihapus oleh Allah hanya dosa yang hanya berhubungan dengan-Nya. Sedangkan dosa yang berkaitan dengan hak adami (sesama manusia) tidak begitu saja hilang dengan menjalankan puasa seperti halnya kita pernah berjanji dan belum dipenuhi atau mengambil hak milik orang lain.

Untuk itu, para pejabat dan politikus harus ingat, jika semua janji-janji dan korupsi tidak dituntaskan hari ini juga, seluruh masyarakat bangsa ini di akhirat nanti berbondong-bondong mengajukan tuntutan ke mahkamah agung akhirat. Semoga Ramadhan kali ini bisa memberikan setitik cahaya di hati para pejabat kita. Amin.

Rofiq Daroini, Santri Ponpes Al Muhibbin, Tambakberas, Jombang [Jawa Pos]

Oleh Ir. Syamsu Hilal

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (QS Al-Baqarah: 185).

Salim al-Hilali dan Ali Hasan Abdul Hamid dalam kitabnya “Shifatu Shoumu an-Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam” mengatakan bahwa penjelasan tentang Al-Qur`an yang diturunkan pada bulan Ramadhan, lalu dikaitkan dengan kalimat “fa man syahida minkumusy syahra falyashumhu” yang merupakan kewajiban berpuasa dengan huruf “fa” yang berfungsi sebagai alasan dan sebab, itu artinya dipilihnya Ramadhan menjadi bulan puasa adalah karena Al-Qur`an diturunkan pada bulan itu. Bahkan dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada nabi-nabi yang lain juga diturunkan pada bulan Ramadhan.

Ayat di atas juga memberikan pemahaman kepada kita bahwa puasa dan Al-Qur`an memiliki kaitan sangat erat. Keduanya akan menjadi penolong kita di akhirat kelak. Rasulullah Saw. bersabda,

“Puasa dan Al-Qur`an itu akan memberikan syafa’at kepada hamba di hari kiamat. Puasa akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dari makan dan syahwat, maka perkenankanlah aku memberikan syafa’at untuknya.’ Sedangkan Al-Qur`an akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka perkenankanlah aku memberikan syafa’at untuknya.’ Maka Allah Swt. memperkenankan keduanya memberikan syafa’at.” (HR Imam Ahmad dan Ath-Thabrani).

Dengan diwajibkannya puasa pada bulan Ramadhan, sedangkan pada bulan itu juga diturunkan Al-Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan sebagai furqan (pembeda antara yang hak dan yang bathil), maka Allah swt. menginginkan agar kewajiban puasa tidak dianggap sebagai beban. Al-Qur`an memuat ketentuan-ketentuan yang memudahkan pelaksanaan ibadah puasa. Sementara puasa adalah sarana untuk mencapai insan bertaqwa. “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (QS Al-Baqarah: 185).

Oleh karena itu, jika Allah swt. memberi taufik kepada kita untuk menyempurnakan ibadah Ramadhan kali ini dalam rangka menaati Allah, maka hal itu merupakan hidayah dan hadiah yang patut disyukuri.

“Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, supaya kalian bersyukur” (QS Al-Baqarah: 185).

Ketika amaliyah Ramadhan dapat kita sempurnakan dan dilanjutkan dengan ucapan serta sikap syukur kepada Allah, maka Allah swt. akan mengabulkan semua permintaan dan permohonan kita.

“Dan apabila hambaa-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS Al-Baqarah: 186).

Imam Hasan Al-Banna ketika mengulas ayat ini mengatakan bahwa Allah swt. amat dekat kepada hamba-Nya pada bulan Ramadhan. Tentang keistimewaan bulan Ramadhan di sisi Allah ditegaskan sendiri oleh Allah swt. melalui hadits qudsi, “Semua amalan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Ia adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasanya” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda, “Jika bulan Ramadhan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu, kemudian datang seorang penyeru dari sisi Allah Yang Maha Benar, ‘Wahai pencari kejahatan, berhentilah! Dan wahai pencari kebaikan, kemarilah!” (HR Bukhari dan Muslim).

Pintu-pintu surga dibuka karena manusia berbondong-bondong melaksanakan ketaatan, ibadah, dan taubat, sehingga jumlah pelakunya banyak. Setan-setan dibelenggu, karena manusia beralih kepada kebaikan, sehingga setan tidak mampu berbuat apa-apa. Hari-hari dan malam-malam Ramadhan merupakan masa-masa kemuliaan yang diberikan Allah swt. agar orang-orang yang berbuat baik menambah kebaikannya dan orang-orang yang berbuat jahat bertaubat dan mohon ampun kepada-Nya.

Ada ikatan hakikat dan fisik antara turunnya Al-Qur`an dengan Ramadhan. Ikatan ini adalah selain Allah menurunkan Al-Qur`an di bulan Ramadhan, maka di bulan ini pula Allah mewajibkan puasa. Karena puasa artinya menahan diri dari hawa nafsu dan syahwat. Ini merupakan kemenangan hakikat spiritual atas hakikat materi dalam diri manusia. Ini berarti jiwa, ruh, dan pemikiran manusia pada bulan Ramadhan akan menghindari tuntutan-tuntutan jasmani. Dalam kondisi seperti ini, ruh manusia berada di puncak kejernihannya, karena ia tidak disibukkan oleh syahwat dan hawa nafsu. Ketika itu ia dalam keadaan paling siap untuk memahami dan menerima ilmu dari Allah Swt. Karena itu, bagi Allah, membaca Al-Qur`an merupakan ibadah paling utama pada bulan Ramadhan yang mulia.

Sedikitnya ada empat kewajiban kita terhadap Al-Qur`an. Pertama, hendaknya kita memiliki keyakinan yang sungguh-sungguh dan kuat bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkan kita kecuali sistem sosial yang diambil dan bersumber dari Kitab Allah swt., yaitu Al-Qur`an. Sistem sosial apapun yang tidak mengacu atau tidak berlandaskan Al-Qur`an pasti bakal menuai kegagalan. Banyak orang yang mengatasi problema ekonomi dengan terapi tambal sulam. Sementara Al-Qur`an telah menggariskan aturan zakat, mengharamkan riba, mewajibkan kerja, melarang pemborosan, sekaligus menanamkan kasih sayang antarsesama manusia.

Kedua, kita wajib menjadikan Al-Qur`an sebagai sahabat karib, kawan bicara, dan guru. Kita harus mendengarkannya, membacanya, dan menghafalnya. Jangan sampai ada hari yang kita lalui sedangkan kita tidak menjalin hubungan dengan Allah Swt. melalui Al-Qur`an. Dengarkanlah Al-Qur`an agar kita mendapat rahmat Allah Swt., “Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (QS Al-A’raf: 204).

Hendaknya kita membaca Al-Qur`an secara rutin, meskipun sedikit. Sunnah mengajarkan kita agar mengkhatamkannya tidak lebih dari satu bulan dan tidak kurang dari satu hari. Umar bin Abdul Aziz apabila disibukkan oleh urusan kaum Muslimin, beliau mengambil Al-Qur`an dan membacanya walaupun hanya dua atau tiga ayat. Beliau berkata, “Agar saya tidak termasuk mereka yang menjadikan Al-Qur`an sebagai sesuatu yang ditinggalkan.” Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka ia memperoleh satu kebaikan, dan satu kebaikan berlipat sepuluh kali. Aku tidak katakan alif lam mim itu satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf” (HRTirmidzi).

Kita pun harus berupaya untuk menghafal Al-Qur`an agar tidak diidentikkan dengan rumah kumuh yang hampir roboh. “Orang yang tidak punya hafalan Al-Qur`an sedikit pun adalah seperti rumah kumuh yang hampir roboh” (HR Tirmidzi dari Ibnu ‘Abbas).

Ketiga, hendaknya kita merenung dan meresapinya. Jika hati kita belum dapat konsentrasi sampai pada tingkat menghayatinya, hendaklah kita berusaha untuk menghayatinya. Jangan sampai syetan memalingkan kita dari keindahan perenungan sehingga kita tidak dapat mereguk kenikmatan darinya.

Allah Swt. menjelaskan bahwa Al-Qur`an diturunkan untuk ditadabburi ayat-ayatnya dan dipahami maknanya. “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran” (QS Shaad: 29).

Ali bin Abi Thalib Ra. berkata, “Ketahuilah tidak ada kebaikan dalam ibadah kecuali dengan ilmu, tidak ada kebaikan dalam ilmu kecuali dengan pemahaman, dan tidak ada kebaikan dalam membaca Al-Qur`an kecuali dengan tadabbur.”

Keempat, kita wajib mengamalkan hukum-hukumnya lalu mendakwahkannya kepada orang lain. Inilah tujuan utama diturunkannya Al-Qur`an. “Dan Al Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat” (QS Al-An’am: 155).

Hukum-hukum Al-Qur`an menurut yang saya pahami terbagi menjadi dua. Pertama, hukum-hukum yang berkaitan dengan individu, seperti shalat, puasa, zakat, haji, taubat, dan hal-hak yang berkaitan dengan akhlaq Islam, seperti jujur, adil, komitmen kepada kebenaran, dan sebagainya. Kedua, hukum-hukum yang berkaitan dengan masyarakat atau penguasa. Ini adalah kewajiban negara, misalkan menegakkan hudud (sanksi hukum) dan masalah-masalah yang merupakan tugas negara dalam Islam.

Setiap Muslim harus berupaya untuk mengamalkan hukum-hukum yang bersifat individu, baik yang berupa ibadah maupun menerapkan nilai-nilai akhlaqul karimah. Jika nilai-nilai Al-Qur`an telah tegak di hati setiap Muslim, maka ia akan tegak di muka bumi.

Mumpung saat ini kita berada di bulan Ramadhan, marilah kita membaca Al-Qur`an, menghafal dan mentadabburi ayat-ayatnya, memahami maknanya, mengamalkannya, lalu mendakwahkannya kepada umat manusia. Ketika jiwa manusia kering, Al-Qur`an akan menyejukkannya. Ketika pikiran manusia kacau, Al-Qur`an akan menenteramkannya. Wallahu a’lam bishshawab.

Sumber : Adijm.multiply

Oleh Ustadz Abu Abdirrahman Al-Bugisi

Menyambut Ramadhan, banyak acara digelar kaum muslimin. Di antara acara tersebut ada yang telah menjadi tradisi yang “wajib” dilakukan meski syariat tidak pernah memerintahkan untuk membuat berbagai acara tertentu menyambut datangnya bulan mulia tersebut.
Puasa Ramadhan merupakan salah satu dari kewajiban puasa yang ditetapkan syariat yang ditujukan dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah k. Hukum puasa sendiri terbagi menjadi dua, yaitu puasa wajib dan puasa sunnah. Adapun puasa wajib terbagi menjadi 3: puasa Ramadhan, puasa kaffarah (puasa tebusan), dan puasa nadzar.

Keutamaan Bulan Ramadhan
Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Qur’an. Allah
k berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil).” (Al-Baqarah: 185)
Pada bulan ini para setan dibelenggu, pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka.
Rasulullah
n bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِقَتْ أَبْوَابُ النِّيْرَانِ وَصُفِدَتِ الشَّيَاطِيْنُ

“Bila datang bulan Ramadhan dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka dan dibelenggulah para setan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Pada bulan Ramadhan pula terdapat malam Lailatul Qadar. Allah
k berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ. لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ. تَنَزَّلُ الْمَلاَئِكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ. سَلاَمٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur’an pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan hingga terbit fajar.” (Al-Qadar: 1-5)

Penghapus Dosa
Ramadhan adalah bulan untuk menghapus dosa. Hal ini berdasar hadits Abu Hurairah
z bahwa Rasulullah n bersabda:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ لَمَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ

“Shalat lima waktu, dari Jum’at (yang satu) menuju Jum’at berikutnya, (dari) Ramadhan hingga Ramadhan (berikutnya) adalah penghapus dosa di antaranya, apabila ditinggalkan dosa-dosa besar.” (HR. Muslim)

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharap ridha Allah, akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah
z)

Rukun Berpuasa

a. Berniat sebelum munculnya fajar shadiq. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah n:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya.” (Muttafaqun ‘alaih dari hadits ‘Umar bin Al-Khaththab
z)
Juga hadits Hafshah
x, bersabda Rasulullah n:

مَنْ لَمْ يَجْمَعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ

“Barangsiapa yang tidak berniat berpuasa sebelum fajar maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Ahmad dan Ashabus Sunan)
Asy-Syaikh Muqbil
t menyatakan bahwa hadits ini mudhtharib (goncang) walaupun sebagian ulama menghasankannya.
Namun mereka mengatakan bahwa ini adalah pendapat Ibnu ‘Umar, Hafshah, ‘Aisyah
g, dan tidak ada yang menyelisihinya dari kalangan para shahabat.
Persyaratan berniat puasa sebelum fajar dikhususkan pada puasa yang hukumnya wajib, karena Rasulullah
n pernah datang kepada ‘Aisyah x pada selain bulan Ramadhan lalu bertanya: “Apakah kalian mempunyai makan siang? Jika tidak maka saya berpuasa.” (HR. Muslim)
Masalah ini dikuatkan pula dengan perbuatan Abud-Darda, Abu Thalhah, Abu Hurairah, Ibnu ‘Abbas dan Hudzaifah ibnul Yaman
g. Ini adalah pendapat jumhur.
Para ulama juga berpendapat bahwa persyaratan niat tersebut dilakukan pada setiap hari puasa karena malam Ramadhan memutuskan amalan puasa sehingga untuk mengamalkan kembali membutuhkan niat yang baru. Wallahu a’lam.
Berniat ini boleh dilakukan kapan saja baik di awal malam, pertengahannya maupun akhir. Ini pula yang dikuatkan oleh jumhur ulama1.
b. Menahan diri dari setiap perkara yang membatalkan puasa dimulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari.
Telah diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim hadits dari ‘Umar bin Al-Khaththab
z bahwa Rasulullah n bersabda:

إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَهُنَا وَأَدْرَكَ النَّهَارُ مِنْ هَهُنَا وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ

“Jika muncul malam dari arah sini (barat) dan hilangnya siang dari arah sini (timur) dan matahari telah terbenam, maka telah berbukalah orang yang berpuasa.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Puasa dimulai dengan munculnya fajar. Namun kita harus hati-hati karena terdapat dua jenis fajar, yaitu fajar kadzib dan fajar shadiq. Fajar kadzib ditandai dengan cahaya putih yang menjulang ke atas seperti ekor serigala. Bila fajar ini muncul masih diperbolehkan makan dan minum namun diharamkan shalat Shubuh karena belum masuk waktu.
Fajar yang kedua adalah fajar shadiq yang ditandai dengan cahaya merah yang menyebar di atas lembah dan bukit, menyebar hingga ke lorong-lorong rumah. Fajar inilah yang menjadi tanda dimulainya seseorang menahan makan, minum dan yang semisalnya serta diperbolehkan shalat Shubuh.
Hal ini berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas
c bahwa Rasulullah n bersabda:

الْفَجْرُ فَجْرَانِ فَأَمَّا اْلأَوَّلُ فَإِنَّهُ لاَ يُحْرِمُ الطَّعَامَ وَلاَ يُحِلُّ الصَّلاَةَ وَأَمَّا الثَّانِي فَإِنَّهُ يُحْرِمُ الطَّعَامَ وَيُحِلُّ الصَّلاَةَ

“Fajar itu ada dua, yang pertama tidak diharamkan makan dan tidak dihalalkan shalat (Shubuh). Adapun yang kedua (fajar) adalah yang diharamkan makan (pada waktu tersebut) dan dihalalkan shalat.” (HR. Ibnu Khuzaimah, 1/304, Al-Hakim, 1/304, dan Al-Baihaqi, 1/377)
Namun para ulama menghukumi riwayat ini mauquf (hanya perkataan Ibnu ‘Abbas
c dan bukan sabda Nabi n). Di antara mereka adalah Al-Baihaqi, Ad-Daruquthni dalam Sunan-nya (2/165), Abu Dawud dalam Marasil-nya (1/123), dan Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Tarikh-nya (3/58). Juga diriwayatkan dari Tsauban dengan sanad yang mursal. Sementara diriwayatkan juga dari hadits Jabir dengan sanad yang lemah.
Wallahu a’lam. 

1 Cukup dengan hati dan tidak dilafadzkan dan makan sahurnya seseorang sudah menunjukkan dia punya niat berpuasa, red

Siapa yang Diwajibkan Berpuasa?

Orang yang wajib menjalankan puasa Ramadhan memiliki syarat-syarat tertentu. Telah sepakat para ulama bahwa puasa diwajibkan atas seorang muslim yang berakal, baligh, sehat, mukim, dan bila ia seorang wanita maka harus bersih dari haidh dan nifas.
Sementara itu tidak ada kewajiban puasa terhadap orang kafir, orang gila, anak kecil, orang sakit, musafir, wanita haidh dan nifas, orang tua yang lemah serta wanita hamil dan wanita menyusui.
Bila ada orang kafir yang berpuasa, karena puasa adalah ibadah di dalam Islam maka tidak diterima amalan seseorang kecuali bila dia menjadi seorang muslim dan ini disepakati oleh para ulama.
Adapun orang gila, ia tidak wajib berpuasa karena tidak terkena beban beramal. Hal ini berdasarkan hadits ‘Ali bin Abi Thalib
z bahwa Rasulullah n bersabda:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ: عَنِ الْمَجْنُوْنِ حَتَّى يَفِيْقَ وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقَظَ وَعَنِ الصَّبِي حَتَّى يَحْتَلِمَ

“Diangkat pena (tidak dicatat) dari 3 golongan: orang gila sampai dia sadarkan diri, orang yang tidur hingga dia bangun dan anak kecil hingga dia baligh.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Meski anak kecil tidak memiliki kewajiban berpuasa sebagaimana dijelaskan hadits di atas, namun sepantasnya bagi orang tua atau wali yang mengasuh seorang anak agar menganjurkan puasa kepadanya supaya terbiasa sejak kecil sesuai kesanggupannya.
Sebuah hadits diriwayatkan Ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz
x:
“Utusan Rasulullah
n mengumumkan di pagi hari ‘Asyura agar siapa di antara kalian yang berpuasa maka hendaklah dia menyempurnakannya dan siapa yang telah makan maka jangan lagi dia makan pada sisa harinya. Dan kami berpuasa setelah itu dan kami mempuasakan kepada anak-anak kecil kami. Dan kami ke masjid lalu kami buatkan mereka mainan dari wol, maka jika salah seorang mereka menangis karena (ingin) makan, kamipun memberikan (mainan tersebut) padanya hingga mendekati buka puasa.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Sementara itu, bagi orang-orang lanjut usia yang sudah lemah (jompo), orang sakit yang tidak diharapkan sembuh, dan orang yang memiliki pekerjaan berat yang menyebabkan tidak mampu berpuasa dan tidak mendapatkan cara lain untuk memperoleh rizki kecuali apa yang dia lakukan dari amalan tersebut, maka bagi mereka diberi keringanan untuk tidak berpuasa namun wajib membayar fidyah yaitu memberi makan setiap hari satu orang miskin.
Berkata Ibnu Abbas
c:
“Diberikan keringanan bagi orang yang sudah tua untuk tidak berpuasa dan memberi makan setiap hari kepada seorang miskin dan tidak ada qadha atasnya.” (HR. Ad-Daruquthni dan Al-Hakim dan dishahihkan oleh keduanya)
Anas bin Malik
z tatkala sudah tidak sanggup berpuasa maka beliau memanggil 30 orang miskin lalu (memberikan pada mereka makan) sampai mereka kenyang. (HR. Ad-Daruquthni 2/207 dan Abu Ya’la dalam Musnad-nya 7/204 dengan sanad yang shahih. Lihat Shifat Shaum An-Nabi, hal. 60)
Orang-orang yang diberi keringanan untuk tidak berpuasa namun wajib atas mereka menggantinya di hari yang lain adalah musafir, dan orang yang sakit yang masih diharap kesembuhannya yang apabila dia berpuasa menyebabkan kekhawatiran sakitnya bertambah parah atau lama sembuhnya.
Allah
k berfirman:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيْضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan lalu ia berbuka, maka wajib baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain.” (Al-Baqarah: 184)
Demikian pula bagi wanita hamil dan menyusui yang khawatir terhadap janinnya atau anaknya bila dia berpuasa, wajib baginya meng-qadha puasanya dan bukan membayar fidyah menurut pendapat yang paling kuat dari pendapat para ulama.
Hal ini berdasar hadits Anas bin Malik Al-Ka’bi
z, bersabda Rasulullah n:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ نِصْفَ الصَّلاَةِ وَالصَّوْمَ وَعَنِ الْحُبْلَى وَالْمُرْضِعِ

“Sesungguhnya Allah telah meletakkan setengah shalat dan puasa bagi orang musafir dan (demikian pula) bagi wanita menyusui dan yang hamil.” (HR. An-Nasai, 4/180-181, Ibnu Khuzaimah, 3/268, Al-Baihaqi, 3/154, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani
t)
Yang tidak wajib berpuasa namun wajib meng-qadha (menggantinya) di hari lain adalah wanita haidh dan nifas.
Telah terjadi kesepakatan di antara fuqaha bahwa wajib atas keduanya untuk berbuka dan diharamkan berpuasa. Jika mereka berpuasa, maka dia telah melakukan amalan yang bathil dan wajib meng-qadha.
Di antara dalil atas hal ini adalah hadits Aisyah
x:

كَانَ يُصِيْبُنَا ذَلِكَ فَنُأْمَرُ بِقَضَاءِ الصِّيَامِ وَلاَ نُأْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ

“Adalah kami mengalami haidh lalu kamipun diperintahkan untuk meng-qadha puasa dan tidak diperintahkan meng-qadha shalat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Wallohu a’lam

(asysyariah.com/print.php?id_online=295)

Pimpinan Pusat (PP) Persis dan PP Muhammadiyah menetapkan awal puasa, 1 Ramadhan 1429 H, bertepatan dengan Senin (1/9). Sedangkan NU masih menunggu rukyatul hilal (melihat bulan baru) meski kemungkinan besar juga sama dengan dua ormas tersebut.

“PP Persis melalui Dewan Hisab dan Rukyat menetapkan awal shaum atau puasa, 1 Ramadhan 1429 H, bertepatan dengan Senin (1/9),” kata Ketua Umum PP Persis, KH. Shiddieq Amin, Jumat (8/8).

Dalam surat No. 1428/JJ-C.3/2008 tertanggal 12 Juli 2008 PP Persis menyatakan ijtimak (konjungsi) akhir Syaban jatuh pada Minggu (31/8) pukul 3.04 WIB. “Ketinggian hilal waktu Magrib pada Minggu (31/8) di Palabuhanratu, Sukabumi, mencapai 5 derajat 9 menit 45 detik, sedangkan di Jayapura, Papua, mencapai 3 derajat 36 menit dan 18 detik,” ucapnya.

PP Muhammadiyah sesuai hisab hakiki wujudul hilal juga menetapkan 1 Ramadan bertepatan dengan Senin (1/9). PP Muhammadiyah mengeluarkan Maklumat No. 04/MLM/I.0/E/2008 tanggal 26 Juli 2008. Maklumat disertai juga tausiah menyambut datangnya Ramadhan.

Maklumat itu menyebutkan ijtimak menjelang Ramadhan terjadi pada Minggu (31/8) Pukul 02.59 WIB. Tinggi hilal pada saat terbenam matahari di Yogyakarta plus 5 derajat 27 menit 57 detik dan di seluruh Indonesia pada saat matahari terbenam hilal di atas ufuk.

Sedangkan ahli falak NU Kota Bandung, K.H. Maftuh Kholil mengatakan, awal Ramadan 1429 H dimungkinkan adanya perbedaan meski melihat ijtimak kemungkinan besar akan sama. “Masalahnya perbedaan metode dalam penentuan awal bulan dalam kalender Hijriah antara ormas-ormas Islam,” katanya.

Berdasarkan metode hisab, bulan sudah pasti akan wujud pada Minggu petang (31/8) sehingga awal Ramadan akan jatuh pada Senin. “Namun, belum tentu hilal atau bulan sabit bisa dirukyat atau dilihat pada Minggu-nya sehingga sebagian umat Islam bisa jadi akan mengawali puasa pada Selasa (2/9),” ucapnya.

Merujuk kepada data almanak PB NU yang diterbitkan oleh Lajnah Falakiyah menyebutkan, ijtimak atau konjungsi pada awal Ramadan akan jatuh pada Minggu (31/8) pukul 2.57 WIB. “Dengan berpegangan kepada almanak PB NU, kemungkinan besar awal puasa pada Senin (1/9) karena usia bulan sudah di atas 8 jam tepatnya 13 jam dari konjungsi pukul 2.57 WIB sampai Minggu petang pukul 18.00 WIB,” katanya. (Pikiran-Rakyat)