NU Jatim Prediksi Idul Fitri 20 September

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur memprediksikan Idul Fitri 1430 Hijriah akan jatuh pada 20 September. “Prediksi itu terjadi karena tinggi hilal berkisar 5-8 derajat dan tergolong imkanur rukyat,” kata koordinator Tim Rukyat PWNU Jatim H Sholeh Hayat kepada ANTARA di Surabaya, Senin.

Namun, kata Wakil Ketua PWNU Jatim itu, PWNU Jatim akan tetap menurunkan tim rukyatul hilal pada sembilan lokasi, karena Nabi Muhammad SAW memerintahkan berpuasa dan berbuka dengan rukyatul hilal (melihat hilal atau rembulan usia muda sebagai penanda pergantian kalender).

“Idul Fitri tahun ini sangat dimungkinkan bersamaan antara NU dan Muhammadiyah, karena indikasi ke arah itu cukup kuat sekali, sehingga pemerintah mungkin akan mengikuti,” katanya.

Indikasi kuat itu didukung hisab (perhitungan matematis) ulama NU, Muhammadiyah, ahli hisab independen yang mencapai imkanur rukyat. “Imkanur rukyat adalah kesepakatan Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura tentang ketinggian minimal untuk melihat hilal yakni minimal 2 derajat,” katanya.

Padahal, katanya, hasil hisab tahun ini menunjukkan bahwa ijtimak (pertemuan rembulan dan bumi dalam satu garis untuk menandai awal kalender) terkait akhir Ramadhan terjadi pada hari ke-29 puasa atau 19 September.

“Saat ijtimak itu, tinggi hilal pada hari Sabtu (19 September 2009) setelah ghurub (matahari terbenam) antara 5-8 derajat, sehingga sudah masuk kategori imkanur rukyat,” katanya.

Oleh karena itu, katanya, PWNU Jatim memperkirakan hari raya Idul Fitri akan bersamaan waktunya antara NU, Muhammadiyah, dan pemerintah pada 20 September.

“Tapi, PWNU Jatim akan tetap menurunkan tim rukyatul hilal ke sembilan lokasi pada Sabtu (19/9) sore. Insya-Allah, rukyat itu berhasil sesuai prediksi kami,” katanya.

Ia menambahkan sembilan lokasi rukyat PWNU Jatim antara lain Pantai Serang (Blitar), Bukit Condro (Gresik), Tanjungkodok (Lamongan), Pantai Ambet (Pamekasan), Pantai Nambangan (Kenjeran, Surabaya), dan Pantai Gebang (Bangkalan).

Sebelumnya (20/8), tim rukyatul hilal PWNU Jatim gagal merukyat hilal saat penentuan awal Ramadhan, sehingga PWNU Jatim menggenapkan umur bulan Sya’ban menjadi 30 hari, sehingga awal Ramadhan 1430 H jatuh pada 22 Agustus atau sama dengan pemerintah dan Muhammadiyah.

(Republika)

Oleh Arif Munandar Riswanto
Alumnus Universitas Al-Azhar Mesir dan Staf Pengajar Pesantren PERSIS No 99 Rancabango, Garut

Salah satu senjata yang sering digunakan oleh orang-orang yang hendak melakukan liberalisasi terhadap ajaran Islam adalah dengan menggunakan terminologi tafsir resmi dan tafsir tidak resmi. Sepanjang sepengetahuan saya, sampai dengan saat ini para liberalis tidak pernah secara definitif membuat definisi utuh tentang tafsir resmi ( at-tafsir ar-rasmi) dan tafsir tidak resmi (at-tafsir ghair ar-rasmi), sebagaimana selama ini sering dilakukan oleh sarjana Muslim ketika membuat satu definisi tentang sebuah cabang ilmu.

Jadi, jangankan karya tafsir yang ilmiah dan utuh, sampai dengan sekarang definisi kedua varian tafsir tersebut tidak pernah ada. Dalam pembahasan ilmu-ilmu tentang Alquran yang kita kenal, para sarjana Muslim membagi tafsir Alquran ke dalam empat varian. Pertama, dilihat dari hasilnya. Tafsir jenis ini terbagi ke dalam empat bagian: tafsir yang bisa diketahui dari bahasa Arab, tafsir yang pasti diketahui oleh semua orang, tafsir yang hanya diketahui oleh ulama, tafsir yang hanya diketahui oleh Allah.

Kedua, dilihat dari kutipan baik berasal dari Alquran, Sunah, pendapat para sahabat, tabi’in, atau logika. Tafsir jenis ini terbagi ke dalam tiga bagian: tafsir dengan riwayat (tafsir bi ar-riwayah/tafsir bi al-ma’tsur), tafsir dengan logika ( tafsir bi ad-dirayah/bi al-ra’), tafsir isyarat ( tafsir al-isyari).Ketiga, dilihat dari penjelasan kata-kata Alquran. Tafsir jenis ini terbagi ke dalam dua bagian: global (ijmali), deskriptif ( tahlili).

Keempat, dilihat dari tema yang ada di dalam Alquran. Tafsir jenis ini terbagi ke dalam dua bagian: umum (‘am), dan tematik ( maudhu’i). Kita bisa melihat bahwa metodologi yang selama ini diletakkan oleh para sarjana Muslim selama beberapa abad adalah metodologi yang ilmiah. Ia tidak serampangan bicara omong kosong tentang Alquran dengan tidak menggunakan landasan metodologi yang jelas.

Dengan demikian, metodologi para sarjana Muslim yang sering dituduh sebagai ulama konservatif dan fundamentalis tersebut adalah metodologi yang lebih ilmiah dan gamblang daripada wacana kaum liberalis yang sampai dengan saat sekarang belum mampu membuat sebuah metodologi yang jelas. Kritik Haidar Bagir terhadap ketidakjelasan metodologi paham liberal Islam adalah kritikan yang sangat tepat sekali. Terlebih lagi, sampai dengan saat sekarang kaum liberalis belum mampu menghasilkan satu pun karya ilmiah dalam bidang ilmu-ilmu keislaman, baik fikih, hadis, tafsir, kalam, ushul fiqih, maupun bahasa.

Hal yang mereka lakukan hanya melemparkan wacana hampa yang tidak berakar kepada sebuah dasar metologi dan ilmu jelas. Atau mungkin, sesuai dengan falsafah liberal yang harus bebas sebebas-bebasnya, hal tersebut membuktikan bahwa kaum liberalis tidak mau diatur oleh apa pun, termasuk sebuah metodologi ilmu yang jelas. Jika melihat hal ini, kaum fundamentalis dan konservatif justru lebih ilmiah daripada kaum liberalis.

Perang terminologi
Tema tafsir resmi dan tafsir tidak resmi bukan hanya sekadar pesan kosong yang tidak ada artinya. Tetapi, hal tersebut menunjukkan sebuah fenomena modern, yaitu perang terminologi ( harb al-musthalahat).

Sebagai sebuah bentuk penjajahan pemikiran dari sebuah peradaban kuat terhadap peradaban lemah, tema tersebut digunakan untuk menjauhkan sebuah peradaban dari akar identitasnya (hawiyyah). Termasuk umat Islam yang hendak dijauhkan dari akar agama Islam yang sahih.Selain tafsir resmi dan tafsir tidak resmi, masih banyak terminologi lain yang jika diterapkan kepada tradisi keilmuan dan peradaban Islam akan menyebabkan banyak masalah. Sebagai contoh terminologi fundamentalisme, konservatifisme, liberalisme, sekularisme, ekslusifisme, inklusifisme, pluralisme, terorisme, Islam ,mainstream globalisasi, dekonstruksi, dan feminisme.

Karena terminologi tersebut lahir dan berkembang di sebuah milieu peradaban yang menganut falsafah dan cara pandang tertentu, maka terminologi-terminologi tersebut tidak bebas nilai. Dengan demikian, jika terminologi-terminologi tersebut diterapkan pada sebuah peradaban yang menganut falsafah dan cara pandang yang berbeda dengan tempat asalnya, ia akan menyebabkan banyak masalah. Terminologi-terminologi tersebut mungkin bisa diterapkan, tetapi harus dengan jalan paksa, perang, hegemoni, dan penjajahan. Tentu saja, jika hal tersebut terjadi, ia akan menggerus sebuah peradaban yang memiliki cara pandang tertentu untuk mengikuti peradaban lain dengan jalan paksa.

Kasus ini tidak hanya terjadi pada peradaban Islam yang sedang berhadapan dengan peradaban lain, tetapi terjadi juga bagi seluruh peradaban umat manusia. Ketika pada zaman dahulu para sarjana Muslim bersentuhan dengan karya-karya asing yang berasal dari peradaban Yunani, Persia, India, dan Cina, mereka tidak mengambil falsafah dan ajaran yang jelas-jelas bertentangan dengan akidah, syariat, dan akhlak Islam.

Yang mereka ambil hanya hal yang tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam. Oleh karena itu, pada zaman dahulu peradaban Islam bisa menjadi maju, tetapi tidak harus menjadi peradaban Yunani, Persia, India, dan Cina. Bahkan, hal yang banyak mereka ambil dari peradaban asing adalah hal yang sangat dibutuhkan untuk kemajuan peradaban Islam ketika itu. Terutama hal yang bebas nilai, seperti kedokteran, matematika, fisika, dan kimia. Pada zaman dahulu hal-hal bebas nilai tersebut termasuk ke dalam varian ilmu filsafat.

Hal yang sama terjadi juga dengan peradaban Barat yang banyak mengambil manfaat dari peradaban Islam. Ketika sedang bersentuhan dan berguru pada peradaban Islam, peradaban Barat tidak harus menjadi Islam. Seluruh ajaran Islam yang bertentangan dengan falsafah Barat tidak diambil oleh peradaban Barat. Barat pun bisa menjadi modern seperti sekarang ini tanpa harus menjadi Islam.Oleh karena itu, para sarjana Muslim liberal harus belajar pada sarjana Muslim dahulu. Bahkan, mereka pun harus belajar kepada sarjana Barat.

Tidak ada sebuah peradaban di muka bumi ini yang maju dengan jalan meniru segala hal yang ada pada peradaban asing. Hal yang dilakukan oleh sebuah peradaban ketika ingin maju adalah dengan cara membuang nilai-nilai peradaban asing, bukan menjustifikasi nilai-nilai asing agar sesuai dengan nilai-nilai peradaban sendiri. Justifikasi sama dengan sikap taklid yang diharamkan oleh Islam. Tidak aneh empat belas abad yang lalu Islam telah mengharamkan taklid dalam segala bentuk. Taklid tidak hanya berlaku kepada ulama Muslim yang telah meninggal, tetapi terjadi juga kepada orang-orang yang silau terhadap peradaban asing.

Seruan-seruan Thaha Husein, Ali Abdur Raziq, Nashr Hamid Abu Zaid, dan lain sebagainya agar kita meniru segala falsafah Barat adalah seruan yang tidak akan membawa kemajuan kepada umat Islam. Seruan tersebut hanya akan membuat peradaban Islam menjadi bingung dan tidak memiliki akar identitas yang jelas. Sejarah telah memberikan pelajaran kepada kita bahwa seruan tersebut tidak akan pernah memberikan nilai positif sedikit pun. Kemudharatan dari seruan tersebut lebih banyak daripada manfaatnya.

Ikhtisar:
– Selain tafsir resmi dan tafsir tidak resmi, masih banyak terminologi lain yang jika diterapkan pada tradisi keilmuan dan peradaban Islam akan menyebabkan banyak masalah.
– Metodologi sarjana Muslim/ulama konservatif dan fundamentalis lebih ilmiah daripada wacana kaum liberalis. (Republika)

Anda sangat lelah. Bahkan di meja kerja pun, Anda bisa tertidur lelap. Sebaliknya, saat Anda berbaring di tempat tidur pada malam hari justru sulit untuk memejamkan mata. Akhirnya Anda terbangun lebih cepat dan tidak mendapatkan tidur cukup.

Hal itu sangat umum dihadapi orang yang sulit tidur. Sehingga seringkali menjadi alasan untuk mengonsumsi obat tidur dan obat lainnya untuk mengatasi insomnia, kebiasaan ngorok, berjalan selagi tidur dan sebagainya.

Masalah tidur yang paling umum biasa disebut insomnia. Menurut National Institutes of Health masalah yang berkaitan dengan tidur tersebut menganggu sekitar 10% dari penduduk Amerika Serikat.

Sekitar setengah dari angka tersebut, akar penyebabnya adalah masalah penyakit termasuk dari sisi psikologis atau kebiasaan tertentu seperti minum kopi.

Ada beberapa hal perlu Anda ketahui mengenai tidur untuk membantu istirahat lebih baik, antara lain:

1. Tidur 7-8 jam per hari sudah mencukupi.

Sebagian besar orang berpikir bahwa kehilangan waktu tidur adalah hal yang biasa. Lembaga non profit National Sleep Foundation mengatakan, rata-rata kebutuhan penduduk Amerika Serikat tidur selama tujuh jam setiap malam dan hal itu tidak cukup. Sedangkan, studi dari University of Maryland
tahun ini mengungkap, kebiasaan penduduk untuk tidur sekitar delapan jam sangat mencukupi.

2. Kebutuhan tidur semakin sedikit seiring usia.

Manusia akan mati jika tidak tidur sama sekali. Para peneliti mengatakan, saat tidur maka tubuh akan memperbaiki proses biologis tubuh yang penting dan menyegarkan pikiran. Tahun 2007 lalu, World Health Organization mengungkap, giliran kerja pada malah hari dapat memicu permasalahan tidur. Mungkin menjadi penyebab kanker. Sebaliknya, penelitian terbaru mengungkap, semakin tua seseorang maka akan membutuhkan tidur yang makin sedikit.

3. Pilih kebiasaan tidur yang paling sesuai.

Tidur malam dengan beberapa sesi pendek atau satu waktu pendek, dibandingkan waktu tidur panjang adalah pilihan. Jenis tidur yang biasa disebut polyphasic sleep biasa terjadi pada bayi, orangtua dan beberapa jenis binatang. Untuk sebagian orang dewasa, mungkin lebih memungkinkan jika tidur secukupnya pada malam hari kemudian beristirahat beberapa saat di siang hari. Tes EEG pada otak manusia menunjukkan, kebutuhan untuk tidur pada dua waktu yaitu malam dan pada siang hari.

4. Kurang tidur mempengaruhi fokus Anda.

Bayi lumba-lumba tidur selama satu bulans sejak kelahirannya. Meskipun manusia tidak direkomendasikan seperti itu, namun jika seseorang tidak tidur selama satu hari maka kondisi tubuh dan emosinya akan terganggu serta kehilangan kemampuan untuk fokus dan mengambil keputusan. Bahkan dapat menjurus pada kecelakaan saat menjalankan mesin atau kendaraan.

Pada dasarnya ada beberapa hal yang dapat dilakukan agar Anda dapat tidur nyenyak di malam hari, yaitu:

* Berangkat tidur pada jam yang sama setiap malam.
* Atur tempat tidur Anda senyaman mungkin agar dapat memperoleh tidur cukup minimal 7 jam.
* Hindari kafein, makanan berbumbu tajam, alkohol atau obat -obatan tertentu yang dapat mempengaruhi waktu tidur, minimal enam jam sebelum tidur.
* Lakukan rutinitas tertentu yang akan membuat Anda mengantuk sebelum naik ke tempat tidur.
* Matikan lampu atau cahaya yang mungkin mengganggu.
* Hindari kebiasaan menonton televisi, membaca atau makan di tempat tidur.
* Berolahraga secara teratur, namun hindari terlalu dekat dengan waktu tidur. (livescience.com/Republika)

Sebagian besar dokter di Indonesia belum merekomendasikan penggunaan obat tradisional karena belum memenuhi standar akademik ilmiah.

Obat-obatan herbal atau yang dikenal sebagai obat tradisional seperti jamu, sudah digunakan bangsa Indonesia sejak ratusan tahun silam. Namun, hingga saat ini penelitian yang bersifat menguji efek dan efek samping obat herbal terhadap manusia masih minim.

Pemerintah pun dituntut lebih berperan dalam penelitian obat tradisional dan mengembangkan kerja sama dengan stakeholder> lainnya. ”Pemerintah seharusnya mendorong lomba penelitian khusus jamu atau obat herbal dan mendorong pihak swasta untuk ikut berperan mendanai penelitian bidang ini,” ujar guru besar dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Wahyuning Ramelan dalam seminar ‘Obat Herbal dalam Pembangunan Kesehatan’, Senin (11/8).

Menurut Wahyuning, ia sangat menginginkan agar di Indonesia obat tradisional menjadi obat primadona yang diketahui secara akademik ilmiah dan diketahui semua efek farmako-logiknya, efek sampingnya, dan berbagai cara masuk yang efektif ke tubuh. ”Juga, nantinya digunakan oleh mayoritas dokter dalam pengobatan dan diproduksi memenuhi ketentuan,” jelasnya.

Selain itu, kata Wahyuning, pemerintah juga perlu memberi peralatan untuk penelitian obat tradisional pada lembaga pendidikan tinggi atau lembaga penelitian. Tentang peran lembaga pendidikan tinggi, Prof Sidik dari Universitas Padjajaran, juga mengharapkan perguruan tinggi mendorong fakultas meneliti efek farmakologik obat tradisional. ”Obat herbal ini bisa menjadi potensi besar bangsa bila diketahui secara akademik ilmiah semua efek farmako-logiknya, efek sampingnya dan berbagai cara masuk yang efektif ke tubuh,” tegasnya.

Sidik mengungkapkan, penelitian obat herbal sangat penting tapi hasil penelitian itu juga dapat dikemas menjadi produk berorientasi paten dan pasar. ”Ini tak mudah karena dibutuhkan kerja sama lintas disiplin, antara dokter yang akan menyarankan penggunaan obat herbal, peneliti seperti ahli antropolog, botani, budi daya, kimia, farmasi, farmakologi, klinisi, dan industri obat,” cetusnya.

Penelitian dan pengembangan obat herbal, kata Sidik, memiliki manfaat luas. Antara lain, pengembangan ilmiah, kemampuan akademik, nilai tambah, dan nilai ekonomi, dan meningkatkan kualitas perguruan tinggi. Penelitian juga dapat dilakukan ke arah pengembangan, sediaan empirik, sediaan berdasarkan referensi hasil penelitian dan sediaan fitofarmaka, senyawa murni, derivatisasi, dan sintetik. ”Agar suatu penelitian dan pengembangan tidak duplikasi dan dapat menghemat biaya, waktu, dan tenaga hendaknya terlebih dahulu menelusuri paten yang berkaitan langsung dengan yang diteliti,” ingatnya. Sidik mengakui, tidak adanya kerja sama dan integrasi antara peneliti dari universitas, industri, dan pemerintah itulah yang selama ini masih menjadi kendala obat herbal dapat diterima secara medis.

Sementara itu, farmakolog dari UI, Amir Syarif menyatakan, keragaman tumbuhan darat dan laut sudah diolah dan dipasarkan. Tetapi, hampir sebagian besar dokter di Indonesia belum merekomendasikan penggunaan obat tradisional karena belum memenuhi standar akademik ilmiah (evidence based medicine).”Di Indonesia, jumlah tanaman obat itu beraneka macam, tetapi sebagian besar dokter belum merekomendasikannya karena harus ada standardisasi bahan yang terkandung dalam obat herbal, itu syarat eevidence based medicin” ujarnya.

Standardisasi, kata Amir, diperlukan untuk mengetahui hubungan antara dosis dengan efek obat herbal. ”Jika tidak distandardisasi maka dosisnya tidak bisa dipastikan, demikian pula efeknya,” tegasnya.Shierly dari Direktorat Obat Asli Indonesia Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), menyatakan, prospek obat herbal di Indonesia di masa mendatang akan cerah. Syaratnya, bahan-bahan herbal ini telah memenuhi syarat evidence based medicine sehingga menjadi jenis obat yang diminati masyarakat karena harganya terjangkau dan bahannya mudah didapat.Menurut Shierly, hal yang paling mendasar yaitu standard operational procedur (SOP) dalam penanaman tumbuhan obat herbal. ”Karena, kandungan logam berat bisa saja terdapat dalam tanaman obat karena jenis tanah yang sudah tercemar. Ini yang harus diperhatikan, bagaimana standardisasi itu diperlukan untuk menjaga kualitas obat herbal,” jelasnya. (Republika)

Kandungan minyak di wilayah itu mencapai 90 miliar barel. Selain itu, terdapat kandungan gas alam sekitar 1,670 triliun kubik.

Krisis minyak yang terus melanda dunia memaksa para ilmuwan untuk melacak keberadaan sumber-sumber minyak baru. Tak hanya di darat dan dasar laut, para ilmuwan juga melakukan pemantauan kemungkinan kandungan minyak di wilayah yang diliputi es di Antartika.

Menurut data dari badan survei geologi Amerika Serikat (USGS), kandungan minyak di wilayah berdaratan es itu mencapai 90 miliar barel. Tidak hanya minyak bumi, kandungan gas alam pun terdapat di dasar kutub dengan jumlah sekitar 1,670 triliun kubik.

USGS menduga, kandungan minyak bumi di kutub tersebut dapat dieksplorasi dan dapat digunakan untuk hajat hidup manusia selama tiga tahun lamanya. Sebanyak 90 miliar barel minyak tersebut dapat dieksplorasi sehingga mampu menyediakan 86,4 juta barel per hari selama tiga tahun.

”Data seperti ini harus diketahui sebelum memutuskan bersedia atau tidak menggunakan energi minyak atau gas. Bahkan, data ini pun cukup membantu menghindari punahnya spesies langka di sana dan mempertahankan kelangsungan hidup di bumi,” ujar Direktur USGS Mark Myers, seperti dikutip kantor berita AFP, Kamis (24/7).

Laporan tentang dugaan kandungan minyak tersebut dikeluarkan USGS bersamaan dengan perseteruan antara Rusia, Kanada, Denmark, Norwegia, dan Amerika Serikat (AS) yang berniat mengambil seluruh sumber energi di wilayah tersebut. Daerah kutub diprediksi sebagai wilayah dengan kandungan sumber daya alam yang cukup potensial. Apalagi jika dampak pemanasan global mampu melelehkan semua es di wilayah tersebut sehingga wilayah kutub dapat diakses dengan mudah.

Mungkin kondsi ini bisa dianggap sebagai sisi positif dari pemanasan global. Jika dulu perusahaan minyak, misalnya, harus berpikir berkali-kali sebelum menanam rig di lepas pantai Laut Barents yang beku, kini mereka malah bisa menjelajah lebih jauh ke utara. Mereka seolah tersihir prediksi USGS. Mencair dan menipisnya lapisan es kutub juga membuka ‘kotak harta’ lainnya seperti rute pintas pelayaran.

Para perusahaan operator kapal bisa bersorak karena untuk jalur Tokyo-London, misalnya, mereka tidak perlu lagi memutar seperti biasanya. Es yang mencair membuat mereka bisa mengambil jalan yang lebih pendek 40 persen.

Para ilmuwan memprediksi, wilayah kutub memiliki sekitar 13 persen dari total minyak bumi dunia. Kandungan tersebut dapat ditemukan di tiga wilayah geografis kutub yaitu Alaska dengan kandungan sekitar 30 miliar barel, Ameriasia Basin dengan kandungan 9,7 miliar barel, dan East Greenland Rift Basins sekira 8,9 miliar barel. Selain itu wilayah kutub juga dipercaya memiliki sekitar 30 persen kandungan gas alam dunia dan 20 persen kandungan gas alam cair.

Perusahaan minyak dan energi dikabarkan juga telah menemukan 400 titik kandungan minyak dan gas di sekitar kutub. Dari 400 titik tersebut kemungkinan besar akan dihasilkan sekitar 40 miliar barel minyak, 1100 triliun kubik gas dan 8,5 triliun barel gas alam cair.

Namun demikian, di lain pihak, lembaga nonprofit Clean Air Watch menolak aksi pencarian sumber sebagai tambahan energi tiga tahun ke depan tersebut. Menurut Clean Air Watch, habitat asli kutub dipastikan akan punah seiring dengan eksplorasi yang dilakukan pemerintah negara-negara tersebut dalam mencari minyak.

President Clean Air Watch Frank O’Donnell. menyatakan, wilayah kutub memang potensial tapi harga yang harus dibayar untuk mengubah lingkungan ini akibat eksplorasi minyak akan sangat mahal. ”Belum lagi perubahan pola lingkungan yang akan terjadi seiring dengan maraknya perusahaan industri yang akan mengebor minyak di sana,” tegasnya. eye

Ikhtisar:
– Para ilmuwan memprediksi, wilayah kutub memiliki sekira 13 persen dari total minyak bumi dunia.
– Wilayah kutub juga dipercaya memiliki sekitar 30 persen kandungan gas alam dunia dan 20 persen kandungan gas alam cair.
– Perusahaan minyak dan energi dikabarkan juga telah menemukan 400 titik kandungan minyak dan gas di sekitar kutub. [Republika]

Pemerintah dinilai tidak tegas terhadap Ahmadiyah.
Ketua DPR, Agung Laksono, meminta aparat tak hanya bertindak tegas dalam kasus bentrokan massa antara Front Pembela Islam (FPI) dan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) di Monumen Nasional (Monas), tapi juga berlaku adil.

Para pelaku kerusuhan Monas harus dihukum, tapi masyarakat jangan melupakan akar masalah, yakni Ahmadiyah yang hingga kini belum dibubarkan. ”Ini penyebab utamanya menyangkut Ahmadiyah. Harus segera diselesaikan Ahmadiyahnya, sementara pelaku kriminal diproses menurut hukum,” kata Agung, Selasa (3/6).

Masyarakat maupun politisi diingatkan agar tak emosional menyikapi bentrokan pada Ahad (1/6) lalu itu. Agung meminta politisi jangan hanya bisa berkomentar, tapi juga aksi nyata menyelesaikan masalah. Sedangkan masyarakat diminta tidak membalas teror dengan teror.

Akar masalah insiden Monas, diakui Ketua FPDIP, Tjahjo Kumolo, adalah ketidaktegaskan pemerintah menyikapi keberadaan Ahmadiyah. Pembiaran Ahmadiyah memicu keresahan karena surat keputusan bersama (SKB) soal Ahmadiyah terus diulur-ulur.

”Sayangnya, komitmen itu tak pernah muncul. Harusnya pemerintah tegas dan tidak ragu-ragu,” katanya. Ketua Umum PBNU, Hasyim Muzadi, menilai baik FPI maupun AKKBB salah. FPI salah karena melakukan kekerasan di luar prosedur hukum. AKKBB salah karena menempatkan Ahmadiyah sebagai kebebasan berkeyakinan dan beragama.

”Sebenarnya, masalah Ahmadiyah bukan soal kebebasan beragama dan berkeyakinan, tapi penodaan agama tertentu, dalam hal ini Islam,” katanya. Hasyim menyesalkan sikap pemerintah yang tak tegas terhadap Ahmadiyah. ”Pemerintah lebih banyak berwacana daripada melakukan tindakan preventif dan represif.”

Menanggapi beberapa pihak yang berupaya menggiring NU terlibat dalam kasus Monas, Hasyim mengimbau agar tidak menyeret NU dengan melakukan aksi unjuk kekuatan, bahkan bentrok fisik dengan massa FPI. Seluruh warga NU diminta tetap tenang dan tak terprovokasi adu domba. ”Ini tidak boleh terjadi dan harus dicegah. Kita ingin menyelesaikan masalah Monas, bukan memperluas,” katanya.

Di beberapa daerah, sejumlah massa yang tergabung dalam badan otonom NU, seperti GP Anshor, mengancam membubarkan paksa FPI. Usai demo di Mapolwiltabes Surabaya, Ketua GP Anshor Surabaya, Ali Suparto, meminta polisi membubarkan FPI.

”Kalau tidak, kami akan bergerak sendiri,” ancam Ali, kemarin. Di Tulungagung, Jatim, massa Barisan Anshor Serbaguna (Banser) siap dikerahkan membubarkan FPI. Di Majalengka, Jabar, ratusan massa dari sejumlah ormas, di antaranya GP Anshor dan Ikatan Pemuda NU, menuntut hal serupa.

Menyikapi memanasnya situasi, pimpinan pondok pesantren Al-Mizan, Jatiwangi, Majalengka, Maman Imanulhaq Faqieh, meminta semua pihak meredam emosi. Menurut Maman yang menjadi salah satu korban kasus Monas, pesantren mengajarkan damai dan menghargai rasionalitas serta perbedaan.

”Kami akan meredam massa di bawah,” kata Maman. Kekerasan, tegasnya, harus dihentikan kepada siapa pun dan atas nama siapa saja.

Kedubes AS
Kedubes AS di Indonesia mengeluarkan siaran pers yang mengutuk aksi kekerasan oleh FPI. AS menilai, aksi itu berdampak serius bagi kebebasan beragama dan dapat menimbulkan masalah keamanan. Namun, pernyataan Kedubes AS itu dinilai anggota Fraksi PKS di DPR, Soeripto, sebagai bentuk campur tangan AS dalam masalah dalam negeri. ”Itu tidak etis. Bahasa kasarnya intervensi. Seakan-akan pemerintah kita yang lemah,” katanya..(Republika)

Penyelesaian yang diusulkan untuk mengubah dampak pemanasan global dengan menyemprotkan partikel sulfat ke dalam stratosfer bumi justru berpotensi membuat keadaan jauh lebih buruk. Pasalnya, usaha mendinginkan bumi dengan menciptakan sejenis penghalang sinar matahari itu akan membuat lubang ozon kian membesar. ”Studi kami memperlihatkan bahwa jika sulfur masuk ke atmosfer, kita akan menghadapi penipisan ozon yang lebih besar dibandingkan sebelumnya,” ujar Simone Tilmes dari National Center for Atmospheric Research di Boulder, Colodaro.

Studi yang telah dipublikasikan di jurnal Science edisi terbaru itu berawal dari ide untuk menyuntikkan sulfur. Ide ini diusulkan oleh sejumlah ilmuwan cuaca sebagai bagian penyelesaian yang potensial bagi pemanasan global. Tilmes mengungkapkan, gagasan tersebut dimaksudkan untuk meniru dampak letusan besar gunung berapi. Letusan semacam itu di waktu lalu telah mengirim asap sulfur penghalang sinar matahari ke lapisan atas atmosfer yang dikenal dengan nama stratosfer sehingga mendinginkan temperatur bumi. Ozon di stratosfer menyediakan lapisan pelindung jauh di atas permukaan bumi dan mencegah radiasi berbahaya sinar matahari.

Lapisan ozon di Kutub Selatan telah menipis terus-menerus, sehingga menciptakan lubang musiman di atas Kutub Selatan. ”Kami mengetahui bahwa partikel akan menghasilkan pendinginan planet ini,” ujar Tilmes. Namun demikian, kata Tilmes, pendinginan semacam itu dapat menimbulkan dampak yang tak diinginkan. Ia menambahkan, penyuntikan sulfat dapat bereaksi dengan gas klorin di wilayah kutub yang dingin, sehingga memicu reaksi kimia yang akan menambah tipis lapisan ozon di atmosfer.

Tilmes dan rekannya mengkaji secara khusus dampak dari rencana untuk memperbaiki lubang di lapisan ozon di atas wilayah kutub. Mereka menyimpulkan bahwa penyuntikan sulfat secara rutin selama masa beberapa dasawarsa mendatang akan merusak antara seperempat hingga tiga perempat lapisan ozon di atas Kutub Utara.

Di Kutub Selatan, rancangan penyuntikan sulfat akan menunda pemulihan lubang ozon selama 30 hingga 70 tahun, atau setidaknya hingga dasawarsa terakhir abad ini. Tilmes dan rekannya menggunakan pengukuran melalui komputer. ”Tapi, temuan ini tak menutup pintu bagi gagasan pendinginan buatan planet ini dengan cara itu. Kami hanya mengibarkan bendera peringatan,” jelasnya. (Republika)