Menara MasjidUmat Islam harus mempertimbangkan untuk menarik uang mereka dari rekening bank Swiss sebagai respon atas pelarangan pembangunan menara di Swiss, seru Menteri Luar Negeri Turki. “Saya yakin seruan ini akan mendorong saudara-saudara kita dari negara-negara Muslim yang menyimpan uang dan investasi di bank Swiss untuk meninjau kembali keputusan mereka,” kata Egemen Bagis, dikutip harian Turky Zaman.

Bagis merupakan Kepala Diplolat dari Turkey’s European Union accession serta menteri urusan luar negeri Eropa.

“Pada tahun 2008, ketika bank-bank seluruh dunia berjatuhan, tidak ada bank di Turki yang terkena dampaknya, dan pintu sistem perbangkan Turki terbuka lebar bagi mereka,” kata Bagis

Presiden Turki Abdullah Gull pada hari Selasa mengatakan bahwa reperendum di Swiss bertentangan dengan hak-hak asasi dan kebebabasan manusia.

Komentar-komentarnya digemakan oleh perdana mentri Recep Tayyip Erdogan yang menambahkan bahwa itu merupakan keputusan buruk bagi Swiss untuk menyelenggarakan referndum.

Pada akhir pekan lalu, mayoritas pemilih Swiss mendukung sebuah pelarangan pembangunan menara di negara tersebut.

Lebih dari 57 persen pemilih serta 22 dari 26 wilayah Swiss memilih mendukung pelarangan, meskipun pemerintah menentang gerakan tersebut, dan mengatakan itu akan merugikan citra negara Swiss. [aa/aki]

Sumber : Voa-Islam

Iklan

Demam Facebook terjadi di semua penjuru dunia. Tidak terkecuali di negara-negara Arab. Pekan lalu, sebuah kajian dan penelitian menyatakan bahwa saat ini generasi muda di tanah Arab telah berubah menjadi generasi Facebook.Penelitian ini dilakukan oleh Islam Hijazi, sebuah badan peneliti di Fakultas Ilmu Pengetahuan Politik di Universitas Kairo, dan juga International Centre for Future and Strategic Study in Cairo. Penelitian ini menunjukan bahwa generasi muda Arab telah berhasil menjadi generasi baru yang tidak popular, dari sebuah masyakarat sipil yang berbasis pada realitas, menjadi generasi internet yang kebablasan.

Penelitian ini menyebutkan bahwa Facebook adalah platform dasar bagi Mossad—agen rahasia Israel—untuk merekrut generasi muda Arab sebagai penentang pemerintah dan tanah airnya. Islam Hijazi mengatakan bahwa Facebook adalah sebuah cara baru penerapan demokrasi dalam pikiran anak muda Arab yang tak bisa dikendalikan lagi. Dengan cara bertukar pikiran dan ide, generasi muda Arab hidup dalam atmosfer demokrasi digital.

Saat ini seperti kita tahu, pengguna Facebook terus meningkat. Pekan lalu, penggunanya sudah mencapai jumlah 250 juta di seluruh dunia. Di Arab sendiri, Facebook sudah menjadi sangat fenomenal, dengan kesadaran yang sangat rendah dari para pemakainya.

Menurut Islam Hejazi saat ini para pengguna Facebook disulap menjadi para aktivis virtual. Mereka tidak merepresentasikan kenyataan dan permasalahan dunia yang sebenarnya.

Misalnya saja, ketika ada sebuah kejadian yang menimpa umat Islam, maka mereka cukup dengan menyimpan bela sungkawa, kecaman, atau gagasannya di dinding Facebook, dan sudah, mereka merasa aman akan kewajiban lain, tak ada lagi yang mereka lakukan selanjutnya. Dalam arti lain, menurut Islam Hejazi, para penguna Facebook di Arab yang berusia muda hidup dalam dunia yang penuh kepalsuan.

Pemerintah negara-negara Arab sudah merasakan ancaman ini. Generasi muda Arab tengah beralih dari generasi yang disekam menjadi generasi penuh kebebasan yang semu. Beberapa tahun ke depan, kemungkinan generasi muda Arab ini menjadi generasi yang tak punya skil nyata dalam kehidupan mereka, dan mereka layak disebut generasi Facebook. (sa/dlhyt/eramuslim)

Jika Al-Quran, Kalamullah yang suci dan sekaligus pegangan hidup kaum Muslimin digugat, maka  unsur-unsur agama Islam lain akan ikut runtuh

Oleh  Lalu Nurul Bayanil Huda

Al-Quran adalah kitab suci yang disakralkan dan dijadikan pegangan hidup oleh umat Islam. Al-Quran adalah kalam Ilahi, diturunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui malaikat Jibril bagi umat manusia di dunia ini. Kaum Muslimin meyakini bahwa Al-Quran, dari ayat pertama hingga terakhir, merupakan kata-kata Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw secara verbatim (lafzon) maupun maknanya (ma’nan), dan meraka meyakini bahwa Al-Quran yang ada saat ini adalah sama dengan yang ada pada zaman Nabi Muhammad saw.

Karena merupakan kalam Allah swt, maka tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak mensucikannya. Begitu juga halnya dengan ajaran-ajaran, perintah, serta larangan yang terdapat di dalamnya, harus di pegang teguh dan dilaksanakan oleh semua umat manusia. Dengan kata lain Al-Quran merupakan Kitab suci yang harus dijadikan pegangan hidup umat manusia.

Di antara kitab-kitab suci yang Allah swt turunkan kepada nabi-nabi-Nya, Al-Quran lebih mempunyai keutamaan. Pertama karena Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, yang merupakan rasul Allah terakhir yang diturunkan kepada semua umat. Maka Al-Quran pun dengan sendirinya lebih bersifat universal, yaitu diturunkan kepada semua umat manusia dan tidak terbatas waktu hingga hari akhir.

Berbeda dengan kitab Injil dan Taurat yang diturunkan kepada umat tertentu karena diterima oleh nabi yang Allah swt utus untuk golongan tertentu saja. Sehingga dengan datangnya nabi berikut, maka doktrin yang terdapat di dalamnya secara otomatis tergantikan dengan doktrin baru.

Kedua, kandungan Al-Quran tidak hanya berisikan doktrin tentang Aqidah dan Syari’at saja, tetapi juga berisikan ilmu-ilmu kauniyah seperti sosial, ekonomi, ketatanegaraan, matematika, hukum, dan lain sebagainya. Selanjutnya dari segi bahasa, tentu saja Al-Quran tidak ada tandingannya. Maka tidak heran Allah swt “menantang” umat manusia untuk bisa membuat satu ayat serupa dengan kalam Allah yang termaktub dalam Al-Quran. Demikian betapa Al-Quran mempunyai banyak keutamaan melebihi kitab-kitab Allah swt yang diturunkan kepada nabi-nabi lainnya.

Dalam perjalanan sejarah Al-Quran, sejak awal diturunkannya hingga saat ini, gangguan-gangguan terhadap eksistensi Al-Quran tidak henti-hentinya terjadi. Pada awal turunnya ayat-ayat Al-Quran, masayrakat Arab saat itu sangat menyukai karya-karya sastra dan syair. Namun dengan datangnya Al-Quran, para maestro sastra saat itu tak mampu menandingi kualitas sastra Al-Quran, sehingga Al-Quran dianggap sebagai sihir.

Sepeninggal Nabi Muhammad saw, mulailah lawan-lawan Islam menyerang dengan berbagai cara. Salah satunya Musyailamah Al-Kadzab dengan membuat Al-Quran palsu, dengan ayat-ayat tandingannya. Dan gangguan terhadap Al-Quran terus berlanjut hingga era modern. Tercatat Gustav Flugel dengan mushaf “Corani Textus Arabicus” (1384), Theodor Noldeke dengan Geshichte des Qor’anDie Suro-aramaismshe Lesart des Koran: Ein Beitrag zur Entschlusselung der Koransprache” (Cara membaca Al-Quran dengan bahasa Syiro-aramaik: sebuah sumbangsih upaya pemecahan kesukaran memahami bahasa Al-Quran). Ini semua menunjukkan betapa gangguan terhadap eksistensi Al-Quran terus-menerus dilakukan oleh musuh-musuh Islam. ((1860), Arthur Jeffery dengan Al-Quran Edisi Kritis (1937), dan kasus terakhir, yaitu kasus Luxenberg dan bukunya “

Ironisnya, sakralitas Al-Quran pun berusaha dihilangkan oleh kalangan umat Islam sendiri. Sebut saja Dr. Muhammad Arkoun yang menyebutkan bahwa Al-Quran yang suci hanyalah Al-Qur-an pada masa Nabi Muhammad saw. Sedangkan Al-Quran setelah masa Rasulullah sudah tidak sakral lagi, tak lebih dari buku-buku karangan manusia biasa.

Demikian juga dengan konsep Al-Quran Nashr Hamid Abu Zaid, seorang pemikir asal Mesir. Ia mengatakan bahwa Al-Quran adalah produk budaya karena diturunkan selama dua puluh tiga tahun dalam realitas budaya Arab saat itu, serta ayat-ayat Al-Quran adalah bahasa Nabi Muhammad saw karena Allah hanya mengirim makna Al-Quran melalui Jibril.

Dengan statemen ini justru secara tidak langsung mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang pembohong karena telah menyatakan bahwa Al-Quran merupakan Kalmullah Lafzon wa Ma’nan. Belum lagi tuduhan bahwa Al-Quran yang kita kenal sekarang hanyalah Al-Quran yang sudah tidak asli lagi karena menjadi korban hegemoni Quraisy pada saat kodifikasi pada masa kholifah Ustman bin Affan.

Dan justru kalangan kampus di tanah air, gencar “mempromosikan” isu ini. Sebagaimana contohnya tulisan-tulisan yang terdapat pada Jurnal Justisia terbitan IAIN Wali Songo, Semarang. Ini menunjukkan sungguh ironis, Al-Qu’an yang suci justru justru menjadi obyek “serangan”, yang dilakukan tidak saja oleh para orientalis tetapi juga dari kalangan umat Islam sendiri.

Diskursus ini merupakan indikasi bahwa kaum muslim di dunia sedang memasuki babak baru yang sangat dahsyat. Belum pernah terjadi sebelumnya, bagaimana pemikir atau bahkan Ulama misionaris, Kristen, Yahudi, serta para orientalis beramai-ramai menggugat serta menyerang Al-Quran secara bersama-sama. Jika Al-Quran yang merupakan Kalamullah yang suci dan sekaligus pegangan hidup kaum muslimin saja digugat, maka tentu saja unsur-unsur agama, Islam seperti Hadits, Ijma’, Sahabat, otoritas ulama-ulama pun diruntuhkan.

Serangan ini dilakukan mereka dengan sangat serius dan terorganisir, dan tentunya dengan biaya yang tidak sedikit pula, serta energi yang sangat besar. Sudah ratusan tahun hal ini disiapkan. Para penyerang itu menguasai ilmi-ilmu tentang Al-Quran, bahasa Arab, bahkan Inggris, Hebrew, Syirak, dan mungkin bahasa-bahasa lainnya. Tak hanya itu manuskrip-manuskrip sudah terboyong ke Barat. Jelas nampak bagaimana saat ini kita sedang memasuki era baru yang lebih keras dalam menjawab tantangan Al-Quran.

Menghadapi ini semua tentunya, tidak cukup hanya dengan berfatwa ataupun dengan berdemonstrasi saja. Tetapi ini merupakan aksi intelektual yang harus dilawan dengan intelektual juga. Sebagaimana saat ini sejumlah institusi Islam juga turut menyebarkan pemahaman yang meruntuhkan fondasi agama. Di sini diberikan pendidikan kepada pemuda-pemuda Islam untuk menguasai “jurus-jurus” serangan terhadap Al-Quran dari berbagai sudut.

Tentu saja serangan dari dalam tubuh Islam, akan membawa dampak yang jauh lebih dahsyat terhadap umat. Tapi sayangnya, dalam hal intelektualitas ini justru kita sangat merasa kurang. Ini karena krikulum yang ada belum mampu menjawab tantangan era ini. Terbukti dengan  ribuan sarjana Islam tercetak setiap tahun, tapi kemampuan yang dimiliki masih sangat jauh dari harapan. Dengan demikian pola, bentuk, dan metodologi Pendidikan Agama Islam harus segera dirubah dan dirancang agar tanggung jawab akan pesan “dibumi manapun engkau berpijak, maka kamu bertanggung jawab akan keIslamannya” dapat terlaksana.[www.hidayatullah.com]

Penulis adalah Peserta Kaderisasi Ulama (PKU) Institut Studi Islam Darussalam Gontor. Tulisan ini dimuat di http://www.hidayatullah.com

Membicarakan masalah pemimpin adalah sesuatu yang tidak pernah habis. Tidak terkecuali masa lalu, sekarang dan akan datang. Pembicaraan mengenai pemimpin banyak dibahas dan dianalisa dari berbagai sudut pandang yang bermacam-macam. Dalam kesempatan ini kita akan membicarakan tentang pemimpin dalam perspektif Islam.

Sebagai seorang muslim, sudah barang tentu, Islam menjadi sumber acuan aktifitas, motifasi, inspirasi dan landasan spiritual dalam menggerakkan roda kehidupan sosialnya. Karena muara seluruh perjuangan/jihad seorang pemimpin atau masyarakat dalam Islam tidak ditujukan kepada tujuan rendah seperti popularitas, akumulasi ekonomi, prestise, kedudukan sosial, tetapi untuk memperjuangkan kedaulatan Allah di bumi dengan mengamalkan syari’at-Nya. Agar tercipta susana rahmat yang pernuh keadaban dan akhlakul karimah dalam kehidupan sosial.

Keharusan Adanya Pemimpin

Dalam Islam adanya pemimpin/amir/imam/khalifah dalam suatu komunitas masyarakat adalah sesuatu yang wajib. Bahkan bagaimana Islam memandang penting pemimpin dapat dilihat dalam hadits  riwayat Abu Dawud dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW bersabda: ”Apabila keluar tiga orang untuk bersafar, maka angkat satu di antaranya sebagai pemimpin.”

Hampir semua madzhab dalam Islam bersepakat bahwa keberadaan khalifah adalah wajib hukumnya. Umat Islam tidak bisa hidup tanpa adanya pemimpin. Bahkan Ibnu Taymiyyah mengatakan: “penguasa yang dzalim adalah lebih baik daripada tidak ada pemimpin sama sekali.” dan ada juga pendapat mengatakan, “enam puluh tahun bersama pemimpin yang jahat lebih baik daripada satu malam tanpa pemimpin. “

Imam al-Mawardi dalam kitabnya al-Ahkam as-Sulthaniyyah mengatakan keharusan adanya pemimpin merupakan kewajiban kolektif umat Islam. Artinya apabila orang yang berhak telah mengangkat atau memangku jabatan khalifah maka gugurlah hukum wajib bagi muslimin yang lain, sebaliknya jika tidak ada seorang pun yang menjalankan tugas itu maka seluruh kaum muslimin berdosa.

Sebagian ulama berpendapat bahwa dosa tersebut hanya menimpa kepada dua golongan saja. Pertama, ahlu ra’yi yaitu para cendekiawan sehingga mereka berhasil mengangkat seorang pemimpin. Kedua, mereka yang memiliki syarat-syarat sebagai pemimpin, sampai terpilih satu di antara mereka. Sementara pendapat Syaikh Abdul Qadir Audah, (seorang hakim yang gugur dihukum gantung oleh penguasa dzalim Gamel abd Nasher), mengatakan dosa mengenai seluruh umat, karena seluruh kaum muslimin menjadi sasaran hukum syari’at. Selanjutnya beliau juga mengatakan bahwa hukum tentang keharusan adanya khalifah ada dua yaitu wajib syar’i dan wajib ’aqli.

Wajib syar’i didasarkan atas enam hal: Pertama, khilafah adalah sunnah fi’liyyah yang telah digariskan oleh rasul dengan amal perbuatan, sehingga kewajiban kaum muslimin untuk melaksanakannya.

Kedua, kesepakatan para sahabat. Setelah Rasulullah SAW meninggal para sahabat sepakat mengangkat penggantinya, Abu Bakar, baru kemudian mereka memakamkan jasad Nabi SAW.

Ketiga, pelaksanaan hukum syari’at secara formal tergantung pada khalifah. Hukum syari’at tidak memiliki kekuatan apa-apa jika tidak dilaksanakan, oleh karenanya dibutuhkan pemimpin untuk melaksanakannya. Hal ini sesuai dengan kaidah ushul fiqh Maa laa yatimmul wajibu illah bihi fahuwa wajibun (apabila tugas awajib tidak sempurna kecuali suautu pekerjaan, maka melaksanakan pekerjaan itu menjadi wajib hukumnya).

Keempat, nash al-Qur’an dan Sunnah menunjukkan wajibnya mengangkat imam bagi jama’ah. (QS. An-Nisa’: 59)

Kelima, umat Islam hanya satu. Kaum muslimin wajib bersatu dibawah bendera al-Qur’an dan haram bercerai berai. (lihat QS. Ali Imran: 103&105, dan QS. Al-Anfal: 46)

Keenam, keharusan satu negara. Sebagai satu umat dan satu negara mereka hanya boleh mengangkat satu pemimpin.

Adapun wajib ’Aqli yaitu rakyat mustahil dapat hidup sendiri-sendiri, mereka harus berkumpul dan bersatu, baik dalam keadaan damai apalagi dalam keadaan darurat. Dalam kenyataannya sering terjadi saling lomba, bersaing dan saling mengalahkan satu dengan yang lain  untuk merebut penghidupan sehingga menimbulkan permusuhan dan pertumpahan darah. Untuk mencegah agar permusuhan dan pertumpahan darah tidak terjadi diperlukan seorang pemimpin untuk menyelesaikannya.

Syarat-Syarat Pemimpin

Imam al-Mawardi menetapkan tujuh syarat bagi seorang khalifah atau pemimpin muslim, yaitu:

1. Adil
2. Berilmu sampai taraf mujtahid
3. Sehat jasmani
4. Cerdas
5. Memiliki kemampuan untuk memimpin
6. Berani berkorbnan untuk mempertahankan kehormatan dan berjihad dengan musuh
7. Keturunan Quraisy

Ibnu Khaldun menetapkan syarat khalifah hanya empat, yaitu:

1. Berilmu sampai taraf mujtahid
2. Adil
3. Kifayah atau memiliki kesanggupan bersiasah (berpolitik)
4. Sehat jasmani dan rohani

Abdul Qadir Audah menetapkan syarat khalifah delapan syarat, yaitu:

1. Islam. Diharamkan mengangkat pemimpin seorang kafir (QS. Ali Imran: 28) karena seorang kepala negara yang kafir tidak mungkin mau dan bisa melaksanakan hukum syariah yang menjadi tugas khalifah. Begitu juga diharamkan mengangkat orang kafir sebagai hakim karena di tangan hakim kekuasaan hukum ditegakkan (QS. An-Nisa’: 141)
2. Pria. Wanita menurut tabiatnya tidak cakap memimpin negara, karena pekerjaan itu membutuhkan kerja keras seperti memimpin pasukan dan menyelesaikan berbagai persoalan.
3. Taklif. Yaitu sudah dewasa, di  mana jabatan khalifah adalah penguasaan atas orang lain.
4. Ilmu Pengetahuan. Yaitu ahli dalam hukum Islam sampai bila mungkin mencapai taraf mujtahid. Bahkan dituntut mengetahui hukum internasional, traktat, dan perdagangan internasional, dan lain-lain.
5. Adil. Yaitu menghiasi diri dengan sifat-sifat kemuliaan dan akhlakul karimah, terhindar dari sifat fasik, maksiat, keji dan munkar.
6. Kemampuan dan Kecakapan. Yaitu di samping mampu mengarahkan umat dia juga mampu membimbing umat ke jalan yang benar sesuai dengan Syariat Islam.
7. Sehat Jasmani dan Rohani. Yaitu khalifah tidak boleh buta, tuli, bisu, dan cacat.
8. keturunan Quraisy. Di kalangan ulama terjadi perbedaan pendapat tentang hal ini. Karena hadits yang mengatakan imam dari Quraisy selama mereka memerintah dengan adil. Ditujukan untuk maksud terbatas, yaitu waktu dan tempat terbatas. Jadi tidak berlaku secara umum.

Cara Pengangkatan Khalifah

Pengangkatan khalifah dianggap sah apabila melalui cara-cara di bawah ini:

1. Melalui bay’at, yaitu pengangkatan dengan pernyataan taat setia yang dilakukan oleh orang-orang cerdik (ulama) yang terkemuka atau mereka yang tergabung dalam Ahlul Halli Wal Aqdi. seperti Abu abakar ketika diangkat melalui khalifah.
2. Melalui istikhlaf, yaitu pengangkatan dengan cara penetapan dari khalifah atau pemimpin yang masih hidup terhadap penggantinya bila ia mati. Dalam hal ini dia boleh menetapkan satu orang atau beberapa orang kemudian mereka bermusyawarah untuk menetapkan satu di antara mereka menjadi khalifah. Sistem pengangkatan seperti ini sering disebut dengan syura.
3. Melalui istilak, yaitu menguasai dan mengalahkan, maksudnya melalukan perebutan kekuasaan dengan kekuatan.

Tiga cara di atas menurut ulama fiqh dipandang sah. Segala tindakan dan keputusannya yang sesuai dengan syari’at Islam dipandang sah guna menjaga kemaslahatan umat. Bila tidak, ini akan berakibat kepada kesulitan dan kekacauan kehidupan umat.

Bila cara-cara di atas dipandang sah maka bila khalifah memerintahkan sesuatu yang sunnah, mentaatinya menjadinya wajib. Bila yang diperintahkannya sesuatu yang mubah maka melaksanakannya menjadi wajib. Dan bila melarang yang mubah mengerjakannya menjadi haram. Kewajiban taat kepada khalifah dalam hal-hal yang tidak melanggar hukum Allah SWT. (La Tha’ata li makhlukin fi ma’shiyatil Khaliq)

Bagaimana Kondisi Hari Ini?

Adalah sulit mengatakan kondisi hari ini telah sesuai dengan cara-cara yang ditetapkan oleh syariat. Sejak barat menawarkan sistem pemerintahan sekuler, umat Islam sedunia hampir tidak punya pilihan lain kecuali mengikuti sistem tersebut. Padahal sistem pemerintahan Islam bila dibandingkan dengan sistem pemerintahan sekuler ibarat siang dengan malam. Satu dengan yang lain sangat berbeda secara hakikat, tujuan, orientasi, dan mekanismenya.

Islam memandang hakikat kekuasaan merupakan perpanjangan dari kedaulatan Allah SWT. Sedangkan sekular mengatakan kedaulatan di tangan rakyat. Tujuan negara menurut Islam dalam rangka menegakkan hukum-hukum Allah dan khalifah sebagai penjaganya untuk mewujudkan kemaslahatan dunia dan akhirat. Sedangkan pandangan sekuler, negara bertujuan untuk mencapai kesejahteraan manusia yang digali dari pikiran, adat kebiasaan yang tumbuh dan hidup di masyarakat. Begitu juga orientasi kepemimpinan dalam Islam merupakan amanah dari Allah untuk mengatur dan membimbing manusia ke jalan yang hak. Sedangkan kepemimpinan sekuler merupakan amanah rakyat yang berfungsi untuk mengatur kehidupan agar tertib terlepas dari ikatan akidah maupun moral dari penguasa. Selanjutnya mekanismenya juga sangat jauh berbeda. Bila dalam Islam pengangkatan pemimpin tidak dilakukan melalui cara pemilihan langsung dari rakyat, karena khalifah atau pemimpin sifatnya sebagai pengganti Nabi SAW dalam memimpin umat, dan mekanismenya dilakukan melalui lembaga syura atau Ahlul Halli wal ’Aqdi, karenanya tidak layak diserahkan bulat-bulat kepada rakyat yang kurang memiliki pengetahuan akan hukum-hukum syari’at. Sedangkan kepemimpinan sekuler dilakukan melalui pemilihan langsung rakyat untuk menentukan pemimpinnya. Sistem ini membutuhkan biaya besar untuk tampil sebagai pucuk pimpinan bahkan harus suara rakyat melalui segala cara agar rakyat mendukungnya. Ada yang mengatakan cara yang ditempuh pemimpin dalam sistem demokrasi sama dengan berjudi. Setiap calon berkompetisi memasang taruhan guna menarik simpati rakyat. Bila nasib mujur dengan didukung oleh tim sukses maka ia akan memperoleh jabatan untuk memimpin rakyatnya. Bila tidak menang/sial maka kerugian akan ditanggungnya begitu juga para pendukungnya.

Inilah gambaran bahwa Islam memiliki konsep kepemimpinan yang jelas, terang, dan dapat dipertanggungjawabkan tidak hanya kepada rakyat, tapi lebih lagi kepada Allah SWT.

Penutup

Islam telah membimbing kita bahwa kekuasaan yang kita miliki adalah bagian dari kekuasaanNya. Rusaknya tatanan masyarakat, pokoknya, bukan disebabkan oleh masyarakat itu sendiri, tapi ditentukan oleh pemimpinnya. Betapa pimpinan/ khalifah adala dzillullah fil ardl (bayangan Allah di bumi). Seharusnya pemimpin menyadari tugas yang diembannya begitu berat. Tetapi, kenyataannya banyak yang tetap berlomba meraihnya dengan seribu macam cara. Menggunakan berbagai muslihat untuk meyakinkan kepada para pemilih bahwa dirinya layak dan memiliki syarat untuk dipilih jadi pemimpin.

Siapa yang mendapatkan amanah kepemimpinan dari memintanya maka Allah tidak akan membantunya. Sebaliknya siapa yang mendapatkan amanah kepemimpinan tanpa ia memintanya maka Allah akan membantunya. Tapi tentunya pemimpin yang memiliki tujuan untuk menegakkan dienullah di muka bumi ini.

Sumber : voa-islam.com

Sekarang, setiap lima tahun sekali berlangsung pemilihan anggota legislative, presiden, dan wakil presiden, gubernur, bupati dan walikota. Setiap kali pemilihan berlangsung, umat menginginkan dan mengharapkan perbaikan, dan akan lahirnya pemimpin baru, yang nantinya dapat menjaga, melindungi, mengayomi, dan mensejahterakan, serta memberikan rasa keadilan. Harapan umat itu tidak salah. Mereka yang sudah memberikan suaranya itu, tak lain, merupakan pemberian sebuah bentuk kontrak sosial dan adanya kepercayaan antara umat dengan yang dipilihnya.

Tetapi, sekarang di sebagian kalangan umat, mulai nampak adanya rasa ketidak percayaan, skeptisme, dan mungkin pasrah. Karena, setiap kali berlangsung pemilihan, dan lahir pemimpin baru, kenyataannya apa yang diinginkan, diharapkan, serta dicita-citakan umat secara kolektif, selalu tidak terwujud. Kehidupan tidak berubah. Terkadang malah mengalami kemunduran kehidupan dalam berbagai sektor kehidupan.

Selalu realitas tidak sesuai dengan  diangankan yang sifatnya ideal. Maka, sebagai bentuk protes dari umat ini, sangat jelas melalui gerakan ‘disebodient’ (pembangkangan), yang ditunjukkan dalam pemilu lalu, di mana jumlah orang yang tidak ikut memilih jauh lebih besar, dibandingkan dengan partai pemenang.

Tentu, umat sudah paham, sudah mengerti kehidupan politik yang dijalaninya, sejak Indonesia merdeka, tahun 1945. Sudah lebih dari 60 tahun sebagai bangsa yang berdaulat. Setidaknya umat ini sudah pernah merasakan enam kali adanya pergantian pemimpin.

Mulai dari Soekarno, Soeharto, BJ.Habibi, Abdurrahman Wachid, Megawati, dan Susilo Bambang Yudhoyono. Pergantian dari satu pemimpin ke pemimpin lainnya, adakah kemajuan yang dialami umat ini? Secara phisik ia. Kalau yang menjadi indikator dalam bentuk benda. Apalagi, kalau dilihat dari segi bangunan phisik, seperti dalam sepuluh tahun terakhir ini, khususnya di kota Jakarta. Perubahan sudah sangat luar biasa. Tetapi, sesungguhnya, secara kesuluruhan, rakyat Indonesia tidak banyak mengalami perubahan, dibandingkan 60 tahun yang lalu, terutama segi pembangunan karakter.

Karena, pemerintah dari waktu ke waktu, dan siapapun yang berkuasa, tidak mampu menegakkan apa yang disebut dengan ‘hisbah’ (amar ma’ruf nahi munkar). Dan, hakekatnya tugas kekuasaan itu, dan siapapun yang menjadi penguasa, misinya adalah menegakkan hisbah. Ada kemajuan secara phisik. Tapi, dari segi karaker dan moral, bangsa ini telah melemah, dan tidak lagi memiliki nilai kehidupan yang berharga. Indonesia tidak lagi diperhitungkan. Dipanggung internasional. Indonesia hanya menjadi bangsa atau entitas sapi perahan oleh fihak asing. Indonesia menjadi bangsa yang inferior, tak mampu berdiri dengan tegak dihadapan orang asing. Bahkan, Indonesia menjadi bangsa yang penuh dengan paradok, dan kehilangan jati dirinya yang sesungguhnya.

Setiap lahir pemimpin baru, dan diawali dengan sumpah terhadap ideologi negara, dan UUD ’45, tapi setiap kali itu pula, lahir ketidak jelasan terhadap komitment dan sumpah serta janji terhadap ideologi negara, dan UUD ’45 itu. Pelaksanaan pengelolaan negara tidak sesuai dengan prinsip-prinsip dari dasar ideologi itu. Maka,hakekatnya mereka tidak sungguh-sungguh memiliki komitment, ketika menjalankan dan melaksanakannya. Penyimpangan ini lahir, sejak Presiden Soekarno, yang tidak lagi setia dengan ideologi ciptaannya sendiri, yaitu Pancasila dan UUD’45.

Sekarang umat ini hidup dibawah falsafah dan ideologi, dan para pemimpin yang mendasari pola pengelolaan negara dengan dasar ideolig itu, dan berulang kali mengalami kegagalan. Dan, sampai hari ini rakyat tidak pernah mendapatkan kebahagiaan. Apakah, dasar dan ideologi negara, yang menjadi rule of conduct itu, tidak lagi memiliki legitimasi (keabsahan) menjadi sebuah doktrin kehidupan umat dan bangsa ini?

Indonesia membutuhkan pemimpin baru, yang memiliki komitment baru, dan dasar tujuan yang baru, dan yang dapat membebaskan umat dari belenggu penjajahan asing. Meskipun, Indonesia sudah menjadi sebuah negara yang berdaulat. Tapi, kenyataan pengaruh asing, masih sangat melekat di dalam semua sektor kehidupan. Maka, dibutuhkan pemimpin yang memiliki visi, misi, serta keberanian, tidak hanya bersikap konservatif dengan paradigma lama, yang sudah terbukti tidak mampu menyelesaikan problem umat.

Pemilihan pemimpin bukan hanya sebuah rutinitas, lima tahun sekali, tapi hakekatnya tidak dapat melahirkan sebuah khasanah baru bagi kehidupan umat. Umat terus dihadapkan ancaman yang semakin mengancam kehidupan mereka. Umat menghadapi ‘badai tsunami’ budaya materialisme yang terus menggerogoti sendi-sendi kehidupan umat. Rusaknya struktur keluarga dan masyarakat, serta semakin rapuhnya nilai-nilai umat dan bangsa ini, dan redupnya nilai-nilia luhur yang bersumber dari ajaran agama (Islam), sebagai akibat semakin kuatnya arus budaya materialisme, akibat kehidupan sekuler. Karena, tidak satupun pemimpin yang mampu menegakkan prinsip ‘hisbah’ di dalam pengelolaan negara, sepanjang pemerintahan yang ada. Di biarkannya budaya materialisme itu menjajah setiap keluarga dan anak keturunan kita. Pemimpin dan negara tidak mampu melindunginya.

Setiap kali lahir pemimpin yang ada hanyalah tipe-tipe ‘pengikut’, bukan sejatinya ‘pemimpin’ yang mampu menjaga, melindungi, menjamin, dan mengayomi, serta memberikan rasa keadilan kepada umat. Dan, siapa diantara mereka yang dapat menjaga, melindungi, menjamin, dan mengayomi, nilai-nilai dasar kehidupan yang menjadi pegangan umat? Atau mungkin tidak lagi ditemukan diantara mereka?

Jalan panjang bagi umat yang menginginkan perubahan dan perbaikan kehidupan mereka, dan ini memerlukan kesabaran, dan usaha-usaha menegakkan ‘hisbah’ (amar ma’ruf nahi munkar), tidak boleh berhenti, dan semata-mata diserahkan dipundak para pemimpin dan penguasa. Umat secara kolektif harus berjuang menegakkannya. Wallahu’alam..[Eramuslim]

Oleh Ahmad Rizal

Meski Ramadhan bulan adalah bulan ampunan, untuk menyambut bulan suci Ramadhan yang kini ‘menyapa’ kita, di bawah ini kami sarikan 16 kekeliruan umum yang sering dialami umat Islam selama Ramadhan

Hanya orang yang tidak tahu dan enggan saja yang tidak segera bergegas menyambut bulan suci ini dalam arti yang sebenarnya, lahir maupun batin. “Berapa banyak orang yang berpuasa (tapi) tak memperoleh apa-apa dari puasanya selain rasa lapar dan dahaga belaka”. (HR. Ibnu Majah & Nasa’i)

Namun, setiap kali usai kita menunaikan ibadah shiyam, nampaknya terasa ada saja yang kurang sempurna dalam pelaksanaannya, semoga poin-poin kesalahan yang acap kali masih terulang dan menghinggapi sebagian besar umat ini dapat memberi kita arahan dan panduan agar puasa kita tahun ini, lebih paripurna dan bermakna.

1. Merasa sedih, malas, loyo dan tak bergairah menyambut bulan suci Ramadhan

Acapkali perasaan malas segera menyergap mereka yang enggan menahan rasa payah dan penat selama berpuasa. Mereka berasumsi bahwa puasa identik dengan istirahat, break dan aktifitas-aktifitas non-produktif lainnya, sehingga ini berefek pada produktifitas kerja yang cenderung menurun. Padahal puasa mendidik kita untuk mampu lebih survive dan lebih memiliki daya tahan yang kuat. Sejarah mencatat bahwa kemenangan-kemenang an besar dalam futuhaat (pembebasan wilayah yang disertai dengan peperangan) yang dilancarkan oleh Rasul dan para sahabat, terjadi di tengah bulan Ramadhan.

Semoga ini menjadi motivator bagi kita semua, agar tidak bermental loyo & malas dan tidak berlindung di balik kata “Aku sedang puasa”.

2. Berpuasa tapi enggan melaksanakan shalat fardhu lima waktu

Ini penyakit yang –diakui atau tidak– menghinggapi sebagian umat Islam, mereka mengira bahwa Ramadhan cukup dijalani dengan puasa semata, tanpa mau repot mengiringinya dengan ibadah shalat fardhu. Padahal shalat dan puasa termasuk rangkaian kumulatif (rangkaian yang tak terpisah/satu paket) rukun Islam, sehingga konsekwensinya, bila salah satunya dilalaikan, maka akan berakibat gugurnya predikat “Muslim” dari dirinya.

3. Berlebih-lebihan dan boros dalam menyiapkan dan menyantap hidangan berbuka serta sahur

Ini biasanya menimpa sebagian umat yang tak kunjung dewasa dalam menyikapi puasa Ramadhan, kendati telah berpuluh-puluh kali mereka melakoni bulan puasa tetapi tetap saja paradigma mereka tentang ibadah puasa tak kunjung berubah. Dalam benak mereka, saat berbuka adalah saat “balas dendam” atas segala keterkekangan yang melilit mereka sepanjang + 12 jam sebelumnya, tingkah mereka tak ubahnya anak berusia 8-10 tahun yang baru belajar puasa kemarin sore.

4. Berpuasa tapi juga melakukan ma’siat

Asal makna berpuasa bermakna menahan diri dari segala aktifitas, dalam Islam, ibadah puasa membatasi kita bukan hanya dari aktifitas yang diharamkan di luar Ramadhan, bahkan puasa Ramadhan juga membatasi kita dari hal-hal yang halal di luar Ramadhan, seperti; Makan, minum, berhubungan suami-istri di siang hari.

Kesimpulannya, jika yang halal saja kita dibatasi, sudah barang tentu hal yang haram, jelas lebih dilarang.

Sehingga dengan masa training selama sebulan ini akan mendidik kita menahan pandangan liar kita, menahan lisan yang tak jarang lepas kontrol, dsb.

“Barang siapa yang belum mampu meninggalkan perkataan dosa (dusta, ghibah, namimah dll.) dan perbuatan dosa, maka Allah tak membutuhkan puasanya (pahala puasanya tertolak).”

5. Sibuk makan sahur sehingga melalaikan shalat shubuh, sibuk berbuka sehingga melupakan shalat maghrib

Para pelaku poin ini biasanya derivasi dari pelaku poin 3, mengapa ? Sebab cara pandang mereka terhadap puasa tak lebih dari ; “Agar badan saya tetap fit dan kuat selama puasa, maka saya harus makan banyak, minum banyak, tidur banyak sehingga saya tak loyo”. Kecenderungan terhadap hak-hak badan yang over (berlebihan) .

6. Masih tidak merasa malu membuka aurat (khusus wanita muslimah)

Sebenarnya momen Ramadhan bila dijalani dengan segala kerendahan hati, akan mampu menyingkap hijab ketinggian hati dan kesombongan sehingga seorang Muslimah akan mampu menerima segala tuntunan dan tuntutan agama ini dengan hati yang lapang. Menutup aurat, misalnya, akan lebih mudah direalisasi ketimbang di bulan selain Ramadhan. Mari kita hindari sifat-sifat nifaq yang pada akhir-akhir ini sangat diumbar dan dianggap sah, Ramadhan serba tertutup, saat lepas Ramadhan, lepas pula jilbabnya, inilah sebuah contoh pemahaman agama yang parsial (setengah-setengah) , tidak utuh.

6. Menghabiskan waktu siang hari puasa dengan tidur berlebihan

Barangkali ini adalah akibat dari pemahaman yang kurang tepat dari sebuah hadits Rasul yang berbunyi “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah” Memang selintas prilaku tidur di siang hari adalah sah dengan pedoman hadits diatas, namun tidur yang bagaimana yang dimaksud oleh hadits diatas? Tentu bukan sekedar tidur yang ditujukan untuk sekedar menghabiskan waktu, menunggu waktu ifthar (berbuka) atau sekedar bermalas-malasan, sehingga tak heran bila sebagian -besar- umat ini bermental loyo saat berpuasa Ramadhan.

Lebih tepat bila hadits diatas difahami dengan; Aktifitas tidur ditengah puasa yang berpahala ibadah adalah bila;

Tidur proporsional tersebut adalah akibat dari letih dan payahnya fisik kita setelah beraktifitas; Mencari rezeki yang halal, beribadah secara khusyu’ dsb.

Tidur proporsional tersebut diniatkan untuk persiapan qiyamullail (menghidupkan saat malam hari dengan ibadah)

Tidur itu diniatkan untuk menghindari aktifitas yang –bila tidak tidur- dikhawatirkan akan melanggar rambu-rambu ibadah Ramadhan, semisal ghibah (menggunjing) , menonton acara-acara yang tidak bermanfaat, jalan-jalan untuk cuci mata dsb.

Pemahaman hadits diatas nyaris sama dengan pemahaman hadits yang menyatakan bahwa bau mulut orang yang berpuasa lebih harum daripada minyak misk (wangi) disisi Allah, bila difahami selintas maka akan menghasilkan pengamalan hadits yang tidak proporsional, seseorang akan meninggalkan aktifitas gosok gigi dan kebersihan mulutnya sepanjang 29 hari karena ingin tercium bau wangi dari mulutnya, faktanya bau mulut orang yang berpuasa tetap saja akan tercium kurang sedap karena faktor-faktor alamiyah, adapun bau harum tersebut adalah benar adanya secara maknawi tetapi bukan secara lahiriyah, secara fiqh pun, bersiwak atau gosok gigi saat puasa adalah mubah (diperbolehkan)

7. Meninggalkan shalat tarwih tanpa udzur/halangan

Benar bahwa shalat tarawih adalah sunnah tetapi bila dikaji secara lebih seksama niscaya kita akan dapatkan bahwa berpuasa Ramadhan minus shalat tarawih adalah suatu hal yang disayangkan, mengingat amalan sunnah di bulan ini diganjar sama dengan amalan wajib.

8. Masih sering meninggalkan shalat fardhu 5 waktu secara berjama’ah tanpa udzur/halangan (terutama untuk laki-laki muslim)

Hukum shalat fardhu secara berjama’ah di masjid di kalangan para fuqaha’ adalah fardhu kifayah, bahkan ada yang berpendapat bahwa hukumnya adalah fardhu ‘ain, berdasarkan hadits Rasulullah SAW yang mengisahkan bahwa beliau rasanya ingin membakar rumah kaum Muslimin yang tidak shalat berjama’ah di masjid, sebagai sebuah ungkapan atas kekecewaan beliau yang dalam atas kengganan umatnya pergi ke masjid.

9. Bersemangat dan sibuk beribadah sunnah selama Ramadhan tetapi setelah Ramadhan berlalu, shalat fardhu lima waktu masih tetap saja dilalaikan

Ini pun contoh dari orang yang tertipu dengan Ramadhan, hanya sedikit lebih berat dibanding poin-poin diatas. Karena mereka Hanya beribadah di bulan Ramadhan, itupun yang sunnah-sunnah saja, semisal shalat tarawih, dan setelah Ramadhan berlalu, berlalu pula ibadah shalat fardhunya.

10. Semakin jarang membaca Al Qur’an dan maknanya

11. Semakin jarang bershadaqah

12. Tidak termotivasi untuk banyak berbuat kebajikan

13. Tidak memiliki keinginan di hatinya untuk memburu malam Lailatul Qadar

Poin nomor 8, 10, 11, 12 dan 13 secara umum, adalah indikasi-indikasi kecilnya ilmu, minat dan apresiasi yang dimiliki oleh seseorang terhadap bulan Ramadhan, karena semakin besar perhatian dan apresiasi seseorang kepada Ramadhan, maka sebesar itu pula ibadah yang dijalankannya selama Ramadhan.

14. Biaya belanja & pengeluaran (konsumtif) selama bulan Ramadhan lebih besar & lebih tinggi daripada pengeluaran di luar bulan Ramadan (kecuali bila biaya pengeluaran itu untuk shadaqah)

15. Lebih menyibukkan diri dengan belanja baju baru, camilan & masak-memasak untuk keperluan hari raya pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan

16. Lebih sibuk memikirkan persiapan hari raya daripada amalan puasa

Mereka lebih sibuk apa yang dipakai di hari raya dibanding memikirkan apakah puasanya pada tahun ini diterima oleh Allah Ta’aala atau tidak Orang-orang yang biasanya mengalami poin-poin nomor 14, 15 dan 16 adalah orang-orang yang tertipu oleh “fatamorgana Ramadhan”, betapa tidak ? Pada hari-hari puncak Ramadhan, mereka malah menyibukkan diri mereka dan keluarganya dengan belanja ini-itu, substansi puasa yang bermakna menahan diri, justru membongkar jati diri mereka yang sebenarnya, pribadi-pribadi “produk Ramadhan” yang nampak begitu konsumtif, memborong apa saja yang mereka mampu beli.

Tak terasa ratusan ribu hingga jutaan rupiah mengalir begitu saja, padahal di luar Ramadhan, belum tentu mereka lakukan. Semoga sentilan yang menyatakan bahwa orang Islam tidak konsisten dengan agamanya, karena di bulan Ramadhan yang seharusnya bersemangat menahan diri dan berbagi, ternyata malah memupuk semangat konsumerisme dan cenderung boros, dapat menggugah kita dari “fatamorgana Ramadhan”.

Semoga Allah menganugerahi kita dengan rahmat-Nya, sehingga mampu menghindari kesalahan-kesalahan yang kerap kali menghinggapi mayoritas umat ini, amin. Hanya dengan keikhlasan, perenungan dan napak tilas Rasul, insya Allah kita mampu meng-up grade (naik kelas) puasa kita, wallaahu a’lam bis shawaab.

Fajar Wisesa

Staf Bagian Umum dan Kepegawaian

Pusat Penanggulangan Krisis – DEPKES RI

Jl. H..R Rasuna Said Blok X-5 Kav. 4-9 Lt. 6 Ruang 601
Kuningan, Jakarta Selatan – Indonesia

http://www.ppk- depkes.org/

Sumber : Malinglist/Bambang Ap.

Kantor berita “Novobrs” melansir, agama ISLAM dipastikan akan menjadi nomor wahid di RUSIA menjelang tahun 2050 nanti. Hal itu mengingat semakin meningkatnya antusiasme untuk masuk ISLAM dan bertambahnya angka kelahiran di tengah umat Islam RUSIA. Dalam laporan yang dimuat di situsnya (berbahasa Prancis), kantor berita itu menambahkan, komunitas Muslim di RUSIA mungkin akan menjadi komunitas terbesar pada paruh abad ini. Demikian pula, ISLAM memiliki semua modal dasar itu untuk menjadi agama utama di RUSIA.

ISLAM sekarang ini merupakan agama kedua di RUSIA. Sangat sulit untuk mendapatkan data statistik yang detail di RUSIA mengenai jumlah umat ISLAM yang sebenarnya atau pun para pengikut agama lain, sebab tidak ada data statistik resmi mengenai hal ini.

Peneliti RUSIA di bidang keislaman, Roman Silantev mengatakan, jumlah umat ISLAM di RUSIA berkisar antara 7 juta hingga 9 juta jiwa. Komunitas muslim terpusat pada minoritas etnis yang berdiam di antara laut hitam (Black Sea) dan laut Quzwain (Caspian Sea).

Umat ISLAM terkonsentrasi di dua kawasan utama: kawasan Volga di jantung RUSIA. Kawasan ini meliputi enam republik, yaitu Tatarstan, Epeshkirya, Chuvash, Mordovia and Mary and I Audmurt, plus propinsi Orenburg.

Kawasan kedua adalah kawasan Kokaz (Caucasus) di barat daya RUSIA, yang meliputi tujuh republik, yaitu Dagestan, Chechnya, Ingushetia, Kberden Belkaria, North Ossetia -Alania dan Karchiev Cherkessia- dan Kadege.

Jumlah umat ISLAM di republik-republik tersebut mencapai 20 juta jiwa. Dengan demikian, umat Islam mewakili 20% dari total jumlah penduduk. Ini merupakan minoritas religius terbesar di RUSIA. [alsfwh/arrahmah]