Kasus hukum kembali membelit tenaga kerja wanita asal Indonesia. Departemen Luar Negeri mengakui bahwa saat ini terdapat pembantu rumah tangga (PRT) wanita berusia 24 tahun asal Indonesia yang sedang diproses aparat kepolisian Malaysia.

PRT asal Indonesia tersebut dituduh memukuli majikannya, nenek berusia 87 tahun. Kejadian itu terungkap dalam bukti video CCTV yang dipasang di rumah kawasan Petailing Jaya tersebut.

Jubir Deplu Teuku Faizasyah mengemukakan, pihaknya mengonfirmasikan kejadian tersebut dan menjalankan prosedur konsuler. Yakni, melakukan pendampingan dan bantuan hukum.

”KBRI kita di Kuala Lumpur akan memberikan jasa-jasa kekonsuleran, termasuk pendampingan dan bantuan hukum,” ujarnya di Jakarta kemarin (13/8).

Dia belum mendapatkan informasi yang jelas mengenai identitas maupun data WNI tersebut. Sebab, yang bersangkutan masih dalam pemeriksaan aparat kepolisian Malaysia. ”Kami akan cek dulu hal-hal tersebut,” ungkapnya.

Pelaku yang dirahasiakan identitasnya itu bisa diancam hukuman penjara maksimum 7 tahun dan denda. Pendalaman tentang motif kasus tersebut perlu dilakukan. Sebab, berdasar informasi yang diperoleh Migrant Care, pemukulan yang terjadi merupakan aksi balasan. Sebelumnya, PRT asal Indonesia itu sering dipukuli.

Direktur Migrant Care Anis Hidayah memaparkan, kasus tersebut dilatarbelakangi perlakuan yang tidak baik yang dilakukan majikannya. ”Selama bekerja, dia sering dipukul. Kesalahan sepele membuat marah majikannya,” lanjutnya.

Migrant Care mendapatkan informasi tentang kasus tersebut dua hari lalu. Mereka lantas menghubungi KBRI untuk meminta keterangan lebih lanjut tentang pembantu RI yang kini ditahan polisi Malaysia itu. Anis mengingatkan agar kasus tersebut diberitakan secara objektif.

Dia berharap, pembantu RI tersebut tidak diposisikan sebagai kriminal. ”KBRI harus membela dan menempatkan kasus tersebut secara proporsional. PRT itu korban, ini akibat buruknya hukum di Malaysia yang tidak pernah adil terhadap WNI kita yang menjadi pembantu,” tegasnya.

Nenek berusia 87 tahun ditemukan menantu perempuannya yang datang untuk melihat kondisinya. Sejak putranya pergi ke luar negeri, korban tinggal berdua saja dengan pembantu asal Indonesia.

Saat ditemukan, nenek tersebut terbaring di lantai dalam keadaan pingsan dan tubuhnya memar-memar. Korban segera dilarikan ke rumah sakit. Esoknya, menantu korban kembali ke rumah untuk memeriksa rekaman CCTV yang dipasang tersembunyi di rumah itu. Dalam rekaman CCTV terlihat jelas bahwa pelaku pemukulan adalah seorang wanita Indonesia berusia 24 tahun. (Jawa Pos)

Oleh  Rendra Hanggara

Deportasi warga negara Indonesia (WNI) dari Malaysia terus berlanjut.Selama tiga bulan terakhir, 535 orang dipulangkan dari Negeri Jiran melalui salah satu pintu perbatasan di Entikong, Sanggau, Kalimantan Barat.

Jumlah itu naik 61% dibandingkan periode yang sama 2007. Kepala Kantor Imigrasi Entikong Sugeng Harjanto mengatakan, pemulangan tersebut dilakukan karena mereka dinilai ilegal. Mereka tidak memiliki paspor dan masuk ke negeri tetangga tak melalui jalur-jalur umum.

“Mungkin saja ada yang masuk melalui jalan-jalan tikus di sepanjang perbatasan Kalbar dan Sarawak,” kata Sugeng kemarin. Sugeng mengaku tak semua WNI yang dipulangkan itu adalah ilegal. Ada sebagian di antara mereka yang masuk melalui jalur resmi seperti PPLB Entikong. Namun, mereka tidak memegang paspor karena disimpan majikannya sewaktu bekerja.

”Saat ada pemeriksaan dari pihak berwajib Malaysia, (mereka) tak dapat menunjukkan identitas diri sehingga mereka masuk kategori pendatang tanpa izin,” ujarnya. Dalam kasus WNI legal, Sugeng menengarai adanya majikan bekerja sama dengan pihak berwajib Malaysia untuk memulangkan mereka.

Akibatnya, WNI sebagai pekerja tersebut tak mendapat bayaran selama bekerja dan harus menjalani proses hukum di negeri tersebut. Secara keseluruhan, warga Indonesia yang dipulangkan melalui Entikong dari Malaysia pada 2007 tercatat sebanyak 1.482 orang. Sementara dari Brunei Darussalam sebanyak 21 orang dan terjadi pada Maret 2007.

Dari : Koran Sindo