Berita


Menara MasjidUmat Islam harus mempertimbangkan untuk menarik uang mereka dari rekening bank Swiss sebagai respon atas pelarangan pembangunan menara di Swiss, seru Menteri Luar Negeri Turki. “Saya yakin seruan ini akan mendorong saudara-saudara kita dari negara-negara Muslim yang menyimpan uang dan investasi di bank Swiss untuk meninjau kembali keputusan mereka,” kata Egemen Bagis, dikutip harian Turky Zaman.

Bagis merupakan Kepala Diplolat dari Turkey’s European Union accession serta menteri urusan luar negeri Eropa.

“Pada tahun 2008, ketika bank-bank seluruh dunia berjatuhan, tidak ada bank di Turki yang terkena dampaknya, dan pintu sistem perbangkan Turki terbuka lebar bagi mereka,” kata Bagis

Presiden Turki Abdullah Gull pada hari Selasa mengatakan bahwa reperendum di Swiss bertentangan dengan hak-hak asasi dan kebebabasan manusia.

Komentar-komentarnya digemakan oleh perdana mentri Recep Tayyip Erdogan yang menambahkan bahwa itu merupakan keputusan buruk bagi Swiss untuk menyelenggarakan referndum.

Pada akhir pekan lalu, mayoritas pemilih Swiss mendukung sebuah pelarangan pembangunan menara di negara tersebut.

Lebih dari 57 persen pemilih serta 22 dari 26 wilayah Swiss memilih mendukung pelarangan, meskipun pemerintah menentang gerakan tersebut, dan mengatakan itu akan merugikan citra negara Swiss. [aa/aki]

Sumber : Voa-Islam

Iklan

Kepala Rabbi Yahudi di Prancis ikut mengecam hasil referendum di Swiss yang melarang pembangunan menara masjid. Gilles Bernheim, nama Rabbi itu menyatakan, Eropa harus mulai mengubah pandangannya tentang Islam.

Bernheim juga mengatakan bahwa hasil referendum itu tidak fair. “Kita harus melakukan sesuatu sekarang agar orang-orang Eropa, tidak cuma Swiss, mengubah cara berpikirnya tentang Islam. Perlu adanya dialog dan keterbukaan,” ujar Bernheim seperti dikutip Le Figaro.

Dialog dan keterbukaan itu harus dilakukan oleh Eropa, juga negara-negara Muslim. Menurutnya, sulit mengharapkan hasil yang positif jika Eropa tidak mengubah pandangannya. “Saya menentang larangan menara masjid di Swiss. Setiap keputusan yang berusaha mengurangi hak-hak umat beragama adalah keputusan yang tidak fair,” imbuhnya. (ln/mol)

Sumber : Eramuslim

Cape Town – Laura Pistorious adalah seorang wanita muda kulit putih Afrika Selatan yang mengelola sebah pub minuman keras di kota pantai Campsby di Cape Town.

“Aku punya kebiasaan meminum minuman keras yang sangat buruk dan aku pikir saya telah meninggalkan gaya hidup kelas atas,” kata laura kepada islamonline.net

Dia telihat bahagia dari luar, menggunakan baju bermerek, meminum minuman keras dan berpesta setiap waktu.

Tapi di dalam dirinya, Laura selalu merasakan ada sesuatu yang tidak benar dan merasakan sesuatu yang terbakar di dalamnya.

Meskipun di besarkan dalam keluarga katholik yang sangat taat, dia bahkan berhenti memperacayai Tuhan di sebabkan gaya hidup jetset dan kecanduan minuman keras.

“Aku telah  mencapi suatu titik dalam hidupku dimana saya tidak percaya Tuhan lagi.

Hidup Laura mendadak berubah setelah ia bertemu dengan seorang temannya yang telah masuk Islam.

Hidup Laura mendadak berubah setelah ia bertemu dengan seorang temannya yang telah masuk Islam

“Setelah mendengar teman Muslim saya, mlam itu aku menangis dan berdoa.”

Laura berkata setelah doa-doa panjang, sebuah keajaiban terjadi dalam hidupnya.

Dia tiba-tiba mengatasi 4 tahun kecanduan minuman kerasnya dan mulai belajar lebih banyak tentang Islam.

“Sampai titik ini, dia tidak berpikir dia akan berakhir sebagai seorang Muslim.

Tetapi pada September 2001 sebelum mulai bulan suci Ramadhan, Laura mengucapkan syahadat, pernyataan keIslaman bagi seseorang.

“Segala puji bagi Allah, saya masuk Islam melalui seorang teman Muslim dan hidup saya berubah dengan sepenuhnya.”

Setelah perubahan tersebut, Laura keluar dari pekerjaannya di pub minuman keras trendy.

“Setelah menjadi Muslim, saya menemukan lebih banyak tentang Islam dan memberikan pengumuman untuk berhenti bekerja dan bahkan tanpa memiliki tawaran pekerjaan lain,”
kenang Laura dengan jilbab tertutupnya.

“Tetapi saya percaya kepada Allah.”

Laura mengatakan kedua orang tuannya yang Katholik, terutama sang ayah, telah menerima pilihan agamanya dan seringkali bertanya kepadanya tentang Islam.

“Sejak saya masuk Islam dan keluar dari pekerjaan sebagai manejer di pub, saya mulai pulang lebih awal kerumah dan orang tua saya gembira dengan hal ini,” kenangnya.

Saya berharap, suatu hari nanti mereka pun akan masuk Islam

“Saya berharap, suatu hari nanti mereka pun akan masuk Islam.

Sebulan terahkir Laura mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, tetapi ia mengatakan kepada bosnya, seorang Kristen, ia hanya ingin bekerja jika diizinkan untuk memiliki awaktu shalat.

Dia menyetujuinya.

“Ketika anda melakukan hal-hal baik dengan alasan yang tepat, Allah akan meridhoi kamu, percaya Laura yang menjadi host talk show sebuah radio di Cape Town.

“Sekarang, saya punya hubungan yang baik dengan keluarga, teman dan segala puji bagi Allah, saya hidup lebih sehat sebagai hasil dari keIslaman saya.” (aa/IOL/Voa-Islam)

Di kalangan Kristen, Pendeta Samuel Hermawan dikenal sebagai ahli islamologi mantan Muslim. Namanya mulai naik daun ketika Samuel menuliskan pengalaman rohaninya mengapa ia beralih meninggalkan Islam dan kini menjadi pendeta. Dalam testimoni berjudul “Yesus adalah Tuhan dan Raja,” Samuel menuliskan sbb:

“Saya dulunya dari muslim tamatan sebuah pesantren dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Bandung. Saya ingin memberikan kekuatan untuk para sahabat sekalian orang-orang Kristen bahwa apa yang kalian sembah itu adalah benar-benar Tuhan dan Juruselamat. Yesus adalah Tuhan dan Raja sesuai yang tercantum dalam Al Quran, Hadist dan Injil.”

Dalam sebuah dialog Islam dan Kristen, dusta Pendeta Samuel terbongkar. Ternyata dia bukan mantan muslim, terbukti karena ia tidak bisa baca-tulis Al-Qur’an. Pengakuannya sebagai ahli islamologi lulusan pesantren dan Sarjana Islam lulusan STAIN Bandung, adalah kebohongan besar untuk memuluskan Kristenisasi.

Pendeta Samuel mengaku tamatan sebuah pesantren dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Bandung…

Bermula ketika Indarwati, bukan nama sebenarnya, yang mempengaruhi kakak kandung, orang tua dan pamannya untuk masuk Kristen.

Empat tahun yang lalu, Indarwati menikah secara Islam dengan seorang pemuda. Seluruh keluarga Indar merestui pernikahan itu, karena beranggapan, sang mempelai pria itu adalah seorang Muslim yang taat beragama.

Belakangan, setelah Indar dikaruniai seorang anak, keluarganya baru tahu kalau suami Indar adalah seorang pendeta. Namun ia tidak mengaku pura-pura Muslim ketika menikah. Kilahnya, kekristenan itu ia terima setelah pernikahan. Kini, Indar sudah berganti iman menjadi aktivis gereja, mengikuti jejak suaminya. Bahkan seorang adiknya berhasil ditarik menjadi seorang Kristen.

Ketika Indar mempengaruhi Eddy, pamannya, untuk masuk Kristen,  terjadilah percekcokan ringan. Eddy paman adalah mantan aktivis PII (Pelajar Islam Indonesia).

“Kamu ini, kok bisa-bisanya masuk Kristen dan ngajak-ngajak keluarga untuk masuk Kristen?” tanya sang paman.

“Ya.. karena sekarang saya tahu kalau Kristen itu jauh lebih baik dari Islam, paman,” jawab Indra santai.

“Siapa sebenarnya yang mempengaruhimu kok sekarang jadi seperti ini?” tanya sang paman lagi.

“Saya tidak dipengaruhi siapa-siapa, paman. Tuhan Yesus sendiri yang memanggil saya. Sekarang saya tahu bahwa Kristen itu kasih dan menyelamatkan,” terang Indra.

“Apa buktinya kalau Kristen itu menyelamatkan dan lebih baik dari Islam?” selidik sang paman.

“Saya tidak bisa menjelaskan secara detil, paman. Kalau Paman ingin tahu jawabannya, nanti saya panggil pendeta saya. Pendeta Samuel Hermawan adalah ahli islamologi, lulusan pesantren dan STAIN Bandung. Paman bisa bertanya sepuasnya tentang kekristenan kepada pak pendeta,” jawab Indra. Maka disepakatilah pertemuan dialog agama di rumah sang paman.

Ahad malam, 15 November 2009, di Bintaro diadakan pertemuan sederhana. Tapi sang paman tidak mau menghadapi sendiri. Karena penasaran, kok ada lulusan pesantren dan sarjana Islam yang bisa pindah iman, maka ia mengundang sanak saudara dan para tetangga. Tidak lupa, ia mengundang Insan Mokoginta Wenceslaus, ustadz yang mantan Kristen.

Pendeta Samuel Hermawan datang tidak sendirian. Ia itemani beberapa pendeta, pekerja gereja dan beberapa jemaat setianya. Dengan dandanan yang klemis dengan baju  batik coklat yang dikenakannya, ia tampil sangat percaya diri. Seluruh materi islamologi yang akan dipresentasikan sudah disiapkan dalam laptop dan infocus, lengkap dengan seorang wanita operatornya.

Dialog dimulai pukul 8 malam, disaksikan lima puluhan pendengar dari kalangan Islam dan Kristen.

Setelah memperkenalkan diri, Samuel mulai menerangkan ketuhanan Yesus berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an. Puluhan ayat Al-Qur’an ditampilkan di layar infocus. Insan yang sudah tidak asing dengan makalah itu menyela, “Maaf Pak Pendeta, paparan yang anda tampilkan itu sebenarnya bukan pemikiran anda. Anda hanya mengutip brosur Kristen “Rahasia Jalan ke Surga” yang memakai nama penerbit palsu Dakwah Ukhuwah. Saya sudah menjawabnya dalam buku “Muallaf Membimbing Pendeta ke Surga” tahun 1999.

Meski tak bisa membantah bahwa presentasi makalahnya sama persis dengan brosur Dakwah Ukhuwah, Samuel kekeuh menyangkalnya, dan terus melanjutkan ceramah.

“Yesus alias Nabi Isa adalah Tuhan yang menjelma menjadi manusia. Al-Qur’an sendiri mengakui bahwa Yesus bisa menyembuhkan orang buta sejak lahir. Bahkan Yesus bisa menghidupkan orang yang sudah mati. Mari kita renungkan. Selain Tuhan, siapa yang bisa memberi nyawa kepada orang mati. Karena Yesus bisa menghidupkan orang mati, maka dia adalah Tuhan,” jelasnya.

Insan membantah, “Saya tahu, ayat Al-Qur’an yang anda maksudkan adalah surat Ali Imran 49 dan Al-Ma’idah 110. Tapi ayat ini jangan dibaca sepotong saja. Bila dibaca secara utuh, seluruh mukjizat Nabi Isa itu selalu diiringi dengan kalimat ‘bi-idznillah’ yang artinya dengan seizin Allah. Jadi, seluruh mukjizat itu bukan karena kehebatan Nabi Isa, tapi karena izin dan pemberian Allah. Karenanya, yang menyembuhkan dan menghidupkan itu bukan Nabi Isa, melainkan Allah SWT,” katanya.

Samuel tak dapat membantah argumen ini, lalu beralih ke pembicaraan lain. Ia menyatakan bahwa menurut Injil Lukas, tidak semua perbuatan Yesus ditulis dalam Injil. Karena tidak ada kitab yang bisa memuat seluruh ajaran Yesus.

“Tolong Pak Pendeta baca, Injil Lukas yang anda maksud tersebut!” tanya Insan menimpali. “Wah, saya tidak hafal ayatnya, Pak,” jawabnya singkat.

“Tolong pendeta yang lain atau jemaat membaca Injil Lukas yang dimaksud,” tanya Insan kepada jemaat Kristen. Karena tak mendapat jawaban apapun dari pihak Kristen, maka Insan menjawab pertanyaannya sendiri.

“Sebetulnya, ayat yang dimaksudkan Pendeta Samuel itu bukan Injil Lukas, tapi Injil Yohanes 25:21. Kalau tidak percaya silakan baca ayat tersebut,” Insan mempersilakan. Jemaat pun membaca ayat yang dimaksud, ternyata betul. Mereka semakin gusar.

Ternyata Sarjana Islam Gadungan

Ketika ingin membuktikan ketuhanan Yesus sebagai orang yang tahu hari kiamat, Samuel mengutip terjemahan Al-Qur’an surat Luqman ayat 34: “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat.”

Penasaran dengan banyaknya kutipan ayat yang hanya dibaca terjemahannya saja, Insan minta Samuel untuk membaca nas Arabnya.

Nyalinya runtuh ketika dites membaca nas Arab Al-Qur’an. Ternyata Pendeta itu bukan lulusan pesantren karena tidak tahu baca-tulis huruf Arab…

“Pak Pendeta, dari tadi anda hanya membaca terjemahan ayat tanpa membaca nas Arabnya. Anda kan ngaku lulusan pesantren dan sarjana Islam, tolong baca nas Arabnya!” pintanya.

Tak disangka, permintaan Insan ini meruntuhkan nyali sang pendeta. Beberapa menit ia hanya memandangi presentasi di layar in focus. Mulutnya terkatup, sesekali ia memandangi jemaatnya, dan sesekali menundukkan wajahnya yang mulai memucat.

Jemaat dan para pendeta yang hadir pun nampak gusar, malu dan salah tingkah di hadapan puluhan hadirin Muslim. Pendeta Samuel Hermawan yang selama ini mereka elu-elukan sebagai ahli islamologi, lulusan pesantren dan sarjana Muslim, ternyata tak lebih pintar dari siswa TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur’an). Sementara hadirin dari pihak Islam sebagian tertawa, sebagian geleng-geleng dan sebagian bertepuk tangan. Mereka terheran-heran terhadap Samuel Hermawan yang ditokohkan dan dihormati di gereja, padahal mereka selama ini dicekoki dengan kesaksian dusta.

“Pak Samuel ini aneh sekali. Bagaimana bisa jadi pendeta dan mengaku ahli islamomogi? Padahal anda tidak menguasai Bibel dan tidak paham Al-Qur’an? Mana mungkin anda bisa memahami dan menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an untuk kepentingan kristenisasi, padahal anda tidak mengerti baca-tulis Al-Qur’an? Tolong anda beragama yang jujur saja, jangan menipu jemaat” kata Insan menasihati.

Situasi dialog jadi tidak imbang, Insan yang jauh di atas angin, seperti dosen menceramahi anak SD. Tepat pukul 10 malam acara diakhiri, tuan rumah mempersilakan seluruh hadirin untuk menikmati makan malam yang sudah disediakan secara mewah. Terlanjur malu, Pendeta Samuel dan seorang pendeta lainnya buru-buru pamitan pulang meninggalkan para jemaatnya yang sudah membaur bersama hadirin lainnya di meja hidangan.

Seorang peserta yang sangat kecewa terhadap Pendeta Samuel berkomentar, “Katanya lulusan pesantren dan sarjana Islam, gak tahunya seperti ayam sayur,” kata pria berusia 60 tahun yang datang jauh-jauh dari Depok, Jawa Barat. Ternyata Pendeta Samuel adalah “Drs” alias durung rampung sekolah, toh. [taz/voa-islam]

NU Pun Tetapkan Idul Adha pada 27 November

Lajnah Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memutuskan hari raya Idul Adha 1430 H jatuh pada 27 November 2009. Hal itu didasarkan pada hasil rukyah terhadap hilal (awal bulan).

”Berdasarkan hasil rukyah, kita sudah melihat hilal pada pukul 17.35 WIB sehingga malam ini sudah masuk tanggal 1 Dzulhijah,” ujar Ketua Lajnah Falakiyah PBNU, KH Ghazalie Masroerie, kepada Republika, Selasa (17/11). Karenanya, sambung dia, Idul Adha 1430 H jatuh pada Jumat (27/11).

Menurut Ghazalie, hilal tersebut berhasil dilihat di Bukit Condrodipo, Gresik, Jawa Timur, oleh dua orang pelaksana rukyah. Dia menyebutkan, kedua perukyah itu adalah H Ahmad dan H Syamsul Fuad yang berasal dari NU Gresik.

Ghazalie menjelaskan, Bukit Condrodipo merupakan satu-satunya titik rukyah yang berhasil melihat hilal. Sedangkan 64 titik lainnya yang tersebar di seluruh Indonesia tidak berhasil melihat hilal karena tertutup mendung.

Dia mengungkapkan, hasil rukyah itu selanjutnya akan disahkan dalam sidang isbat. Dia menerangkan, sidang tersebut rencananya akan digelar pada Rabu (18/11) sekitar pukul 10.00 WIB.

Keputusan Lajnah Falakiyah PBNU tentang hari raya Idul Adha 1430 H sama dengan keputusan PP Muhammadiyah. Sebelumnya, PP Muhammadiyah pun telah menetapkan Idul Adha 1430 H jatuh pada 27 November 2009. lis/rif

Sumber : Republika

Oleh Budi Winoto
(istimewa)

Ketakutan kiamat telah merasuki diskusi di internet. Ilmuwan NASA pun mengutuk film hari kiamat 2012 dan meluncurkan situs untuk mengatasi rasa takut masyarakat.

Film yang kini diputar di berbagai bioskop dunia itu menayangkan ramalan Maya kuno bahwa bencana akan terjadi pada titik balik matahari musim dingin di 2012. Sudah banyak buku dan acara TV yang membahas teori itu tetapi film “2012” memiliki dampak yang lebih besar, dan menciptakan rasa takut secara luas bahwa ramalan itu mungkin benar.

Dr David Morrison, ilmuwan senior di Institut Astrobiology NASA sangat khawatir dan memutuskan untuk tidak tinggal diam. “Dua tahun lalu, saya mendapat pertanyaan setiap minggu tentang itu,” kata Morrison.

“Sekarang sehari aku mendapatkan selusin pertanyaan. Dua remaja mengatakan mereka tidak ingin melihat akhir dunia, sehingga mereka berpikir untuk mengakhiri hidup mereka,” tambahnya.

Morrison menyebut ketakutan itu disebabkan kenyataan beberapa keyakinan bergabung menjadi satu megamitos. Salah satu rumor di internet yang tidak hilang menyangkut planet disebut Nibiru, atau Planet X yang akan menabrak bumi.

Kemudian ada fakta bahwa kalender Maya berakhir pada 2012, yang menunjukkan bahwa bangsa Maya tahu sesuatu yang tidak diketahui. Akhirnya, beberapa orang yang yakin akan terjadi kiamat mendapat publisitas tinggi dan mendorong klaim akhir dunia sudah dekat.

Morrison mengatakan, Nibiru yang merupakan astrologi zaman Babilonia kadang-kadang dikaitkan dengan dewa Marduk. Namun klaim Nibiru adalah sebuah planet dan dikenal ke Sumeria hanya imajinasi.

Ia mengatakan IRA, Satelit Astronomi Inframerah NASA yang melakukan survei langit selama 10 bulan di 1983, menemukan banyak sumber inframerah, namun tidak satupun dari mereka adalah Nibiru atau Planet X atau obyek lain di luar tata surya.

“Jika tanda-tanda obyek baru di luar angkasa ternyata tidak nyata, atau bukan sebuah planet, maka tidak akan terdengar lagi. Tapi jika nyata, maka tidak akan disebut sebagai Planet X,” katanya.

Morrison mengatakan sebagian besar dari foto dan video di internet yang mengaku dari Nibiru adalah beberapa fitur di dekat Matahari, dan tampak mendukung klaim bahwa Nibiru telah bersembunyi di balik matahari selama beberapa tahun terakhir.

“Padahal itu sebenarnya gambar palsu dari Matahari yang disebabkan oleh refleksi internal di dalam lensa, sering disebut lensa suar,” katanya.

Dia mengatakan orang-orang bisa mengenali dengan mudah dari fakta bahwa mereka muncul diametris berlawanan dengan gambar matahari nyata, seakan-akan tercermin di tengah gambar.

Hal ini terutama jelas di video. Saat kamera bergerak, gambar palsu menari-nari tepat di seberang bayangan nyata. Hal itu serupa dengan cahaya suar yang banyak menjadi foto UFO yang diambil pada malam hari dengan sumber cahaya yang kuat.

Morrison juga menolak klaim pemerintah tahu tentang Nibiru, tetapi merahasiakannya untuk menghindari panik. Dia mengatakan, ada banyak tujuan dari pemerintah, tetapi tidak termasuk menjaga populasi agar tenang.

Ia mengatakan para ilmuwan sosial telah menunjukkan banyak konsep kepanikan publik dalam produk Hollywood. Di dunia nyata orang-orang memiliki catatan baik dalam saling membantu satu sama lain jika dalam bahaya.

“Saya pikir semua orang mengakui bahwa menjaga rahasia kabar buruk biasanya menjadi bumerang, dan membuat masalah makin buruk ketika fakta-fakta akhirnya keluar. Dalam kasus Nibiru, fakta-fakta ini akan segera keluar,” ia menambahkan.

Dia mengatakan pemerintah tidak bisa menjaga rahasia Nibiru. Kalau obyek itu ada maka akan mudah dilacak ribuan astronom, amatir maupun profesional. Padahal astronom ini tersebar di seluruh dunia.

Lalu mengapa kalender Maya mengatakan dunia akan berakhir pada 2012? Morrison mengatakan kalender itu hanya untuk melacak berlalunya waktu, tidak memprediksi masa depan.

Dia mengatakan kalender kuno itu menarik bagi sejarawan, tetapi tidak cocok dengan kemampuan orang-orang pada hari ini untuk melacak waktu, atau sepresisi dengan kalender yang digunakan sekarang.

“Titik utamanya adalah bahwa kalender, baik kontemporer atau kuno, tidak dapat meramalkan masa depan planet kita atau memberi peringatan tentang hal-hal yang terjadi pada tanggal tertentu seperti di 2012,” kata Morrison.

“Aku perhatikan kalender mejaku berakhir pada 31 Desember 2009, tapi aku tidak menafsirkannya sebagai kiamat. Itu hanya menunjukkan permulaan tahun baru,” katanya.

Morrison juga menyebut tidak ada tabrakan meteor pada 2012. Dia mengatakan bumi selalu menjadi korban komet dan asteroid, dan tabrakan besar sangat jarang terjadi. Dampak besar yang terakhir adalah 65 juta tahun yang lalu dan menyebabkan kepunahan dinosaurus.

Astronom NASA juga melakukan survei Spaceguard Survey untuk menemukan asteroid besar dekat bumi jauh sebelum terjadi tabrakan. “Kita telah menentukan bahwa tidak ada ancaman asteroid yang besarnya sama dengan yang membunuh dinosaurus,” tambah Morrison. [mdr]

Sumber : Inilah.com

Ulama Berbicara tentang Cadar

KAIRO–Keputusan Dewan Tertinggi Al-Azhar yang melarang pengenaan cadar di lingkungan sekolah dan kampus Al-Azhar telah menimbulkan reaksi beragam di kalangan intelektual Islam, antara yang pro dan yang kontra. Berbagai analisis fiqih dikemukakan untuk mengukur keselarasan keputusan tersebut dengan syariat Islam, seperti dirangkum oleh harian Assarq Al-awsat, Selasa (13/10).

Dewan Tertinggi Al-Azhar telah mengeluarkan qarar (keputusan) pada pertemuannya, Kamis pekan lalu, yang diketuai langsung Imam Besar, Muhammad Sayyed Tantawi. Qarar tersebut berisi larangan pemakaian cadar bagi semua wanita di lingkungan sekolah dan kuliah banat Al-Azhar.

Dr Muhammad Abdul Mun’im Al-Bary, guru besar Universitas Al-Azhar dan mantan sekjen Jabhah Ulama Al-Azhar, mengatakan cadar bukanlah suatu kewajiban, namun suatu keutamaan (fadhilah). Menurutnya, tidak ada dalil dalam Alquran dan sunah yang menegaskan kewajiban cadar, berbeda dengan jilbab (hijab) yang jelas diwajibkan dalam Alquran dan sunah.

“Masalah pemakaian cadar harus dilihat dari sudut pandang kebebasan individu, jika seorang wanita menganggap kecantikan wajahnya dapat menimbulkan fitnah bagi kaum laki-laki atau dapat mendatangkan masalah, seperti pelecehan seksual dan sebagainya, maka hak dia untuk menggunakan cadar sebagai perlindungan bagi dia maupun bagi kaum laki-laki dari fitnah,” ungkap Al-Bary.

Dr Muhammad Ad-Dasuqi, guru besar Syariat Islamiyah di Kuliah Darul Ulum, Universitas Kairo dan anggota Dewan Tertinggi Urusan Islam, berpendapat cadar tidak wajib bagi wanita Muslimah. “Cadar merupakan budaya yang diikuti oleh sebagian wanita di beberapa masyarakat Islam. Dalam syariat Islam batasan pakaian yang wajib dikenakan oleh wanita Muslimah sudah sangat jelas, seperti yang dikatakan oleh Nabi SAW kepada Asma binti Abu Bakar bahwa aurat wanita dewasa adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Jadi, wajah dan kedua telapak tangan wanita bukanlah aurat,” tegas Dasuqi.

Namun, Dasuqi menambahkan, wanita bebas memilih antara memakai cadar atau tidak. “Karenanya, melarang wanita menggunakan cadar di lingkungan kerja dan pendidikan setelah diketahui identitasnya merupakan tindakan yang melanggar kebebasan individu,” tambah Dasuqi.

Sementara itu, Syekh Ridha Ta’imah, anggota Dewan Ilmi untuk riset Alquran dan Sunah, mengungkapkan ada dua pendapat mengenai hukum cadar. “Satu kelompok mengatakan wajib, yang lain mengatakan sunah. Salah satu yang berpendapat sunah adalah Syekh Nashiruddin Al-Bani sebagaimana diungkapkan dalam kitabnya Hijab Wanita Muslimah. Dalam kitab tersebut, Al-Bani juga memaparkan pendapat yang mewajibakan cadar dan yang mensunahkannya beserta dalil masing-masingnya. Al-Bani memilih pendapat yang menyatakan sunah,” papar Ta’imah.

“Pendapat Al-Bani merupakan pendapat yang kuat, namun jika kecantikan seorang wanita dikhawatirkan dapat menimbulkan fitnah bagi kaum laki-laki, hukum cadar menjadi wajib,” tambah Ta’imah. Ta’imah juga mempertanyakan keuntungan apa yang didapat oleh sebagian ulama yang melarang cadar. Menurutnya, mereka seharusnya memaparkan semua pendapat ulama dalam masalah ini secar obyektif, baru kemudian menentukan pendapat mana yang dipilih.

Berbeda dengan Ta’imah, Syekh Yusuf Badri, Da’i Islam dan anggota Dewan Tertinggi Urusan Islam di Kairo, mengatakan bahwa pendapat yang mewajibkan cadar adalah yang arjah dan paling benar. “Wanita hanya diperbolehkan membuka wajahnya di depan wanita, suami, tunangan yang mengkhithbahnya, dokter, dan hakim sebagai saksi maupun terdakwa,” papar Badri.

“Namun, keputusan Dewan tertinggi Al-Azhar yang melarang pemakain cadar bagi wanita di lingkungan Al-Azhar yang tidak dimasuki laki-laki merupakan sesuatu yang wajar. Hanya saya berharap keputusan ini merupakan anjuran bukan kewajiban,” tambah Badri.

Sementara Syekh Sa’d Al-Alfi, Penasihat salah satu Ma’ahid Al-Azhar dan Kepala Ma’had Al-Qur’an Al-Karim Al-Azhari, justru memandang positif keputusan Dewan tertinggi Al-Azhar yang terkait dengan cadar. “Ada sebab yang kuat yang melatarbelakangi dikeluarkan keputusan tersebut dan ini tidak bertentangan dengan syariat Islam. Keputusan ini berdasarkan atas tidak wajibnya cadar, karenanya, merupakan hak Al-Azhar untuk mengeluarkan peraturan yang dianggap selaras dengan kemaslahatan,” tegas Al-Alfi.

“Lagi pula larangan tersebut hanya di tempat-tempat tertentu, yaitu tempat-tempat khusus wanita. Jadi, selama tujuan pengunaan cadar oleh wanita adalah kekhawatiran jika wajahnya terlihat oleh laki-laki, maka larangan Al-Azhar tersebut tidak termasuk sebagai pelanggaran terhadap hak wanita,” kata Al-Alfi. Ia juga menambahakan, larangan Al-Azhar tersebut bertujuan untuk memberikan perlindungan bagi mereka dari laki-laki tak bertanggung jawab yang menerobos masuk ke lingkungan sekolah, kampus, atau bahkan asrama putri dengan menutupi identitasnya melalui cadar.

Hal senada juga diungkapkan oleh Syekh Muhammad Mahmud Hamudah, Ulama Al-Qur’an Al-Karim di Al-Azhar. “Semua ulama dan ahli fiqih sepakat akan wajibnya penggunaan jilbab dengan dalil shahih dari Alquran dan sunah, sementara cadar tidak ditemukan dalil qath’i. Karena itu, cadar hukumnya tidak wajib, tapi sunah bagi wanita yang berparas sangat cantik,” ungkap Hamudah.

Menurutnya, keputusan yang dikeluarkan Dewan Tetinggi Al-Azhar yang dikepalai oleh Imam Besar, Dr Muhammad Sayyed Tantawi, baru-baru ini merupakan keputusan yang benar dan bertujuan untuk menyebarkan budaya keagamaan yang benar dengan memperjelas apa yang wajib dan tidak wajib. “Saat ini kita sering mendapatkan anak didik kita di Al-Azhar yang memahami sunah sebagai wajib. Ini adalah efek dari menyebarnya budaya radikalisme di tengah umat. Al-Azhar adalah institusi Islam yang mengajak kepada pemahaman agama yang moderat (wasathiyah dan i’tidal) dan melawan segala bentuk radikalisme. (taq/republika online)

Laman Berikutnya »