Sepanjang sejarah, Allah telah mengutus para rasul-Nya kepada umat manusia. Para rasul Allah menyeru seluruh umat manusia kepada jalan yang benar dan menyampaikan kepada mereka ajaran-ajarannya. Tetapi pada saat ini, ada suatu keyakinan yang berkembang bahwa apa yang diwahyukan melalui para rasul kepada manusia merupakan agama yang berbeda. Hal ini merupakan pendapat yang keliru. Agama yang diwahyukan Allah kepada manusia di masa yang berbeda adalah sama. Misalnya, Isa as (Yesus) telah menghapus beberapa larangan yang dibawa oleh agama sebelumnya. Walaupun demikian, tidak ada perbedaan yang berarti dalam ajaran agama-agama yang diwahyukan Allah. Apa yang telah diwahyukan kepada para rasul sebelumnya, kepada Musa as, Isa as dan kepada rasul terakhir Muhammad saw pada dasarnya sama:

Katakanlah, ” Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il dan Ishaq dan Ya’qub dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka…” (Surat Ali Imran: 84-85)

Sebagaimana tertulis dalam ayat tersebut, agama yang benar yang diturunkan untuk manusia adalah Islam. Apa yang kita pahami dari Al-Qur’an adalah bahwa seluruh rasul menyeru umatnya kepada jalan yang sama. Allah menggambarkan fakta ini dalam ayat-Nya :

“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat terang bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kapadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali kepada-Nya.” (Surat asy-Syu’araa’: 13)

Allah telah mengutus para rasul-Nya untuk menyampaikan agama ini, satu-satunya agama yang Dia ridhai, kepada seluruh umat manusia dan kemudian memberikan peringatan kepada mereka. Setiap orang, kepada mereka yang Allah utus dan kepada siapa pun yang kemudian diserukan agama ini, mendapatkan beban untuk mengikutinya.

Meskipun demikian, beberapa kelompok masyarakat ada yang menerima ajaran tersebut, namun ada juga yang menolaknya. Sebaliknya, pada beberapa kelompok masyarakat, agama yang benar tersebut diselewengkan menjadi ajaran yang sesat setelah kematian rasul mereka.

Salah satu dari kelompok masyarakat yang tersesat dari agama yang benar adalah Bani Israel. Sebagaimana yang diinformasikan dalam Al-Qur’an, Allah telah mengutus banyak rasul kepada Bani Israel; mereka telah menyampaikan agama yang benar. Akan tetapi, setiap masa mereka menentang seorang rasul atau setelah kematian rasul tersebut, mereka mentransformasikan agama yang benar tersebut menjadi suatu ajaran yang sesat. Selain itu, dari Al-Qur’an, kita mengetahui bahwa bahkan saat Musa as masih hidup pun, Bani Israel menyembah sapi betina yang terbuat dari emas selama masa ketidakhadirannya yang sebentar saja (lihat surat Thaahaa: 83-94). Setelah Nabi Musa as tiada, Allah mengutus beberapa nabi lainnya kepada Bani Israel untuk memberikan peringatan kepada mereka dan yang terakhir dari para nabi yang diutus itu adalah Isa as (Yesus)

Seumur hidupnya, Yesus menyeru umatnya untuk hidup dengan agama yang diturunkan Allah dan mengingatkan mereka untuk menjadi hamba Allah yang benar. Dia memerintahkan mereka dengan ajaran yang ada di dalam Injil – wahyu yang diturunkan kepadanya yang sebagian dari ajaran tersebut masih ada dalam kitab Injil dewasa ini. Kitab tersebut membenarkan ajaran-ajaran Taurat – wahyu yang diturunkan kepada Musa as yang sebagian ajarannya masih ada dalam Taurat atau Perjanjian Lama yang kemudian diselewengkan. Mengkritisi ajaran-ajaran yang tidak benar dari para rabi yang bertanggung jawab atas kemrosotan agama yang benar, Yesus telah menghapus aturan-aturan yang dibuat oleh para rabi itu, yang melaluinya, mereka mendapatkan keuntungan secara personal. Dia menyeru kepada Bani Israel untuk mengesakan Allah, kebenaran yang hakiki, dan berakhlak luhur, sebagaimana firman Allah:

Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.
(Surat Ali Imran: 50)

Setelah Yesus, Allah mengutus seorang rasul lain yang berasal dari suatu suku yang berbeda agar melalui rasul-Nya ini, Allah dapat menurunkan wahyu berupa agama yang asli ke dunia dan Dia membekalinya dengan sebuah kitab suci. Rasul itu adalah Nabi Muhammad saw dan kitab tersebut adalah Al-Qur’an, satu-satunya wahyu yang tidak diubah.

Al-Qur’an diperuntukkan bagi seluruh umat manusia di dunia. Seluruh umat manusia di semua masa akan mendapatkan kewajiban beriman terhadap kitab ini karena mereka diperintahkan untuk mengikuti ajaran Islam. Mereka akan diadili berdasarkan Al-Qur’an pada hari perhitungan. Pada masa kita khususnya, seluruh bangsa di dunia secara esensi disatukan dan hampir menjadi seperti suatu suku yang satu; terima kasih kepada penerobosan di bidang teknologi.

Seorang akademisi menunjukkan bahwa dunia dewasa ini sebagai global village. Karena itu, hanya ada sebagian kecil manusia di dunia ini yang tidak menyadari keberadaan Al-Qur’an dan yang oleh karenanya pula belum mendapatkan informasi tentang Islam. Walaupun demikian, ada suatu bagian tertentu dari umat manusia yang mempunyai keyakinan pada Al-Qur’an. Di antara mereka ada yang telah beriman, namun kebanyakan dari mereka tidak hidup berdasarkan ajaran-ajaran yang disebutkan dalam Al Qur’an.

(facebook Note : Selly Sety, Dari berbagai sumber)

Sumber : Voa-Islam

Iklan

Segala sesuatu kejadian di muka bumi merupakan ketetapan Allah Swt. Demikian pula dengan musibah bernama gempa bumi. Hanya berseling sehari setelah kejadian, beredar kabar—di antaranya lewat pesan singkat—yang mengkaitkan waktu terjadinya musibah tiba gempa itu dengan surat dan ayat yang ada di dalam kitab suci Al-Qur’an.

“Gempa di Padang jam 17.16, gempa susulan 17.58, esoknya gempa di Jambi jam 8.52. Coba lihat Al-Qur’an!” demikian bunyi pesan singkat yang beredar. Siapa pun yang membuka Al-Qur’an dengan tuntunan pesan singkat tersebut akan merasa kecil di hadapan Allah Swt. Demikian ayatayat Allah Swt tersebut:

17.16 (QS. Al Israa’ ayat 16): “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”

17.58 (QS. Al Israa’ ayat 58): “Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuz).”

8.52 (QS. Al Anfaal: 52): (Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Amat Keras siksaan-Nya.”

Tiga ayat Allah Swt di atas, yang ditunjukkan tepat dalam waktu kejadian tiga gempa kemarin di Sumatera, berbicara mengenai azab Allah berupa kehancuran dan kematian, dan kaitannya dengan hidup bermewah-mewah dan kedurhakaan, dan juga dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya. Ini tentu sangat menarik.

Gaya hidup bermewah-mewah seolah disimbolisasikan dengan acara pelantikan anggota DPR yang memang WAH. Kedurhakaan bisa jadi disimbolkan oleh tidak ditunaikannya amanah umat selama ini oleh para penguasa, namun juga tidak tertutup kemungkinan kedurhakaan kita sendiri yang masih banyak yang lalai dengan ayat-ayat Allah atau malah menjadikan agama Allah sekadar sebagai komoditas untuk meraih kehidupan duniawi dengan segala kelezatannya (yang sebenarnya menipu).

Dan yang terakhir, terkait dengan “Fir’aun dan para pengikutnya”, percaya atau tidak, para pemimpin dunia sekarang ini yang tergabung dalam kelompok Globalis (mencita-citakan The New World Order) seperti Dinasti Bush, Dinasti Rotschild, Dinasti Rockefeller, Dinasti Windsor, dan para tokoh Luciferian lainnya yang tergabung dalam Bilderberg Group, Bohemian Groove, Freemasonry, Trilateral Commission (ada lima tokoh Indonesia sebagai anggotanya), sesungguhnya masih memiliki ikatan darah dengan Firaun Mesir (!).

David Icke yang dengan tekun selama bertahun-tahun menelisik garis darah Firaun ke masa sekarang, dalam bukunya “The Biggest Secret”, menemukan bukti jika darah Firaun memang menaliri tokoh-tokoh Luciferian sekarang ini seperti yang telah disebutkan di atas. Bagi yang ingin menelusuri gais darah Fir’aun tersebut hingga ke Dinasti Bush, silakan cari dihttp://www.davidicke.com (Piso-Bush Genealogy), dan ada pula di New England Historical Genealogy Society.

Nah, bukan rahasia lagi jika sekarang Indonesia berada di bawah cengkeraman kaum NeoLib. Kelompok ini satu kubu dengan IMF, World Bank, Trilateral Commission, Round Table, dan kelompok-kelompok elit dunia lainnya yang bekerja menciptakan The New World Order. Padahal jelas-jelas, kubu The New World Order memiliki garis darah dengan Firaun. Kelompok Globalis-Luciferian inilah yang mungkin dimaksudkan Allah Swt dalam QS. Al Anfaal ayat 52 di atas. Dan bagi pendukung pasangan ini, mungkin bisa disebut sebagai “…pengikut-pengikutnya.”

Dengan adanya berbagai “kebetulan” yang Allah Swt sampaikan dalam musibah gempa kemarin ini, Allah Swt jelas hendak mengingatkan kita semua. Apakah semua “kebetulan” itu sekadar sebuah “kebetulan” semata tanpa pesan yang berarti? Apakah pesan Allah Swt itu akan mengubah kita semua agar lebih taat pada perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya? Atau malah kita semua sama sekali tidak perduli, bahkan menertawakan semua pesan ini sebagaimana dahulu kaum kafir Quraiys menertawakan dakwah Rasulullah Saw? Semua berpulang kepada diri kita masing-masing. Wallahu’alam bishawab..

Sumber : rastadiary.wordpress.com

Jika Al-Quran, Kalamullah yang suci dan sekaligus pegangan hidup kaum Muslimin digugat, maka  unsur-unsur agama Islam lain akan ikut runtuh

Oleh  Lalu Nurul Bayanil Huda

Al-Quran adalah kitab suci yang disakralkan dan dijadikan pegangan hidup oleh umat Islam. Al-Quran adalah kalam Ilahi, diturunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui malaikat Jibril bagi umat manusia di dunia ini. Kaum Muslimin meyakini bahwa Al-Quran, dari ayat pertama hingga terakhir, merupakan kata-kata Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw secara verbatim (lafzon) maupun maknanya (ma’nan), dan meraka meyakini bahwa Al-Quran yang ada saat ini adalah sama dengan yang ada pada zaman Nabi Muhammad saw.

Karena merupakan kalam Allah swt, maka tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak mensucikannya. Begitu juga halnya dengan ajaran-ajaran, perintah, serta larangan yang terdapat di dalamnya, harus di pegang teguh dan dilaksanakan oleh semua umat manusia. Dengan kata lain Al-Quran merupakan Kitab suci yang harus dijadikan pegangan hidup umat manusia.

Di antara kitab-kitab suci yang Allah swt turunkan kepada nabi-nabi-Nya, Al-Quran lebih mempunyai keutamaan. Pertama karena Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, yang merupakan rasul Allah terakhir yang diturunkan kepada semua umat. Maka Al-Quran pun dengan sendirinya lebih bersifat universal, yaitu diturunkan kepada semua umat manusia dan tidak terbatas waktu hingga hari akhir.

Berbeda dengan kitab Injil dan Taurat yang diturunkan kepada umat tertentu karena diterima oleh nabi yang Allah swt utus untuk golongan tertentu saja. Sehingga dengan datangnya nabi berikut, maka doktrin yang terdapat di dalamnya secara otomatis tergantikan dengan doktrin baru.

Kedua, kandungan Al-Quran tidak hanya berisikan doktrin tentang Aqidah dan Syari’at saja, tetapi juga berisikan ilmu-ilmu kauniyah seperti sosial, ekonomi, ketatanegaraan, matematika, hukum, dan lain sebagainya. Selanjutnya dari segi bahasa, tentu saja Al-Quran tidak ada tandingannya. Maka tidak heran Allah swt “menantang” umat manusia untuk bisa membuat satu ayat serupa dengan kalam Allah yang termaktub dalam Al-Quran. Demikian betapa Al-Quran mempunyai banyak keutamaan melebihi kitab-kitab Allah swt yang diturunkan kepada nabi-nabi lainnya.

Dalam perjalanan sejarah Al-Quran, sejak awal diturunkannya hingga saat ini, gangguan-gangguan terhadap eksistensi Al-Quran tidak henti-hentinya terjadi. Pada awal turunnya ayat-ayat Al-Quran, masayrakat Arab saat itu sangat menyukai karya-karya sastra dan syair. Namun dengan datangnya Al-Quran, para maestro sastra saat itu tak mampu menandingi kualitas sastra Al-Quran, sehingga Al-Quran dianggap sebagai sihir.

Sepeninggal Nabi Muhammad saw, mulailah lawan-lawan Islam menyerang dengan berbagai cara. Salah satunya Musyailamah Al-Kadzab dengan membuat Al-Quran palsu, dengan ayat-ayat tandingannya. Dan gangguan terhadap Al-Quran terus berlanjut hingga era modern. Tercatat Gustav Flugel dengan mushaf “Corani Textus Arabicus” (1384), Theodor Noldeke dengan Geshichte des Qor’anDie Suro-aramaismshe Lesart des Koran: Ein Beitrag zur Entschlusselung der Koransprache” (Cara membaca Al-Quran dengan bahasa Syiro-aramaik: sebuah sumbangsih upaya pemecahan kesukaran memahami bahasa Al-Quran). Ini semua menunjukkan betapa gangguan terhadap eksistensi Al-Quran terus-menerus dilakukan oleh musuh-musuh Islam. ((1860), Arthur Jeffery dengan Al-Quran Edisi Kritis (1937), dan kasus terakhir, yaitu kasus Luxenberg dan bukunya “

Ironisnya, sakralitas Al-Quran pun berusaha dihilangkan oleh kalangan umat Islam sendiri. Sebut saja Dr. Muhammad Arkoun yang menyebutkan bahwa Al-Quran yang suci hanyalah Al-Qur-an pada masa Nabi Muhammad saw. Sedangkan Al-Quran setelah masa Rasulullah sudah tidak sakral lagi, tak lebih dari buku-buku karangan manusia biasa.

Demikian juga dengan konsep Al-Quran Nashr Hamid Abu Zaid, seorang pemikir asal Mesir. Ia mengatakan bahwa Al-Quran adalah produk budaya karena diturunkan selama dua puluh tiga tahun dalam realitas budaya Arab saat itu, serta ayat-ayat Al-Quran adalah bahasa Nabi Muhammad saw karena Allah hanya mengirim makna Al-Quran melalui Jibril.

Dengan statemen ini justru secara tidak langsung mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang pembohong karena telah menyatakan bahwa Al-Quran merupakan Kalmullah Lafzon wa Ma’nan. Belum lagi tuduhan bahwa Al-Quran yang kita kenal sekarang hanyalah Al-Quran yang sudah tidak asli lagi karena menjadi korban hegemoni Quraisy pada saat kodifikasi pada masa kholifah Ustman bin Affan.

Dan justru kalangan kampus di tanah air, gencar “mempromosikan” isu ini. Sebagaimana contohnya tulisan-tulisan yang terdapat pada Jurnal Justisia terbitan IAIN Wali Songo, Semarang. Ini menunjukkan sungguh ironis, Al-Qu’an yang suci justru justru menjadi obyek “serangan”, yang dilakukan tidak saja oleh para orientalis tetapi juga dari kalangan umat Islam sendiri.

Diskursus ini merupakan indikasi bahwa kaum muslim di dunia sedang memasuki babak baru yang sangat dahsyat. Belum pernah terjadi sebelumnya, bagaimana pemikir atau bahkan Ulama misionaris, Kristen, Yahudi, serta para orientalis beramai-ramai menggugat serta menyerang Al-Quran secara bersama-sama. Jika Al-Quran yang merupakan Kalamullah yang suci dan sekaligus pegangan hidup kaum muslimin saja digugat, maka tentu saja unsur-unsur agama, Islam seperti Hadits, Ijma’, Sahabat, otoritas ulama-ulama pun diruntuhkan.

Serangan ini dilakukan mereka dengan sangat serius dan terorganisir, dan tentunya dengan biaya yang tidak sedikit pula, serta energi yang sangat besar. Sudah ratusan tahun hal ini disiapkan. Para penyerang itu menguasai ilmi-ilmu tentang Al-Quran, bahasa Arab, bahkan Inggris, Hebrew, Syirak, dan mungkin bahasa-bahasa lainnya. Tak hanya itu manuskrip-manuskrip sudah terboyong ke Barat. Jelas nampak bagaimana saat ini kita sedang memasuki era baru yang lebih keras dalam menjawab tantangan Al-Quran.

Menghadapi ini semua tentunya, tidak cukup hanya dengan berfatwa ataupun dengan berdemonstrasi saja. Tetapi ini merupakan aksi intelektual yang harus dilawan dengan intelektual juga. Sebagaimana saat ini sejumlah institusi Islam juga turut menyebarkan pemahaman yang meruntuhkan fondasi agama. Di sini diberikan pendidikan kepada pemuda-pemuda Islam untuk menguasai “jurus-jurus” serangan terhadap Al-Quran dari berbagai sudut.

Tentu saja serangan dari dalam tubuh Islam, akan membawa dampak yang jauh lebih dahsyat terhadap umat. Tapi sayangnya, dalam hal intelektualitas ini justru kita sangat merasa kurang. Ini karena krikulum yang ada belum mampu menjawab tantangan era ini. Terbukti dengan  ribuan sarjana Islam tercetak setiap tahun, tapi kemampuan yang dimiliki masih sangat jauh dari harapan. Dengan demikian pola, bentuk, dan metodologi Pendidikan Agama Islam harus segera dirubah dan dirancang agar tanggung jawab akan pesan “dibumi manapun engkau berpijak, maka kamu bertanggung jawab akan keIslamannya” dapat terlaksana.[www.hidayatullah.com]

Penulis adalah Peserta Kaderisasi Ulama (PKU) Institut Studi Islam Darussalam Gontor. Tulisan ini dimuat di http://www.hidayatullah.com

Keajaiban-keajaiban juga sering dialami warga Palestina dalam menghadapi kebiadaban rezim Zionis Israel. “Tentara Israel banyak yang lari dari medang perang bahkan menjadi gila. Mereka yang lari dan ketakutan itu mengaku seperti melihat banyak sekali pasukan yang mengepung mereka di perbatasan,” ujar Ummi.

Atas undangan KNRP (Komite Nasional untuk Rakyat Palestina) Ummi Nadia berkesempatan datang ke Indonesia selama dua hari ditemani puteranya Muhammad. Selama kunjungannya di Indonesia, Ummi Nadia melakukan audiensi dengan siswa-siswi sekolah Jakarta Islamic School dan organisasi Persaudaraan Muslimah (Salimah) di Bandung. Eramuslim, berkesempatan untuk bertemu dan menemani perjalanan beliau ke Bandung hari Sabtu kemarin. Dan dari Ummi Nadia kami menggali dimensi lain perjuangan rakyat Palestina melawan penjajahan dan penindasan Zionis Israel terutama dari sisi pandang seorang perempuan dan seorang istri pejuang, sekaligus seorang pengungsi yang sampai saat ini merindukan untuk bisa kembali pulang ke kampung halaman mereka di Palestina.

Ummi Nadia termasuk perempuan yang istimewa karena suaminya, Mousa Abu Marzuk adalah salah seorang petinggi Hamas. Mousa Abu Marzuk saat ini menjabat sebagai salah satu kepala biro politik Hamas dan salah satu tokoh Hamas yang menjadi incaran Israel. Saat ini, Ummi Nadia, suami dan enam anak-anaknya (lima laki-laki dan satu perempuan) menetap di Damaskus, ibukota Suriah.

Sosok perempuan Palestina yang lembut ini menceritakan pada kami, saat ini ada sekitar 1,5 juta warga Palestina yang menjadi imigran di Suriah. Sebagian besar dari mereka adalah pengungsian sejak tahun 1948 (saat berdirinya negara ilegal Israel) dan saat pecah perang enam hari antara Arab-Israel tahun 1967. Warga Palestina di Suriah, seperti juga warga Palestina lainnya yang tersebar di Libanon, Yordania dan di seluruh pelosok dunia kesulitan untuk kembali lagi ke tanah air mereka, Palestina karena larangan dari rezim Israel. Apalagi untuk keluarga Ummi Nadia, yang tercatat sebagai keluarga pejuang Palestina dari Hamas, Israel tidak pernah mengizinkan mereka masuk kembali ke Palestina dengan alasan apapun.

Ummi Nadia mengungkapkan, kehidupan para pengungsi Palestina di Suriah relatif lebih baik karena pemerintahan Suriah memberikan pelayanan yang baik pada mereka. Berbeda dengan kehidupan pengungsi Palestina di Libanon yang kehidupannya lebih sulit dan pihak pemerintah Libanon menginginkan para pengungsi Palestina itu dipulangkan ke tempat asal mereka.

Ummi Nadia dan keluarganya, sejak keluar dari Gaza tidak pernah bisa kembali lagi ke tempat kelahirannya itu. Waktu itu, Ummi Nadia hijrah ke Amerika Serikat menemani suaminya yang melanjutkan studi untuk mengambil gelar doktor bidang teknik industri. Saat berada di negeri Paman Sam, Israel meminta pemerintahan AS agar mengekstradisi suaminya, Abu Marzuk hanya karena Abu Marzuk tercatat sebagai salah satu pimpinan Hamas. Hamas adalah musuh besar bagi Israel dan AS, karena Hamas menolak mengakui negara Israel sehingga kelompok ini dimasukkan ke dalam daftar organisasi teroris oleh Israel, AS dan negara-negara sekutunya. Atas desakan Israel pula, Abu Marzuk diadili dan dijebloskan ke penjara di New York, AS. Namun Israel akhirnya membatalkan permintaan ekstradisinya, karena khawatir ekstradisi Abu Marzuk akan menghidupkan kembali semangat perlawanan Intifadah di Palestina.

“Israel khawatir jika suami saya dibawa ke Israel, dipenjarakan disana dan berkumpul dengan tokoh Hamas lainnya seperti Syaikh Ahmad Yasin, akan membakar kembali semangat intifadah. Sebagai ganti ekstradisi, Israel melarang kami kembali Palestina,” kata Ummi Nadia.

Setelah Israel membatalkan permintaan ekstradisinya, Abu Marzuk dibebaskan dari penjara di AS dan dideportasi. Ummi Nadia dan keluarganya lalu menetap di Yordania lalu pindah ke Suriah. Ummi Nadia mengungkapkan kesedihannya karena selama bertahun-tahun tidak bisa melihat kampung halamannya lagi di Gaza, Palestina, tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Apalagi dalam serangan brutal Israel ke Gaza kemarin, enam anggota keluarga Ummi Nadia gugur syahid dan tiga orang lainnya luka parah.

Al Quran Sumber Kekuatan

Sebagai istri dari seorang tokoh penting Hamas, Ummi Nadia mengakui bahwa kehidupannya diwarnai ancaman-ancaman terutama yang diarahkan ke suaminya, Abu Marzuk. Namun sosok perempuan berusia 45 tahun itu mengaku tidak pernah merasa takut. Menurutnya, Hamas memiliki pasukan khusus yang menjaga keluarga-keluaga pejuang dan pimpinan-pimpinan mereka. Di atas itu semua, ia mempercayakan perlindungan bagi keluarganya pada Allah swt. “Al-Quran adalah sumber kekuatan kami. Bukan karena al-Quran itu sakti, tapi karena al-Quran memberikan bimbingan pada kami untuk menghadapi kesulitan-kesulitan yang kami hadapi,” ujar Ummi Nadia.

Ketangguhan dan keimanan, kata Ummi Nadia, menjadi modal perjuangan rakyat Palestina sehingga mereka senantiasa mendapatkan pertolongan dari Allah swt. Ketangguhan dan keimanan itu sudah ditanamkan sejak masa anak-anak. Ummi Nadia mengungkapkan kisah mengharukan yang disampaikan seorang dokter yang merawat seorang anak yang menjadi korban agresi Israel di Gaza.

“Karena terkena ledakan bom, kedua kaki anak tersebut harus diamputasi. Si anak menangis ketika tahu kedua kakinya akan diamputasi. Dokter yang merawat iba melihat tangis si anak dan bertanya apa yang dia inginkan. Si anak menjawab, ia hanya ingin mendapatkan kakinya kembali agar bisa ikut melawan Israel. Anak itu menginginkan kakinya kembali untuk berjuang melawan Israel, bukan agar bisa bermain lagi seperti anak-anak pada umumnya, ” tutur Ummi Nadia.

Keajaiban-keajaiban juga sering dialami warga Palestina dalam menghadapi kebiadaban rezim Zionis Israel. “Tentara Israel banyak yang lari dari medang perang bahkan menjadi gila. Mereka yang lari dan ketakutan itu mengaku seperti melihat banyak sekali pasukan yang mengepung mereka di perbatasan,” ujar Ummi.

Ia juga mengungkapkan pengalaman seorang bapak bernama Ibnu Farhan, yang anaknya bernama Muhammad melakukan aksi bom syahid dan berhasil menewaskan sejumlah tentara Israel. Ibnu Farhan menceritakan, pemberitaan di Israel tentang aksi bom syahid yang dilakukan anaknya menyebutkan bahwa tentara-tentara Israel seperti melihat banyak orang yang akan melakukan aksi bom syahid, padahal ketika itu yang ada di lokasi kejadian cuma Muhammad seorang.

Mendengar kisah-kisah keajaiban yang dialami rakyat Palestina dalam melawan kebiadaban Israel, membuat hati kita bergetar dan memuji asma Allah swt. Karena Allah-lah yang Maha Kuasa dan Maha Penolong. Allah swt tidak akan membiarkan umatnya menderita dan dizalimi tanpa mengulurkan pertolongan dengan cara-cara yang kadang sulit diterima akal sehat manusia. Tapi itulah bukti kebesaran Allah yang disaksikan dan dialami sebagian rakyat Palestina. Sehingga meski mereka berulang kali dibantai dan digempur senjata canggih Israel, tidak membuat rakyat Palestina menyerah dan menjual harga dirinya pada penjajah.

Keluarga Pejuang

Sebagai keluarga pejuang, kehidupan yang dijalani Ummi Nadia dan keluarganya tidak berbeda dengan keluarga-keluarga lainnya. Anak-anaknya yang sebagian besar laki-laki memang lebih dekat pada sang ayah, Abu Marzuk. Ummi Nadia tidak menerapkan pola pendidikan yang istimewa. Menurutnya, pola pendidikan yang diterapkan pada anak-anaknya sama seperti yang dilakukan para ibu pada umumnya. Ada kalanya, sebagai orang tuas ia harus bertoleransi, ada kalanya harus bersikap tegas pada anak-anaknya.

Begitu juga dengan Abu Marzuk. Menurut Ummi Nadia, suaminya seperti juga sosok ayah pada umumnya. Meski pejuang, suaminya tidak menampakkan kesan gahar pada anak-anaknya, bahkan senang sekali bercanda dengan anak-anak mereka.

Keluarga Ummi Nadia dan Abu Marzuk adalah keluarga yang berpendidikan karena mereka memang memprioritaskan pendidikan yang layak bagi anak-anak mereka. Anak pertama pasangan ini, sekarang sedang mengambil spesialis kedokteran THT di Inggris. Muhammad, putera kelima yang menemani Ummi Marzuk saat berada di Indonesia, kini sudah di tingkat akhir jurusan teknik di Universitas Damaskus.

Ditanya bagaimana perasaannya menjadi anak seorang tokoh Hamas, Muhammad hanya tersenyum dan mengatakan bahwa ia ingin melanjutkan perjuangan ayahnya membela dan membebaskan tanah airnya, Palesina dari cengkeraman penjajahan Israel meski mungkin dengan cara yang berbeda.

Ummi Nadia dan keluarganya memahami betul resiko menjadi keluarga pejuang Hamas. Tapi mereka, seperti juga rakyat Palestina lainnya yang berada di belakang Hamas, tidak akan mundur selangkah pun oleh tekanan-tekanan Israel dan sekutu-sekutunya.Ummi Nadia menegaskan bahwa mayoritas rakyat Palestina memilih Hamas bukan tanpa sebab. Sebagian besar rakyat Palestina, kata Ummi Nadia, sudah tidak percaya lagi dengan PLO-organisasi pembebasan Palestina pimpinan Yaser Arafat-yang selama hampir 25 tahun perjuangannya tidak berhasil mewujudkan negara Palestina yang merdeka dan damai. Hal serupa ditunjukkan oleh penerus PLO dari Faksi Fatah yang sekarang di pimpin Mahmoud Abbas, presiden Palestina yang cenderung tunduk pada kepentingan Israel dan Barat.

“Abbas adalah pemimpin yang lemah. Dia sebenarnya tahu mana yang benar dan mana yang salah. Tapi dia pemimpin yang lemah,” kritik Ummi Nadia pada Abbas.

Ditanya apa yang membuat rakyat Palestina mendukung Hamas, Ummi Nadia mengatakan karena Hamas mampu memenuhi apa yang menjadi kebutuhan rakyat Palestina. Hamas menerapkan prinsip kejujuran, amanah dan rela berkorban dalam garis perjuangannya, serta selalu berada di tengah-tengah rakyat Palestina.

Malam mulai turun ketika kami pulang kembali ke Jakarta. Dari kendaraan yang kami tumpangi, terlihat cahaya bulan dengan bulatan sempurna. Kami bisa merasakan kelelahan Ummi Nadia dengan aktivitas sepanjang hari tadi. Apa yang dilakukan Ummi Nadia adalah bagian perjuangan diplomasi untuk kemerdekaan tanah airnya, Palestina. Ummi Nadia menyatakan sangat terkesan dengan Indonesia dan berterima kasih atas dukungan dan bantuan yang tulus dari masyarakat Indonesia pada rakyat Palestina.

“Thank You for Everthing. Saya terharu dengan kepedulian kalian. Insya Allah kita bertemu lagi. Kami di Damaskus juga membuka pintu untuk kalian,” itulah ucapan yang disampaikan Ummi Nadia ketika kami bersalaman dan saling berpelukan sebelum berpisah, karena malam itu juga Ummi Nadia dan puteranya Muhammad harus kembali pulang ke Suriah. (Eramuslim)

Dua penerbit asal Amerika meloloskan “Al-Quran palsu”.  Tapi ini bukan kasus baru. Ada bau kesengajaan

Penerbit asal Amerika itu adalah  Omega 2001 dan One Press. Dua penerbit ini  dikabarkan baru saja mengedarkan Al-Quran palsu dengan judul  hard cover “Furqanul Haq” dalam huruf Arab dan “True Furqan” dalam huruf Latin.

Kabar ini terungkap setelah Fact International Studies and Research yang berpusat di Amman, Yordania, dalam laporan eksklusifnya menyatakan “Al-Quran palsu” tersebut baru saja beredar di Kuwait.  “Al Quran palsu” ini terdiri atas 366 halaman, dengan terjemahan berbahasa Inggris di sebelah kiri di setiap halaman, terbitan ini merupakan hasil arahan dan terjemahan dua orang yang menamakan diri Al Saffi dan Al Mahdi. Meski isinya terkesan dari berbahasa Arab dan mengambil salah satu nama Al-Quran, namun isinya sangat bertentangan sekali dengan isi Al-Quran.

Sebagaimana diketahui, kasus “Al Quran palsu” atau sering disebut sebagai True Furqan ini bukanlah kasus baru. Dikatakan palsu dan bukan kasus baru karena isi di dalamnya mengandung unsur penipuan dan sengaja ditujukan sebagai pemalsuan Al-Quran.

Berbagai surah dinamai dengan surah-surah Al Qur’an seperti An Nur, Al Fatihah, dll. “Bismillah” pada setiap surah diganti dengan “Bismil Abi, Wal Ibni, Waruuhil Quds” (dengan nama bapak, anak dan roh qudus).

Seorang Imam Masjid asal Indonesia di Islamic Cultural Centre New York, Syamsi Ali pernah mengatakan, usaha penerbitan ini tebilang lama dan sudah dipersiapkan sebelumnya. Syamsi Menyebut, penerbitan ditujuan untuk kaum Muslim sekaligus kaum Kristiani.

Menurutnya,  untuk umat kristiani ditujukan agar mereka mendapatkan bukti-bukti substansial akan kebenaran kitab injil, sekaligus untuk memberi pesan akan keraguan kesahihan Al-Quran.

Ini jelas terlihat dalam pengantarnya sang penerjemah bernama Al Mahdy mengatakan, “hendaknya ummat Kristiani di seluruh penjuru dunia mempersiapkan diri untuk menyambut kehadiran ummat Islam yang akan murtad ke tengah-tengah mereka.”

Baptist Press dalam sebuah rilis pers nya tertanggal 27 Mei 1999 pernah mengatakan, persiapan penerbitan ini telah memakan waktu selama tujuh tahun ini.

Menurut Baptist Press, True Furqan sudah pernah dikirimkan ke beberapa kedutaan besar negeri-negeri Muslim di Paris, Prancis. JUga ke institusi-institusi penting Inggris, termasuk BBC. Pada waktu hampir bersamaan,  juga sudah muncul di ruang redaksi jurnal berbahasa Arab di London, Inggris, serta di meja editor majalah-majalah berbahasa Arab, Ibrani, dan Inggris di Yerusalem.

Tahun 2002, “Al-Quran palsu” ini sudah pernah beredar  di Jawa Timur. Kasus ini muncul ketika Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur memprotes pengiriman Al-Quran jadi-jadian ini ke berbagai pondok pesantren di Jawa.

Mengapa dikatakan “Al-Quran palsu”? karena buku ini  gagal meniru bahasa Al-Quran  dan atas usahanya menggoyang ajaran-ajaran Islam.

Jadi-jadian

Sekedar catatan, kandungan True Furqan yang diklaim sebagai “Al Qur’an Abad ke-21″ ini lebih tepat sebagai kitab suci jadi-jadian karena banyak bertentangan dengan kepercayaan Islam. Misalnya tentang poligami dan perceraian. Dalam kitab ini keduanya disebutkan dilarang atau diharamkan. Padahal, Al-Quran tak pernah mengatakan pengharaman poligami (ta’addud).

Yang tak banyak disadari penulis buku ini, True Furqan secara gramatik tak mampu meniru keindahan bahasa Al-Quran. Diantaranya ia mengganti “BismillahirRahmaniRahim” menjadi Bismil Abi, Wal Ibni, Waruuhil Quds” (dengan nama bapak, anak dan roh qudus).

Usaha untuk merekayasa atau memalsukan ayat-ayat Al-Quran nampaknya masih akan terus berjalan. Namun satu hal yang pasti, Allah sendiri berjanji akan tetap menjaganya. Diantara cara Allah menjaga wahyunya bahwa sejak zaman rasulullah hingga kini, ada ribuan penghafal-penghafal Al-Quran sehingga bagaimanapun kekeliruan penyalinan ayat akan langsung terbongkar dan terungkap. Di seluruh dunia, Allah senantiasa menghadirkan jutaan penghafal-penghafal Al-Quran. Satu hal berbeda dengan kitab Suci agama lain. Dalam Al-Quran Surat Al Hijr mengatakan,  “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Quran, dan Kami tentu menjaganya.” [QS: 15:9]. [cha, berbagai sumber/www.hidayatullah.com]

Waspada Al-Qur’an palsu buatan Amerika

Kuwait (Arrahmah.Com) – Al-Quran baru buatan Amerika, berbahaya dan sedang didistribusikan di Kuwait, berjudul ‘The True Furqan’ isinya bertentangan sekali. Dibuat oleh 2 perusahaan percetakan ‘Omega 2001’ dan ‘Wine Press. Judul lain buku ini “The 21st Century Quran”

Berisi lebih dari 366 halaman baik bahasa Arab dan Inggris, sekarang kabarnya didistribusikan kepada anak2/generasi muda di Kuwait di sekolah2 berbahasa Inggris disana. Bukunya sendiri memuat 77 surah, termasuk Alfatihah, Al-Jana, dan Al-Injil.
Semuanya dimulai dengan sebuah versi panjang gabungan kepercayaan Kristen tentang tiga tuhan.

Dan banyak sekali bertentangan dengan berbagai kepercayaan dalam Islam, seperti mempunyai lebih satu istri dianggap perbuatan Zina, perceraian itu dilarang, dikatakan juga bahwa Jihad adalah HARAM.

Buku yang sangat menyesatkan. Jadi tolong sampaikan kepada semua muslim sedapat kita tentang pemberitaan ini semoga Allah melindungi kita semua dari orang-orang Kafir yang jahat, mendustakan Agama Allah SWT. (Prince Muhammad/arrahmah.com)

Oleh Ir. Syamsu Hilal

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (QS Al-Baqarah: 185).

Salim al-Hilali dan Ali Hasan Abdul Hamid dalam kitabnya “Shifatu Shoumu an-Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam” mengatakan bahwa penjelasan tentang Al-Qur`an yang diturunkan pada bulan Ramadhan, lalu dikaitkan dengan kalimat “fa man syahida minkumusy syahra falyashumhu” yang merupakan kewajiban berpuasa dengan huruf “fa” yang berfungsi sebagai alasan dan sebab, itu artinya dipilihnya Ramadhan menjadi bulan puasa adalah karena Al-Qur`an diturunkan pada bulan itu. Bahkan dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada nabi-nabi yang lain juga diturunkan pada bulan Ramadhan.

Ayat di atas juga memberikan pemahaman kepada kita bahwa puasa dan Al-Qur`an memiliki kaitan sangat erat. Keduanya akan menjadi penolong kita di akhirat kelak. Rasulullah Saw. bersabda,

“Puasa dan Al-Qur`an itu akan memberikan syafa’at kepada hamba di hari kiamat. Puasa akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dari makan dan syahwat, maka perkenankanlah aku memberikan syafa’at untuknya.’ Sedangkan Al-Qur`an akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka perkenankanlah aku memberikan syafa’at untuknya.’ Maka Allah Swt. memperkenankan keduanya memberikan syafa’at.” (HR Imam Ahmad dan Ath-Thabrani).

Dengan diwajibkannya puasa pada bulan Ramadhan, sedangkan pada bulan itu juga diturunkan Al-Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan sebagai furqan (pembeda antara yang hak dan yang bathil), maka Allah swt. menginginkan agar kewajiban puasa tidak dianggap sebagai beban. Al-Qur`an memuat ketentuan-ketentuan yang memudahkan pelaksanaan ibadah puasa. Sementara puasa adalah sarana untuk mencapai insan bertaqwa. “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (QS Al-Baqarah: 185).

Oleh karena itu, jika Allah swt. memberi taufik kepada kita untuk menyempurnakan ibadah Ramadhan kali ini dalam rangka menaati Allah, maka hal itu merupakan hidayah dan hadiah yang patut disyukuri.

“Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, supaya kalian bersyukur” (QS Al-Baqarah: 185).

Ketika amaliyah Ramadhan dapat kita sempurnakan dan dilanjutkan dengan ucapan serta sikap syukur kepada Allah, maka Allah swt. akan mengabulkan semua permintaan dan permohonan kita.

“Dan apabila hambaa-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS Al-Baqarah: 186).

Imam Hasan Al-Banna ketika mengulas ayat ini mengatakan bahwa Allah swt. amat dekat kepada hamba-Nya pada bulan Ramadhan. Tentang keistimewaan bulan Ramadhan di sisi Allah ditegaskan sendiri oleh Allah swt. melalui hadits qudsi, “Semua amalan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Ia adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasanya” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda, “Jika bulan Ramadhan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu, kemudian datang seorang penyeru dari sisi Allah Yang Maha Benar, ‘Wahai pencari kejahatan, berhentilah! Dan wahai pencari kebaikan, kemarilah!” (HR Bukhari dan Muslim).

Pintu-pintu surga dibuka karena manusia berbondong-bondong melaksanakan ketaatan, ibadah, dan taubat, sehingga jumlah pelakunya banyak. Setan-setan dibelenggu, karena manusia beralih kepada kebaikan, sehingga setan tidak mampu berbuat apa-apa. Hari-hari dan malam-malam Ramadhan merupakan masa-masa kemuliaan yang diberikan Allah swt. agar orang-orang yang berbuat baik menambah kebaikannya dan orang-orang yang berbuat jahat bertaubat dan mohon ampun kepada-Nya.

Ada ikatan hakikat dan fisik antara turunnya Al-Qur`an dengan Ramadhan. Ikatan ini adalah selain Allah menurunkan Al-Qur`an di bulan Ramadhan, maka di bulan ini pula Allah mewajibkan puasa. Karena puasa artinya menahan diri dari hawa nafsu dan syahwat. Ini merupakan kemenangan hakikat spiritual atas hakikat materi dalam diri manusia. Ini berarti jiwa, ruh, dan pemikiran manusia pada bulan Ramadhan akan menghindari tuntutan-tuntutan jasmani. Dalam kondisi seperti ini, ruh manusia berada di puncak kejernihannya, karena ia tidak disibukkan oleh syahwat dan hawa nafsu. Ketika itu ia dalam keadaan paling siap untuk memahami dan menerima ilmu dari Allah Swt. Karena itu, bagi Allah, membaca Al-Qur`an merupakan ibadah paling utama pada bulan Ramadhan yang mulia.

Sedikitnya ada empat kewajiban kita terhadap Al-Qur`an. Pertama, hendaknya kita memiliki keyakinan yang sungguh-sungguh dan kuat bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkan kita kecuali sistem sosial yang diambil dan bersumber dari Kitab Allah swt., yaitu Al-Qur`an. Sistem sosial apapun yang tidak mengacu atau tidak berlandaskan Al-Qur`an pasti bakal menuai kegagalan. Banyak orang yang mengatasi problema ekonomi dengan terapi tambal sulam. Sementara Al-Qur`an telah menggariskan aturan zakat, mengharamkan riba, mewajibkan kerja, melarang pemborosan, sekaligus menanamkan kasih sayang antarsesama manusia.

Kedua, kita wajib menjadikan Al-Qur`an sebagai sahabat karib, kawan bicara, dan guru. Kita harus mendengarkannya, membacanya, dan menghafalnya. Jangan sampai ada hari yang kita lalui sedangkan kita tidak menjalin hubungan dengan Allah Swt. melalui Al-Qur`an. Dengarkanlah Al-Qur`an agar kita mendapat rahmat Allah Swt., “Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (QS Al-A’raf: 204).

Hendaknya kita membaca Al-Qur`an secara rutin, meskipun sedikit. Sunnah mengajarkan kita agar mengkhatamkannya tidak lebih dari satu bulan dan tidak kurang dari satu hari. Umar bin Abdul Aziz apabila disibukkan oleh urusan kaum Muslimin, beliau mengambil Al-Qur`an dan membacanya walaupun hanya dua atau tiga ayat. Beliau berkata, “Agar saya tidak termasuk mereka yang menjadikan Al-Qur`an sebagai sesuatu yang ditinggalkan.” Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka ia memperoleh satu kebaikan, dan satu kebaikan berlipat sepuluh kali. Aku tidak katakan alif lam mim itu satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf” (HRTirmidzi).

Kita pun harus berupaya untuk menghafal Al-Qur`an agar tidak diidentikkan dengan rumah kumuh yang hampir roboh. “Orang yang tidak punya hafalan Al-Qur`an sedikit pun adalah seperti rumah kumuh yang hampir roboh” (HR Tirmidzi dari Ibnu ‘Abbas).

Ketiga, hendaknya kita merenung dan meresapinya. Jika hati kita belum dapat konsentrasi sampai pada tingkat menghayatinya, hendaklah kita berusaha untuk menghayatinya. Jangan sampai syetan memalingkan kita dari keindahan perenungan sehingga kita tidak dapat mereguk kenikmatan darinya.

Allah Swt. menjelaskan bahwa Al-Qur`an diturunkan untuk ditadabburi ayat-ayatnya dan dipahami maknanya. “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran” (QS Shaad: 29).

Ali bin Abi Thalib Ra. berkata, “Ketahuilah tidak ada kebaikan dalam ibadah kecuali dengan ilmu, tidak ada kebaikan dalam ilmu kecuali dengan pemahaman, dan tidak ada kebaikan dalam membaca Al-Qur`an kecuali dengan tadabbur.”

Keempat, kita wajib mengamalkan hukum-hukumnya lalu mendakwahkannya kepada orang lain. Inilah tujuan utama diturunkannya Al-Qur`an. “Dan Al Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat” (QS Al-An’am: 155).

Hukum-hukum Al-Qur`an menurut yang saya pahami terbagi menjadi dua. Pertama, hukum-hukum yang berkaitan dengan individu, seperti shalat, puasa, zakat, haji, taubat, dan hal-hak yang berkaitan dengan akhlaq Islam, seperti jujur, adil, komitmen kepada kebenaran, dan sebagainya. Kedua, hukum-hukum yang berkaitan dengan masyarakat atau penguasa. Ini adalah kewajiban negara, misalkan menegakkan hudud (sanksi hukum) dan masalah-masalah yang merupakan tugas negara dalam Islam.

Setiap Muslim harus berupaya untuk mengamalkan hukum-hukum yang bersifat individu, baik yang berupa ibadah maupun menerapkan nilai-nilai akhlaqul karimah. Jika nilai-nilai Al-Qur`an telah tegak di hati setiap Muslim, maka ia akan tegak di muka bumi.

Mumpung saat ini kita berada di bulan Ramadhan, marilah kita membaca Al-Qur`an, menghafal dan mentadabburi ayat-ayatnya, memahami maknanya, mengamalkannya, lalu mendakwahkannya kepada umat manusia. Ketika jiwa manusia kering, Al-Qur`an akan menyejukkannya. Ketika pikiran manusia kacau, Al-Qur`an akan menenteramkannya. Wallahu a’lam bishshawab.

Sumber : Adijm.multiply